- Pendahuluan
- 1. Patofisiologi dan Dinamika Penularan Vertikal
- 2. Kebijakan Nasional: Paradigma Triple Eliminasi
- 3. Manajemen Antenatal: Strategi Deteksi dan Terapi
- 4. Strategi Persalinan: Menjamin Keselamatan Ibu dan Bayi
- 5. Integrasi Layanan dalam Sistem Jaminan Kesehatan Nasional (BPJS)
- 6. Manajemen Pascapersalinan dan Neonatal
- 7. Nutrisi Bayi: ASI Eksklusif vs Susu Formula
- 8. Aspek Psikososial dan Tantangan Implementasi
- Kesimpulan dan Rekomendasi
Pendahuluan
Epidemi HIV/AIDS di Indonesia telah mengalami transformasi signifikan dalam dua dekade terakhir, bergeser dari penyakit yang mematikan menjadi kondisi kronis yang dapat dikelola, berkat kemajuan terapi antiretroviral (ARV). Namun, tantangan besar tetap ada pada populasi rentan, khususnya ibu hamil dan bayi. Penularan HIV dari ibu ke anak (Mother-to-Child Transmission – MTCT) merupakan jalur utama infeksi HIV pada anak-anak. Tanpa intervensi, risiko penularan berkisar antara 15% hingga 45%. Namun, dengan intervensi pencegahan yang komprehensif dan tepat waktu, risiko ini dapat ditekan hingga di bawah 2%, sebuah pencapaian yang mendekati eliminasi total.1
Pemerintah Indonesia, melalui Kementerian Kesehatan, telah menetapkan target ambisius untuk mencapai “Triple Eliminasi” pada tahun 2030, yang mencakup eliminasi penularan HIV, Sifilis, dan Hepatitis B dari ibu ke anak. Komitmen ini tertuang dalam berbagai regulasi, termasuk Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 23 Tahun 2022 dan Permenkes Nomor 52 Tahun 2017.3 Strategi ini menempatkan kesehatan ibu dan anak sebagai prioritas nasional, mengintegrasikan layanan HIV ke dalam layanan kesehatan ibu dan anak (KIA) rutin di seluruh fasilitas pelayanan kesehatan, mulai dari tingkat primer hingga rujukan.
Laporan ini menyajikan analisis mendalam dan komprehensif mengenai mekanisme pencegahan penularan HIV vertikal, protokol tata laksana klinis selama kehamilan, persalinan, dan pasca-persalinan, serta analisis sistemik mengenai aksesibilitas layanan melalui skema Jaminan Kesehatan Nasional (BPJS Kesehatan). Analisis ini didasarkan pada tinjauan ekstensif terhadap regulasi nasional, pedoman klinis, dan data empiris terkini, dengan tujuan memberikan panduan otoritatif bagi praktisi kesehatan, pembuat kebijakan, dan pemangku kepentingan terkait.
1. Patofisiologi dan Dinamika Penularan Vertikal
Memahami mekanisme biologis penularan HIV dari ibu ke janin adalah langkah fundamental dalam merancang strategi pencegahan yang efektif. Transmisi vertikal dapat terjadi melalui tiga periode kritis: intrauterin (selama kehamilan), intrapartum (saat persalinan), dan pascapersalinan (melalui menyusui).
1.1 Transmisi Intrauterin
Meskipun plasenta berfungsi sebagai barier pelindung yang efektif terhadap banyak patogen, HIV dapat menembus barier plasenta, terutama jika terjadi kerusakan integritas plasenta atau jika viral load ibu sangat tinggi. Transmisi in utero diperkirakan menyumbang sekitar 5-10% dari total kasus penularan vertikal tanpa intervensi. Faktor risiko utama pada fase ini meliputi tingginya kadar RNA HIV dalam plasma ibu, penurunan jumlah limfosit CD4 yang parah, serta adanya infeksi menular seksual (IMS) lain seperti sifilis yang dapat merusak barier mukosa dan plasenta. Koinfeksi dengan penyakit lain memperburuk kondisi inflamasi sistemik, yang memfasilitasi translokasi virus ke sirkulasi janin.1
1.2 Transmisi Intrapartum
Periode persalinan merupakan fase paling kritis, menyumbang sekitar 10-20% risiko penularan. Selama proses persalinan, bayi terpapar secara intensif terhadap darah ibu dan cairan servikovaginal yang mengandung virus. Kontraksi uterus yang kuat dapat memicu transfusi mikro darah ibu ke janin (maternal-fetal microtransfusion). Selain itu, bayi yang melewati jalan lahir rentan menelan darah atau lendir serviks yang terinfeksi, atau virus dapat masuk melalui mikrolesi pada kulit bayi yang terjadi selama proses kelahiran. Pecahnya ketuban dalam waktu lama (ketuban pecah dini) secara eksponensial meningkatkan risiko transmisi karena hilangnya barier pelindung amniotik, memungkinkan virus untuk naik (ascending infection) dan kontak langsung dengan janin.1
1.3 Transmisi Pascapersalinan (Menyusui)
Pemberian Air Susu Ibu (ASI) memberikan risiko tambahan sekitar 10-15% jika dilakukan tanpa perlindungan ARV. Virus HIV terdapat dalam komponen seluler dan sel-bebas pada ASI. Risiko penularan melalui ASI meningkat jika ibu mengalami masalah payudara seperti mastitis, abses payudara, atau lecet pada puting (cracked nipples), yang meningkatkan pelepasan virus ke dalam ASI. Di sisi lain, integritas mukosa usus bayi (gut integrity) juga berperan; pemberian makanan campuran (mixed feeding) sebelum usia 6 bulan dapat menyebabkan iritasi mikroskopis pada usus bayi, membuka jalan bagi virus HIV untuk masuk ke aliran darah bayi.7
2. Kebijakan Nasional: Paradigma Triple Eliminasi
Indonesia telah mengadopsi pendekatan terintegrasi yang revolusioner dalam penanganan penyakit menular pada ibu hamil, bergerak dari penanganan penyakit tunggal menuju pendekatan “Triple Eliminasi”. Kebijakan ini mewajibkan deteksi dini dan penanganan komprehensif terhadap tiga penyakit infeksi utama: HIV, Sifilis, dan Hepatitis B.
2.1 Landasan Regulasi dan Target Nasional
Peraturan Menteri Kesehatan (Permenkes) Nomor 52 Tahun 2017 tentang Eliminasi Penularan HIV, Sifilis, dan Hepatitis B dari Ibu ke Anak menjadi tonggak sejarah integrasi ini. Regulasi ini kemudian diperkuat oleh Permenkes Nomor 23 Tahun 2022 tentang Penanggulangan HIV, AIDS, dan IMS, yang menegaskan kewajiban fasilitas pelayanan kesehatan (fasyankes) untuk melakukan pencatatan dan pelaporan kasus secara sistematis.3
Tujuan utama kebijakan ini adalah pemenuhan hak asasi manusia, khususnya hak anak untuk lahir sehat dan bebas dari penyakit yang dapat dicegah. Target indikator dampak yang ditetapkan meliputi pengurangan angka infeksi baru pada bayi hingga tingkat eliminasi yang divalidasi oleh WHO. Pemerintah Pusat bertanggung jawab menetapkan kebijakan, menjamin ketersediaan logistik (reagen tes, obat ARV), dan melakukan advokasi lintas sektor, sementara Pemerintah Daerah bertanggung jawab atas implementasi teknis dan mobilisasi sumber daya lokal.3
2.2 Integrasi dalam Pelayanan Kesehatan Primer (FKTP)
Puskesmas sebagai Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama (FKTP) memegang peran sentral sebagai “pintu gerbang” pencegahan. Implementasi Triple Eliminasi diintegrasikan ke dalam pelayanan Kesehatan Ibu dan Anak (KIA) melalui pemeriksaan Antenatal Care (ANC) Terpadu.
Setiap ibu hamil yang berkunjung ke Puskesmas untuk pemeriksaan kehamilan pertama (K1) wajib menjalani skrining untuk ketiga penyakit tersebut secara simultan. Pendekatan ini menggunakan model Provider-Initiated Testing and Counselling (PITC), di mana tes ditawarkan sebagai standar pelayanan rutin, bukan lagi menunggu permintaan pasien.10 Data menunjukkan bahwa integrasi ini telah meningkatkan cakupan tes secara signifikan, meskipun kesenjangan (gap) antara jumlah ibu hamil yang dites dan yang mendapatkan pengobatan masih menjadi tantangan operasional yang harus diatasi melalui pelatihan kompetensi tenaga kesehatan dan penguatan sistem rujukan.10
3. Manajemen Antenatal: Strategi Deteksi dan Terapi
Keberhasilan pencegahan penularan vertikal sangat bergantung pada manajemen klinis yang ketat selama masa kehamilan. Protokol ini mencakup skrining universal, inisiasi terapi antiretroviral (ARV), dan pemantauan virologis yang berkelanjutan.
3.1 Protokol Skrining dan Diagnosis
Skrining HIV pada ibu hamil dilakukan dengan prinsip “Tes dan Obati” (Test and Treat). Alur diagnosis mengikuti strategi nasional yang menggunakan tiga jenis reagen tes cepat (Rapid Diagnostic Test – RDT) dengan sensitivitas dan spesifisitas yang berbeda (Strategi III) untuk memastikan akurasi diagnosis.12
- Tes A1 (Sensitivitas Tinggi): Digunakan sebagai penapis awal. Jika non-reaktif, pasien dianggap negatif (kecuali ada risiko pajanan baru, tes diulang pada trimester ketiga/menjelang persalinan).
- Tes A2 (Spesifisitas Tinggi): Dilakukan jika A1 reaktif untuk menyingkirkan hasil positif palsu.
- Tes A3 (Spesifisitas Tinggi): Konfirmasi akhir. Jika ketiga tes reaktif (A1+, A2+, A3+), ibu hamil didiagnosis positif HIV.
Jika hasil diagnosis indeterminate (tidak konklusif), tes perlu diulang dengan spesimen baru minimal dua minggu kemudian, atau dilanjutkan dengan pemeriksaan PCR jika fasilitas memungkinkan, untuk menghindari penundaan terapi yang tidak perlu.12
3.2 Terapi Antiretroviral (ARV) pada Kehamilan
Segera setelah diagnosis ditegakkan, ibu hamil harus segera memulai terapi ARV tanpa memandang usia kehamilan atau jumlah CD4. Prinsip ini didasarkan pada bukti bahwa penurunan viral load ibu adalah faktor prediktor terkuat untuk mencegah transmisi ke janin.
- Regimen Pilihan: Sesuai Pedoman Nasional Pelayanan Kedokteran (PNPK) Tata Laksana HIV, regimen lini pertama yang direkomendasikan untuk ibu hamil adalah kombinasi Tenofovir (TDF) + Lamivudine (3TC) + Efavirenz (EFV) atau Dolutegravir (DTG) dalam bentuk Fixed Dose Combination (FDC) yang diminum satu kali sehari.13 Regimen berbasis Dolutegravir kini semakin direkomendasikan karena efektivitasnya yang tinggi dalam menurunkan viral load dengan cepat dan profil resistensi yang tinggi, meskipun penggunaannya pada trimester pertama memerlukan konseling risiko yang seimbang.
- Kepatuhan Pengobatan: Kepatuhan (adherence) minum obat adalah kunci. Ibu hamil yang sudah mengonsumsi ARV sebelum kehamilan harus melanjutkannya. Penghentian obat secara sepihak sangat berbahaya karena dapat memicu viral rebound yang drastis, meningkatkan risiko penularan ke janin, dan memunculkan resistensi obat. Konseling kepatuhan harus dilakukan pada setiap kunjungan ANC.4
- Pemantauan Viral Load: Pemeriksaan viral load HIV direkomendasikan dilakukan pada saat diagnosis, 6 bulan setelah terapi, dan yang paling krusial adalah pada usia kehamilan 36 minggu. Hasil viral load pada minggu ke-36 ini akan menjadi dasar penentuan metode persalinan yang paling aman.14
3.3 Penanganan Koinfeksi dan Komplikasi
Ibu hamil dengan HIV memiliki risiko lebih tinggi terhadap infeksi oportunistik. Skrining Tuberkulosis (TB) harus dilakukan secara rutin pada setiap kunjungan. Jika ditemukan TB aktif, pengobatan TB harus segera dimulai, dengan penyesuaian waktu inisiasi ARV untuk menghindari sindrom pemulihan kekebalan (IRIS) yang berat. Selain itu, pemberian profilaksis Kotrimoksazol diberikan jika jumlah CD4 < 200 sel/mm³ untuk mencegah pneumonia Pneumocystis dan toksoplasmosis.1
4. Strategi Persalinan: Menjamin Keselamatan Ibu dan Bayi
Pemilihan metode persalinan pada ibu dengan HIV adalah keputusan klinis yang kompleks yang harus menyeimbangkan risiko penularan HIV ke bayi dengan risiko morbiditas bedah pada ibu. Paradigma lama yang mewajibkan semua ibu hamil HIV untuk menjalani operasi caesar (Seksio Sesarea) telah bergeser menuju pendekatan berbasis bukti virologis.
4.1 Persalinan Pervaginam (Normal): Syarat dan Protokol
Persalinan pervaginam kini dianggap sebagai opsi yang aman dan feasible bagi ibu hamil dengan HIV, asalkan memenuhi kriteria ketat yang ditetapkan oleh Kementerian Kesehatan dan organisasi profesi (POGI). Hal ini memungkinkan ibu hamil untuk mendapatkan pengalaman melahirkan yang lebih alami dan pemulihan yang lebih cepat, serta mengurangi risiko komplikasi bedah.17
Syarat Mutlak Persalinan Pervaginam:
- Supresi Virus Optimal: Kadar viral load HIV dalam darah ibu harus tidak terdeteksi atau < 1.000 kopi/mL pada pemeriksaan terakhir (idealnya usia kehamilan 36 minggu).13 Angka 1.000 kopi/mL adalah ambang batas keamanan yang disepakati secara klinis di Indonesia; di bawah angka ini, risiko transmisi intrapartum dianggap sangat rendah (<1%).
- Kepatuhan ARV: Ibu telah mengonsumsi ARV secara teratur selama minimal 6 bulan sebelum persalinan.18
- Kondisi Obstetrik Baik: Tidak ada indikasi kebidanan lain yang mengharuskan operasi caesar (seperti panggul sempit, plasenta previa, letak lintang, atau bekas caesar berulang).
Protokol Tindakan:
Dalam persalinan pervaginam, prinsip “Minimalkan Trauma” harus diterapkan secara disiplin. Tenaga kesehatan dilarang melakukan tindakan invasif rutin seperti:
- Amniotomi (pemecahan ketuban) dini, karena semakin lama bayi terpapar cairan amnion setelah ketuban pecah, semakin tinggi risiko infeksi.
- Episiotomi rutin.
- Ekstraksi vakum atau forceps, kecuali dalam keadaan gawat darurat janin yang absolut, karena alat ini dapat menyebabkan mikrolesi di kulit kepala bayi yang menjadi pintu masuk virus.17
4.2 Persalinan Seksio Sesarea (Operasi Caesar) Elektif
Operasi caesar elektif (terencana) tetap menjadi standar emas pencegahan penularan pada kondisi-kondisi tertentu di mana risiko transmisi pervaginam dinilai tinggi.
Indikasi Operasi Caesar:
- Viral Load Tinggi: Hasil viral load > 1.000 kopi/mL pada pemeriksaan terakhir.
- Status Virologis Tidak Diketahui: Ibu hamil yang datang pada masa late pregnancy atau inpartu tanpa hasil pemeriksaan viral load terbaru.
- Pengobatan ARV Belum Optimal: Ibu baru memulai ARV < 6 bulan atau kepatuhan minum obat buruk.
- Indikasi Obstetrik: Adanya penyulit kehamilan lainnya.13
Operasi caesar elektif idealnya dijadwalkan pada usia kehamilan 38 minggu. Penjadwalan ini bertujuan untuk mencegah ibu masuk ke dalam fase persalinan aktif (inpartu) atau mengalami pecah ketuban spontan (KPD). Jika ketuban sudah pecah lebih dari 4 jam, keuntungan protektif dari operasi caesar berkurang secara signifikan, sehingga keputusan metode persalinan harus dievaluasi ulang secara individual.20
4.3 Kewaspadaan Standar (Universal Precaution)
Terlepas dari metode persalinan dan status HIV pasien, penerapan Kewaspadaan Standar adalah mandatori di seluruh fasilitas kesehatan untuk melindungi tenaga kesehatan dan pasien lainnya. Bidan dan dokter penolong persalinan wajib menggunakan Alat Pelindung Diri (APD) lengkap yang meliputi:
- Sarung tangan steril (ganda jika perlu).
- Gaun pelindung kedap air.
- Masker bedah dan pelindung mata (goggle atau face shield) untuk mencegah percikan darah atau cairan tubuh ke mukosa mata/mulut penolong.
- Sepatu bot tertutup.7
Penanganan benda tajam (jarum suntik, pisau bedah) harus dilakukan dengan teknik one-hand dan pembuangan limbah medis infeksius harus sesuai prosedur standar operasional (SOP) pengelolaan limbah B3. Penerapan ini juga berfungsi untuk mencegah stigmatisasi; jika prosedur ini dilakukan hanya pada pasien HIV positif, hal itu akan menandai pasien tersebut. Oleh karena itu, prosedur ini harus diterapkan secara universal pada semua pasien persalinan.21
5. Integrasi Layanan dalam Sistem Jaminan Kesehatan Nasional (BPJS)
Salah satu pertanyaan krusial bagi ibu hamil adalah mengenai aksesibilitas biaya. Sistem Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) yang dikelola oleh BPJS Kesehatan menyediakan payung perlindungan finansial yang luas bagi ibu hamil dengan HIV, namun memerlukan pemahaman mengenai alur administrasi agar manfaatnya dapat diakses secara maksimal.
5.1 Cakupan Pembiayaan BPJS Kesehatan
BPJS Kesehatan menanggung hampir seluruh komponen medis yang diperlukan dalam manajemen PPIA, berdasarkan indikasi medis yang jelas:
- Pemeriksaan Antenatal (ANC): Pemeriksaan kehamilan rutin di Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama (FKTP) seperti Puskesmas atau Klinik Pratama ditanggung sepenuhnya. Ini mencakup pemeriksaan fisik, penimbangan berat badan, dan pemberian tablet tambah darah.
- Skrining HIV: Tes HIV, Sifilis, dan Hepatitis B yang merupakan bagian dari standar pelayanan ANC Terpadu di Puskesmas ditanggung oleh pemerintah (melalui program Kemenkes) dan jasa pelayanannya ditanggung BPJS dalam paket kapitasi atau non-kapitasi.24
- Obat ARV: Obat antiretroviral (ARV) disediakan secara gratis oleh Pemerintah (Kemenkes) sebagai barang publik. Pasien tidak perlu membayar harga obat. BPJS Kesehatan menanggung biaya administrasi pelayanan kefarmasian atau jasa konsultasi dokter terkait peresepan ARV di fasilitas rujukan.24
- Pemeriksaan Penunjang (Viral Load & CD4): Pemeriksaan viral load kini semakin diperluas aksesnya. Di banyak fasilitas rujukan, pemeriksaan ini didukung oleh program hibah global atau anggaran Kemenkes sehingga gratis bagi pasien. Jika dilakukan atas indikasi medis di RS rujukan, BPJS dapat menanggung komponen biaya layanan terkait pengambil sampel, meskipun reagennya seringkali dari program pusat.14
- Persalinan:
- Persalinan Normal: Ditanggung di Puskesmas (FKTP) maupun di Rumah Sakit (FKRTL) jika ada penyulit atau rujukan medis.
- Seksio Sesarea: Ditanggung penuh di Rumah Sakit jika ada indikasi medis. Status “HIV Positif dengan risiko penularan” (misalnya viral load tinggi atau tanpa pengobatan adekuat) merupakan indikasi medis yang sah untuk klaim operasi caesar di BPJS Kesehatan. Tidak ada biaya tambahan yang boleh dibebankan kepada pasien peserta JKN untuk prosedur ini.25
5.2 Alur Rujukan Berjenjang
Untuk memastikan klaim BPJS disetujui, ibu hamil harus mematuhi sistem rujukan berjenjang:
- Fase Deteksi (FKTP): Ibu hamil memeriksakan diri di Puskesmas/Klinik tempat ia terdaftar. Jika hasil skrining reaktif, FKTP wajib memberikan surat rujukan ke Rumah Sakit (FKRTL) yang memiliki layanan Perawatan Dukungan Pengobatan (PDP) HIV.
- Fase Manajemen Lanjut (FKRTL): Di RS rujukan, ibu hamil akan ditangani oleh tim ahli (Dokter Kandungan dan Dokter Penyakit Dalam/Tim VCT) untuk inisiasi ARV, pemantauan efek samping, dan rencana persalinan. Surat rujukan ini biasanya berlaku selama 3 bulan untuk kasus kronis (kontrol rutin).24
- Kondisi Gawat Darurat: Jika ibu hamil mengalami kondisi darurat (misal: perdarahan hebat, kejang, atau persalinan macet), ia dapat langsung dibawa ke IGD Rumah Sakit manapun (bahkan yang tidak bekerjasama dengan BPJS atau di luar wilayah faskes) tanpa surat rujukan. BPJS wajib menanggung biaya pelayanan gawat darurat tersebut hingga kondisi pasien stabil.29
5.3 Program Pengelolaan Penyakit Kronis (Prolanis)
Meskipun HIV belum sepenuhnya terintegrasi dalam skema Prolanis (yang umumnya fokus pada Diabetes dan Hipertensi) di semua daerah, prinsip pemantauan kronis yang diterapkan BPJS memungkinkan pasien HIV mendapatkan pemantauan rutin. Peserta BPJS dengan HIV masuk dalam kategori pasien yang membutuhkan obat rutin (rujuk balik), sehingga memudahkan pengambilan obat ARV di apotek yang bekerjasama tanpa harus antre dokter setiap bulan jika kondisi stabil.30
6. Manajemen Pascapersalinan dan Neonatal
Masa nifas dan neonatal adalah periode kritis untuk memastikan bayi yang lahir tidak terinfeksi, atau jika terinfeksi, segera mendapatkan penanganan.
6.1 Profilaksis Antiretroviral pada Bayi
Bayi yang lahir dari ibu HIV positif dikategorikan sebagai “bayi terpapar HIV” (HIV-exposed infant). Bayi ini wajib mendapatkan ARV profilaksis segera setelah lahir (golden period 6-12 jam pertama) untuk mencegah virus yang mungkin masuk saat persalinan berkembang biak.
- Obat Pilihan: Zidovudine (AZT/ZDV) sirup.
- Dosis & Durasi: Dosis disesuaikan dengan berat badan lahir dan usia gestasi. Secara umum, profilaksis Zidovudine diberikan selama 6 minggu penuh.17
- Dosis standar untuk bayi cukup bulan (≥2500 gram): 4 mg/kg BB, dua kali sehari.
- Dosis disesuaikan untuk bayi prematur (<35 minggu) atau berat badan lahir rendah.
- Pencegahan Infeksi Oportunistik: Mulai usia 6 minggu (setelah profilaksis Zidovudine selesai), bayi diberikan profilaksis Kotrimoksazol sirup setiap hari. Tujuannya adalah mencegah Pneumonia Pneumocystis jirovecii (PCP), penyebab kematian utama pada bayi HIV positif. Pemberian ini dilanjutkan sampai diagnosis HIV pada bayi dapat disingkirkan sepenuhnya.17
6.2 Diagnosis Dini pada Bayi (Early Infant Diagnosis – EID)
Karena bayi mewarisi antibodi maternal (IgG) yang dapat menetap hingga usia 18 bulan, tes serologi (Rapid Test HIV) pada bayi < 18 bulan akan memberikan hasil positif palsu (mendeteksi antibodi ibu, bukan virus bayi). Oleh karena itu, diagnosis mutlak harus menggunakan pemeriksaan virologis (PCR DNA/RNA).
Jadwal Pemeriksaan EID:
- PCR DNA HIV-1 (EID 1): Dilakukan pada usia bayi 6 minggu. Ini adalah tes penentu awal.
- Jika Positif: Segera konfirmasi dengan tes virologis kedua pada sampel baru. Jika tetap positif, bayi didiagnosis terinfeksi HIV dan segera dimulai terapi ARV seumur hidup (Pediatrik ARV).
- Jika Negatif: Bayi kemungkinan besar tidak terinfeksi, namun pemantauan terus dilakukan selama masa menyusui.
- Tes Serologi Akhir: Dilakukan pada usia 18 bulan atau setelah masa menyusui selesai total, untuk konfirmasi final status negatif bayi.12
7. Nutrisi Bayi: ASI Eksklusif vs Susu Formula
Pilihan pemberian makan bayi adalah dilema terbesar dalam PPIA, terutama di negara berkembang seperti Indonesia. ASI mengandung virus HIV, namun juga mengandung antibodi esensial yang melindungi bayi dari diare dan malnutrisi, dua pembunuh utama bayi di Indonesia.
7.1 Kriteria AFASS dan Rekomendasi Nasional
Pedoman WHO dan Kementerian Kesehatan RI menekankan pendekatan yang disesuaikan dengan konteks individual. Tidak ada lagi larangan mutlak menyusui, namun ada syarat ketat.
Opsi 1: Susu Formula Eksklusif (Prioritas Utama jika Memungkinkan)
Susu formula menghilangkan risiko penularan HIV pascapersalinan hingga 0%. Namun, ini hanya direkomendasikan jika ibu memenuhi syarat AFASS:
- A (Acceptable): Dapat diterima secara sosial/budaya (tidak menimbulkan kecurigaan tetangga/keluarga yang dapat memicu stigma).
- F (Feasible): Ibu/keluarga memiliki waktu, pengetahuan, dan keterampilan menyiapkan susu formula (air panas, takaran).
- A (Affordable): Mampu membeli susu formula secara kontinyu selama 6 bulan (biaya susu formula cukup tinggi).
- S (Sustainable): Ketersediaan susu terjamin setiap hari selama 6-12 bulan.
- S (Safe): Tersedia air bersih yang higienis dan sanitasi lingkungan yang baik (botol steril).3
Jika syarat AFASS tidak terpenuhi (misalnya: air bersih sulit, ekonomi rendah), pemberian susu formula justru berisiko tinggi menyebabkan bayi mati karena diare atau gizi buruk. Dalam kondisi ini, Opsi 2 menjadi pilihan.
Opsi 2: ASI Eksklusif (Dengan Perlindungan ARV)
Ibu boleh menyusui bayinya dengan syarat ketat:
- Ibu Patuh ARV: Ibu harus disiplin minum obat ARV untuk menekan jumlah virus dalam ASI.
- Eksklusif 6 Bulan: Hanya ASI saja. Tidak boleh ada air putih, pisang, bubur, atau susu formula selingan.
- Manajemen Kesehatan Payudara: Segera obati jika ada lecet puting atau mastitis.
7.2 Larangan Keras: Mixed Feeding
Praktik Mixed Feeding (mencampur ASI dengan susu formula/makanan lain sebelum 6 bulan) adalah yang paling berbahaya dan dilarang keras. Makanan/cairan lain selain ASI dapat merusak dinding usus bayi (gut mucosal integrity), menyebabkan peradangan mikro yang memungkinkan virus HIV dari ASI masuk ke aliran darah bayi dengan sangat mudah. Risiko penularan pada mixed feeding jauh lebih tinggi dibandingkan ASI Eksklusif.8
7.3 Bantuan Nutrisi dan Kesenjangan BPJS
Salah satu tantangan kebijakan adalah BPJS Kesehatan saat ini tidak menanggung biaya pembelian susu formula. Susu formula dianggap sebagai suplemen makanan, bukan obat.8 Hal ini menciptakan beban finansial berat bagi keluarga miskin yang ingin memilih opsi susu formula demi keamanan bayi. Beberapa inisiatif lokal (seperti BAZNAS atau LSM Peduli AIDS) terkadang memberikan bantuan susu, namun belum menjadi kebijakan nasional yang merata.37
8. Aspek Psikososial dan Tantangan Implementasi
8.1 Stigma di Layanan Kesehatan
Stigma dan diskriminasi masih menjadi penghalang utama. Laporan lapangan menunjukkan masih ada tenaga kesehatan, termasuk bidan, yang enggan menolong persalinan ibu HIV karena ketakutan berlebihan (excessive fear) akan tertular, meskipun protokol kewaspadaan standar sudah ada.38 Edukasi berkelanjutan bagi tenaga kesehatan dan penegakan sanksi bagi tindakan diskriminatif sangat diperlukan.
8.2 Peran Dukungan Komunitas
Dukungan sebaya (Peer Support Group) dan konseling pasangan sangat vital untuk menjaga kepatuhan minum obat. Ibu hamil yang membuka statusnya kepada pasangan (status disclosure) cenderung memiliki kepatuhan berobat yang lebih baik dan dukungan finansial/emosional yang lebih kuat untuk kebutuhan bayi.
Kesimpulan dan Rekomendasi
Pencegahan penularan HIV dari ibu ke anak di Indonesia telah memiliki kerangka kebijakan yang kokoh (Triple Eliminasi) dan dukungan pembiayaan yang luas (BPJS Kesehatan). Kunci keberhasilan terletak pada integrasi layanan: Skrining di Puskesmas -> Rujukan Tepat Waktu ke RS -> Kepatuhan ARV -> Persalinan Aman -> Profilaksis Bayi.
Rekomendasi Utama bagi Ibu Hamil:
- Manfaatkan layanan ANC Terpadu di Puskesmas seawal mungkin untuk mengetahui status HIV.
- Jangan takut minum ARV; obat ini aman untuk janin dan merupakan pelindung utama nyawa bayi.
- Urus administrasi BPJS dan minta rujukan ke RS yang kompeten sejak jauh hari untuk perencanaan persalinan.
- Konsultasikan pilihan nutrisi (ASI/Sufor) secara realistis dengan petugas kesehatan, pertimbangkan kemampuan ekonomi dan ketersediaan air bersih.
Dengan kepatuhan terhadap protokol medis dan pemanfaatan fasilitas jaminan kesehatan yang tersedia, impian untuk melahirkan generasi bebas HIV adalah target yang sangat realistis untuk dicapai di Indonesia.
Lampiran Data
Tabel 1: Ringkasan Protokol Persalinan Berdasarkan Status Virologis
| Parameter | Persalinan Pervaginam (Normal) | Seksio Sesarea (Operasi Caesar) |
| Viral Load Ibu | < 1.000 kopi/mL (Tidak Terdeteksi) | > 1.000 kopi/mL atau Tidak Diketahui |
| Lama Pengobatan ARV | Teratur > 6 bulan | Belum diobati atau < 6 bulan |
| Kondisi Ketuban | Utuh atau pecah < 4 jam | – |
| Penanggung Biaya | BPJS (FKTP/FKRTL) | BPJS (FKRTL) |
| Keuntungan Klinis | Risiko infeksi pasca-operasi rendah | Risiko transmisi virus ke bayi minimal (pada VL tinggi) |
Tabel 2: Perbandingan Opsi Nutrisi Bayi
| Aspek | Susu Formula Eksklusif | ASI Eksklusif | Mixed Feeding (Campur) |
| Risiko Penularan HIV | 0% (Nol) | Rendah (<5%) jika ibu ARV & Viral Load tak terdeteksi | Sangat Tinggi (Berbahaya) |
| Syarat Utama | Kriteria AFASS terpenuhi | Ibu patuh ARV, manajemen puting baik | – |
| Risiko Lain | Diare, Malnutrisi (jika air kotor/tak mampu beli) | Transmisi HIV (jika viral load naik/mastitis) | Transmisi HIV & Gangguan pencernaan |
| Rekomendasi | Pilihan Utama jika mampu & higienis | Pilihan Kedua (terutama di daerah sulit air bersih) | DILARANG KERAS |
Tabel 3: Alur Diagnosis HIV pada Bayi (EID)
| Usia Bayi | Jenis Tes | Tujuan | Tindakan jika Positif |
| 6 Minggu | PCR DNA/RNA | Deteksi virus (bukan antibodi) | Konfirmasi ulang, mulai ARV Pediatrik |
| 9 Bulan | Tes Serologi (Antibodi) | Skrining lanjutan | Lanjut PCR untuk konfirmasi |
| 18 Bulan | Tes Serologi (Antibodi) | Konfirmasi final status HIV | Jika positif, anak terinfeksi HIV permanen |
Referensi
- Penatalaksanaan HIV dalam Kehamilan, diakses November 29, 2025, https://ifrelresearch.org/index.php/diagnosa-widyakarya/article/download/178/192/575
- PENCEGAHAN PENULARAN HIV DARI IBU KE BAYI Harry …, diakses November 29, 2025, https://journal.uwks.ac.id/index.php/jikw/article/download/2146/1232
- Permenkes Nomor 23 Tahun 2022.pdf – Peraturan BPK, diakses November 29, 2025, https://peraturan.bpk.go.id/Download/301566/Permenkes%20Nomor%2023%20Tahun%202022.pdf
- Permenkes Nomor 52 Tahun 2017.pdf – Peraturan BPK, diakses November 29, 2025, https://peraturan.bpk.go.id/Download/103103/Permenkes%20Nomor%2052%20Tahun%202017.pdf
- PERATURAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA …, diakses November 29, 2025, https://www.regulasip.id/book/20132/read
- Tinjauan Pustaka – Neliti, diakses November 29, 2025, https://media.neliti.com/media/publications/496122-pencegahan-penularan-hiv-dari-ibu-ke-bay-bee9db40.pdf
- PEDOMAN NASIONAL PENCEGAHAN PENULARAN HIV DARI IBU …, diakses November 29, 2025, https://www.library.stikesbup.ac.id/index.php?p=fstream-pdf&fid=199&bid=2477
- Ini Sebab Bayi dengan Ibu Pasien HIV Tak Dianjurkan Diberi ASI …, diakses November 29, 2025, https://health.detik.com/ibu-dan-anak/d-3273533/ini-sebab-bayi-dengan-ibu-pasien-hiv-tak-dianjurkan-diberi-asi-kombinasi-sufor
- Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 23 Tahun 2022.pdf – Regulasip, diakses November 29, 2025, https://www.regulasip.id/themes/default/resources/js/pdfjs/web/viewer.html?file=/eBooks/2023/January/63c0cf4d99b97/Peraturan%20Menteri%20Kesehatan%20Nomor%2023%20Tahun%202022.pdf
- Pelatihan Pencegahan Penularan HIV, Sifilis dan Hepatitis B dari …, diakses November 29, 2025, https://lms.kemkes.go.id/courses/9e7521e9-3e23-4160-9608-36ed3cb94615
- BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Menurut Sustainable …, diakses November 29, 2025, http://eresources.thamrin.ac.id/2655/3/Tri%20Octafila%20Sany_S1%20Kebidanan_2024_Bab%201.pdf
- BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA – Kementerian Pertahanan, diakses November 29, 2025, https://www.kemhan.go.id/itjen/wp-content/uploads/2017/03/BN72-2015.pdf
- Infeksi Human Immunodeficiency Virus (HIV) dalam Kehamilan – Neliti, diakses November 29, 2025, https://media.neliti.com/media/publications/399360-infeksi-human-immunodeficiency-virus-hiv-9ff4c2d8.pdf
- Pentingnya Pemeriksaan Viral Load (VL) HIV – Ayo Sehat Kemkes, diakses November 29, 2025, https://ayosehat.kemkes.go.id/pentingnya-pemeriksaan-viral-load-vl-hiv
- 44 BAB V HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Hasil …, diakses November 29, 2025, https://repository.poltekkes-denpasar.ac.id/9454/6/BAB%20V.pdf
- PNPK 2019 – Tata Laksana HIV, diakses November 29, 2025, http://www.kemkes.go.id/eng/pnpk-2019—tata-laksana-hiv
- Tata laksana Bayi dari Ibu pengidap HIV/AIDS – Sari Pediatri, diakses November 29, 2025, https://saripediatri.org/index.php/sari-pediatri/article/download/945/877
- hubungan antara tingkat pengetahuan dan, diakses November 29, 2025, https://repository.ub.ac.id/180387/2/Stefilus%20Laki%20Leta.pdf
- Mitos Yang Sering Jadi Pemahaman Keliru Tentang HIV Part 1, diakses November 29, 2025, https://equalsid.or.id/beranda/mitos-yang-sering-jadi-pemahaman-keliru-tentang-hiv-part-1/0d8d78fe-2eba-43b5-abec-3e727b32b318
- tatalaksana infeksi hiv dalam kehamilan – OJS Unud, diakses November 29, 2025, https://ojs.unud.ac.id/index.php/eum/article/download/4873/3659
- Kewaspadaan Universal dalam Persalinan Bedah Cesar pada …, diakses November 29, 2025, https://e-journals.unmul.ac.id/index.php/JKM/article/download/7074/4409
- Pengetahuan dan Sikap Bidan Terhadap Penularan HIV/AIDS …, diakses November 29, 2025, https://ejournal.undip.ac.id/index.php/jpki/article/download/5566/4947
- penerapan kewaspadaan standar sebagai upaya pencegahan …, diakses November 29, 2025, https://journal.unnes.ac.id/sju/higeia/article/download/15406/8971/
- Tes HIV Gratis dengan BPJS Kesehatan, Simak Syarat … – Tempo.co, diakses November 29, 2025, https://www.tempo.co/ekonomi/tes-hiv-gratis-dengan-bpjs-kesehatan-simak-syarat-dan-prosedurnya–129200
- LAPORAN STUDI – International Labour Organization, diakses November 29, 2025, https://www.ilo.org/sites/default/files/wcmsp5/groups/public/@asia/@ro-bangkok/@ilo-jakarta/documents/publication/wcms_740245.pdf
- Melahirkan Bisa Pakai BPJS, Ini Biaya yang Ditanggung dan …, diakses November 29, 2025, https://www.allianz.co.id/explore/melahirkan-bisa-pakai-bpjs-ini-biaya-yang-ditanggung-dan-prosedurnya.html
- Ketahui Estimasi Total Biaya Operasi Caesar BPJS dan Tanpa BPJS, diakses November 29, 2025, https://www.haibunda.com/kehamilan/20250626162030-49-369915/ketahui-estimasi-total-biaya-operasi-caesar-bpjs-dan-tanpa-bpjs
- keputusan menteri kesehatan republik indonesia, diakses November 29, 2025, https://pkmtembelang.jombangkab.go.id/storage/dokumen/vUNkoctPCJ2iyYRylPZUunXLmMiYfRvWZZPAs3xP.pdf
- Permenkes Nomor 28 Tahun 2014.pdf – Peraturan BPK, diakses November 29, 2025, https://peraturan.bpk.go.id/Home/Download/108352/Permenkes%20Nomor%2028%20Tahun%202014.pdf
- PROLANIS – PusatAsuransi.com, diakses November 29, 2025, https://old.pusatasuransi.com/wp-content/uploads/2016/07/06-PROLANIS.pdf
- DAFTAR PUSTAKA – Repository UPN Veteran Jakarta, diakses November 29, 2025, http://repository.upnvj.ac.id/3597/10/DAFTAR%20PUSTAKA.pdf
- KEMENTERIAN KESEHATAN, diakses November 29, 2025, https://kemkes.go.id/app_asset/file_content_download/17375340136790aa3d6ee8e2.06143490.pdf
- keputusan menteri kesehatan republik indonesia, diakses November 29, 2025, https://kemkes.go.id/app_asset/file_content_download/17001194686555c3ac68f806.85230770.pdf
- IDAI | Menyusui pada ibu HIV, diakses November 29, 2025, https://www.idai.or.id/artikel/klinik/asi/menyusui-pada-ibu-hiv
- Dokter: Jangan campur susu formula dan ASI dari ibu pasien HIV, diakses November 29, 2025, https://www.antaranews.com/berita/3294443/dokter-jangan-campur-susu-formula-dan-asi-dari-ibu-pasien-hiv
- Pengidap HIV Masih Boleh Menyusui, Ini Syaratnya – Halodoc, diakses November 29, 2025, https://www.halodoc.com/artikel/pengidap-hiv-masih-boleh-menyusui-ini-syaratnya
- Jumlah Anak Terdampak HIV Yang Mendapat Bantuan Nutrisi …, diakses November 29, 2025, https://opendata.cirebonkota.go.id/dataset/jumlah-anak-terdampak-hiv-yang-mendapat-bantuan-nutrisi-berupa-susu-formula-dari-baznas-kota-cirebon
- (PDF) Faktor-Faktor yang Berhubungan dengan Perilaku Bidan …, diakses November 29, 2025, https://www.researchgate.net/publication/339705036_Faktor-Faktor_yang_Berhubungan_dengan_Perilaku_Bidan_dalam_Pencegahan_Risiko_Penularan_HIVAIDS_pada_Pertolongan_Persalinan_Normal_di_Kota_Tanjungpinang_Tahun_2014

Tinggalkan komentar