A Cahya Legawa's Les pèlerins au-dessus des nuages

Dalam dunia modern, kita menghabiskan sepertiga waktu hidup kita di tempat kerja. Idealnya, pekerjaan adalah sarana aktualisasi diri dan pemenuhan kebutuhan ekonomi. Namun, ironisnya, lingkungan kerja sering kali menyimpan bahaya tersembunyi yang dapat menggerogoti kesehatan secara perlahan.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dan Organisasi Perburuhan Internasional (ILO) menyoroti bahwa jutaan pekerja setiap tahunnya mengalami gangguan kesehatan yang berhubungan langsung dengan aktivitas profesi mereka. Kondisi ini dikenal sebagai Penyakit Akibat Kerja (PAK).

Artikel ini akan mengupas tuntas jenis-jenis penyakit yang umum timbul akibat kerja, mekanisme terjadinya, serta langkah pencegahan berbasis bukti ilmiah.


Apa Itu Penyakit Akibat Kerja?

Menurut Peraturan Presiden RI No. 7 Tahun 2019, Penyakit Akibat Kerja adalah penyakit yang disebabkan oleh pekerjaan dan/atau lingkungan kerja. Berbeda dengan penyakit umum, PAK memiliki hubungan kausal (sebab-akibat) yang kuat dengan faktor risiko di tempat kerja.

Faktor risiko ini dibagi menjadi lima kategori utama:

  1. Faktor Fisik: Kebisingan, getaran, suhu ekstrem, radiasi.
  2. Faktor Kimia: Debu, uap, gas, larutan bahan kimia.
  3. Faktor Biologi: Bakteri, virus, jamur (umum pada tenaga medis).
  4. Faktor Ergonomi: Posisi tubuh yang salah, gerakan berulang, angkat beban.
  5. Faktor Psikososial: Beban kerja berlebih, stres, hubungan interpersonal yang buruk.

5 Penyakit Umum Akibat Kerja: Tinjauan Medis

Berdasarkan data epidemiologi global dan laporan kasus di Indonesia, berikut adalah beberapa penyakit yang paling sering muncul di lingkungan kerja:

1. Gangguan Otot dan Rangka (Musculoskeletal Disorders / MSDs)

Ini adalah keluhan yang paling sering dilaporkan di berbagai sektor, mulai dari pekerja konstruksi hingga pekerja kantoran.

  • Penyebab: Postur tubuh yang tidak alamiah (membungkuk terlalu lama), gerakan berulang (mengetik, memutar obeng), atau pengerahan tenaga yang berlebihan.
  • Contoh Kasus:
    • Low Back Pain (Nyeri Punggung Bawah): Sering terjadi pada pekerja yang duduk seharian tanpa kursi ergonomis atau kuli panggul.
    • Carpal Tunnel Syndrome (CTS): Sindrom Lorong Karpal, yaitu nyeri dan kesemutan pada tangan akibat tertekannya saraf medianus di pergelangan tangan. Umum terjadi pada pengguna komputer intensif atau pekerja pabrik perakitan.
  • Dampak: Jika dibiarkan, MSDs dapat menyebabkan kecacatan permanen dan penurunan produktivitas yang signifikan.

2. Penyakit Paru Akibat Kerja (Occupational Lung Diseases)

Paru-paru adalah organ yang sangat rentan terhadap partikel asing yang terhirup selama jam kerja.

  • Penyebab: Debu mineral, gas beracun, atau serat berbahaya.
  • Contoh Kasus:
    • Silikosis: Peradangan parut pada paru akibat menghirup debu silika (pasir). Umum pada pekerja tambang, pemotong batu, dan konstruksi.
    • Asma Kerja (Occupational Asthma): Penyempitan saluran napas yang dipicu oleh alergen di tempat kerja, seperti tepung (pada pembuat roti), serbuk kayu, atau bahan kimia isisosianat (pada cat semprot).
    • Asbestosis: Disebabkan oleh serat asbes. Meski penggunaan asbes mulai dilarang, risiko tetap ada pada pembongkaran gedung tua.

3. Gangguan Pendengaran Akibat Bising (Noise-Induced Hearing Loss / NIHL)

Berbeda dengan tuli karena usia, NIHL bersifat irreversible (tidak dapat kembali normal) namun dapat dicegah sepenuhnya.

  • Penyebab: Paparan suara di atas nilai ambang batas (biasanya >85 desibel) secara terus-menerus tanpa pelindung telinga.
  • Mekanisme: Suara keras merusak sel-sel rambut halus di dalam koklea (rumah siput) telinga dalam.
  • Sektor Berisiko: Manufaktur, penerbangan, militer, dan industri hiburan/musik.

4. Dermatitis Kontak (Penyakit Kulit)

Kulit adalah pertahanan pertama tubuh, sehingga sering kali menjadi korban pertama paparan zat berbahaya.

  • Jenis:
    • Dermatitis Kontak Iritan: Kerusakan kulit langsung akibat bahan keras seperti deterjen, pelarut, atau minyak. Kulit menjadi merah, perih, dan pecah-pecah.
    • Dermatitis Kontak Alergi: Reaksi sistem kekebalan tubuh terhadap zat tertentu, misalnya lateks (pada sarung tangan medis) atau nikel.

5. Gangguan Kesehatan Mental (Burnout dan Stres Kerja)

Dalam dekade terakhir, aspek psikososial mendapat perhatian serius. International Classification of Diseases (ICD-11) dari WHO kini mengakui burnout sebagai fenomena okupasional (terkait pekerjaan).

  • Definisi: Sindrom yang diakibatkan oleh stres kronis di tempat kerja yang tidak tertangani dengan baik.
  • Gejala: Kelelahan energi yang ekstrem (bukan sekadar capek fisik), perasaan negatif atau sinis terhadap pekerjaan, dan penurunan efikasi (kemampuan) profesional.
  • Dampak Fisiologis: Stres kronis dapat memicu hipertensi (darah tinggi), penyakit jantung koroner, dan gangguan tidur.

Pencegahan: Prinsip Hierarki Pengendalian

Untuk melindungi pekerja, dunia Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) menggunakan prinsip Hierarki Pengendalian (Hierarchy of Controls). Prinsip ini bekerja dari langkah yang paling efektif hingga yang paling terakhir:

  1. Eliminasi: Menghilangkan bahaya sepenuhnya (contoh: berhenti menggunakan bahan kimia karsinogenik).
  2. Substitusi: Mengganti bahan berbahaya dengan yang lebih aman (contoh: mengganti cat berbasis minyak dengan basis air).
  3. Rekayasa Teknik (Engineering Control): Memodifikasi alat atau lingkungan (contoh: memasang ventilasi hisap untuk debu, memasang peredam suara pada mesin).
  4. Administratif: Mengatur jam kerja, rotasi shift untuk mengurangi durasi paparan, dan pelatihan K3.
  5. Alat Pelindung Diri (APD): Langkah terakhir. Menggunakan masker respirator, earplug, helm, atau sarung tangan. APD tidak menghilangkan bahaya, hanya membatasi paparan ke tubuh.

Kesimpulan

Penyakit Akibat Kerja bukanlah nasib yang harus diterima begitu saja, melainkan kondisi medis yang sangat bisa dicegah. Kuncinya terletak pada deteksi dini dan budaya pencegahan. Bagi pekerja, penting untuk mengenali sinyal tubuh dan tidak mengabaikan gejala yang muncul berulang saat bekerja. Bagi perusahaan, investasi pada kesehatan kerja bukan hanya kewajiban hukum, tetapi strategi untuk menjaga aset terpenting mereka: manusia.


Catatan Kaki (Istilah Medis & Asing)

  • Kausal: Hubungan sebab-akibat yang langsung dan terbukti.
  • Saraf Medianus: Salah satu saraf utama di tangan yang berfungsi memberikan sensasi perasa dan gerakan pada jari.
  • Koklea: Bagian telinga dalam yang berbentuk seperti rumah siput, berfungsi mengubah getaran suara menjadi sinyal saraf.
  • Karsinogenik: Zat atau paparan yang dapat menyebabkan kanker.
  • Efikasi: Keyakinan atau kemampuan seseorang untuk menyelesaikan tugas atau mencapai tujuan.

Referensi

  1. International Labour Organization (ILO). (2022). World Employment and Social Outlook. Geneva: ILO.
  2. World Health Organization (WHO). (2019). ICD-11 for Mortality and Morbidity Statistics. (Khususnya definisi mengenai Burnout).
  3. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2019). Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 7 Tahun 2019 tentang Penyakit Akibat Kerja.
  4. Lestari, F., et al. (2021). Buku Ajar Kesehatan dan Keselamatan Kerja. Depok: Universitas Indonesia Publishing.
  5. Centers for Disease Control and Prevention (CDC) – NIOSH. Hierarchy of Controls.

PENAFIAN (DISCLAIMER):

Artikel ini disusun untuk tujuan informasi dan edukasi ilmiah populer. Tulisan ini tidak menggantikan peran konsultasi, diagnosis, atau perawatan dari dokter atau tenaga medis profesional. Jika Anda mengalami keluhan kesehatan yang Anda curigai berhubungan dengan pekerjaan, segera hubungi Dokter Spesialis Kedokteran Okupasi (Sp.Ok) atau fasilitas kesehatan terdekat.

Commenting 101: “Be kind, and respect each other” // Bersikaplah baik, dan saling menghormati (Indonesian) // Soyez gentils et respectez-vous les uns les autres (French) // Sean amables y respétense mutuamente (Spanish) // 待人友善,互相尊重 (Chinese) // كونوا لطفاء واحترموا بعضكم البعض (Arabic) // Будьте добры и уважайте друг друга (Russian) // Seid freundlich und respektiert einander (German) // 親切にし、お互いを尊重し合いましょう (Japanese) // दयालु बनें, और एक दूसरे का सम्मान करें (Hindi) // Siate gentili e rispettatevi a vicenda (Italian)

Tinggalkan komentar