A Cahya Legawa's Les pèlerins au-dessus des nuages

Pendahuluan

Di tengah maraknya informasi kesehatan yang beredar di media sosial, salah satu mitos yang cukup mengkhawatirkan adalah anggapan bahwa GERD (gastroesophageal reflux disease atau penyakit refluks gastroesofageal) dapat menyebabkan kematian mendadak akibat henti jantung. Informasi yang keliru ini tidak hanya menimbulkan kepanikan di kalangan penderita GERD, tetapi juga berpotensi mengaburkan pemahaman masyarakat tentang dua kondisi medis yang sebenarnya berbeda secara mendasar.

GERD merupakan kondisi kronis pada saluran cerna bagian atas, di mana isi lambung yang mengandung asam secara persisten dan berulang naik ke esofagus sehingga menimbulkan gejala dan komplikasi tertentu (Yadlapati et al., 2022). Sementara itu, henti jantung mendadak (sudden cardiac arrest) adalah kondisi kegawatdaruratan di mana aktivitas jantung berhenti secara tiba-tiba, menyebabkan kolaps hemodinamik yang mengancam nyawa (NCBI StatPearls, 2024).

Artikel ini bertujuan untuk memberikan pemahaman yang jernih dan berbasis bukti ilmiah mengenai perbedaan kedua kondisi ini, sekaligus meluruskan kesalahpahaman yang telah menimbulkan keresahan di masyarakat.

Mengapa GERD Sering Dikira Penyakit Jantung?

Kedekatan Anatomis yang Membingungkan

Kebingungan antara nyeri dada akibat GERD dan penyakit jantung bukanlah hal yang mengherankan. Secara anatomis, esofagus terletak sangat dekat dengan jantung di dalam rongga dada. Kedua organ ini berbagi jalur saraf sensorik viseral yang memasuki medula spinalis, sehingga stimulasi pada esofagus atau jantung dapat dirasakan dan dipersepsikan secara tumpang tindih pada area dermatom yang sama (Sun et al., 2016). Kondisi ini secara medis dikenal sebagai referred pain atau nyeri alih.

Kesamaan Gejala yang Menipu

Penelitian menunjukkan bahwa gejala GERD seperti nyeri dada, mual, dan rasa tidak nyaman di dada dapat sangat menyerupai gejala infark miokard akut atau serangan jantung (Bohamad et al., 2023). Nyeri dada non-kardiak (non-cardiac chest pain) akibat GERD merupakan penyebab paling umum dari nyeri dada secara keseluruhan (Cleveland Clinic, 2024). Di Jepang, prevalensi nyeri dada di populasi umum mencapai 5%, dan di antara mereka yang mencari pertolongan medis, sekitar 70% didiagnosis dengan nyeri dada non-kardiak yang tidak berkaitan dengan jantung (Chen et al., 2023).

Prevalensi yang Tinggi

GERD merupakan salah satu penyakit yang paling sering dijumpai oleh dokter gastroenterologi maupun dokter layanan primer. Di negara-negara Barat, prevalensi GERD berkisar antara 10-20% populasi, dengan penyakit berat dijumpai pada sekitar 6% populasi. Di Asia, prevalensi berkisar antara 3-10,5% (NCBI StatPearls, 2024). Tingginya angka ini berarti banyak orang yang mengalami gejala GERD dan berpotensi mengalami kebingungan ketika merasakan nyeri dada.

Perbedaan Mendasar: GERD versus Serangan Jantung

Karakteristik Nyeri

Meskipun keduanya dapat menimbulkan ketidaknyamanan di dada, terdapat perbedaan penting dalam karakteristik nyerinya. Nyeri dada akibat GERD biasanya terasa seperti sensasi terbakar (burning) yang tajam tepat di bawah permukaan kulit, sering disebut heartburn. Lokasi nyeri cenderung berada di tengah dada, di belakang tulang dada, dan dapat menjalar ke leher serta tenggorokan (Medical News Today, 2024).

Sebaliknya, nyeri dada akibat serangan jantung umumnya digambarkan sebagai rasa tertekan, sesak, tercekik, atau seperti ada beban berat di dada, bukan sensasi terbakar. Nyeri ini sering menjalar ke lengan kiri, bahu, leher, rahang, atau punggung (American Heart Association, 2024; Harvard Health, 2023).

Gejala Penyerta

Gejala yang menyertai nyeri dada dapat membantu membedakan kedua kondisi ini. Pada GERD, nyeri dada sering disertai gejala gastrointestinal seperti kembung, sendawa, rasa asam atau pahit di mulut, dan mulas. Gejala biasanya memburuk setelah makan, terutama makanan berlemak atau pedas, dan saat berbaring (Cleveland Clinic, 2024).

Pada serangan jantung, gejala penyerta meliputi sesak napas, keringat dingin, pusing, mual yang tidak terkait dengan makanan, dan rasa cemas yang tidak dapat dijelaskan. Gejala tidak membaik dengan antasida dan dapat dipicu oleh aktivitas fisik (Mass General Brigham, 2024).

Respons terhadap Pengobatan

Nyeri dada akibat GERD umumnya membaik dengan pemberian antasida atau penghambat pompa proton (PPI). Bahkan, respons positif terhadap terapi PPI dapat digunakan sebagai alat diagnostik untuk mengonfirmasi GERD sebagai penyebab nyeri dada (Yadlapati et al., 2022). Sebaliknya, nyeri dada kardiak tidak akan membaik dengan obat maag.

GERD Tidak Menyebabkan Henti Jantung

Mekanisme yang Berbeda

Henti jantung mendadak terjadi akibat gangguan listrik jantung yang menyebabkan jantung berhenti memompa darah secara efektif. Lebih dari 75% kasus henti jantung mendadak di negara maju disebabkan oleh penyakit arteri koroner, di mana terjadi penyumbatan pembuluh darah yang memasok darah ke otot jantung (NCBI StatPearls, 2024).

GERD, di sisi lain, adalah gangguan pada sistem pencernaan yang melibatkan kelemahan katup antara esofagus dan lambung (lower esophageal sphincter), bukan gangguan pada jantung atau pembuluh darah koroner. Asam lambung yang naik ke esofagus dapat mengiritasi lapisan esofagus dan menimbulkan rasa tidak nyaman, tetapi tidak memiliki mekanisme langsung untuk menghentikan aktivitas listrik jantung.

Kematian Akibat GERD: Sangat Jarang dan Bukan karena Henti Jantung

Perlu dipahami bahwa kematian langsung akibat GERD memang dapat terjadi, tetapi sangat jarang dan mekanismenya sama sekali berbeda dari henti jantung. Sebuah studi dari Finlandia mencatat bahwa angka kematian akibat GERD yang diobati secara konservatif adalah sekitar 0,20-0,46 per 100.000 populasi per tahun (Salminen et al., 1999; Isolauri & Laippala, 2005). Penyebab kematian dalam kasus-kasus langka ini meliputi esofagitis refluks hemoragik (perdarahan berat), pneumonia aspirasi (masuknya isi lambung ke paru-paru), dan perforasi ulkus esofagus, bukan henti jantung.

Data dari studi prospektif besar dengan lebih dari 50.000 individu menunjukkan bahwa gejala GERD yang ringan hingga sedang justru tidak dikaitkan dengan peningkatan mortalitas secara keseluruhan (Islami et al., 2014). Studi lain bahkan menemukan bahwa pasien dengan gejala heartburn sesekali atau mingguan tidak mengalami penurunan harapan hidup dibandingkan populasi umum.

Asosiasi versus Kausalitas

Beberapa penelitian epidemiologis memang menemukan asosiasi statistik antara GERD dan penyakit jantung koroner (Sun et al., 2016). Namun, asosiasi ini tidak berarti bahwa GERD menyebabkan penyakit jantung. Kedua kondisi ini berbagi faktor risiko yang sama seperti obesitas, diabetes, hipertensi, dan gaya hidup tidak sehat. Dengan kata lain, seseorang yang memiliki gaya hidup tidak sehat berisiko mengalami keduanya secara bersamaan, bukan karena yang satu menyebabkan yang lain.

Studi Mendelian randomization terbaru (Wu et al., 2024) memang menunjukkan bahwa GERD dapat memengaruhi faktor risiko kardiovaskular seperti tekanan darah dan profil lipid. Namun, ini berbeda dengan klaim bahwa GERD secara langsung menyebabkan henti jantung. Peningkatan tekanan darah dan gangguan profil lipid memerlukan waktu bertahun-tahun untuk berkembang menjadi penyakit jantung, dan mekanismenya melibatkan proses aterosklerosis yang kompleks.

Kapan Harus Waspada?

Gejala yang Memerlukan Evaluasi Segera

Meskipun GERD bukan penyebab henti jantung, penting bagi setiap orang untuk mengenali tanda-tanda peringatan yang memerlukan evaluasi medis segera. Segera cari pertolongan medis jika mengalami nyeri dada yang disertai sesak napas, nyeri yang menjalar ke lengan, rahang, atau punggung, keringat dingin, pusing, atau rasa akan pingsan.

American Heart Association (2024) menekankan bahwa jika seseorang tidak yakin apakah gejala yang dialami adalah heartburn atau serangan jantung, sebaiknya segera mencari pertolongan medis. Lebih baik memeriksakan diri dan ternyata hanya GERD daripada mengabaikan gejala serangan jantung yang sesungguhnya.

Kondisi yang Memerlukan Perhatian pada GERD

Pasien GERD perlu berkonsultasi dengan dokter jika mengalami gejala alarm seperti kesulitan menelan yang progresif, penurunan berat badan yang tidak dapat dijelaskan, muntah darah atau feses berwarna hitam, dan nyeri dada yang tidak membaik dengan pengobatan maag. Gejala-gejala ini dapat mengindikasikan komplikasi GERD yang memerlukan evaluasi lebih lanjut, termasuk endoskopi untuk menyingkirkan kemungkinan keganasan.

Komplikasi GERD yang Sebenarnya

Meskipun tidak menyebabkan henti jantung, GERD yang tidak ditangani dengan baik dapat menimbulkan komplikasi pada sistem pencernaan. Komplikasi tersebut meliputi esofagitis erosif yaitu peradangan dan luka pada lapisan esofagus, striktur esofagus berupa penyempitan esofagus akibat pembentukan jaringan parut, esofagus Barrett di mana terjadi perubahan sel lapisan esofagus yang merupakan kondisi prakanker, dan dalam kasus jarang, adenokarsinoma esofagus (NCBI StatPearls, 2024; Yadlapati et al., 2022).

Komplikasi ekstraesofageal dapat meliputi batuk kronis, laringitis, asma yang dipicu refluks, dan erosi gigi. Meskipun komplikasi ini dapat menurunkan kualitas hidup, risiko progresif ke kondisi yang mengancam nyawa relatif rendah jika GERD dikelola dengan baik.

Pengelolaan GERD

Modifikasi Gaya Hidup

Langkah pertama dalam pengelolaan GERD adalah modifikasi gaya hidup. Ini meliputi menurunkan berat badan jika mengalami kelebihan berat badan, menghindari makanan dan minuman pemicu seperti cokelat, kopi, mint, makanan berlemak dan pedas, tidak makan terlalu dekat dengan waktu tidur dengan jarak minimal 2-3 jam, meninggikan kepala tempat tidur, serta berhenti merokok dan membatasi konsumsi alkohol (NCBI StatPearls, 2024).

Terapi Farmakologis

Untuk sebagian besar pasien GERD, pengobatan dengan penghambat pompa proton (PPI) seperti omeprazol atau lansoprazol sangat efektif. Panduan klinis terbaru dari American Gastroenterological Association merekomendasikan trial PPI selama 4-8 minggu untuk pasien dengan gejala heartburn, regurgitasi, atau nyeri dada non-kardiak tanpa gejala alarm (Yadlapati et al., 2022).

Kapan Perlu Pemeriksaan Lebih Lanjut

Pasien yang tidak merespons terapi PPI atau memiliki gejala alarm memerlukan pemeriksaan lebih lanjut seperti endoskopi saluran cerna atas dan pemantauan pH esofagus. Pemeriksaan ini penting untuk mengonfirmasi diagnosis, menilai tingkat keparahan, dan menyingkirkan kondisi lain seperti akalasia atau kelainan motilitas esofagus (Mari et al., 2025; Farah et al., 2025).

Sindrom Roemheld: Jembatan antara GERD dan Gejala Kardiak

Perlu disebutkan bahwa terdapat kondisi yang disebut sindrom Roemheld, di mana kompresi gastrointestinal pada jantung dapat memicu gejala kardiak seperti palpitasi atau aritmia (Javaid et al., 2024). Kondisi ini dapat disebabkan oleh berbagai gangguan gastrointestinal termasuk GERD, hernia hiatus, dan kelebihan gas. Namun, sindrom Roemheld tidak menyebabkan henti jantung dan dapat dikelola dengan mengatasi kondisi gastrointestinal yang mendasarinya Jean kondisi jantungnya sendiri.

Pesan untuk Masyarakat

Berdasarkan bukti ilmiah yang ada, dapat disimpulkan dengan tegas bahwa GERD tidak menyebabkan henti jantung. Kedua kondisi ini memiliki mekanisme yang sama sekali berbeda. GERD adalah gangguan pencernaan yang melibatkan naiknya asam lambung ke esofagus, sedangkan henti jantung adalah kegagalan sistem listrik jantung yang biasanya disebabkan oleh penyakit arteri koroner.

Bagi masyarakat yang telah didiagnosis GERD oleh dokter, tidak perlu panik atau khawatir akan mengalami henti jantung akibat kondisi tersebut. Yang lebih penting adalah mengelola GERD dengan baik melalui modifikasi gaya hidup dan pengobatan yang sesuai, serta mengenali perbedaan gejala GERD dengan serangan jantung agar dapat mencari pertolongan yang tepat jika diperlukan.

Informasi yang tidak akurat tentang GERD menyebabkan kematian atau henti jantung hanya akan menimbulkan kecemasan yang tidak perlu. Kecemasan berlebihan justru dapat memperburuk gejala GERD karena stres psikologis diketahui dapat meningkatkan hipersensitivitas esofagus dan persepsi nyeri (Guadagnoli & Yadlapati, 2024).

Kesimpulan

GERD dan penyakit jantung adalah dua entitas medis yang berbeda dengan mekanisme, komplikasi, dan prognosis yang berbeda pula. Meskipun keduanya dapat menimbulkan gejala nyeri dada yang serupa, GERD tidak menyebabkan henti jantung atau kematian mendadak. Kematian yang berkaitan dengan GERD sangat jarang dan disebabkan oleh komplikasi gastrointestinal, bukan kegagalan jantung.

Edukasi yang tepat kepada masyarakat sangat penting untuk menghilangkan kepanikan yang tidak berdasar, sekaligus memastikan bahwa orang-orang dapat mengenali gejala serius yang memerlukan evaluasi medis segera. Jika ragu, selalu lebih baik untuk berkonsultasi dengan profesional kesehatan daripada mengambil kesimpulan sendiri berdasarkan informasi yang tidak terverifikasi.


Referensi

Bohamad, A. H., Buali, H. H., Aljasem, J. M., Alhussain, A. H., Alamer, M. A., & Elsheikh, E. (2023). Comparing gastroesophageal reflux disease (GERD) and non-GERD patients based on knowledge level of acute myocardial infarction symptoms, risk factors and immediate action taken in Eastern Province, Saudi Arabia. Cureus, 15(2), e35309. https://doi.org/10.7759/cureus.35309

Chen, J., Oshima, T., Kondo, T., Tomita, T., Fukui, H., Shinzaki, S., & Miwa, H. (2023). Non-cardiac chest pain in Japan: Prevalence, impact, and consultation behavior – A population-based study. Journal of Neurogastroenterology and Motility, 29(4), 446-454. https://doi.org/10.5056/jnm22184

Farah, A., Savarino, E. V., Abboud, W., Tatakis, A., & Mari, A. (2025). The contemporary diagnostic approaches to esophageal symptomatology. Cureus, 17(2), e78804. https://doi.org/10.7759/cureus.78804

Guadagnoli, L., & Yadlapati, R. (2024). The role of hypervigilance in chronic esophageal diseases: A scoping review. Translational Gastroenterology and Hepatology, 9, 44. https://doi.org/10.21037/tgh-23-120

Islami, F., Pourshams, A., Nasseri-Moghaddam, S., Khademi, H., Poutschi, H., Khoshnia, M., … & Kamangar, F. (2014). Gastroesophageal reflux disease and overall and cause-specific mortality: A prospective study of 50,000 individuals. Middle East Journal of Digestive Diseases, 6(2), 65-80.

Javaid, M. U., Ikrama, M., Abbas, S., Javaid, M. S., Khalid, M. D., Riaz, N., & Safdar, M. A. (2024). Exploring Roemheld syndrome: A comprehensive review with proposed diagnostic criteria. Herz, 49(6), 448-455. https://doi.org/10.1007/s00059-024-05249-y

Mari, A., Cohen, S., Abo Amer, J., Hijazi, M., Hijazi, B., Abu Baker, F., … & Cohen, D. L. (2025). An indication-based analysis of the yield and findings of esophageal high-resolution manometry. Scandinavian Journal of Gastroenterology, 60(4), 368-374. https://doi.org/10.1080/00365521.2025.2475083

Salminen, J. T., Tuominen, J. A., Ramo, O. J., & Gullichsen, R. (1999). Gastroesophageal reflux disease as a cause of death: Analysis of fatal cases under conservative treatment. Scandinavian Journal of Gastroenterology, 34(3), 229-233.

Sun, X. H., Niu, H. T., Zhang, C., Chen, Z., Miao, Y., Li, Z. S., … & Ke, M. Y. (2016). Association between gastroesophageal reflux disease and coronary heart disease: A nationwide population-based analysis. Medicine, 95(27), e4141. https://doi.org/10.1097/MD.0000000000004141

Wu, Q., Su, Q., et al. (2024). Gastroesophageal reflux disease influences blood pressure components, lipid profile and cardiovascular diseases: Evidence from a Mendelian randomization study. Journal of Translational Internal Medicine. https://doi.org/10.1515/jtim-2024-0017

Yadlapati, R., Gyawali, C. P., & Pandolfino, J. E. (2022). AGA clinical practice update on the personalized approach to the evaluation and management of GERD: Expert review. Clinical Gastroenterology and Hepatology, 20(5), 984-994.e1. https://doi.org/10.1016/j.cgh.2022.01.025

NCBI StatPearls. (2024). Gastroesophageal reflux disease (GERD). National Center for Biotechnology Information. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK554462/

NCBI StatPearls. (2024). Sudden cardiac death. National Center for Biotechnology Information. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK507854/

Commenting 101: “Be kind, and respect each other” // Bersikaplah baik, dan saling menghormati (Indonesian) // Soyez gentils et respectez-vous les uns les autres (French) // Sean amables y respétense mutuamente (Spanish) // 待人友善,互相尊重 (Chinese) // كونوا لطفاء واحترموا بعضكم البعض (Arabic) // Будьте добры и уважайте друг друга (Russian) // Seid freundlich und respektiert einander (German) // 親切にし、お互いを尊重し合いましょう (Japanese) // दयालु बनें, और एक दूसरे का सम्मान करें (Hindi) // Siate gentili e rispettatevi a vicenda (Italian)

Tinggalkan komentar