A Cahya Legawa's Les pèlerins au-dessus des nuages

Pernahkah Anda melihat teman kuliah yang tiba-tiba menarik diri, terlihat murung berkepanjangan, atau mengalami kepanikan saat menghadapi tenggat waktu tugas? Di lingkungan kampus yang dinamis, tekanan akademik dan sosial adalah hal yang nyata. Sama seperti luka fisik yang butuh perban, luka batin juga butuh pertolongan pertama.

Kementerian Kesehatan RI baru saja merilis Buku Saku Pertolongan Pertama pada Luka Psikologis (P3LP) bagi First Aider Jenjang Perguruan Tinggi. Buku ini hadir sebagai panduan praktis bagi warga kampus—baik dosen, tenaga kependidikan, maupun mahasiswa—untuk menjadi First Aider atau penolong pertama bagi mereka yang sedang mengalami guncangan psikologis.

Berikut adalah alasan mengapa buku saku ini wajib Anda baca:

1. Memahami Bahwa “Sehat Jiwa” itu Penting

Buku ini tidak langsung melompat ke teknis pertolongan, tetapi membekali pembacanya dengan Literasi Kesehatan Jiwa. Anda akan diajak memahami bahwa kesehatan jiwa sama pentingnya dengan kesehatan fisik. Buku ini meluruskan kesalahpahaman umum, seperti penggunaan istilah “kena mental” yang sering disalahartikan, dan mengajarkan kita untuk melihat kesehatan jiwa sebagai sebuah spektrum, dari kondisi sehat hingga membutuhkan penanganan profesional.

2. Apa itu P3LP?

P3LP atau Psychological First Aid (PFA) adalah bantuan psikologis paling dasar dan sederhana bagi individu yang mengalami kejadian berat atau krisis. Prinsipnya bukan untuk menggantikan peran psikolog atau psikiater, dan bukan untuk mendiagnosis atau memberikan terapi.

Tujuan utamanya adalah mengurangi beban distres (stres negatif) yang dirasakan seseorang dan mencegah dampak negatif lebih lanjut. Buku ini mengajarkan tiga prinsip aksi utama yang mudah diingat:

  • Memperhatikan (Look): Mengamati keamanan dan kondisi individu yang membutuhkan bantuan.
  • Mendengarkan (Listen): Menjadi pendengar yang aktif, penuh empati, dan tidak menghakimi.
  • Menghubungkan (Link): Membantu individu mendapatkan akses ke kebutuhan dasar atau bantuan profesional jika diperlukan.

3. Panduan untuk Situasi Khusus

Kehidupan kampus memiliki tantangannya sendiri. Buku saku ini secara spesifik membahas langkah-langkah P3LP untuk kasus-kasus sensitif seperti:

  • Perundungan (Bullying): Bagaimana mendeteksi korban dan melakukan intervensi dini.
  • Kegawatdaruratan Psikiatri: Panduan menghadapi perilaku melukai diri sendiri (Non-Suicidal Self-Injury/NSSI) dan risiko bunuh diri.

4. Self-Care untuk Si Penolong

Satu hal yang sering dilupakan adalah kondisi sang penolong itu sendiri. Buku ini mengingatkan bahwa untuk bisa membantu orang lain, kita harus memastikan diri kita sendiri kuat. Terdapat bab khusus tentang Menjaga Kesehatan Jiwa Tetap Positif yang berisi teknik koping sehat, seperti relaksasi, grounding, dan journaling untuk mengelola stres.

Kesimpulan

“Tidak ada kesehatan tanpa kesehatan jiwa,” kutipan dari Vikram Patel ini menjadi jiwa dari buku saku ini. Dengan membaca dan memahami buku ini, kita semua bisa mengambil peran kecil namun bermakna untuk menciptakan lingkungan kampus yang lebih empatik dan suportif. Kita tidak perlu menjadi ahli untuk mulai peduli; kita hanya perlu hadir, mendengar, dan menghubungkan.

Mari bersama-sama wujudkan Kampus Sehat!

Commenting 101: “Be kind, and respect each other” // Bersikaplah baik, dan saling menghormati (Indonesian) // Soyez gentils et respectez-vous les uns les autres (French) // Sean amables y respétense mutuamente (Spanish) // 待人友善,互相尊重 (Chinese) // كونوا لطفاء واحترموا بعضكم البعض (Arabic) // Будьте добры и уважайте друг друга (Russian) // Seid freundlich und respektiert einander (German) // 親切にし、お互いを尊重し合いましょう (Japanese) // दयालु बनें, और एक दूसरे का सम्मान करें (Hindi) // Siate gentili e rispettatevi a vicenda (Italian)

Tinggalkan komentar