- Pendahuluan
- Definisi dan Kriteria Diagnostik
- Epidemiologi
- Patofisiologi dan Mekanisme Neurobiologis
- Faktor Risiko
- Manifestasi Klinis dan Komplikasi
- Diagnosis
- Penatalaksanaan
- Prognosis dan Perjalanan Penyakit
- Kesimpulan
- Daftar Pustaka
Pendahuluan
Gangguan makan berlebihan atau binge eating disorder (BED) merupakan salah satu gangguan makan yang paling umum namun sering tidak terdiagnosis. Berbeda dengan kebiasaan makan berlebihan sesekali yang mungkin dialami banyak orang, BED adalah kondisi kesehatan mental serius yang ditandai dengan episode makan dalam jumlah sangat besar secara berulang, disertai perasaan kehilangan kendali dan tekanan emosional yang signifikan. Kondisi ini tidak hanya berdampak pada kesehatan fisik melalui peningkatan risiko obesitas dan penyakit metabolik, tetapi juga membawa beban psikologis berat yang mempengaruhi kualitas hidup penderitanya.
Dalam beberapa tahun terakhir, pemahaman medis tentang BED telah berkembang pesat. Penelitian terkini menunjukkan bahwa gangguan ini melibatkan mekanisme neurobiologis kompleks yang mencakup sistem reward otak, regulasi emosi, dan faktor genetik. Artikel ini akan mengulas secara komprehensif berbagai aspek BED, mulai dari definisi dan kriteria diagnostik, epidemiologi, faktor risiko, hingga pendekatan terkini dalam penatalaksanaan berdasarkan bukti ilmiah terbaru.
Definisi dan Kriteria Diagnostik
Binge eating disorder secara resmi diakui sebagai gangguan makan tersendiri dalam Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders, edisi kelima (DSM-5) pada tahun 2013. Sebelumnya, kondisi ini hanya dikategorikan sebagai “gangguan makan yang tidak ditentukan” (eating disorder not otherwise specified/EDNOS). Pengakuan formal ini mencerminkan pemahaman yang semakin baik tentang karakteristik unik BED dan perbedaannya dengan gangguan makan lain seperti anorexia nervosa dan bulimia nervosa.
Menurut DSM-5, BED didiagnosis ketika seseorang mengalami episode makan berlebihan (binge eating episodes) yang berulang. Episode makan berlebihan didefinisikan sebagai makan dalam jumlah makanan yang jauh lebih besar daripada yang biasanya dimakan kebanyakan orang dalam periode waktu yang sama (biasanya dalam 2 jam), disertai dengan perasaan kehilangan kendali atas perilaku makan selama episode tersebut.
Kriteria diagnostik lengkap untuk BED mencakup beberapa komponen penting. Pertama, episode makan berlebihan harus disertai dengan setidaknya tiga dari lima karakteristik berikut: makan jauh lebih cepat dari biasanya; makan sampai merasa tidak nyaman karena terlalu kenyang; makan dalam jumlah besar meskipun tidak merasa lapar secara fisik; makan sendirian karena malu dengan jumlah makanan yang dikonsumsi; dan merasa jijik pada diri sendiri, depresi, atau sangat bersalah setelah episode makan berlebihan.
Kedua, penderita harus mengalami tekanan (distress) yang nyata terkait dengan perilaku makan berlebihan ini. Ketiga, episode makan berlebihan terjadi setidaknya sekali seminggu selama tiga bulan berturut-turut. Keempat, dan ini yang membedakan BED dari bulimia nervosa, episode makan berlebihan tidak disertai dengan perilaku kompensasi yang teratur seperti memuntahkan makanan, menggunakan obat pencahar, berpuasa, atau olahraga berlebihan.
DSM-5 juga mengklasifikasikan tingkat keparahan BED berdasarkan frekuensi episode per minggu: ringan (1-3 episode), sedang (4-7 episode), berat (8-13 episode), dan sangat berat (14 atau lebih episode). Klasifikasi ini membantu dalam perencanaan intervensi dan monitoring respons terhadap terapi. Baik, saya akan melanjutkan menulis artikel komprehensif tentang binge eating disorder. Berikut adalah lanjutan artikel:
Epidemiologi
Binge eating disorder merupakan gangguan makan yang paling sering dijumpai di berbagai negara, dengan prevalensi yang lebih tinggi dibandingkan anorexia nervosa dan bulimia nervosa. Berdasarkan data dari survei kesehatan mental dunia WHO (World Mental Health Surveys), prevalensi seumur hidup BED di 14 negara berpenghasilan menengah ke atas dan tinggi berkisar antara 0,8% hingga 1,9%, dengan median 1,4%. Angka ini konsisten lebih tinggi dibandingkan bulimia nervosa yang memiliki prevalensi median 0,8%.
Studi terbaru menunjukkan variasi geografis yang cukup signifikan dalam prevalensi BED. Di Australia, prevalensi seumur hidup mencapai 2,2%, menjadikannya gangguan makan dengan prevalensi tertinggi kedua setelah gangguan makan tidak spesifik lainnya. Di Amerika Serikat, prevalensi seumur hidup BED diperkirakan mencapai 0,85% untuk keseluruhan populasi, dengan angka 1,2% pada perempuan dan 0,4% pada laki-laki. Sementara itu, prevalensi 12 bulan (titik prevalensi) diperkirakan sekitar 0,44%.
Data global menunjukkan bahwa prevalensi BED pada tahun 2018-2020 diperkirakan berkisar antara 0,6-1,8% pada perempuan dewasa dan 0,3-0,7% pada laki-laki dewasa. Organisasi Kesehatan Dunia memperkirakan sekitar 17,3 juta orang di seluruh dunia mengalami BED. Angka prevalensi ini menunjukkan kecenderungan meningkat dalam beberapa dekade terakhir, sejalan dengan peningkatan angka obesitas global.
BED dapat memengaruhi semua kelompok usia, namun usia onset paling umum adalah pada akhir masa remaja hingga awal usia 20-an, dengan median usia onset sekitar 23-25 tahun. Ini sedikit lebih tua dibandingkan anorexia nervosa dan bulimia nervosa yang cenderung onset di pertengahan hingga akhir masa remaja. Data terkini menunjukkan bahwa 27% kasus gangguan makan di Australia terjadi pada kelompok usia 10-19 tahun, dengan angka ini hampir dua kali lipat sejak 2012, mengindikasikan peningkatan signifikan pada populasi remaja.
Distribusi berdasarkan jenis kelamin menunjukkan bahwa BED lebih sering dijumpai pada perempuan dibandingkan laki-laki, dengan rasio sekitar 2:1 hingga 3:1. Namun, perbandingan ini lebih seimbang dibandingkan dengan anorexia nervosa dan bulimia nervosa, dimana BED pada laki-laki relatif lebih sering terdiagnosis. Penelitian menunjukkan bahwa prevalensi seumur hidup pada perempuan sekitar 3,5% dan pada laki-laki sekitar 2%. Penting dicatat bahwa BED pada laki-laki mungkin masih underdiagnosed karena stigma dan kesalahpahaman bahwa gangguan makan hanya terjadi pada perempuan.
Studi epidemiologi juga mengidentifikasi kelompok populasi yang berisiko lebih tinggi mengalami BED. Individu dari komunitas minoritas seksual (lesbian, gay, biseksual) menunjukkan prevalensi BED yang lebih tinggi dibandingkan populasi heteroseksual. Penelitian terbaru menunjukkan bahwa remaja yang mengalami diskriminasi rasial atau etnis memiliki risiko tiga kali lipat lebih tinggi mengalami BED. Selain itu, insekuritas pangan (food insecurity) berkaitan dengan peningkatan risiko BED sebesar 1,67 kali lipat pada remaja awal.
Prevalensi BED juga sangat tinggi pada populasi dengan obesitas, terutama mereka yang mencari penanganan penurunan berat badan. Sekitar 30% individu dengan obesitas yang mencari terapi perilaku atau pembedahan bariatrik memiliki BED komorbid. Hal ini menegaskan pentingnya skrining BED pada pasien obesitas, mengingat BED dapat memengaruhi hasil intervensi penurunan berat badan.
Durasi gangguan (persistence) BED menunjukkan median sekitar 4,3 tahun, yang sedikit lebih pendek dibandingkan bulimia nervosa (6,5 tahun). Namun, terdapat variabilitas yang besar antara individu, dengan beberapa kasus berlangsung hanya sekitar satu tahun sementara kasus lain dapat bertahan lebih dari 10 tahun. Tingkat remisi spontan BED relatif lebih tinggi dibandingkan gangguan makan lain, namun risiko relaps tetap signifikan terutama tanpa intervensi yang tepat.
Yang mengkhawatirkan adalah rendahnya tingkat diagnosis dan penanganan BED. Meskipun prevalensi cukup tinggi, sebagian besar individu dengan BED tidak terdiagnosis atau menerima penanganan yang adekuat. Studi menunjukkan bahwa individu dari kelompok etnis minoritas memiliki kemungkinan setengah lebih rendah untuk didiagnosis atau menerima penanganan dibandingkan populasi kulit putih, mengindikasikan adanya disparitas akses layanan kesehatan yang perlu mendapat perhatian.
Patofisiologi dan Mekanisme Neurobiologis
Pemahaman tentang patofisiologi BED telah berkembang pesat dalam dekade terakhir. Penelitian neurobiologis menunjukkan bahwa BED melibatkan disfungsi pada beberapa sistem otak yang mengatur perilaku makan, sistem reward (penghargaan), kontrol impuls, dan regulasi emosi. Gangguan ini tidak semata-mata merupakan masalah kontrol diri atau kemauan, melainkan melibatkan perubahan neurobiologis yang kompleks.
Salah satu temuan paling konsisten adalah adanya disfungsi pada sistem dopaminergik di otak, khususnya jalur mesolimbik yang mengatur reward dan motivasi. Studi neuroimaging menunjukkan bahwa individu dengan BED memiliki respons yang berubah pada area otak yang terlibat dalam pemrosesan reward ketika dipaparkan dengan stimulus makanan. Area seperti nucleus accumbens, ventral tegmental area, dan korteks orbitofrontal menunjukkan pola aktivasi yang berbeda dibandingkan individu tanpa BED.
Sistem opioid endogen juga berperan penting dalam patofisiologi BED. Sistem ini terlibat dalam pengalaman hedonis atau kenikmatan dari makanan. Pada BED, terdapat bukti bahwa sistem opioid mungkin hyperreaktif terhadap makanan yang sangat enak (palatable), terutama makanan tinggi gula dan lemak. Hal ini dapat menjelaskan mengapa episode binge eating sering melibatkan makanan-makanan tertentu yang memberikan kepuasan sensori tinggi.
Kontrol inhibitoris (inhibitory control) atau kemampuan untuk menahan respons otomatis juga terganggu pada BED. Studi menunjukkan bahwa individu dengan BED memiliki kesulitan dalam menghambat respons terhadap stimulus makanan, yang diatur oleh korteks prefrontal dorsolateral dan korteks cingulate anterior. Defisit dalam kontrol inhibitoris ini dapat menjelaskan mengapa penderita BED mengalami kesulitan menahan keinginan makan meskipun mereka ingin berhenti.
Regulasi emosi merupakan aspek neurobiologis penting lainnya. Penelitian menunjukkan bahwa individu dengan BED sering mengalami kesulitan dalam mengidentifikasi, memahami, dan mengelola emosi mereka. Kondisi ini, yang disebut alexithymia, berkaitan dengan aktivitas abnormal pada amigdala dan insula—area otak yang memproses emosi dan interoceptive awareness (kesadaran internal tubuh). Episode binge eating sering dipicu oleh emosi negatif, dan makan berlebihan berfungsi sebagai mekanisme koping maladaptif untuk mengatasi tekanan emosional.
Sistem neuroendokrin juga terlibat dalam BED. Hormon yang mengatur nafsu makan seperti leptin, ghrelin, dan peptida YY menunjukkan pola abnormal pada individu dengan BED. Leptin, yang biasanya menandakan kenyang, mungkin kurang efektif pada BED karena resistensi leptin. Sebaliknya, ghrelin, hormon yang merangsang nafsu makan, dapat memiliki level atau sensitivitas yang berubah. Disfungsi pada aksis hipotalamus-hipofisis-adrenal (HPA axis) yang mengatur respons stres juga telah teridentifikasi, yang dapat berkontribusi pada hubungan antara stres dan episode binge eating.
Penelitian genetik menunjukkan bahwa BED memiliki komponen heritabilitas yang signifikan, dengan estimasi heritabilitas berkisar antara 40-60%. Studi pada kembar menunjukkan bahwa faktor genetik berperan penting dalam kerentanan terhadap BED. Beberapa gen kandidat yang sedang diteliti termasuk gen yang terlibat dalam sistem dopaminergik, serotonergik, dan sistem melanocortin yang mengatur nafsu makan dan metabolisme energi.
Mikrobiota usus (gut microbiome) juga muncul sebagai area penelitian yang menjanjikan. Terdapat bukti bahwa komposisi bakteri di usus dapat memengaruhi perilaku makan, mood, dan metabolisme. Komunikasi dua arah antara usus dan otak melalui aksis mikrobiota-usus-otak (gut-brain axis) melibatkan sinyal hormonal, imunologis, dan neural. Perubahan pada mikrobiota usus dapat berkontribusi pada disregulasi nafsu makan dan keinginan terhadap makanan tertentu pada BED.
Model patofisiologis integratif BED menggambarkan interaksi kompleks antara faktor genetik, neurobiologis, psikologis, dan lingkungan. Faktor-faktor ini tidak bekerja secara terpisah, melainkan saling memengaruhi dalam jalur feedforward dan feedback yang dapat memperkuat dan mempertahankan gangguan. Pemahaman tentang mekanisme ini penting untuk pengembangan intervensi yang lebih terarah dan efektif.
Faktor Risiko
BED merupakan gangguan multifaktorial dengan berbagai faktor risiko yang berinteraksi untuk meningkatkan kerentanan seseorang. Memahami faktor-faktor ini penting untuk identifikasi dini dan strategi pencegahan.
Faktor Biologis dan Genetik
Riwayat keluarga dengan gangguan makan atau gangguan psikiatrik lain meningkatkan risiko BED secara signifikan. Studi pada kembar menunjukkan bahwa sekitar 40-60% risiko BED dapat dijelaskan oleh faktor genetik. Polimorfisme genetik tertentu, khususnya yang terkait dengan sistem dopaminergik dan serotonergik, telah diasosiasikan dengan peningkatan risiko BED. Selain itu, obesitas pada masa kanak-kanak atau remaja juga merupakan faktor risiko untuk perkembangan BED di kemudian hari.
Faktor Psikologis
Berbagai karakteristik psikologis meningkatkan kerentanan terhadap BED. Harga diri rendah (low self-esteem) merupakan prediktor kuat, dimana individu yang mengalami ketidakpuasan terhadap diri sendiri lebih rentan mengembangkan pola makan yang maladaptif. Perfeksionisme, terutama tipe yang berorientasi pada standar sosial, juga berkaitan dengan risiko BED yang lebih tinggi.
Ketidakpuasan terhadap tubuh (body dissatisfaction) dan overvaluasi berat serta bentuk tubuh merupakan faktor risiko sentral. Individu yang menempatkan nilai diri mereka secara berlebihan pada penampilan fisik lebih rentan mengalami BED. Preokupasi dengan berat badan dan bentuk tubuh ini sering dimulai pada masa remaja dan dapat berkembang menjadi pola pikir yang maladaptif.
Kesulitan dalam regulasi emosi merupakan faktor risiko kunci. Individu yang memiliki kesulitan mengidentifikasi, memahami, atau mengelola emosi mereka—kondisi yang disebut alexithymia—lebih cenderung menggunakan makanan sebagai cara untuk mengatur afek negatif. Episode binge eating sering dipicu oleh emosi negatif seperti kesedihan, kecemasan, atau kebosanan, dimana makan berfungsi sebagai mekanisme koping untuk meredam perasaan yang tidak nyaman.
Impulsivitas dan kesulitan kontrol impuls juga merupakan faktor risiko signifikan. Individu dengan kecenderungan bertindak tanpa mempertimbangkan konsekuensi atau kesulitan menunda gratifikasi lebih rentan mengalami episode binge eating. Trait impulsif ini dapat mencerminkan disfungsi pada korteks prefrontal yang mengatur kontrol eksekutif.
Faktor Perilaku dan Riwayat Diet
Riwayat diet ketat atau pola makan restriktif merupakan faktor risiko yang kuat untuk BED. Paradoksnya, upaya untuk membatasi asupan makanan secara ketat dapat memicu episode binge eating. Siklus restriksi-binge eating ini sering dimulai dengan diet yang bertujuan menurunkan berat badan, namun diet yang terlalu ketat dapat menyebabkan rasa lapar fisiologis dan psikologis yang intens, yang kemudian memicu episode makan berlebihan.
Teasing atau bullying terkait berat badan, terutama selama masa kanak-kanak atau remaja, meningkatkan risiko BED secara signifikan. Pengalaman diejek atau dikritik tentang berat atau bentuk tubuh dapat menyebabkan internalisasi standar penampilan yang tidak realistis dan ketidakpuasan tubuh yang mendalam.
Faktor Sosial dan Lingkungan
Tekanan sosial dan media massa yang mempromosikan standar kecantikan yang tidak realistis berkontribusi pada risiko BED. Paparan terus-menerus terhadap gambar tubuh ideal yang sangat kurus atau berotot dapat menyebabkan ketidakpuasan tubuh dan keinginan untuk mengubah penampilan melalui diet atau latihan berlebihan.
Trauma dan pengalaman hidup yang merugikan (adverse life experiences) meningkatkan risiko BED secara substansial. Ini termasuk riwayat pelecehan fisik, seksual, atau emosional, penelantaran, atau peristiwa traumatis lainnya. Studi menunjukkan bahwa individu yang mengalami trauma masa kanak-kanak memiliki risiko 2-3 kali lipat lebih tinggi mengalami gangguan makan termasuk BED. Episode binge eating dapat berfungsi sebagai strategi disosiatif untuk melepaskan diri dari ingatan atau perasaan yang terkait dengan trauma.
Insekuritas pangan paradoksnya juga meningkatkan risiko BED. Individu yang mengalami ketidakpastian akses terhadap makanan yang cukup dan bergizi memiliki peluang 1,67 kali lebih tinggi mengalami BED atau BED sub-threshold. Fluktuasi antara periode kekurangan makanan dan kesempatan untuk makan dapat memicu pola binge eating.
Stres kronis dan peristiwa kehidupan yang penuh tekanan berkontribusi pada perkembangan dan pemeliharaan BED. Stres dapat memicu episode binge eating melalui berbagai mekanisme, termasuk aktivasi sistem HPA axis, perubahan dalam hormon nafsu makan, dan peningkatan keinginan untuk mencari makanan sebagai comfort.
Faktor Demografi dan Sosiokultural
Meskipun BED dapat memengaruhi semua kelompok demografis, beberapa populasi memiliki risiko yang lebih tinggi. Minoritas seksual (individu lesbian, gay, biseksual) menunjukkan prevalensi BED yang lebih tinggi, kemungkinan terkait dengan stres minoritas dan diskriminasi yang mereka alami. Pengalaman diskriminasi rasial atau etnis juga merupakan faktor risiko, dengan remaja yang mengalami diskriminasi memiliki risiko tiga kali lipat lebih tinggi.
Status sosial ekonomi yang lebih rendah telah dikaitkan dengan peningkatan risiko BED di beberapa studi, meskipun BED ditemukan di semua kelas sosial ekonomi. Akses terbatas ke makanan bergizi, stres finansial, dan kurangnya sumber daya untuk perawatan kesehatan mental dapat berkontribusi pada peningkatan risiko ini.
Faktor Komorbid
Kehadiran gangguan psikiatrik lain secara signifikan meningkatkan risiko BED. Depresi, gangguan kecemasan, gangguan stres pasca-trauma (PTSD), dan gangguan penggunaan zat semua dikaitkan dengan peningkatan risiko BED. Sekitar 65% individu dengan BED mengalami komorbiditas dengan depresi, dan tingkat kecemasan yang tinggi juga sangat umum. Gangguan kepribadian, terutama borderline personality disorder, juga meningkatkan kerentanan terhadap BED.
Manifestasi Klinis dan Komplikasi
Manifestasi klinis BED tidak terbatas pada perilaku makan yang abnormal, tetapi mencakup spektrum luas dampak fisik, psikologis, dan sosial yang dapat sangat mengganggu kualitas hidup individu.
Manifestasi Perilaku
Episode binge eating merupakan manifestasi kardinal BED. Episode ini ditandai dengan konsumsi makanan dalam jumlah yang objektif besar—jauh melebihi apa yang dimakan kebanyakan orang dalam periode waktu yang sama—biasanya dalam waktu kurang dari dua jam. Selama episode, individu mengalami perasaan kehilangan kendali yang nyata, merasa tidak mampu menghentikan makan atau mengontrol jumlah yang dimakan.
Beberapa ciri khas perilaku makan selama episode binge termasuk makan dengan sangat cepat, jauh lebih cepat dari kecepatan makan normal. Individu sering makan sampai merasa sangat tidak nyaman secara fisik karena terlalu kenyang. Seringkali, episode binge eating terjadi tanpa rasa lapar fisiologis yang sebenarnya—individu makan karena dipicu oleh emosi atau situasi tertentu, bukan karena kebutuhan energi tubuh.
Karena rasa malu yang intens, individu dengan BED biasanya makan sendirian selama episode binge. Mereka mungkin menyembunyikan makanan, makan secara diam-diam, atau menunggu hingga sendirian untuk melakukan episode binge. Perilaku rahasia ini dapat menyebabkan isolasi sosial dan memperburuk perasaan malu dan bersalah.
Setelah episode binge eating, individu mengalami tekanan emosional yang signifikan. Perasaan jijik pada diri sendiri, depresi berat, atau rasa bersalah yang intens adalah umum. Berbeda dengan bulimia nervosa, individu dengan BED tidak secara teratur terlibat dalam perilaku kompensasi seperti memuntahkan makanan, menggunakan obat pencahar, atau berolahraga berlebihan.
Manifestasi Psikologis
Dampak psikologis BED sangat signifikan dan sering menjadi sumber penderitaan utama bagi individu. Depresi adalah komorbiditas psikologis yang paling umum, dengan sekitar 65% individu dengan BED mengalami gejala depresi. Tingkat keparahan gejala depresi sering berkorelasi dengan frekuensi episode binge eating.
Kecemasan yang tinggi, baik kecemasan umum maupun kecemasan spesifik terkait makanan, berat badan, dan bentuk tubuh, sangat umum. Individu mungkin mengalami preokupasi yang intens tentang berat badan mereka, penampilan, atau apa yang orang lain pikirkan tentang mereka. Gangguan panik dan gangguan kecemasan sosial juga lebih sering dijumpai pada populasi BED.
Harga diri yang rendah merupakan manifestasi psikologis yang konsisten. Individu dengan BED sering mengevaluasi diri mereka secara negatif, terutama terkait dengan kemampuan mereka untuk mengontrol perilaku makan. Siklus binge eating, diikuti oleh rasa malu dan upaya yang gagal untuk mengendalikan makan, dapat semakin mengikis harga diri.
Body image disturbance atau gangguan citra tubuh adalah fitur psikologis sentral. Individu dengan BED sering mengalami ketidakpuasan tubuh yang intens, preokupasi dengan berat dan bentuk tubuh, dan overvaluasi penampilan fisik sebagai penentu nilai diri. Persepsi tubuh yang terdistorsi dapat berkontribui pada tekanan psikologis dan mempertahankan siklus binge eating.
Komplikasi Medis Fisik
Studi kohort besar terbaru dari Inggris menunjukkan bahwa individu dengan gangguan makan, termasuk BED, memiliki risiko yang sangat meningkat untuk berbagai kondisi kesehatan fisik yang merugikan. Dalam tahun pertama setelah diagnosis, individu dengan gangguan makan memiliki risiko enam kali lipat lebih tinggi mengalami gagal ginjal dan hampir tujuh kali lipat lebih tinggi untuk penyakit hati. Risiko ini tetap meningkat bahkan setelah lima tahun, dengan rasio hazard 2,6 untuk gagal ginjal dan 3,7 untuk penyakit hati.
Obesitas adalah komplikasi fisik yang paling umum terkait dengan BED. Sekitar 65% individu dengan BED memiliki obesitas, dan risiko obesitas meningkat dengan durasi dan keparahan gangguan. Obesitas pada BED tidak hanya merupakan masalah estetika, tetapi membawa risiko signifikan untuk berbagai penyakit kronis.
Sindrom metabolik, yang mencakup kombinasi obesitas abdominal, dislipidemia, hipertensi, dan resistensi insulin, sangat umum pada BED. Prevalensi sindrom metabolik pada individu dengan BED dapat mencapai 40-50%, jauh lebih tinggi dibandingkan populasi umum. Sindrom metabolik meningkatkan risiko diabetes tipe 2, penyakit kardiovaskular, dan stroke.
Diabetes melitus tipe 2 adalah komplikasi metabolik mayor pada BED. Episode binge eating yang sering, terutama melibatkan makanan tinggi gula dan lemak, dapat menyebabkan fluktuasi glukosa darah yang ekstrem dan memperburuk resistensi insulin. Kontrol glikemik pada pasien diabetes dengan BED komorbid sering lebih buruk dibandingkan pasien diabetes tanpa BED.
Penyakit kardiovaskular juga meningkat pada BED. Hipertensi, dislipidemia (kolesterol dan trigliserida abnormal), dan peningkatan risiko penyakit jantung koroner telah terdokumentasi. Kombinasi obesitas, sindrom metabolik, dan stres kronis berkontribui pada beban kardiovaskular yang tinggi.
Gangguan gastrointestinal adalah umum, termasuk gastroesophageal reflux disease (GERD), gastroparesis (pengosongan lambung yang terlambat), dan konstipasi atau diare. Episode makan dalam jumlah besar dapat menyebabkan peregangan lambung yang berlebihan dan ketidaknyamanan abdomen.
Sleep apnea obstruktif meningkat pada individu dengan BED, terutama yang juga mengalami obesitas. Kondisi ini, dimana pernapasan terganggu berulang kali selama tidur, dapat menyebabkan kelelahan kronis, gangguan kognitif, dan meningkatkan risiko hipertensi dan penyakit jantung.
Komplikasi Psikososial
Gangguan fungsi sosial dan okupasional adalah signifikan. Individu dengan BED mungkin menghindari situasi sosial yang melibatkan makanan karena malu tentang perilaku makan mereka. Isolasi sosial dapat memperburuk depresi dan kecemasan, menciptakan siklus yang memperburuk kondisi.
Kualitas hidup secara keseluruhan sangat terganggu pada BED. Studi menunjukkan bahwa individu dengan BED melaporkan kualitas hidup yang lebih rendah dibandingkan populasi umum dan bahkan lebih rendah dari beberapa kondisi medis kronis lainnya. Gangguan mencakup fungsi fisik, kesehatan mental, fungsi sosial, dan vitalitas umum.
Produktivitas kerja dan akademik dapat menurun. Preokupasi dengan makanan, berat badan, dan episode binge eating dapat mengganggu konsentrasi dan kinerja. Kelelahan, masalah kesehatan terkait, dan gejala depresi atau kecemasan juga berkontribusi pada penurunan fungsi okupasional.
Hubungan interpersonal sering terganggu. Kerahasiaan seputar episode binge eating, perasaan malu, dan mood yang fluktuatif dapat menegangkan hubungan dengan keluarga, teman, dan pasangan romantis. Kesulitan dalam komunikasi emosional dan keintiman dapat memperburuk masalah relasional.
Risiko Mortalitas
Yang paling serius, BED dikaitkan dengan peningkatan risiko mortalitas. Studi kohort besar menunjukkan bahwa dalam tahun pertama setelah diagnosis gangguan makan, risiko kematian semua sebab lebih dari empat kali lipat lebih tinggi, dengan risiko kematian tidak alami (termasuk bunuh diri) lima kali lipat lebih tinggi. Risiko ini bertahan dalam jangka panjang, dengan 95 kematian berlebih per 10.000 individu pada 10 tahun.
Risiko bunuh diri pada individu dengan gangguan makan, termasuk BED, meningkat 13,7 kali lipat dalam tahun pertama dan tetap meningkat pada 10 tahun (rasio hazard 2,7). Komorbiditas dengan depresi berat, rasa putus asa, dan isolasi sosial berkontribui pada risiko bunuh diri yang tinggi ini. Individu dengan BED memiliki risiko tujuh kali lipat lebih tinggi untuk perilaku menyakiti diri sendiri dalam tahun pertama setelah diagnosis.
Diagnosis
Diagnosis BED memerlukan evaluasi klinis komprehensif yang mencakup wawancara terstruktur, penilaian riwayat medis dan psikiatrik, serta, dalam beberapa kasus, pemeriksaan fisik dan laboratorium untuk menilai komplikasi medis.
Kriteria Diagnostik DSM-5
Diagnosis BED berdasarkan DSM-5 memerlukan pemenuhan beberapa kriteria spesifik:
- Episode makan berlebihan yang berulang, dimana episode didefinisikan sebagai:
- Makan dalam periode waktu tertentu (misalnya dalam 2 jam) jumlah makanan yang jelas lebih besar dari yang dimakan kebanyakan orang dalam periode dan keadaan yang sama
- Rasa kehilangan kendali atas perilaku makan selama episode (misalnya, perasaan tidak dapat berhenti makan atau mengontrol apa atau berapa banyak yang dimakan)
- Episode makan berlebihan disertai dengan tiga (atau lebih) dari berikut:
- Makan jauh lebih cepat dari biasanya
- Makan sampai merasa tidak nyaman karena terlalu kenyang
- Makan dalam jumlah besar ketika tidak merasa lapar secara fisik
- Makan sendirian karena malu dengan jumlah makanan yang dikonsumsi
- Merasa jijik pada diri sendiri, depresi, atau sangat bersalah setelahnya
- Tekanan nyata (marked distress) terkait dengan binge eating
- Frekuensi: Episode binge eating terjadi rata-rata setidaknya sekali seminggu selama tiga bulan
- Tidak disertai dengan perilaku kompensasi yang tidak tepat secara teratur seperti pada bulimia nervosa, dan tidak terjadi secara eksklusif selama episode anorexia nervosa, bulimia nervosa, atau avoidant/restrictive food intake disorder
DSM-5 juga menetapkan tingkat keparahan berdasarkan frekuensi episode per minggu: ringan (1-3 episode), sedang (4-7 episode), berat (8-13 episode), dan sangat berat (14 atau lebih episode).
Wawancara dan Asesmen Klinis
Wawancara klinis terstruktur atau semi-terstruktur merupakan metode utama untuk diagnosis. Eating Disorder Examination (EDE) adalah wawancara investigasi standar emas yang memberikan informasi detail tentang psikopatologi gangguan makan selama 28 hari terakhir. EDE menilai empat subskala: restraint (pembatasan makan), eating concern (kekhawatiran tentang makan), shape concern (kekhawatiran tentang bentuk tubuh), dan weight concern (kekhawatiran tentang berat badan).
Untuk skrining yang lebih cepat, kuesioner lapor diri seperti Eating Disorder Examination-Questionnaire (EDE-Q) atau Questionnaire for Eating Disorder Diagnoses (Q-EDD) dapat digunakan. Binge Eating Scale (BES) adalah instrumen yang khusus dirancang untuk mengukur tingkat keparahan perilaku binge eating.
Wawancara harus mencakup pertanyaan tentang pola makan, termasuk frekuensi dan durasi episode binge, jenis dan jumlah makanan yang dikonsumsi, pemicu episode, dan perasaan selama dan setelah episode. Penting juga untuk menanyakan tentang upaya mengendalikan berat badan, riwayat diet, dan penggunaan metode kompensasi.
Evaluasi Psikiatrik
Evaluasi komprehensif untuk kondisi psikiatrik komorbid sangat penting. Skrining untuk depresi dapat menggunakan Patient Health Questionnaire-9 (PHQ-9) atau Beck Depression Inventory (BDI). Untuk kecemasan, Generalized Anxiety Disorder-7 (GAD-7) adalah instrumen yang berguna. Riwayat trauma harus dinilai dengan sensitif menggunakan instrumen seperti Adverse Childhood Experiences (ACE) questionnaire atau Post-Traumatic Stress Disorder Checklist (PCL-5).
Evaluasi juga harus mencakup asesmen risiko bunuh diri dan menyakiti diri sendiri, mengingat tingginya prevalensi ide bunuh diri pada populasi dengan gangguan makan. Pertanyaan langsung tentang pikiran bunuh diri, rencana, dan akses terhadap cara untuk bunuh diri adalah penting.
Pemeriksaan Fisik dan Laboratorium
Meskipun BED terutama adalah diagnosis klinis berdasarkan kriteria perilaku, pemeriksaan fisik dan tes laboratorium penting untuk menilai komplikasi medis dan menyingkirkan penyebab organik lain.
Pemeriksaan fisik harus mencakup pengukuran tinggi dan berat badan untuk menghitung BMI, pengukuran lingkar pinggang untuk menilai obesitas abdominal, dan pengukuran tanda vital termasuk tekanan darah dan denyut jantung. Pemeriksaan sistem kardiovaskular, gastrointestinal, dan endokrin dapat mengidentifikasi komplikasi terkait.
Tes laboratorium yang direkomendasikan termasuk:
- Panel metabolik komprehensif untuk menilai fungsi ginjal, elektrolit, dan glukosa darah
- Hemoglobin A1c untuk skrining diabetes atau prediabetes
- Profil lipid (kolesterol total, LDL, HDL, trigliserida)
- Tes fungsi hati (AST, ALT, GGT)
- Tes fungsi tiroid (TSH) untuk menyingkirkan hipotiroidisme
- Vitamin D dan status mikronutrien lain jika ada indikasi
Diagnosis Diferensial
Penting untuk membedakan BED dari kondisi lain yang dapat menyerupainya:
- Bulimia nervosa: Dibedakan dengan adanya perilaku kompensasi yang teratur (muntah, penggunaan pencahar, olahraga berlebihan) pada bulimia, yang tidak ada pada BED
- Anorexia nervosa tipe binge-eating/purging: Pada kondisi ini, berat badan sangat rendah (BMI < 18,5), yang tidak khas untuk BED
- Gangguan makan tidak spesifik lainnya (other specified feeding or eating disorder/OSFED): Diagnosis ini digunakan ketika gejala tidak sepenuhnya memenuhi kriteria untuk gangguan makan tertentu, misalnya jika frekuensi episode binge kurang dari sekali per minggu
- Hiperfagia pada kondisi medis: Beberapa kondisi neurologis seperti sindrom Prader-Willi atau lesi hipotalamus dapat menyebabkan makan berlebihan, tetapi tanpa tekanan psikologis yang karakteristik untuk BED
- Gangguan penggunaan zat: Episode makan berlebihan yang terjadi hanya saat intoksikasi atau withdrawal tidak memenuhi kriteria BED
- Depresi atipikal: Beberapa orang dengan depresi mengalami peningkatan nafsu makan, tetapi ini tidak sama dengan episode binge eating yang melibatkan kehilangan kendali
Penatalaksanaan
Penatalaksanaan BED memerlukan pendekatan multidimensional yang mencakup intervensi psikologis, farmakologis, nutrisi, dan dalam beberapa kasus, intervensi medis untuk komplikasi terkait. Tujuan utama terapi adalah mengurangi atau menghilangkan episode binge eating, mengatasi psikopatologi terkait (misalnya preokupasi dengan berat dan bentuk tubuh, regulasi emosi), menangani komorbiditas psikiatrik dan medis, serta meningkatkan kualitas hidup secara keseluruhan.
Psikoterapi
Psikoterapi merupakan lini pertama dalam penanganan BED dan memiliki basis bukti yang paling kuat.
Cognitive Behavioral Therapy (CBT) adalah terapi dengan bukti terkuat untuk BED. Enhanced Cognitive Behavioral Therapy (CBT-E), versi yang disempurnakan dan diadaptasi khusus untuk gangguan makan, telah menunjukkan efektivitas tinggi. CBT-E untuk BED biasanya berlangsung 20 sesi selama 20 minggu dan fokus pada beberapa mekanisme inti yang mempertahankan gangguan.
Komponen utama CBT-E termasuk: (1) psikoedukasi tentang gangguan makan dan prinsip terapi; (2) pemantauan diri yang ketat terhadap pola makan, pikiran, dan perasaan; (3) pengenalan pola makan teratur dengan tiga kali makan utama dan 2-3 kali snack terencana untuk mengurangi restriksi makanan dan lapar ekstrem yang memicu binge; (4) identifikasi dan modifikasi pikiran disfungsional tentang makanan, berat, dan bentuk tubuh; (5) pengembangan strategi pemecahan masalah untuk menghadapi situasi berisiko tinggi; dan (6) pencegahan relaps. Studi menunjukkan bahwa sekitar 40-60% pasien mencapai abstinen dari binge eating dengan CBT-E, dengan efek yang bertahan dalam jangka panjang.
Dialectical Behavior Therapy (DBT) merupakan alternatif yang menjanjikan, terutama untuk individu dengan kesulitan regulasi emosi yang signifikan atau komorbiditas dengan borderline personality traits. DBT berfokus pada pengembangan keterampilan dalam empat area: mindfulness (kesadaran penuh), toleransi terhadap tekanan (distress tolerance), regulasi emosi, dan efektivitas interpersonal. Untuk BED, DBT membantu individu mengidentifikasi pemicu emosional untuk binge eating dan mengembangkan strategi alternatif untuk mengelola emosi negatif.
Penelitian komparatif terbaru menunjukkan bahwa DBT mungkin lebih efektif untuk individu dengan tingkat emotional eating yang tinggi, kesulitan mengidentifikasi perasaan, atau overvaluasi berat dan bentuk tubuh yang rendah. Sebaliknya, CBT mungkin lebih efektif untuk individu dengan overvaluasi berat dan bentuk tubuh yang tinggi, kepedulian terhadap bentuk tubuh yang tinggi, atau harga diri yang rendah.
Interpersonal Psychotherapy (IPT) adalah terapi yang berfokus pada perbaikan fungsi interpersonal dan mengatasi masalah hubungan yang mungkin berkontribusi pada atau mempertahankan episode binge eating. IPT tidak secara langsung menargetkan perilaku makan, tetapi bekerja berdasarkan premis bahwa perbaikan masalah interpersonal akan mengurangi stres emosional yang memicu binge eating. Studi menunjukkan bahwa IPT dapat sama efektifnya dengan CBT dalam jangka panjang, meskipun efeknya mungkin memerlukan waktu lebih lama untuk muncul.
Intervensi Digital dan Telemedicine
Mengingat kesenjangan yang signifikan antara kebutuhan dan ketersediaan layanan, intervensi berbasis digital telah berkembang sebagai pilihan yang menjanjikan. Versi digital dari CBT-E yang dipimpin oleh program (programme-led) tanpa dukungan terapis langsung telah menunjukkan hasil yang menggembirakan. Studi pilot terbaru dari National Health Service (NHS) Inggris menunjukkan bahwa pasien yang menyelesaikan program digital CBT-E mengalami pengurangan signifikan dalam frekuensi binge eating, psikopatologi gangguan makan, dan gejala depresi.
Intervensi telemedicine juga menunjukkan keamanan dan efektivitas yang baik. Email, aplikasi smartphone, dan pesan teks dapat digunakan untuk memberikan dukungan, meningkatkan kepatuhan, dan memperbaiki komunikasi pasien-terapis. Tinjauan sistematis terbaru menyimpulkan bahwa intervensi telemedicine sebagai pelengkap terapi tatap muka aman, membantu, motivasi, meningkatkan tingkat retensi, dan mengurangi gejala gangguan makan.
Farmakoterapi
Meskipun psikoterapi adalah lini pertama, farmakoterapi dapat menjadi tambahan yang berguna, terutama ketika terapi psikologis tidak mencukupi, tidak tersedia, atau ketika terdapat komorbiditas psikiatrik yang signifikan.
Lisdexamfetamine dimesylate adalah satu-satunya obat yang disetujui oleh FDA Amerika Serikat untuk pengobatan BED sedang hingga berat pada dewasa. Lisdexamfetamine adalah prodrug stimulan yang dikonversi menjadi dexamphetamine di dalam tubuh. Pada dosis 50-70 mg per hari, lisdexamfetamine telah menunjukkan efektivitas dalam mengurangi frekuensi episode binge eating dan obsessive-compulsive features terkait dengan makan.
Mekanisme kerja lisdexamfetamine pada BED tidak sepenuhnya dipahami, tetapi diduga melibatkan modulasi sistem dopaminergik dan noradrenergik yang memengaruhi kontrol impuls dan sistem reward. Efek samping potensial termasuk mulut kering, insomnia, sakit kepala, peningkatan denyut jantung dan tekanan darah, serta potensi penyalahgunaan. Oleh karena itu, penggunaan harus dimonitor dengan ketat, terutama pada individu dengan riwayat penggunaan zat.
Selective Serotonin Reuptake Inhibitors (SSRIs), khususnya fluoxetine, telah menunjukkan beberapa efektivitas dalam mengurangi frekuensi binge eating pada dosis yang lebih tinggi (60-80 mg per hari). Meskipun fluoxetine disetujui FDA untuk bulimia nervosa, penggunaannya untuk BED adalah off-label. SSRIs lain seperti sertraline dan escitalopram juga telah dipelajari dengan hasil yang bervariasi.
SSRIs bekerja dengan meningkatkan ketersediaan serotonin di otak, yang dapat memengaruhi mood, nafsu makan, dan kontrol impuls. SSRIs terutama bermanfaat ketika terdapat komorbiditas dengan depresi atau gangguan kecemasan. Efek samping umum termasuk mual, disfungsi seksual, dan peningkatan berat badan pada sebagian pasien, yang dapat menjadi perhatian pada individu dengan BED.
Agonist GLP-1 receptor seperti semaglutide dan liraglutide sedang diteliti untuk pengobatan BED, terutama pada individu dengan obesitas komorbid. Obat-obat ini, yang awalnya dikembangkan untuk diabetes tipe 2, bekerja dengan meningkatkan rasa kenyang, menunda pengosongan lambung, dan mengurangi nafsu makan. Studi awal menunjukkan bahwa agonist GLP-1 dapat mengurangi episode binge eating dan membantu penurunan berat badan. Namun, penggunaan untuk BED masih dalam tahap investigasi dan belum disetujui oleh otoritas regulatori untuk indikasi ini.
Obat lain yang sedang dipelajari termasuk topiramate (antikonvulsan yang menunjukkan pengurangan binge eating dan penurunan berat badan dalam beberapa studi tetapi dengan efek samping kognitif yang signifikan), naltrexone (antagonis opioid yang dapat mengurangi aspek rewarding dari makanan), dan bahkan psilocybin (zat psikedelik yang sedang diteliti untuk berbagai gangguan psikiatrik termasuk gangguan makan).
Tinjauan terkini tentang farmakologi gangguan makan menunjukkan bahwa dalam 15 tahun terakhir (2010-2025), kemajuan dalam pengembangan obat untuk gangguan makan, termasuk BED, masih terbatas. Dari 43 uji klinis fase I-IV yang diidentifikasi untuk berbagai gangguan makan, hanya 27 yang fokus pada BED, dan hanya lisdexamfetamine yang menerima persetujuan FDA untuk BED selama periode ini. Hal ini menekankan perlunya riset lebih lanjut dan investasi dalam pengembangan farmakologi untuk gangguan makan.
Konseling Nutrisi
Konseling nutrisi oleh ahli gizi terdaftar yang memiliki pengalaman dalam gangguan makan adalah komponen penting dari penanganan komprehensif. Fokus konseling nutrisi termasuk:
- Normalisasi pola makan dengan pengenalan makan teratur tiga kali sehari plus snack terencana
- Menghilangkan restriksi makanan yang ketat dan makanan “terlarang” yang sering memicu binge
- Edukasi tentang nutrisi seimbang dan ukuran porsi yang tepat
- Pengembangan keterampilan dalam perencanaan makan dan pembelian bahan makanan
- Membantu individu membedakan lapar fisik dari lapar emosional
- Mendukung mindful eating atau makan dengan kesadaran penuh
Penting dicatat bahwa fokus utama tidak pada penurunan berat badan, tetapi pada normalisasi perilaku makan. Banyak panduan klinis menekankan bahwa abstinen dari binge eating harus menjadi tujuan primer, dengan penurunan berat badan (jika diperlukan) sebagai tujuan sekunder yang diatasi setelah perilaku binge eating stabil.
Intervensi Medis untuk Komplikasi
Individu dengan BED dan obesitas komorbid mungkin memerlukan intervensi medis untuk mengelola komplikasi metabolik dan kardiovaskular. Ini dapat termasuk pengobatan untuk hipertensi, dislipidemia, diabetes tipe 2, dan kondisi terkait lainnya. Penting bahwa intervensi ini dikoordinasikan dengan penanganan BED untuk memastikan pendekatan yang terintegrasi.
Untuk individu dengan obesitas berat (BMI ≥ 40 atau BMI ≥ 35 dengan komorbiditas serius) yang tidak merespons terhadap terapi konservatif, pembedahan bariatrik dapat dipertimbangkan. Namun, keberadaan BED yang tidak terkontrol secara tradisional dianggap sebagai kontraindikasi relatif untuk pembedahan bariatrik karena kekhawatiran tentang hasil yang lebih buruk. Evaluasi dan penanganan BED yang komprehensif sebelum dan setelah pembedahan bariatrik sangat penting.
Dukungan Kelompok dan Program Swadaya
Program berbasis kelompok dan dukungan sebaya dapat menjadi tambahan yang berharga untuk terapi individual. Overeaters Anonymous (OA) adalah program 12-langkah yang diadaptasi dari model Alcoholics Anonymous untuk individu dengan masalah makan kompulsif. Meskipun basis bukti untuk OA lebih terbatas dibandingkan psikoterapi formal, beberapa individu menemukan dukungan dan struktur dari kelompok ini sangat membantu.

Prognosis dan Perjalanan Penyakit
Prognosis BED bervariasi luas antar individu, dengan beberapa mencapai remisi lengkap sementara yang lain mengalami perjalanan kronis atau berulang.
Tingkat remisi spontan BED relatif lebih tinggi dibandingkan gangguan makan lain. Studi longitudinal menunjukkan bahwa sekitar 30-40% individu dengan BED dapat mengalami remisi spontan dalam beberapa tahun tanpa terapi formal. Namun, tingkat kekambuhan (relapse) tetap signifikan, dengan sekitar 30-50% individu yang mencapai remisi mengalami setidaknya satu episode kekambuhan dalam 5 tahun berikutnya.
Dengan terapi yang tepat, prognosis dapat sangat membaik. Studi menunjukkan bahwa CBT-E dapat menghasilkan abstinen dari binge eating pada 40-60% pasien, dengan efek yang bertahan hingga 60 bulan atau lebih dalam beberapa studi follow-up. Kombinasi psikoterapi dan farmakoterapi mungkin meningkatkan hasil, meskipun bukti untuk pendekatan kombinasi masih berkembang.
Faktor yang memprediksi prognosis yang lebih baik termasuk: onset yang lebih lambat, durasi gangguan yang lebih pendek sebelum pengobatan, tidak adanya komorbiditas psikiatrik yang berat, dukungan sosial yang baik, motivasi yang tinggi untuk perubahan, dan keterlibatan dalam terapi yang konsisten. Sebaliknya, prognosis yang lebih buruk dikaitkan dengan: komorbiditas psikiatrik yang signifikan (terutama depresi berat, gangguan kepribadian), riwayat trauma atau pelecehan, overvaluasi yang ekstrem terhadap berat dan bentuk tubuh, dan obesitas berat.
Studi yang mengikuti individu dengan BED dari masa remaja hingga dewasa menunjukkan bahwa sekitar 20-30% terus memiliki gejala gangguan makan yang signifikan setelah 5-10 tahun. Sebagian individu dapat bertransisi ke gangguan makan lain (misalnya bulimia nervosa atau gangguan makan tidak spesifik lainnya) selama perjalanan penyakit.
Dampak jangka panjang pada kesehatan fisik juga penting untuk dipertimbangkan. Individu dengan BED yang berkepanjangan dan tidak terobati memiliki risiko yang meningkat untuk komplikasi metabolik dan kardiovaskular yang serius. Studi kohort besar terbaru menunjukkan bahwa bahkan setelah 10 tahun, individu dengan riwayat gangguan makan masih memiliki peningkatan mortalitas dan morbiditas dibandingkan populasi umum, dengan 95 kematian berlebih per 10.000 individu.
Penelitian terkini tentang operasionalisasi pemulihan (recovery) gangguan makan menekankan pentingnya pendekatan komprehensif yang mencakup domain fisik (BMI dalam rentang sehat), perilaku (tidak ada binge eating, muntah, atau puasa dalam 3-6 bulan terakhir), dan kognitif (skor kekhawatiran tentang berat, bentuk, dan makan dalam rentang normal). Studi menunjukkan bahwa pemulihan yang stabil, yang memenuhi semua tiga domain ini, menunjukkan tingkat stabilitas yang tinggi (77-86%) dan tingkat relaps yang rendah (7-15%) selama follow-up satu tahun.
Kesimpulan
Binge eating disorder adalah gangguan makan yang serius dan umum yang membawa beban signifikan bagi individu yang terkena dampaknya, baik dari segi kesehatan fisik maupun psikologis. Dengan prevalensi seumur hidup yang diperkirakan mencapai 1,4-2,2% di berbagai populasi, BED memengaruhi jutaan orang di seluruh dunia, namun sering tidak terdiagnosis dan tidak terobati. Memahami kompleksitas BED—mulai dari mekanisme neurobiologis yang mendasarinya, faktor risiko multifaktorial, hingga spektrum luas manifestasi klinis dan komplikasi—adalah fundamental untuk identifikasi dini dan intervensi yang efektif.
Patofisiologi BED melibatkan interaksi kompleks antara sistem neurobiologis yang mengatur reward, kontrol impuls, dan regulasi emosi. Disfungsi pada jalur dopaminergik, opioid, dan sistem lain berkontribui pada kesulitan mengontrol perilaku makan dan pengalaman kehilangan kendali yang karakteristik untuk gangguan ini. Faktor genetik, psikologis, dan lingkungan semua berperan dalam kerentanan terhadap BED, menekankan perlunya pendekatan biopsikososial dalam pemahaman dan penanganan.
Dampak BED melampaui perilaku makan yang terganggu. Komplikasi medis yang serius termasuk obesitas, sindrom metabolik, diabetes tipe 2, penyakit kardiovaskular, dan peningkatan mortalitas telah terdokumentasi dengan baik. Beban psikologis yang meliputi depresi, kecemasan, harga diri rendah, dan penurunan kualitas hidup yang signifikan menambah kompleksitas kondisi ini. Studi terkini menekankan peningkatan risiko yang substansial untuk komplikasi medis serius, termasuk gagal ginjal dan penyakit hati, serta peningkatan mortalitas yang bertahan dalam jangka panjang.
Diagnosis yang akurat berdasarkan kriteria DSM-5, dikombinasikan dengan evaluasi komprehensif untuk komorbiditas psikiatrik dan komplikasi medis, adalah langkah kritis untuk penanganan yang efektif. Namun, tingkat diagnosis dan penanganan yang rendah, terutama di komunitas minoritas dan populasi yang kurang terlayani, tetap menjadi tantangan yang perlu diatasi melalui peningkatan kesadaran dan akses ke layanan kesehatan.
Penatalaksanaan BED telah menunjukkan kemajuan yang signifikan, dengan bukti kuat untuk efektivitas psikoterapi, terutama CBT-E. Pendekatan terapeutik yang disesuaikan dengan karakteristik individu—seperti penggunaan DBT untuk mereka dengan kesulitan regulasi emosi yang signifikan—menjanjikan hasil yang lebih baik. Inovasi dalam penyediaan layanan, termasuk intervensi digital dan telemedicine, menawarkan harapan untuk menjembatani kesenjangan akses ke perawatan. Sementara itu, opsi farmakologis, meskipun terbatas, dapat menjadi tambahan yang berguna, terutama ketika psikoterapi saja tidak mencukupi.
Namun, kemajuan dalam farmakologi untuk BED masih tertinggal, dengan hanya satu obat yang disetujui FDA dalam 15 tahun terakhir. Hal ini menekankan kebutuhan mendesak untuk investasi lebih besar dalam penelitian gangguan makan dan pengembangan terapi baru. Penelitian yang sedang berlangsung tentang agen-agen baru, termasuk agonist GLP-1 receptor dan bahkan psilocybin, menawarkan arah yang menjanjikan untuk masa depan.
Prognosis BED dapat bervariasi, tetapi dengan intervensi yang tepat dan komprehensif, banyak individu dapat mencapai pemulihan yang stabil dan meningkatkan kualitas hidup mereka secara signifikan. Pendekatan yang mengintegrasikan terapi psikologis, intervensi nutrisi, manajemen farmakologis ketika diperlukan, dan penanganan komplikasi medis memberikan peluang terbaik untuk pemulihan jangka panjang.
Ke depan, prioritas harus ditempatkan pada peningkatan kesadaran tentang BED di kalangan profesional kesehatan dan masyarakat umum, pengurangan stigma terkait gangguan makan, peningkatan akses ke layanan diagnosis dan terapi yang berkualitas, dan investasi dalam penelitian untuk memahami lebih baik mekanisme gangguan dan mengembangkan intervensi yang lebih efektif. Hanya melalui pendekatan multifaset dan komitmen berkelanjutan untuk penelitian dan perawatan klinis, kita dapat berharap untuk mengurangi beban signifikan yang ditimbulkan oleh BED bagi individu, keluarga, dan sistem kesehatan di seluruh dunia.
Daftar Pustaka
Allam, A. R., & Attia, E. (2025). Recent developments in treatments for eating disorders. Neurotherapeutics, e00773. https://doi.org/10.1016/j.neurot.2025.e00773
Bardone-Cone, A. M., Watson, H. J., Walsh, E. C., Wash, L. K., Wallace, L. R., Zucker, N., & Bulik, C. M. (2025). Comparing operationalizations of eating disorder recovery using a comprehensive lens: Physical, behavioral, and cognitive domains. International Journal of Eating Disorders. https://doi.org/10.1002/eat.24559
Blasco Amaro, J. A., Dobrzynska, A., Isabel-Gómez, R., Enrique Perez-Ostos, E., & Venegas Moreno, E. M. (2025). Telemedicine in eating disorder treatment: Systematic review. JMIR Mental Health, 12(1), e74057. https://doi.org/10.2196/74057
Eating Disorders Victoria. (2024). Eating disorder statistics and key research. https://eatingdisorders.org.au/eating-disorders-a-z/eating-disorder-statistics-and-key-research/
Gardea-Resendez, M., Pazdernik, V. K., Jezzini-Martinez, S., Coombes, B. J., Melhuish Beaupre, L. M., Ho, A. M., Sanchez-Ruiz, J., Miola, A., Ercis, M., Andreazza, A. C., Singh, B., Ozerdem, A., McElroy, S. L., Biernacka, J. M., Frye, M. A., Cuellar-Barboza, A., & Romo-Nava, F. (2025). Unhealthy diet quality as a clinical phenotype in bipolar disorder: A potential treatment target for improved mood and metabolic outcomes. Journal of Affective Disorders, 394(Pt B), 120632. https://doi.org/10.1016/j.jad.2025.120632
Hirsch, D., Reed, J., Naqvi, A., Ngor, A., Dugan, L., Costa, K., Ganasi, R. S., Truman, K., Danovitch, I., IsHak, W. W., & Hedrick, R. (2025). Approved and pipeline pharmacological interventions for eating disorders (2010-2025): 15 years of progress (or lack thereof). CNS Drugs. https://doi.org/10.1007/s40263-025-01248-7
Hudson, J. I., Hiripi, E., Pope, H. G., & Kessler, R. C. (2007). The prevalence and correlates of eating disorders in the National Comorbidity Survey Replication. Biological Psychiatry, 61(3), 348–358. https://doi.org/10.1016/j.biopsych.2006.03.040
Kjeldbjerg, M. L., Andreassen, P., Pauls, D. D., Bruun, J. M., & Clausen, L. (2025). Binge eating disorder in children, adolescents, and adults. Ugeskrift for Laeger, 187(49). https://doi.org/10.61409/V06250529
Lammers, M. W., Vroling, M. S., Crosby, R. D., Mares, S. H. W., Hutschemaekers, G. J. M., & Van Strien, T. (2025). Dialectical behavior therapy and cognitive behavior therapy in individuals with binge-eating disorder: What works for whom? International Journal of Eating Disorders. https://doi.org/10.1111/eat.70000
Marano, G., Napolitano, D., Capristo, E., Traversi, G., Mazza, O., Gaetani, E., & Mazza, M. (2025). The body as a battlefield: Identity development and psychosomatic expression in eating disorders across childhood and adolescence. Children, 12(11), 1465. https://doi.org/10.3390/children12111465
Morgan, C., Carr, M. J., Chew-Graham, C. A., O’Neill, T. W., Elvins, R., Kapur, N., Webb, R. T., & Ashcroft, D. M. (2025). Adverse outcomes in patients with a diagnosis of an eating disorder: Primary care cohort study with linked secondary care and mortality records. BMJ Medicine, 4(1), e001438. https://doi.org/10.1136/bmjmed-2025-001438
Nagata, J. M., Otmar, C. D., Potes, C., Murakami, K., Lavender, J. M., Compte, E. J., Brown, T. A., Forbush, K. T., Flentje, A., Lubensky, M. E., Obedin-Maliver, J., & Lunn, M. R. (2025). Age-related trends in eating-pathology symptoms among sexual minority adults. European Eating Disorders Review. https://doi.org/10.1002/erv.70065
National Eating Disorders Association. (2025). Eating disorder statistics. https://www.nationaleatingdisorders.org/statistics/
Osborne, E. L., Powell, J., Barker, L., Birtwell, C., Debrou, L., Defever, E., Francis, V., Hunter, E., Kotze, N., Lees, A., Newell, C., Randell, B., Rosten, C., Yao, V., & Murphy, R. (2025). Bridging the gap: A mixed-methods real-world pilot of a digital intervention for adults with binge eating. Journal of Eating Disorders, 13(1), 258. https://doi.org/10.1186/s40337-025-01487-5
Rodan, S., Maguire, S., Meez, N., Greenstien, K., Zartarian, G., Mills, K. L., Suraev, A., Bedoya-Pérez, M. A., & McGregor, I. S. (2025). Prescription and nonprescription drug use among people with eating disorders. JAMA Network Open, 8(7), e2522406. https://doi.org/10.1001/jamanetworkopen.2025.22406
Simpson, S., Rossi, A. A., Mannarini, S., Tait, D., Castelnuovo, G., & Pietrabissa, G. (2025). Assessing schema modes for eating disorders and their association with personality traits: Validation of the English version of the short form of the schema modes inventory for eating disorders (EN-SMI-ED-SF). Journal of Eating Disorders, 13(1), 258. https://doi.org/10.1186/s40337-025-01446-0
Udo, T., & Grilo, C. M. (2018). Prevalence and correlates of DSM-5-defined eating disorders in a nationally representative sample of U.S. adults. Biological Psychiatry, 84(5), 345-354. https://doi.org/10.1016/j.biopsych.2018.03.014
Xi, Z., & Galaj, E. (2025). Novel potential pharmacological approaches in treating eating disorders comorbid with substance use disorders. Biomedicine & Pharmacotherapy, 189, 118327. https://doi.org/10.1016/j.biopha.2025.118327
World Health Organization. (2019). Mental health: Eating disorders. https://www.who.int/news-room/fact-sheets/detail/mental-disorders

Tinggalkan komentar