A Cahya Legawa's Les pèlerins au-dessus des nuages

  1. Pendahuluan
  2. Epidemiologi
    1. Distribusi Geografis
    2. Karakteristik Demografis
  3. Patogenesis
    1. Faktor Genetik
    2. Mekanisme Imunologis
    3. Faktor Lingkungan dan Infeksi
  4. Manifestasi Klinis
    1. Manifestasi Mukokutan (90-100%)
    2. Manifestasi Okuler (50-70%)
    3. Manifestasi Artikular (40-70%)
    4. Manifestasi Vaskular (7-40%)
    5. Manifestasi Neurologis (5-30%)
    6. Manifestasi Gastrointestinal (3-60%)
    7. Manifestasi Lain
  5. Diagnosis
    1. Kriteria International Study Group (ISG) 1990
    2. International Criteria for Behçet’s Disease (ICBD) 2014
    3. Pemeriksaan Laboratorium
    4. Pemeriksaan Pencitraan
    5. Diagnosis Banding
  6. Tatalaksana
    1. Rekomendasi EULAR 2018 dan Update 2025
    2. Tatalaksana Manifestasi Mukokutan dan Artikular
    3. Tatalaksana Manifestasi Okuler
    4. Tatalaksana Manifestasi Vaskular
    5. Tatalaksana Manifestasi Neurologis
    6. Tatalaksana Manifestasi Gastrointestinal
    7. Terapi Emerging dan Experimental
    8. Monitoring dan Follow-up
  7. Prognosis
    1. Faktor Prognosis Buruk
    2. Mortalitas
    3. Morbiditas
    4. Pola Penyakit Jangka Panjang
  8. Kesimpulan
  9. Catatan Kaki – Terminologi Medis
  10. Referensi

Pendahuluan

Penyakit Behçet (Behçet’s disease/BD) merupakan penyakit inflamasi1 sistemik yang bersifat kronik2 dan rekuren3, ditandai dengan vaskulitis4 yang dapat menyerang pembuluh darah arteri maupun vena dari berbagai ukuran. Penyakit ini pertama kali dideskripsikan oleh dokter kulit asal Turki, Hulusi Behçet pada tahun 1937, meskipun manifestasi serupa telah dilaporkan sebelumnya oleh Benediktos Adamantiades dari Yunani pada tahun 1930.

Secara klinis, penyakit Behçet ditandai oleh trias5 klasik berupa ulkus oral rekuren, ulkus genital, dan uveitis6. Namun, penyakit ini dapat melibatkan berbagai sistem organ termasuk kulit, sendi, sistem saraf pusat, saluran pencernaan, dan sistem vaskular, menjadikannya sebagai salah satu penyakit reumatologis7 yang paling kompleks dalam diagnosis dan tatalaksana.

Epidemiologi

Distribusi Geografis

Penyakit Behçet memiliki distribusi geografis yang unik, dengan prevalensi tertinggi ditemukan di negara-negara sepanjang jalur Sutera kuno (ancient Silk Road), membentang dari laut Mediterania hingga Asia Timur, terutama pada garis lintang 30-45 derajat utara.

Berdasarkan meta-analisis komprehensif yang dilakukan oleh Maldini dkk., prevalensi penyakit Behçet bervariasi secara signifikan menurut wilayah geografis:

  • Turki: 119,8 per 100.000 penduduk (95% CI: 59,8-239,9), dengan beberapa daerah mencapai 420 per 100.000
  • Timur Tengah: 31,8 per 100.000 (95% CI: 12,9-78,4)
  • Asia: 4,5 per 100.000 (95% CI: 2,2-9,4)
  • Eropa Selatan: 5,3 per 100.000 (95% CI: 3,4-8,2)
  • Eropa Utara: 2,1 per 100.000 (95% CI: 1,1-4,0)
  • Amerika Utara: 3,8 per 100.000 (95% CI: 2,2-6,8)
  • Global: 10,3 per 100.000 (95% CI: 6,1-17,7)

Data epidemiologi menunjukkan bahwa terdapat variasi prevalensi yang luas bahkan dalam populasi dengan latar belakang genetik yang sama tetapi tinggal di negara berbeda, mengindikasikan peran faktor lingkungan yang signifikan dalam patogenesis penyakit.

Karakteristik Demografis

Penyakit Behçet umumnya mulai bermanifestasi pada dekade ketiga kehidupan, dengan usia onset rata-rata 25-35 tahun. Onset penyakit sebelum usia 25 tahun dikaitkan dengan prognosis yang lebih berat, terutama pada pria.

Rasio jenis kelamin bervariasi menurut geografi:

  • Di Timur Tengah dan Turki: predominansi laki-laki
  • Di Jepang, Jerman, dan Brasil: sedikit lebih tinggi pada perempuan
  • Di Amerika Serikat: rasio perempuan terhadap laki-laki mencapai 2,25:1

Manifestasi klinis tertentu juga menunjukkan predileksi gender: laki-laki lebih sering mengalami komplikasi okuler dan vaskular yang lebih berat, sementara perempuan lebih sering mengalami lesi kulit seperti eritema nodosum8 dan keterlibatan sendi.

Beberapa penelitian terbaru dari Jepang dan Korea menunjukkan adanya penurunan insiden penyakit Behçet dan perubahan spektrum penyakit menjadi manifestasi yang lebih ringan, yang dihipotesiskan terkait dengan perbaikan kesehatan oral dan penurunan infeksi periodontal9.

Patogenesis

Patogenesis penyakit Behçet bersifat multifaktorial dan belum sepenuhnya dipahami. Saat ini, penyakit ini diklasifikasikan sebagai penyakit autoinflammatory10 dengan komponen autoimun11, melibatkan interaksi kompleks antara faktor genetik, disfungsi sistem imun bawaan dan adaptif, serta faktor lingkungan.

Faktor Genetik

Asosiasi HLA-B51

Asosiasi genetik terkuat adalah dengan alel12 HLA-B51, yang ditemukan pada 50-80% pasien dari wilayah endemik, dibandingkan 10-30% pada populasi umum. Risiko relatif13 berkisar 5-13 kali lipat pada pembawa HLA-B51. Namun, tidak semua individu dengan HLA-B51 mengembangkan penyakit Behçet, menunjukkan bahwa faktor genetik lain dan lingkungan juga berperan.

Gen non-HLA

Studi genome-wide association (GWAS) telah mengidentifikasi beberapa gen non-HLA yang terlibat, termasuk:

  • Gen interleukin (IL-10, IL-23R, IL-12B)
  • Gen yang terlibat dalam jalur imunitas bawaan (ERAP1, MEFV, TLR4)
  • Gen yang mengatur fungsi sel T (STAT4, CCR1, KLRC4)

Mekanisme Imunologis

Aktivasi Sistem Imun Bawaan

Disfungsi neutrofil14 dan monosit15 berperan sentral, dengan peningkatan kemotaksis16, fagositosis17, dan produksi reactive oxygen species (ROS). Aktivasi inflammasome18 NLRP3 pada sel-sel imun bawaan menghasilkan produksi IL-1β dan IL-18 yang berlebihan.

Disregulasi Sistem Imun Adaptif

Terdapat ketidakseimbangan respons sel T dengan dominasi jalur Th1 dan Th17, yang memproduksi sitokin19 proinflamasi seperti IFN-γ, TNF-α, IL-17, dan IL-23. Terjadi penurunan fungsi dan jumlah sel T regulator (regulatory T cells/Treg), yang normalnya berfungsi menekan respons inflamasi berlebihan.

Disfungsi Endotel20

Kerusakan dan aktivasi sel endotel vaskular merupakan ciri khas penyakit Behçet, menyebabkan vaskulitis yang dapat mengenai arteri dan vena dari berbagai ukuran. Terjadi peningkatan ekspresi molekul adhesi21 dan infiltrasi sel inflamasi ke dinding pembuluh darah.

Faktor Lingkungan dan Infeksi

Beberapa agen infeksi diduga berperan sebagai pemicu (trigger) pada individu yang rentan secara genetik:

  • Streptococcus sanguinis: Ditemukan adanya reaktivitas silang22 (cross-reactivity) antara protein bakteri oral dengan autoantigen23 manusia
  • Virus Herpes Simplex (HSV): DNA HSV-1 ditemukan pada lesi mukosa pasien
  • Kesehatan oral yang buruk dan penyakit periodontal dikaitkan dengan peningkatan aktivitas penyakit

Manifestasi Klinis

Penyakit Behçet dapat mengenai hampir seluruh sistem organ dengan pola kekambuhan (relapsing-remitting). Manifestasi klinis bervariasi antar individu dan populasi geografis.

Gejala Penyakit Behçet

Manifestasi Mukokutan (90-100%)

Ulkus Oral Rekuren

Merupakan manifestasi paling konsisten, terjadi pada hampir semua pasien (97-100%). Ulkus berbentuk bulat atau oval dengan diameter 2-10 mm, memiliki dasar putih kekuningan dengan halo eritematosa24, dan sangat nyeri. Lokasi tersering adalah mukosa bukal25, bibir, lidah, palatum, dan faring. Ulkus oral biasanya sembuh dalam 1-3 minggu tanpa jaringan parut, tetapi rekurensi terjadi setidaknya 3 kali dalam 12 bulan.

Ulkus Genital (60-90%)

Memiliki karakteristik serupa dengan ulkus oral tetapi lebih dalam dan lebih nyeri, lebih sering meninggalkan jaringan parut. Pada laki-laki, lokasi tersering adalah skrotum dan batang penis. Pada perempuan, ulkus dapat terjadi di vulva, vagina, atau serviks. Frekuensi kekambuhan umumnya lebih rendah dibanding ulkus oral.

Lesi Kulit (40-90%)

Berbagai tipe lesi kulit dapat terjadi:

  • Eritema nodosum: Nodul subkutan26 yang nyeri, eritematosa, terutama di ekstremitas bawah (lebih sering pada perempuan)
  • Lesi papulopustular: Menyerupai jerawat, terutama di tubuh bagian atas
  • Lesi pseudofolliculitis27: Pustul28 steril yang dapat timbul pada lokasi trauma minor
  • Manifestasi lain: Lesi vaskulitik, sweet syndrome-like lesions, pioderma gangrenosum29

Tes Patergy30

Tes patergy positif (timbul pustul steril ≥2 mm pada 24-48 jam setelah tusukan jarum steril pada kulit) lebih sering dijumpai pada populasi dari wilayah Mediterania dan Timur Tengah (40-70%) dibanding populasi Barat (10-20%). Sensitivitas tes ini telah menurun dalam beberapa dekade terakhir.

Manifestasi Okuler (50-70%)

Keterlibatan mata merupakan penyebab utama morbiditas pada penyakit Behçet dan dapat menyebabkan kebutaan jika tidak ditangani dengan baik.

Uveitis Anterior

Terjadi pada 40-70% pasien dengan keterlibatan mata. Manifestasi termasuk iritis31 atau iridosiklitis32 dengan nyeri mata, fotofobia33, lakrimasi34, dan penurunan visus. Dapat disertai hipopion35 (pengumpulan sel inflamasi di kamera okuli anterior) yang merupakan temuan karakteristik meskipun tidak patognomonik36.

Uveitis Posterior dan Panuveitis37

Lebih sering pada pria dan merupakan penyebab utama kehilangan penglihatan. Manifestasi meliputi vitritis38, vaskulitis retina39, oklusi vaskular retina, edema makula40, dan neuritis optik41. Dapat terjadi bilateral dan rekuren dengan risiko kerusakan permanen pada retina.

Tanpa terapi imunosupresan yang adekuat, sekitar 25% pasien dengan uveitis posterior atau panuveitis mengalami kebutaan bilateral dalam 5 tahun.

Manifestasi Artikular (40-70%)

Artritis42 atau artralgia43 merupakan manifestasi ekstrakutan tersering. Karakteristik artritis pada penyakit Behçet:

  • Oligoartritis44 asimetris: Mengenai 1-4 sendi, terutama sendi besar seperti lutut, pergelangan kaki, pergelangan tangan, dan siku
  • Non-erosif45: Tidak menyebabkan destruksi sendi atau deformitas permanen
  • Self-limiting: Biasanya berlangsung beberapa minggu dan sembuh tanpa sekuele46
  • Tidak disertai sakroiliitis47 atau spondilitis48 (kecuali tumpang tindih dengan spondiloartritis)

Manifestasi Vaskular (7-40%)

Keterlibatan vaskular merupakan manifestasi serius yang mempengaruhi mortalitas. Penyakit Behçet merupakan satu-satunya vaskulitis yang dapat mengenai arteri dan vena dari semua ukuran.

Keterlibatan Vena

Lebih sering daripada keterlibatan arteri (10-40% vs 2-7%). Manifestasi meliputi:

  • Trombosis vena superfisial: Terutama pada ekstremitas bawah
  • Trombosis vena dalam (deep vein thrombosis/DVT): Dapat terjadi pada vena tungkai, vena porta, vena hepatika (sindrom Budd-Chiari49)
  • Trombosis sinus dural: Dapat menyebabkan hipertensi intrakranial50

Keterlibatan Arteri

Lebih jarang tetapi lebih berbahaya, dengan mortalitas tinggi:

  • Aneurisma51 arteri pulmonalis: Manifestasi yang mengancam nyawa, dapat menyebabkan hemoptisis52 masif dan ruptur
  • Aneurisma arteri perifer: Dapat terjadi pada arteri femoralis, poplitea, atau karotis
  • Stenosis53 atau oklusi54 arteri: Dapat menyebabkan iskemia55 organ

Manifestasi Neurologis (5-30%)

Neuro-Behçet Parenkim56

Melibatkan parenkim sistem saraf pusat, terutama batang otak, hemisfer serebral, dan medula spinalis. Gejala meliputi:

  • Defisit motorik atau sensorik
  • Disfungsi serebellar57
  • Gangguan kognitif dan perubahan perilaku
  • Kejang
  • Gangguan saraf kranial58

Neuro-Behçet Non-parenkim

Terutama berupa trombosis sinus venosus serebral yang menyebabkan hipertensi intrakranial dengan gejala nyeri kepala hebat, papilledema59, dan gangguan penglihatan.

Beberapa studi terbaru menunjukkan bahwa gangguan kognitif dapat terjadi bahkan tanpa keterlibatan neurologis yang jelas, dengan prevalensi mencapai 38% pada pasien tanpa gejala neurologis overt60, sebagaimana dilaporkan dalam laporan kasus dari Indonesia yang dipublikasikan tahun 2025.

Manifestasi Gastrointestinal (3-60%)

Lebih sering di wilayah Asia, terutama Jepang dan Korea. Ulserasi dapat terjadi di seluruh saluran pencernaan, paling sering di ileum terminal dan kolon asenden, menyerupai penyakit Crohn61. Manifestasi meliputi nyeri abdomen, diare, perdarahan gastrointestinal, dan dalam kasus berat dapat terjadi perforasi62 atau obstruksi usus.

Diagnosis banding dengan penyakit Crohn sangat penting karena manifestasi klinis, endoskopik, dan histopatologis dapat sangat mirip. Beberapa studi menunjukkan hingga 30% pasien dengan Behçet intestinal tidak memiliki manifestasi ekstraintestinal klasik, menyulitkan diagnosis.

Manifestasi Lain

  • Kardiovaskular: Perikarditis63, miokarditis64, endokarditis65, penyakit katup jantung, trombosis intrakardiak
  • Ginjal: Jarang, dapat berupa glomerulonefritis66, amiloidosis67
  • Paru: Vaskulitis paru, aneurisma arteri pulmonalis, infark paru, fibrosis paru
  • Urogenital: Epididimitis68, orkitis69

Diagnosis

Diagnosis penyakit Behçet bersifat klinis karena tidak terdapat tes laboratorium atau temuan histopatologis yang patognomonik. Berbagai kriteria klasifikasi telah dikembangkan untuk membantu diagnosis.

Kriteria International Study Group (ISG) 1990

Kriteria ISG merupakan kriteria yang paling banyak digunakan dengan sensitivitas 92% dan spesifisitas 97%. Diagnosis memerlukan:

Ulkus oral rekuren (kriteria wajib): ≥3 episode ulkus oral dalam 12 bulan DITAMBAH minimal 2 dari 4 kriteria berikut:

  1. Ulkus genital rekuren
  2. Lesi mata: uveitis anterior/posterior, sel dalam vitreus70, atau vaskulitis retina
  3. Lesi kulit: eritema nodosum, lesi pseudofollicular, lesi papulopustular, atau nodul akneiform71
  4. Tes patergy positif

International Criteria for Behçet’s Disease (ICBD) 2014

Kriteria ICBD dikembangkan untuk meningkatkan sensitivitas diagnostik dengan sistem poin:

  • Ulkus oral atau ulkus genital: 2 poin masing-masing
  • Lesi mata: 2 poin
  • Lesi kulit: 1 poin
  • Keterlibatan neurologis: 1 poin
  • Keterlibatan vaskular: 1 poin
  • Tes patergy positif: 1 poin (opsional)

Diagnosis ditegakkan dengan skor ≥4 poin. Kriteria ini memiliki sensitivitas lebih tinggi (94,8%) namun spesifisitas sedikit lebih rendah (90,5%) dibanding ISG.

Pemeriksaan Laboratorium

Tidak ada tes laboratorium spesifik untuk penyakit Behçet. Pemeriksaan dilakukan untuk:

  • Menilai aktivitas penyakit: peningkatan LED72, CRP73, leukositosis74
  • Evaluasi keterlibatan organ: fungsi hati dan ginjal, analisis cairan serebrospinal75
  • Menyingkirkan diagnosis banding
  • Genotipe HLA-B51: tidak rutin direkomendasikan untuk diagnosis

Pemeriksaan Pencitraan

Disesuaikan dengan manifestasi klinis:

  • MRI otak dan medula spinalis: Untuk suspek neuro-Behçet
  • Fluorescein angiography: Menilai vaskulitis retina dan edema makula
  • CT atau MR angiografi: Mendeteksi aneurisma atau stenosis vaskular
  • Doppler USG vena: Evaluasi trombosis vena dalam
  • CT thoraks: Evaluasi aneurisma arteri pulmonalis

Diagnosis Banding

Penyakit Behçet perlu dibedakan dari berbagai kondisi lain yang dapat meniru manifestasinya:

  • Penyakit Crohn: Terutama untuk manifestasi gastrointestinal
  • Sarkoidosis: Dapat menyebabkan uveitis dan manifestasi sistemik serupa
  • Lupus eritematosus sistemik: Ulkus oral, manifestasi multiorgan
  • Sindrom Reiter (artritis reaktif76): Triad uretritis77, artritis, konjungtivitis78
  • Sindrom aphthae rekuren kompleks (MAGIC syndrome): Kombinasi Behçet dengan polikondritis relaps79
  • Vaskulitis sistemik lain: Granulomatosis dengan poliangiitis80, poliarteritis nodosa81
  • VEXAS syndrome: Sindrom autoinflammatory yang baru teridentifikasi, dapat menyerupai Behçet

Tatalaksana

Tatalaksana penyakit Behçet bersifat individual, disesuaikan dengan manifestasi klinis, tingkat keparahan, dan respons terhadap terapi. Pendekatan multidisiplin melibatkan reumatologi, oftalmologi, neurologi, bedah vaskular, dan spesialisasi lain sesuai keterlibatan organ.

Rekomendasi EULAR 2018 dan Update 2025

European Alliance of Associations for Rheumatology (EULAR) menerbitkan rekomendasi terakhir tahun 2018 dan saat ini sedang dalam proses pembaruan (dipresentasikan Juni 2025 di Barcelona) dengan perubahan signifikan terutama terkait penggunaan apremilast dan terapi biologis.

Prinsip Umum Tatalaksana:

  1. Pendekatan terpadu multidisiplin
  2. Terapi disesuaikan dengan manifestasi organ yang terlibat
  3. Tujuan: induksi dan pemeliharaan remisi82, mencegah kerusakan organ irreversibel
  4. Edukasi pasien dan partisipasi dalam keputusan terapi

Tatalaksana Manifestasi Mukokutan dan Artikular

Manifestasi Ringan-Sedang

Kolkisin

  • Terapi lini pertama untuk manifestasi mukokutan dan artikular
  • Dosis: 0,5-2 mg/hari
  • Efektif mengurangi frekuensi ulkus oral dan genital, eritema nodosum, dan artritis
  • Efek samping: diare, mual, nyeri abdomen

Topikal

  • Kortikosteroid topikal untuk ulkus oral dan genital
  • Analgesik topikal untuk nyeri lokal

Manifestasi Berat atau Refrakter

Azatioprin

  • Dosis: 2-2,5 mg/kgBB/hari
  • Dapat dikombinasi dengan kolkisin
  • Monitoring fungsi hati dan hematologi rutin

Apremilast (Rekomendasi baru 2025)

  • Inhibitor phosphodiesterase-4
  • Efektif untuk ulkus oral berdasarkan RCT (randomized controlled trial)
  • Dosis: 30 mg dua kali sehari
  • Alternatif untuk pasien yang tidak responsif terhadap terapi konvensional

Talidomid

  • Sangat efektif untuk ulkus oral refrakter (dosis 50-100 mg/hari)
  • Penggunaan terbatas karena efek teratogenik83 dan neuropati perifer84
  • Hanya untuk kasus refrakter dengan kontraindiksi kehamilan yang ketat

Tatalaksana Manifestasi Okuler

Uveitis Anterior Akut

  • Kortikosteroid topikal dan midriatik85 sikloplegik86
  • Untuk serangan berat atau rekuren: kortikosteroid sistemik jangka pendek

Uveitis Posterior, Retinal Vasculitis, atau Panuveitis

Rekomendasi EULAR 2025 menekankan penggunaan terapi imunosupresan pada semua pasien dengan tujuan induksi dan pemeliharaan remisi klinis dan angiografis.

Terapi Lini Pertama:

Azatioprin 2-2,5 mg/kgBB/hari

  • Ditambah kortikosteroid sistemik inisial (dosis sedang-tinggi, kemudian tapering87)
  • Efektif mencegah serangan baru dan preservasi88 penglihatan

Siklosporin A 3-5 mg/kgBB/hari

  • Lebih cepat mencapai kontrol dibanding azatioprin
  • Monitoring tekanan darah dan fungsi ginjal ketat
  • Kombinasi dengan kortikosteroid sistemik

Terapi Biologis untuk Inflamasi yang Mengancam Penglihatan:

Rekomendasi EULAR 2025 merekomendasikan inhibitor TNF-α monoklonal sebagai lini pertama untuk inflamasi okuler yang mengancam penglihatan, dengan infliximab sebagai pilihan utama.

Infliximab

  • Loading: 5 mg/kgBB IV pada minggu 0, 2, 6, kemudian setiap 6-8 minggu
  • Paling banyak bukti efikasi untuk uveitis Behçet
  • Dapat menginduksi remisi cepat dan mencegah kehilangan penglihatan

Adalimumab

  • 40 mg SC setiap 2 minggu
  • Alternatif untuk infliximab dengan profil efikasi yang sebanding

Interferon-α

  • Efektif untuk manifestasi okuler refrakter
  • Dosis: 3-9 juta IU SC 3 kali/minggu
  • Keterbatasan: efek samping seperti flu-like symptoms, depresi

KONTRAINDIKASI PENTING: Kortikosteroid sebagai monoterapi tidak direkomendasikan untuk uveitis Behçet karena risiko relaps tinggi saat tapering dan tidak mencegah kerusakan struktural jangka panjang.

Tatalaksana Manifestasi Vaskular

Trombosis Vena

  • Imunosupresan (azatioprin, siklosporin, atau siklofosfamid) sebagai terapi utama
  • Antikoagulasi: Kontroversial, dipertimbangkan kasus per kasus
    • Dapat diberikan untuk DVT ekstremitas
    • HATI-HATI pada trombosis arteri pulmonalis karena risiko perdarahan dari aneurisma
  • Kortikosteroid dosis tinggi untuk fase akut
  • Mobilisasi bertahap setelah fase akut

Aneurisma Arteri

  • Siklofosfamid IV (0,5-1 g/m² BSA89 bulanan) + kortikosteroid dosis tinggi
  • Inhibitor TNF-α untuk kasus refrakter atau sebagai lini pertama
  • Intervensi bedah atau endovaskular: Dipertimbangkan dengan hati-hati
    • Risiko anastomosis90 palsu tinggi karena vaskulitis aktif
    • Sebaiknya dilakukan setelah kontrol inflamasi dengan imunosupresan
    • Untuk aneurisma arteri pulmonalis: embolisasi91 atau reseksi bedah

Aneurisma Arteri Pulmonalis

  • Kondisi darurat medis dengan mortalitas tinggi (30-50%)
  • Kombinasi imunosupresi agresif dan intervensi bila indikasi
  • Antikoagulasi KONTRAINDIKASI relatif (risiko hemoptisis masif)

Tatalaksana Manifestasi Neurologis

Neuro-Behçet Parenkim

  • Kortikosteroid dosis tinggi: Metilprednisolon IV 1 g/hari selama 3-7 hari, dilanjutkan oral
  • Azatioprin atau metotreksat untuk pemeliharaan
  • Siklofosfamid untuk kasus berat atau refrakter
  • Inhibitor TNF-α (infliximab, adalimumab) untuk kasus refrakter

Trombosis Sinus Venosus Serebral

  • Antikoagulasi (umumnya lebih aman dibanding trombosis arteri)
  • Imunosupresi dengan kortikosteroid dan azatioprin
  • Asetazolamid92 untuk hipertensi intrakranial

Tatalaksana Manifestasi Gastrointestinal

  • 5-ASA (mesalazin93: Untuk kasus ringan-sedang
  • Kortikosteroid sistemik: Untuk induksi remisi pada kasus sedang-berat
  • Azatioprin, metotreksat, atau talidomid: Pemeliharaan remisi
  • Inhibitor TNF-α (infliximab, adalimumab): Untuk kasus berat atau refrakter
  • Intervensi bedah: Untuk komplikasi (perforasi, obstruksi, perdarahan masif)

Terapi Emerging dan Experimental

Tocilizumab (anti-IL-6)

  • Menunjukkan efikasi pada beberapa pasien, terutama manifestasi okuler
  • Perlu kehati-hatian pada vascular Behçet

Secukinumab (anti-IL-17A)

  • Data terbatas, beberapa laporan kasus menunjukkan efektivitas untuk manifestasi mukokutan dan artikular refrakter

Ustekinumab (anti-IL-12/23)

  • Data masih terbatas, beberapa kasus menunjukkan respons positif

Inhibitor JAK (Janus kinase)

  • Penelitian awal menunjukkan potensi, namun perlu studi lebih lanjut

Monitoring dan Follow-up

  • Aktivitas penyakit: BDCAF (Behçet’s Disease Current Activity Form), BSAS (Behçet’s Syndrome Activity Score)
  • Pemeriksaan mata: Funduskopi94 dan fluorescein angiography berkala untuk pasien dengan keterlibatan okuler
  • Monitoring efek samping terapi:
    • Azatioprin: CBC95, fungsi hati bulanan awal, kemudian setiap 3 bulan
    • Siklosporin: tekanan darah, kreatinin serum berkala
    • Metotreksat: CBC, fungsi hati, fungsi ginjal
    • Anti-TNF: skrining TB96 laten, infeksi, vaksinasi sebelum mulai terapi
  • Kualitas hidup: Penilaian berkala dengan kuesioner QoL97

Prognosis

Prognosis penyakit Behçet bervariasi tergantung manifestasi organ yang terlibat dan keparahan penyakit.

Faktor Prognosis Buruk

  • Jenis kelamin laki-laki
  • Onset usia muda (< 25 tahun)
  • Keterlibatan okuler (uveitis posterior, vaskulitis retina)
  • Keterlibatan neurologis parenkim
  • Keterlibatan vaskular mayor (aneurisma arteri pulmonalis)
  • Manifestasi gastrointestinal berat

Mortalitas

Studi terbaru menunjukkan mortalitas kumulatif 5 tahun sekitar 3-4%, dengan penyebab kematian utama:

  • Ruptur aneurisma vaskular (terutama arteri pulmonalis)
  • Komplikasi neurologis
  • Komplikasi gastrointestinal (perforasi, perdarahan masif)
  • Trombosis vena kava superior atau sindrom Budd-Chiari

Penelitian dari Korea tahun 2024 menunjukkan pasien Behçet memiliki all-cause mortality yang lebih tinggi dibanding populasi umum, dengan standardized mortality ratio98 1,37.

Morbiditas

  • Kebutaan: Tanpa terapi adekuat, 25% pasien dengan uveitis posterior mengalami kebutaan bilateral dalam 5 tahun. Dengan terapi imunosupresan modern, risiko ini dapat diturunkan menjadi < 10%.
  • Disabilitas neurologis: Neuro-Behçet dapat menyebabkan defisit neurologis permanen pada 20-50% kasus
  • Kualitas hidup: Ulkus oral rekuren, fatigue99 kronik, dan nyeri sendi signifikan mempengaruhi kualitas hidup

Pola Penyakit Jangka Panjang

Penyakit Behçet umumnya memiliki perjalanan kronik dengan pola relapsing-remitting. Intensitas dan frekuensi serangan cenderung menurun seiring waktu pada banyak pasien, dengan kemungkinan remisi spontan setelah 15-20 tahun. Namun, kerusakan organ yang telah terjadi (seperti kebutaan, defisit neurologis) bersifat ireversibel.

Kesimpulan

Penyakit Behçet merupakan vaskulitis sistemik kompleks dengan manifestasi multiorgan yang memerlukan pendekatan diagnostik dan terapeutik yang komprehensif. Meskipun telah terjadi kemajuan signifikan dalam pemahaman patogenesis dan pengembangan terapi, diagnosis dini dan tatalaksana yang tepat tetap menjadi tantangan, terutama untuk kasus dengan manifestasi atipikal atau keterlibatan organ mayor.

Kemajuan dalam terapi biologis, terutama inhibitor TNF-α, telah mengubah prognosis penyakit secara dramatis, khususnya untuk manifestasi okuler dan vaskular yang mengancam. Rekomendasi terkini menekankan pentingnya terapi imunosupresan agresif sejak dini untuk manifestasi yang mengancam organ vital.

Penelitian lebih lanjut diperlukan untuk mengidentifikasi biomarker yang dapat memprediksi perjalanan penyakit, respons terhadap terapi, dan mengembangkan strategi terapi yang lebih spesifik dan efektif. Kolaborasi global dalam registri pasien dan uji klinis akan sangat penting untuk memajukan pemahaman dan tatalaksana penyakit langka namun berpotensi mengancam ini.


Catatan Kaki – Terminologi Medis

  1. Inflamasi: peradangan atau respons pertahanan tubuh terhadap cedera atau infeksi ↩︎
  2. Kronik: berlangsung dalam waktu lama atau bersifat menahun ↩︎
  3. Rekuren: berulang atau kambuh berulang kali ↩︎
  4. Vaskulitis: peradangan pada dinding pembuluh darah ↩︎
  5. Trias: sekumpulan tiga gejala atau tanda yang muncul bersamaan ↩︎
  6. Uveitis: peradangan pada uvea (lapisan tengah mata yang terdiri dari iris, badan siliar, dan koroid) ↩︎
  7. Reumatologis: berkaitan dengan penyakit rematik yang melibatkan sendi, otot, dan jaringan ikat ↩︎
  8. Eritema nodosum: benjolan merah yang nyeri di bawah kulit, biasanya di tungkai ↩︎
  9. Periodontal: berkaitan dengan jaringan pendukung gigi (gusi dan tulang rahang) ↩︎
  10. Autoinflammatory: penyakit akibat aktivasi berlebihan sistem kekebalan bawaan tanpa keterlibatan antibodi spesifik ↩︎
  11. Autoimun: kondisi ketika sistem kekebalan tubuh menyerang jaringan tubuh sendiri ↩︎
  12. Alel: varian atau bentuk berbeda dari gen yang sama ↩︎
  13. Risiko relatif: perbandingan risiko suatu kondisi antara kelompok yang terpapar dengan kelompok yang tidak terpapar ↩︎
  14. Neutrofil: jenis sel darah putih yang berperan dalam melawan infeksi ↩︎
  15. Monosit: jenis sel darah putih yang berkembang menjadi makrofag dan sel dendritik ↩︎
  16. Kemotaksis: pergerakan sel menuju atau menjauhi stimulus kimiawi ↩︎
  17. Fagositosis: proses sel menelan dan menghancurkan partikel asing atau bakteri ↩︎
  18. Inflammasome: kompleks protein dalam sel yang mengaktifkan respons inflamasi ↩︎
  19. Sitokin: protein pembawa sinyal yang mengatur respons imun dan inflamasi ↩︎
  20. Endotel: lapisan sel yang melapisi bagian dalam pembuluh darah ↩︎
  21. Molekul adhesi: protein permukaan sel yang memfasilitasi perlekatan sel ke sel lain ↩︎
  22. Reaktivitas silang: respons imun terhadap antigen yang mirip dengan antigen target ↩︎
  23. Autoantigen: antigen yang berasal dari jaringan tubuh sendiri yang dipicu oleh sistem imun ↩︎
  24. Eritematosa: berwarna kemerahan akibat peradangan ↩︎
  25. Mukosa bukal: selaput lendir bagian dalam pipi ↩︎
  26. Subkutan: di bawah kulit ↩︎
  27. Pseudofolliculitis: peradangan yang menyerupai folikulitis tetapi bukan infeksi folikel rambut sejati ↩︎
  28. Pustul: benjolan berisi nanah ↩︎
  29. Pioderma gangrenosum: kondisi kulit langka dengan ulkus yang nyeri dan dalam ↩︎
  30. Patergy: respons kulit yang berlebihan terhadap trauma minor ↩︎
  31. Iritis: peradangan pada iris mata ↩︎
  32. Iridosiklitis: peradangan pada iris dan badan siliar mata ↩︎
  33. Fotofobia: sensitivitas berlebihan terhadap cahaya ↩︎
  34. Lakrimasi: produksi air mata berlebihan ↩︎
  35. Hipopion: pengumpulan sel darah putih di bagian depan mata ↩︎
  36. Patognomonik: khas atau sangat spesifik untuk suatu penyakit tertentu ↩︎
  37. Panuveitis: peradangan pada seluruh lapisan uvea (depan, tengah, dan belakang) ↩︎
  38. Vitritis: peradangan pada vitreus (gel bening di tengah mata) ↩︎
  39. Vaskulitis retina: peradangan pembuluh darah retina ↩︎
  40. Edema makula: pembengkakan pada makula (pusat retina untuk penglihatan tajam) ↩︎
  41. Neuritis optik: peradangan saraf optik ↩︎
  42. Artritis: peradangan sendi ↩︎
  43. Artralgia: nyeri sendi tanpa peradangan yang jelas ↩︎
  44. Oligoartritis: peradangan yang mengenai 2-4 sendi ↩︎
  45. Non-erosif: tidak menyebabkan kerusakan atau erosi tulang sendi ↩︎
  46. Sekuele: kondisi yang tersisa setelah penyakit atau cedera ↩︎
  47. Sakroiliitis: peradangan pada sendi sakroiliaka (antara tulang sakrum dan ilium) ↩︎
  48. Spondilitis: peradangan pada tulang belakang ↩︎
  49. Sindrom Budd-Chiari: penyumbatan vena hepatika yang menyebabkan kongesti hati ↩︎
  50. Hipertensi intrakranial: peningkatan tekanan di dalam rongga tengkorak ↩︎
  51. Aneurisma: pelebaran abnormal dinding pembuluh darah yang melemah ↩︎
  52. Hemoptisis: batuk darah ↩︎
  53. Stenosis: penyempitan lumen pembuluh darah atau organ berongga ↩︎
  54. Oklusi: penyumbatan total pembuluh darah atau saluran ↩︎
  55. Iskemia: kekurangan suplai darah ke jaringan ↩︎
  56. Parenkim: jaringan fungsional suatu organ ↩︎
  57. Serebellar: berkaitan dengan serebelum (otak kecil yang mengatur keseimbangan dan koordinasi) ↩︎
  58. Saraf kranial: 12 pasang saraf yang langsung keluar dari otak ↩︎
  59. Papilledema: pembengkakan diskus optikus akibat peningkatan tekanan intrakranial ↩︎
  60. Overt: tampak jelas atau nyata ↩︎
  61. Penyakit Crohn: penyakit inflamasi usus kronik yang dapat mengenai seluruh saluran pencernaan ↩︎
  62. Perforasi: terbentuknya lubang pada dinding organ berongga ↩︎
  63. Perikarditis: peradangan pada perikardium (selaput pembungkus jantung) ↩︎
  64. Miokarditis: peradangan pada otot jantung ↩︎
  65. Endokarditis: peradangan pada endokardium (lapisan dalam jantung) ↩︎
  66. Glomerulonefritis: peradangan pada glomerulus ginjal ↩︎
  67. Amiloidosis: penumpukan protein amiloid abnormal di jaringan dan organ ↩︎
  68. Epididimitis: peradangan pada epididimis (saluran di belakang testis) ↩︎
  69. Orkitis: peradangan pada testis ↩︎
  70. Vitreus: gel bening yang mengisi ruang antara lensa dan retina ↩︎
  71. Akneiform: menyerupai jerawat ↩︎
  72. LED (Laju Endap Darah): kecepatan pengendapan sel darah merah, penanda inflamasi ↩︎
  73. CRP (C-Reactive Protein): protein yang meningkat saat terjadi inflamasi ↩︎
  74. Leukositosis: peningkatan jumlah sel darah putih ↩︎
  75. Cairan serebrospinal: cairan yang mengelilingi otak dan sumsum tulang belakang ↩︎
  76. Artritis reaktif: artritis yang terjadi setelah infeksi di tempat lain dalam tubuh ↩︎
  77. Uretritis: peradangan pada uretra (saluran kemih) ↩︎
  78. Konjungtivitis: peradangan pada konjungtiva (selaput bening mata) ↩︎
  79. Polikondritis relaps: penyakit autoimun yang menyerang tulang rawan ↩︎
  80. Granulomatosis dengan poliangiitis: vaskulitis yang membentuk granuloma, terutama di saluran napas dan ginjal ↩︎
  81. Poliarteritis nodosa: vaskulitis yang mengenai arteri ukuran sedang ↩︎
  82. Remisi: periode ketika gejala penyakit menghilang atau sangat berkurang ↩︎
  83. Teratogenik: dapat menyebabkan kelainan pada janin ↩︎
  84. Neuropati perifer: kerusakan saraf tepi yang menyebabkan mati rasa, kesemutan, atau nyeri ↩︎
  85. Midriatik: obat yang melebarkan pupil ↩︎
  86. Sikloplegik: obat yang melumpuhkan otot akomodasi mata ↩︎
  87. Tapering: penurunan dosis obat secara bertahap ↩︎
  88. Preservasi: pemeliharaan atau pelestarian ↩︎
  89. BSA (Body Surface Area): luas permukaan tubuh ↩︎
  90. Anastomosis: sambungan antara dua struktur tubuh (pembuluh darah, usus, dll.) ↩︎
  91. Embolisasi: prosedur menutup pembuluh darah dengan menyuntikkan bahan penyumbat ↩︎
  92. Asetazolamid: obat yang mengurangi produksi cairan serebrospinal ↩︎
  93. Mesalazin: obat anti-inflamasi untuk penyakit usus ↩︎
  94. Funduskopi: pemeriksaan bagian belakang mata (retina, pembuluh darah, diskus optikus) ↩︎
  95. CBC (Complete Blood Count): hitung darah lengkap ↩︎
  96. TB: tuberkulosis ↩︎
  97. QoL (Quality of Life): kualitas hidup ↩︎
  98. Standardized mortality ratio: perbandingan angka kematian observasi dengan yang diharapkan ↩︎
  99. Fatigue: kelelahan yang berat dan persisten ↩︎

Referensi

  1. Alghamdi M, Lindsey S. Behçet’s disease unraveled: Insights into clinical manifestations, diagnosis, and management. Medicine (Baltimore). 2025;104(49):e44614. https://doi.org/10.1097/MD.0000000000044614
  2. Messedi M, Guidara W, Samadi M, et al. Potential contribution of oxysterols and cholestanol in the vascular inflammatory process occurring in patients with Behcet’s disease. J Steroid Biochem Mol Biol. 2025;255:106868. https://doi.org/10.1016/j.jsbmb.2025.106868
  3. Nathania CE, Prodjohardjono A, Susianti NA, et al. Behçet Disease and Cognitive Impairment: A Case Study of an Overlooked Symptom. Am J Case Rep. 2025;26:e949699. https://doi.org/10.12659/AJCR.949699
  4. Song J, Zeng LH, Lv WY, Gu CH, Lin W. Intestinal Behçet’s disease presenting with intestinal obstruction misdiagnosed as Crohn’s disease: a case report. J Med Case Rep. 2025;19. https://doi.org/10.1186/s13256-025-05749-3
  5. Karakök Ö, Kutluğ-Ağaçkıran S, Ergelen R, et al. Prospective follow-up of patients with probable Behçet’s Disease: First results of an inception cohort. Mod Rheumatol. 2025. https://doi.org/10.1093/mr/roaf123
  6. Coulter M, Velez VJ. Classic Hodgkin lymphoma in a patient with Behçet’s disease: a case report and review of the literature. Clin Rheumatol. 2025. https://doi.org/10.1007/s10067-025-07869-z
  7. Bengrad A, Laarouchi A, Ouhmich M, et al. Carotid artery aneurysm as the initial presentation of Behçet’s disease: A case report. J Vasc Surg Cases Innov Tech. 2025;12(1):102011. https://doi.org/10.1016/j.jvscit.2025.102011
  8. Salihoglu A, Ar MC. Vasculitis associated with haematologic malignancies. Curr Opin Rheumatol. 2025;38(1):20-25. https://doi.org/10.1097/BOR.0000000000001138
  9. Mittal P, Bhalla S, Bhalla K. Familial autoinflammatory Behçet-like syndrome: A rare cause of failure to thrive in children. Trop Doct. 2025;56(1):188-189. https://doi.org/10.1177/00494755251389028
  10. Maldini C, Druce K, Basu N, et al. Exploring the variability in Behçet’s disease prevalence: a meta-analytical approach. Rheumatology (Oxford). 2018;57(1):185-195. Diakses dari PubMed.
  11. Davatchi F, Shahram F, Chams-Davatchi C, et al. Behcet’s disease: epidemiology, clinical manifestations, and diagnosis. Expert Rev Clin Immunol. 2017;13(1):57-65. Diakses dari sumber web.
  12. Akkoç N. Update on the epidemiology, risk factors and disease outcomes of Behçet’s disease. Best Pract Res Clin Rheumatol. 2018;32(2):261-270. Diakses dari sumber web.
  13. Hatemi G, Christensen R, Bang D, et al. 2018 update of the EULAR recommendations for the management of Behçet’s syndrome. Ann Rheum Dis. 2018;77(6):808-818. Diakses dari sumber web.
  14. Saadoun D, Bodaghi B, Cacoub P. Behçet’s Syndrome. N Engl J Med. 2024;390:640-651. Diakses dari sumber literatur.
  15. Hatemi G, Uçar D, Uygunoğlu U, Yazici H, Yazici Y. Behçet Syndrome. Rheum Dis Clin N Am. 2023;49:585-602. Diakses dari sumber literatur.
  16. Bettiol A, Alibaz-Oner F, Direskeneli H, et al. Vascular Behçet syndrome: from pathogenesis to treatment. Nat Rev Rheumatol. 2023;19:111-126. Diakses dari sumber literatur.
  17. Yazici H, Seyahi E, Hatemi G, Yazici Y. Behçet syndrome: A contemporary view. Nat Rev Rheumatol. 2018;14:107-119. Diakses dari sumber literatur.
  18. Mumcu G, Ergun T, Inanc N, et al. Oral health is impaired in Behçet’s disease and is associated with disease severity. Rheumatology (Oxford). 2004;43:1028-1033. Diakses dari sumber literatur.
  19. Direskeneli H, Mumcu G. Triggering agents and microbiome as environmental factors on Behçet’s syndrome. Intern Emerg Med. 2019;14:653-660. Diakses dari sumber literatur.
  20. Murphy R, Moots RJ, Brogan P, et al. British Association of Dermatologists and British Society for Rheumatology living guideline for managing people with Behçets 2024. Br J Dermatol. 2024;191(5):e8-e25. Diakses dari sumber web.
  21. Calamia KT, Wilson FC, Icen M, et al. Epidemiology and clinical characteristics of Behçet’s disease in the US: a population-based study. Arthritis Rheum. 2009;61(5):600-604. Diakses dari PMC.
  22. Choi SR, Shin A, Ha YJ, et al. All-cause and cause-specific mortality in patients with Behçet disease versus the general population. Br J Dermatol. 2024;190(6):858-866. Diakses dari sumber web.

Catatan: Artikel ini disusun berdasarkan penelusuran literatur terbaru dari PubMed dan sumber ilmiah terpercaya lainnya hingga Desember 2025. Untuk informasi lebih lanjut atau konsultasi medis, sebaiknya berkonsultasi dengan dokter spesialis yang berkompeten di bidang reumatologi atau penyakit dalam.

Commenting 101: “Be kind, and respect each other” // Bersikaplah baik, dan saling menghormati (Indonesian) // Soyez gentils et respectez-vous les uns les autres (French) // Sean amables y respétense mutuamente (Spanish) // 待人友善,互相尊重 (Chinese) // كونوا لطفاء واحترموا بعضكم البعض (Arabic) // Будьте добры и уважайте друг друга (Russian) // Seid freundlich und respektiert einander (German) // 親切にし、お互いを尊重し合いましょう (Japanese) // दयालु बनें, और एक दूसरे का सम्मान करें (Hindi) // Siate gentili e rispettatevi a vicenda (Italian)

Tinggalkan komentar