A Cahya Legawa's Les pèlerins au-dessus des nuages

  1. Pendahuluan
  2. Definisi
  3. Epidemiologi
    1. Epidemiologi Global
    2. Epidemiologi di Indonesia
  4. Etiologi dan Patofisiologi
    1. Etiologi
    2. Patofisiologi
  5. Faktor Risiko
    1. Kondisi Medis
    2. Faktor Demografis dan Lingkungan
    3. Faktor Terkait COVID-19
  6. Manifestasi Klinis
    1. Gejala Utama
    2. Gejala Tambahan
    3. Tingkat Keparahan
  7. Diagnosis
    1. Anamnesis dan Pemeriksaan Fisik
    2. Pemeriksaan Penunjang
    3. Diagnosis Banding
  8. Tatalaksana
    1. Terapi Medikamentosa
      1. 1. Kortikosteroid
      2. 2. Antiviral
    2. Perawatan Mata
    3. Terapi Non-Farmakologis
      1. Fisioterapi dan Rehabilitasi
      2. Akupunktur
    4. Intervensi Bedah
    5. Follow-Up dan Rujukan
  9. Prognosis dan Komplikasi
    1. Prognosis
    2. Faktor Prognostik
    3. Komplikasi
  10. Pencegahan
  11. Kesimpulan
  12. Referensi

Pendahuluan

Kelumpuhan wajah mendadak yang terjadi pada satu sisi wajah merupakan pengalaman yang menakutkan bagi banyak orang. Kondisi ini seringkali membuat penderita panik dan mengira mengalami stroke. Salah satu penyebab tersering kelumpuhan wajah akut adalah Bell’s palsy, suatu kondisi neurologis yang dinamai berdasarkan Sir Charles Bell, ahli anatomi dan neurologi asal Skotlandia yang pertama kali mendeskripsikan kondisi ini pada tahun 1821.

Bell’s palsy merupakan kelumpuhan saraf fasialis perifer yang terjadi secara akut tanpa penyebab yang jelas. Meskipun tergolong kondisi yang mengkhawatirkan, sebagian besar penderita Bell’s palsy dapat pulih sepenuhnya dengan penanganan yang tepat. Artikel ini akan membahas secara komprehensif mengenai Bell’s palsy berdasarkan bukti ilmiah terkini.

Definisi

Bell’s palsy adalah kelumpuhan atau kelemahan akut pada saraf fasialis1 perifer yang bersifat unilateral2, terjadi tanpa penyebab yang dapat diidentifikasi. Kondisi ini merupakan diagnosis eksklusi3, yang berarti diagnosis ditegakkan setelah menyingkirkan penyebab lain kelumpuhan wajah seperti stroke, tumor, infeksi, atau trauma.

Menurut pedoman klinis yang dipublikasikan oleh American Academy of Otolaryngology-Head and Neck Surgery Foundation (AAO-HNSF) tahun 2013, Bell’s palsy didefinisikan sebagai kelumpuhan wajah perifer akut dengan onset mendadak, tanpa adanya penyakit neurologis lain yang dapat diidentifikasi.

Epidemiologi

Epidemiologi Global

Menurut berbagai penelitian yang dipublikasikan di PubMed, Bell’s palsy merupakan penyebab tersering kelumpuhan saraf kranial tunggal, menyumbang 60-75% dari seluruh kasus kelumpuhan wajah akut. Berdasarkan artikel terbaru yang dipublikasikan oleh Gardner et al. (2025), insidensi4 global Bell’s palsy berkisar antara 11,5 hingga 53,3 per 100.000 orang per tahun pada populasi dewasa, dan 11,5 hingga 30 per 100.000 orang pada anak-anak. Data dari StatPearls (2024) menunjukkan bahwa kondisi ini menyerang 15-40 dari setiap 100.000 orang setiap tahunnya, dengan risiko seumur hidup sekitar 1 dari 60 orang.

Penelitian epidemiologi menunjukkan bahwa Bell’s palsy dapat terjadi pada semua kelompok usia, dengan puncak insidensi antara usia 20-40 tahun. Kondisi ini menyerang laki-laki dan perempuan dengan frekuensi yang hampir sama, meskipun beberapa studi menunjukkan insidensi sedikit lebih tinggi pada wanita muda (usia 10-19 tahun) dan pria di atas 40 tahun.

Studi epidemiologi di Italia oleh Monini et al. (2010) menemukan insidensi tahunan Bell’s palsy sebesar 53,3 per 100.000 penduduk, sementara penelitian di berbagai negara menunjukkan variasi insidensi yang luas, dari 8 hingga 240 kasus per 100.000 penduduk per tahun. Variasi ini diduga dipengaruhi oleh faktor iklim, ras, prevalensi penyakit predisposisi, dan karakteristik demografis populasi yang diteliti.

Epidemiologi di Indonesia

Di Indonesia, data prevalensi Bell’s palsy masih terbatas. Menurut informasi dari Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, data epidemiologi nasional mengenai Bell’s palsy belum tersedia secara komprehensif. Hal ini disebabkan minimnya penelitian epidemiologi skala besar yang dilakukan di Indonesia.

Beberapa studi lokal memberikan gambaran prevalensi di tingkat rumah sakit. Penelitian di Klinik Cerebellum Makassar (2024) menunjukkan bahwa kelompok usia 21-40 tahun memiliki proporsi tertinggi pasien Bell’s palsy (40,4%), dengan dominasi jenis kelamin perempuan (59,6%). Data dari beberapa rumah sakit di Indonesia menunjukkan bahwa Bell’s palsy menyumbang sekitar 19,55% dari semua kasus neuropati yang dilaporkan.

Etiologi dan Patofisiologi

Etiologi

Penyebab pasti Bell’s palsy hingga kini belum sepenuhnya dipahami, namun berbagai hipotesis telah dikemukakan. Menurut penelitian terbaru yang dipublikasikan di PubMed, teori yang paling diterima saat ini adalah reaktivasi virus herpes simpleks tipe 1 (HSV-1) yang laten di ganglion5 saraf fasialis.

Studi oleh Ustinov et al. (2025) yang dipublikasikan dalam Journal of Neurology menunjukkan adanya profil sitokin6 yang berubah pada pasien Bell’s palsy, menunjukkan adanya proses inflamasi7 yang mendasari kondisi ini. Penelitian ini menemukan peningkatan signifikan kadar G-CSF, CXCL13, TNFSF13, dan Granzyme pada serum pasien Bell’s palsy dibandingkan individu sehat (DOI: 10.1007/s00415-025-13561-8).

Beberapa virus lain yang diduga berperan dalam patogenesis8 Bell’s palsy meliputi:

  • Virus varicella-zoster (penyebab cacar air dan herpes zoster)
  • Virus Epstein-Barr (penyebab mononukleosis)
  • Cytomegalovirus
  • Virus influenza
  • Adenovirus

Penelitian terbaru oleh Bhatia et al. (2025) menggunakan database TriNetX menunjukkan bahwa infeksi herpes simpleks memiliki asosiasi paling kuat dengan Bell’s palsy (Odds Ratio: 6,49; 95% CI: 5,96-7,05), diikuti oleh diabetes mellitus (OR: 2,4) dan depresi (OR: 2,05) (DOI: 10.1007/s00415-025-13560-9).

Patofisiologi

Patofisiologi Bell’s palsy melibatkan proses inflamasi dan edema9 pada saraf fasialis di dalam kanalis fasialis10, sebuah ruang tulang yang sempit di tulang temporal. Proses ini menyebabkan kompresi11 saraf dan iskemia12, yang pada akhirnya mengakibatkan disfungsi saraf.

Mekanisme patofisiologi yang terjadi meliputi:

  1. Reaktivasi Viral: Reaktivasi virus (terutama HSV-1) dari ganglion genikulatum memicu respons inflamasi lokal.
  2. Edema Neural: Inflamasi menyebabkan pembengkakan saraf di dalam kanalis fasialis yang sempit, mengakibatkan kompresi mekanis saraf.
  3. Iskemia Saraf: Kompresi menyebabkan gangguan aliran darah mikrovaskular, memperburuk kerusakan saraf.
  4. Demielinisasi: Kerusakan selubung mielin13 saraf terjadi akibat iskemia dan inflamasi, mengganggu konduksi impuls saraf.
  5. Degenerasi Aksonal: Pada kasus berat, dapat terjadi degenerasi akson14 yang menentukan prognosis pemulihan.

Faktor Risiko

Meskipun Bell’s palsy dapat terjadi pada siapa saja, beberapa faktor risiko telah diidentifikasi berdasarkan penelitian ilmiah terkini:

Kondisi Medis

  1. Diabetes Mellitus: Penderita diabetes memiliki risiko 2,4 kali lebih tinggi mengalami Bell’s palsy dibandingkan populasi umum.
  2. Kehamilan: Wanita hamil, terutama pada trimester ketiga, memiliki risiko tiga kali lipat mengalami Bell’s palsy. Kondisi preeklamsia15 juga meningkatkan risiko.
  3. Hipertensi: Tekanan darah tinggi yang tidak terkontrol merupakan faktor risiko independen untuk Bell’s palsy.
  4. Infeksi Saluran Pernapasan Atas: Riwayat infeksi saluran napas atas dalam beberapa minggu sebelum onset meningkatkan risiko.
  5. Depresi: Studi terbaru menunjukkan asosiasi antara gangguan depresi dan peningkatan risiko Bell’s palsy (OR: 2,05).
  6. Obesitas: Indeks massa tubuh yang tinggi dikaitkan dengan peningkatan risiko.

Faktor Demografis dan Lingkungan

  1. Usia: Risiko meningkat dengan bertambahnya usia, dengan puncak pada dekade keempat kehidupan.
  2. Musim dan Iklim: Beberapa studi menunjukkan peningkatan insidensi pada musim dingin dan paparan suhu dingin yang ekstrem.
  3. Riwayat Keluarga: Adanya riwayat Bell’s palsy dalam keluarga dapat meningkatkan risiko, meskipun pola pewarisan genetik belum sepenuhnya dipahami.

Faktor Terkait COVID-19

Penelitian oleh Bøås et al. (2025) menemukan hubungan antara infeksi SARS-CoV-2 dan vaksinasi COVID-19 dengan peningkatan risiko Bell’s palsy. Studi ini menunjukkan bahwa infeksi SARS-CoV-2 dikaitkan dengan peningkatan risiko Bell’s palsy dalam 30 hari pertama setelah infeksi (DOI: 10.1111/joim.70052).

Manifestasi Klinis

Bell's Palsy

Gejala Utama

Bell’s palsy biasanya muncul secara mendadak dengan gejala yang mencapai puncaknya dalam 48-72 jam. Manifestasi klinis khas meliputi:

  1. Kelemahan atau Kelumpuhan Wajah Unilateral: Merupakan gejala utama yang paling menonjol. Pasien mengalami kesulitan menggerakkan otot wajah pada sisi yang terkena, termasuk:
    • Tidak dapat menutup mata sepenuhnya
    • Penurunan lipatan nasolabial16
    • Sudut mulut yang turun (merot)
    • Kesulitan tersenyum atau mengernyitkan dahi
    • Kesulitan bersiul atau menggembungkan pipi
  2. Gangguan Pengecapan (Dysgeusia): Sekitar 50-60% pasien mengalami gangguan kemampuan mengecap rasa pada dua pertiga anterior lidah di sisi yang terkena.
  3. Hiperakusis: Peningkatan sensitivitas terhadap suara pada telinga sisi yang terkena, terjadi pada sekitar 30% kasus.
  4. Gangguan Produksi Air Mata dan Air Liur:
    • Xerophthalmia17 (mata kering) atau sebaliknya epiphora18 (mata berair berlebihan)
    • Penurunan produksi saliva
  5. Nyeri: Sekitar 50-60% pasien mengalami nyeri di sekitar telinga atau di belakang telinga (retroaurikular) yang sering mendahului kelumpuhan wajah.

Gejala Tambahan

Beberapa gejala tambahan yang dapat menyertai meliputi:

  • Rasa baal atau kesemutan pada wajah
  • Gangguan bicara (dysarthria)
  • Kesulitan mengunyah atau menelan
  • Peningkatan sensitivitas pada sisi wajah yang terkena

Tingkat Keparahan

Tingkat keparahan Bell’s palsy dapat dinilai menggunakan sistem skoring House-Brackmann, yang membagi tingkat kelumpuhan menjadi 6 grade:

  • Grade I: Fungsi normal
  • Grade II: Disfungsi ringan
  • Grade III: Disfungsi sedang
  • Grade IV: Disfungsi sedang-berat
  • Grade V: Disfungsi berat
  • Grade VI: Kelumpuhan total

Diagnosis

Anamnesis dan Pemeriksaan Fisik

Diagnosis Bell’s palsy terutama ditegakkan berdasarkan anamnesis19 dan pemeriksaan fisik yang cermat. Pedoman AAO-HNSF merekomendasikan bahwa klinisi harus melakukan penilaian menyeluruh melalui riwayat penyakit dan pemeriksaan fisik untuk menyingkirkan penyebab lain kelumpuhan wajah.

Pemeriksaan fisik yang dilakukan meliputi:

  1. Pemeriksaan Saraf Kranial Lengkap: Untuk memastikan tidak ada keterlibatan saraf kranial lain yang dapat mengarah pada diagnosis alternatif.
  2. Pemeriksaan Otot Wajah: Menilai fungsi otot-otot ekspresi wajah dengan meminta pasien melakukan berbagai gerakan seperti:
    • Menutup mata dengan kuat
    • Mengangkat alis
    • Mengernyitkan dahi
    • Tersenyum
    • Menggembungkan pipi
    • Bersiul
  3. Pemeriksaan Fungsi Pengecapan: Menilai kemampuan mengecap rasa pada dua pertiga anterior lidah.
  4. Pemeriksaan Mata: Penting untuk menilai kemampuan menutup mata dan produksi air mata, mengingat risiko komplikasi kornea.

Pemeriksaan Penunjang

Menurut pedoman AAO-HNSF, pemeriksaan laboratorium dan pencitraan rutin tidak diperlukan pada kasus Bell’s palsy yang khas. Namun, pemeriksaan penunjang dapat dipertimbangkan dalam situasi tertentu:

  1. Pemeriksaan Laboratorium:
    • Tes darah rutin (tidak direkomendasikan secara rutin)
    • Tes serologi untuk penyakit Lyme jika ada riwayat paparan atau gejala sistemik
    • Pemeriksaan glukosa darah jika dicurigai diabetes
  2. Elektromiografi (EMG) dan Elektroneurografi (ENoG): Menurut penelitian terbaru, pemeriksaan elektrodiagnostik dapat memiliki nilai prognostik pada kasus kelumpuhan berat. Pemeriksaan ini biasanya dilakukan 10-14 hari setelah onset untuk menilai derajat denervasi20 dan membantu memprediksi pemulihan.
  3. Pencitraan (MRI atau CT Scan): Penelitian oleh Karaman et al. (2025) menunjukkan bahwa pencitraan 3D T1-weighted black-blood MRI dapat meningkatkan akurasi diagnosis facial neuritis. Pencitraan direkomendasikan pada kasus dengan:
    • Gejala neurologis tambahan
    • Kegagalan pemulihan dalam 3 bulan
    • Kelumpuhan yang progresif atau berulang
    • Riwayat trauma atau neoplasma

Diagnosis Banding

Diagnosis Bell’s palsy adalah diagnosis eksklusi. Beberapa kondisi yang harus disingkirkan meliputi:

  1. Stroke (CVA): Stroke umumnya disertai kelemahan anggota gerak dan keterlibatan saraf kranial lain. Pada stroke, pasien masih dapat mengangkat alis (karena innervasi bilateral otot frontalis), berbeda dengan Bell’s palsy.
  2. Sindrom Ramsay Hunt: Disebabkan reaktivasi virus varicella-zoster, ditandai dengan vesikel21 di telinga atau rongga mulut, nyeri telinga hebat, dan gangguan pendengaran.
  3. Tumor (Schwannoma Saraf Fasialis, Tumor Parotis): Onset lebih bertahap, dapat disertai massa yang teraba, dan memerlukan pencitraan untuk diagnosis. Studi oleh Pak et al. (2025) menemukan bahwa 8,14% pasien dengan facial nerve schwannoma awalnya salah didiagnosis sebagai Bell’s palsy (DOI: 10.1177/00034894251350898).
  4. Penyakit Lyme: Riwayat gigitan kutu dan erythema migrans22 mendukung diagnosis.
  5. Sindrom Guillain-Barré: Biasanya bilateral dan disertai kelemahan ekstremitas.
  6. Sarkoidosis: Kelumpuhan wajah dapat bilateral, disertai gejala sistemik.
  7. Otitis Media dan Kolesteatoma: Riwayat infeksi telinga dan temuan otoskopi23 abnormal.

Tatalaksana

Terapi Medikamentosa

Berdasarkan pedoman klinis AAO-HNSF dan American Academy of Neurology (AAN), tatalaksana utama Bell’s palsy meliputi:

1. Kortikosteroid

Kortikosteroid oral merupakan terapi lini pertama untuk Bell’s palsy dan harus diberikan sedini mungkin, idealnya dalam 72 jam pertama sejak onset.

Rekomendasi Dosis:

  • Prednison 1 mg/kg/hari (maksimal 60-80 mg/hari) selama 5-7 hari, dapat dilanjutkan dengan tapering selama 3-5 hari berikutnya
  • Alternatif: Prednisolon 60 mg/hari selama 5 hari, dilanjutkan 10 mg/hari selama 5 hari

Pedoman AAO-HNSF memberikan rekomendasi kuat (Evidence Level A) untuk penggunaan kortikosteroid oral pada pasien Bell’s palsy. Studi menunjukkan bahwa terapi steroid meningkatkan tingkat pemulihan lengkap dan mengurangi risiko sekuela24 jangka panjang.

2. Antiviral

Penggunaan antiviral masih kontroversial. Pedoman AAN (2012, direafirmasi 2023) menyimpulkan bahwa:

  • Antiviral saja tidak efektif untuk Bell’s palsy
  • Kombinasi steroid dan antiviral mungkin memberikan manfaat tambahan yang modest pada kasus berat

Rekomendasi:

  • Valacyclovir 1000 mg tiga kali sehari selama 7 hari, atau
  • Acyclovir 400 mg lima kali sehari selama 7 hari

Kombinasi steroid-antiviral dapat dipertimbangkan pada pasien dengan kelumpuhan berat (House-Brackmann grade V-VI), meskipun bukti manfaat tambahan masih terbatas.

Perawatan Mata

Perlindungan mata merupakan komponen penting tatalaksana Bell’s palsy karena ketidakmampuan menutup mata sepenuhnya dapat menyebabkan komplikasi kornea.

Rekomendasi Perawatan Mata (AAO-HNSF Evidence Level C):

  • Lubrikan mata (artificial tears) setiap 1-2 jam saat terjaga
  • Salep mata pada malam hari
  • Penutup mata atau taping kelopak mata saat tidur
  • Kacamata pelindung saat beraktivitas
  • Rujuk ke oftalmologi jika terdapat gejala mata (nyeri, kemerahan, penurunan penglihatan)

Terapi Non-Farmakologis

Fisioterapi dan Rehabilitasi

Penelitian terbaru mendukung peran facial neuromuscular retraining (fNMR) dalam pemulihan Bell’s palsy. Studi oleh Khan et al. (2025) menunjukkan bahwa telerehabilitation menggunakan smart glasses untuk mendukung self-management dapat mengurangi biaya perawatan dan meningkatkan hasil pemulihan (DOI: 10.2196/67851).

Program fisioterapi yang direkomendasikan meliputi:

  • Latihan gerak otot wajah (facial exercises)
  • Massage wajah
  • Mirror therapy
  • Electrical stimulation (dengan kehati-hatian untuk menghindari synkinesis25)

Akupunktur

Pedoman AAO-HNSF menyatakan tidak ada rekomendasi untuk atau terhadap penggunaan akupunktur pada Bell’s palsy karena keterbatasan bukti. Namun, beberapa studi menunjukkan hasil yang menjanjikan sebagai terapi adjuvan26.

Intervensi Bedah

Dekompresi bedah saraf fasialis tidak direkomendasikan sebagai terapi rutin Bell’s palsy. Pedoman AAO-HNSF menyatakan tidak ada rekomendasi untuk atau terhadap dekompresi bedah karena keterbatasan bukti kualitas tinggi. Prosedur bedah hanya dipertimbangkan pada kasus tertentu yang sangat selektif.

Follow-Up dan Rujukan

Pedoman AAO-HNSF merekomendasikan untuk melakukan reassessment atau rujuk ke spesialis saraf fasialis pada pasien dengan:

  1. Gejala neurologis baru atau memburuk pada titik waktu manapun
  2. Gejala okular yang berkembang pada titik waktu manapun
  3. Pemulihan wajah tidak lengkap 3 bulan setelah onset gejala awal

Prognosis dan Komplikasi

Prognosis

Prognosis Bell’s palsy umumnya baik. Berdasarkan data dari berbagai studi:

  • Pemulihan Spontan: 70-85% pasien yang tidak mendapat terapi spesifik menunjukkan tanda perbaikan dalam 3 minggu, dengan 71% mencapai pemulihan normal, 13% dengan sekuela tidak signifikan, dan 16% dengan penurunan fungsi permanen.
  • Dengan Terapi Kortikosteroid: Lebih dari 95% pasien mencapai pemulihan dengan terapi kortikosteroid yang diberikan segera.
  • Waktu Pemulihan: Sebagian besar pasien (85%) mulai membaik dalam 3 minggu. Pemulihan lengkap biasanya terjadi dalam 3-6 bulan.

Faktor Prognostik

Faktor yang mempengaruhi prognosis meliputi:

Prognosis Buruk:

  • Kelumpuhan komplit (House-Brackmann grade VI)
  • Usia di atas 60 tahun
  • Tidak ada perbaikan dalam 3 minggu pertama
  • Riwayat diabetes mellitus atau hipertensi
  • Hasil elektrodiagnostik yang menunjukkan denervasi berat (>90%)

Prognosis Baik:

  • Kelumpuhan inkomplit
  • Onset perbaikan dalam 3 minggu
  • Usia muda
  • Tidak ada komorbiditas signifikan

Komplikasi

Komplikasi yang dapat terjadi pada Bell’s palsy meliputi:

  1. Komplikasi Okular:
    • Keratitis exposure27
    • Ulkus kornea
    • Penurunan penglihaan permanen (jarang)
  2. Synkinesis: Terjadi pada 15-30% pasien, berupa gerakan tidak disengaja pada otot wajah yang menyertai gerakan volunter. Misalnya, mata berkedip saat tersenyum.
  3. Kontraktur Otot Wajah: Kekakuan dan kekejangan otot wajah permanen.
  4. Crocodile Tear Syndrome: Produksi air mata saat makan akibat regenerasi saraf yang aberran.
  5. Gangguan Psikososial: Dampak emosional dan sosial akibat perubahan penampilan wajah, dapat menyebabkan depresi dan isolasi sosial.
  6. Rekurensi: Bell’s palsy berulang terjadi pada 4-14% pasien. Rekurensi dapat terjadi pada sisi yang sama atau kontralateral.

Pencegahan

Bell’s palsy tidak dapat sepenuhnya dicegah karena etiologi yang belum sepenuhnya dipahami. Namun, beberapa upaya dapat dilakukan untuk mengurangi risiko:

  1. Kontrol Penyakit Penyerta: Pengendalian diabetes, hipertensi, dan kondisi medis lainnya secara optimal.
  2. Perlindungan dari Paparan Dingin: Hindari paparan udara dingin yang berlebihan pada wajah, terutama pada cuaca ekstrem.
  3. Manajemen Berat Badan: Menjaga berat badan ideal dapat mengurangi risiko.
  4. Imunisasi: Vaksinasi lengkap terhadap infeksi virus yang dapat memicu Bell’s palsy.
  5. Penanganan Dini Infeksi: Pengobatan segera terhadap infeksi saluran pernapasan atas.
  6. Manajemen Stres dan Kesehatan Mental: Mengingat asosiasi dengan depresi, menjaga kesehatan mental juga penting.

Kesimpulan

Bell’s palsy merupakan penyebab tersering kelumpuhan wajah akut yang bersifat unilateral dan idiopatik. Meskipun etiologi pasti belum sepenuhnya dipahami, reaktivasi virus herpes simpleks dan proses inflamasi diduga berperan penting dalam patogenesis. Diagnosis ditegakkan secara klinis setelah menyingkirkan penyebab lain kelumpuhan wajah.

Tatalaksana optimal meliputi pemberian kortikosteroid oral segera (dalam 72 jam onset), perawatan mata yang adekuat, dan fisioterapi. Prognosis umumnya baik, dengan lebih dari 95% pasien yang mendapat terapi kortikosteroid mencapai pemulihan. Namun, follow-up yang cermat diperlukan untuk mengidentifikasi pasien yang memerlukan rujukan spesialis atau evaluasi lebih lanjut.

Penelitian terkini terus mengeksplorasi berbagai aspek Bell’s palsy, termasuk peran sitokin inflamasi, teknologi telerehabilitation, dan strategi terapi baru. Di Indonesia, diperlukan penelitian epidemiologi skala besar untuk mendapatkan data prevalensi yang akurat serta studi mengenai efektivitas berbagai modalitas terapi dalam konteks populasi lokal.

Referensi

  1. Ustinov A, Heckmann JG, Singh V, Arneth B, Schwab S. Serum and CSF cytokine profile in patients with facial palsy (Bell’s palsy): a pilot study. J Neurol. 2025;273(1):17. DOI: 10.1007/s00415-025-13561-8
  2. Bhatia R, Al-Bana H, Mohamed K, et al. Impact of GLP-1 receptor agonists on cranial nerve palsies in type 2 diabetes: a retrospective cohort study. J Neurol. 2025;273(1):16. DOI: 10.1007/s00415-025-13560-9
  3. Bøås H, Ruiz PLD, Dahl J, Gulseth HL, Tapia G. New-onset autoimmune disease following SARS-CoV-2 infection and mRNA vaccination in Norway: A retrospective cohort study. J Intern Med. 2025. DOI: 10.1111/joim.70052
  4. Khan AJ, Mistry H, Neville C, et al. The Potential for Smart Glasses to Transform Facial Palsy Therapy Globally: UK Budget Analysis, Delphi Outcomes Valuation Exercise, and Economic Modeling of Cost-Effectiveness. J Med Internet Res. 2025;27:e67851. DOI: 10.2196/67851
  5. Little CC, Sharma RK, Barna A, et al. Initial Treatment and Referral Patterns for Acute Facial Palsy: Insights From Emergency Department Practices. Laryngoscope. 2025;135(11):4162-4168. DOI: 10.1002/lary.32268
  6. Karaman AK, Korkmazer B, Öz A, et al. 3D T1-Weighted Black-Blood MRI in the Diagnosis and Follow-Up of Facial Neuritis: a Single-Center Prospective Study. Clin Neuroradiol. 2025;35(4):785-793. DOI: 10.1007/s00062-025-01540-5
  7. Pak KY, Nunez A, Boyke A, Miller ME. Facial Neuromas Misdiagnosed as Recurrent or Idiopathic Palsy: A Systematic and Institutional Review. Ann Otol Rhinol Laryngol. 2025;134(12):919-928. DOI: 10.1177/00034894251350898
  8. Gardner H, et al. Bell’s Palsy: Description, Diagnosis, and Current Management. Cureus. 2025;17(1):e75891. Tersedia dari: PMC11835628.
  9. Warner MJ, Hutchison J, Varacallo M. Bell Palsy. In: StatPearls [Internet]. Treasure Island (FL): StatPearls Publishing; 2024.
  10. Baugh RF, Basura GJ, Ishii LE, et al. Clinical Practice Guideline: Bell’s Palsy. Otolaryngol Head Neck Surg. 2013;149(3 Suppl):S1-S27.
  11. Gronseth GS, Paduga R; American Academy of Neurology. Evidence-based guideline update: steroids and antivirals for Bell palsy: report of the Guideline Development Subcommittee of the American Academy of Neurology. Neurology. 2012;79(22):2209-2213.
  12. Monini S, Lazzarino AI, Iacolucci C, Buffoni A, Barbara M. Epidemiology of Bell’s palsy in an Italian Health District: incidence and case-control study. Acta Otorhinolaryngol Ital. 2010;30(4):198-204.
  13. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Bell’s Palsy. Direktorat Jenderal Pelayanan Kesehatan. 2019. Tersedia dari: https://yankes.kemkes.go.id/view_artikel/374/bells-palsy
  14. Fitriasari E, Untari NKSD. Faktor risiko yang berhubungan dengan bell’s palsy. Innovative: Journal Of Social Science Research. 2023;3(5).
  15. Rifaat WONFR, Assagaf M, Dapolomi S, Novriansyah ZKN, Rompegading A. Prevalensi Pasien Bell’s Palsy di Klinik Cerebellum Makassar. Fakumi Medical Journal: Jurnal Mahasiswa Kedokteran. 2024;4(2).

Catatan: Artikel ini disusun berdasarkan bukti ilmiah terkini dari literatur yang dipublikasikan di PubMed dan pedoman klinis internasional dari American Academy of Otolaryngology-Head and Neck Surgery Foundation (AAO-HNSF) dan American Academy of Neurology (AAN). Informasi yang disajikan bertujuan untuk edukasi dan tidak menggantikan konsultasi medis profesional.

  1. Saraf fasialis: Nervus cranialis VII yang mengontrol otot-otot ekspresi wajah ↩︎
  2. Unilateral: Hanya terjadi pada satu sisi ↩︎
  3. Diagnosis eksklusi: Diagnosis yang ditegakkan setelah menyingkirkan kemungkinan penyakit lain ↩︎
  4. Insidensi: Angka kejadian kasus baru dalam suatu populasi pada periode waktu tertentu ↩︎
  5. Ganglion: Kumpulan badan sel saraf di luar sistem saraf pusat ↩︎
  6. Sitokin: Protein yang berperan dalam komunikasi antar sel dalam sistem imun ↩︎
  7. Inflamasi: Peradangan atau respons sistem imun terhadap cedera atau infeksi ↩︎
  8. Patogenesis: Mekanisme terjadinya suatu penyakit ↩︎
  9. Edema: Pembengkakan akibat penumpukan cairan ↩︎
  10. Kanalis fasialis: Saluran tulang tempat saraf fasialis melewati tulang temporal ↩︎
  11. Kompresi: Penekanan atau penjepitan ↩︎
  12. Iskemia: Kekurangan aliran darah dan oksigen ke jaringan ↩︎
  13. Mielin: Lapisan pelindung serabut saraf yang mempercepat hantaran impuls listrik ↩︎
  14. Akson: Serabut saraf yang menghantarkan impuls dari badan sel saraf ↩︎
  15. Preeklamsia: Komplikasi kehamilan dengan tekanan darah tinggi dan protein dalam urin ↩︎
  16. Lipatan nasolabial: Lipatan kulit dari sisi hidung ke sudut mulut ↩︎
  17. Xerophthalmia: Kondisi mata kering ↩︎
  18. Epiphora: Produksi air mata berlebihan ↩︎
  19. Anamnesis: Wawancara medis untuk mendapatkan riwayat penyakit ↩︎
  20. Denervasi: Hilangnya pasokan saraf ke otot ↩︎
  21. Vesikel: Gelembung berisi cairan pada kulit ↩︎
  22. Erythema migrans: Ruam kulit khas berbentuk mata sapi pada penyakit Lyme ↩︎
  23. Otoskopi: Pemeriksaan telinga dengan alat otoskop ↩︎
  24. Sekuela: Kondisi atau gejala sisa yang menetap setelah penyakit utama ↩︎
  25. Synkinesis: Gerakan tidak disengaja pada otot wajah yang menyertai gerakan volunter ↩︎
  26. Adjuvan: Terapi tambahan yang mendukung terapi utama ↩︎
  27. Keratitis exposure: Peradangan kornea akibat mata tidak dapat menutup sempurna ↩︎

Commenting 101: “Be kind, and respect each other” // Bersikaplah baik, dan saling menghormati (Indonesian) // Soyez gentils et respectez-vous les uns les autres (French) // Sean amables y respétense mutuamente (Spanish) // 待人友善,互相尊重 (Chinese) // كونوا لطفاء واحترموا بعضكم البعض (Arabic) // Будьте добры и уважайте друг друга (Russian) // Seid freundlich und respektiert einander (German) // 親切にし、お互いを尊重し合いましょう (Japanese) // दयालु बनें, और एक दूसरे का सम्मान करें (Hindi) // Siate gentili e rispettatevi a vicenda (Italian)

Tinggalkan komentar