A Cahya Legawa's Les pèlerins au-dessus des nuages

Pendahuluan: Ketika Diklat Mengetuk Pintu

Beberapa bulan yang lalu, bagian diklat rumah sakit tempat saya bekerja menyampaikan sebuah kabar: saya diminta mengikuti pelatihan FCCS. Reaksi pertama saya tentu saja bertanya, “Apa itu? Mengapa saya harus ikut?” Padahal, baru setahun sebelumnya saya menyelesaikan pelatihan ACLS yang biayanya sudah cukup membuat dompet menjerit.

Jawabannya singkat: permintaan tim Casemix. Bagi yang berkecimpung di manajemen rumah sakit, tentu paham ke mana arah pembicaraan ini. Yang penting bagi saya saat itu adalah kepastian bahwa dana pelatihan tidak keluar dari kantong pribadi—karena sejujurnya, dari mana seorang dokter umum bisa menyisihkan biaya pelatihan yang tiga hingga empat kali lebih mahal dari ACLS?

Saya kemudian mencari informasi tentang FCCS di situs Society of Critical Care Medicine (SCCM). Ternyata, Fundamental Critical Care Support adalah program pelatihan yang dirancang untuk membekali tenaga kesehatan—terutama yang bukan spesialis intensivist—dengan kemampuan mengelola pasien kritis dalam 24 jam pertama, atau hingga konsultasi dengan spesialis perawatan intensif dapat dilakukan. Materinya mencakup perawatan kritis dewasa, dengan tambahan bahasan khusus untuk pasien obstetri dan pediatri.

Saya sempat pesimis. Setelah mengulas regulasi, tidak ada keharusan bagi ICU di rumah sakit tempat saya bekerja untuk memiliki dokter bersertifikat FCCS. Tapi ya, keputusan sudah turun. Mau bagaimana lagi?

Perjalanan Menuju Jakarta

Akhir tahun lalu, kepastian datang: pelatihan akan diadakan di Jakarta, tanggal 24 dan 25 Januari 2026. Melihat jadwal yang padat, saya harus tiba di Jakarta sehari sebelumnya.

Kamis pagi, 23 Januari, saya berangkat dari Stasiun Sragen. Perjalanan kereta api memakan waktu seharian penuh, dan baru malam hari saya tiba di Stasiun Pasar Senen. Dari sana, taksi BlueBird membawa saya ke Hotel Menara Peninsula—pilihan yang strategis karena jaraknya hanya selempar batu dari Wisma 76, lokasi pelatihan. Biaya taksi sekitar 65 ribu rupiah, sementara tarif hotel per malam sekitar 550 ribu rupiah jika memesan langsung dari situs resmi mereka—lebih hemat dibanding tarif reguler yang bisa mencapai 700 ribu rupiah.

Hari Pertama: Sambutan Berupa Pre-Test

Sabtu pagi, setelah sarapan di hotel, saya menuju Wisma 76. Ruang pelatihan di lantai 17 cukup lega untuk menampung sekitar 50 peserta dari berbagai rumah sakit di seluruh Indonesia. Satu hal yang tidak boleh diabaikan: AC ruangan sangat dingin. Untunglah malam sebelumnya saya sudah diingatkan untuk membawa jaket.

Sambutan pertama yang menyapa kami bukanlah kata-kata selamat datang, melainkan pre-test yang mengejutkan. Sepuluh soal, masing-masing berupa kasus klinis dalam bahasa Inggris, dengan waktu pengerjaan hanya 15 menit. Baru sampai soal ketujuh, bel alarm sudah berbunyi. Panik? Tentu saja. Lima belas menit terasa seperti lima menit ketika berhadapan dengan kasus-kasus pasien kritis yang kompleks.

Setelah pre-test yang membuat jantung berdebar, kelas dimulai. Para tutor mengulas materi dari buku FCCS yang sudah dikirimkan kepada peserta satu hingga dua minggu sebelum pelatihan. Buku edisi ketujuh ini cukup tebal, mencakup berbagai topik mulai dari pengenalan dan penilaian pasien sakit berat, manajemen jalan napas, syok dan resusitasi hemodinamik, hingga pertimbangan etis dalam perawatan intensif.

Bagi yang belum sempat membaca tuntas bukunya—dan bukan tenaga medis yang sehari-hari bernapas di ICU—materi ini mungkin terasa seperti memasuki peradaban yang berbeda. Saya sendiri beberapa kali bertanya dalam hati: “Did we speak the same language? Did you speak human?” Istilah-istilah seperti mean arterial pressure, central venous pressure, cardiac output, dan berbagai parameter hemodinamik lainnya berterbangan di udara seperti mantra yang hanya dipahami oleh para penghuni ICU.

Skill Station: Belajar dari Kasus Nyata

Di antara sesi kelas, ada yang disebut skill stations—semacam diskusi kelompok kecil dengan peragaan dan pendalaman kasus pasien kritis tertentu. Peserta dibagi menjadi beberapa kelompok, masing-masing dengan fokus kasus yang berbeda.

Di ruangan yang lebih intim, kami duduk melingkar menghadap instruktur yang memandu dengan peralatan medis di tengah ruangan. Layar besar menampilkan skenario kasus, sementara kami diminta menganalisis, membuat keputusan klinis, dan mendiskusikan langkah penanganan. Ada ventilator, monitor, dan berbagai peralatan yang menjadi alat peraga pembelajaran. Suasananya berbeda dari kelas besar—lebih interaktif, lebih menantang, dan tentu saja lebih menegangkan karena setiap peserta bisa ditunjuk kapan saja untuk menjawab.

Para pengajar atau tutor adalah konsultan senior intensive care dari berbagai rumah sakit ternama di Indonesia. Mungkin karena knowledge gap yang cukup lebar antara kami dan mereka, saya bisa melihat betapa mereka berupaya keras menjejalkan ilmu dari buku FCCS yang tebal itu ke dalam otak-otak kami dalam waktu dua hari saja. Kabarnya, pelatihan hari pertama kadang bisa mundur hingga pukul sembilan atau sepuluh malam.

Saya sungguh mengucapkan terima kasih yang sedalam-dalamnya. Para tutor yang sudah senior—baik secara keilmuan maupun usia—telah bersedia meluangkan akhir pekan mereka untuk berbagi ilmu kepada kami. Dedikasi seperti ini tidak bisa dinilai dengan uang.

Malam yang Panjang: Strategi Bertahan Hidup

Malam hari pertama, setelah kembali ke hotel, saya merasa kewalahan. Ibaratnya anak SD yang tiba-tiba disodori soal matematika anak SMA. Membaca ulang seluruh buku FCCS secara rinci jelas bukan pilihan yang realistis dalam waktu semalam.

Saya memilih pendekatan berbasis kasus. Kasus adalah cara terbaik untuk menyerap ilmu, terutama dalam konteks ujian. Ada banyak sumber belajar yang bisa dimanfaatkan: buku kumpulan soal, situs web yang menyediakan tanya jawab untuk pengetahuan dasar, atau bahkan meminta Gemini atau Copilot untuk mensimulasikan kasus—termasuk mencoba mengingat kembali soal-soal dari pre-test.

Salah satu sumber yang sangat membantu adalah 2026 Critical Care ConfidenCE dari SCCM yang tersedia gratis di toko daring mereka. Program ini memberikan kesempatan untuk berlatih kasus-kasus perawatan kritis dengan format yang mirip dengan ujian sesungguhnya.

Buku FCCS

Hingga dini hari, saya terus berlatih kasus. Kenyang dengan skenario pasien kritis, saya akhirnya tertidur dengan harapan bisa bertahan di hari kedua.

Hari Kedua: Kafein dan Kecemasan

Minggu pagi, saya membutuhkan banyak kafein. Kurang tidur ditambah intensitas materi membuat saya beberapa kali diserang kantuk di tengah sesi. Tapi ini bukan waktunya untuk lengah—post-test menanti di penghujung hari.

Yang membuat tegang adalah konsekuensinya: jika gagal post-test, hanya ada dua kesempatan mengulang. Pertama, langsung di sore atau malam itu juga. Kedua, pada sesi pelatihan FCCS berikutnya—yang artinya harus mengulang seluruh proses dari awal dan tentunya dengan biaya tambahan. Bagi dokter umum seperti saya, gagal post-test dengan biaya pelatihan semahal itu adalah mimpi buruk yang tidak ingin dibayangkan.

Momen Pengumuman: Antara Lega dan Empati

Waktu pengumuman hasil post-test adalah momen paling mendebarkan. Telapak tangan saya berkeringat lebih banyak dari biasanya. Jantung berdegup kencang saat slide demi slide ditampilkan.

Ketika nama saya muncul di daftar peserta yang lulus, saya nyaris tidak percaya. Rasa lega yang membanjiri sulit dilukiskan dengan kata-kata. Namun, saya tidak bisa sepenuhnya senang—banyak sejawat yang belum berhasil di percobaan pertama. Kadang saya berpikir, ujian ini seperti jentikan jari Thanos: setengahnya bertahan, setengahnya harus berjuang lagi.

Peserta yang lulus diminta meninggalkan area, sehingga saya tidak tahu persis apa yang terjadi selanjutnya. Namun, saya yakin mereka semua akhirnya berhasil—entah di percobaan kedua atau ketiga. Sementara itu, saya langsung memesan taksi daring menuju Stasiun Pasar Senen untuk kembali ke Sragen dengan kereta malam.

Nilai Tambah: Paradigma Baru dalam Menangani Pasien Kritis

Pelatihan FCCS memberikan lebih dari sekadar sertifikat. Program ini mampu mengubah paradigma dan memperkuat kemampuan analisis dalam menangani pasien kritis. Ada beberapa hal fundamental yang saya peroleh dari pelatihan ini.

Pertama, pemahaman sistematis tentang pengenalan dini pasien yang berisiko mengalami perburukan kondisi. FCCS mengajarkan cara membaca tanda-tanda bahaya sebelum pasien benar-benar jatuh ke kondisi kritis. Kedua, pendekatan terstruktur dalam resusitasi dan stabilisasi awal. Tidak lagi mengandalkan insting semata, tetapi berpegang pada algoritma yang telah teruji secara klinis. Ketiga, pemahaman lebih dalam tentang interaksi berbagai sistem organ pada pasien kritis dan bagaimana kegagalan satu sistem dapat memicu kegagalan sistem lainnya.

Yang paling berharga mungkin adalah rasa percaya diri. Sebelum pelatihan, menghadapi pasien kritis selalu terasa seperti berjalan di atas tali—penuh ketidakpastian dan kecemasan. Setelah FCCS, meskipun tantangan tetap ada, setidaknya ada kerangka berpikir yang lebih kokoh sebagai pegangan.

Tantangan Implementasi di Indonesia

Sayangnya, standar FCCS yang berasal dari SCCM di Amerika Serikat belum dapat diadaptasi sepenuhnya oleh kebanyakan rumah sakit di Indonesia, terutama di daerah pinggiran. Ada beberapa alasan mendasar untuk hal ini.

Pertama, keterbatasan infrastruktur. Data menunjukkan bahwa Indonesia memiliki sekitar 2,7 tempat tidur perawatan kritis per 100.000 penduduk—jauh lebih rendah dibandingkan negara tetangga seperti Malaysia (3,4), Thailand (10,4), atau Singapura (11,4). Distribusi fasilitas ini juga tidak merata; sebagian besar terkonsentrasi di Pulau Jawa, sementara daerah-daerah terpencil sering kali kesulitan mengakses layanan intensif yang memadai.

Kedua, keterbatasan sumber daya manusia. Jumlah intensivist, perawat perawatan kritis, dan terapis pernapasan yang terlatih masih sangat kurang di banyak daerah. Fenomena brain drain—di mana tenaga kesehatan terampil lebih memilih bekerja di kota besar atau bahkan luar negeri—semakin memperparah kondisi ini.

Ketiga, keterbatasan peralatan dan teknologi. Standar FCCS mengasumsikan ketersediaan monitor canggih, ventilator modern, dan berbagai modalitas diagnostik yang mungkin tidak tersedia di rumah sakit daerah. Bahkan ketersediaan listrik yang stabil dan pasokan oksigen yang memadai masih menjadi tantangan di beberapa fasilitas kesehatan terpencil.

Keempat, faktor biaya. Perawatan intensif adalah layanan yang mahal, baik dari segi peralatan, obat-obatan, maupun tenaga kesehatan yang dibutuhkan. Banyak rumah sakit di daerah yang beroperasi dengan anggaran terbatas sehingga sulit untuk memenuhi standar ideal yang diajarkan dalam FCCS.

Namun, bukan berarti ilmu dari FCCS menjadi sia-sia. Justru sebaliknya—pemahaman tentang prinsip-prinsip dasar perawatan kritis tetap bisa diaplikasikan dengan menyesuaikan pada sumber daya yang tersedia. SCCM sendiri sebenarnya telah mengembangkan varian khusus yaitu FCCS: Resource Limited yang dirancang untuk lingkungan dengan keterbatasan sumber daya, menggunakan pendekatan minimum-better-best dalam strategi pemantauan dan pengobatan.

Saran untuk Sejawat yang Akan Mengikuti FCCS

Bagi teman-teman sejawat yang berencana atau diminta mengikuti pelatihan FCCS, berikut beberapa saran berdasarkan pengalaman saya.

Pertama, sediakan waktu untuk membaca buku yang sudah diterima sebelum pelatihan. Tidak perlu menghafal seluruhnya, tetapi setidaknya pahami kerangka besar materi dan istilah-istilah kunci yang akan digunakan. Ini akan sangat membantu saat mengikuti sesi kelas.

Kedua, perhatikan dengan seksama apa yang disampaikan tutor, baik dalam kelas maupun skill station. Dari pengamatan saya, lebih dari 70% jawaban tes sebenarnya sudah disampaikan oleh tutor selama pelatihan berlangsung. Kadang mereka menyampaikannya dalam sisipan gurauan ringan yang mudah diabaikan jika tidak fokus. Sisanya muncul dalam diskusi dari pertanyaan peserta. Jadi, jika beruntung dan tetap waspada, peserta sebenarnya sudah mendengarkan hampir seluruh tanya jawab soal tes.

Ketiga, jangan ragu untuk bertanya. Para tutor sangat terbuka dan senang membantu peserta memahami materi. Pertanyaan yang mungkin terasa “bodoh” di kepala Anda bisa jadi adalah pertanyaan yang juga ingin ditanyakan oleh peserta lain.

Keempat, bawa jaket tebal dan siapkan mental untuk dua hari yang melelahkan namun sangat berharga.

Penutup

Saya tidak bisa berbagi materi atau cuplikan materi dari pelatihan karena hak cipta dipegang oleh SCCM. Soal-soal tes pun sebagian besar sudah menguap dari ingatan. Namun, satu hal yang pasti: pelatihan FCCS adalah kesempatan yang sayang untuk dilewatkan.

Bagi seorang dokter umum seperti saya yang tidak setiap hari berkutat dengan ventilator dan monitor hemodinamik, FCCS membuka jendela ke dunia yang selama ini terasa asing. Ilmu yang didapat mungkin tidak langsung bisa diaplikasikan sepenuhnya mengingat keterbatasan fasilitas di tempat kerja, tetapi setidaknya ada pemahaman yang lebih baik tentang apa yang terjadi pada pasien kritis dan bagaimana seharusnya mereka ditangani.

Untuk sertifikat resmi dari SCCM, mungkin masih harus menunggu—prosesnya memerlukan penilaian langsung dari Amerika Serikat. Tapi terlepas dari selembar kertas itu, pengalaman dan ilmu yang didapat sudah menjadi hadiah tersendiri.

Kepada para tutor yang telah berbagi ilmu dengan penuh dedikasi, kepada panitia yang mengorganisir pelatihan dengan baik, dan kepada sesama peserta yang berjuang bersama selama dua hari itu—terima kasih. Semoga ilmu yang kita peroleh bermanfaat untuk pasien-pasien yang membutuhkan.


Daftar Referensi

Dung, J., & Phua, J. (2021). The story of critical care in Asia: A narrative review. Journal of Intensive Care, 9(1), 60. https://doi.org/10.1186/s40560-021-00574-4

Hasan, M. Z., Hamiduzzaman, M., & Mahmuda, A. (2021). The capacity of the Indonesian healthcare system to respond to COVID-19. Frontiers in Public Health, 9, 649819. https://doi.org/10.3389/fpubh.2021.649819

Phua, J., Hashmi, M., Engstrom, L., et al. (2023). Critical care bed capacity in Asian countries and regions before and during the COVID-19 pandemic: An observational study. The Lancet Regional Health – Western Pacific, 42, 100966. https://doi.org/10.1016/j.lanwpc.2023.100966

Riviello, E. D., Letchford, S., Achieng, L., & Newton, M. W. (2011). Global health care of the critically ill in low-resource settings. Annals of the American Thoracic Society, 8(3), 256-264. https://doi.org/10.1513/AnnalsATS.201307-246OT

Society of Critical Care Medicine. (2024). Fundamental Critical Care Support (7th ed.). Society of Critical Care Medicine.

Society of Critical Care Medicine. (2025). Fundamental Critical Care Support course overview. https://sccm.org/education-center/educational-programming/fundamentals/fundamental-critical-care-support

Commenting 101: “Be kind, and respect each other” // Bersikaplah baik, dan saling menghormati (Indonesian) // Soyez gentils et respectez-vous les uns les autres (French) // Sean amables y respétense mutuamente (Spanish) // 待人友善,互相尊重 (Chinese) // كونوا لطفاء واحترموا بعضكم البعض (Arabic) // Будьте добры и уважайте друг друга (Russian) // Seid freundlich und respektiert einander (German) // 親切にし、お互いを尊重し合いましょう (Japanese) // दयालु बनें, और एक दूसरे का सम्मान करें (Hindi) // Siate gentili e rispettatevi a vicenda (Italian)

Tinggalkan komentar