A Cahya Legawa's Les pèlerins au-dessus des nuages

Pendahuluan

Pneumonia tetap menjadi ancaman serius bagi kesehatan anak di seluruh dunia. Menurut data terbaru dari World Health Organization (WHO), pneumonia dan diare bertanggung jawab atas 23% kematian balita secara global, dengan estimasi 1,17 juta kematian pada anak di bawah lima tahun akibat kedua penyakit tersebut. Pada kelompok usia 5-9 tahun, pneumonia dan diare menyebabkan sekitar 86.000 kematian yang sebenarnya dapat dicegah (WHO, 2024). Di Indonesia sendiri, berdasarkan data UNICEF, sekitar 14% dari 147.000 kematian anak balita disebabkan oleh pneumonia—artinya setiap jamnya 2-3 anak Indonesia meninggal akibat penyakit ini (IDAI, 2017).

Dalam praktik klinis, salah satu keputusan paling krusial yang harus diambil tenaga kesehatan adalah menentukan apakah seorang anak dengan pneumonia memerlukan rawat inap atau bahkan perawatan intensif. Keterlambatan dalam mengenali tanda bahaya dapat berakibat fatal, sementara rawat inap yang tidak perlu membebani sistem kesehatan dan meningkatkan risiko infeksi nosokomial. Artikel ini menyajikan panduan berbasis bukti untuk membantu klinisi membuat keputusan yang tepat dalam triase dan penatalaksanaan pneumonia pada populasi pediatrik.

Definisi dan Klasifikasi Pneumonia pada Anak

Pneumonia didefinisikan sebagai infeksi akut pada parenkim paru yang menyebabkan peradangan dan akumulasi eksudat di ruang alveolar. Manifestasi klinis bervariasi tergantung usia, patogen penyebab, dan status imunitas pasien.

Pedoman WHO terbaru (2024) membagi pneumonia pada anak menjadi dua kategori utama:

Pneumonia (Tidak Berat): Ditandai dengan batuk atau kesulitan bernapas disertai napas cepat sesuai usia, tanpa tanda bahaya. Anak dalam kategori ini umumnya dapat ditatalaksana secara rawat jalan dengan antibiotik oral.

Pneumonia Berat: Ditandai dengan batuk atau kesulitan bernapas disertai minimal satu tanda bahaya seperti retraksi dinding dada, stridor saat istirahat, grunting, sianosis sentral, ketidakmampuan menyusu atau minum, muntah persisten, kejang, penurunan kesadaran, atau saturasi oksigen <90%. Anak dengan pneumonia berat memerlukan rujukan segera dan rawat inap (WHO, 2024).

Klasifikasi ini merupakan penyederhanaan dari sistem sebelumnya yang membagi menjadi tiga kategori (pneumonia, pneumonia berat, dan pneumonia sangat berat), dengan tujuan mempermudah pengambilan keputusan klinis terutama di fasilitas kesehatan primer.

Kriteria Napas Cepat (Tachypnea) Berdasarkan Usia

Takipnea merupakan tanda kardinal pneumonia yang paling sensitif pada anak. WHO menetapkan ambang batas frekuensi napas cepat sebagai berikut:

Kelompok UsiaFrekuensi Napas Cepat
< 2 bulan≥ 60 kali/menit
2 – 11 bulan≥ 50 kali/menit
1 – 5 tahun≥ 40 kali/menit
> 5 tahun> 20 kali/menit

Penting untuk diingat bahwa penghitungan frekuensi napas harus dilakukan selama satu menit penuh saat anak dalam kondisi tenang, karena menangis atau demam dapat meningkatkan frekuensi napas secara signifikan. Demam sendiri dapat meningkatkan laju napas sekitar 10 kali per menit untuk setiap kenaikan 1°C suhu tubuh.

Kriteria Kegawatdaruratan pada Pneumonia Anak

Pengenalan dini tanda kegawatdaruratan sangat menentukan luaran klinis. Berdasarkan sintesis dari pedoman PIDS/IDSA, WHO, dan literatur terkini, berikut adalah kriteria yang menunjukkan kondisi darurat pada anak dengan pneumonia:

Tabel 1. Kriteria Kegawatdaruratan (Emergency) Pneumonia Pediatrik

KategoriTanda/Temuan KlinisTindakan Segera
Gangguan Pernapasan BeratSaturasi oksigen < 80% pada udara ruanganSuplementasi oksigen segera, persiapan intubasi
Grunting (merintih) persistenEvaluasi untuk ventilasi tekanan positif
Apnea atau napas gaspingResusitasi segera, pertimbangkan intubasi
Frekuensi napas sangat lambat (< 10 kali/menit pada anak > 1 tahun)Bantuan ventilasi, persiapan intubasi
Sianosis sentralSuplementasi oksigen, evaluasi jalan napas
Retraksi berat (suprasternal, interkostal, subkostal) dengan kelelahanMonitor ketat, pertimbangkan ventilasi non-invasif atau invasif
Gangguan NeurologisPenurunan kesadaran atau letargi beratProteksi jalan napas, evaluasi neurologis
KejangTatalaksana kejang, proteksi jalan napas
Tidak dapat dibangunkanResusitasi, pertimbangkan intubasi protektif
Gangguan HemodinamikCapillary refill time > 3 detikResusitasi cairan, evaluasi syok
Tekanan darah sistolik < persentil 5 sesuai usiaAkses vaskular, resusitasi agresif
Nadi tidak teraba atau sangat lemahResusitasi kardiopulmoner jika diperlukan
Akral dingin, mottled, atau pucatEvaluasi perfusi, resusitasi cairan
Tanda Bahaya LainKetidakmampuan total minum/menyusuAkses intravena untuk hidrasi
Muntah terus-menerus (intractable)Koreksi dehidrasi dan elektrolit
Hipotermia (< 35,5°C) pada bayiPenghangatan, evaluasi sepsis
Hipertermia berat (> 40°C) tidak respons antipiretikPendinginan aktif, evaluasi infeksi berat

Catatan: Satu atau lebih tanda di atas memerlukan intervensi segera dan biasanya mengindikasikan kebutuhan perawatan di unit intensif anak (PICU) atau ruang dengan kemampuan monitoring kardiorespirasi berkelanjutan.

Kriteria Rawat Inap pada Pneumonia Anak

Keputusan untuk merawat anak dengan pneumonia di rumah sakit harus mempertimbangkan berbagai faktor klinis, laboratoris, dan sosial. Berikut adalah kriteria rawat inap berdasarkan pedoman PIDS/IDSA dan WHO yang telah disesuaikan dengan kondisi praktik klinis:

Tabel 2. Kriteria Rawat Inap Pneumonia Pediatrik

KriteriaIndikasi Rawat InapKeterangan
Berdasarkan UsiaNeonatus dan bayi < 3 bulan dengan gejala pneumoniaRisiko tinggi deteriorasi cepat, perlu monitoring ketat
Bayi 3-6 bulan dengan dugaan pneumonia bakteriAmbang batas rawat inap lebih rendah
Berdasarkan Saturasi OksigenSpO₂ < 90% pada udara ruangan (dataran rendah)Memerlukan suplementasi oksigen
SpO₂ < 92% pada udara ruanganPertimbangkan rawat inap untuk monitoring
Kebutuhan FiO₂ ≥ 0,50 untuk mempertahankan SpO₂ > 92%Indikasi perawatan di ruang high care
Berdasarkan Distres NapasTakipnea berat melebihi ambang batas usiaRisiko gagal napas
Retraksi dinding dada (chest indrawing) yang nyataTanda pneumonia berat menurut WHO
Grunting, nasal flaring, atau penggunaan otot bantu napasTanda kerja napas meningkat
Berdasarkan Tanda SistemikTampilan toksik (toxic appearance): letargi, perfusi buruk, takikardia tidak proporsionalRisiko sepsis atau bakteremia
Dehidrasi sedang-beratMemerlukan rehidrasi intravena
Tidak mampu makan/minum per oral atau muntah persistenRisiko dehidrasi dan malnutrisi
Demam tinggi persisten > 72 jam dengan terapi adekuatEvaluasi komplikasi atau resistensi
Berdasarkan PatogenDugaan atau konfirmasi infeksi Staphylococcus aureus termasuk CA-MRSAPotensi nekrotik dan progresi cepat
Dugaan tuberkulosis paruEvaluasi diagnostik dan terapi khusus
Berdasarkan KomplikasiEfusi pleura moderat-masifMungkin memerlukan drainase
Pneumonia nekrotikans atau abses paruTerapi antibiotik parenteral jangka panjang
EmpiemaDrainase dan antibiotik parenteral
Pneumotoraks atau pneumatokelMonitor dan intervensi jika diperlukan
Berdasarkan KomorbiditasPenyakit jantung bawaanRisiko dekompensasi kardiopulmoner
Penyakit paru kronik (displasia bronkopulmoner, cystic fibrosis)Cadangan paru terbatas
Imunodefisiensi (HIV, keganasan, imunosupresan)Risiko infeksi oportunistik dan progresi cepat
Gangguan neuromuskularRisiko aspirasi dan gangguan batuk
Gizi burukRespons imun terganggu
Sickle cell diseaseRisiko acute chest syndrome
Berdasarkan Faktor SosialKetidakmampuan keluarga memantau dan merawat di rumahRisiko keterlambatan jika terjadi perburukan
Akses terbatas ke fasilitas kesehatanPertimbangkan rawat inap preventif
Kegagalan terapi rawat jalan sebelumnyaEvaluasi ulang dan terapi parenteral

Kriteria Perawatan Intensif (PICU)

Tidak semua anak yang dirawat inap memerlukan perawatan intensif. Berdasarkan pedoman PIDS/IDSA, pertimbangkan perawatan di PICU atau ruang dengan kemampuan monitoring kardiorespirasi berkelanjutan jika terdapat satu atau lebih kriteria mayor, atau dua atau lebih kriteria minor berikut:

Tabel 3. Kriteria Perawatan Intensif (PICU) pada Pneumonia Anak

Kriteria MayorKriteria Minor
Kebutuhan ventilasi mekanik invasifFrekuensi napas lebih tinggi dari klasifikasi WHO untuk usia
Syok refrakter terhadap resusitasi cairan (memerlukan vasopresor)Rasio PaO₂/FiO₂ < 250
Penurunan kesadaran akut akibat hiperkarbia atau hipoksemia beratInfiltrat multilobar pada pencitraan
Skor Pediatric Early Warning Score (PEWS) ≥ 5
Efusi pleura atau empiema
Komorbiditas: penyakit jantung bawaan sianotik, sickle cell disease dengan acute chest syndrome
Asidosis metabolik yang tidak dapat dijelaskan

Penilaian Hipoksemia tanpa Pulse Oximetry

Di fasilitas dengan keterbatasan alat, WHO (2024) merekomendasikan kombinasi tanda klinis berikut sebagai penanda kemungkinan hipoksemia:

  • Sianosis sentral (bibir, lidah, membran mukosa)
  • Head nodding (gerakan kepala mengikuti irama napas)
  • Ketidakmampuan menyusu atau minum
  • Penurunan kesadaran atau letargi berat
  • Grunting pada setiap ekspirasi

Kehadiran satu atau lebih tanda ini pada anak dengan pneumonia mengindikasikan kemungkinan hipoksemia dan kebutuhan suplementasi oksigen serta rujukan segera.

Kriteria Pemulangan dari Rumah Sakit

Anak dengan pneumonia dapat dipertimbangkan untuk pulang jika memenuhi kriteria berikut:

  • Kondisi klinis membaik: frekuensi napas normal sesuai usia, tidak ada retraksi
  • Saturasi oksigen stabil ≥ 92% pada udara ruangan selama minimal 12-24 jam
  • Asupan per oral adekuat
  • Mampu menyelesaikan terapi antibiotik oral di rumah
  • Keluarga memahami tanda bahaya dan rencana tindak lanjut
  • Suhu tubuh normal atau mendekati normal
  • Akses ke fasilitas kesehatan jika terjadi perburukan

Pertimbangan Khusus untuk Remaja

Pada remaja (> 12 tahun), manifestasi pneumonia mungkin lebih menyerupai presentasi dewasa. Sistem skoring seperti CURB-65 yang umum digunakan pada dewasa tidak tervalidasi untuk populasi pediatrik. Namun, prinsip umum penilaian keparahan tetap berlaku dengan penekanan pada status respirasi, hemodinamik, dan kesadaran.

Patogen atipikal seperti Mycoplasma pneumoniae lebih sering ditemukan pada kelompok usia ini. Pertimbangkan rawat inap jika terdapat distres napas, hipoksemia, dehidrasi berat, atau kegagalan terapi rawat jalan.

Peran Pemeriksaan Penunjang dalam Triase

Pemeriksaan penunjang membantu stratifikasi risiko, namun tidak boleh menunda tatalaksana pada kondisi darurat:

Pulse Oximetry: Pemeriksaan wajib pada semua anak dengan gejala respirasi. Saturasi < 92% merupakan prediktor kuat kebutuhan rawat inap.

Rontgen Toraks: Tidak diperlukan secara rutin untuk kasus rawat jalan. Direkomendasikan pada anak yang dirawat inap, hipoksemia, distres napas signifikan, atau kecurigaan komplikasi.

Laboratorium Darah: Complete blood count, kultur darah, dan penanda inflamasi (CRP, prokalsitonin) dipertimbangkan pada pneumonia sedang-berat yang memerlukan rawat inap.

USG Paru: Alternatif yang semakin banyak digunakan untuk mendeteksi konsolidasi dan efusi pleura tanpa radiasi.

Kesimpulan

Stratifikasi risiko yang tepat pada anak dengan pneumonia memerlukan penilaian komprehensif terhadap status respirasi, hemodinamik, neurologis, dan faktor risiko individu. Kriteria kegawatdaruratan memandu intervensi segera untuk mencegah kematian, sementara kriteria rawat inap membantu mengidentifikasi anak yang memerlukan monitoring dan terapi lebih intensif. Pendekatan sistematis berbasis bukti ini, dikombinasikan dengan penilaian klinis yang cermat, akan membantu klinisi mengoptimalkan luaran pada anak dengan pneumonia.

Deteksi dini tanda bahaya dan akses cepat ke perawatan yang sesuai tetap menjadi kunci utama menurunkan angka kematian akibat pneumonia pada populasi pediatrik, baik di tingkat komunitas maupun fasilitas kesehatan rujukan.


Daftar Referensi

Bradley, J. S., Byington, C. L., Shah, S. S., Alverson, B., Carter, E. R., Harrison, C., Kaplan, S. L., Mace, S. E., McCracken, G. H., Moore, M. R., St Peter, S. D., Stockwell, J. A., & Swanson, J. T. (2011). The management of community-acquired pneumonia in infants and children older than 3 months of age: Clinical practice guidelines by the Pediatric Infectious Diseases Society and the Infectious Diseases Society of America. Clinical Infectious Diseases, 53(7), e25-e76. https://doi.org/10.1093/cid/cir531

Dean, P., & Florin, T. A. (2018). Factors associated with pneumonia severity in children: A systematic review. Journal of the Pediatric Infectious Diseases Society, 7(4), 323-334. https://doi.org/10.1093/jpids/piy046

Ebeledike, C., & Ahmad, T. (2023). Pediatric pneumonia. In StatPearls. StatPearls Publishing. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK536940/

Florin, T. A., Brokamp, C., Mantyla, R., Xia, M., Kachelmeyer, A., Ambroggio, L., & Shah, S. S. (2020). Defining pneumonia severity in children: A Delphi study. Pediatric Emergency Care, 36(12), e704-e711. https://doi.org/10.1097/PEC.0000000000002038

Ikatan Dokter Anak Indonesia. (2017). Menekan pneumonia. https://www.idai.or.id/artikel/klinik/pengasuhan-anak/menekan-pneumonia

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2023). Rencana Aksi Nasional Penanggulangan Pneumonia dan Diare 2023-2030. Direktorat Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit.

Smith, D. K., Kuckel, D. P., & Recidoro, A. M. (2021). Community-acquired pneumonia in children: Rapid evidence review. American Family Physician, 104(6), 618-625. https://www.aafp.org/pubs/afp/issues/2021/1200/p618.html

World Health Organization. (2014). Revised WHO classification and treatment of childhood pneumonia at health facilities: Evidence summaries. WHO. https://www.who.int/publications/i/item/9789241507813

World Health Organization. (2024). Guideline on management of pneumonia and diarrhoea in children up to 10 years of age. WHO. https://www.who.int/publications/i/item/9789240103412

Yun, K. W. (2024). Community-acquired pneumonia in children: Updated perspectives on its etiology, diagnosis, and treatment. Clinical and Experimental Pediatrics, 67(2), 80-91. https://doi.org/10.3345/cep.2023.00852

Commenting 101: “Be kind, and respect each other” // Bersikaplah baik, dan saling menghormati (Indonesian) // Soyez gentils et respectez-vous les uns les autres (French) // Sean amables y respétense mutuamente (Spanish) // 待人友善,互相尊重 (Chinese) // كونوا لطفاء واحترموا بعضكم البعض (Arabic) // Будьте добры и уважайте друг друга (Russian) // Seid freundlich und respektiert einander (German) // 親切にし、お互いを尊重し合いましょう (Japanese) // दयालु बनें, और एक दूसरे का सम्मान करें (Hindi) // Siate gentili e rispettatevi a vicenda (Italian)

Tinggalkan komentar