A Cahya Legawa's Les pèlerins au-dessus des nuages

  1. Pendahuluan
  2. Anatomi dan Fisiologi Kelenjar Bartholin
  3. Definisi dan Epidemiologi
    1. Definisi
    2. Epidemiologi
  4. Patofisiologi
    1. Mekanisme Obstruksi
    2. Pembentukan Kista dan Abses
    3. Mikrobiologi
  5. Manifestasi Klinis
    1. Kista Bartholin (Tidak Terinfeksi)
    2. Abses Kelenjar Bartholin
    3. Kista Bartholin Raksasa
  6. Diagnosis
    1. Anamnesis
    2. Pemeriksaan Fisik
    3. Pemeriksaan Penunjang
    4. Kriteria Diagnosis Keganasan
  7. Diagnosis Banding
    1. Lesi Kistik Vagina Lainnya
    2. Lesi Solid dan Kondisi Lain
    3. Komplikasi Langka
  8. Penatalaksanaan
    1. Tatalaksana Konservatif
    2. Tatalaksana Bedah
      1. 1. Insisi dan Drainase dengan Kateter Word
      2. 2. Marsupialisasi
      3. 3. Prosedur Lain
    3. Terapi Antibiotik
    4. Pertimbangan Khusus untuk Keganasan
  9. Komplikasi
    1. Komplikasi Penyakit
    2. Komplikasi Tindakan
  10. Prognosis
  11. Pencegahan dan Edukasi Pasien
    1. Pencegahan Primer
    2. Pencegahan Sekunder
    3. Edukasi Pasien
  12. Kesimpulan
  13. Referensi

Pendahuluan

Kista kelenjar Bartholin merupakan salah satu kelainan ginekologi yang paling sering ditemukan, menyebabkan ketidaknyamanan, kecemasan, dan gangguan aktivitas sehari-hari pada wanita usia reproduktif. Meskipun umumnya bersifat jinak dan dapat sembuh sendiri, kista ini dapat berkembang menjadi abses1 yang memerlukan penanganan medis segera. Pemahaman yang baik tentang kondisi ini penting bagi tenaga kesehatan maupun masyarakat untuk memastikan diagnosis dini dan penatalaksanaan yang tepat.

Anatomi dan Fisiologi Kelenjar Bartholin

Kelenjar Bartholin, atau disebut juga kelenjar vestibular2 mayor, merupakan struktur anatomi yang pertama kali dideskripsikan oleh ahli anatomi Denmark, Casper Bartholin, pada abad ke-17. Kelenjar ini homolog3 dengan kelenjar bulbouretral (kelenjar Cowper) pada pria. Secara anatomis, kelenjar Bartholin adalah sepasang kelenjar berukuran kecil (sekitar 0,5 cm atau sebesar kacang polong) yang terletak di sisi posterior bawah orifisium vagina, biasanya pada posisi jam 4 dan jam 8.

Kelenjar ini memiliki saluran (duktus) sepanjang 2,0-2,5 cm yang bermuara di antara labia minora4 dan tepi himen5. Fungsi utama kelenjar Bartholin adalah menyekresi mukus6 yang berperan penting dalam lubrikasi7 vulva dan vagina, terutama selama aktivitas seksual. Dalam keadaan normal, kelenjar ini tidak teraba saat pemeriksaan fisik.

Definisi dan Epidemiologi

Definisi

Kista kelenjar Bartholin adalah massa jinak berisi cairan yang terbentuk akibat obstruksi8 duktus kelenjar Bartholin. Obstruksi ini menyebabkan akumulasi mukus di bawah kulit, menghasilkan pembengkakan kistik yang dapat berkembang menjadi abses jika terinfeksi.

Epidemiologi

Berdasarkan data terbaru dari PubMed, kista dan abses kelenjar Bartholin memiliki karakteristik epidemiologi sebagai berikut:

Insiden Global
Insidensi9 kista dan abses kelenjar Bartholin adalah sekitar 0,5 per 1.000 populasi per tahun. Kasus simtomatik10 menyumbang sekitar 2% dari seluruh kunjungan ginekologi tahunan, menjadikannya salah satu alasan paling umum pasien datang ke unit penilaian ginekologi darurat.

Distribusi Usia
Kista dan abses kelenjar Bartholin paling sering terjadi pada wanita usia reproduktif, terutama antara 35-50 tahun. Kejadian kista meningkat setelah pubertas11 dan menurun signifikan setelah menopause12. Pada wanita pasca-menopause, risiko transformasi malignan13 harus dipertimbangkan, terutama pada kasus yang rekuren atau kompleks.

Faktor Risiko
Menurut penelitian terbaru, beberapa faktor risiko pembentukan kista Bartholin meliputi:

  • Trauma pada area perineum14 (episiotomi15, persalinan)
  • Aktivitas seksual (diduga terkait dengan gesekan selama hubungan seksual)
  • Prosedur bedah untuk vulvodinitis16 (termasuk perineoplasti, vestibuloplasti, dan vestibulektomi) dengan insidensi hingga 9%
  • Infeksi menular seksual17

Patofisiologi

Pembentukan kista kelenjar Bartholin dimulai dengan obstruksi duktus kelenjar. Mekanisme obstruksi dapat terjadi melalui beberapa jalur:

Mekanisme Obstruksi

  1. Obstruksi Mekanis: Trauma, pembengkakan jaringan, atau penebalan sekret mukus dapat menyebabkan penyumbatan duktus.
  2. Gesekan Fisik: Salah satu teori menyebutkan bahwa obstruksi duktus dapat disebabkan oleh gesekan berulang selama aktivitas seksual.
  3. Proses Inflamasi: Inflamasi18 lokal dapat menyebabkan edema19 dan penyempitan lumen duktus.

Pembentukan Kista dan Abses

Ketika duktus tersumbat, sekresi mukus terus berlanjut namun tidak dapat dikeluarkan. Akumulasi mukus ini menyebabkan dilatasi20 kistik pada duktus dan pembentukan kista. Kista yang terbentuk dapat tetap steril21 atau terinfeksi. Berdasarkan literatur, abses kelenjar Bartholin hampir tiga kali lebih sering terjadi dibandingkan kista duktus sederhana.

Mikrobiologi

Menurut penelitian terbaru yang dipublikasikan di European Journal of Clinical Microbiology & Infectious Diseases tahun 2025, kultur abses kelenjar Bartholin sering menunjukkan infeksi polimikrobial22. Organisme yang paling sering ditemukan meliputi:

  • Flora normal vagina (Bacteroides, Peptostreptococcus)
  • Bakteri aerobik23 (Escherichia coli, Staphylococcus aureus)
  • Patogen menular seksual (Neisseria gonorrhoeae, Chlamydia trachomatis)
  • Organisme atipikal seperti Capnocytophaga ochracea (kasus pertama dilaporkan tahun 2025, DOI: 10.1007/s10096-025-05141-5)

Manifestasi Klinis

Kista Bartholini

Presentasi klinis kista dan abses kelenjar Bartholin bervariasi tergantung pada ukuran, ada tidaknya infeksi, dan tingkat keparahan.

Kista Bartholin (Tidak Terinfeksi)

Kista yang kecil dan tidak terinfeksi umumnya asimtomatik24 dan dapat ditemukan secara insidental25 saat pemeriksaan panggul atau studi pencitraan. Karakteristik kista non-infeksi meliputi:

  • Massa tanpa nyeri di area kelenjar Bartholin
  • Tidak ada tanda selulitis26 atau limfangitis27
  • Ukuran bervariasi dari beberapa milimeter hingga beberapa sentimeter
  • Konsistensi lunak, mobile28, kistik
  • Tidak ada perubahan warna kulit di atasnya

Abses Kelenjar Bartholin

Abses terbentuk ketika kista mengalami infeksi bakteri. Gejala dan tanda abses meliputi:

Gejala Sistemik:

  • Demam (dapat terjadi pada infeksi berat)
  • Malaise29 umum
  • Kecemasan terkait kondisi

Gejala Lokal:

  • Nyeri vulva yang hebat dan progresif
  • Pembengkakan unilateral30 (umumnya satu sisi) di area vestibulum31 inferior
  • Kesulitan berjalan, duduk, atau berdiri
  • Dispareunia32 (nyeri saat berhubungan seksual)
  • Dapat terjadi drainase purulen33 spontan dengan perbaikan gejala mendadak

Tanda Pemeriksaan Fisik:

  • Asimetri vulva dengan penonjolan di sisi inferior (kiri atau kanan)
  • Massa yang nyeri tekan di area vestibulum bawah
  • Eritema34 (kemerahan) di sekitar massa
  • Edema jaringan sekitar
  • Indurasi35 (pengerasan) jaringan
  • Area fluktuasi36 yang menunjukkan adanya cairan
  • Kulit di atas abses dapat menipis dan berisiko ruptur spontan

Kista Bartholin Raksasa

Dalam kasus yang jarang, kista dapat tumbuh sangat besar (>5 cm) dan menimbulkan gejala kompresi37 pada struktur sekitarnya, termasuk uretra38 dan kandung kemih, menyebabkan gejala berkemih.

Diagnosis

Anamnesis

Riwayat yang komprehensif harus mencakup:

  • Durasi gejala
  • Nyeri dengan aktivitas tertentu (berjalan, duduk, berdiri, hubungan seksual)
  • Riwayat drainase purulen
  • Riwayat kista atau abses Bartholin sebelumnya
  • Perdarahan atau discharge vagina
  • Riwayat infeksi menular seksual
  • Riwayat trauma perineum atau episiotomi

Pemeriksaan Fisik

Pemeriksaan fisik yang teliti sangat penting untuk diagnosis. Pemeriksaan meliputi:

  1. Inspeksi Visual: Observasi asimetri vulva, perubahan warna kulit, pembengkakan
  2. Palpasi: Menilai ukuran, konsistensi, nyeri tekan, mobilitas massa
  3. Evaluasi Tanda Infeksi: Mencari eritema, edema, fluktuasi, drainase

Pemeriksaan Penunjang

Menurut panduan terbaru, kista dan abses Bartholin tidak selalu memerlukan pemeriksaan laboratorium atau radiologi rutin. Namun, beberapa kondisi memerlukan investigasi lebih lanjut:

Indikasi Pemeriksaan Tambahan:

  1. Kultur Mikrobiologi:
    • Dilakukan saat insisi dan drainase abses
    • Untuk mengidentifikasi patogen dan menentukan terapi antibiotik yang tepat
    • Khususnya penting pada kasus rekuren
  2. Skrining Infeksi Menular Seksual:
    • Direkomendasikan jika dicurigai IMS
    • Pemeriksaan untuk gonore dan klamidia
    • Terutama pada pasien usia muda atau dengan faktor risiko tinggi
  3. Biopsi:
    • Indikasi absolut: Pasien berusia >40 tahun dengan massa atipikal39
    • Indikasi relatif: Kista rekuren, presentasi yang tidak biasa
    • Tujuan: Menyingkirkan keganasan (karsinoma kelenjar Bartholin)
  4. Pencitraan:
    • Ultrasonografi: Dapat membantu membedakan kista dari massa padat
    • MRI Pelvis: Berguna untuk kasus kompleks atau untuk perencanaan bedah
    • Studi tahun 2024 menunjukkan pencitraan digunakan pada 95% kasus yang memerlukan evaluasi lanjutan

Kriteria Diagnosis Keganasan

Kriteria diagnostik untuk karsinoma kelenjar Bartholin (pertama kali dikembangkan tahun 1897, direvisi oleh Chamlian dan Taylor tahun 1972) meliputi:

  1. Lesi melibatkan area kelenjar Bartholin dan kompatibel secara histologis dengan asal organ
  2. Pemeriksaan patologis menunjukkan area transisi dari elemen normal ke neoplastik40
  3. Tidak ada bukti tumor primer lain sebagai etiologi41 keganasan

Diagnosis Banding

Diferensiasi yang akurat penting untuk penatalaksanaan yang tepat. Diagnosis banding massa vagina anterior meliputi:

Lesi Kistik Vagina Lainnya

  1. Kista Duktus Gartner: Berasal dari sisa duktus mesonefrik42, biasanya terletak di dinding lateral vagina
  2. Kista Duktus Müllerian: Dapat ditemukan di berbagai lokasi vagina
  3. Kista Kelenjar Skene: Terletak lebih anterior, dekat uretra
  4. Kista Inklusi Epidermis: Biasanya terkait riwayat trauma atau episiotomi
  5. Kista Endometriosis: Jarang, biasanya disertai riwayat endometriosis

Lesi Solid dan Kondisi Lain

Berdasarkan laporan kasus di Journal of Minimally Invasive Gynecology 2024 (DOI: 10.1016/j.jmig.2024.11.008), diagnosis banding juga mencakup:

  • Divertikulum uretra43
  • Leiomioma44 vagina
  • Prolaps organ panggul
  • Hernia perineum
  • Adenosis vagina
  • Pyoderma gangrenosum vulva (dapat menyerupai abses Bartholin seperti dilaporkan dalam International Journal of Gynaecology and Obstetrics 2025, DOI: 10.1002/ijgo.16122)

Komplikasi Langka

Laporan kasus di Journal of the Anus, Rectum and Colon 2025 (DOI: 10.23922/jarc.2024-022) menunjukkan kemungkinan fistula45 ano-Bartholin yang jarang terjadi, terutama pada pasien tanpa penyakit Crohn.

Penatalaksanaan

Pilihan terapi untuk kista dan abses kelenjar Bartholin bervariasi berdasarkan ukuran kista, usia pasien, ada tidaknya infeksi, gejala, dan riwayat rekurensi.

Tatalaksana Konservatif

Indikasi:

  • Kista asimtomatik
  • Kista atau abses yang sedang mengalami drainase spontan
  • Kista kecil tanpa gejala signifikan

Metode:

  1. Sitz Bath (Berendam Air Hangat):
    • Dilakukan 3-4 kali sehari selama 10-15 menit
    • Membantu mengurangi inflamasi dan mempromosikan drainase spontan
  2. Analgesik:
    • NSAID (antiinflamasi nonsteroid) untuk mengurangi nyeri dan inflamasi
    • Parasetamol untuk kontrol nyeri
  3. Observasi:
    • Kista kecil (<1 cm) yang asimtomatik dapat diobservasi tanpa intervensi

Tatalaksana Bedah

Berdasarkan tinjauan sistematik terbaru, tidak ada satu metode pengobatan yang superior terhadap yang lain dalam hal angka rekurensi. Pilihan metode tergantung pada karakteristik kasus individual.

1. Insisi dan Drainase dengan Kateter Word

Indikasi:

  • Abses Bartholin pertama kali
  • Kista simtomatik pertama kali
  • Pilihan lini pertama karena kemudahan dan efektivitas

Prosedur:

  • Insisi dilakukan pada mukosa vagina di area paling fluktuatif
  • Evakuasi isi kista/abses
  • Kateter Word (balon kecil) dimasukkan dan dikembangkan
  • Kateter dibiarkan in situ selama 4-6 minggu untuk membentuk saluran drainase permanen (epitelialisasi)

Keuntungan:

  • Prosedur sederhana, dapat dilakukan di klinik rawat jalan
  • Waktu prosedur singkat (~1 jam vs 4 jam untuk marsupialisasi)
  • Penggunaan analgesik lebih sedikit dalam 24 jam pertama (33% vs 74%)
  • Tingkat kepuasan pasien tinggi
  • Angka rekurensi sebanding dengan metode lain (10-12%)

Studi terbaru di In Vivo 2024 (DOI: 10.21873/invivo.13568) menunjukkan kateter Word feasibel dan memuaskan untuk penatalaksanaan kista dan abses Bartholin.

2. Marsupialisasi

Indikasi:

  • Kista rekuren
  • Kista besar (>4 cm)
  • Kegagalan metode lain

Prosedur:

  • Insisi elips dibuat pada dinding kista
  • Evakuasi isi kista
  • Tepi dinding kista dijahit ke mukosa vagina (eversi) untuk membentuk kantong permanen
  • Membentuk orifisium drainase yang permanen

Keuntungan:

  • Angka rekurensi rendah (10%)
  • Solusi definitif untuk kista rekuren

Kerugian:

  • Memerlukan anestesi yang lebih dalam
  • Waktu prosedur lebih lama
  • Nyeri pasca-operasi lebih signifikan
  • Memerlukan perawatan luka yang lebih intensif

3. Prosedur Lain

Berdasarkan literatur, prosedur yang kurang umum digunakan meliputi:

  • Ablasi Silver Nitrat: Metode kimia untuk menghancurkan epitel duktus
  • Vaporisasi Laser CO₂: Destruksi jaringan kista menggunakan laser
  • Penempatan Cincin Jacobi: Alternatif kateter Word
  • Eksisi Kelenjar Bartholin: Tindakan terakhir jika metode lain gagal, reserved untuk kasus sangat rekuren atau kecurigaan keganasan

Terapi Antibiotik

Indikasi:

  • Abses dengan tanda infeksi sistemik
  • Selulitis perilesional luas
  • Pasien immunocompromised46
  • Dicurigai IMS

Pilihan Antibiotik:

  • Empirik: Amoksisilin-klavulanat atau sefalosporin generasi kedua/ketiga
  • Targeted: Berdasarkan hasil kultur dan sensitivitas
  • Untuk IMS: Sesuai pedoman pengobatan gonore dan klamidia

Pertimbangan Khusus untuk Keganasan

Pada pasien >40 tahun atau dengan presentasi atipikal, biopsi harus dilakukan untuk menyingkirkan karsinoma kelenjar Bartholin. Jika terbukti keganasan, rujukan ke onkologi ginekologi untuk penatalaksanaan multimodal (pembedahan, radiasi, kemoterapi) diperlukan. Tinjauan sistematik terbaru di jurnal Cancers 2025 (DOI: 10.3390/cancers17233819) memberikan panduan komprehensif untuk manajemen karsinoma kelenjar Bartholin.

Komplikasi

Komplikasi Penyakit

  1. Rekurensi: Angka kekambuhan bervariasi 10-15% tergantung metode terapi
  2. Pembentukan Abses: Kista yang tidak ditangani dapat terinfeksi
  3. Ruptur Spontan: Dapat terjadi pada abses besar, berisiko penyebaran infeksi
  4. Dispareunia Kronik: Nyeri berkepanjangan saat hubungan seksual
  5. Fistula: Sangat jarang, koneksi abnormal dengan struktur sekitar (anus, rektum)
  6. Transformasi Malignan: Risiko rendah, meningkat pada usia >40 tahun

Komplikasi Tindakan

  1. Perdarahan: Jarang, dapat terjadi selama atau setelah prosedur
  2. Infeksi Luka: Dapat dicegah dengan teknik aseptik yang baik
  3. Hematoma47: Penumpukan darah di area operasi
  4. Jaringan Parut: Dapat menyebabkan dispareunia jangka panjang
  5. Rekurensi Pasca-Operasi: Tergantung teknik dan adherence pasien terhadap perawatan luka

Prognosis

Prognosis kista dan abses kelenjar Bartholin umumnya sangat baik dengan penatalaksanaan yang tepat:

  • Sebagian besar pasien mengalami resolusi komplit gejala setelah terapi
  • Angka rekurensi relatif rendah (10-15%) dengan teknik bedah yang tepat
  • Kualitas hidup membaik signifikan setelah penanganan
  • Tidak ada dampak jangka panjang terhadap fungsi seksual atau fertilitas jika ditangani dengan baik
  • Risiko transformasi malignan sangat rendah pada populasi umum

Studi follow-up di Journal of Obstetrics and Gynaecology of India 2024 (DOI: 10.1007/s13224-024-01964-y) dengan median follow-up 12 bulan menunjukkan tidak ada rekurensi pada pasien yang menjalani eksisi bedah dengan perawatan pasca-operasi yang adekuat.

Pencegahan dan Edukasi Pasien

Meskipun tidak semua kasus dapat dicegah karena etiologi yang sering tidak jelas, beberapa strategi dapat membantu mengurangi risiko:

Pencegahan Primer

  1. Higiene Vulva yang Baik:
    • Membersihkan area vulva dari depan ke belakang
    • Menghindari produk iritan (sabun pewangi, douching)
  2. Praktik Seksual yang Aman:
    • Penggunaan kondom untuk mencegah IMS
    • Lubrikasi adekuat saat hubungan seksual
  3. Deteksi Dini IMS:
    • Skrining rutin untuk populasi berisiko tinggi
    • Pengobatan segera jika terdiagnosis IMS

Pencegahan Sekunder

  1. Sitz Bath Rutin: Pada wanita dengan riwayat kista rekuren
  2. Konsultasi Segera: Jika timbul gejala untuk mencegah progresif menjadi abses
  3. Follow-up Teratur: Terutama pada pasien dengan kista rekuren

Edukasi Pasien

Pasien harus diedukasi tentang:

  • Tanda dan gejala yang memerlukan perhatian medis
  • Perawatan pasca-prosedur (terutama untuk kateter Word)
  • Kapan harus kembali untuk evaluasi
  • Pentingnya melaporkan gejala rekuren
  • Tidak ada hubungan antara kista Bartholin dengan kebersihan pribadi yang buruk

Kesimpulan

Kista kelenjar Bartholin merupakan kondisi ginekologi yang umum dengan presentasi klinis yang bervariasi dari asimtomatik hingga abses yang sangat nyeri. Diagnosis umumnya dapat ditegakkan secara klinis melalui anamnesis dan pemeriksaan fisik yang teliti. Penatalaksanaan berkisar dari observasi konservatif untuk kista asimtomatik hingga intervensi bedah untuk kasus simtomatik atau rekuren. Kateter Word dan marsupialisasi merupakan modalitas bedah yang paling umum dengan angka rekurensi yang sebanding. Meskipun jarang, transformasi malignan harus dipertimbangkan pada pasien berusia lebih dari 40 tahun atau dengan presentasi atipikal. Dengan diagnosis yang tepat dan penatalaksanaan yang sesuai, prognosis kista kelenjar Bartholin sangat baik dengan dampak minimal terhadap kualitas hidup jangka panjang.


Referensi

  1. Zhao W, Zhang T. Bartholin’s gland cyst with markedly elevated CA19-9 level: A case report. Exp Ther Med. 2025;30(6):226. DOI: 10.3892/etm.2025.12976
  2. Ligero-López J, Goñi P, López-Alonso B, et al. First report of a Bartholin’s gland abscess caused by Capnocytophaga ochracea. Eur J Clin Microbiol Infect Dis. 2025;44(7):1745-1748. DOI: 10.1007/s10096-025-05141-5
  3. Guo Y, Chen Y, Yu X. Pyoderma gangrenosum vulvae misdiagnosed as Bartholin’s gland abscess: A case report. Int J Gynaecol Obstet. 2025;169(3):1116-1118. DOI: 10.1002/ijgo.16122
  4. Koizumi M, Morimoto K, Kubota I, et al. Ano-Bartholin’s Gland Fistula Caused by Anal Fistula in a Patient without Crohn’s Disease: A Case Report. J Anus Rectum Colon. 2025;9(2):276-280. DOI: 10.23922/jarc.2024-022
  5. Kumari R, Sharma JB, Agrawal M, Bhatla N. Symptomatic Vaginal Masses Mimicking Prolapse: Varied Clinical Course, Diagnosis and Their Management. J Obstet Gynaecol India. 2024;75(Suppl 1):9-13. DOI: 10.1007/s13224-024-01964-y
  6. Trikhacheva A, Dengler K, Murdock TA, Gruber D. Vaginal Bulge is Not Always Prolapse. J Minim Invasive Gynecol. 2024;32(3):219. DOI: 10.1016/j.jmig.2024.11.008
  7. Psilopatis I, Emons J, Levidou G, et al. Feasibility and Satisfaction With the Word Catheter in Treatment of Bartholin’s Cyst and Abscess. In Vivo. 2024;38(3):1292-1299. DOI: 10.21873/invivo.13568
  8. Kostov S, Kornovski Y, Ivanova V, et al. Bartholin Gland Carcinoma: A State-of-the-Art Review of Epidemiology, Histopathology, Molecular Testing, and Clinical Management. Cancers (Basel). 2025;17(23):3819. DOI: 10.3390/cancers17233819
  9. Hamade M, Ballard DH, Hoegger MJ, et al. Cystic genitourinary lesions in the pelvis: pearls and pitfalls. Abdom Radiol (NY). 2025;50(12):5963-5983. DOI: 10.1007/s00261-025-05006-7
  10. Lee WA, Wittler M. Bartholin Gland Cyst. In: StatPearls [Internet]. Treasure Island (FL): StatPearls Publishing; 2024. Available from: https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK532271/
  11. Das S, Shil R, Dhanpal HN. Bartholin gland cyst and abscess: an updated scenario. Int J Res Med Sci. 2024;12(1):334-338. DOI: 10.18203/2320-6012.ijrms20234030
  12. Omole F, Simmons BJ, Hacker Y. Management of Bartholin’s duct cyst and gland abscess. Am Fam Physician. 2003;68(1):135-140.
  13. Pundir J, Auld BJ. A review of the management of diseases of the Bartholin’s gland. J Obstet Gynaecol. 2008;28(2):161-165.
  14. World Health Organization. Guidelines for the management of sexually transmitted infections. Geneva: WHO; 2023.

Catatan: Artikel ini disusun berdasarkan literatur ilmiah terkini dari PubMed dan sumber-sumber terpercaya lainnya untuk tujuan edukasi kesehatan masyarakat dan tenaga kesehatan.

  1. Abses: kantong berisi nanah yang terbentuk akibat infeksi bakteri ↩︎
  2. Vestibular: berkaitan dengan vestibulum atau ruang depan vagina ↩︎
  3. Homolog: struktur yang memiliki asal embriologis yang sama ↩︎
  4. Labia minora: bibir kecil vulva, lipatan kulit di bagian dalam vulva ↩︎
  5. Himen: selaput tipis yang melapisi sebagian orifisium vagina ↩︎
  6. Mukus: cairan kental yang diproduksi oleh kelenjar untuk melindungi dan melumasi jaringan ↩︎
  7. Lubrikasi: pelumasan atau pembasahan permukaan ↩︎
  8. Obstruksi: penyumbatan atau hambatan pada saluran ↩︎
  9. Insidensi: jumlah kasus baru yang terjadi dalam populasi tertentu dalam periode waktu tertentu ↩︎
  10. Simtomatik: menunjukkan gejala atau keluhan ↩︎
  11. Pubertas: masa perkembangan seksual dimana tubuh mengalami perubahan dari anak-anak menjadi dewasa ↩︎
  12. Menopause: berhentinya menstruasi secara permanen pada wanita, biasanya terjadi pada usia 45-55 tahun ↩︎
  13. Transformasi malignan: perubahan jaringan jinak menjadi ganas (kanker) ↩︎
  14. Perineum: area antara vagina dan anus pada wanita ↩︎
  15. Episiotomi: sayatan bedah pada perineum untuk memperluas jalan lahir saat persalinan ↩︎
  16. Vulvodinitis: nyeri kronis pada vulva tanpa penyebab yang jelas ↩︎
  17. Infeksi menular seksual (IMS): infeksi yang ditularkan melalui kontak seksual ↩︎
  18. Inflamasi: respons tubuh terhadap cedera atau infeksi, ditandai dengan kemerahan, bengkak, panas, dan nyeri ↩︎
  19. Edema: pembengkakan akibat penumpukan cairan di jaringan ↩︎
  20. Dilatasi: pelebaran atau peregangan struktur tubuh ↩︎
  21. Steril: bebas dari mikroorganisme atau bakteri ↩︎
  22. Polimikrobial: melibatkan lebih dari satu jenis mikroorganisme ↩︎
  23. Aerobik: memerlukan oksigen untuk pertumbuhan dan metabolisme ↩︎
  24. Asimtomatik: tidak menimbulkan gejala atau keluhan ↩︎
  25. Insidental: ditemukan secara tidak sengaja saat pemeriksaan untuk masalah lain ↩︎
  26. Selulitis: infeksi bakteri pada kulit dan jaringan di bawahnya ↩︎
  27. Limfangitis: peradangan pada pembuluh limfe ↩︎
  28. Mobile: dapat digerakkan atau tidak melekat pada jaringan di bawahnya ↩︎
  29. Malaise: perasaan tidak enak badan atau lemah secara umum ↩︎
  30. Unilateral: terjadi pada satu sisi saja ↩︎
  31. Vestibulum: area antara labia minora dan orifisium vagina ↩︎
  32. Dispareunia: nyeri yang dirasakan saat atau setelah hubungan seksual ↩︎
  33. Purulen: mengandung nanah ↩︎
  34. Eritema: kemerahan pada kulit akibat pelebaran pembuluh darah ↩︎
  35. Indurasi: pengerasan jaringan yang abnormal ↩︎
  36. Fluktuasi: teraba gelombang cairan saat dipalpasi, menandakan adanya koleksi cairan ↩︎
  37. Kompresi: penekanan pada struktur atau organ ↩︎
  38. Uretra: saluran yang mengalirkan urin dari kandung kemih ke luar tubuh ↩︎
  39. Atipikal: tidak biasa atau menyimpang dari pola normal ↩︎
  40. Neoplastik: berkaitan dengan pertumbuhan sel abnormal atau tumor ↩︎
  41. Etiologi: penyebab atau asal-usul suatu penyakit ↩︎
  42. Mesonefrik: berkaitan dengan sistem saluran embriologi yang berkembang menjadi struktur urogenital ↩︎
  43. Divertikulum uretra: kantong atau tonjolan abnormal pada dinding uretra ↩︎
  44. Leiomioma: tumor jinak yang berasal dari otot polos ↩︎
  45. Fistula: saluran abnormal yang menghubungkan dua struktur tubuh atau organ ↩︎
  46. Immunocompromised: kondisi sistem kekebalan tubuh yang lemah atau terganggu ↩︎
  47. Hematoma: penumpukan darah di luar pembuluh darah akibat perdarahan ↩︎

Commenting 101: “Be kind, and respect each other” // Bersikaplah baik, dan saling menghormati (Indonesian) // Soyez gentils et respectez-vous les uns les autres (French) // Sean amables y respétense mutuamente (Spanish) // 待人友善,互相尊重 (Chinese) // كونوا لطفاء واحترموا بعضكم البعض (Arabic) // Будьте добры и уважайте друг друга (Russian) // Seid freundlich und respektiert einander (German) // 親切にし、お互いを尊重し合いましょう (Japanese) // दयालु बनें, और एक दूसरे का सम्मान करें (Hindi) // Siate gentili e rispettatevi a vicenda (Italian)

Tinggalkan komentar