A Cahya Legawa's Les pèlerins au-dessus des nuages

Pernahkah Anda bertemu dengan seseorang yang pendengarannya tampak normal saat diperiksa, namun ia kesulitan memahami percakapan di tengah keramaian? Atau mungkin seorang anak yang sering dianggap tidak memperhatikan di kelas, padahal ia sedang berusaha keras mencerna apa yang dikatakan gurunya?

Kondisi ini sering kali bukan masalah “kurang mendengar” dalam arti volume suara, melainkan masalah bagaimana otak menerjemahkan suara tersebut. Dalam dunia medis, kondisi ini dikenal sebagai Auditory Processing Disorder (APD) atau kadang disebut sebagai Central Auditory Processing Disorder (CAPD).

Artikel ini akan membahas secara komprehensif apa itu APD, mekanisme biologis di baliknya, gejala, hingga penanganan terkini berdasarkan literatur ilmiah terbaru.


Apa Itu Auditory Processing Disorder (APD)?

Secara sederhana, APD adalah gangguan yang memengaruhi kemampuan otak untuk memproses informasi suara (auditori). Seseorang dengan APD biasanya memiliki struktur telinga yang sehat dan kemampuan menangkap bunyi yang normal (lulus tes pendengaran standar). Masalahnya terletak pada sistem saraf pusat—yaitu “kabel” dan “sirkuit” di otak yang bertugas menerjemahkan sinyal suara tersebut menjadi makna yang bisa dipahami.Gambar auditory pathway from ear to brain diagram

Bayangkan Anda sedang menelepon seseorang dengan sinyal yang sangat buruk. Suara lawan bicara Anda terdengar, tetapi putus-putus, berisik, atau terdistorsi, sehingga Anda sulit memahami pesannya. Bagi penderita APD, inilah yang sering terjadi di dalam otak mereka, terutama di lingkungan yang bising.

Menurut American Speech-Language-Hearing Association (ASHA), APD adalah defisit dalam pemrosesan saraf terhadap rangsangan pendengaran yang tidak disebabkan oleh gangguan kognitif (berpikir) atau gangguan bahasa semata.

Mekanisme yang Terganggu

Pada individu dengan APD, terdapat ketidakefisienan dalam sistem saraf auditori pusat. Beberapa fungsi spesifik yang sering terganggu meliputi:

  1. Diskriminasi Auditori: Kemampuan membedakan bunyi yang mirip (misalnya kata “paku” dan “baku”).
  2. Pemrosesan Temporal: Kemampuan memproses urutan waktu bunyi (siapa bicara duluan, jeda antar kata).
  3. Performansi Auditori dalam Sinyal yang Berkompetisi: Kemampuan fokus pada satu suara ketika ada suara lain (latar belakang) yang bising.

Gejala dan Tanda-Tanda Klinis

Gejala APD bisa bervariasi dari ringan hingga berat dan sering kali tumpang tindih dengan gangguan lain seperti ADHD (Attention Deficit Hyperactivity Disorder). Berikut adalah manifestasi umum berdasarkan kelompok usia:

Pada Anak-Anak

Anak dengan APD sering kali disalahartikan sebagai anak yang “malas mendengar” atau memiliki masalah perilaku. Tanda-tandanya meliputi:

  • Sering berkata “Hah?” atau “Apa?” berulang kali.
  • Kesulitan mengikuti instruksi yang panjang atau bertahap (multi-langkah).
  • Sangat mudah terdistraksi oleh suara latar belakang (misalnya, suara kipas angin atau teman yang berbisik di kelas).
  • Kesulitan menentukan arah datangnya suara (lokalisasi suara).
  • Kesulitan belajar membaca atau mengeja, terutama yang berkaitan dengan fonik (bunyi huruf).
  • Prestasi akademik yang menurun, terutama di kelas yang bising.

Pada Orang Dewasa

APD tidak hanya dialami anak-anak; kondisi ini bisa menetap hingga dewasa atau baru muncul akibat trauma/penuaan.

  • Merasa sangat lelah setelah mendengarkan percakapan panjang (kelelahan mendengarkan).
  • Menghindari situasi sosial yang ramai seperti restoran atau pesta.
  • Sering salah paham terhadap lelucon atau sarkasme karena kesulitan menangkap perubahan nada bicara (prosodi).
  • Harus melihat wajah lawan bicara (membaca gerak bibir) untuk bisa paham sepenuhnya.

Etiologi: Mengapa APD Bisa Terjadi?

Penyebab pasti APD sering kali tidak diketahui (idiopatik), namun penelitian terbaru mengaitkannya dengan beberapa faktor risiko dan kondisi medis:

  1. Faktor Neurologis: Keterlambatan maturasi (pematangan) sistem saraf pusat atau adanya lesi (kerusakan) pada jalur saraf auditori di otak.
  2. Riwayat Infeksi Telinga: Anak yang sering mengalami infeksi telinga tengah (otitis media) kronis di masa balita berisiko lebih tinggi. Gangguan pendengaran sementara yang berulang dapat mengganggu perkembangan jalur saraf auditori.
  3. Komplikasi Kelahiran: Lahir prematur, berat badan lahir rendah, atau kekurangan oksigen saat lahir.
  4. Trauma Kepala: Cedera otak traumatis (Traumatic Brain Injury) dapat merusak area otak yang memproses suara.
  5. Genetik: Adanya riwayat keluarga dengan gangguan serupa atau gangguan bahasa.

Bagaimana APD Didiagnosis?

Penting untuk dicatat: Tidak semua kesulitan mendengar adalah APD. Diagnosis APD adalah proses yang kompleks dan hanya bisa ditegakkan secara resmi oleh seorang Audiolog (ahli pendengaran). Psikolog atau dokter anak dapat mendeteksi gejala, tetapi tes spesifik dilakukan oleh audiolog.

Proses diagnosis biasanya melibatkan:

  1. Anamnesis Lengkap: Riwayat kesehatan, pendidikan, dan perilaku.
  2. Tes Pendengaran Rutin (Audiometri): Untuk memastikan tidak ada gangguan pendengaran fisik (tuli konduktif atau sensorineural). Penderita APD biasanya memiliki hasil audiometri nada murni yang normal.
  3. Baterai Tes APD: Serangkaian tes khusus yang dilakukan di ruang kedap suara, antara lain:
    • Dichotic Listening: Mendengarkan kata atau angka yang berbeda di telinga kanan dan kiri secara bersamaan.
    • Temporal Processing: Mengenali pola irama atau celah kecil dalam bunyi.
    • Speech in Noise: Tes mengenali kata-kata dengan adanya latar belakang suara bising.

Diagnosis biasanya baru bisa ditegakkan secara akurat pada anak usia 7 tahun ke atas, karena di bawah usia tersebut jalur saraf auditori masih sangat berkembang dan respons tes bisa tidak konsisten.


Penanganan dan Manajemen Terkini

APD tidak bisa “disembuhkan” seperti infeksi bakteri, namun otak memiliki sifat neuroplastisitas—kemampuan untuk berubah dan beradaptasi. Penanganan bersifat multidisiplin dan disesuaikan dengan kebutuhan individu (personal).

1. Modifikasi Lingkungan (Environmental Modifications)

Tujuannya adalah meningkatkan akses terhadap suara utama dan mengurangi kebisingan.

  • Di Kelas/Kantor: Duduk di barisan depan dekat pembicara/guru.
  • Akustik Ruangan: Menggunakan karpet, tirai tebal, atau panel akustik untuk mengurangi gema.
  • Pencahayaan: Memastikan pencahayaan cukup agar penderita bisa melihat wajah pembicara (untuk bantuan visual).

2. Terapi Langsung (Direct Remediation)

Latihan untuk melatih otak memproses suara lebih baik.

  • Latihan Diskriminasi Bunyi: Melatih membedakan bunyi yang mirip.
  • Latihan dalam Kebisingan: Melatih fokus mendengar dengan adanya gangguan suara secara bertahap.
  • Perangkat Lunak Komputer: Beberapa program komputer kini dirancang khusus untuk melatih kemampuan auditori (auditory training software).

3. Strategi Kompensasi

Mengajarkan penderita cara mengatasi kekurangannya.

  • Active Listening: Mengajarkan untuk bertanya “Bisa diulangi?” atau melakukan parafrase untuk memastikan pemahaman.
  • Pencatat: Menggunakan alat perekam atau meminta materi tertulis sebelum presentasi/pelajaran.

4. Alat Bantu Dengar (Assistive Listening Devices)

Pada kasus tertentu, teknologi sangat membantu.

  • Sistem FM (Frequency Modulation): Pembicara menggunakan mikrofon, dan suara langsung dikirim ke receiver di telinga penderita. Ini secara drastis meningkatkan rasio sinyal suara terhadap kebisingan (Signal-to-Noise Ratio).

APD vs. ADHD: Serupa Tapi Tak Sama

Salah satu tantangan terbesar dalam diagnosis APD adalah kemiripannya dengan ADHD. Keduanya menyebabkan masalah fokus dan kinerja akademik.

FiturAuditory Processing Disorder (APD)ADHD (Attention Deficit Hyperactivity Disorder)
Sumber MasalahInput sensorik (suara tidak diproses dengan benar).Eksekutif/Kontrol (sulit mengatur perhatian & impuls).
Kesulitan UtamaSangat spesifik pada situasi mendengarkan, terutama jika bising.Kesulitan fokus pada berbagai rangsangan (visual, suara, pikiran sendiri).
PerilakuMungkin tampak bingung atau salah paham instruksi lisan.Tampak gelisah, impulsif, sulit duduk diam.

Catatan: Seseorang bisa memiliki APD dan ADHD secara bersamaan (komorbiditas). Oleh karena itu, evaluasi tim yang melibatkan audiolog dan psikolog sering diperlukan.


Kesimpulan

Auditory Processing Disorder adalah gangguan nyata dan kompleks yang memengaruhi bagaimana otak menginterpretasikan apa yang didengar telinga. Meskipun pendengaran fisiknya normal, penderita APD berjuang keras untuk memahami dunia yang penuh suara di sekitarnya.

Kabar baiknya, dengan diagnosis yang tepat dan intervensi dini—melalui terapi auditori, penyesuaian lingkungan, dan bantuan teknologi—individu dengan APD dapat meningkatkan kemampuan komunikasi mereka dan meraih potensi maksimal, baik di sekolah maupun di tempat kerja.

Jika Anda atau anak Anda mengalami gejala seperti sering salah mendengar, kesulitan di tempat bising, namun hasil tes pendengaran biasa dinyatakan normal, konsultasi lebih lanjut dengan ahli pendengaran (audiolog) sangat disarankan.


Referensi

  1. American Speech-Language-Hearing Association (ASHA). (n.d.). Central Auditory Processing Disorder. Practice Portal.
  2. American Academy of Audiology (AAA). (2010). Clinical Practice Guidelines: Diagnosis, Treatment and Management of Children and Adults with Central Auditory Processing Disorder.
  3. National Institute on Deafness and Other Communication Disorders (NIDCD). (2023). Auditory Processing Disorder. U.S. Department of Health and Human Services.
  4. British Society of Audiology (BSA). (2018). Position Statement and Practice Guidance: Auditory Processing Disorder (APD).
  5. Illiadis, T., et al. (2024). Advances in Auditory Processing Disorder: Theory, Diagnosis, and Management. Journal of the American Academy of Audiology.

Penafian Medis (Medical Disclaimer):

Tulisan ini disusun untuk tujuan informasi dan edukasi semata. Informasi yang terdapat dalam artikel ini tidak dimaksudkan untuk menggantikan saran, diagnosis, atau perawatan medis profesional dari dokter atau tenaga kesehatan yang berkualifikasi. Jangan pernah mengabaikan nasihat medis profesional atau menunda mencarinya karena sesuatu yang Anda baca dalam artikel ini. Segera konsultasikan dengan Audiolog atau Dokter THT jika Anda memiliki kekhawatiran mengenai kesehatan pendengaran Anda.

Commenting 101: “Be kind, and respect each other” // Bersikaplah baik, dan saling menghormati (Indonesian) // Soyez gentils et respectez-vous les uns les autres (French) // Sean amables y respétense mutuamente (Spanish) // 待人友善,互相尊重 (Chinese) // كونوا لطفاء واحترموا بعضكم البعض (Arabic) // Будьте добры и уважайте друг друга (Russian) // Seid freundlich und respektiert einander (German) // 親切にし、お互いを尊重し合いましょう (Japanese) // दयालु बनें, और एक दूसरे का सम्मान करें (Hindi) // Siate gentili e rispettatevi a vicenda (Italian)

Tinggalkan komentar