Dalam percakapan sehari-hari mengenai kesehatan reproduksi wanita, kita sering mendengar tentang infeksi jamur (yeast infection). Namun, ada kondisi lain yang sebenarnya jauh lebih umum terjadi pada wanita usia subur, tetapi sering kali disalahpahami atau tidak terdiagnosis. Kondisi tersebut adalah Vaginosis Bakterialis atau Bacterial Vaginosis (BV).
Sering kali, wanita merasa cemas bahwa perubahan pada area kewanitaan mereka merupakan tanda Infeksi Menular Seksual (IMS). Meskipun BV memiliki kaitan dengan aktivitas seksual, secara medis kondisi ini bukanlah infeksi menular seksual dalam definisi tradisional. Artikel ini akan mengupas tuntas apa itu BV, mengapa bisa terjadi, risiko kesehatan yang menyertainya, serta penanganan medis terkini berdasarkan panduan global.
Memahami “Mikrobioma” Vagina: Sebuah Hutan Hujan Mikroskopis
Untuk memahami BV, kita tidak bisa melihatnya sebagai “serangan bakteri jahat” semata. Kita harus memandangnya sebagai kerusakan ekosistem.
Vagina yang sehat bukanlah lingkungan yang steril. Sebaliknya, ia adalah rumah bagi komunitas mikroorganisme yang kompleks, yang disebut sebagai mikrobioma vagina. Pada kondisi sehat, komunitas ini didominasi oleh bakteri baik dari genus Lactobacillus.
Peran Lactobacillus:
Bakteri ini bertugas memproduksi asam laktat untuk menjaga tingkat keasaman (pH) vagina tetap rendah, yaitu berkisar antara 3,8 hingga 4,5. Lingkungan yang asam ini penting untuk mencegah pertumbuhan bakteri patogen (penyebab penyakit). Selain itu, beberapa spesies Lactobacillus memproduksi hidrogen peroksida yang berfungsi sebagai disinfektan alami.
Apa yang Terjadi saat Vaginosis Bakterialis Menyerang?
BV terjadi karena adanya disbiosis1. Jumlah Lactobacillus menurun drastis, sehingga pH vagina meningkat (menjadi lebih basa, di atas 4,5).
Hilangnya “penjaga keamanan” ini memungkinkan bakteri anaerob2 lain untuk berkembang biak secara liar. Bakteri yang paling sering menjadi biang keladi dominan adalah Gardnerella vaginalis, bersama dengan bakteri lain seperti Prevotella, Atopobium vaginae, dan Mobiluncus.
Singkatnya: BV bukanlah invasi bakteri asing dari luar, melainkan pemberontakan bakteri yang sebenarnya sudah ada di dalam (flora normal), namun jumlahnya menjadi tidak terkendali karena hilangnya bakteri baik.
Gejala dan Tanda Klinis: Tidak Selalu Terlihat
Salah satu tantangan terbesar dalam mendiagnosis BV adalah bahwa sekitar 50% hingga 75% wanita dengan BV tidak menunjukkan gejala sama sekali (asimtomatik). Namun, bagi mereka yang bergejala, tanda-tandanya cukup khas:
- Keputihan Encer: Cairan vagina cenderung tipis, encer, dan berwarna putih keabu-abuan (off-white).
- Aroma yang Khas: Terdapat bau yang sering dideskripsikan sebagai “amis” (seperti bau ikan), yang cenderung menjadi lebih kuat setelah melakukan hubungan seksual atau saat menstruasi. Bau ini muncul akibat produk sampingan metabolisme bakteri anaerob yang disebut amina.
- Iritasi Ringan: Meskipun rasa gatal (pruritus) lebih umum terjadi pada infeksi jamur, penderita BV terkadang juga merasakan gatal atau rasa terbakar saat buang air kecil (dysuria), meski lebih jarang.
Faktor Risiko: Siapa yang Rentan?
Penyebab pasti mengapa keseimbangan bakteri bisa rusak masih menjadi subyek penelitian, namun data epidemiologi menunjukkan beberapa faktor risiko kuat:
- Praktik Douching (Mencuci Vagina): Ini adalah faktor risiko utama. Menggunakan sabun pembersih kewanitaan, menyemprotkan air ke dalam vagina, atau praktik ratus dapat membilas keluar Lactobacillus dan mengubah pH alami, memicu pertumbuhan bakteri jahat.
- Aktivitas Seksual: Memiliki pasangan seksual baru atau berganti-ganti pasangan meningkatkan risiko BV. Meskipun BV jarang terjadi pada wanita yang belum pernah berhubungan seksual, BV sangat umum terjadi pada wanita yang berhubungan seks dengan wanita (WSW).
- Merokok: Penelitian menunjukkan bahwa zat kimia dalam rokok dapat ditemukan dalam cairan serviks dan dapat mengganggu populasi Lactobacillus.
- Penggunaan Alat Kontrasepsi Dalam Rahim (IUD): Beberapa studi literatur lama mengaitkan penggunaan IUD (spiral) dengan peningkatan risiko BV, terutama pada bulan-bulan awal pemasangan, meskipun hubungannya tidak sekuat faktor douching.

Mengapa BV Harus Diobati? (Komplikasi Medis)
Banyak wanita menganggap BV hanya masalah ketidaknyamanan semata. Padahal, jika dibiarkan, BV dapat membuka pintu bagi masalah kesehatan yang lebih serius:
1. Risiko Kehamilan
Pada wanita hamil, BV dikaitkan dengan hasil kehamilan yang buruk, termasuk:
- Kelahiran prematur (bayi lahir dengan berat badan rendah).
- Ketuban pecah dini.
- Chorioamnionitis (infeksi pada cairan ketuban dan plasenta).
2. Pintu Masuk Penyakit Menular Seksual (IMS)
Hilangnya pertahanan asam dan Lactobacillus membuat vagina lebih rentan. Wanita dengan BV memiliki risiko lebih tinggi untuk tertular HIV, Neisseria gonorrhoeae (kencing nanah), Chlamydia trachomatis, dan Herpes Simplex Virus (HSV-2).
3. Penyakit Radang Panggul (PID)
Bakteri penyebab BV dapat naik ke rahim dan saluran tuba, menyebabkan Pelvic Inflammatory Disease (PID), yang berpotensi menyebabkan infertilitas (kemandulan) di masa depan.
Diagnosis dan Pengobatan Terkini
Dokter biasanya mendiagnosis BV menggunakan Kriteria Amsel. Diagnosis ditegakkan jika ditemukan minimal 3 dari 4 tanda berikut:
- Keluarnya cairan tipis putih keabu-abuan.
- pH vagina > 4,5.
- Tes Whiff positif (muncul bau amis saat cairan vagina ditetesi larutan Potassium Hydroxide/KOH).
- Ditemukannya Clue Cells (sel vagina yang dikelilingi bakteri) saat diperiksa di bawah mikroskop.
Tatalaksana Medis
Berdasarkan pedoman Centers for Disease Control and Prevention (CDC) 2021 dan panduan organisasi kesehatan global lainnya, pengobatan standar meliputi:
- Antibiotik:
- Metronidazole: Dapat diberikan dalam bentuk tablet minum (oral) atau gel yang dimasukkan ke vagina.
- Clindamycin: Biasanya dalam bentuk krim vagina atau ovula.
- Tinidazole atau Secnidazole (obat oral dosis tunggal terbaru) juga menjadi opsi alternatif.
Catatan Penting Pengobatan:
Pasien yang mengonsumsi Metronidazole oral dilarang keras mengonsumsi alkohol selama pengobatan dan setidaknya 24 jam setelahnya, karena dapat menyebabkan reaksi “disulfiram-like” (mual hebat, muntah, dan sakit kepala).
Masalah Kekambuhan (Recurrence)
Salah satu tantangan terbesar BV adalah tingkat kekambuhan yang tinggi (sekitar 30-50% wanita mengalami kambuh dalam 3 bulan). Hal ini diduga karena kemampuan bakteri Gardnerella vaginalis membentuk Biofilm3—sebuah lapisan pelindung yang membuat bakteri sulit ditembus oleh antibiotik standar.
Saat ini, penelitian sedang mengembangkan terapi tambahan seperti penggunaan Probiotik (suplemen Lactobacillus) untuk mengembalikan flora normal, atau penggunaan boric acid (asam borat) sebagai terapi pendamping pada kasus yang sulit sembuh, namun penggunaannya harus di bawah pengawasan ketat dokter spesialis.
Langkah Pencegahan
Mencegah BV berarti menjaga ekosistem vagina tetap seimbang. Berikut langkah sederhana namun krusial:
- Hentikan Douching: Biarkan vagina membersihkan dirinya sendiri. Cukup bersihkan area luar (vulva) dengan air hangat dan sabun lembut tanpa pewangi.
- Pilih Pakaian Dalam yang Tepat: Gunakan celana dalam berbahan katun yang menyerap keringat (breathable) dan hindari celana yang terlalu ketat untuk mencegah kelembapan berlebih.
- Praktik Seksual Aman: Gunakan kondom secara konsisten untuk mencegah perubahan pH vagina akibat sperma (yang bersifat basa) dan mengurangi risiko penularan bakteri.
- Berhenti Merokok: Mengurangi paparan toksin rokok dapat membantu mikrobioma vagina pulih.
Kesimpulan
Vaginosis Bakterialis adalah cerminan dari ketidakseimbangan ekosistem tubuh, bukan sekadar infeksi sederhana. Meskipun gejalanya sering dianggap sepele atau bahkan tidak terasa, dampaknya terhadap kesehatan reproduksi jangka panjang sangatlah nyata. Menjaga keseimbangan flora alami vagina dengan menghindari praktik pembersihan yang agresif adalah kunci utama pencegahan.
Jika Anda mengalami gejala keputihan yang tidak biasa atau berbau, jangan melakukan diagnosis sendiri atau membeli obat bebas sembarangan. Konsultasikan dengan tenaga medis untuk mendapatkan penanganan yang tepat dan mencegah resistensi bakteri.
Catatan Kaki & Istilah:
- Disbiosis: Kondisi ketidakseimbangan jumlah mikroorganisme (bakteri/jamur) di dalam tubuh. ↩︎
- Bakteri Anaerob: Bakteri yang dapat hidup dan tumbuh tanpa memerlukan oksigen. ↩︎
- Biofilm: Sekumpulan sel mikroorganisme yang melekat satu sama lain pada suatu permukaan dan dilindungi oleh lapisan lendir, membuatnya lebih kebal terhadap sistem imun dan antibiotik. ↩︎
Referensi:
- Centers for Disease Control and Prevention (CDC). (2021). Sexually Transmitted Infections Treatment Guidelines, 2021: Bacterial Vaginosis.
- World Health Organization (WHO). (2023). Guidelines for the management of symptomatic sexually transmitted infections.
- American College of Obstetricians and Gynecologists (ACOG). (2020). Vaginitis in Nonpregnant Patients: ACOG Practice Bulletin, Number 215.
- Muzny, C. A., et al. (2019). The clinical burden of bacterial vaginosis: current insights and future directions. Journal of Clinical Pathology.
PENAFIAN (DISCLAIMER):
Tulisan ini disusun untuk tujuan informasi dan edukasi kesehatan semata. Artikel ini tidak menggantikan peran konsultasi, diagnosis, ataupun tindakan medis profesional. Jika Anda memiliki keluhan kesehatan, segera hubungi dokter atau fasilitas kesehatan terdekat.

Tinggalkan komentar