A Cahya Legawa's Les pèlerins au-dessus des nuages

Pendahuluan

Dunia kesehatan global kembali mencatat munculnya varian baru virus influenza yang menarik perhatian para epidemiolog dan klinisi di berbagai negara. Influenza A (H3N2) subclade K, yang pertama kali teridentifikasi pada Agustus 2025 oleh Centers for Disease Control and Prevention (CDC) Amerika Serikat, kini telah menyebar ke lebih dari 80 negara di seluruh dunia (Acosta-España et al., 2025; Kirsebom et al., 2025). Di Indonesia sendiri, Kementerian Kesehatan mencatat 62 kasus yang tersebar di delapan provinsi hingga akhir Desember 2025, dengan konsentrasi tertinggi di Jawa Timur, Kalimantan Selatan, dan Jawa Barat.

Kemunculan varian ini menimbulkan kekhawatiran di tengah masyarakat, terutama dengan julukan populer “super flu” yang beredar di media massa. Namun, penting untuk memahami bahwa berdasarkan penilaian Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dan data epidemiologi yang tersedia, influenza A (H3N2) subclade K tidak menunjukkan peningkatan tingkat keparahan dibandingkan dengan varian influenza lainnya. Gejala yang muncul umumnya serupa dengan flu musiman yang sudah kita kenal, seperti demam, batuk, pilek, sakit kepala, dan nyeri tenggorokan (WHO, 2025; Kementerian Kesehatan RI, 2025).

Artikel ini akan membahas secara komprehensif mengenai karakteristik Influenza A (H3N2) subclade K, mulai dari aspek epidemiologi, patofisiologi, manifestasi klinis, pendekatan diagnosis, tata laksana, hingga strategi pencegahan yang dapat dilakukan masyarakat Indonesia. Pemahaman yang baik terhadap varian baru ini akan membantu tenaga kesehatan dan masyarakat umum untuk merespons situasi dengan tepat, tanpa kepanikan yang berlebihan namun tetap waspada.

Memahami Influenza A (H3N2) Subclade K

Evolusi Virus Influenza dan Munculnya Subclade K

Virus influenza merupakan patogen yang mengalami evolusi genetik berkelanjutan melalui dua mekanisme utama: antigenic drift (pergeseran antigen minor) dan antigenic shift (pergeseran antigen mayor). Influenza A (H3N2) subclade K, yang secara formal dikenal dengan sebutan J.2.4.1 dalam sistem nomenklatur filogenetik, adalah hasil dari antigenic drift yang terjadi pada virus H3N2 yang telah beredar selama beberapa dekade (Dapat et al., 2025; Zambon & Hayden, 2025).

Analisis genomik menunjukkan bahwa subclade K memiliki setidaknya tujuh mutasi baru pada gen hemaglutinin dibandingkan dengan strain vaccine H3N2 musim 2025-2026 belahan bumi utara (A/Croatia/10136RV/2023). Mutasi-mutasi spesifik yang teridentifikasi meliputi K2N, T135K, S144N (dengan penambahan glikosilasi), N158D, I160K, Q173R, K189R, T328A, dan S378N pada subunit hemaglutinin (European Centre for Disease Prevention and Control [ECDC], 2025; Kirsebom et al., 2025). Mutasi S144N khususnya menarik perhatian karena menghasilkan situs glikosilasi tambahan yang dapat mempengaruhi respons imun.

Pergeseran genetik ini menyebabkan virus subclade K mengalami antigenic drift dari strain vaksin yang telah dipilih, yang memicu kekhawatiran mengenai efektivitas vaksin influenza musim ini. Namun, penting dipahami bahwa pergeseran antigenik semacam ini merupakan fenomena yang umum terjadi pada virus influenza, terutama H3N2, yang memang dikenal memiliki tingkat mutasi yang lebih tinggi dibandingkan subtipe influenza lainnya (Schweitzer, 2025).

Karakteristik Unik Subclade K

Berdasarkan karakterisasi antigenik menggunakan uji haemagglutination inhibition (HAI) dengan antisera feret yang diinfeksi, virus subclade K menunjukkan penurunan reaktivitas yang signifikan terhadap antisera yang dibangkitkan oleh strain vaksin belahan bumi utara 2025-2026. Studi dari Inggris menunjukkan bahwa 10 isolat virus subclade K yang dikumpulkan antara Agustus dan Oktober 2025 memperlihatkan pengurangan reaktivitas lebih dari 32 kali lipat dengan antisera feret terhadap A/Croatia/10136RV/2023 yang dipropagasi dalam telur, dan setidaknya pengurangan delapan kali lipat dengan antisera terhadap virus yang dipropagasi dalam kultur sel (Kirsebom et al., 2025).

Menariknya, antisera feret yang dibangkitkan terhadap A/England/189/2025 (virus yang mirip dengan strain vaksin belahan bumi selatan 2026: A/Sydney/1359/2024) menunjukkan pengenalan yang lebih baik terhadap virus subclade K, dengan 4 dari 8 virus bereaksi dalam kisaran empat kali lipat dari titer homolog. Temuan ini memberikan harapan bahwa pembaruan strain vaksin di masa mendatang dapat memberikan perlindungan yang lebih baik terhadap subclade K (Kirsebom et al., 2025).

Epidemiologi Global dan Situasi di Indonesia

Penyebaran Global Subclade K

Subclade K pertama kali terdeteksi di Eropa pada Juni 2025, kemudian menyebar dengan cepat ke berbagai belahan dunia. Berdasarkan data Global Initiative on Sharing All Influenza Data (GISAID), subclade K mencakup sepertiga dari semua sekuens A(H3N2) yang didepositkan antara Mei dan November 2025 secara global, dan hampir setengahnya di Uni Eropa dan Wilayah Ekonomi Eropa (ECDC, 2025).

Di wilayah Pasifik Barat, subclade K mewakili 89% dari sekuens yang disubmit ke GISAID dari wilayah tersebut hingga 21 November 2025 (WHO, 2025). Negara-negara yang melaporkan aktivitas influenza tinggi akibat subclade K meliputi Australia, Selandia Baru, Jepang, Korea Selatan, Inggris, dan berbagai negara Eropa lainnya (Dapat et al., 2025).

Di Amerika Serikat, peningkatan kasus influenza A(H3N2) mulai terpantau sejak minggu ke-40 tahun 2025, bersamaan dengan masuknya musim dingin. Data CDC menunjukkan bahwa hingga minggu ke-49 (berakhir 6 Desember 2025), di antara 163 virus influenza A(H3N2) yang menjalani karakterisasi genetik lebih lanjut sejak 28 September 2025, 89,0% termasuk dalam subclade K (CDC, 2025; Schweitzer, 2025).

Yang menarik, beberapa negara mengalami onset musim influenza yang lebih awal dari biasanya. Di Inggris, musim influenza dimulai 4-5 minggu lebih awal dibandingkan tahun-tahun sebelumnya, meskipun awal yang lebih cepat ini bukanlah sesuatu yang belum pernah terjadi sebelum pandemi COVID-19. Di Jepang, tingkat H3N2 flu kini telah mencapai plateau dan kemungkinan akan segera menurun (Gavi, 2025).

Situasi Influenza A (H3N2) Subclade K di Indonesia

Indonesia, sebagai negara tropis dengan pola sirkulasi influenza yang berbeda dari negara empat musim, menunjukkan dinamika epidemiologi yang unik. Berdasarkan sistem surveilans Influenza-Like Illness (ILI) dan Severe Acute Respiratory Infections (SARI) yang dilaksanakan di 88 fasilitas pelayanan kesehatan sentinel di seluruh Indonesia, subclade K terdeteksi pertama kali pada Agustus 2025 melalui pemeriksaan whole genome sequencing (WGS) yang diselesaikan pada 25 Desember 2025 (Kementerian Kesehatan RI, 2025).

Hingga akhir Desember 2025, Indonesia mencatat total 62 kasus influenza A(H3N2) subclade K yang tersebar di delapan provinsi. Distribusi geografis kasus menunjukkan konsentrasi tertinggi di tiga provinsi: Jawa Timur, Kalimantan Selatan, dan Jawa Barat. Analisis demografis mengungkapkan bahwa mayoritas kasus terjadi pada perempuan (64% dari total kasus) dan kelompok usia anak (Kementerian Kesehatan RI, 2025).

Yang menggembirakan, meskipun subclade K telah terdeteksi di Indonesia, tren kasus influenza nasional justru menunjukkan penurunan dalam dua bulan terakhir. Dari total 843 spesimen positif influenza yang diperiksa, sebanyak 348 sampel menjalani pemeriksaan WGS, dan seluruh varian yang terdeteksi merupakan varian yang telah dikenal dan saat ini bersirkulasi secara global dalam sistem surveilans WHO. Influenza A(H3N2) tetap menjadi subtipe dominan, dengan proporsi tertinggi tercatat pada minggu ke-51 tahun 2025 (Kementerian Kesehatan RI, 2025).

Pemantauan melalui Sistem Kewaspadaan Dini dan Respons (SKDR) juga menunjukkan tren penurunan pada sejumlah penyakit saluran pernapasan lainnya, seperti pneumonia, ILI, dan infeksi saluran pernapasan akut (ISPA). Kondisi ini mengindikasikan bahwa sirkulasi subclade K belum memengaruhi situasi epidemi influenza di Indonesia secara signifikan. Direktur Penyakit Menular Kementerian Kesehatan RI, dr. Prima Yosephine, menegaskan bahwa situasi influenza A(H3N2) subclade K di Indonesia hingga akhir Desember 2025 masih dalam kondisi terkendali dan tidak menunjukkan peningkatan tingkat keparahan dibandingkan clade maupun subclade influenza lainnya (Kementerian Kesehatan RI, 2025).

Perbandingan dengan Negara Lain di Asia Tenggara

Di kawasan Asia Tenggara dan Asia Timur, subclade K telah dilaporkan di berbagai negara sejak Juli 2025, termasuk Tiongkok, Korea Selatan, Jepang, Singapura, Thailand, Nepal, dan India. Berdasarkan data GISAID hingga 30 November 2025, Thailand melaporkan 17 sekuens subclade K, India melaporkan 4 sekuens, dan Nepal melaporkan 1 sekuens (WHO, 2025).

Meskipun influenza A(H3N2) menjadi varian dominan di negara-negara tersebut, tren kasus influenza menunjukkan pola yang beragam. Beberapa negara mengalami peningkatan aktivitas influenza yang dimulai lebih awal, sementara negara lain menunjukkan tren penurunan. Hal ini menunjukkan bahwa pola sirkulasi influenza di kawasan Asia Tenggara dipengaruhi oleh berbagai faktor lokal, termasuk iklim, kepadatan penduduk, tingkat vaksinasi, dan faktor lainnya (WHO, 2025).

Patofisiologi Influenza A (H3N2)

Mekanisme Infeksi dan Replikasi Virus

Virus influenza A (H3N2), termasuk subclade K, menginfeksi sel epitel saluran pernapasan manusia melalui interaksi antara protein hemaglutinin (HA) pada permukaan virus dengan reseptor asam sialat yang terikat pada galaktosa melalui ikatan α-2,6 pada sel inang. Setelah terikat, virus masuk ke dalam sel melalui endositosis yang dimediasi reseptor. Dalam endosom, pH yang rendah memicu perubahan konformasi pada protein HA, yang memfasilitasi fusi membran virus dengan membran endosom, melepaskan materi genetik virus ke dalam sitoplasma sel.

Genom virus influenza terdiri dari delapan segmen RNA untai negatif yang dikemas dengan protein nukleoprotein dan kompleks polimerase virus. Setelah masuk ke dalam nukleus sel inang, kompleks polimerase virus melakukan transkripsi dan replikasi RNA virus. Protein virus yang baru disintesis dan segmen RNA genom kemudian dirakit di sitoplasma, dan partikel virus baru terbentuk melalui proses budding dari membran plasma sel. Protein neuraminidase (NA) pada permukaan virus memotong reseptor asam sialat, memungkinkan pelepasan partikel virus baru untuk menginfeksi sel-sel lain (Tenforde et al., 2023).

Respons Imun dan Patogenesis

Infeksi virus influenza memicu respons imun bawaan dan adaptif. Respons imun bawaan dimediasi oleh sel-sel seperti makrofag, sel dendritik, dan sel natural killer, yang mengenali pola molekuler terkait patogen (pathogen-associated molecular patterns atau PAMPs) dari virus melalui pattern recognition receptors (PRRs) seperti toll-like receptors (TLRs). Aktivasi jalur ini menghasilkan produksi interferon tipe I dan sitokin proinflamasi lainnya, yang penting untuk membatasi replikasi virus tetapi juga berkontribusi pada manifestasi klinis penyakit (Tenforde et al., 2022).

Respons imun adaptif melibatkan produksi antibodi spesifik terhadap protein HA dan NA oleh sel B, serta aktivasi sel T sitotoksik yang dapat mengeliminasi sel yang terinfeksi virus. Antibodi terhadap protein HA khususnya penting untuk neutralisasi virus dan pencegahan infeksi ulang. Namun, mutasi pada gen HA yang terjadi melalui antigenic drift, seperti yang terlihat pada subclade K, dapat mengurangi efektivitas antibodi yang terbentuk dari infeksi atau vaksinasi sebelumnya, meskipun respons imun seluler dan antibodi yang reaktif silang masih dapat memberikan perlindungan parsial (Kirsebom et al., 2025).

Manifestasi klinis influenza sebagian besar disebabkan oleh kombinasi kerusakan jaringan akibat replikasi virus dan respons inflamasi yang berlebihan. Produksi sitokin proinflamasi seperti TNF-α, IL-6, dan IL-8 berkontribusi pada gejala sistemik seperti demam, mialgia, dan malaise. Pada kasus yang parah, respons inflamasi yang tidak terkontrol dapat menyebabkan sindrom distres pernapasan akut (ARDS) dan komplikasi sistemik lainnya (Tenforde et al., 2022).

Faktor Risiko Penyakit Berat

Beberapa kelompok populasi memiliki risiko lebih tinggi untuk mengalami komplikasi serius dari infeksi influenza. Kelompok risiko tinggi meliputi:

  1. Usia lanjut (≥65 tahun): Penurunan fungsi imun terkait usia (immunosenescence) mengurangi kemampuan tubuh untuk merespons infeksi secara efektif. Data dari Inggris menunjukkan bahwa dewasa berusia ≥65 tahun merupakan mayoritas kasus berat yang memerlukan rawat inap (WHO Regional Office for Europe, 2025).
  2. Anak-anak, terutama balita: Sistem imun yang belum matang membuat anak-anak lebih rentan terhadap infeksi dan komplikasi. CDC melaporkan delapan kematian anak terkait influenza pada musim 2025-2026 hingga awal Desember 2025 (CDC, 2025).
  3. Ibu hamil: Perubahan fisiologis selama kehamilan, termasuk perubahan pada sistem imun dan kapasitas paru, meningkatkan risiko komplikasi influenza berat.
  4. Individu dengan kondisi komorbid: Penyakit kronis seperti diabetes mellitus, penyakit kardiovaskular, penyakit paru obstruktif kronik (PPOK), asma, penyakit ginjal kronik, dan gangguan neurologis meningkatkan risiko komplikasi. Analisis VE menunjukkan efektivitas vaksin yang lebih rendah pada individu dengan kondisi imunokompromais (Tenforde et al., 2022; Chung et al., 2025).
  5. Individu dengan imunosupresi: Termasuk mereka yang menjalani kemoterapi, transplantasi organ, atau menggunakan obat imunosupresan jangka panjang.

Manifestasi Klinis

Gejala Klasik Influenza

Influenza A (H3N2) subclade K menimbulkan manifestasi klinis yang serupa dengan influenza musiman pada umumnya. Periode inkubasi influenza umumnya berkisar 1-4 hari, dengan rata-rata 2 hari. Onset gejala biasanya mendadak, dengan manifestasi sistemik yang menonjol.

Gejala klasik influenza meliputi:

  1. Demam tinggi: Biasanya mencapai 38-40°C, muncul secara tiba-tiba dan berlangsung 3-5 hari. Demam merupakan salah satu gejala paling konsisten pada influenza.
  2. Gejala respiratori:
    • Batuk kering yang dapat menetap hingga beberapa minggu
    • Sakit tenggorokan
    • Pilek atau kongesti nasal
    • Nyeri sinus
  3. Gejala sistemik:
    • Mialgia (nyeri otot) yang sering kali parah, terutama pada punggung dan tungkai
    • Sakit kepala, biasanya frontal
    • Menggigil
    • Fatigue (kelelahan) yang dapat berlangsung hingga beberapa minggu setelah resolusi demam
    • Malaise umum
  4. Gejala gastrointestinal: Lebih sering pada anak-anak, dapat meliputi mual, muntah, dan diare.

Berdasarkan penilaian WHO dan data epidemiologi yang tersedia, influenza A(H3N2) subclade K tidak menunjukkan peningkatan tingkat keparahan dibandingkan dengan varian influenza lainnya. Gejala yang muncul umumnya serupa dengan flu musiman yang telah dikenal (WHO, 2025; Kementerian Kesehatan RI, 2025).

Komplikasi Influenza

Meskipun sebagian besar kasus influenza sembuh tanpa komplikasi dalam 1-2 minggu, beberapa individu dapat mengalami komplikasi serius:

  1. Pneumonia: Dapat berupa pneumonia virus primer atau pneumonia bakterial sekunder. Pneumonia bakterial sekunder paling sering disebabkan oleh Streptococcus pneumoniae, Staphylococcus aureus (termasuk methicillin-resistant Staphylococcus aureus atau MRSA), dan Haemophilus influenzae.
  2. Eksaserbasi penyakit kronis: Influenza dapat memperburuk kondisi medis yang sudah ada sebelumnya, seperti asma, PPOK, gagal jantung kongestif, atau diabetes mellitus.
  3. Miokarditis dan perikarditis: Inflamasi otot jantung atau selaput jantung, meskipun jarang, dapat terjadi.
  4. Ensefalitis dan ensefalopati: Komplikasi neurologis yang jarang tetapi serius, terutama pada anak-anak.
  5. Miositis dan rhabdomyolisis: Inflamasi otot yang dapat menyebabkan kerusakan otot parah.
  6. Sindrom Reye: Komplikasi langka pada anak-anak yang mengonsumsi aspirin selama infeksi virus.
  7. Sindrom distres pernapasan akut (ARDS): Pada kasus yang sangat berat, dapat terjadi gagal napas yang mengancam jiwa.

Data hospitalisasi dari FluSurv-NET di Amerika Serikat menunjukkan bahwa tingkat hospitalisasi kumulatif pada minggu ke-49 musim 2025-2026 adalah 6,9 per 100.000 populasi, merupakan tingkat kumulatif tertinggi ketiga pada minggu ke-49 sejak musim 2010-11, setelah musim 2022-23 dan 2023-24 dengan tingkat masing-masing 36,1 dan 9,5 (CDC, 2025).

Perbedaan Manifestasi dengan COVID-19

Mengingat pengalaman pandemi COVID-19 yang masih relatif baru, penting untuk memahami perbedaan manifestasi klinis antara influenza A (H3N2) subclade K dengan COVID-19:

  1. Onset gejala: Influenza umumnya memiliki onset yang lebih mendadak dibandingkan COVID-19.
  2. Gejala respiratori: Batuk kering menonjol pada kedua penyakit, tetapi kehilangan penciuman dan pengecapan (anosmia dan ageusia) lebih khas untuk COVID-19.
  3. Keparahan: Menteri Kesehatan RI, Budi Gunadi Sadikin, menegaskan bahwa influenza A(H3N2) subclade K tidak lebih mematikan dibandingkan COVID-19. Dengan sistem imun yang baik, infeksi flu umumnya dapat diatasi secara mandiri oleh tubuh (Kementerian Kesehatan RI, 2026).
  4. Komplikasi jangka panjang: COVID-19 lebih sering dikaitkan dengan gejala jangka panjang (long COVID), sementara influenza umumnya sembuh sempurna meskipun fatigue dapat bertahan beberapa minggu.

Diagnosis

Pendekatan Klinis

Diagnosis influenza dapat dilakukan secara klinis, terutama selama musim flu atau wabah yang sedang berlangsung, ketika probabilitas pre-test tinggi. Kriteria klinis untuk influenza-like illness (ILI) yang digunakan dalam surveilans umumnya meliputi demam ≥38°C disertai batuk atau sakit tenggorokan, dengan onset dalam 10 hari terakhir.

Namun, diagnosis klinis memiliki keterbatasan karena manifestasi influenza dapat tumpang tindih dengan infeksi virus respiratori lainnya seperti respiratory syncytial virus (RSV), adenovirus, rhinovirus, dan tentu saja SARS-CoV-2. Oleh karena itu, konfirmasi laboratorium penting untuk diagnosis definitif, terutama pada pasien yang memerlukan rawat inap, pasien dengan risiko tinggi komplikasi, atau untuk tujuan surveilans epidemiologi.

Pemeriksaan Laboratorium

  1. Tes diagnostik cepat (Rapid Influenza Diagnostic Tests/RIDTs):
    • Memberikan hasil dalam 10-30 menit
    • Sensitivitas berkisar 50-70%, spesifisitas >90%
    • Cocok untuk pengaturan klinis dengan akses terbatas ke laboratorium molekuler
    • Hasil negatif tidak menyingkirkan influenza, terutama pada pasien dengan probabilitas pre-test tinggi
  2. Tes amplifikasi asam nukleat (Nucleic Acid Amplification Tests/NAATs):
    • Reverse transcriptase-polymerase chain reaction (RT-PCR) adalah standar emas untuk diagnosis influenza
    • Sensitivitas dan spesifisitas tinggi (>95%)
    • Dapat membedakan influenza A dari B, dan mengidentifikasi subtipe (H1N1pdm09 vs H3N2)
    • Panel multiplex dapat mendeteksi berbagai patogen respiratori secara simultan
    • Waktu pemeriksaan berkisar 1-8 jam tergantung pada platform
  3. Kultur virus:
    • Dapat mengidentifikasi virus influenza dan memungkinkan karakterisasi antigenik dan pengujian resistensi antiviral
    • Memerlukan waktu beberapa hari hingga minggu
    • Umumnya digunakan untuk tujuan surveilans dan penelitian, bukan untuk manajemen klinis rutin
  4. Sekuensing genom lengkap (Whole Genome Sequencing/WGS):
    • Digunakan untuk karakterisasi molekuler virus, termasuk identifikasi subclade seperti subclade K
    • Penting untuk surveilans global dan pemilihan strain vaksin
    • Di Indonesia, pemeriksaan WGS dilakukan oleh Balai Besar Laboratorium Kesehatan untuk sampel-sampel tertentu dalam rangka surveilans (Kementerian Kesehatan RI, 2025)

Indikasi Pemeriksaan Laboratorium

Menurut pedoman CDC dan berbagai organisasi kesehatan, pemeriksaan laboratorium untuk konfirmasi influenza direkomendasikan pada:

  1. Pasien yang dirawat inap dengan suspek influenza
  2. Pasien dengan risiko tinggi komplikasi influenza
  3. Pasien yang memerlukan keputusan pengobatan antiviral
  4. Wanita hamil
  5. Petugas kesehatan dengan gejala influenza
  6. Untuk tujuan surveilans kesehatan masyarakat
  7. Pada outbreak atau situasi wabah

Tata Laksana

Pengobatan Suportif

Mayoritas kasus influenza A (H3N2), termasuk subclade K, bersifat self-limiting dan dapat dikelola dengan terapi suportif:

  1. Istirahat yang cukup: Membantu sistem imun melawan infeksi dan mempercepat pemulihan.
  2. Hidrasi adekuat: Mengonsumsi cairan dalam jumlah cukup untuk mencegah dehidrasi, terutama pada pasien dengan demam tinggi.
  3. Antipiretik dan analgesik:
    • Parasetamol (asetaminofen) atau ibuprofen untuk mengurangi demam dan nyeri
    • Hindari penggunaan aspirin pada anak-anak dan remaja karena risiko sindrom Reye
    • Dosis parasetamol dewasa: 500-1000 mg setiap 4-6 jam, maksimal 4000 mg per hari
    • Dosis ibuprofen dewasa: 200-400 mg setiap 4-6 jam, maksimal 1200 mg per hari
  4. Manajemen gejala:
    • Dekongestan untuk meredakan hidung tersumbat
    • Antitusif untuk batuk yang mengganggu, meskipun batuk produktif sebaiknya tidak ditekan
    • Pelega tenggorokan untuk sakit tenggorokan

Terapi Antiviral

Obat antiviral influenza dapat mengurangi durasi penyakit, keparahan gejala, dan risiko komplikasi jika diberikan dalam 48 jam pertama onset gejala. CDC merekomendasikan terapi antiviral untuk:

  1. Semua pasien yang dirawat inap dengan influenza terkonfirmasi atau suspek
  2. Pasien dengan penyakit progresif, parah, atau komplikasi, terlepas dari status vaksinasi atau waktu onset gejala
  3. Pasien rawat jalan dengan risiko tinggi komplikasi
  4. Petugas kesehatan untuk mencegah transmisi nosokomial

Obat antiviral yang tersedia:

  1. Inhibitor neuraminidase:
    • Oseltamivir (oral): Dosis dewasa 75 mg dua kali sehari selama 5 hari; dosis anak disesuaikan dengan berat badan
    • Zanamivir (inhalasi): Dosis dewasa 10 mg (dua inhalasi) dua kali sehari selama 5 hari; tidak direkomendasikan untuk pasien dengan penyakit saluran napas reaktif
    • Peramivir (intravena): Dosis dewasa 600 mg dosis tunggal; tersedia untuk pasien yang tidak dapat mengonsumsi obat oral atau inhalasi
  2. Inhibitor polimerase acidic protein (PA) endonuklease:
    • Baloxavir marboxil (oral): Dosis tunggal berdasarkan berat badan (40 mg untuk berat 40-<80 kg, 80 mg untuk ≥80 kg)
    • Kelebihan: dosis tunggal dan mekanisme kerja berbeda dari inhibitor neuraminidase
    • Resistensi dapat berkembang selama pengobatan

Pemantauan resistensi antiviral merupakan bagian penting dari surveilans influenza. CDC secara rutin menguji sensitivitas virus influenza yang bersirkulasi terhadap obat antiviral. Hingga saat ini, sebagian besar virus influenza A(H3N2) yang diuji tetap sensitif terhadap inhibitor neuraminidase dan baloxavir (CDC, 2025).

Manajemen Komplikasi

Pasien dengan komplikasi memerlukan manajemen spesifik berdasarkan jenis komplikasi:

  1. Pneumonia bakterial sekunder: Memerlukan antibiotik yang sesuai berdasarkan pola resistensi lokal dan kecurigaan patogen. Pilihan empiris umumnya mencakup beta-laktam dengan atau tanpa makrolid, atau fluorokuinolon respiratori.
  2. ARDS: Memerlukan perawatan intensif dengan ventilasi mekanis dan strategi ventilasi protektif paru.
  3. Eksaserbasi penyakit kronis: Optimalisasi terapi untuk kondisi yang mendasari, misalnya bronkodilator dan kortikosteroid untuk eksaserbasi PPOK atau asma.
  4. Komplikasi kardiovaskular: Monitoring ketat dan manajemen sesuai pedoman untuk kondisi spesifik.

Pencegahan

Vaksinasi Influenza

Vaksinasi merupakan strategi pencegahan primer yang paling efektif terhadap influenza dan komplikasinya. Meskipun terdapat antigenic mismatch antara strain vaksin 2025-2026 belahan bumi utara dengan subclade K yang kini mendominasi, data awal menunjukkan bahwa vaksin tetap memberikan perlindungan yang signifikan terhadap penyakit klinis.

Efektivitas vaksin terhadap subclade K:

Studi dari Inggris menunjukkan bahwa efektivitas vaksin (VE) dini pasca-vaksinasi terhadap kunjungan unit gawat darurat dan rawat inap terkait influenza berada dalam rentang tipikal, yaitu 72-75% pada anak-anak dan remaja (<18 tahun) dan 32-39% pada dewasa. Meskipun VE mungkin lebih rendah dibandingkan dengan musim dengan antigenic match yang lebih baik, vaksin tetap efektif dalam mencegah penyakit klinis yang disebabkan oleh virus influenza A(H3N2) (Kirsebom et al., 2025).

Studi dari Amerika Serikat musim 2023-2024 menunjukkan VE keseluruhan terhadap penyakit influenza yang memerlukan perawatan medis rawat jalan adalah 44% (95% CI: 36%-51%), dengan VE 74% (65%-81%) terhadap influenza B/Victoria dan 29% (15%-41%) terhadap influenza A(H1N1)pdm09 (Chung et al., 2025).

Kelompok prioritas vaksinasi:

WHO dan berbagai organisasi kesehatan nasional merekomendasikan vaksinasi influenza tahunan untuk:

  1. Dewasa berusia ≥65 tahun
  2. Anak-anak berusia 6 bulan hingga 5 tahun
  3. Wanita hamil pada trimester apa pun
  4. Individu dengan kondisi medis kronis (diabetes, penyakit kardiovaskular, penyakit paru kronis, penyakit ginjal kronis, gangguan neurologis, imunosupresi)
  5. Petugas kesehatan
  6. Individu yang tinggal di fasilitas perawatan jangka panjang

Di Indonesia, Kementerian Kesehatan menganjurkan vaksinasi influenza terutama bagi kelompok rentan seperti lansia, ibu hamil, dan penderita penyakit penyerta. Vaksinasi influenza dapat diberikan satu tahun sekali (Kementerian Kesehatan RI, 2025).

Jenis vaksin influenza:

Vaksin influenza tersedia dalam beberapa formulasi:

  1. Vaksin trivalen inaktif (TIV): Mengandung dua strain influenza A (H1N1 dan H3N2) dan satu strain influenza B
  2. Vaksin kuadrivalen inaktif (QIV): Mengandung dua strain influenza A dan dua strain influenza B (dari dua lineages yang berbeda)
  3. Vaksin influenza dosis tinggi: Khusus untuk dewasa ≥65 tahun, mengandung antigen 4 kali lipat lebih banyak
  4. Vaksin rekombinan: Diproduksi tanpa menggunakan telur, cocok untuk individu dengan alergi telur berat
  5. Vaksin live attenuated influenza vaccine (LAIV): Vaksin hidup yang dilemahkan, diberikan melalui semprot hidung, disetujui untuk individu sehat berusia 2-49 tahun

Langkah Pencegahan Non-Farmakologis

Selain vaksinasi, beberapa langkah pencegahan non-farmakologis penting untuk mengurangi risiko penularan influenza:

  1. Kebersihan tangan:
    • Mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir selama minimal 20 detik, terutama setelah batuk atau bersin, sebelum makan, dan setelah menggunakan toilet
    • Menggunakan hand sanitizer berbasis alkohol (minimal 60% alkohol) jika sabun dan air tidak tersedia
  2. Etika batuk dan bersin:
    • Menutup mulut dan hidung dengan tisu saat batuk atau bersin, kemudian membuang tisu ke tempat sampah
    • Jika tidak ada tisu, gunakan siku bagian dalam, bukan telapak tangan
    • Mencuci tangan segera setelah batuk atau bersin
  3. Penggunaan masker:
    • Individu dengan gejala influenza sebaiknya menggunakan masker medis untuk mencegah penularan ke orang lain
    • Penularan influenza terjadi melalui droplet pernapasan, sehingga penggunaan masker dapat mengurangi penyebaran virus
    • Kementerian Kesehatan RI menyarankan penggunaan masker bagi yang sakit untuk mencegah penularan, terutama di ruang publik atau lingkungan dengan mobilitas tinggi (Kementerian Kesehatan RI, 2026)
  4. Isolasi diri saat sakit:
    • Tetap berada di rumah setidaknya 24 jam setelah demam mereda tanpa penggunaan antipiretik
    • Menghindari kontak dekat dengan orang lain untuk mencegah penularan
    • Menunda kegiatan yang melibatkan banyak orang atau berkumpul di tempat tertutup
  5. Menjaga jarak fisik:
    • Menghindari kontak dekat (dalam jarak <1 meter) dengan individu yang menunjukkan gejala penyakit pernapasan
    • Mengurangi keramaian dan kerumunan, terutama di ruang tertutup dengan ventilasi buruk
  6. Membersihkan dan mendisinfeksi permukaan:
    • Virus influenza dapat bertahan pada permukaan benda mati selama beberapa jam hingga hari
    • Membersihkan dan mendisinfeksi permukaan yang sering disentuh (gagang pintu, meja, keyboard, ponsel) secara teratur
  7. Ventilasi ruangan:
    • Memastikan sirkulasi udara yang baik di dalam ruangan
    • Membuka jendela untuk meningkatkan ventilasi alami jika memungkinkan
  8. Gaya hidup sehat:
    • Menjaga pola makan seimbang dan bergizi untuk mendukung sistem imun
    • Tidur yang cukup (7-9 jam per malam untuk dewasa)
    • Olahraga teratur
    • Mengelola stres
    • Menteri Kesehatan RI menekankan pentingnya menjaga daya tahan tubuh dengan makan cukup, tidur cukup, dan olahraga cukup agar sistem imun dapat melawan infeksi flu (Kementerian Kesehatan RI, 2026)

Profilaksis Antiviral

Profilaksis antiviral dapat dipertimbangkan dalam situasi tertentu:

  1. Profilaksis pasca-pajanan: Untuk individu dengan risiko tinggi komplikasi yang terpapar kasus influenza terkonfirmasi dalam 48 jam terakhir, terutama jika tidak divaksinasi atau vaksinasi diberikan <2 minggu sebelumnya
  2. Profilaksis pre-pajanan: Dalam situasi outbreak institusional atau untuk individu dengan kontraindikasi vaksinasi yang memiliki risiko pajanan tinggi
  3. Petugas kesehatan: Dalam situasi outbreak di fasilitas kesehatan, profilaksis dapat diberikan kepada petugas kesehatan yang tidak divaksinasi atau divaksinasi namun mengalami pajanan signifikan

Regimen profilaksis umumnya menggunakan dosis yang sama dengan dosis pengobatan tetapi diberikan sekali sehari dan dilanjutkan selama periode risiko pajanan, biasanya minimal 7 hari atau 24 jam setelah kasus terakhir teridentifikasi dalam outbreak.

Perspektif Kesehatan Masyarakat dan Kesiapsiagaan

Surveilans dan Pelaporan

Sistem surveilans influenza yang robust merupakan kunci untuk deteksi dini varian baru, pemantauan tren epidemiologi, dan penilaian efektivitas vaksin. Di Indonesia, Kementerian Kesehatan melaksanakan surveilans influenza melalui sistem sentinel ILI-SARI di 88 fasilitas pelayanan kesehatan yang tersebar di seluruh Indonesia. Sistem ini tidak hanya memantau kasus influenza tetapi juga penyakit pernapasan lainnya termasuk COVID-19 (Kementerian Kesehatan RI, 2025).

Data surveilans menunjukkan bahwa Indonesia memiliki kapasitas yang memadai untuk mendeteksi dan merespons munculnya varian baru influenza. Deteksi subclade K pada Agustus 2025 melalui pemeriksaan WGS yang diselesaikan pada Desember 2025 menunjukkan bahwa sistem surveilans berfungsi dengan baik, meskipun terdapat lag time yang inherent dalam proses sekuensing dan analisis genom.

Komunikasi Risiko dan Respons Masyarakat

Komunikasi risiko yang efektif sangat penting untuk mencegah kepanikan yang tidak perlu sambil tetap mendorong perilaku pencegahan yang tepat. Kementerian Kesehatan RI telah melakukan komunikasi yang baik dengan menegaskan bahwa subclade K tidak lebih berbahaya dari influenza musiman lainnya, sambil tetap mengimbau masyarakat untuk waspada dan menerapkan langkah-langkah pencegahan (Kementerian Kesehatan RI, 2025).

Julukan “super flu” yang populer di media massa dapat menimbulkan persepsi yang keliru tentang tingkat keparahan varian ini. WHO Regional Director untuk Eropa, Dr. Hans Henri P. Kluge, menekankan pentingnya mencari informasi yang kredibel dari sumber terpercaya seperti badan kesehatan nasional dan WHO, terutama di tengah iklim mis- dan disinformasi yang ada saat ini (WHO Regional Office for Europe, 2025).

Pembelajaran dari Pandemi COVID-19

Pengalaman pandemi COVID-19 telah meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya langkah-langkah pencegahan infeksi pernapasan. Perilaku seperti penggunaan masker saat sakit, kebersihan tangan, dan isolasi diri saat bergejala kini lebih diterima secara luas di masyarakat Indonesia. Infrastruktur kesehatan yang telah dikembangkan untuk menghadapi COVID-19, termasuk kapasitas testing molekuler dan sistem surveilans digital, juga dapat dimanfaatkan untuk pemantauan influenza dan penyakit pernapasan lainnya.

Kolaborasi Global dan Pemilihan Strain Vaksin

WHO Global Influenza Surveillance and Response System (GISRS) memainkan peran krusial dalam memantau evolusi virus influenza dan merekomendasikan komposisi vaksin influenza musiman. Munculnya subclade K setelah keputusan pemilihan strain vaksin untuk belahan bumi utara 2025-2026 menggaris bawahi tantangan dalam memprediksi evolusi virus influenza dan pentingnya surveilans global yang berkelanjutan.

WHO telah mengindikasikan bahwa virus yang mirip dengan A/Sydney/1359/2024 (yang mirip dengan A/England/189/2025) menunjukkan reaktivitas antigenik yang lebih baik terhadap subclade K, yang mungkin akan dipertimbangkan untuk formulasi vaksin musim mendatang (Kirsebom et al., 2025). Hal ini menunjukkan bahwa sistem GISRS dapat beradaptasi dengan perubahan landscape antigenik virus influenza.

Kesimpulan

Influenza A (H3N2) subclade K merupakan varian baru yang telah menyebar secara global dan menjadi dominan di beberapa wilayah, termasuk sebagian Asia, Eropa, dan Amerika. Di Indonesia, subclade K telah terdeteksi dengan 62 kasus yang tersebar di delapan provinsi hingga akhir Desember 2025, dengan konsentrasi tertinggi di Jawa Timur, Kalimantan Selatan, dan Jawa Barat. Namun, tren kasus influenza nasional justru menunjukkan penurunan dalam dua bulan terakhir, mengindikasikan bahwa situasi masih terkendali.

Berdasarkan bukti ilmiah yang tersedia, subclade K tidak menunjukkan peningkatan tingkat keparahan dibandingkan dengan varian influenza lainnya. Manifestasi klinis yang ditimbulkan serupa dengan flu musiman biasa, meliputi demam, batuk, pilek, sakit kepala, dan nyeri tenggorokan. Meskipun terdapat antigenic drift yang menyebabkan penurunan reaktivitas terhadap strain vaksin saat ini, data dari Inggris menunjukkan bahwa vaksin influenza tetap efektif dalam mencegah penyakit berat, dengan VE 72-75% pada anak-anak dan remaja serta 32-39% pada dewasa.

Vaksinasi influenza tahunan tetap merupakan strategi pencegahan yang paling efektif dan direkomendasikan terutama untuk kelompok risiko tinggi seperti lansia, anak-anak, ibu hamil, individu dengan penyakit kronis, dan petugas kesehatan. Selain vaksinasi, penerapan langkah-langkah pencegahan non-farmakologis seperti kebersihan tangan, etika batuk, penggunaan masker saat sakit, dan isolasi diri saat bergejala sangat penting untuk mengurangi penularan.

Sistem surveilans influenza di Indonesia telah menunjukkan kemampuannya dalam mendeteksi varian baru melalui pemeriksaan whole genome sequencing. Kementerian Kesehatan RI terus memperkuat surveilans, pelaporan, dan kesiapsiagaan untuk merespons perkembangan situasi influenza sesuai dengan dinamika yang ada. Komunikasi risiko yang jelas dan berbasis bukti penting untuk mencegah kepanikan yang tidak perlu sambil tetap mendorong kewaspadaan dan perilaku pencegahan yang tepat.

Masyarakat Indonesia diimbau untuk tidak panik menghadapi munculnya subclade K, namun tetap waspada dengan menerapkan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS), menjaga daya tahan tubuh melalui pola makan seimbang, istirahat cukup, dan olahraga teratur, serta mendapatkan vaksinasi influenza tahunan terutama bagi kelompok rentan. Dengan pemahaman yang baik tentang influenza A (H3N2) subclade K dan implementasi strategi pencegahan yang komprehensif, Indonesia dapat menghadapi musim flu ini dengan efektif sambil meminimalkan dampak kesehatan masyarakat.

Referensi

Acosta-España, J. D., Altamirano-Jara, J. B., Bonilla-Aldana, D. K., Chica-Granados, E. T., & Rodriguez-Morales, A. J. (2025). Converging influenza threats: Seasonal A(H3N2) (including subclade K) dynamics and the persistent pandemic risk of A(H5N1). Travel Medicine and Infectious Disease, 102949. https://doi.org/10.1016/j.tmaid.2025.102949

Centers for Disease Control and Prevention. (2025). Weekly U.S. Influenza Surveillance Report: Key Updates for Week 49, ending December 6, 2025. FluView. https://www.cdc.gov/fluview/surveillance/2025-week-49.html

Chung, J. R., Price, A. M., Zimmerman, R. K., Moehling Geffel, K., House, S. L., Curley, T., Wernli, K. J., Phillips, C. H., Martin, E. T., Vaughn, I. A., Murugan, V., Scotch, M., Saade, E. A., Faryar, K. A., Gaglani, M., Ramm, J. D., Williams, O. L., Walter, E. B., Kirby, M. K., … Flannery, B. (2025). Influenza vaccine effectiveness against medically attended outpatients illness, United States, 2023-2024 season. Clinical Infectious Diseases, 81(4), e184-e191. https://doi.org/10.1093/cid/ciae658

Dapat, C., Peck, H., Jelley, L., Diefenbach-Elstob, T., Slater, T., Hussain, S., Britton, P., Cheng, A. C., Wood, T., Howard-Jones, A., Deng, Y. M., Miller, J. E., Huang, Q. S., & Barr, I. G. (2025). Extended influenza seasons in Australia and New Zealand in 2025 due to the emergence of influenza A(H3N2) subclade K viruses. Eurosurveillance, 30(49), 2500894. https://doi.org/10.2807/1560-7917.ES.2025.30.49.2500894

European Centre for Disease Prevention and Control. (2025). Assessing the risk of increasing circulation of A(H3N2) subclade K influenza in the EU/EEA. https://www.ecdc.europa.eu/sites/default/files/documents/Threat%20Assessment%20Brief%20-%20Assessing%20the%20risk%20of%20increasing%20circulation%20of%20A(H3N2)%20subclade%20K.pdf

Gavi, The Vaccine Alliance. (2025). “Superflu” or same old flu? How subclade K influenza is playing out worldwide. VaccinesWork. https://www.gavi.org/vaccineswork/superflu-or-same-old-flu-how-subclade-k-influenza-playing-out-worldwide

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2025). Kemenkes pastikan Influenza A(H3N2) Subclade K tidak lebih parah, situasi nasional terkendali. https://www.kemkes.go.id/id/kemenkes-pastikan-influenza-ah3n2-subclade-k-tidak-lebih-parah-situasi-nasional-terkendali

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2026). Menteri Kesehatan: Super flu subclade K tidak mematikan seperti COVID-19. Komunikasi publik, 2 Januari 2026.

Kirsebom, F. C., Thompson, C., Talts, T., Kele, B., Whitaker, H. J., Andrews, N., Abdul Aziz, N., Rawlinson, C., Green, R. E., Quinot, C., Gardner, N., Waller, E., Allen, A., Watson, C. H., McDonald, S. L., Zambon, M., Pebody, R., Ramsay, M., Hoschler, K., … Lopez Bernal, J. (2025). Early influenza virus characterisation and vaccine effectiveness in England in autumn 2025, a period dominated by influenza A(H3N2) subclade K. Eurosurveillance, 30(46), 2500854. https://doi.org/10.2807/1560-7917.ES.2025.30.46.2500854

Schweitzer, K. (2025). A new H3N2 influenza strain is raising concerns about this flu season. JAMA, 2843197. https://doi.org/10.1001/jama.2025.25205

Tenforde, M. W., Patel, M. M., Lewis, N. M., Adams, K., Gaglani, M., Steingrub, J. S., Shapiro, N. I., Duggal, A., Prekker, M. E., Peltan, I. D., Hager, D. N., Gong, M. N., Exline, M. C., Ginde, A. A., Mohr, N. M., Mallow, C., Martin, E. T., Talbot, H. K., Gibbs, K. W., … Self, W. H. (2022). Vaccine effectiveness against influenza A(H3N2)-associated hospitalized illness: United States, 2022. Clinical Infectious Diseases, 76(6), 1030-1037. https://doi.org/10.1093/cid/ciac869

Tenforde, M. W., Weber, Z. A., DeSilva, M. B., Stenehjem, E., Yang, D. H., Fireman, B., Gaglani, M., Kojima, N., Irving, S. A., Rao, S., Grannis, S. J., Naleway, A. L., Kirshner, L., Kharbanda, A. B., Dascomb, K., Lewis, N., Dalton, A. F., Ball, S. W., Natarajan, K., … Klein, N. P. (2023). Vaccine effectiveness against influenza-associated urgent care, emergency department, and hospital encounters during the 2021-2022 season, VISION Network. The Journal of Infectious Diseases, 228(2), 185-195. https://doi.org/10.1093/infdis/jiad015

World Health Organization. (2025). Seasonal influenza – Global situation. Disease Outbreak News. https://www.who.int/emergencies/disease-outbreak-news/item/2025-DON586

World Health Organization Regional Office for Europe. (2025). More than half of WHO European Region experiencing intense, early influenza season driven by new strain. https://www.who.int/europe/news/item/17-12-2025-more-than-half-of-who-european-region-experiencing-intense–early-influenza-season-driven-by-new-strain

Zambon, M., & Hayden, F. G. (2025). Influenza A(H3N2) subclade K virus: Threat and response. JAMA, 2843190. https://doi.org/10.1001/jama.2025.25903


Catatan: Artikel ini disusun berdasarkan bukti ilmiah terkini yang tersedia hingga awal Januari 2026. Situasi epidemiologi influenza dapat berubah dengan cepat, sehingga pembaca disarankan untuk terus memantau informasi terbaru dari Kementerian Kesehatan RI dan organisasi kesehatan global seperti WHO.

Commenting 101: “Be kind, and respect each other” // Bersikaplah baik, dan saling menghormati (Indonesian) // Soyez gentils et respectez-vous les uns les autres (French) // Sean amables y respétense mutuamente (Spanish) // 待人友善,互相尊重 (Chinese) // كونوا لطفاء واحترموا بعضكم البعض (Arabic) // Будьте добры и уважайте друг друга (Russian) // Seid freundlich und respektiert einander (German) // 親切にし、お互いを尊重し合いましょう (Japanese) // दयालु बनें, और एक दूसरे का सम्मान करें (Hindi) // Siate gentili e rispettatevi a vicenda (Italian)

Tinggalkan komentar