Apakah Anda atau orang terdekat Anda hidup dengan penyakit autoimun seperti lupus atau artritis reumatoid? Jika ya, Anda mungkin sudah familiar dengan rasa sakit sendi, kelelahan yang luar biasa, dan gejala lain yang sering muncul dan hilang tanpa diduga. Kabar baiknya, apa yang Anda makan dapat membantu mengendalikan peradangan dan mengurangi gejala yang mengganggu kehidupan sehari-hari. Mari kita pelajari bersama bagaimana diet dapat menjadi senjata ampuh dalam mengelola penyakit autoimun.
Memahami Penyakit Autoimun dan Peradangan
Sistem kekebalan tubuh kita dirancang untuk melindungi dari ancaman seperti virus dan bakteri. Namun pada penyakit autoimun, sistem kekebalan tubuh keliru menyerang sel-sel sehat kita sendiri, seolah-olah mereka adalah musuh. Bayangkan tentara yang salah sasaran dan menyerang kotanya sendiri—itulah yang terjadi dalam tubuh penderita penyakit autoimun.
Penyakit autoimun seperti lupus, penyakit radang usus, penyakit celiac, dan artritis reumatoid ditandai dengan sistem kekebalan yang memproduksi antibodi yang menyerang sel dan jaringan sehat, alih-alih melawan infeksi.
Penelitian menunjukkan bahwa pada individu yang rentan, kerusakan pada penghalang usus dapat menyebabkan peningkatan permeabilitas usus—yang dikenal sebagai “usus bocor”—yang dapat memicu perkembangan penyakit autoimun tertentu. Di sinilah makanan berperan penting.
Apa itu Diet Autoimun (AIP)?
Diet Autoimun Protocol (AIP) adalah pendekatan nutrisi yang dirancang khusus untuk membantu mengurangi peradangan dan gejala penyakit autoimun. AIP adalah diet eliminasi yang dipersonalisasi yang bertujuan untuk menentukan dan mengeluarkan makanan yang mungkin memicu respons imun, yang menyebabkan peradangan dan gejala yang terkait dengan penyakit autoimun.
Bagaimana AIP Bekerja?
AIP bekerja dalam tiga fase yang saling melengkapi:
Fase 1: Fase Eliminasi (4-6 minggu atau lebih)
Fase eliminasi selama 6 minggu dengan menghilangkan secara bertahap biji-bijian, kacang-kacangan, sayuran nightshade, produk susu, telur, kopi, alkohol, kacang-kacangan dan biji-bijian, gula olahan, minyak tertentu, obat anti-inflamasi non-steroid, dan bahan tambahan makanan.
Fase 2: Fase Reintroduksi
Setelah gejala membaik, makanan diperkenalkan kembali satu per satu sambil memantau reaksi tubuh.
Fase 3: Fase Pemeliharaan
Menghindari makanan pemicu yang telah teridentifikasi sambil mengonsumsi makanan padat nutrisi yang beragam.
Apakah AIP Efektif?
Penelitian menunjukkan hasil yang menjanjikan. Sebuah studi menemukan bahwa setelah 11 minggu diet AIP, terjadi perbaikan signifikan dalam skor gejala penyakit radang usus, tingkat kalprotektin feses, dan peradangan endoskopik. Lebih lanjut, peserta melaporkan perbaikan signifikan dalam frekuensi buang air besar, stres, dan kemampuan untuk melakukan aktivitas rekreasi atau olahraga sejak minggu ke-3 penelitian.
Meskipun penelitian tentang AIP masih terbatas, hasil awal menunjukkan potensi besar sebagai terapi pelengkap untuk pengelolaan penyakit autoimun.
Makanan yang Harus Dihindari: Pemicu Peradangan
Mengetahui makanan apa yang harus dihindari sama pentingnya dengan mengetahui apa yang harus dimakan. Berikut adalah makanan pemicu peradangan yang sebaiknya dibatasi atau dihindari:
1. Gula dan Pemanis Buatan
Konsumsi gula berlebihan dapat menyebabkan penambahan berat badan dan meningkatkan risiko sindrom metabolik serta diabetes tipe 2, kondisi yang sering dikaitkan dengan risiko penyakit autoimun yang lebih tinggi. Gula memicu tubuh melepaskan pembawa pesan inflamasi yang disebut sitokin.
Hindari: Permen, kue, minuman bersoda, sirup jagung tinggi fruktosa, gula aren, gula pasir.
2. Makanan Olahan dan Cepat Saji
Makanan olahan dan cepat saji terkenal dengan kandungan bahan buatan, lemak tidak sehat, dan natrium yang berlebihan, yang berkontribusi pada peradangan dan dapat memperburuk gejala bagi penderita penyakit autoimun.
Hindari: Nugget, sosis, daging olahan, makanan beku siap saji, mie instan, keripik kemasan.
3. Sayuran Nightshade (untuk beberapa orang)
Sayuran nightshade adalah keluarga tanaman yang mencakup tomat, kentang, terong, paprika, cabai, dan bahan berbasis lada seperti cayenne dan paprika. Tanaman mengandung bahan kimia yang disebut alkaloid yang dapat memengaruhi tubuh, dan alkaloid nightshade diketahui dapat mendorong peradangan.
Catatan penting: Tidak semua orang dengan penyakit autoimun sensitif terhadap nightshade. Jika Anda menduga sensitif terhadap nightshade, jangan makan mereka selama dua minggu, kemudian perkenalkan kembali secara perlahan ke dalam diet Anda dengan jeda sekitar tiga hari di antara masing-masing.
Sayuran nightshade: Tomat, kentang, terong, paprika (semua jenis), cabai.
4. Gluten (terutama pada individu yang sensitif)
Untuk individu yang bergulat dengan autoimunitas, gluten dapat menjadi tamu yang tidak terkendali di pesta, mengganggu penghalang usus—perlindungan penting terhadap penyakit—dan memanggil respons inflamasi.
Hindari: Roti gandum, pasta, kue, biskuit, mi, sereal yang mengandung gandum, barley, atau rye.
5. Produk Susu
Banyak penderita autoimun mengalami sensitivitas terhadap produk susu yang dapat memicu peradangan.
Hindari: Susu sapi, keju, mentega, yogurt susu sapi, es krim.
6. Biji-bijian, Kacang-kacangan, dan Telur (selama fase eliminasi)
Ini termasuk dalam daftar eliminasi AIP karena berpotensi memicu reaksi imun pada beberapa individu.
Makanan Anti-Inflamasi: Sahabat Terbaik Anda
Sekarang mari kita bahas makanan-makanan yang dapat membantu menenangkan peradangan dan mendukung sistem kekebalan tubuh yang sehat.
1. Ikan Berlemak Kaya Omega-3
Asam lemak omega-3 dianggap memiliki sifat imunomodulator karena mereka bertindak sebagai prekursor mediator lipid peradangan yang dapat membatasi atau memodulasi respons inflamasi.
Analisis tahun 2021 terhadap 70 studi tentang minyak ikan dan suplemen makanan lainnya menemukan bahwa minyak ikan secara signifikan mengurangi aktivitas penyakit, nyeri, dan kekakuan pagi hari pada penderita artritis reumatoid. Lebih lanjut, tampaknya dosis harian minimum 3 gram eicosapentaenoic acid dan docosahexaenoic acid diperlukan untuk mendapatkan manfaat yang diharapkan AJCN .
Sumber terbaik omega-3:
- Salmon (100 gram = sekitar 2-3 gram omega-3)
- Sarden kalengan
- Makarel
- Tuna
- Ikan kembung
Alternatif nabati:
- Biji rami (flaxseed) – 1 sendok makan = 2,4 gram omega-3
- Biji chia – 1 sendok makan = 2,5 gram omega-3
- Kenari (walnut) – 30 gram = 2,5 gram omega-3
2. Buah Beri: Antioksidan Kuat
Buah beri mengandung antioksidan yang disebut antosianin, yang memiliki efek anti-inflamasi yang dapat mengurangi risiko penyakit.
Pilihan terbaik:
- Blueberry: 1 mangkuk = antioksidan setara dengan 5 porsi sayuran
- Stroberi: Kaya vitamin C dan anthocyanin
- Blackberry: Tinggi serat dan vitamin K
- Raspberry: Mengandung quercetin yang anti-inflamasi
Cara praktis: Tambahkan ke smoothie pagi, taburkan di atas salad, atau makan sebagai camilan segar.
3. Sayuran Hijau Berdaun Gelap
Sayuran berdaun hijau gelap tinggi nutrisi dan antioksidan, melindungi sel sehat dari kerusakan dan mengurangi peradangan. Mereka juga merupakan sumber magnesium yang baik, mineral esensial yang diperlukan untuk mendukung fungsi kekebalan tubuh yang sehat.
Pilihan terbaik:
- Bayam: Kaya vitamin A, C, K, dan folat
- Kangkung (kale): Tinggi antioksidan dan vitamin C
- Sawi hijau: Mengandung kalsium dan vitamin K
- Selada air (arugula): Kaya nitrat yang menyehatkan jantung
Tips: Tumis dengan sedikit minyak zaitun dan bawang putih, tambahkan ke sup, atau buat smoothie hijau.
4. Kunyit dan Jahe: Rempah Emas Anti-Inflamasi
Penelitian menunjukkan bahwa karena sifat anti-inflamasinya, kunyit dan jahe bermanfaat dalam mengobati beberapa kondisi autoimun, termasuk artritis reumatoid, lupus, multiple sclerosis, dan kolitis ulseratif.
Kunyit (Turmeric):
- Mengandung kurkumin, senyawa anti-inflamasi yang kuat
- Dalam satu studi, orang dengan sindrom metabolik mengonsumsi 1 gram kurkumin setiap hari yang dikombinasikan dengan piperin dari lada hitam, dan mengalami penurunan signifikan dalam penanda inflamasi CRP
- Dosis efektif: 1.000 mg kurkumin per hari
- Penting: Kombinasikan dengan lada hitam untuk penyerapan optimal
Jahe:
- Bekerja dengan menghambat produksi zat yang mendorong peradangan
- Dapat membantu pencernaan dan mengurangi mual
Cara menggunakan:
- Tambahkan ke kari, tumisan, sup
- Buat teh kunyit-jahe hangat
- Campurkan ke dalam smoothie
5. Minyak Zaitun Extra Virgin
Minyak zaitun extra virgin adalah salah satu lemak paling sehat yang bisa Anda makan, kaya akan lemak tak jenuh tunggal dan merupakan makanan pokok dalam diet Mediterania yang memberikan banyak manfaat kesehatan.
Manfaat:
- Mengandung oleocanthal yang memiliki efek anti-inflamasi seperti ibuprofen
- Kaya antioksidan polifenol
Cara menggunakan: Gunakan untuk menumis (api sedang), sebagai dressing salad, atau untuk marinasi daging dan ikan.
6. Sayuran Berwarna-warni
Sayuran oranye dan merah:
- Wortel: Kaya beta-karoten
- Ubi jalar: Tinggi vitamin A dan antioksidan
- Labu: Mengandung karotenoid anti-inflamasi
- Bit: Kaya nitrat dan betalain
Sayuran cruciferous:
- Brokoli: Mengandung sulforaphane yang anti-inflamasi
- Kembang kol: Tinggi serat dan antioksidan
- Kubis: Kaya vitamin C dan K
7. Makanan Fermentasi untuk Kesehatan Usus
Sauerkraut dan makanan fermentasi lainnya seperti kimchi, kombucha, yogurt, dan kefir adalah sumber bakteri sehat yang baik. Probiotik kuat ini dapat melawan bakteri jahat dan membantu mensintesis beberapa nutrisi.
Pilihan:
- Tempe (dibuat dari kedelai yang difermentasi)
- Kimchi (kubis fermentasi Korea)
- Kombucha (teh fermentasi)
- Yogurt tanpa susu (dari kelapa atau almond)
8. Bawang Putih dan Bawang Bombay
Bawang dan bawang putih mengandung nutrisi anti-inflamasi seperti allicin dan quercetin, yang dapat membantu melawan peradangan.
Manfaat tambahan:
- Meningkatkan sistem kekebalan tubuh
- Memiliki sifat antimikroba
- Mendukung kesehatan jantung
Contoh Menu Harian Diet Autoimun
Sarapan:
- Smoothie hijau: Bayam, blueberry, pisang, biji chia, santan, dan jahe segar
- Atau: Ubi jalar panggang dengan alpukat dan sauerkraut
Snack Pagi:
- Wortel dan mentimun dengan hummus (tanpa tahini jika dalam fase eliminasi)
- Atau: Buah beri segar dengan sedikit madu
Makan Siang:
- Salad salmon: Salmon panggang dengan campuran sayuran hijau, bit, wortel parut, dan dressing minyak zaitun-lemon
- Atau: Sup sayuran dengan daging ayam kampung dan kunyit
Snack Sore:
- Smoothie alpukat-nanas
- Atau: Ubi kukus dengan kayu manis
Makan Malam:
- Ikan makarel panggang dengan brokoli tumis bawang putih dan ubi jalar panggang
- Atau: Tumis sayuran warna-warni dengan daging sapi grass-fed dan nasi kembang kol
Sebelum Tidur:
- Teh jahe-kunyit hangat dengan sedikit madu
Tips Praktis Menjalani Diet Autoimun
1. Mulai Perlahan
Jangan mencoba mengubah seluruh pola makan dalam semalam. Mulailah dengan mengganti satu makanan pemicu dengan alternatif yang lebih sehat setiap minggu.
2. Catat Makanan dan Gejala
Gunakan jurnal makanan untuk mencatat apa yang Anda makan dan bagaimana perasaan Anda setelahnya. Ini akan membantu mengidentifikasi pemicu pribadi Anda.
3. Persiapkan Makanan di Awal
Luangkan waktu di akhir pekan untuk:
- Mencuci dan memotong sayuran
- Memasak protein dalam jumlah besar
- Menyiapkan bumbu dan saus sehat
4. Baca Label dengan Teliti
Banyak makanan kemasan mengandung bahan tersembunyi yang dapat memicu peradangan. Biasakan membaca label dan pilih produk dengan bahan sesedikit mungkin.
5. Jangan Takut Lemak Sehat
Lemak dari alpukat, minyak zaitun, ikan berlemak, dan kelapa sangat penting untuk mengurangi peradangan dan kesehatan sel.
6. Tetap Terhidrasi
Minum air putih yang cukup (minimal 8 gelas per hari) untuk membantu mengeluarkan racun dan mendukung fungsi pencernaan.
Pertimbangan Penting
Konsultasi dengan Profesional Kesehatan
Seperti diet eliminasi lainnya, Anda menghilangkan banyak makanan berbeda dan itu menempatkan Anda pada risiko kekurangan vitamin dan mineral jika tidak hati-hati. Sangat penting untuk bekerja sama dengan dokter atau ahli gizi terdaftar sebelum memulai diet ini.
Suplemen yang Mungkin Diperlukan
Karena banyak makanan yang dihilangkan, Anda mungkin memerlukan suplemen untuk:
- Vitamin D
- Omega-3 (jika tidak cukup dari makanan)
- Probiotik
- Vitamin B12 (terutama jika menghindari produk hewani)
Setiap Orang Berbeda
Apa yang bekerja untuk satu orang mungkin tidak bekerja untuk orang lain. Tidak ada jawaban yang cocok untuk semua orang dengan penyakit autoimun. Misalnya, beberapa klien menemukan bahwa mereka dapat mentoleransi nightshade tanpa masalah, sementara yang lain belajar bahwa nightshade adalah penyebab utama peradangan dan ketidaknyamanan.
Pesan Harapan
Meskipun penyakit autoimun tidak dapat disembuhkan, penelitian menunjukkan bahwa diet dapat menjadi alat yang sangat kuat dalam mengelola gejala dan meningkatkan kualitas hidup. Intervensi diet dengan basis anti-inflamasi dapat menjadi cara efektif bagi orang dewasa dengan artritis reumatoid yang mencari pengobatan komplementer, berpotensi menghasilkan perbaikan dalam parameter tertentu.
Perjalanan menuju kesehatan yang lebih baik melalui diet memang memerlukan komitmen dan kesabaran, tetapi banyak orang melaporkan perbaikan signifikan dalam energi, nyeri sendi, kualitas tidur, dan kesejahteraan umum setelah mengadopsi pola makan anti-inflamasi.
Langkah Selanjutnya
- Konsultasikan dengan dokter Anda tentang apakah diet autoimun cocok untuk Anda
- Temui ahli gizi yang berpengalaman dalam diet autoimun untuk panduan yang dipersonalisasi
- Mulai dengan perubahan kecil – ganti satu makanan pemicu per minggu
- Bergabung dengan komunitas penderita autoimun untuk dukungan dan berbagi resep
- Bersabarlah – perubahan positif mungkin memerlukan waktu beberapa minggu hingga bulan
Ingatlah, Anda tidak sendirian dalam perjalanan ini. Dengan dukungan yang tepat, pengetahuan yang baik, dan komitmen untuk kesehatan Anda sendiri, Anda dapat mengambil kendali atas gejala autoimun dan menjalani hidup yang lebih berkualitas.
Referensi
Aggarwal, B. B., & Sung, B. (2009). Pharmacological basis for the role of curcumin in chronic diseases: An age-old spice with modern targets. Trends in Pharmacological Sciences, 30(2), 85-94. https://doi.org/10.1016/j.tips.2008.11.002
Ballantyne, S. (2014). The Paleo approach: Reverse autoimmune disease and heal your body. Victory Belt Publishing.
Chandran, B., & Goel, A. (2012). A randomized, pilot study to assess the efficacy and safety of curcumin in patients with active rheumatoid arthritis. Phytotherapy Research, 26(11), 1719-1725. https://doi.org/10.1002/ptr.4639
Goldberg, R. J., & Katz, J. (2007). A meta-analysis of the analgesic effects of omega-3 polyunsaturated fatty acid supplementation for inflammatory joint pain. Pain, 129(1-2), 210-223. https://doi.org/10.1016/j.pain.2007.01.020
Konijeti, G. G., Kim, N., Lewis, J. D., Groven, S., Chandrasekaran, A., Grandhe, S., Diamant, C., Singh, E., Oliveira, G., Wang, X., Molparia, B., & Torkamani, A. (2017). Efficacy of the autoimmune protocol diet for inflammatory bowel disease. Inflammatory Bowel Diseases, 23(11), 2054-2060. https://doi.org/10.1097/MIB.0000000000001221
Konijeti, G. G., Arora, P., Boylan, M. R., Song, Y., Huang, S., Harrell, F., Newton, K. M., Kratz, M., Kawut, S. M., Tapsoba, J., Manson, J. E., & Snetselaar, L. G. (2019). An autoimmune protocol diet improves patient-reported quality of life in inflammatory bowel disease. Crohn’s & Colitis 360, 1(3), otz019. https://doi.org/10.1093/crocol/otz019
Kremer, J. M. (2000). n−3 Fatty acid supplements in rheumatoid arthritis. American Journal of Clinical Nutrition, 71(1 Suppl), 349S-351S. https://doi.org/10.1093/ajcn/71.1.349s
Lee, Y. H., Bae, S. C., & Song, G. G. (2012). Omega-3 polyunsaturated fatty acids and the treatment of rheumatoid arthritis: A meta-analysis. Archives of Medical Research, 43(5), 356-362. https://doi.org/10.1016/j.arcmed.2012.06.011
Miles, E. A., & Calder, P. C. (2012). Influence of marine n-3 polyunsaturated fatty acids on immune function and a systematic review of their effects on clinical outcomes in rheumatoid arthritis. British Journal of Nutrition, 107(S2), S171-S184. https://doi.org/10.1017/S0007114512001560
Olendzki, B. C., Leung, K., Van Buskirk, S., Reed, G., & Zurier, R. B. (2011). Treatment of rheumatoid arthritis with marine and botanical oils: Influence on serum lipids. Evidence-Based Complementary and Alternative Medicine, 2011, Article 827286. https://doi.org/10.1155/2011/827286
Raad, T., Griffin, A., George, E. S., Larkin, L., Fraser, A., Kennedy, N., & Tierney, A. C. (2021). Dietary interventions with or without omega-3 supplementation for the management of rheumatoid arthritis: A systematic review. Nutrients, 13(10), 3506. https://doi.org/10.3390/nu13103506
Shivappa, N., Steck, S. E., Hurley, T. G., Hussey, J. R., & Hébert, J. R. (2014). Designing and developing a literature-derived, population-based dietary inflammatory index. Public Health Nutrition, 17(8), 1689-1696. https://doi.org/10.1017/S1368980013002115
Simopoulos, A. P. (2002). Omega-3 fatty acids in inflammation and autoimmune diseases. Journal of the American College of Nutrition, 21(6), 495-505. https://doi.org/10.1080/07315724.2002.10719248
Tsoukalas, D., Fragoulakis, V., Sarandi, E., Docea, A. O., Papakonstaninou, E., Tsilimidos, G., & Calina, D. (2019). Targeted metabolomic analysis of serum fatty acids for the prediction of autoimmune diseases. Frontiers in Molecular Biosciences, 6, 120. https://doi.org/10.3389/fmolb.2019.00120
Wahls, T. L., Chenard, C. A., & Snetselaar, L. G. (2019). Review of two popular eating plans within the multiple sclerosis community: Low saturated fat and modified paleolithic. Nutrients, 11(2), 352. https://doi.org/10.3390/nu11020352
Xu, H., Kulkarni, S. R., Singh, R., & Morris, P. (2013). The autoimmune protocol diet modifies intestinal RNA expression in inflammatory bowel disease. Crohn’s & Colitis 360, 2(3), otaa002. https://doi.org/10.1093/crocol/otaa002
Zervou, M. I., Goulielmos, G. N., Castro-Giner, F., Tosca, A. D., & Krueger-Krasagakis, S. (2024). Autoimmune protocol diet: A personalized elimination diet for patients with autoimmune diseases. World Journal of Methodology, 15(1), 97058. https://doi.org/10.5662/wjm.v15.i1.97058
Catatan: Artikel ini bertujuan untuk memberikan informasi umum dan edukasi tentang pengelolaan penyakit autoimun melalui diet. Informasi ini bukan pengganti konsultasi medis profesional, diagnosis, atau pengobatan. Selalu konsultasikan dengan dokter, ahli reumatologi, atau ahli gizi terdaftar sebelum membuat perubahan signifikan pada pola makan Anda, terutama jika Anda sedang menjalani pengobatan untuk penyakit autoimun.

Tinggalkan komentar