A Cahya Legawa's Les pèlerins au-dessus des nuages

  1. Pendahuluan
  2. Epidemiologi dan Beban Penyakit
    1. Prevalensi Global dan Regional
    2. Situasi di Indonesia
    3. Mortalitas dan Morbiditas
  3. Anatomi dan Fisiologi Prostat
  4. Patofisiologi dan Etiologi
    1. Mekanisme Dasar Pembesaran Prostat
    2. Faktor Pertumbuhan dan Inflamasi
    3. Komponen Dinamik dan Statis
    4. Perubahan pada Kandung Kemih
    5. Faktor Risiko
  5. Manifestasi Klinis
    1. Gejala Saluran Kemih Bawah
    2. Komplikasi
  6. Diagnosis
    1. Evaluasi Awal
    2. Pemeriksaan Penunjang
    3. Diagnosis Banding
  7. Penatalaksanaan
    1. Watchful Waiting dan Observasi Aktif
    2. Terapi Farmakologis
    3. Intervensi Minimal Invasif
    4. Terapi Bedah Definitif
    5. Peran Kecerdasan Buatan (AI)
  8. Prognosis dan Follow-Up
    1. Outcome Jangka Pendek dan Panjang
    2. Pemantauan Pasca-Terapi
    3. Kualitas Hidup
    4. Hubungan dengan Kanker Prostat
  9. Pencegahan dan Modifikasi Gaya Hidup
  10. Perspektif Masa Depan
    1. Terapi Farmakologis Baru
    2. Teknologi Bedah Inovatif
    3. Precision Medicine
    4. Peran AI dan Machine Learning
  11. Kesimpulan
  12. Referensi

Pendahuluan

Pembesaran prostat jinak atau benign prostatic hyperplasia (BPH) merupakan salah satu kondisi urologi paling umum yang memengaruhi pria seiring bertambahnya usia. Kondisi ini ditandai dengan pertumbuhan non-kanker dari kelenjar prostat yang dapat menyebabkan gejala saluran kemih bawah (lower urinary tract symptoms/LUTS) yang mengganggu kualitas hidup. Meskipun bukan kondisi yang mengancam jiwa, BPH dapat menyebabkan komplikasi serius jika tidak ditangani dengan baik, termasuk retensi urin akut, infeksi saluran kemih berulang, dan kerusakan ginjal.

Di Indonesia, seiring dengan peningkatan harapan hidup dan pertumbuhan populasi lanjut usia, prevalensi BPH terus meningkat dan menjadi salah satu alasan utama kunjungan ke klinik urologi. Pemahaman yang baik tentang kondisi ini, baik bagi tenaga kesehatan maupun masyarakat umum, sangat penting untuk deteksi dini dan penatalaksanaan yang optimal.

Epidemiologi dan Beban Penyakit

Prevalensi Global dan Regional

Pembesaran prostat jinak merupakan tumor jinak yang paling sering terjadi pada pria di seluruh dunia. Menurut data terbaru dari studi Global Burden of Disease 2021 yang dipublikasikan tahun 2025, pada tahun 2021 terdapat 137,88 kasus insiden, 1.125,02 kasus prevalens, dan 22,36 disability-adjusted life-years (DALYs) per 100.000 populasi secara global. Proyeksi menunjukkan bahwa angka insidensi dan prevalensi global akan terus meningkat dari 962,42 dan 7.878,68 per 100.000 populasi pada tahun 2022 menjadi 998,55 dan 8.620,60 per 100.000 populasi pada tahun 2035.

Angka kejadian BPH meningkat secara signifikan seiring dengan pertambahan usia. Studi autopsi menunjukkan bahwa prevalensi histologis BPH adalah sekitar 8% pada pria usia 40-an tahun, meningkat menjadi 50% pada usia 60-an tahun, dan mencapai lebih dari 80-90% pada pria berusia di atas 80 tahun. Secara regional, pada tahun 2021, angka tertinggi untuk age-standardized incidence rate (ASIR), age-standardized prevalence rate (ASPR), dan age-standardized DALYs rate (ASDR) tercatat di Eropa Timur.

Situasi di Indonesia

Di Indonesia, data epidemiologi BPH belum tercatat dengan sempurna dalam sistem surveilans nasional. Namun, beberapa penelitian lokal memberikan gambaran tentang besaran masalah ini. Penelitian menunjukkan bahwa BPH mengenai hampir 50% laki-laki Indonesia di atas usia 50 tahun, dan sebanyak 20% laki-laki dengan gejala saluran kemih bawah (lower urinary tract symptoms/LUTS) dinyatakan mengalami BPH.

Rumah sakit rujukan di Indonesia melaporkan bahwa rata-rata usia pasien BPH adalah sekitar 66-67 tahun. Studi pada tahun 2023 di Rumah Sakit Siti Khodijah Muhammadiyah menunjukkan bahwa dari pasien BPH yang dievaluasi, 46,7% memiliki volume prostat grade II, 33,3% grade I, dan 20% grade III. Sebanyak 76,7% pasien mengalami gejala kategori sedang berdasarkan International Prostate Symptom Score (IPSS).

Studi tentang kepatuhan urolog Indonesia terhadap panduan praktik klinis yang dilakukan tahun 2017 menunjukkan bahwa 95,2% urolog Indonesia menggunakan panduan BPH dari Ikatan Ahli Urologi Indonesia (IAUI) sebagai acuan praktik klinis mereka, dengan tingkat kepatuhan median 78,5% terhadap panduan tersebut.

Mortalitas dan Morbiditas

Meskipun BPH sendiri tidak menyebabkan kematian secara langsung, komplikasinya dapat berakibat fatal. Mortalitas BPH telah menurun secara signifikan dari tahun ke tahun dan saat ini hampir mendekati nol. Diperkirakan sekitar 0,5-1,5 per 100.000 kasus BPH dapat menyebabkan kematian yang biasanya disebabkan oleh komplikasi seperti gagal ginjal, sepsis akibat infeksi saluran kemih berulang, atau komplikasi pascaoperasi.

Dampak BPH terhadap kualitas hidup sangat signifikan. Gejala yang mengganggu seperti nokturia (sering buang air kecil di malam hari), urgensi, dan pancaran urin yang lemah dapat menyebabkan gangguan tidur, depresi, dan penurunan produktivitas. Di Amerika Serikat, diperkirakan BPH menyebabkan biaya perawatan kesehatan sekitar 4 miliar dolar AS per tahun.

Anatomi dan Fisiologi Prostat

Prostat adalah kelenjar seukuran buah kenari yang terletak di bawah kandung kemih dan mengelilingi uretra pars prostatika pada pria. Kelenjar ini memiliki berat sekitar 20 gram pada pria dewasa muda dan berperan dalam produksi cairan semen yang membantu nutrisi dan transportasi sperma.

Prostat terdiri dari beberapa zona anatomis: zona transisional (5-10% volume prostat normal), zona perifer (70% volume prostat), zona sentral (25% volume prostat), dan zona fibromuskular anterior. Pembesaran prostat jinak terutama terjadi di zona transisional, yang merupakan area yang mengelilingi uretra prostatika. Pertumbuhan jaringan di zona ini menyebabkan kompresi uretra dan menghasilkan gejala obstruktif yang khas pada BPH.

Prostat dipengaruhi oleh hormon androgen, terutama dihidrotestosteron (DHT), yang diproduksi dari konversi testosteron oleh enzim 5-alfa reduktase. Hormon ini berperan penting dalam pertumbuhan dan pemeliharaan jaringan prostat, termasuk dalam patogenesis BPH.

Patofisiologi dan Etiologi

Mekanisme Dasar Pembesaran Prostat

Pembesaran prostat jinak adalah kondisi multifaktorial yang melibatkan proliferasi abnormal sel-sel epitel dan stroma di zona transisional prostat. Proses ini dimediasi oleh interaksi kompleks antara faktor hormonal, pertumbuhan sel, dan respons inflamasi.

Hormon androgen, khususnya dihidrotestosteron (DHT), memainkan peran sentral dalam patogenesis BPH. DHT dibentuk dari testosteron melalui aksi enzim 5-alfa reduktase tipe 2 yang terdapat di dalam sel prostat. DHT berikatan dengan reseptor androgen di dalam sel dan memicu transkripsi gen yang mengatur pertumbuhan sel dan sintesis protein. Pada BPH, terjadi peningkatan aktivitas 5-alfa reduktase dan akumulasi DHT yang mendorong proliferasi sel stromal dan epitel.

Penelitian terbaru menunjukkan bahwa defisiensi testosteron juga berkontribusi terhadap LUTS melalui mekanisme sistemik, bukan hanya anatomis. Studi yang dipublikasikan tahun 2025 menunjukkan bahwa testosteron rendah dapat memperkuat inflamasi, stres oksidatif, dan disfungsi vaskular, sementara sindrom metabolik dengan hipogonadisme terkait dan gangguan tidur dapat memperburuk keparahan LUTS. Terapi testosteron fisiologis yang tepat tidak memperburuk LUTS atau outcome prostat ketika dipantau dengan tepat.

Faktor Pertumbuhan dan Inflamasi

Faktor pertumbuhan seperti fibroblast growth factor (FGF), epidermal growth factor (EGF), dan transforming growth factor-beta (TGF-β) berperan dalam proliferasi sel prostat. Ketidakseimbangan antara proliferasi sel dan apoptosis (kematian sel terprogram) menyebabkan akumulasi sel dan pembesaran kelenjar.

Inflamasi kronik juga diduga berperan penting dalam patogenesis BPH. Infiltrasi sel inflamasi seperti limfosit T, makrofag, dan sel mast ditemukan pada jaringan prostat yang mengalami hiperplasia. Sitokin pro-inflamasi yang dilepaskan oleh sel-sel ini dapat merangsang proliferasi sel stromal dan fibrosis, serta mengubah keseimbangan hormonal lokal.

Komponen Dinamik dan Statis

Obstruksi saluran kemih pada BPH terjadi melalui dua mekanisme: komponen statis dan dinamik. Komponen statis berkaitan dengan pembesaran fisik kelenjar prostat yang menyebabkan kompresi mekanis uretra. Semakin besar volume prostat, semakin besar pula derajat obstruksi yang terjadi.

Komponen dinamik melibatkan tonus otot polos pada prostat, kapsul prostat, dan leher kandung kemih yang diregulasi oleh sistem saraf simpatis melalui reseptor alfa-1 adrenergik. Aktivasi reseptor ini menyebabkan kontraksi otot polos dan meningkatkan resistensi terhadap aliran urin. Komponen dinamik ini menjelaskan mengapa gejala BPH dapat bervariasi dari waktu ke waktu dan mengapa obat-obatan penghambat alfa dapat memberikan perbaikan gejala yang cepat tanpa mengubah ukuran prostat.

Perubahan pada Kandung Kemih

Obstruksi kronis akibat BPH menyebabkan perubahan kompensatori pada kandung kemih. Otot detrusor (otot kandung kemih) mengalami hipertrofi untuk mengatasi resistensi yang meningkat saat berkemih. Dalam jangka panjang, proses ini dapat menyebabkan penurunan komplians kandung kemih, pembentukan trabekulasi, divertikula, dan akhirnya dekompensasi kandung kemih dengan detrusor underactivity.

Sumber: durwardblack.com

Studi uroflowmetri pada pasien BPH menunjukkan pola karakteristik “ekor komet” (comet tail-like) dengan waktu untuk mencapai maximum flow rate (Qmax) yang lebih pendek tetapi durasi berkemih keseluruhan yang memanjang secara signifikan. Penelitian tahun 2025 menunjukkan bahwa parameter terkait waktu dalam kurva uroflowmetri memiliki karakteristik yang berbeda pada pasien BPH dengan obstruksi dibandingkan dengan kelompok normal, dengan rasio T1/T2 (waktu hingga Qmax dibagi waktu dari Qmax hingga akhir berkemih) sebesar 0,20 pada BPH dibandingkan 0,89 pada kelompok normal.

Faktor Risiko

Beberapa faktor risiko telah diidentifikasi untuk perkembangan BPH:

Usia: Faktor risiko paling konsisten dan tidak dapat dimodifikasi. Risiko meningkat sekitar 4% setiap tahun setelah usia 40 tahun.

Riwayat keluarga: Pria dengan riwayat keluarga BPH memiliki risiko lebih tinggi, menunjukkan komponen genetik dalam patogenesis penyakit.

Sindrom metabolik: Obesitas, diabetes mellitus, hipertensi, dan dislipidemia dikaitkan dengan peningkatan risiko BPH. Resistensi insulin dan hiperinsulinemia dapat merangsang pertumbuhan prostat melalui jalur insulin-like growth factor.

Faktor hormonal: Ketidakseimbangan rasio androgen-estrogen dengan bertambahnya usia dapat mempengaruhi pertumbuhan prostat.

Gaya hidup: Kurangnya aktivitas fisik, konsumsi alkohol berlebihan, dan merokok dikaitkan dengan peningkatan risiko gejala BPH yang lebih berat.

Faktor diet: Diet tinggi lemak dan daging merah serta rendah sayuran dan buah-buahan dapat meningkatkan risiko BPH.

Manifestasi Klinis

Gejala Saluran Kemih Bawah

Gejala BPH secara klasik dibagi menjadi gejala obstruktif (pengosongan kandung kemih) dan gejala iritatif (penyimpanan urin). Gejala-gejala ini secara kolektif disebut sebagai lower urinary tract symptoms (LUTS).

Gejala Obstruktif:

  • Hesitansi: kesulitan memulai berkemih, perlu menunggu beberapa saat sebelum urin keluar
  • Pancaran urin lemah (weak stream): aliran urin yang tidak kuat dan lamban
  • Intermittency: aliran urin yang terputus-putus selama berkemih
  • Terminal dribbling: tetesan urin yang berlanjut setelah berkemih selesai
  • Sensasi pengosongan kandung kemih yang tidak tuntas
  • Mengejan saat berkemih: perlu menggunakan otot perut untuk mengeluarkan urin

Gejala Iritatif:

  • Frekuensi: berkemih lebih sering dari biasanya (lebih dari 8 kali sehari)
  • Nokturia: terbangun di malam hari untuk berkemih (2 kali atau lebih)
  • Urgensi: perasaan tiba-tiba ingin berkemih yang sulit ditahan
  • Urge incontinence: kebocoran urin karena tidak mampu menunda berkemih saat merasa urgensi

Penting untuk dicatat bahwa keparahan gejala tidak selalu berkorelasi dengan ukuran prostat. Beberapa pria dengan prostat yang sangat besar mungkin memiliki gejala minimal, sementara yang lain dengan pembesaran moderat dapat mengalami gejala yang sangat mengganggu. Hal ini berkaitan dengan variasi komponen dinamik, sensitivitas kandung kemih, dan faktor individual lainnya.

Komplikasi

Jika tidak ditangani, BPH dapat menyebabkan berbagai komplikasi serius:

Retensi Urin Akut: Ketidakmampuan mendadak untuk berkemih yang menyebabkan nyeri hebat dan distensi kandung kemih. Ini merupakan kegawatdaruratan urologis yang memerlukan kateterisasi segera.

Retensi Urin Kronik: Penumpukan urin yang persisten dalam kandung kemih dengan volume residual yang tinggi, yang dapat menyebabkan overflow incontinence dan kerusakan kandung kemih progresif.

Infeksi Saluran Kemih Berulang: Stasis urin meningkatkan risiko pertumbuhan bakteri dan infeksi berulang.

Batu Kandung Kemih: Urin yang tersisa dalam kandung kemih dapat mengendap dan membentuk batu.

Hidronefrosis dan Gagal Ginjal: Obstruksi kronis dapat menyebabkan peningkatan tekanan balik ke ureter dan ginjal, menyebabkan hidronefrosis dan pada akhirnya kerusakan ginjal permanen.

Hematuria: Pembuluh darah yang melebar di prostat yang membesar dapat pecah dan menyebabkan perdarahan.

Divertikula Kandung Kemih: Tekanan berkemih yang tinggi kronis dapat menyebabkan herniasi mukosa kandung kemih melalui lapisan otot.

Diagnosis

Evaluasi Awal

Diagnosis BPH dimulai dengan anamnesis yang komprehensif dan pemeriksaan fisik. Panduan dari American Urological Association (AUA) yang diperbarui tahun 2023 dan European Association of Urology menekankan penteknya pendekatan algoritmik yang individual dalam diagnosis.

Anamnesis: Dokter akan menanyakan tentang:

  • Karakteristik gejala berkemih (onset, durasi, progresivitas)
  • Riwayat medis umum (diabetes, penyakit neurologis, operasi panggul sebelumnya)
  • Riwayat pengobatan saat ini (diuretik, dekongestan, antikolinergik)
  • Riwayat keluarga kanker prostat atau BPH
  • Dampak gejala terhadap kualitas hidup
  • Fungsi seksual

International Prostate Symptom Score (IPSS): Kuesioner standar yang terdiri dari 7 pertanyaan tentang gejala berkemih dengan skoring 0-5 untuk setiap pertanyaan, ditambah 1 pertanyaan tentang kualitas hidup. Total skor 0-7 menunjukkan gejala ringan, 8-19 sedang, dan 20-35 berat. Studi di Indonesia menunjukkan bahwa pemeriksaan ini digunakan secara rutin oleh 89,9% urolog.

Pemeriksaan Fisik: Termasuk pemeriksaan abdomen untuk mendeteksi distensi kandung kemih atau massa, pemeriksaan genitalia eksternal, dan yang paling penting, digital rectal examination (DRE). Pada DRE, dokter dapat menilai ukuran prostat, konsistensi, simetri, dan ada tidaknya nodul yang mencurigakan untuk keganasan. Pemeriksaan ini digunakan secara rutin oleh 92,5% urolog Indonesia.

Pemeriksaan Penunjang

Urinalisis: Pemeriksaan urin rutin untuk menyingkirkan infeksi saluran kemih, hematuria, atau proteinuria yang dapat menunjukkan penyakit ginjal. Ini dilakukan secara rutin oleh 70,4% urolog Indonesia.

Prostate-Specific Antigen (PSA): Protein yang diproduksi oleh sel prostat. Kadar PSA dapat meningkat pada BPH, prostatitis, atau kanker prostat. PSA tidak spesifik untuk BPH, tetapi nilai yang sangat tinggi atau peningkatan cepat dari waktu ke waktu memerlukan evaluasi lebih lanjut untuk menyingkirkan keganasan. PSA density (kadar PSA dibagi volume prostat) dengan nilai cut-off >0,07 memiliki sensitivitas 50% dan spesifisitas 80,30% untuk memprediksi incidental prostate cancer setelah operasi BPH.

Uroflowmetry: Tes non-invasif yang mengukur kecepatan aliran urin. Maximum flow rate (Qmax) <10 mL/detik menunjukkan obstruksi signifikan pada pria dengan volume berkemih >150 mL. Pemeriksaan ini digunakan oleh 50,8% urolog Indonesia.

Post-Void Residual (PVR): Mengukur jumlah urin yang tersisa di kandung kemih setelah berkemih, biasanya menggunakan ultrasonografi. PVR >200 mL menunjukkan pengosongan kandung kemih yang tidak adekuat dan merupakan indikator progresivitas penyakit. Pemeriksaan ini digunakan oleh 53,3% urolog Indonesia.

Ultrasonografi Prostat: Dapat dilakukan transabdominal atau transrektal (TRUS). Pemeriksaan ini menilai volume prostat, morfologi, dan dapat mendeteksi komplikasi seperti batu kandung kemih atau hidronefrosis. Studi korelasi menunjukkan hubungan yang cukup kuat antara volume prostat dan skor IPSS (r = 0,486, p = 0,006). Pencitraan prostat digunakan secara rutin oleh 98,6% urolog Indonesia.

Studi Urodinamik: Pemeriksaan invasif yang mengukur tekanan dan aliran selama pengisian dan pengosongan kandung kemih. Termasuk pressure-flow study yang dapat menghitung Bladder Outlet Obstruction Index (BOOI). BOOI dihitung sebagai: detrusor pressure at maximum flow – 2 x Qmax. Nilai >40 menunjukkan obstruksi, <20 menunjukkan tidak ada obstruksi. Pemeriksaan ini terutama berguna pada kasus yang kompleks, seperti pasien dengan detrusor underactivity atau sebelum prosedur bedah pada pasien dengan gejala atipikal. Studi tahun 2025 menunjukkan bahwa TURP masih dapat memberikan kesempatan yang wajar untuk penghentian kateter pada pasien dengan parameter urodinamik yang tidak menguntungkan, dengan angka keberhasilan 33% pada detrusor acontractility, 68,4% pada detrusor underactivity, dan 60% pada kelompok non-voider.

Sistoskopi: Visualisasi langsung uretra, prostat, dan kandung kemih menggunakan endoskopi. Berguna untuk menilai derajat obstruksi, morfologi lobus prostat, dan mendeteksi patologi lain seperti striktur uretra, batu kandung kemih, atau tumor kandung kemih.

Diagnosis Banding

Penting untuk membedakan BPH dari kondisi lain yang dapat menyebabkan gejala serupa:

  • Kanker prostat: Dapat memberikan gejala LUTS yang mirip, memerlukan evaluasi PSA, DRE, dan biopsi jika diperlukan
  • Prostatitis: Inflamasi prostat yang dapat menyebabkan nyeri, demam, dan gejala berkemih
  • Striktur uretra: Penyempitan uretra akibat jaringan parut
  • Kandung kemih neurogenik: Disfungsi kandung kemih akibat gangguan neurologis (stroke, Parkinson, cedera tulang belakang)
  • Batu kandung kemih: Dapat menyebabkan gejala iritatif dan hematuria
  • Kanker kandung kemih: Terutama jika disertai hematuria
  • Overactive bladder: Gejala iritatif tanpa obstruksi

Data menarik dari studi tahun 2025 menunjukkan bahwa incidental prostate cancer (iPCa) ditemukan pada 2,77% pasien yang menjalani holmium laser enucleation of the prostate (HoLEP), dengan sebagian besar kasus bersifat klinis tidak signifikan.

Penatalaksanaan

Penatalaksanaan BPH harus disesuaikan dengan keparahan gejala, dampak terhadap kualitas hidup, volume prostat, ada tidaknya komplikasi, dan preferensi pasien. Pendekatan shared decision-making (pengambilan keputusan bersama) antara dokter dan pasien sangat penting, dengan mempertimbangkan karakteristik pasien, ekspektasi, dan preferensi dalam menimbang risiko dan manfaat setiap pilihan terapi.

Watchful Waiting dan Observasi Aktif

Untuk pasien dengan gejala ringan (IPSS <8) yang tidak mengganggu kualitas hidup dan tanpa komplikasi, pendekatan watchful waiting dapat dipertimbangkan. Ini melibatkan edukasi pasien, modifikasi gaya hidup, dan pemantauan berkala tanpa intervensi medis aktif. Studi di Indonesia menunjukkan bahwa 78,4% urolog mempertimbangkan watchful waiting sebagai pilihan penatalaksanaan.

Modifikasi gaya hidup yang dapat membantu meliputi:

  • Mengurangi konsumsi cairan di malam hari untuk mengurangi nokturia
  • Menghindari atau membatasi kafein dan alkohol yang dapat mengiritasi kandung kemih
  • Berkemih ganda (double voiding): berkemih, menunggu beberapa menit, kemudian mencoba berkemih lagi
  • Menjaga pola buang air kecil yang teratur
  • Menghindari obat-obatan yang memperburuk gejala (dekongestan, antihistamin)
  • Menjaga berat badan ideal dan aktivitas fisik teratur

Terapi Farmakologis

Terapi medikamentosa adalah lini pertama pengobatan untuk BPH simtomatik tanpa komplikasi. Beberapa kelas obat tersedia dengan mekanisme kerja yang berbeda.

Penghambat Alfa-1 Adrenergik (Alpha-blockers)

Obat-obatan ini menghambat reseptor alfa-1 adrenergik di otot polos prostat, kapsul prostat, dan leher kandung kemih, menyebabkan relaksasi dan mengurangi resistensi aliran urin. Alpha-blocker bekerja pada komponen dinamik obstruksi dan memberikan perbaikan gejala yang relatif cepat (dalam 48-72 jam).

Obat yang tersedia:

  • Tamsulosin: Selektif untuk reseptor alfa-1A, efek samping minimal pada tekanan darah
  • Alfuzosin: Uroselektif, dapat diminum sekali sehari
  • Doxazosin dan Terazosin: Non-selektif, memerlukan titrasi dosis
  • Silodosin: Sangat selektif untuk alfa-1A, efektivitas tinggi tetapi sering menyebabkan gangguan ejakulasi

Studi di Indonesia menunjukkan bahwa alpha-blocker adalah obat yang paling disukai oleh urolog untuk terapi BPH. Data dari Korea Selatan tahun 2025 menunjukkan bahwa 54,9% pasien BPH yang baru didiagnosis menerima monoterapi alpha-blocker, dengan tamsulosin sebagai agen yang paling sering diresepkan.

Efek samping umum termasuk hipotensi postural (terutama dengan obat non-selektif), pusing, kelelahan, dan gangguan ejakulasi retrograd (terutama dengan silodosin).

Inhibitor 5-Alfa Reduktase (5-ARIs)

Obat-obatan ini menghambat konversi testosteron menjadi dihidrotestosteron (DHT), mengurangi ukuran prostat dan progresivitas penyakit. Efek terapeutik memerlukan waktu lebih lama (3-6 bulan) dibandingkan alpha-blocker, tetapi memberikan manfaat jangka panjang dalam mengurangi risiko retensi urin akut dan kebutuhan operasi.

Obat yang tersedia:

  • Finasteride: Menghambat 5-alfa reduktase tipe 2, dosis 5 mg/hari
  • Dutasteride: Menghambat 5-alfa reduktase tipe 1 dan 2, lebih poten, dosis 0,5 mg/hari

5-ARIs paling efektif pada pasien dengan prostat besar (>40 mL) dan PSA tinggi (>1,5 ng/mL). Studi di Korea menunjukkan bahwa 17,9% pasien BPH yang baru didiagnosis menerima kombinasi 5-ARI/alpha-blocker, dengan dutasteride sebagai 5-ARI yang paling sering diresepkan.

Efek samping termasuk disfungsi seksual (penurunan libido, disfungsi ereksi, gangguan ejakulasi) pada sekitar 5-10% pasien, ginekomastia, dan efek pada kadar PSA (menurunkan PSA sekitar 50% setelah 6 bulan penggunaan).

Terapi Kombinasi

Kombinasi alpha-blocker dan 5-ARI memberikan manfaat yang lebih besar dibanding monoterapi pada pasien dengan prostat besar dan gejala sedang hingga berat. Studi MTOPS (Medical Therapy of Prostatic Symptoms) menunjukkan bahwa terapi kombinasi mengurangi progresivitas penyakit lebih efektif dibandingkan monoterapi.

Panduan AUA terbaru merekomendasikan terapi kombinasi sebagai strategi efektif untuk mengurangi risiko komplikasi terkait BPH. Data dari Korea Selatan menunjukkan adopsi terapi kombinasi yang meningkat, terutama pada kelompok usia yang lebih tua, dari 8,0% pada pasien usia 40-an hingga 25,4% pada pasien ≥80 tahun, menunjukkan pergeseran menuju pendekatan terapeutik yang lebih sesuai dengan panduan dan lebih efektif.

Agonis Beta-3 Adrenergik

Mirabegron bekerja pada reseptor beta-3 di otot detrusor kandung kemih, menyebabkan relaksasi dan meningkatkan kapasitas penyimpanan kandung kemih. Obat ini terutama efektif untuk gejala iritatif (overactive bladder) yang sering menyertai BPH.

Inhibitor Fosfodiesterase-5 (PDE5)

Tadalafil (dosis rendah 5 mg/hari) telah disetujui untuk pengobatan LUTS/BPH. Mekanisme kerjanya melibatkan relaksasi otot polos prostat dan kandung kemih serta peningkatan perfusi jaringan. Obat ini juga bermanfaat pada pasien dengan disfungsi ereksi bersamaan.

Terapi Herbal

Beberapa suplemen herbal seperti saw palmetto (Serenoa repens), ekstrak biji labu, dan Pygeum africanum telah digunakan, meskipun bukti ilmiah untuk efektivitasnya masih terbatas dan inkonsisten.

Intervensi Minimal Invasif

Untuk pasien dengan gejala sedang hingga berat yang tidak responsif terhadap terapi medis atau yang menolak terapi jangka panjang, tersedia berbagai prosedur minimal invasif sebagai alternatif operasi konvensional.

Prostatic Urethral Lift (UroLift)

Prosedur ini melibatkan penempatan implan kecil yang menarik lobus prostat yang membesar menjauh dari uretra, membuka saluran urin tanpa memotong atau menghilangkan jaringan prostat. Keuntungan utama adalah pemeliharaan fungsi ejakulasi dan dapat dilakukan dengan anestesi lokal. Prosedur ini cocok untuk prostat dengan volume <80-100 mL tanpa lobus median yang menonjol.

Water Vapor Thermal Therapy (Rezum)

Menggunakan uap air yang dipanaskan untuk mengablasi jaringan prostat hiperplasia. Energi termal menyebabkan nekrosis sel yang kemudian diserap tubuh selama beberapa minggu. Prosedur ini dapat dilakukan rawat jalan dan cocok untuk berbagai ukuran prostat.

Temporary Implantable Nitinol Device (TIND)

Perangkat nitinol sementara yang ditempatkan di uretra prostatika selama 5-7 hari untuk membuat ekspansi mekanis, kemudian diangkat. Ini adalah pilihan yang relatif baru dengan durasi efek yang masih dalam evaluasi jangka panjang.

Irreversible Electroporation (IRE)

Teknik terbaru yang menggunakan pulsa listrik untuk menginduksi kematian sel melalui elektroporasi ireversibel. Studi preliminer yang dipublikasikan tahun 2025 pada 9 pasien BPH menunjukkan bahwa IRE berhasil dilakukan pada semua pasien dengan peningkatan signifikan pada laju aliran urin maksimum dan penurunan volume urin residual, dengan skor IPSS yang membaik secara statistik. Meskipun volume prostat tidak mengalami penurunan signifikan pasca-operasi (terkait mekanisme aksi IRE), fungsi seksual sebagian besar tidak terpengaruh dengan kejadian efek samping 22%. Teknik ini memberikan profil efikasi dan keamanan yang baik dengan insiden komplikasi pascaoperasi yang rendah.

Terapi Bedah Definitif

Pembedahan diindikasikan untuk pasien dengan:

  • Gejala berat yang refrakter terhadap terapi medis
  • Komplikasi BPH (retensi urin refrakter, infeksi saluran kemih berulang, batu kandung kemih, hematuria persisten, gagal ginjal)
  • Preferensi pasien untuk solusi definitif

Studi di Indonesia menunjukkan bahwa 93% urolog mempertimbangkan terapi bedah sebagai opsi penatalaksanaan, dengan indikasi yang paling dipertimbangkan adalah batu kandung kemih (>85%), penurunan fungsi ginjal (>85%), dan kegagalan trial without catheter (>85%).

Transurethral Resection of the Prostate (TURP)

TURP masih dianggap sebagai “standar emas” untuk BPH dengan volume prostat 30-80 mL. Prosedur ini melibatkan reseksi jaringan prostat melalui uretra menggunakan resektoskop dan arus listrik. TURP memberikan perbaikan gejala yang signifikan dan tahan lama pada 80-90% pasien.

Komplikasi TURP meliputi:

  • TUR syndrome (jarang dengan teknik modern menggunakan salin): absorpsi cairan irigasi menyebabkan hiponatremia
  • Perdarahan yang memerlukan transfusi (2-5%)
  • Inkontinensia urin stres (2-10%, biasanya transien)
  • Disfungsi ereksi (5-10%)
  • Ejakulasi retrograd (65-75%)
  • Striktur uretra atau kontraktur leher kandung kemih (2-10%)

Holmium Laser Enucleation of the Prostate (HoLEP)

HoLEP menggunakan laser holmium untuk mengenukleasi (memisahkan) lobus prostat dari kapsul, kemudian jaringan dimorsellasi dan dikeluarkan. Prosedur ini efektif untuk semua ukuran prostat, termasuk prostat yang sangat besar (>80 mL).

Keunggulan HoLEP dibandingkan TURP:

  • Kehilangan darah lebih sedikit (105,01 mL lebih rendah dibanding RASP menurut meta-analisis 2025)
  • Waktu kateterisasi lebih pendek (4,36 hari lebih pendek dibanding RASP)
  • Risiko transfusi lebih rendah (32% pengurangan dibanding RASP)
  • Dapat digunakan pada pasien dengan terapi antikoagulan
  • Jaringan yang diangkat tersedia untuk pemeriksaan histopatologi lengkap

Studi database nasional AS tahun 2025 pada 11.559 pasien yang menjalani HoLEP menunjukkan bahwa risiko inkontinensia jangka pendek dalam 3 bulan pertama pasca-operasi adalah 10,3%, menurun menjadi 4,8% antara 1-2 tahun pasca-operasi. Hanya 0,1% pasien memerlukan insersi artificial urethral sphincter (AUS) atau pemasangan sling, dan tingkat prosedur inkontinensia urin sangat rendah.

Penelitian tentang mekanisme inkontinensia pasca-HoLEP tahun 2025 menunjukkan bahwa dilatasi sfingter uretra eksternal (EUS) yang disebabkan oleh gaya radial selama angulasi resektoskop merupakan penyebab yang masuk akal untuk inkontinensia pasca-HoLEP, bukan hanya peregangan longitudinal seperti yang diyakini sebelumnya.

Thulium Laser Enucleation (ThuLEP)

Mirip dengan HoLEP tetapi menggunakan laser thulium. Studi komparatif tahun 2025 pada prostat sangat besar (≥150 mL) menunjukkan bahwa ThuLEP dan robot-assisted simple prostatectomy (RASP) sama-sama efektif dengan tidak ada perbedaan signifikan dalam perbaikan mikturisi. Waktu operasi lebih pendek dengan RASP. ThuLEP menunjukkan nyeri pascaoperasi dan penggunaan analgesik paling rendah, dengan waktu kateterisasi 3,5 hari vs 7,3 hari pada RASP, length of stay 2,5 hari vs 4,8 hari pada RASP, dan penurunan hemoglobin 0,7 vs 1,3 g/dL pada RASP. Profil komplikasi berbeda antara kedua prosedur dengan tidak ada perbedaan dalam kejadian buruk mayor.

Photoselective Vaporization of the Prostate (PVP)

Menggunakan laser Greenlight (kalium-titanil-fosfat) untuk menguapkan jaringan prostat. Cocok untuk pasien dengan risiko perdarahan tinggi dan dapat dilakukan rawat jalan.

Bipolar Transurethral Enucleation (B-TUEP)

Teknik enukleasi menggunakan energi bipolar. Studi pada pasien lanjut usia (>60 tahun) dengan BPH besar (>80 cm³) tahun 2025 menunjukkan bahwa B-TUEP, ThuLEP, dan RASP semuanya menawarkan perbaikan gejala yang efektif dan tahan lama dengan keuntungan perioperatif yang berbeda. B-TUEP memiliki waktu operasi paling singkat, ThuLEP menunjukkan nyeri pascaoperasi paling rendah, dan RASP memiliki insiden infeksi saluran kemih paling rendah.

Robot-Assisted Simple Prostatectomy (RASP)

Untuk prostat sangat besar (>80-100 mL), RASP menawarkan alternatif modern untuk prostatektomi terbuka. Prosedur ini melibatkan enukleasi prostat melalui pendekatan transvesikal atau retropubik menggunakan sistem robotik.

Studi di Pakistan tahun 2025 pada 82 pasien dengan volume prostat rata-rata 133,24±27,31 mL menunjukkan bahwa RASP merupakan prosedur yang aman dengan outcome pasien yang dapat diterima. Laju aliran maksimum pada uroflowmetri meningkat dari 5,86±1,59 mL/detik preoperatif menjadi 17,00±7,57 mL/detik pasca-operasi (p=0,0001).

Meta-analisis tahun 2025 yang membandingkan HoLEP dan RASP untuk BPH menunjukkan bahwa keduanya sama-sama efektif untuk menangani prostat besar. HoLEP menawarkan keuntungan dalam meminimalkan kehilangan darah, durasi kateter, dan tingkat transfusi, sementara RASP memberikan kemudahan prosedural di fasilitas yang dilengkapi robotik.

Open Simple Prostatectomy

Prostatektomi terbuka (pendekatan retropubik atau suprapubik) dipertimbangkan untuk prostat sangat besar (>100 mL) terutama di fasilitas tanpa peralatan endourologi canggih, atau jika terdapat patologi kandung kemih yang memerlukan intervensi simultan (batu kandung kemih besar, divertikel). Data Indonesia menunjukkan bahwa 54,8% urolog melakukan operasi prostat terbuka dengan alasan: volume prostat besar, adanya batu kandung kemih, tidak tersedianya peralatan endourologi, kelainan kandung kemih, dan program pelatihan residensi.

Peran Kecerdasan Buatan (AI)

Perkembangan teknologi kecerdasan buatan mulai diterapkan dalam manajemen BPH. Tinjauan tahun 2025 menunjukkan bahwa banyak peneliti telah mengeksplorasi aplikasi teknologi berbasis AI untuk diagnosis dan manajemen penyakit, prediksi respons pengobatan, dan optimasi operasi serta alur kerja. Namun, aplikasi AI dalam BPH belum terestablish dengan baik. Pengembangan dan implementasi panduan standar untuk pelaporan model dan validasi eksternal merupakan prasyarat esensial untuk adopsi luas AI dalam urologi dan di seluruh bidang kedokteran secara umum.

Prognosis dan Follow-Up

Outcome Jangka Pendek dan Panjang

Prognosis BPH secara umum baik, terutama dengan penatalaksanaan yang tepat. Terapi medis memberikan perbaikan gejala pada 60-80% pasien, meskipun memerlukan pengobatan jangka panjang. Progresivitas penyakit terjadi pada sekitar 5-30% pasien per tahun, tergantung pada faktor risiko seperti usia, volume prostat, dan kadar PSA.

Terapi bedah memberikan hasil yang sangat baik dengan tingkat kepuasan pasien yang tinggi. TURP menghasilkan perbaikan gejala jangka panjang pada 80-90% pasien. HoLEP dan teknik laser lainnya menunjukkan hasil yang sebanding atau superior dengan komplikasi yang lebih rendah. Studi kohort jangka panjang menunjukkan bahwa sebagian besar pasien tetap bebas dari pengobatan setelah prosedur bedah.

Pemantauan Pasca-Terapi

Pasien yang menjalani terapi medis memerlukan evaluasi berkala:

  • 4-6 minggu setelah inisiasi terapi untuk menilai respons awal
  • Setiap 6-12 bulan untuk monitoring jangka panjang
  • Evaluasi mencakup: IPSS, uroflowmetri, PVR, pemeriksaan fisik
  • PSA tahunan untuk pasien yang menggunakan 5-ARI (ingat bahwa 5-ARI menurunkan PSA ~50%)
  • Evaluasi fungsi ginjal jika terdapat risiko hidronefrosis

Pasien pasca-bedah memerlukan follow-up:

  • 4-6 minggu pasca-operasi untuk evaluasi awal
  • 3-6 bulan untuk penilaian hasil fungsional jangka pendek
  • 12 bulan dan kemudian tahunan untuk deteksi komplikasi lambat

Kualitas Hidup

Dampak BPH terhadap kualitas hidup dapat signifikan. Nokturia yang sering mengganggu tidur dapat menyebabkan kelelahan kronis, penurunan konsentrasi, dan peningkatan risiko jatuh pada lansia. Gejala berkemih yang mengganggu dapat membatasi aktivitas sosial dan perjalanan. Disfungsi seksual terkait penyakit atau efek samping pengobatan dapat mempengaruhi hubungan intim.

Pengukuran kualitas hidup menggunakan instrumen seperti pertanyaan kualitas hidup pada IPSS atau kuesioner spesifik BPH menunjukkan perbaikan signifikan setelah terapi yang berhasil. Studi tentang Patient Global Impression of Improvement (PGI-I) menunjukkan bahwa 52,2% pasien melaporkan skor >4 (menunjukkan perbaikan yang baik) setelah terapi bedah.

Hubungan dengan Kanker Prostat

Penting untuk dicatat bahwa BPH dan kanker prostat adalah entitas yang berbeda. BPH tidak meningkatkan risiko kanker prostat, meskipun keduanya dapat terjadi bersamaan pada pria lanjut usia. Inilah mengapa evaluasi PSA dan DRE penting dalam pemeriksaan awal.

Data tentang incidental prostate cancer (iPCa) setelah operasi BPH menunjukkan insiden 2,77%, dengan sebagian besar kasus klinis tidak signifikan. PSA density (PSAD) memiliki sensitivitas 50% dan spesifisitas 80,30% (cut-off >0,07) untuk memprediksi iPCa. Dalam follow-up onkologis, tidak ada perbedaan signifikan dalam kadar PSA pada 36 bulan. Hanya 1 pasien ditemukan memiliki kanker prostat yang signifikan secara klinis (Gleason grade 3+4), dan karena tidak ada progresivitas dalam follow-up PSA, tidak dilakukan pengobatan tambahan.

Pencegahan dan Modifikasi Gaya Hidup

Meskipun BPH tidak dapat sepenuhnya dicegah karena berkaitan dengan proses penuaan alami, beberapa strategi dapat membantu mengurangi risiko atau memperlambat progresivitas:

Menjaga Berat Badan Ideal: Obesitas dikaitkan dengan peningkatan risiko BPH dan gejala yang lebih berat. Penurunan berat badan dapat membantu mengurangi gejala.

Aktivitas Fisik Teratur: Olahraga rutin dikaitkan dengan penurunan risiko BPH simptomatik. Direkomendasikan aktivitas aerobik sedang minimal 150 menit per minggu.

Diet Sehat: Konsumsi buah-buahan, sayuran, dan biji-bijian yang kaya akan antioksidan, serat, dan fitonutrien dapat memberikan efek protektif. Membatasi konsumsi daging merah dan lemak jenuh.

Membatasi Alkohol dan Kafein: Kedua zat ini dapat mengiritasi kandung kemih dan memperburuk gejala.

Berhenti Merokok: Merokok dikaitkan dengan peningkatan risiko gejala LUTS yang lebih berat.

Manajemen Kondisi Medis: Kontrol optimal diabetes, hipertensi, dan komponen sindrom metabolik lainnya.

Menghindari Obat yang Memperburuk Gejala: Dekongestan (pseudoefedrin), antihistamin, dan beberapa antidepresan dapat memperburuk gejala berkemih.

Latihan Otot Dasar Panggul: Meskipun lebih sering direkomendasikan untuk wanita, latihan Kegel dapat membantu beberapa pria dalam mengelola gejala LUTS.

Perspektif Masa Depan

Terapi Farmakologis Baru

Penelitian sedang berlangsung untuk mengembangkan obat-obatan baru dengan efektivitas yang lebih baik dan efek samping yang minimal. Target potensial termasuk:

  • Inhibitor jalur inflamasi untuk menghambat progresivitas penyakit
  • Modulator reseptor androgen yang lebih selektif
  • Terapi gen untuk menargetkan faktor pertumbuhan spesifik
  • Obat-obatan yang meningkatkan apoptosis sel prostat

Teknologi Bedah Inovatif

Perkembangan teknologi terus menghasilkan teknik bedah baru yang lebih minimal invasif:

  • Robotic Waterjet Treatment: Menggunakan jet air berkecepatan tinggi untuk mengablasi jaringan prostat dengan trauma minimal
  • Laser Teknologi Baru: Laser thulium fiber dan teknologi laser lainnya yang menawarkan efisiensi lebih tinggi
  • Image-Guided Therapy: Integrasi pencitraan real-time untuk presisi yang lebih baik
  • Ablasi dengan Energi Baru: Termasuk ablasi frekuensi radio, cryo-ablation, dan high-intensity focused ultrasound (HIFU)

Precision Medicine

Pendekatan precision medicine yang mempertimbangkan profil genetik, biomarker, dan karakteristik individual pasien untuk mempersonalisasi terapi mulai dikembangkan. Ini termasuk:

  • Identifikasi biomarker untuk memprediksi respons terapi
  • Fenotipe pasien untuk memilih terapi yang paling sesuai
  • Algoritma berbasis AI untuk optimasi pengambilan keputusan klinis

Peran AI dan Machine Learning

Kecerdasan buatan dan machine learning berpotensi merevolusi manajemen BPH melalui:

  • Analisis pencitraan otomatis untuk volume prostat dan karakterisasi jaringan
  • Prediksi progresivitas penyakit dan respons terapi
  • Optimasi teknik operasi dan prediksi komplikasi
  • Personalisasi terapi berdasarkan data pasien multi-dimensi

Namun, seperti disebutkan dalam tinjauan 2025, pengembangan dan implementasi panduan standar untuk pelaporan model dan validasi eksternal merupakan prasyarat esensial sebelum adopsi luas teknologi ini dalam praktik klinis.

Kesimpulan

Pembesaran prostat jinak (BPH) merupakan kondisi yang sangat umum pada pria lanjut usia dengan dampak signifikan terhadap kualitas hidup. Di Indonesia, dengan populasi lanjut usia yang terus bertambah, BPH menjadi tantangan kesehatan publik yang penting. Prevalensi mencapai hampir 50% pada pria Indonesia di atas usia 50 tahun, dengan angka yang terus meningkat seiring pertambahan usia.

Pemahaman patofisiologi BPH telah berkembang pesat, melibatkan interaksi kompleks antara faktor hormonal, pertumbuhan sel, inflamasi, dan perubahan struktural prostat. Manifestasi klinis bervariasi dari gejala ringan hingga komplikasi serius seperti retensi urin dan gagal ginjal, sehingga memerlukan pendekatan diagnostik yang sistematis dan komprehensif.

Penatalaksanaan BPH telah mengalami evolusi signifikan dalam dekade terakhir. Tersedia berbagai pilihan terapi mulai dari modifikasi gaya hidup, terapi farmakologis dengan alpha-blocker dan 5-ARIs, prosedur minimal invasif seperti UroLift dan Rezum, hingga pembedahan definitif dengan teknik laser canggih seperti HoLEP dan ThuLEP. Pendekatan shared decision-making yang mempertimbangkan karakteristik pasien, preferensi, dan ekspektasi sangat penting untuk mencapai hasil optimal.

Data terbaru menunjukkan bahwa teknik bedah modern seperti HoLEP memberikan hasil yang sangat baik dengan komplikasi minimal. Tingkat inkontinensia persisten pasca-HoLEP sangat rendah (4,8% setelah 1 tahun), dan sebagian besar pasien mencapai perbaikan gejala yang signifikan dan tahan lama. Untuk prostat sangat besar, baik HoLEP maupun RASP menawarkan efektivitas yang sebanding dengan profil keuntungan yang berbeda.

Masa depan manajemen BPH terletak pada pendekatan yang lebih personal dan presisi, memanfaatkan biomarker, genetik, dan teknologi kecerdasan buatan untuk mengoptimalkan seleksi terapi dan prediksi outcome. Namun, implementasi teknologi baru harus didukung oleh bukti ilmiah yang kuat dan validasi yang ketat.

Bagi sistem kesehatan Indonesia, penting untuk meningkatkan akses terhadap modalitas diagnostik dan terapeutik terkini, sekaligus memperkuat program edukasi untuk tenaga kesehatan dan masyarakat. Kepatuhan yang baik terhadap panduan praktik klinis, seperti yang telah ditunjukkan oleh urolog Indonesia dengan tingkat kepatuhan median 78,5%, perlu terus ditingkatkan untuk memastikan standar pelayanan yang optimal bagi semua pasien BPH.

Dengan pendekatan multidisiplin yang komprehensif, pemahaman yang mendalam tentang kondisi ini, dan pemanfaatan teknologi medis terkini, kita dapat memberikan penatalaksanaan BPH yang efektif, aman, dan sesuai dengan kebutuhan individual setiap pasien, sehingga meningkatkan kualitas hidup pria lanjut usia di Indonesia.


Referensi

Baboudjian, M., De Nunzio, C., & Cornu, J. N. (2025). Current guidelines for the management of benign prostatic obstruction: Practical tips for patient selection to achieve optimal outcomes. European Urology Focus, 11(4), 579-581. https://doi.org/10.1016/j.euf.2025.06.006

Cacciamani, G. E., Murad, L., Layne, E., Ganjavi, C., Gill, I., Desai, M., & Zorn, K. C. (2025). The current state of artificial intelligence for benign prostatic hyperplasia. European Urology Focus, 11(6), 999-1003. https://doi.org/10.1016/j.euf.2025.07.004

Efendioğlu, F., Özcan, C., & Tokatli, Z. (2025). Does incidental prostate cancer after holmium laser enucleation of the prostate cause serious clinical problems? Retrospective study. Medicine, 104(44), e45529. https://doi.org/10.1097/MD.0000000000045529

Hou, C. P., Chen, Y. T., Lin, Y. H., Chen, C. L., Teng, T. C., & Juang, H. H. (2025). Comparative analysis of enucleation techniques for large benign prostatic hyperplasia (>80 cm) in older adult patients: A single-center cohort study. Clinical Interventions in Aging, 20, 2437-2446. https://doi.org/10.2147/CIA.S558277

Kenyeres, B., Helmeczi, A., & Pytel, Á. (2025). Efficacy of transurethral resection of the prostate in male patients with impaired detrusor contractile function and urinary retention. Lower Urinary Tract Symptoms, 17(6), e70040. https://doi.org/10.1111/luts.70040

Kim, Y. H., & Je, N. K. (2025). Prescription trends of initial pharmacotherapy for benign prostatic hyperplasia among treatment-naïve patients in South Korea: A retrospective analysis. Lower Urinary Tract Symptoms, 17(5), e70030. https://doi.org/10.1111/luts.70030

Michel, C., & Nimmagadda, N. (2025). Persistent incontinence rates and incontinence surgeries are low after holmium laser enucleation of the prostate: A retrospective analysis of a large national claims database. Journal of Endourology, 39(12), 1292-1297. https://doi.org/10.1177/08927790251387358

O’Mahony, C. J., Arshad, M. A., & Norton, S. M. (2025). Testosterone and lower urinary tract symptoms: A narrative review. Current Urology Reports, 26(1), 75. https://doi.org/10.1007/s11934-025-01307-y

Perri, D., Pini, G., Besana, U., Balocchi, G., Romero-Otero, J., Roche, J. B., Pastore, A. L., Lusuardi, L., Sighinolfi, M. C., Rocco, B., & Bozzini, G. (2025). Functional outcomes and safety profile of thulium: YAG laser enucleation (ThuLEP) versus robot-assisted simple prostatectomy (RASP) facing very large (≥ 150 ml) prostates. World Journal of Urology, 44(1), 29. https://doi.org/10.1007/s00345-025-06113-2

Qureshi, H. H., Mahar, N. A., Mohsin, R., Leghari, R. A., Fayyaz, M., & Qamar, U. (2025). Revolutionizing the management of enlarged prostate: Unveiling the success of robot-assisted simple prostatectomy using Versius robotic system. JPMA. The Journal of the Pakistan Medical Association, 75(9), 1354-1359. https://doi.org/10.47391/JPMA.20402

Roşu, M. C., Ionescu, C. A., Enciu, M., Câmpineanu, B., Pundiche, M., Dobrin, N., Iorga, I., Deacu, M., Cojocaru, O., Burlacu, I., Vizireanu, M. G., Chisoi, A., Poinareanu, I., & Petcu, L. C. (2025). Histopathological profile of prostatic lesions and the role of Gleason score in surgical treatment decision-making. Chirurgia, 120(5), 593-602. https://doi.org/10.21614/chirurgia.3212

Sandhu, J. S., & Cheung, F. (2025). Review of current guidelines and innovations in benign prostatic hyperplasia evaluation and management. Urologic Clinics of North America, 52(4), 605-615. https://doi.org/10.1016/j.ucl.2025.07.006

Schwartztuch Gildor, O., Mendelson, T., Gomez Sancha, F., Herrmann, T. R., Scoffone, C., Aho, T., Lusuardi, L., de Figueiredo, F. C., Aviram, G., Nevo, A., Yossepowitch, O., & Sofer, M. (2025). Applied trigonometry in elucidating the mechanism of post-HoLEP urinary incontinence. World Journal of Urology, 44(1), 19. https://doi.org/10.1007/s00345-025-05943-4

Tan, C., Wang, C., Huang, J., Liao, B., Deng, X., Hu, A., & Li, Y. (2025). Comparative outcomes of holmium laser enucleation of the prostate (HoLEP) versus robotic-assisted simple prostatectomy (RASP) for benign prostatic hyperplasia: A systematic review and meta-analysis. Journal of Robotic Surgery, 19(1), 478. https://doi.org/10.1007/s11701-025-02577-x

Yu, Z., Wen, Q., Guo, Y., Chen, L., Wang, Y., Hang, G., & Chen, B. (2025). Preliminary clinical outcomes of irreversible electroporation in the management of prostatic hyperplasia. Medicine, 104(48), e46166. https://doi.org/10.1097/MD.0000000000046166

Zeng, X., Shen, H., Luo, D., & Jin, T. (2025). Quantitative analysis of time-related parameters in uroflowmetry curve patterns in patients with benign prostatic hyperplasia and bladder outlet obstruction: A single-center retrospective study. BMC Urology, 25(1), 265. https://doi.org/10.1186/s12894-025-01957-7

Zhang, Y., Chen, Y., Li, X., Wang, H., Zhang, L., Liu, Y., & Wu, C. (2025). Global, regional, and national burden of benign prostatic hyperplasia from 1990 to 2021 and projection to 2035. BMC Urology, 25(1), 132. https://doi.org/10.1186/s12894-025-01715-9

Hamid, A. R., Mochtar, C. A., Tarmono, H. I., Wahyudi, I., Rahardjo, E. P., & Umbas, R. (2018). Adherence of Indonesian urologists to practice guidelines for the management of benign prostatic hyperplasia. Prostate International, 6(2), 61-65. https://doi.org/10.1016/j.prnil.2017.11.003


Catatan: Artikel ini disusun berdasarkan literatur ilmiah terbaru hingga tahun 2025 dan disesuaikan dengan konteks pelayanan kesehatan di Indonesia. Informasi yang disajikan dimaksudkan untuk tujuan edukasi dan tidak menggantikan konsultasi medis profesional. Pasien dengan gejala yang mengkhawatirkan harus berkonsultasi dengan dokter atau spesialis urologi untuk evaluasi dan penatalaksanaan yang tepat.

Commenting 101: “Be kind, and respect each other” // Bersikaplah baik, dan saling menghormati (Indonesian) // Soyez gentils et respectez-vous les uns les autres (French) // Sean amables y respétense mutuamente (Spanish) // 待人友善,互相尊重 (Chinese) // كونوا لطفاء واحترموا بعضكم البعض (Arabic) // Будьте добры и уважайте друг друга (Russian) // Seid freundlich und respektiert einander (German) // 親切にし、お互いを尊重し合いましょう (Japanese) // दयालु बनें, और एक दूसरे का सम्मान करें (Hindi) // Siate gentili e rispettatevi a vicenda (Italian)

Tinggalkan komentar