Kulit yang memerah, kering, pecah-pecah, dan rasa gatal yang tak tertahankan hingga mengganggu tidur. Bagi jutaan orang di dunia, ini bukan sekadar masalah kosmetik, melainkan perjuangan harian melawan Dermatitis Atopik (DA), atau yang lebih umum dikenal masyarakat sebagai eksim atopik.
Meskipun sering dianggap sebagai “penyakit anak-anak”, kondisi ini merupakan penyakit peradangan kronis yang kompleks dan dapat bertahan hingga dewasa. Artikel ini akan membedah mekanisme biologis, pemicu, serta strategi manajemen terbaru berdasarkan panduan medis terkini.
- 1. Apa Itu Dermatitis Atopik?
- 2. Mengapa Ini Terjadi? (Patofisiologi)
- 3. Siklus Gatal-Garuk (The Itch-Scratch Cycle)
- 4. Faktor Pencetus (Trigger)
- 5. Konsep “Atopic March” (Barisan Atopik)
- 6. Strategi Pengobatan Terkini
- 7. Mitos dan Fakta
- 8. Dampak Psikososial
- Kesimpulan
- Referensi Ilmiah
1. Apa Itu Dermatitis Atopik?
Secara etimologi, kata “eksim” berasal dari bahasa Yunani yang berarti “mendidih”, menggambarkan kondisi kulit yang meradang. Dermatitis Atopik adalah jenis eksim yang paling umum.
Istilah ini terdiri dari dua kata kunci:
- Dermatitis: Peradangan pada kulit.
- Atopik: Kecenderungan genetik untuk mengembangkan penyakit alergi (seperti asma dan rinitis alergi/pilek alergi).
Penyakit ini bersifat kronis-residif, artinya berlangsung lama dan memiliki pola kambuh-kambuhan. Ada masa tenang (remisi) di mana kulit tampak sehat, dan masa kambuh (eksaserbasi) di mana gejala muncul hebat.
2. Mengapa Ini Terjadi? (Patofisiologi)
Dahulu, para ahli mengira DA hanya disebabkan oleh alergi makanan. Namun, sains modern mengungkap bahwa penyakit ini jauh lebih rumit, melibatkan interaksi antara kerusakan pelindung kulit, sistem imun, dan lingkungan.
A. Teori “Tembok yang Bocor” (Disfungsi Sawar Kulit)
Bayangkan kulit Anda sebagai tembok bata. Sel-sel kulit adalah batu batanya, dan lemak alami (lipid) adalah semen yang merekatkannya. Pada penderita DA, “semen” ini kurang atau rusak.
Hal ini sering disebabkan oleh mutasi genetik pada gen Filaggrin. Filaggrin adalah protein yang berfungsi menjaga struktur sel kulit tetap kokoh dan terhidrasi. Ketika Filaggrin kurang:
- Air dari dalam tubuh mudah menguap (kulit menjadi sangat kering).
- Benda asing (bakteri, virus, alergen, polutan) mudah masuk menembus kulit.
B. Sistem Imun yang “Hiperaktif”
Ketika alergen menembus pertahanan kulit yang lemah, sistem kekebalan tubuh bereaksi berlebihan. Tubuh melepaskan zat-zat peradangan (sitokin) seperti Interleukin-4 (IL-4) dan Interleukin-13 (IL-13). Zat inilah yang menyebabkan kulit menjadi merah dan bengkak.
C. Peran Mikrobioma (Bakteri Kulit)
Kulit sehat memiliki keseimbangan bakteri. Pada penderita DA, terjadi dysbiosis (ketidakseimbangan). Bakteri Staphylococcus aureus seringkali mendominasi dan membentuk koloni berlebih, yang semakin memicu peradangan dan risiko infeksi sekunder.
3. Siklus Gatal-Garuk (The Itch-Scratch Cycle)
Gejala utama DA adalah Pruritus (rasa gatal). Ini adalah ciri khas mutlak; jika tidak gatal, kemungkinan besar bukan dermatitis atopik.
Rasa gatal memicu keinginan untuk menggaruk. Garukan merusak sawar kulit lebih parah > memicu lebih banyak peradangan > rasa gatal semakin hebat. Ini adalah lingkaran setan yang harus diputus dalam pengobatan.
Pola Distribusi Berdasarkan Usia
- Bayi (0-2 tahun): Sering muncul di wajah (pipi), kulit kepala, dan bagian luar siku atau lutut (ekstensor). Area popok biasanya bebas dari eksim.
- Anak-anak (2-12 tahun): Bergeser ke area lipatan (fleksura) seperti lipatan siku, lipatan lutut, leher, dan pergelangan tangan. Kulit mulai menebal (likenifikasi) akibat garukan kronis.
- Dewasa: Dapat terjadi di lipatan tubuh, wajah, leher, atau hanya bermanifestasi sebagai eksim tangan yang parah.
4. Faktor Pencetus (Trigger)
Pencetus DA sangat bervariasi antar individu. Mengidentifikasi pencetus adalah separuh dari keberhasilan terapi:
- Iritan: Sabun keras, detergen, pewangi pakaian, kain wol atau sintetis yang kasar.
- Lingkungan: Cuaca ekstrem (terlalu panas/lembap memicu keringat, atau terlalu dingin memicu kekeringan), debu rumah (tungu debu).
- Stres Emosional: Stres memicu pelepasan hormon kortisol dan neuropeptida yang memperburuk peradangan kulit.
- Alergen: Makanan (susu sapi, telur, kacang – lebih umum pada bayi), bulu hewan peliharaan, atau serbuk sari. Catatan: Tidak semua penderita DA memiliki alergi makanan, diet eliminasi harus di bawah pengawasan dokter.
5. Konsep “Atopic March” (Barisan Atopik)
Dermatitis atopik seringkali menjadi “pintu gerbang” bagi penyakit alergi lainnya. Sekitar 50-70% anak dengan DA berat akan mengembangkan Asma atau Rinitis Alergi di kemudian hari. Fenomena perjalanan penyakit dari kulit ke saluran napas ini disebut Atopic March.
Oleh karena itu, mengobati sawar kulit (skin barrier) sejak dini diduga dapat mencegah sensitisasi alergen yang masuk ke tubuh, berpotensi mengurangi risiko asma di masa depan.
6. Strategi Pengobatan Terkini
Tujuan pengobatan bukanlah “menyembuhkan total” (karena faktor genetik tidak bisa diubah), melainkan mencapai kontrol jangka panjang agar kulit tenang dan kualitas hidup membaik.
A. Perawatan Dasar (Basic Skincare)
Ini adalah fondasi yang wajib dilakukan, baik saat kambuh maupun saat kulit sehat.
- Mandi: Gunakan air suam-suam kuku (lukewarm), durasi singkat (5-10 menit). Gunakan sabun syndet (synthetic detergent) yang lembut, tanpa pewangi, dan memiliki pH seimbang (bukan sabun antiseptik keras).
- Pelembap (Emolien): Ini adalah “obat” terpenting. Oleskan pelembap segera (dalam 3 menit) setelah mandi untuk mengunci air di dalam kulit. Pilih pelembap bertekstur krim atau salep (ointment) daripada losion karena kandungan minyaknya lebih tinggi.
B. Anti-Inflamasi Topikal (Obat Oles)
Digunakan saat terjadi peradangan (kulit merah/gatal):
- Kortikosteroid Topikal: Standar emas untuk memadamkan peradangan. Harus digunakan sesuai resep dokter (potensi ringan untuk wajah/bayi, potensi kuat untuk tubuh/dewasa) untuk menghindari efek samping seperti penipisan kulit.
- Inhibitor Kalsineurin (TCI): Seperti Tacrolimus atau Pimecrolimus. Alternatif non-steroid yang aman untuk area sensitif (kelopak mata, wajah, kemaluan).
C. Terapi Sistemik dan Biologis (Untuk Kasus Berat)
Jika obat oles tidak mempan, dokter spesialis kulit mungkin meresepkan:
- Fototerapi: Terapi sinar UV medis terkontrol.
- Imunosupresan: Obat minum untuk menekan sistem imun (misal: Siklosporin, Methotrexate).
- Agen Biologis (Terbaru): Seperti Dupilumab. Ini adalah obat suntik yang secara spesifik memblokir protein IL-4 dan IL-13 (akar penyebab peradangan), memberikan harapan baru bagi penderita DA berat yang sebelumnya sulit diobati.
7. Mitos dan Fakta
| Mitos | Fakta |
| Eksim itu penyakit menular. | Salah. Anda tidak bisa tertular eksim dari sentuhan. Ini penyakit genetik/imun. |
| Eksim disebabkan oleh darah kotor. | Salah. Tidak ada istilah medis “darah kotor”. Ini murni peradangan kulit. |
| Mandi air panas bagus untuk mematikan kuman eksim. | Salah. Air panas justru melarutkan lemak alami kulit, membuat kulit makin kering dan gatal. |
| Semua penderita eksim harus pantang makan telur/ayam. | Salah. Pantang makanan hanya dilakukan jika terbukti ada alergi spesifik terhadap makanan tersebut. Diet sembarangan malah memicu gizi buruk. |
8. Dampak Psikososial
Kita tidak boleh meremehkan dampak mental dari DA. Rasa gatal kronis (terutama di malam hari) menyebabkan gangguan tidur (sleep disturbance), yang pada anak-anak dapat mengganggu pertumbuhan dan konsentrasi belajar (ADHD seringkali misdiagnosis pada anak yang sebenarnya kurang tidur karena gatal). Pada remaja dan dewasa, DA dapat memicu kecemasan sosial dan depresi karena rasa malu akan penampilan kulit.
Kesimpulan
Dermatitis Atopik adalah kondisi kulit yang kompleks, namun dapat dikelola. Kuncinya terletak pada kedisiplinan merawat skin barrier dengan pelembap, menghindari pencetus, dan penggunaan obat anti-radang yang tepat saat kambuh.
Jangan biarkan eksim mengendalikan hidup Anda. Dengan pemahaman yang benar dan pendampingan medis yang tepat, kulit yang tenang dan tidur yang nyenyak adalah hal yang sangat mungkin dicapai.
Referensi Ilmiah
- Wollenberg A, et al. European Task Force on Atopic Dermatitis (ETFAD): treatment of atopic eczema. Journal of the European Academy of Dermatology and Venereology (JEADV). 2023.
- Sidbury R, et al. Guidelines of care for the management of atopic dermatitis. American Academy of Dermatology (AAD).
- Perhimpunan Dokter Spesialis Kulit dan Kelamin Indonesia (PERDOSKI). Panduan Praktik Klinis Bagi Dokter Spesialis Kulit dan Kelamin di Indonesia. 2021.
- Weidinger S, Novak N. Atopic dermatitis. The Lancet. 2016.
PENAFIAN MEDIS (DISCLAIMER):
Artikel ini disusun untuk tujuan informasi dan edukasi semata. Tulisan ini tidak menggantikan saran, diagnosis, atau perawatan medis profesional. Jangan pernah mengabaikan nasihat medis profesional atau menunda mencarinya karena sesuatu yang Anda baca di artikel ini. Jika Anda atau anak Anda memiliki gejala yang mencurigakan, segera konsultasikan dengan Dokter Spesialis Dermatologi dan Venereologi (Sp.D.V / Sp.KK).

Tinggalkan komentar