A Cahya Legawa's Les pèlerins au-dessus des nuages

Pernahkah Anda merasa laptop kesayangan mulai sering berbunyi kipasnya atau terasa sedikit “tersedak” saat sedang membuka banyak tab? Pagi ini, saya iseng membuka Task Manager dan menemukan pemandangan yang cukup mengejutkan.

Aplikasi yang biasanya kita anggap “ringan” karena hanya mengirim teks—WhatsApp—ternyata duduk di singgasana penggunaan memori (RAM) paling tinggi, melampaui browser sekalipun.

Fenomena “Membengkaknya” Aplikasi Modern

Dalam tangkapan layar yang saya ambil (lihat gambar di bawah), WhatsApp versi terbaru di Windows mengonsumsi lebih dari 500 MB RAM dengan 10 sub-proses yang berjalan sekaligus. Bagi sebuah aplikasi perpesanan, angka ini adalah sebuah lonjakan besar jika dibandingkan dengan versi native (UWP) terdahulu yang biasanya hanya memakan 100-200 MB.

Mengapa ini terjadi? Jawabannya ada pada transisi teknologi. Meta kini menggunakan mesin berbasis WebView2. Sederhananya, aplikasi WhatsApp yang kita pasang sekarang sebenarnya adalah “browser terselubung” yang hanya menjalankan satu situs web. Akibatnya, ia butuh tenaga ekstra untuk merender setiap stiker, video, dan enkripsi pesan kita.

Dilema di Lingkungan Kerja

Sebagai praktisi yang sering berkutat dengan banyak aplikasi sekaligus—mulai dari rekam medis elektronik, referensi jurnal, hingga pengolah dokumen—setiap megabyte RAM sangatlah berharga.

Ada ironi di sini:

“Hardware semakin cepat, namun software menjadi semakin haus sumber daya secara eksponensial.”

Hukum Wirth (Wirth’s Law) nampaknya masih sangat relevan: Software is getting slower more rapidly than hardware becomes faster. Kita diberikan fitur sinkronisasi yang lebih cepat dan UI yang lebih cantik, namun harus dibayar dengan “pajak” sumber daya sistem yang lebih tinggi.

Bagaimana Menyikapinya?

Jika Anda pengguna laptop dengan RAM terbatas (8 GB atau kurang), berikut beberapa opsi yang bisa dipertimbangkan:

  1. Gunakan Mode Efisiensi: Di Windows 11, kita bisa membatasi prioritas proses WhatsApp lewat Task Manager.
  2. Back to Browser: Menggunakan WhatsApp Web di tab browser yang sudah terbuka (seperti Edge) seringkali lebih hemat RAM daripada menjalankan aplikasi mandiri yang punya mesin browser sendiri.
  3. Disiplin Menutup Aplikasi: Jangan biarkan ia berjalan di background jika tidak sedang menunggu pesan mendesak.

Perubahan teknologi memang tidak terelakkan, namun sebagai pengguna, kita tetap harus kritis. Apakah fitur-fitur baru ini sepadan dengan beban yang diberikan pada perangkat kita? Atau mungkinkah kita merindukan masa-masa ketika aplikasi “ringan” benar-benar terasa ringan?

Bagaimana dengan Task Manager Anda hari ini? Apakah WhatsApp juga menjadi “raja” penggunaan RAM di sana?

Commenting 101: “Be kind, and respect each other” // Bersikaplah baik, dan saling menghormati (Indonesian) // Soyez gentils et respectez-vous les uns les autres (French) // Sean amables y respétense mutuamente (Spanish) // 待人友善,互相尊重 (Chinese) // كونوا لطفاء واحترموا بعضكم البعض (Arabic) // Будьте добры и уважайте друг друга (Russian) // Seid freundlich und respektiert einander (German) // 親切にし、お互いを尊重し合いましょう (Japanese) // दयालु बनें, और एक दूसरे का सम्मान करें (Hindi) // Siate gentili e rispettatevi a vicenda (Italian)

Tinggalkan komentar