A Cahya Legawa's Les pèlerins au-dessus des nuages

  1. Pendahuluan
  2. Apa Itu Angina Pektoris?
  3. Klasifikasi Angina
    1. 1. Angina Stabil
    2. 2. Angina Tidak Stabil
    3. 3. Angina Varian (Prinzmetal)
  4. Gejala dan Tanda Klinis
  5. Penyebab dan Faktor Risiko
  6. Diagnosis Angina Pektoris
    1. Tahap 1: Evaluasi Klinis Umum
    2. Tahap 2: Pemeriksaan Spesialis Jantung
    3. Tahap 3: Pemeriksaan Diagnostik
    4. Model Kemungkinan Klinis
  7. Tatalaksana Angina Pektoris
    1. 1. Modifikasi Gaya Hidup
    2. 2. Terapi Medikamentosa
    3. 3. Revaskularisasi
    4. 4. Penanganan Khusus: ANOCA/INOCA
  8. Prognosis dan Pencegahan Sekunder
  9. Kapan Harus ke Dokter?
  10. Penutup
  11. Catatan Kaki – Istilah Medis:
  12. Referensi:

Pendahuluan

Pernahkah Anda merasakan nyeri atau rasa tidak nyaman di dada saat naik tangga atau berjalan cepat, yang kemudian mereda ketika beristirahat? Gejala seperti ini bisa jadi merupakan tanda angina pektoris¹, sebuah kondisi yang menjadi sinyal peringatan penting dari jantung kita. Angina bukanlah penyakit tersendiri, melainkan gejala dari penyakit jantung koroner yang memerlukan perhatian serius.

Di Indonesia, penyakit jantung koroner termasuk angina pektoris merupakan salah satu penyebab utama kesakitan dan kematian. Pemahaman yang baik tentang angina sangat penting, baik bagi masyarakat umum maupun tenaga kesehatan, untuk memastikan deteksi dini dan penanganan yang tepat.

Apa Itu Angina Pektoris?

Angina pektoris adalah nyeri atau rasa tidak nyaman di dada yang timbul akibat berkurangnya aliran darah ke otot jantung. Kondisi ini terjadi ketika otot jantung tidak mendapatkan pasokan oksigen yang cukup untuk memenuhi kebutuhannya, terutama saat aktivitas fisik atau stres emosional.

Pemahaman modern tentang angina telah berkembang melampaui konsep klasik yang hanya melihat penyempitan pembuluh darah koroner besar, namun kini mencakup gangguan struktural dan fungsional pada pembuluh darah besar maupun pembuluh darah mikro².

Klasifikasi Angina

Angina dapat diklasifikasikan berdasarkan pola kemunculannya:

1. Angina Stabil

Angina stabil adalah bentuk yang paling umum, di mana nyeri dada muncul secara dapat diprediksi saat melakukan aktivitas fisik tertentu dan mereda dengan istirahat atau konsumsi obat nitrat³. Karakteristiknya meliputi:

  • Nyeri timbul saat beraktivitas fisik atau stres emosional
  • Durasi biasanya 5-15 menit
  • Berkurang atau hilang dengan istirahat
  • Pola dan frekuensi relatif konsisten

2. Angina Tidak Stabil

Kondisi yang lebih serius di mana pola nyeri berubah menjadi lebih sering, lebih berat, atau terjadi saat istirahat. Ini merupakan keadaan darurat medis yang memerlukan penanganan segera.

3. Angina Varian (Prinzmetal)

Tipe angina yang jarang terjadi, disebabkan oleh kejang⁴ pembuluh darah koroner, biasanya terjadi saat istirahat dan sering pada malam hari.

Gejala dan Tanda Klinis

Gejala utama angina adalah nyeri dada atau angina pektoris dan sesak napas saat beraktivitas. Namun, manifestasi klinis angina dapat bervariasi:

Nyeri Dada Tipikal:

  • Terasa seperti ditekan, diremas, atau ada beban berat di dada
  • Berlokasi di tengah dada atau sisi kiri dada
  • Dapat menjalar ke lengan kiri, leher, rahang, punggung, atau perut bagian atas
  • Dipicu oleh aktivitas fisik, stres emosional, atau paparan suhu dingin
  • Berlangsung beberapa menit dan mereda dengan istirahat

Gejala “Angina Ekuivalen”⁵: Tidak semua pasien merasakan nyeri dada klasik. Beberapa mengalami:

  • Sesak napas
  • Kelelahan berlebihan
  • Pusing atau pingsan
  • Nyeri di lengan, rahang, atau punggung tanpa nyeri dada

Kelompok tertentu seperti penderita diabetes, wanita, dan lansia lebih sering mengalami gejala atipikal.

Penyebab dan Faktor Risiko

Angina umumnya disebabkan oleh aterosklerosis⁶, yaitu penumpukan plak kolesterol di dinding pembuluh darah koroner yang menyebabkan penyempitan. Namun, mekanisme lain juga dapat berperan:

  1. Penyempitan pembuluh darah koroner obstruktif – akibat plak aterosklerosis
  2. Disfungsi pembuluh darah mikro⁷ – gangguan pada pembuluh darah kecil jantung
  3. Kejang pembuluh darah koroner – kontraksi berlebihan dinding pembuluh darah

Faktor Risiko yang Dapat Dimodifikasi:

  • Merokok
  • Hipertensi⁸ (tekanan darah tinggi)
  • Kolesterol tinggi (dislipidemia⁹)
  • Diabetes melitus
  • Obesitas
  • Kurang aktivitas fisik
  • Stres berkepanjangan
  • Pola makan tidak sehat

Faktor Risiko yang Tidak Dapat Dimodifikasi:

  • Usia (pria >45 tahun, wanita >55 tahun)
  • Jenis kelamin (pria lebih berisiko)
  • Riwayat keluarga penyakit jantung koroner
  • Riwayat penyakit kardiovaskular¹⁰ sebelumnya

Diagnosis Angina Pektoris

Pedoman terbaru European Society of Cardiology tahun 2024 merekomendasikan pendekatan bertahap dalam diagnosis sindrom koroner kronik termasuk angina:

Tahap 1: Evaluasi Klinis Umum

Penilaian gejala dan tanda-tanda, membedakan nyeri dada non-jantung, dan menyingkirkan sindrom koroner akut.

Tahap 2: Pemeriksaan Spesialis Jantung

Termasuk ekokardiografi¹¹ saat istirahat untuk menilai fungsi jantung dan menyingkirkan penyakit katup jantung.

Tahap 3: Pemeriksaan Diagnostik

A. Pemeriksaan Dasar:

  • Elektrokardiografi (EKG)
  • Pemeriksaan darah (profil lipid, gula darah, fungsi ginjal)
  • Biomarker jantung (troponin¹²)

B. Pemeriksaan Non-Invasif:

Computed Tomography Coronary Angiography (CTCA)¹³ direkomendasikan untuk menyingkirkan penyakit arteri koroner obstruktif pada pasien dengan kemungkinan rendah hingga sedang. Pemeriksaan ini dapat mendeteksi penyempitan pembuluh darah tanpa prosedur invasif.

Pemeriksaan pencitraan fungsional seperti:

  • Uji latih jantung (treadmill)
  • Ekokardiografi stres¹⁴
  • Pencitraan perfusi¹⁵ miokard
  • Cardiac MRI¹⁶ (Magnetic Resonance Imaging)

C. Pemeriksaan Invasif: Angiografi koroner invasif direkomendasikan untuk mendiagnosis penyakit arteri koroner obstruktif pada pasien dengan gejala berat yang tidak membaik dengan terapi medis, atau pada pasien dengan risiko kejadian tinggi.

Model Kemungkinan Klinis

Pedoman 2024 merekomendasikan penggunaan model kemungkinan klinis yang mempertimbangkan faktor risiko seperti usia, jenis kelamin, dan gejala untuk meningkatkan prediksi penyakit arteri koroner obstruktif. Pendekatan ini membantu dokter memutuskan pemeriksaan mana yang paling sesuai untuk setiap pasien.

Tatalaksana Angina Pektoris

Penatalaksanaan angina melibatkan pendekatan komprehensif yang mencakup modifikasi gaya hidup, terapi medikamentosa, dan bila diperlukan, revaskularisasi¹⁷.

1. Modifikasi Gaya Hidup

Perubahan gaya hidup merupakan fondasi utama penatalaksanaan:

  • Berhenti merokok – dapat mengurangi risiko kejadian koroner hingga 50%
  • Pola makan sehat – diet Mediterania¹⁸ atau diet rendah lemak jenuh
  • Aktivitas fisik teratur – minimal 150 menit per minggu aktivitas sedang
  • Manajemen berat badan – mencapai dan mempertahankan berat badan ideal
  • Kontrol stres – teknik relaksasi, meditasi, atau konseling

2. Terapi Medikamentosa

A. Obat Antiangina (Pereda Gejala):

Beta-blocker seperti bisoprolol dan nebivolol merupakan obat lini pertama yang direkomendasikan untuk meredakan angina, pencegahan sekunder pasca infark miokard, dan kontrol laju jantung. Obat-obat antiangina bekerja dengan mengurangi kebutuhan oksigen jantung atau meningkatkan aliran darah koroner:

  1. Beta-blocker – mengurangi denyut jantung dan tekanan darah
  2. Calcium Channel Blocker (CCB)¹⁹ – melebarkan pembuluh darah dan mengurangi kejang koroner
  3. Nitrat – melebarkan pembuluh darah, nitrat kerja cepat untuk gejala akut
  4. Obat lini kedua: Ivabradine²⁰, Nicorandil, Ranolazine, Trimetazidine

B. Obat Pengubah Perjalanan Penyakit:

  1. Antiplatelet²¹ – Aspirin, Clopidogrel untuk mencegah pembekuan darah
  2. Statin²² – menurunkan kolesterol dan menstabilkan plak aterosklerosis
  3. ACE Inhibitor/ARB²³ – terutama pada pasien dengan hipertensi atau diabetes
  4. Terapi antitrombus diperpanjang dapat dipertimbangkan pada pasien risiko tinggi

3. Revaskularisasi

Prosedur untuk memulihkan aliran darah ke jantung dipertimbangkan pada:

  • Gejala yang tidak terkontrol dengan terapi optimal
  • Penyakit koroner berat (stenosis²⁴ arteri utama)
  • Penurunan fungsi jantung

Pilihan revaskularisasi:

  1. Percutaneous Coronary Intervention (PCI)²⁵ – pemasangan stent²⁶ melalui kateter
  2. Coronary Artery Bypass Grafting (CABG)²⁷ – operasi bypass koroner

Pemilihan modalitas revaskularisasi yang paling tepat harus berdasarkan profil pasien, anatomi koroner, faktor prosedural, preferensi pasien, dan harapan hasil.

4. Penanganan Khusus: ANOCA/INOCA

Lebih dari separuh pasien dengan dugaan sindrom koroner kronik mungkin mengalami angina/iskemia dengan arteri koroner non-obstruktif (ANOCA/INOCA) yang disebabkan oleh kejang arteri koroner atau disfungsi mikrovaskular. Pasien ini memerlukan pendekatan diagnostik dan terapi khusus:

  • Pemeriksaan fungsional koroner invasif
  • Calcium channel blocker untuk angina vasospastik
  • Terapi yang disesuaikan dengan endotipe²⁸ spesifik

Prognosis dan Pencegahan Sekunder

Dengan penatalaksanaan yang tepat, banyak pasien angina dapat menjalani kehidupan yang produktif dan berkualitas. Kunci keberhasilan adalah:

  1. Kepatuhan terhadap terapi – mengonsumsi obat secara teratur sesuai resep
  2. Pemantauan rutin – kontrol berkala ke dokter
  3. Modifikasi faktor risiko berkelanjutan
  4. Pengenalan dini gejala perburukan – segera mencari bantuan medis jika gejala berubah

Kapan Harus ke Dokter?

Segera cari pertolongan medis jika:

  • Nyeri dada berlangsung lebih dari 15 menit
  • Nyeri tidak berkurang dengan istirahat atau nitrat
  • Nyeri disertai sesak napas berat, mual, muntah, atau keringat dingin
  • Pola angina berubah menjadi lebih sering atau lebih berat
  • Angina timbul saat istirahat

Penutup

Angina pektoris merupakan manifestasi penting dari penyakit jantung koroner yang memerlukan diagnosis dan penatalaksanaan komprehensif. Dengan pemahaman yang lebih baik tentang patofisiologi yang kompleks, termasuk peran disfungsi mikrovaskular dan kejang koroner, serta pendekatan diagnostik dan terapeutik terkini, progosis pasien angina dapat diperbaiki secara signifikan.

Pedoman terbaru menekankan pentingnya pendekatan individual yang mempertimbangkan karakteristik, preferensi, dan respons setiap pasien. Kolaborasi antara pasien dan tenaga kesehatan, didukung oleh kepatuhan terhadap gaya hidup sehat dan terapi yang tepat, merupakan kunci keberhasilan penatalaksanaan angina pektoris.


Catatan Kaki – Istilah Medis:

¹ Angina pektoris: Nyeri dada atau rasa tidak nyaman akibat berkurangnya aliran darah ke otot jantung
² Mikrovaskular: Berkaitan dengan pembuluh darah kecil
³ Nitrat: Golongan obat yang melebarkan pembuluh darah
⁴ Kejang: Kontraksi atau penyempitan mendadak
⁵ Angina ekuivalen: Gejala pengganti nyeri dada yang setara
⁶ Aterosklerosis: Pengerasan dan penyempitan pembuluh darah akibat plak
⁷ Disfungsi: Gangguan fungsi
⁸ Hipertensi: Tekanan darah tinggi
⁹ Dislipidemia: Gangguan kadar lemak darah
¹⁰ Kardiovaskular: Berkaitan dengan jantung dan pembuluh darah
¹¹ Ekokardiografi: Pemeriksaan jantung dengan gelombang suara ultrasonik
¹² Troponin: Penanda biologis kerusakan otot jantung
¹³ CTCA (CT Coronary Angiography): Pemeriksaan pembuluh darah koroner dengan CT scan
¹⁴ Ekokardiografi stres: Pemeriksaan fungsi jantung saat diberi beban
¹⁵ Perfusi: Aliran darah ke jaringan
¹⁶ MRI (Magnetic Resonance Imaging): Pencitraan dengan medan magnet
¹⁷ Revaskularisasi: Tindakan memulihkan aliran darah
¹⁸ Diet Mediterania: Pola makan kaya buah, sayur, ikan, dan minyak zaitun
¹⁹ Calcium Channel Blocker: Obat penghambat kanal kalsium
²⁰ Ivabradine: Obat penurun denyut jantung
²¹ Antiplatelet: Obat pencegah pembekuan darah
²² Statin: Obat penurun kolesterol
²³ ACE Inhibitor/ARB: Obat penurun tekanan darah
²⁴ Stenosis: Penyempitan
²⁵ PCI (Percutaneous Coronary Intervention): Tindakan pemasangan ring jantung melalui kateter
²⁶ Stent: Ring/penyangga pembuluh darah
²⁷ CABG (Coronary Artery Bypass Grafting): Operasi bypass jantung
²⁸ Endotipe: Subtipe penyakit berdasarkan mekanisme biologis


Referensi:

  1. Vrints C, Andreotti F, Koskinas KC, et al. 2024 ESC Guidelines for the management of chronic coronary syndromes. European Heart Journal. 2024;45(36):3415-3537. https://doi.org/10.1093/eurheartj/ehae177
  2. Ray S, Saboo B, Roy D, et al. The Beta-blocker chronicle: From past principles to present practice – Implications for the Indian subcontinent. Indian Heart Journal. 2025. https://doi.org/10.1016/j.ihj.2025.10.006
  3. Setyo Adji A, Billah A, Nugraha A, et al. Lipid profile and safety of rosuvastatin monotherapy versus rosuvastatin plus ezetimibe in high risk coronary artery disease: a systematic review and meta-analysis of randomized controlled trials. The Egyptian Heart Journal. 2025;77(1):58. https://doi.org/10.1186/s43044-025-00654-y
  4. Manolis AJ, Collins P, Kallistratos MS, Rosano G. Key messages and critical approach of the 2024 guidelines of the European Society of Cardiology on chronic coronary syndromes. Hellenic Journal of Cardiology. 2025;85:90-98. https://doi.org/10.1016/j.hjc.2025.02.003
  5. Pitliya A, Pitliya A, Vasudevan SS, et al. In-hospital and long-term clinical outcomes of spontaneous coronary artery dissection (SCAD): a meta-analysis of conservative versus revascularization approaches. The Egyptian Heart Journal. 2024;76(1):153. https://doi.org/10.1186/s43044-024-00585-0
  6. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor HK.01.07/MENKES/1419/2023 tentang Pedoman Nasional Pelayanan Kedokteran Tata Laksana Angina Pectoris Stabil. Jakarta: Kemenkes RI; 2023.
  7. Perhimpunan Dokter Spesialis Kardiovaskular Indonesia (PERKI). Pedoman Evaluasi dan Tatalaksana Angina Pektoris Stabil. Edisi Pertama. Jakarta: PERKI; 2019.
  8. Perhimpunan Dokter Spesialis Kardiovaskular Indonesia (PERKI). Pedoman Tatalaksana Sindrom Koroner Akut. Edisi Keempat. Jakarta: PERKI; 2018.

Artikel ini disusun berdasarkan pedoman klinis terkini dan publikasi ilmiah terbaru. Untuk konsultasi medis individual, selalu berkonsultasi dengan dokter Anda.

Commenting 101: “Be kind, and respect each other” // Bersikaplah baik, dan saling menghormati (Indonesian) // Soyez gentils et respectez-vous les uns les autres (French) // Sean amables y respétense mutuamente (Spanish) // 待人友善,互相尊重 (Chinese) // كونوا لطفاء واحترموا بعضكم البعض (Arabic) // Будьте добры и уважайте друг друга (Russian) // Seid freundlich und respektiert einander (German) // 親切にし、お互いを尊重し合いましょう (Japanese) // दयालु बनें, और एक दूसरे का सम्मान करें (Hindi) // Siate gentili e rispettatevi a vicenda (Italian)

Tinggalkan komentar