A Cahya Legawa's Les pèlerins au-dessus des nuages

Luka gigitan, baik oleh hewan peliharaan, hewan liar, maupun sesama manusia, adalah salah satu kasus cedera yang paling sering ditemui di Instalasi Gawat Darurat (IGD). Meski kadang terlihat sepele—hanya berupa goresan atau lubang kecil—luka gigitan membawa risiko infeksi yang jauh lebih tinggi dibandingkan luka sayat biasa.

Mengapa demikian? Karena mulut, baik mulut hewan maupun manusia, adalah “sarang” bagi ratusan jenis bakteri. Artikel ini akan membahas risiko medis, perbedaan karakteristik luka, serta tata laksana terkini berdasarkan panduan medis global dan nasional.


Mengapa Luka Gigitan Berbahaya? (Tinjauan Mikrobiologi)

Bahaya utama dari luka gigitan bukan hanya kerusakan fisik pada kulit (trauma mekanik), melainkan inokulasi (masuknya) bakteri ke dalam jaringan tubuh.

  1. Gigitan Anjing: Umumnya menyebabkan cedera remuk (crush injury) dan robekan. Bakteri yang dominan adalah Pasteurella canis.
  2. Gigitan Kucing: Sering dianggap sepele karena lukanya kecil, namun sangat berbahaya. Gigi taring kucing yang tajam dan runcing bertindak seperti jarum suntik, memasukkan bakteri Pasteurella multocida jauh ke dalam sendi atau tulang. Risiko infeksi gigitan kucing sangat tinggi, mencapai 30-50% kasus.
  3. Gigitan Manusia: Ini adalah jenis gigitan dengan risiko infeksi paling tinggi karena flora mulut manusia mengandung bakteri yang sangat beragam dan virulen (ganas), seperti Eikenella corrodens, Staphylococcus aureus, dan bakteri anaerob.

Jenis-Jenis Luka Gigitan yang Perlu Diwaspadai

1. Gigitan Hewan (Anjing, Kucing, Kera)

Selain risiko infeksi bakteri, perhatian utama pada gigitan hewan mamalia di Indonesia adalah Rabies. Rabies adalah penyakit virus yang menyerang sistem saraf pusat dan hampir selalu fatal (mematikan) jika gejala sudah muncul.

2. Gigitan Manusia (Human Bites)

Gigitan manusia dibagi menjadi dua kategori:

  • Gigitan Oklusi: Gigitan langsung di mana gigi menancap pada kulit (misalnya pada kasus kekerasan fisik atau seksual).
  • Clenched-fist injury (Fight Bite): Luka pada buku-buku jari tangan akibat memukul gigi orang lain. Ini sangat berbahaya karena bakteri mulut dapat masuk langsung ke selubung tendon tangan, menyebabkan infeksi berat yang bisa berujung pada amputasi jari jika terlambat ditangani.

Langkah Pertolongan Pertama (Pre-Hospital)

Tindakan di menit-menit awal sangat menentukan prognosis penyembuhan dan pencegahan Rabies.

  1. Cuci Luka (Wajib): Cuci luka di bawah air mengalir dengan sabun/deterjen selama 10-15 menit. Virus rabies memiliki selubung lemak yang bisa dihancurkan oleh sabun. Ini adalah langkah paling krusial menurut pedoman Kemenkes RI dan WHO.
  2. Berikan Antiseptik: Setelah dicuci, berikan cairan antiseptik seperti povidone iodine atau alkohol 70%.
  3. Hentikan Perdarahan: Tekan luka dengan kain bersih jika terjadi perdarahan aktif.
  4. Segera ke Fasilitas Kesehatan: Jangan menunda, terutama jika luka dalam, tidak berhenti berdarah, atau digigit hewan liar/tidak dikenal.

Penanganan Medis di Rumah Sakit

Saat pasien tiba di fasilitas kesehatan, dokter akan melakukan evaluasi berdasarkan prinsip-prinsip berikut:

1. Pencucian dan Debridement

Dokter akan membersihkan jaringan mati atau benda asing di dalam luka (debridement). Irigasi (penyemprotan) dengan cairan infus (NaCl fisiologis) dalam jumlah banyak dilakukan untuk membuang bakteri.

2. Jahit Luka: Boleh atau Tidak?

Ini adalah pertanyaan umum. Jawabannya: Tergantung.

  • Luka Gigitan Anjing: Boleh dijahit jika luka masih baru (< 8 jam) dan sudah dibersihkan dengan sangat baik, untuk alasan kosmetik (terutama di wajah).
  • Luka Gigitan Kucing dan Manusia: Umumnya TIDAK DIJAHIT rapat (dibiarkan terbuka atau delayed closure). Menjahit luka jenis ini sama dengan “mengunci” bakteri di dalam kulit, yang akan menyebabkan abses (kantong nanah).

3. Pemberian Antibiotik Profilaksis

Antibiotik tidak selalu diberikan untuk luka gores dangkal. Namun, antibiotik wajib diberikan jika:

  • Luka gigitan kucing atau manusia.
  • Luka pada tangan, wajah, atau area kemaluan.
  • Luka yang dalam (sampai tulang/sendi).
  • Pasien dengan kekebalan tubuh rendah (diabetes, HIV).
  • Obat pilihan utama biasanya adalah kombinasi Amoxicillin-Clavulanate karena efektif melawan bakteri aerob dan anaerob.

Profilaksis Tetanus, Rabies, dan Virus Lainnya

Ini adalah bagian terpenting dalam mencegah kematian akibat komplikasi gigitan.

1. Tetanus

Semua luka gigitan (terutama yang dalam dan kotor) berisiko tetanus. Dokter akan mengevaluasi riwayat imunisasi pasien. Jika status imunisasi tidak jelas atau sudah lama (>5-10 tahun), suntikan Toksoid Tetanus atau Anti-Tetanus Serum (ATS) akan diberikan.

2. Rabies (Tatalaksana Kasus Gigitan Hewan Penular Rabies/GHPR)

Sesuai pedoman Kementerian Kesehatan RI:

  • Observasi Hewan: Jika hewan penggigit adalah peliharaan (anjing/kucing) yang sehat, hewan tersebut harus diobservasi selama 14 hari. Jika hewan mati mendadak, pasien segera divaksin.
  • Vaksin Anti Rabies (VAR): Diberikan pada kasus risiko tinggi atau hewan liar/kabur. Diberikan dalam beberapa dosis (biasanya hari ke-0, 3, 7, dan 21).
  • Serum Anti Rabies (SAR): Diberikan langsung ke dalam luka pada kasus gigitan risiko tinggi (luka banyak, dalam, atau di area kepala/leher) untuk memberikan kekebalan instan sebelum vaksin bekerja.

3. Hepatitis dan HIV (Pada Gigitan Manusia)

Walaupun risikonya rendah, gigitan manusia yang menyebabkan kontak darah-ke-darah berpotensi menularkan Hepatitis B, Hepatitis C, atau HIV. Profilaksis pasca pajanan (Post-Exposure Prophylaxis) mungkin dipertimbangkan oleh dokter spesialis.


Kesimpulan

Luka gigitan hewan dan manusia adalah kedaruratan medis yang kompleks. Jangan pernah menyepelekan luka kecil akibat gigitan kucing atau luka di tangan akibat terkena gigi manusia.

Kunci keselamatan adalah: Cuci luka dengan sabun sesegera mungkin selama 15 menit, dan segera cari pertolongan medis untuk mendapatkan evaluasi antibiotik serta vaksinasi Rabies atau Tetanus jika diperlukan.


Catatan Kaki & Glosarium

  • Anaerob: Bakteri yang dapat hidup dan berkembang biak tanpa oksigen (sering ditemukan di sela gigi dan luka dalam).
  • Debridement: Prosedur medis untuk mengangkat jaringan tubuh yang mati, rusak, atau terinfeksi agar penyembuhan luka lebih cepat.
  • Virulen: Kemampuan suatu mikroorganisme (bakteri/virus) untuk menyebabkan penyakit/kerusakan.
  • Profilaksis: Tindakan pencegahan medis yang diambil untuk menangkal penyakit (misal: pemberian antibiotik sebelum infeksi terjadi).
  • Inokulasi: Masuknya bibit penyakit ke dalam tubuh.

Referensi

  1. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2019). Petunjuk Teknis Penatalaksanaan Kasus Gigitan Hewan Penular Rabies di Indonesia.
  2. World Health Organization (WHO). (2018). WHO Expert Consultation on Rabies: Third Report.
  3. Baddour, L. M., et al. (2024). Animal bites (dogs, cats, and other animals): Evaluation and management. UpToDate.
  4. Baddour, L. M., et al. (2024). Human bites: Evaluation and management. UpToDate.
  5. Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI). (2023). Jadwal Imunisasi Anak Rekomendasi IDAI 2023 (Terkait Rabies & Tetanus).

Commenting 101: “Be kind, and respect each other” // Bersikaplah baik, dan saling menghormati (Indonesian) // Soyez gentils et respectez-vous les uns les autres (French) // Sean amables y respétense mutuamente (Spanish) // 待人友善,互相尊重 (Chinese) // كونوا لطفاء واحترموا بعضكم البعض (Arabic) // Будьте добры и уважайте друг друга (Russian) // Seid freundlich und respektiert einander (German) // 親切にし、お互いを尊重し合いましょう (Japanese) // दयालु बनें, और एक दूसरे का सम्मान करें (Hindi) // Siate gentili e rispettatevi a vicenda (Italian)

Tinggalkan komentar