A Cahya Legawa's Les pèlerins au-dessus des nuages

  1. Pendahuluan
  2. Sejarah dan Latar Belakang Pengembangan
    1. Konteks Historis
    2. Tujuan Awal Pengembangan
    3. Proses Pengembangan
    4. Kontribusi Max Hamilton terhadap Psikometri Klinis
    5. Evolusi Konsep Kecemasan
  3. Struktur dan Komponen Skala
    1. Format Umum
    2. Rincian 14 Item HAM-A
    3. Dimensi Kecemasan Psikis dan Somatik
  4. Cara Penggunaan dan Administrasi
    1. Metode Administrasi
    2. Durasi Administrasi
    3. Kualifikasi Pewawancara
    4. Periode Penilaian
    5. Teknik Wawancara
    6. Konteks Administrasi
    7. Adaptasi Digital
  5. Sistem Penilaian dan Interpretasi
    1. Sistem Skoring
    2. Interpretasi Skor Total
    3. Penggunaan Subskala
    4. Perubahan Skor dan Signifikansi Klinis
    5. Pertimbangan dalam Interpretasi
  6. Validitas dan Reliabilitas
    1. Validitas Instrumen
    2. Reliabilitas Instrumen
    3. Sensitivitas terhadap Perubahan
    4. Struktur Faktor
    5. Invariansi Pengukuran
  7. Aplikasi Klinis
    1. Penilaian Diagnostik Awal
    2. Pemantauan Respons terhadap Pengobatan
    3. Penelitian Psikofarmakologi
    4. Evaluasi Terapi Psikologis
    5. Penggunaan dalam Populasi Khusus
    6. Penggunaan dalam Measurement-Based Care
    7. Peran dalam Sistem Kesehatan Bertingkat
    8. Aplikasi Telehealth
  8. Kelebihan dan Keterbatasan
    1. Kelebihan HAM-A
    2. Keterbatasan HAM-A
  9. Perbandingan dengan Instrumen Penilaian Kecemasan Lainnya
    1. Generalized Anxiety Disorder-7 (GAD-7)
    2. Beck Anxiety Inventory (BAI)
    3. State-Trait Anxiety Inventory (STAI)
    4. Hospital Anxiety and Depression Scale (HADS)
    5. Depression Anxiety and Stress Scale-21 (DASS-21)
    6. Parkinson’s Disease Specific Anxiety Inventory (PDSAI)
    7. Pemilihan Instrumen yang Tepat
  10. Konteks Penggunaan di Indonesia
    1. Beban Gangguan Kecemasan di Indonesia
    2. Tantangan Layanan Kesehatan Mental di Indonesia
    3. Implementasi HAM-A dalam Konteks Indonesia
    4. Inisiatif dan Kebijakan Kesehatan Mental di Indonesia
    5. Penelitian dan Validasi Lokal
    6. Kolaborasi Regional
  11. Kesimpulan
  12. Daftar Pustaka

Pendahuluan

Gangguan kecemasan merupakan kondisi kesehatan mental yang paling umum di dunia, mempengaruhi sekitar 359 juta orang secara global pada tahun 2021, atau sekitar 4,4% dari populasi dunia (World Health Organization, 2025). Prevalensi yang tinggi ini menjadikan gangguan kecemasan sebagai masalah kesehatan masyarakat yang signifikan, dengan dampak yang luas terhadap kualitas hidup, fungsi sosial, produktivitas kerja, dan kesehatan fisik individu yang mengalaminya. Di Indonesia, berdasarkan data tahun 2017, diperkirakan 44,9 juta penduduk mengalami gangguan kecemasan, menunjukkan besarnya beban penyakit mental di negara ini (Revicki et al., 2012).

Kecemasan adalah respons emosional yang normal terhadap situasi yang mengancam atau penuh tekanan. Namun, ketika kecemasan menjadi berlebihan, persisten, tidak proporsional dengan ancaman yang sebenarnya, dan mulai mengganggu fungsi kehidupan sehari-hari, maka kondisi tersebut dapat berkembang menjadi gangguan kecemasan patologis. Diagnosis dan penilaian yang akurat terhadap tingkat keparahan kecemasan sangat penting untuk menentukan strategi penanganan yang tepat, memantau respons terhadap pengobatan, dan mengevaluasi hasil terapi.

Dalam konteks klinis, penilaian kecemasan memerlukan instrumen yang terstandarisasi, reliabel, dan valid. Salah satu instrumen yang telah menjadi standar dalam penilaian kecemasan adalah Hamilton Anxiety Rating Scale (HAM-A), yang juga dikenal dengan sebutan HARS (Hamilton Anxiety Rating Scale). Skala ini dikembangkan oleh Dr. Max Hamilton pada tahun 1959 dan hingga kini masih menjadi salah satu instrumen yang paling banyak digunakan dalam penelitian dan praktik klinis untuk mengukur tingkat keparahan gejala kecemasan.

Artikel ini akan membahas secara komprehensif tentang Hamilton Anxiety Rating Scale, mulai dari sejarah perkembangannya, struktur dan komponen skala, cara penggunaan dan interpretasi, hingga aplikasi klinisnya dalam berbagai konteks kesehatan mental. Pembahasan akan mencakup bukti-bukti ilmiah terkini mengenai validitas dan reliabilitas instrumen ini, serta perbandingannya dengan instrumen penilaian kecemasan lainnya yang tersedia.

Sejarah dan Latar Belakang Pengembangan

Konteks Historis

Hamilton Anxiety Rating Scale dikembangkan pada era di mana psikiatri dan psikologi klinis mulai mengadopsi pendekatan yang lebih objektif dan terstandarisasi dalam penilaian kondisi kesehatan mental. Sebelum tahun 1950-an, penilaian kecemasan sangat bergantung pada penilaian subjektif klinis tanpa panduan yang terstruktur, yang mengakibatkan variabilitas tinggi dalam diagnosis dan evaluasi respons terhadap pengobatan.

Dr. Max Hamilton, seorang psikiater asal Inggris, menyadari perlunya instrumen yang dapat mengukur keparahan gejala kecemasan secara sistematis dan objektif. Terinspirasi oleh karya Hans Eysenck dalam bidang psikometri, Hamilton mengambil pendekatan yang panjang melalui analisis faktor untuk mengembangkan skala yang memiliki dasar ilmiah yang kuat (Bech, 2009). Pada tahun 1959, Hamilton mempublikasikan skala kecemasannya dalam jurnal British Journal of Medical Psychology dengan judul “The Assessment of Anxiety States by Rating” (Hamilton, 1959).

Tujuan Awal Pengembangan

Hamilton mengembangkan skala ini dengan tujuan spesifik untuk digunakan pada pasien yang telah didiagnosis dengan “neurosis kecemasan” (anxiety neurosis), istilah yang pada masa itu digunakan untuk menggambarkan kondisi kecemasan patologis yang tidak terkait langsung dengan situasi stres eksternal. Berbeda dengan kecemasan normal yang merupakan reaksi adaptif terhadap bahaya nyata, neurosis kecemasan digambarkan sebagai kondisi di mana individu mengalami kecemasan yang berlebihan tanpa provokasi yang jelas.

Hamilton membedakan dengan jelas antara kecemasan sebagai reaksi normal terhadap bahaya, kecemasan sebagai kondisi patologis yang tidak terkait dengan stres, dan kecemasan sebagai keadaan atau sindrom luas yang ia sebut sebagai “neurosis kecemasan.” Skala ini dirancang bukan sebagai alat diagnostik, melainkan sebagai instrumen untuk mengukur tingkat keparahan gejala kecemasan pada pasien yang sudah terdiagnosis, serta untuk memantau perubahan gejala sepanjang waktu dan mengevaluasi efektivitas intervensi terapeutik.

Proses Pengembangan

Dalam mengembangkan HAM-A, Hamilton menggunakan metode yang sistematis dan berbasis pada prinsip-prinsip psikometri. Ia mengumpulkan berbagai gejala yang relevan dengan kecemasan dan mengelompokkannya ke dalam kategori-kategori yang bermakna. Versi awal skala ini dimulai dengan dua belas kelompok gejala yang kemudian membentuk tiga belas variabel skala. Setiap variabel dijelaskan dengan pernyataan yang ringkas dan disertakan dalam lembar penilaian yang digunakan oleh pewawancara untuk menilai pasien.

Versi pertama menggunakan skala lima poin untuk menilai kelompok gejala, dengan rentang dari 0 (tidak ada) hingga 4 (sangat berat). Hamilton sendiri mengakui bahwa versi awal ini masih memerlukan penyempurnaan, sebagaimana ia nyatakan: “Beberapa variabel jelas merupakan kumpulan yang beragam dan memerlukan investigasi lebih lanjut.” Seiring waktu, melalui serangkaian pengujian dan modifikasi, struktur dan sistem penilaian skala berkembang menjadi bentuknya yang sekarang digunakan secara luas.

Kontribusi Max Hamilton terhadap Psikometri Klinis

Max Hamilton adalah seorang pemikir yang tidak konvensional dalam bidangnya. Sejak awal pendidikan psikiatrinya, ia menganggap psikometri sebagai disiplin ilmiah yang setara dengan biokimia atau farmakologi dalam penelitian klinis. Keterampilan klinimetriknya sangat berperan pada tahun 1950-an ketika uji klinis acak terkontrol (randomized controlled trials) mulai ditetapkan sebagai metode standar untuk mengevaluasi efek klinis obat-obatan psikotropika (Bech, 2009).

Kontribusi Hamilton tidak hanya terbatas pada pengembangan skala kecemasan. Satu tahun setelah publikasi HAM-A, pada tahun 1960, ia juga mempublikasikan skala untuk menilai gejala depresi yang kini dikenal sebagai Hamilton Depression Rating Scale (HAM-D). Kedua skala ini menjadi instrumen fundamental dalam psikiatri klinis dan penelitian psikofarmakologi.

Perjalanan profesional Hamilton tidak selalu mulus. Ia menghadapi berbagai hambatan profesional, dan inovasi-inovasinya jarang mendapat sambutan antusias pada awalnya. Namun, ketekunan dan komitmennya terhadap pengembangan alat ukur yang ilmiah telah meninggalkan warisan yang berharga bagi bidang kesehatan mental. Kehidupan dan karya Hamilton menjadi pengingat untuk “bertahan dalam menghadapi prasangka, penolakan, dan kekalahan,” sebagaimana dicatat dalam literatur mengenai kontribusinya (Integrative Professional, 2023).

Evolusi Konsep Kecemasan

Sejak HAM-A pertama kali dipublikasikan, konsep tentang gangguan kecemasan telah mengalami evolusi yang signifikan. Istilah “neurosis kecemasan” yang digunakan Hamilton telah direvisi dan dikategorikan ulang dalam sistem klasifikasi diagnostik modern seperti Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders (DSM) dan International Classification of Diseases (ICD).

Dalam DSM-5, yang merupakan edisi terkini dari manual diagnostik American Psychiatric Association, gangguan kecemasan dibagi menjadi beberapa kategori spesifik, termasuk gangguan kecemasan umum (generalized anxiety disorder/GAD), gangguan panik (panic disorder), fobia sosial (social anxiety disorder), fobia spesifik, gangguan kecemasan perpisahan, dan lainnya. Meskipun konseptualisasi gangguan kecemasan telah berkembang, HAM-A tetap relevan dan banyak digunakan untuk mengukur keparahan gejala kecemasan pada berbagai jenis gangguan kecemasan, bukan hanya pada kondisi yang awalnya disebut sebagai neurosis kecemasan.

Struktur dan Komponen Skala

Format Umum

Hamilton Anxiety Rating Scale terdiri dari 14 item yang masing-masing menilai aspek berbeda dari gejala kecemasan yang dialami oleh individu. Setiap item dirancang untuk mencakup sekelompok gejala atau manifestasi spesifik dari kecemasan, baik yang bersifat psikologis maupun somatik. Skala ini bersifat komprehensif, mencakup berbagai domain gejala yang dapat dialami oleh individu dengan gangguan kecemasan.

Setiap item dalam HAM-A dinilai menggunakan skala Likert lima poin, dengan rentang nilai dari 0 hingga 4:

  • 0 = Tidak ada (gejala tidak ditemukan)
  • 1 = Ringan (gejala ada tetapi minimal)
  • 2 = Sedang (gejala jelas ada dan mengganggu)
  • 3 = Berat (gejala sangat mengganggu)
  • 4 = Sangat berat atau melumpuhkan (gejala ekstrem yang sangat mengganggu fungsi)

Skor total HAM-A diperoleh dengan menjumlahkan nilai dari ke-14 item, dengan rentang skor total antara 0 hingga 56. Skor yang lebih tinggi mengindikasikan tingkat keparahan kecemasan yang lebih besar.

Rincian 14 Item HAM-A

Berikut adalah penjelasan detail mengenai masing-masing dari 14 item dalam Hamilton Anxiety Rating Scale:

1. Suasana hati cemas (Anxious Mood) Item ini menilai perasaan kekhawatiran, antisipasi terhadap hal terburuk, ketakutan akan masa depan, dan mudah tersinggung atau mudah marah. Ini mencakup keadaan mental umum di mana individu merasa gelisah atau tertekan tentang kemungkinan kejadian buruk yang mungkin terjadi.

2. Ketegangan (Tension) Aspek ini mengevaluasi perasaan ketegangan fisik dan mental, mudah lelah (fatigability), respons terkejut yang berlebihan (startle response), mudah menangis, gemetar, perasaan gelisah, ketidakmampuan untuk bersantai, dan kegelisahan motorik. Item ini mencerminkan manifestasi fisik dari keadaan kecemasan yang tinggi.

3. Ketakutan (Fears) Item ini mengeksplorasi ketakutan spesifik seperti takut pada kegelapan, takut pada orang asing, takut ditinggal sendirian, takut pada binatang, takut pada lalu lintas, atau takut pada kerumunan orang. Ketakutan-ketakutan ini sering kali tidak proporsional dengan ancaman yang sebenarnya.

4. Insomnia Menilai gangguan tidur termasuk kesulitan untuk tertidur (sleep onset insomnia), tidur yang terganggu atau terputus-putus (sleep maintenance insomnia), tidur yang tidak memuaskan dan merasa lelah saat bangun tidur, mimpi buruk (nightmares), dan teror malam (night terrors).

5. Gejala intelektual atau kognitif (Intellectual/Cognitive) Item ini mengevaluasi kesulitan berkonsentrasi dan gangguan memori. Kecemasan dapat mengganggu fungsi kognitif, membuat individu sulit fokus pada tugas atau mengingat informasi.

6. Suasana hati tertekan (Depressed Mood) Menilai hilangnya minat, kurangnya kesenangan dalam hobi, perasaan depresi, bangun tidur terlalu pagi (early morning awakening), dan fluktuasi suasana hati sepanjang hari (diurnal variation). Meskipun fokus utama adalah kecemasan, item ini mengakui bahwa gejala depresif sering muncul bersamaan dengan kecemasan.

7. Gejala somatik (otot) (Somatic – Muscular) Mencakup nyeri otot dan kekakuan, kedutan otot, gigi gemeretak (bruxism), suara yang gemetar, dan peningkatan tonus otot. Gejala-gejala ini mencerminkan ketegangan fisik yang menyertai keadaan cemas.

8. Gejala somatik (sensorik) (Somatic – Sensory) Item ini menilai gejala sensorik seperti telinga berdenging (tinnitus), penglihatan kabur, sensasi panas dan dingin, perasaan lemah, dan sensasi tertusuk-tusuk (paresthesia). Gejala-gejala ini sering dilaporkan oleh individu dengan kecemasan tinggi.

9. Gejala kardiovaskular (Cardiovascular Symptoms) Mengevaluasi gejala seperti detak jantung cepat (tachycardia), jantung berdebar-debar (palpitations), nyeri dada, sensasi berdenyut di pembuluh darah, perasaan pingsan, dan denyut jantung yang terlewat (missed beats).

10. Gejala pernapasan (Respiratory Symptoms) Mencakup tekanan atau konstriksi di dada, perasaan tersedak, sesak napas, dan pernapasan yang cepat (hyperventilation). Gejala pernapasan sering menjadi komponen utama dalam serangan panik.

11. Gejala gastrointestinal (Gastrointestinal Symptoms) Item ini menilai kesulitan menelan, mual, muntah, penurunan berat badan, sembelit, perut kembung, nyeri perut, sensasi terbakar di perut, dan gejala-gejala yang menyerupai sindrom iritasi usus besar (irritable bowel syndrome).

12. Gejala genitourinaria (Genitourinary Symptoms) Mengevaluasi frekuensi buang air kecil yang meningkat, urgensi buang air kecil, gangguan menstruasi, penurunan libido atau hasrat seksual, disfungsi ereksi, dan gangguan fungsi seksual lainnya.

13. Gejala otonom (Autonomic Symptoms) Mencakup mulut kering, wajah memerah atau pucat, kecenderungan untuk berkeringat berlebihan, pusing atau vertigo, dan sakit kepala tegang (tension headache). Gejala-gejala ini mencerminkan aktivasi sistem saraf otonom yang berlebihan.

14. Perilaku saat wawancara (Behavior at Interview) Item terakhir ini adalah observasi klinis terhadap perilaku pasien selama wawancara penilaian, termasuk kegelisahan, ketidaktenangan, gemetar tangan, kerutan di dahi, wajah tegang, peningkatan tonus otot, nafas yang tersengal-sengal, dan pucat. Ini adalah satu-satunya item yang sepenuhnya bergantung pada observasi pewawancara terhadap manifestasi fisik kecemasan.

Dimensi Kecemasan Psikis dan Somatik

Dalam analisis faktor asli yang dilakukan oleh Hamilton, 14 item HAM-A dikelompokkan menjadi dua dimensi utama:

Kecemasan psikis (psychic anxiety): Mencakup item 1 hingga 6 dan item 14, yang menilai aspek mental dan psikologis dari kecemasan seperti kekhawatiran, ketegangan mental, ketakutan, gangguan tidur, disfungsi kognitif, dan suasana hati tertekan. Dimensi ini mencerminkan gangguan emosional dan kognitif yang dialami oleh individu.

Kecemasan somatik (somatic anxiety): Mencakup item 7 hingga 13, yang menilai manifestasi fisik dari kecemasan termasuk gejala otot, sensorik, kardiovaskular, pernapasan, gastrointestinal, genitourinaria, dan otonom. Dimensi ini mencerminkan respons fisiologis tubuh terhadap keadaan cemas.

Pembedaan antara kecemasan psikis dan somatik ini penting secara klinis karena dapat membantu dalam memahami profil gejala individu dan dalam merencanakan intervensi terapeutik yang tepat. Beberapa penelitian telah menggunakan subskala psikis dan somatik secara terpisah untuk mendapatkan pemahaman yang lebih nuansa tentang manifestasi kecemasan pada pasien.

Cara Penggunaan dan Administrasi

Metode Administrasi

Hamilton Anxiety Rating Scale adalah instrumen yang dirancang untuk diadministrasikan oleh klinisi (clinician-administered), bukan sebagai kuesioner lapor diri (self-report). Hal ini berbeda dengan banyak instrumen penilaian kesehatan mental modern yang dapat diisi sendiri oleh pasien. Administrasi oleh klinisi memungkinkan untuk integrasi informasi yang diperoleh dari laporan pasien dan observasi langsung pewawancara terhadap manifestasi perilaku kecemasan.

Proses administrasi HAM-A melibatkan wawancara klinis semiterstruktur dengan pasien. Pewawancara, yang idealnya adalah profesional kesehatan mental terlatih seperti psikiater, psikolog klinis, atau perawat kesehatan jiwa, mengajukan serangkaian pertanyaan yang berkaitan dengan 14 domain gejala yang dinilai dalam skala. Pertanyaan dirancang untuk mengeksplorasi keberadaan dan tingkat keparahan masing-masing gejala.

Durasi Administrasi

Administrasi HAM-A umumnya memerlukan waktu sekitar 10 hingga 15 menit untuk diselesaikan, meskipun durasi dapat bervariasi tergantung pada kompleksitas presentasi klinis pasien dan kebutuhan untuk klarifikasi respons. Efisiensi waktu ini menjadikan HAM-A sebagai instrumen yang praktis untuk digunakan dalam berbagai setting klinis, termasuk klinik rawat jalan, rumah sakit, dan dalam konteks penelitian.

Kualifikasi Pewawancara

Meskipun HAM-A adalah instrumen yang ada di domain publik dan dapat diakses secara bebas, administrasi yang efektif dan penilaian yang akurat memerlukan pelatihan klinis yang memadai. Pewawancara harus memiliki:

  1. Pengetahuan klinis: Pemahaman yang baik tentang gangguan kecemasan, manifestasi gejala, dan diagnosis diferensial.
  2. Keterampilan wawancara: Kemampuan untuk melakukan wawancara klinis yang terstruktur namun fleksibel, dengan kemampuan untuk menggali informasi yang diperlukan tanpa mempengaruhi respons pasien.
  3. Kemampuan observasi: Keterampilan untuk mengamati manifestasi perilaku kecemasan selama wawancara, yang penting untuk penilaian item 14.
  4. Penilaian klinis: Kemampuan untuk menilai tingkat keparahan gejala berdasarkan deskripsi pasien dan observasi langsung, serta untuk membedakan antara gejala yang terkait dengan kecemasan dan gejala yang mungkin disebabkan oleh kondisi medis lain atau efek samping obat.

Periode Penilaian

HAM-A biasanya menilai gejala yang dialami oleh pasien selama periode tertentu, umumnya satu minggu terakhir sebelum wawancara. Kerangka waktu ini memungkinkan untuk penilaian yang mencerminkan keadaan kecemasan pasien yang terkini namun cukup stabil untuk memberikan gambaran yang bermakna. Beberapa klinisi mungkin menyesuaikan periode penilaian berdasarkan konteks klinis spesifik, seperti dalam pemantauan respons terhadap pengobatan.

Teknik Wawancara

Dalam melakukan wawancara HAM-A, pewawancara menggunakan pendekatan semiterstruktur. Ini berarti bahwa meskipun ada panduan mengenai area yang perlu dinilai, pewawancara memiliki fleksibilitas dalam cara mengajukan pertanyaan dan dalam menggali informasi lebih lanjut untuk mendapatkan penilaian yang akurat.

Untuk setiap item, pewawancara:

  1. Mengajukan pertanyaan terbuka untuk mengeksplorasi keberadaan gejala dalam domain tertentu
  2. Menggunakan pertanyaan lanjutan untuk mengklarifikasi frekuensi, intensitas, dan dampak gejala
  3. Menilai tingkat keparahan berdasarkan informasi yang diperoleh dan observasi klinis
  4. Memberikan skor yang sesuai pada skala 0-4

Pewawancara harus menjaga sikap yang netral dan tidak mengarahkan, untuk menghindari bias dalam penilaian. Namun, mereka juga perlu cukup proaktif untuk memastikan bahwa semua area yang relevan telah dieksplorasi dengan memadai.

Konteks Administrasi

HAM-A dapat diadministrasikan dalam berbagai konteks klinis dan penelitian:

Penilaian awal (baseline assessment): Untuk mengukur tingkat keparahan kecemasan sebelum memulai intervensi terapeutik. Ini memberikan titik referensi untuk memantau perubahan seiring waktu.

Pemantauan respons terhadap pengobatan: HAM-A sering digunakan untuk menilai efektivitas intervensi seperti terapi psikologis atau farmakologis. Penilaian ulang dapat dilakukan secara berkala (misalnya, setiap 2-4 minggu) untuk melacak perubahan gejala.

Penelitian klinis: HAM-A adalah salah satu instrumen yang paling sering digunakan dalam uji klinis untuk mengevaluasi efikasi obat anti-kecemasan atau intervensi psikologis. Standarisasi instrumen memungkinkan perbandingan hasil antar studi.

Penilaian komprehensif: Sebagai bagian dari evaluasi diagnostik komprehensif untuk gangguan kecemasan, HAM-A dapat memberikan informasi kuantitatif yang melengkapi informasi kualitatif dari wawancara diagnostik.

Telemedicine: Penelitian terbaru menunjukkan bahwa HAM-A dapat diadministrasikan secara efektif melalui video konferensi dalam konteks layanan kesehatan jarak jauh (telehealth), dengan perhatian khusus pada observasi perilaku yang mungkin lebih terbatas dibandingkan dengan penilaian tatap muka langsung.

Adaptasi Digital

Seiring dengan perkembangan teknologi, beberapa versi digital atau terkomputerisasi dari HAM-A telah dikembangkan. Kobak et al. (1993) mengembangkan dan memvalidasi versi yang diadministrasikan oleh komputer dari HAM-A. Penelitian menunjukkan bahwa versi terkomputerisasi ini memiliki reliabilitas dan validitas yang sebanding dengan administrasi tradisional, dan dapat mengurangi waktu administrasi serta variabilitas antar-penilai.

Namun, penting untuk dicatat bahwa HAM-A pada dasarnya dirancang sebagai instrumen yang diadministrasikan oleh klinisi, dan penggunaan sebagai kuesioner lapor diri tanpa bimbingan klinis dapat mengurangi akurasi penilaian, terutama untuk item yang memerlukan observasi langsung seperti item 14.

Sistem Penilaian dan Interpretasi

Sistem Skoring

Penilaian dalam Hamilton Anxiety Rating Scale menggunakan pendekatan kuantitatif yang memungkinkan untuk pengukuran objektif tingkat keparahan kecemasan. Seperti yang telah disebutkan sebelumnya, setiap item dinilai pada skala 0-4, dan skor total diperoleh dengan menjumlahkan nilai dari semua 14 item.

Rumus perhitungan: Skor Total HAM-A = Σ (Skor Item 1 hingga Item 14)

Rentang skor: 0-56

Interpretasi Skor Total

Interpretasi skor HAM-A mengikuti panduan umum berikut, meskipun cut-off spesifik dapat bervariasi sedikit dalam literatur:

Skor 0-7: Tidak ada kecemasan atau kecemasan minimal. Individu dengan skor dalam rentang ini umumnya tidak mengalami gejala kecemasan yang signifikan secara klinis.

Skor 8-14: Kecemasan ringan (mild anxiety). Individu mengalami beberapa gejala kecemasan tetapi umumnya masih dapat berfungsi dengan baik dalam kehidupan sehari-hari. Intervensi mungkin termasuk strategi manajemen stres, teknik relaksasi, atau pemantauan lanjutan.

Skor 15-17: Kecemasan ringan hingga sedang. Gejala mulai lebih mengganggu dan dapat mempengaruhi beberapa aspek fungsi.

Skor 18-24: Kecemasan sedang (moderate anxiety). Gejala cukup mengganggu dan mempengaruhi fungsi sehari-hari. Intervensi terapeutik biasanya direkomendasikan, yang dapat berupa terapi psikologis, farmakologis, atau kombinasi keduanya. Pasien dengan skor dalam rentang ini sering dapat dikelola oleh praktisi umum atau dengan intervensi yang tersedia secara bebas (over-the-counter).

Skor 25-30: Kecemasan sedang hingga berat. Gejala sangat mengganggu dan sangat mempengaruhi fungsi dan kualitas hidup. Rujukan ke spesialis kesehatan mental sangat direkomendasikan.

Skor di atas 30: Kecemasan berat (severe anxiety). Gejala sangat parah dan melumpuhkan, memerlukan intervensi intensif. Rujukan mendesak ke psikiater atau profesional kesehatan mental biasanya diperlukan. Individu mungkin mengalami kesulitan signifikan dalam fungsi pekerjaan, sosial, dan aktivitas sehari-hari.

Penting untuk dicatat bahwa interpretasi skor HAM-A harus selalu dilakukan dalam konteks gambaran klinis yang lengkap. Skor numerik hanya memberikan satu aspek informasi, dan harus diintegrasikan dengan informasi diagnostik, riwayat pasien, dan penilaian klinis komprehensif lainnya.

Penggunaan Subskala

Beberapa klinisi dan peneliti menggunakan subskala kecemasan psikis dan somatik secara terpisah untuk mendapatkan pemahaman yang lebih rinci tentang profil gejala pasien. Ini dapat membantu dalam:

  1. Profil gejala: Mengidentifikasi apakah pasien mengalami lebih banyak gejala psikologis versus gejala fisik, yang dapat menginformasikan pendekatan terapi.
  2. Respons diferensial: Memantau bagaimana aspek psikis dan somatik dari kecemasan merespons terhadap intervensi tertentu. Misalnya, beberapa obat mungkin lebih efektif untuk gejala somatik, sementara terapi psikologis mungkin lebih menargetkan gejala psikis.
  3. Diagnosis diferensial: Membantu dalam membedakan gangguan kecemasan dari kondisi medis yang mungkin menyebabkan gejala fisik yang menyerupai kecemasan.

Perubahan Skor dan Signifikansi Klinis

Dalam konteks pemantauan respons terhadap pengobatan, perubahan dalam skor HAM-A dari waktu ke waktu digunakan untuk menilai efektivitas intervensi. Penelitian telah menginvestigasi berapa banyak perubahan dalam skor yang mencerminkan perbaikan yang bermakna secara klinis.

Respons terhadap pengobatan: Umumnya didefinisikan sebagai pengurangan 50% atau lebih dalam skor HAM-A dari baseline. Misalnya, jika seorang pasien memiliki skor awal 30 dan kemudian skornya turun menjadi 15 atau kurang setelah pengobatan, ini akan dianggap sebagai respons yang baik.

Remisi: Biasanya didefinisikan sebagai mencapai skor HAM-A di bawah ambang tertentu, sering 7 atau 8, yang mengindikasikan bahwa gejala kecemasan telah berkurang hingga tingkat yang minimal atau tidak signifikan secara klinis.

Perbaikan minimal yang penting secara klinis (Minimal Clinically Important Difference, MCID): Beberapa penelitian telah berupaya untuk menentukan perubahan skor minimal yang diperlukan untuk mencerminkan perbaikan yang bermakna bagi pasien. Angka yang tepat dapat bervariasi, tetapi penurunan sekitar 4-6 poin sering dianggap sebagai perubahan yang bermakna secara klinis.

Pertimbangan dalam Interpretasi

Beberapa faktor penting yang perlu dipertimbangkan dalam menginterpretasikan skor HAM-A:

Konfirmasi bias: Ketika HAM-A digunakan setelah pasien telah diidentifikasi sebagai memiliki kemungkinan gangguan kecemasan (misalnya, melalui skrining awal), ada kemungkinan bahwa skor akan lebih tinggi dibandingkan jika instrumen digunakan pada populasi umum. Ini bukan kelemahan instrumen tetapi lebih merupakan konsekuensi alami dari seleksi sampel.

Komorbiditas: Pasien dengan gangguan kecemasan sering juga mengalami kondisi kesehatan mental lain, terutama depresi. Beberapa item dalam HAM-A, khususnya item 6 yang menilai suasana hati tertekan, dapat menangkap gejala depresif. Ini penting untuk dipertimbangkan dalam interpretasi, terutama karena salah satu kritik terhadap HAM-A adalah bahwa instrumen ini tidak selalu membedakan dengan jelas antara kecemasan dan depresi.

Kondisi medis: Beberapa gejala fisik yang dinilai dalam HAM-A (misalnya, gejala kardiovaskular, gastrointestinal) juga dapat disebabkan oleh kondisi medis. Klinis harus melakukan evaluasi medis yang memadai untuk mengecualikan penyebab organik dari gejala sebelum mengaitkannya semata-mata dengan kecemasan.

Efek pengobatan: Beberapa obat, termasuk obat anti-kecemasan, dapat memiliki efek samping yang mungkin mempengaruhi skor pada beberapa item HAM-A. Misalnya, benzodiazepine dapat menyebabkan sedasi dan mengurangi skor pada item yang berkaitan dengan ketegangan, tetapi juga dapat mempengaruhi fungsi kognitif.

Variasi budaya: Ekspresi dan pengalaman kecemasan dapat bervariasi lintas budaya. Beberapa manifestasi kecemasan mungkin lebih umum atau lebih dapat diterima untuk dilaporkan dalam satu budaya dibandingkan budaya lain. Meskipun HAM-A telah diterjemahkan dan divalidasi dalam banyak bahasa, klinisi harus tetap peka terhadap konteks budaya pasien mereka.

Validitas dan Reliabilitas

Sejak publikasi aslinya pada tahun 1959, Hamilton Anxiety Rating Scale telah menjadi subjek penelitian psikometri yang ekstensif. Berbagai studi telah mengevaluasi validitas, reliabilitas, dan sensitivitas instrumen ini terhadap perubahan. Bukti-bukti ini sangat penting untuk memastikan bahwa HAM-A adalah alat ukur yang dapat dipercaya dan bermakna dalam konteks klinis dan penelitian.

Validitas Instrumen

Validitas merujuk pada sejauh mana instrumen mengukur apa yang seharusnya diukur. Untuk HAM-A, ini berarti sejauh mana skala benar-benar mengukur keparahan kecemasan.

Validitas konten (content validity): Penelitian awal Hamilton sendiri dan tinjauan ahli selanjutnya telah mengkonfirmasi bahwa 14 item dalam HAM-A mencakup domain gejala yang komprehensif dan relevan dengan pengalaman kecemasan. Item-item ini mencerminkan manifestasi psikologis dan fisik kecemasan yang diakui secara klinis.

Validitas konstruk (construct validity): Studi-studi analisis faktor telah mengkonfirmasi bahwa HAM-A mengukur konstruk kecemasan. Meskipun ada perdebatan tentang struktur faktor yang optimal (satu faktor vs. dua faktor), analisis konsisten menunjukkan bahwa item-item dalam HAM-A saling berkorelasi dengan cara yang mencerminkan konstruk kecemasan yang koheren.

Menurut penelitian dari PubMed yang dikutip, studi terbaru pada mahasiswa Ethiopia menunjukkan bahwa analisis faktor konfirmatori (confirmatory factor analysis) mendukung struktur satu faktor karena indeks kecocokan untuk model satu faktor dan dua model dua faktor yang berbeda serupa, tetapi korelasi antar-faktor yang tinggi dalam model dua faktor melanggar kriteria validitas diskriminan (Manzar et al., 2025, DOI: 10.1192/bjo.2025.10055).

Validitas konvergen (convergent validity): HAM-A telah ditunjukkan berkorelasi kuat dengan instrumen penilaian kecemasan lainnya. Penelitian telah menunjukkan korelasi yang signifikan dan substansial antara skor HAM-A dan skala kecemasan lain seperti Generalized Anxiety Disorder-7 (GAD-7), Beck Anxiety Inventory (BAI), dan State-Trait Anxiety Inventory (STAI).

Dalam studi validasi HAM-A pada pasien dengan gangguan spektrum skizofrenia, validitas konvergen diperiksa dengan mengkorelasikan penilaian berbasis aplikasi dengan skala yang ditetapkan termasuk GAD-7, dengan hasil menunjukkan korelasi yang signifikan pada semua titik waktu (Kim et al., 2025, DOI: 10.1177/20552076251317556).

Penelitian lain pada pasien dengan gangguan kecemasan umum dan fobia sosial di Indonesia menggunakan HAM-A bersama dengan Beck Anxiety Inventory dan menunjukkan validitas konvergen yang signifikan (p < 0,001) (Tubaki et al., 2023, DOI: 10.1016/j.jaim.2023.100765).

Validitas divergen (divergent validity): Idealnya, HAM-A harus berkorelasi lebih kuat dengan ukuran kecemasan lain dibandingkan dengan ukuran konstruk yang berbeda seperti depresi. Namun, salah satu kritik yang sering dilontarkan terhadap HAM-A adalah bahwa instrumen ini tidak selalu membedakan dengan baik antara kecemasan dan depresi. Beberapa penelitian telah menemukan korelasi yang relatif tinggi antara HAM-A dan skala depresi seperti Hamilton Depression Rating Scale (HAM-D).

Dalam studi validasi terbaru pada pasien dengan gangguan emosional di Denmark, korelasi antara skor Positive and Negative Affect Schedule negatif dengan HAM-A adalah moderat hingga kuat (r = 0,51), menunjukkan tumpang tindih antara afektivitas negatif, kecemasan, dan depresi (Hovmand et al., 2023, DOI: 10.1186/s12888-023-05450-z).

Validitas kriteria (criterion validity): HAM-A telah ditunjukkan mampu membedakan antara individu dengan dan tanpa gangguan kecemasan. Studi pada mahasiswa Ethiopia menunjukkan bahwa cut-off 38,5 dapat membedakan subjek dengan episode depresi mayor dari kontrol sehat dengan sensitivitas 82,9% dan spesifisitas 81,0% (Manzar et al., 2024, DOI: 10.1080/07420528.2024.2373215).

Reliabilitas Instrumen

Reliabilitas merujuk pada konsistensi dan stabilitas pengukuran. Instrumen yang reliabel akan memberikan hasil yang konsisten ketika digunakan dalam kondisi yang sama.

Reliabilitas konsistensi internal (internal consistency reliability): Ini mengukur sejauh mana item-item dalam skala saling berkorelasi dan mengukur konstruk yang sama. Koefisien Alpha Cronbach adalah ukuran yang paling sering digunakan. Penelitian konsisten menunjukkan bahwa HAM-A memiliki konsistensi internal yang baik hingga sangat baik.

Dalam studi pada penilaian ortorexia nervosa di Turki, HAM-A menunjukkan Alpha Cronbach yang tinggi (α = 0,87), mengindikasikan konsistensi internal yang baik (Yılmaz et al., 2024, DOI: 10.1186/s40337-024-01133-6).

Studi pada mahasiswa Ethiopia menunjukkan koefisien Alpha Cronbach dan McDonald’s Omega untuk HAM-A masing-masing adalah 0,88, menunjukkan reliabilitas yang sangat baik (Manzar et al., 2025, DOI: 10.1192/bjo.2025.10055).

Penelitian pada skala Semi-structured Interview for Bipolar At-Risk States (SIBARS) yang menggunakan HAM-A sebagai bagian dari validasi menunjukkan konsistensi internal yang sangat baik dengan Alpha Cronbach = 0,90 dan McDonald’s Omega = 0,96 (Stefanelli et al., 2025, DOI: 10.1016/j.jad.2025.119529).

Reliabilitas tes-ulang (test-retest reliability): Ini mengukur stabilitas skor seiring waktu dalam kondisi di mana tidak ada perubahan yang diharapkan dalam tingkat keparahan kecemasan. HAM-A telah menunjukkan reliabilitas tes-ulang yang memadai dalam banyak studi.

Dalam studi tentang Depression, Anxiety, and Stress Scale-21 (DASS-21) yang membandingkan dengan HAM-A, konsistensi tes-ulang dievaluasi dengan intraclass correlation coefficient (ICC) yang menunjukkan stabilitas yang baik (Manzar et al., 2025, DOI: 10.1371/journal.pone.0325238).

Penelitian pada skala DOS untuk ortorexia nervosa yang menggunakan HAM-A sebagai perbandingan menunjukkan reliabilitas tes-ulang setelah dua minggu dengan koefisien 0,99, yang sangat tinggi (Yılmaz et al., 2024).

Reliabilitas antar-penilai (inter-rater reliability): Karena HAM-A diadministrasikan oleh klinisi, penting bahwa penilai yang berbeda akan memberikan skor yang serupa untuk pasien yang sama. Penelitian telah menunjukkan reliabilitas antar-penilai yang baik untuk HAM-A ketika pewawancara telah dilatih dengan baik.

Dalam studi tentang Ayurveda assessment scale for anxiety, reliabilitas antar-penilai HAM-A berada dalam rentang baik hingga sangat baik (Tubaki et al., 2023, DOI: 10.1016/j.jaim.2023.100765).

Sensitivitas terhadap Perubahan

Salah satu aspek penting dari instrumen penilaian dalam konteks klinis adalah kemampuannya untuk mendeteksi perubahan dalam gejala seiring waktu, terutama sebagai respons terhadap pengobatan. HAM-A telah terbukti sensitif terhadap perubahan dalam berbagai studi intervensi.

Penelitian oleh Maier et al. (1988) menunjukkan bahwa HAM-A memiliki sensitivitas yang baik terhadap perubahan dalam gangguan kecemasan dan depresif. Studi uji klinis obat anti-kecemasan secara konsisten menunjukkan bahwa HAM-A dapat mendeteksi perbaikan dalam gejala kecemasan setelah intervensi farmakologis atau psikologis.

Dalam studi tentang esketamine nasal spray untuk depresi resisten pengobatan, HAM-A digunakan untuk menilai perubahan gejala kecemasan dan menunjukkan pengurangan yang signifikan pada gejala kecemasan pada minggu ke-2, yang diukur dengan GAD-7, menunjukkan sensitivitas terhadap perubahan awal dalam pengobatan (Kim et al., 2024, DOI: 10.3390/ph17091143).

Struktur Faktor

Salah satu area yang telah menjadi subjek perdebatan dalam literatur adalah struktur faktor optimal dari HAM-A. Seperti disebutkan sebelumnya, Hamilton sendiri mengidentifikasi dua dimensi: kecemasan psikis dan somatik. Namun, berbagai analisis faktor telah menghasilkan temuan yang beragam.

Beberapa studi mendukung struktur dua faktor yang membedakan kecemasan psikis dan somatik. Namun, studi lain telah menemukan bahwa struktur satu faktor mungkin lebih sesuai, terutama ketika menggunakan metode analisis yang lebih ketat. Perdebatan ini mencerminkan kompleksitas konstruk kecemasan itu sendiri dan fakta bahwa manifestasi psikis dan somatik dari kecemasan sering kali sangat terkait satu sama lain.

Penelitian terbaru pada mahasiswa Ethiopia menggunakan analisis faktor konfirmatori dan ukuran kualitas estimasi faktor, stabilitas konstruk, dan ketahanan unidimensionalitas mendukung struktur satu faktor (Manzar et al., 2025, DOI: 10.1192/bjo.2025.10055).

Namun, untuk tujuan praktis klinis, baik pendekatan satu faktor (menggunakan skor total) maupun dua faktor (menggunakan subskala psikis dan somatik) dapat memberikan informasi yang berguna tergantung pada konteks dan tujuan penilaian.

Invariansi Pengukuran

Invariansi pengukuran merujuk pada apakah instrumen berfungsi dengan cara yang sama di berbagai kelompok demografis. Penelitian telah menunjukkan bahwa HAM-A menunjukkan invariansi struktural dan item-level di berbagai kelompok gender.

Studi pada mahasiswa Ethiopia menunjukkan bahwa struktur satu faktor HAM-A menunjukkan invariansi struktural yang dibuktikan dengan analisis faktor konfirmatori multi-kelompok lintas kelompok gender. Tidak ada perbedaan fungsi item (differential item functioning) yang menunjukkan invariansi pengukuran tingkat item untuk semua 14 item HAM-A lintas gender untuk estimasi seragam dan tidak seragam (Manzar et al., 2025, DOI: 10.1192/bjo.2025.10055).

Temuan ini penting karena menunjukkan bahwa HAM-A dapat digunakan dengan keyakinan yang sama pada pria dan wanita, dan bahwa skor dapat dibandingkan secara bermakna lintas gender.

Aplikasi Klinis

Hamilton Anxiety Rating Scale telah menjadi instrumen yang sangat berharga dalam berbagai konteks klinis dan penelitian. Fleksibilitas dan utilitas klinisnya telah menjadikannya salah satu alat penilaian yang paling banyak digunakan dalam bidang kesehatan mental.

Penilaian Diagnostik Awal

Meskipun HAM-A tidak dirancang sebagai alat diagnostik per se, instrumen ini sering digunakan sebagai bagian dari proses penilaian diagnostik komprehensif untuk gangguan kecemasan. Setelah diagnosis awal dibuat melalui wawancara diagnostik (seperti menggunakan kriteria DSM-5 atau ICD-11), HAM-A dapat digunakan untuk mengkuantifikasi tingkat keparahan gejala kecemasan, yang membantu dalam perencanaan pengobatan dan memberikan titik referensi baseline untuk pemantauan perubahan.

Dalam setting klinis umum dan gawat darurat, HAM-A dapat digunakan sebagai salah satu alat skrining untuk membantu dokter umum atau dokter gawat darurat dalam mengidentifikasi pasien dengan gangguan panik atau kecemasan. Pedoman praktik klinis untuk penilaian dan manajemen kecemasan dan gangguan panik dalam setting gawat darurat mencantumkan HAM-A sebagai salah satu alat skrining yang tersedia yang dapat digunakan oleh dokter atau dokter perawatan primer dalam setting gawat darurat (Clinical Practice Guidelines, 2023).

Pemantauan Respons terhadap Pengobatan

Salah satu aplikasi utama HAM-A adalah dalam pemantauan respons terhadap intervensi terapeutik. Dalam konteks ini, HAM-A diadministrasikan secara berkala (misalnya, setiap 2-4 minggu) untuk melacak perubahan dalam keparahan gejala kecemasan seiring waktu. Ini memungkinkan klinisi untuk:

  1. Menilai efikasi pengobatan: Menentukan apakah intervensi yang dipilih (farmakoterapi, psikoterapi, atau kombinasi) efektif dalam mengurangi gejala kecemasan.
  2. Membuat penyesuaian pengobatan: Jika perbaikan tidak memadai, skor HAM-A dapat membantu menginformasikan keputusan untuk menyesuaikan dosis obat, mengganti obat, atau mengubah pendekatan terapeutik.
  3. Mengidentifikasi responden dan non-responden: Pasien yang menunjukkan pengurangan 50% atau lebih dalam skor HAM-A dianggap sebagai responder terhadap pengobatan, sementara mereka yang tidak menunjukkan perbaikan yang cukup mungkin memerlukan strategi alternatif.
  4. Memotivasi pasien: Memberikan umpan balik kuantitatif kepada pasien tentang kemajuan mereka dapat menjadi motivasi yang kuat dalam proses pemulihan.

Dalam penelitian tentang efektivitas esketamine nasal spray untuk depresi resisten pengobatan, HAM-A digunakan bersama dengan skala lain untuk mengukur perubahan dalam gejala kecemasan dan depresi. Studi menunjukkan perbaikan yang signifikan dalam skor PHQ-9 dan GAD-7 pada minggu ke-2, menunjukkan bahwa pemantauan dini dapat mendeteksi respons terhadap pengobatan (Kim et al., 2024, DOI: 10.3390/ph17091143).

Penelitian Psikofarmakologi

HAM-A adalah salah satu instrumen yang paling sering digunakan sebagai outcome measure dalam uji klinis obat anti-kecemasan. Standarisasi instrumen memungkinkan untuk perbandingan hasil antar studi dan meta-analisis. Badan regulasi seperti Food and Drug Administration (FDA) di Amerika Serikat dan European Medicines Agency (EMA) di Eropa telah menerima HAM-A sebagai ukuran yang valid untuk menilai efektivitas terapi farmakologis untuk gangguan kecemasan.

Dalam uji klinis, HAM-A biasanya digunakan sebagai ukuran outcome primer atau sekunder, dengan perubahan dari baseline dalam skor total HAM-A atau pencapaian ambang tertentu (misalnya, skor ≤7 untuk remisi) sebagai kriteria keberhasilan.

Evaluasi Terapi Psikologis

Selain dalam konteks psikofarmakologi, HAM-A juga digunakan untuk mengevaluasi efektivitas intervensi psikologis untuk kecemasan. Terapi kognitif-perilaku (CBT), terapi penerimaan dan komitmen (acceptance and commitment therapy/ACT), terapi berbasis mindfulness, dan bentuk psikoterapi lainnya telah dievaluasi menggunakan HAM-A sebagai salah satu ukuran hasil.

Pedoman dari World Health Organization untuk manajemen gangguan kecemasan umum dan gangguan panik dalam setting perawatan kesehatan umum merekomendasikan intervensi psikologis terstruktur singkat berdasarkan prinsip-prinsip terapi kognitif-perilaku untuk orang dewasa dengan GAD dan/atau gangguan panik (Barbui et al., 2024).

Penggunaan dalam Populasi Khusus

HAM-A telah diadaptasi dan divalidasi untuk digunakan dalam berbagai populasi khusus:

Lansia: Meskipun awalnya dikembangkan untuk populasi dewasa umum, penelitian telah menunjukkan bahwa HAM-A dapat digunakan secara efektif pada populasi lansia. Pedoman Kanada untuk penilaian dan pengobatan kecemasan pada orang dewasa yang lebih tua mengakui pentingnya penilaian kecemasan yang terstandarisasi dalam populasi ini (Canadian Coalition for Seniors’ Mental Health, 2024).

Pasien dengan komorbiditas medis: HAM-A telah digunakan untuk menilai kecemasan pada pasien dengan berbagai kondisi medis seperti penyakit kardiovaskular, diabetes, kanker, dan kondisi kronis lainnya. Namun, penting untuk mempertimbangkan bahwa beberapa gejala fisik yang dinilai dalam HAM-A mungkin disebabkan oleh kondisi medis daripada kecemasan.

Kondisi psikiatri komorbid: HAM-A telah digunakan pada pasien dengan berbagai kondisi psikiatri lain seperti depresi, gangguan bipolar, dan skizofrenia untuk menilai gejala kecemasan yang komorbid.

Dalam studi tentang validitas aplikasi smartphone untuk pemantauan mandiri gejala psikiatrik pada pasien dengan skizofrenia, HAM-A tidak secara langsung digunakan tetapi prinsip pemantauan gejala kecemasan diintegrasikan dalam aplikasi, menunjukkan aplikabilitas konsep penilaian kecemasan terstruktur dalam populasi dengan gangguan psikotik (Kim et al., 2025, DOI: 10.1177/20552076251317556).

Gangguan kecemasan spesifik: Meskipun HAM-A awalnya dikembangkan untuk “neurosis kecemasan” secara umum, instrumen ini telah digunakan untuk menilai berbagai jenis gangguan kecemasan termasuk gangguan kecemasan umum, gangguan panik, fobia sosial, dan gangguan stres pascatrauma.

Penggunaan dalam Measurement-Based Care

Measurement-based care (MBC) adalah pendekatan dalam kesehatan mental di mana penilaian gejala terstandarisasi digunakan secara rutin untuk menginformasikan keputusan klinis. HAM-A dapat diintegrasikan ke dalam sistem MBC di mana skor digunakan secara sistematis untuk memandu intensitas dan jenis pengobatan.

Dalam studi pada program pengobatan gangguan penggunaan zat rawat inap, pasien menyelesaikan GAD-7 dan PHQ-9 sebagai bagian dari perawatan berbasis pengukuran rutin pada saat masuk, menunjukkan bahwa penilaian terstandarisasi dapat diintegrasikan ke dalam perawatan rutin (Punia et al., 2025, DOI: 10.1037/adb0001098).

Peran dalam Sistem Kesehatan Bertingkat

HAM-A dapat memainkan peran penting dalam model perawatan bertingkat (stepped care model) untuk gangguan kecemasan. Dalam model ini, intensitas pengobatan disesuaikan dengan keparahan gejala:

  • Skor rendah (self-care eksklusif): Pasien dengan skor HAM-A 17 atau kurang sering direkomendasikan untuk strategi self-care seperti teknik relaksasi, olahraga teratur, dan manajemen stres.
  • Skor sedang (manajemen non-spesialis): Pasien dengan skor antara 18-24 sering dapat dikelola oleh praktisi umum atau dengan pendekatan yang tersedia secara bebas, seperti program terapi online atau kelompok dukungan.
  • Skor tinggi (rujukan spesialis): Pasien dengan skor 25 atau lebih tinggi kemungkinan memerlukan rujukan ke psikiater atau profesional kesehatan mental untuk evaluasi dan pengobatan lebih intensif.

Aplikasi Telehealth

Dengan meningkatnya penggunaan layanan kesehatan jarak jauh, HAM-A telah terbukti dapat diadministrasikan secara efektif melalui video konferensi. Ini memperluas aksesibilitas penilaian kecemasan terstruktur, terutama untuk individu di daerah terpencil atau dengan mobilitas terbatas. Namun, klinisi perlu memberikan perhatian khusus pada observasi perilaku (item 14) yang mungkin lebih terbatas dalam format virtual.

Kelebihan dan Keterbatasan

Seperti semua instrumen penilaian, Hamilton Anxiety Rating Scale memiliki kelebihan dan keterbatasan yang penting untuk dipahami oleh klinisi dan peneliti yang menggunakannya.

Kelebihan HAM-A

1. Standarisasi dan reliabilitas HAM-A memberikan pendekatan terstandarisasi untuk penilaian kecemasan, mengurangi variabilitas subjektif dalam penilaian klinis. Penelitian ekstensif telah menunjukkan bahwa instrumen ini memiliki reliabilitas internal yang baik, reliabilitas tes-ulang yang memadai, dan reliabilitas antar-penilai yang baik ketika pewawancara dilatih dengan baik.

2. Cakupan gejala yang komprehensif Dengan 14 item yang mencakup manifestasi psikologis dan somatik kecemasan, HAM-A memberikan penilaian yang holistik terhadap pengalaman kecemasan. Ini memungkinkan untuk identifikasi berbagai cara di mana kecemasan dapat memanifestasikan dirinya pada individu yang berbeda.

3. Sensitivitas terhadap perubahan HAM-A telah terbukti sensitif terhadap perubahan dalam gejala kecemasan seiring waktu, menjadikannya alat yang berguna untuk memantau respons terhadap pengobatan. Kemampuan ini sangat penting dalam konteks klinis dan penelitian.

4. Pengalaman klinis yang luas Sebagai salah satu skala kecemasan tertua dan paling banyak digunakan, terdapat kekayaan data normatif dan pengalaman klinis dengan HAM-A. Ini memfasilitasi interpretasi skor dan perbandingan dengan penelitian sebelumnya.

5. Domain publik HAM-A tersedia di domain publik, yang berarti dapat diakses dan digunakan secara bebas tanpa biaya lisensi. Ini meningkatkan aksesibilitas instrumen untuk klinisi dan peneliti di seluruh dunia. Skala ini juga telah diterjemahkan ke dalam banyak bahasa termasuk Kanton, Prancis, dan Spanyol.

6. Integrasi penilaian klinis Karena diadministrasikan oleh klinisi daripada sebagai kuesioner lapor diri, HAM-A memungkinkan untuk integrasi penilaian klinis profesional dengan laporan pasien. Ini dapat meningkatkan akurasi penilaian, terutama untuk pasien yang mungkin kesulitan dalam penilaian diri.

7. Penelitian psikometri yang kuat Dekade penelitian telah memberikan bukti kuat tentang validitas dan reliabilitas HAM-A. Studi terbaru terus mendukung properti psikometri instrumen ini dalam berbagai populasi dan konteks (Manzar et al., 2025, DOI: 10.1192/bjo.2025.10055; Hovmand et al., 2023, DOI: 10.1186/s12888-023-05450-z).

Keterbatasan HAM-A

1. Tumpang tindih dengan gejala depresi Salah satu kritik yang paling sering dilontarkan terhadap HAM-A adalah bahwa instrumen ini tidak selalu membedakan dengan jelas antara kecemasan dan depresi. Item 6, yang menilai suasana hati tertekan, secara eksplisit mencakup gejala depresif. Selain itu, beberapa gejala lain seperti insomnia dan kesulitan konsentrasi juga umum terjadi pada depresi. Ini dapat menyebabkan inflasi skor pada pasien dengan komorbiditas depresi dan kecemasan.

Penelitian menunjukkan bahwa pasien dengan depresi dapat mencetak skor yang cukup tinggi pada HAM-A, menunjukkan bahwa instrumen ini mungkin tidak spesifik untuk kecemasan saja (Hamilton, 1959).

2. Administrasi oleh klinisi Meskipun administrasi oleh klinisi adalah kelebihan dalam beberapa aspek, hal ini juga merupakan keterbatasan dalam aspek lain. Ini memerlukan:

  • Waktu klinisi yang terlatih
  • Potensi untuk bias pewawancara
  • Kurang praktis untuk skrining populasi besar atau pemantauan diri yang sering
  • Biaya yang lebih tinggi dibandingkan dengan kuesioner lapor diri

3. Durasi administrasi Meskipun relatif singkat (10-15 menit), HAM-A memerlukan waktu lebih lama untuk diadministrasikan dibandingkan dengan beberapa instrumen skrining yang lebih singkat seperti GAD-2 atau GAD-7, yang dapat diselesaikan dalam beberapa menit.

4. Kurang cocok untuk skrining massal Karena memerlukan administrasi oleh klinisi terlatih, HAM-A kurang praktis untuk program skrining massal di populasi umum atau dalam setting perawatan primer yang sibuk di mana waktu klinisi terbatas.

5. Potensi untuk gejala somatik yang disebabkan oleh kondisi medis Banyak item dalam HAM-A menilai gejala somatik yang juga dapat disebabkan oleh kondisi medis. Tanpa evaluasi medis yang memadai, ada risiko mengaitkan gejala fisik dengan kecemasan ketika sebenarnya disebabkan oleh masalah kesehatan organik. Ini terutama penting pada pasien lansia atau mereka dengan komorbiditas medis.

6. Struktur faktor yang diperdebatkan Meskipun Hamilton mengidentifikasi dua faktor (psikis dan somatik), berbagai analisis faktor selanjutnya telah menghasilkan temuan yang beragam mengenai struktur faktor optimal HAM-A. Ketidakpastian ini dapat membuat interpretasi subskala menjadi kurang jelas.

7. Tidak spesifik untuk gangguan kecemasan tertentu HAM-A memberikan ukuran keparahan kecemasan umum tetapi tidak dirancang untuk membedakan antara jenis gangguan kecemasan yang berbeda (misalnya, GAD vs. gangguan panik vs. fobia sosial). Untuk penilaian yang lebih spesifik terhadap gangguan tertentu, instrumen lain mungkin lebih sesuai.

8. Sensitivitas budaya Meskipun HAM-A telah diterjemahkan ke dalam banyak bahasa, ekspresi dan pengalaman kecemasan dapat bervariasi lintas budaya. Beberapa gejala mungkin lebih atau kurang menonjol dalam konteks budaya tertentu, dan beberapa manifestasi kecemasan yang spesifik budaya mungkin tidak tertangkap dengan baik oleh item-item HAM-A.

9. Fokus pada gejala saat ini HAM-A terutama menilai gejala yang dialami dalam periode terakhir (biasanya satu minggu), yang mungkin tidak menangkap pola kecemasan jangka panjang atau variabilitas dalam gejala seiring waktu.

10. Ketergantungan pada kemampuan lapor diri pasien Meskipun item 14 melibatkan observasi klinis, sebagian besar informasi untuk penilaian HAM-A berasal dari laporan pasien. Pasien dengan insight terbatas atau mereka yang cenderung meminimalkan atau melebih-lebihkan gejala dapat mempengaruhi akurasi penilaian.

Perbandingan dengan Instrumen Penilaian Kecemasan Lainnya

Dalam praktik klinis dan penelitian, HAM-A sering dibandingkan atau digunakan bersama dengan instrumen penilaian kecemasan lainnya. Memahami perbedaan antara berbagai instrumen ini dapat membantu klinisi memilih alat yang paling sesuai untuk tujuan spesifik mereka.

Generalized Anxiety Disorder-7 (GAD-7)

GAD-7 adalah kuesioner lapor diri tujuh item yang dirancang khusus untuk mengskrining dan mengukur keparahan gangguan kecemasan umum. Dikembangkan oleh Spitzer et al. pada tahun 2006, instrumen ini telah menjadi sangat populer karena kesederhanaannya.

Perbandingan dengan HAM-A:

  • Format: GAD-7 adalah lapor diri, sedangkan HAM-A diadministrasikan oleh klinisi
  • Durasi: GAD-7 dapat diselesaikan dalam 2-3 menit, jauh lebih cepat dari HAM-A
  • Fokus: GAD-7 spesifik untuk GAD, sementara HAM-A menilai kecemasan secara lebih umum
  • Cakupan gejala: HAM-A mencakup gejala somatik yang lebih ekstensif
  • Aplikasi: GAD-7 lebih cocok untuk skrining cepat, HAM-A lebih komprehensif untuk penilaian klinis detail

Penelitian menunjukkan korelasi yang baik antara GAD-7 dan HAM-A, menunjukkan validitas konvergen. Dalam studi tentang esketamine untuk depresi resisten pengobatan, GAD-7 menunjukkan penurunan signifikan pada minggu ke-2, sejalan dengan perbaikan yang diukur oleh skala lain (Kim et al., 2024, DOI: 10.3390/ph17091143).

Beck Anxiety Inventory (BAI)

BAI adalah kuesioner lapor diri 21 item yang dikembangkan oleh Aaron T. Beck dan rekan pada tahun 1988. Instrumen ini dirancang untuk mengukur keparahan kecemasan sambil meminimalkan tumpang tindih dengan gejala depresi.

Perbandingan dengan HAM-A:

  • Format: BAI adalah lapor diri, HAM-A diadministrasikan klinisi
  • Fokus gejala: BAI lebih menekankan gejala somatik dan fisiologis, dengan fokus khusus pada gejala serangan panik
  • Diferensiasi dengan depresi: BAI dirancang spesifik untuk membedakan kecemasan dari depresi, sementara HAM-A mengalami kritik dalam hal ini
  • Perspektif: BAI menangkap persepsi subjektif pasien, HAM-A mengintegrasikan penilaian klinis

Dalam penelitian validasi skala Ayurveda untuk kecemasan, baik HAM-A maupun BAI digunakan sebagai gold standard untuk validasi konvergen, menunjukkan korelasi yang signifikan (Tubaki et al., 2023, DOI: 10.1016/j.jaim.2023.100765).

State-Trait Anxiety Inventory (STAI)

STAI adalah instrumen yang dikembangkan oleh Spielberger et al. yang membedakan antara kecemasan sebagai keadaan sementara (state anxiety) dan kecemasan sebagai ciri kepribadian yang stabil (trait anxiety). Instrumen ini terdiri dari dua skala terpisah, masing-masing dengan 20 item.

Perbandingan dengan HAM-A:

  • Konsep: STAI membedakan antara kecemasan sementara dan disposisional, HAM-A fokus pada keparahan gejala saat ini
  • Format: STAI adalah lapor diri, HAM-A diadministrasikan klinisi
  • Aplikasi: STAI berguna untuk memahami perbedaan individu dalam kecenderungan kecemasan, HAM-A lebih fokus pada penilaian klinis keparahan

Hospital Anxiety and Depression Scale (HADS)

HADS adalah instrumen lapor diri 14 item yang dikembangkan untuk mengidentifikasi dan mengukur tingkat keparahan kecemasan dan depresi pada pasien dalam setting rumah sakit umum. Terdiri dari dua subskala: kecemasan (7 item) dan depresi (7 item).

Perbandingan dengan HAM-A:

  • Format: HADS adalah lapor diri, dirancang untuk meminimalkan pengaruh gejala somatik yang mungkin disebabkan oleh penyakit fisik
  • Populasi target: HADS dirancang khusus untuk populasi medis, HAM-A lebih umum
  • Deteksi komorbiditas: HADS secara eksplisit menilai baik kecemasan maupun depresi dalam instrumen yang sama

Penelitian pada pasien dengan chronic fatigue syndrome menggunakan analisis Rasch untuk mengevaluasi properti klinimetrik HADS, menunjukkan pentingnya penilaian terstandarisasi yang tepat untuk kondisi dengan gejala yang kompleks (Bartholomew et al., 2025, DOI: 10.1016/j.jpsychores.2025.112370).

Depression Anxiety and Stress Scale-21 (DASS-21)

DASS-21 adalah versi singkat dari DASS yang menilai tiga konstruk: depresi, kecemasan, dan stres, masing-masing dengan 7 item. Ini adalah instrumen lapor diri yang dirancang untuk menilai distress emosional secara luas.

Perbandingan dengan HAM-A:

  • Cakupan: DASS-21 menilai tiga konstruk berbeda, memberikan profil yang lebih luas
  • Format: Lapor diri vs. administrasi klinisi
  • Konseptualisasi: DASS-21 membedakan antara depresi, kecemasan, dan stres secara konseptual

Dalam studi validasi DASS-21 di kalangan mahasiswa Ethiopia, HAM-A digunakan untuk menilai validitas divergen, dengan korelasi yang lemah hingga sedang mengindikasikan bahwa DASS-21 mengukur konstruk yang terkait namun berbeda (Manzar et al., 2025, DOI: 10.1371/journal.pone.0325238).

Parkinson’s Disease Specific Anxiety Inventory (PDSAI)

Ini adalah contoh instrumen yang dikembangkan untuk menilai kecemasan dalam populasi pasien spesifik. PDSAI dirancang untuk menangkap pemicu dan manifestasi kecemasan yang spesifik untuk penyakit Parkinson.

Perbandingan dengan HAM-A:

  • Spesifisitas: PDSAI disesuaikan untuk pengalaman unik pasien Parkinson, HAM-A lebih umum
  • Validasi: Dalam pengembangan PDSAI, HAM-A digunakan sebagai salah satu ukuran untuk validitas konkuren, menunjukkan korelasi sedang (r = 0,51) (Dissanayaka et al., 2025, DOI: 10.1177/08919887251332660)

Pemilihan Instrumen yang Tepat

Pemilihan instrumen penilaian kecemasan yang tepat tergantung pada berbagai faktor:

  1. Tujuan penilaian: Skrining cepat, penilaian diagnostik komprehensif, atau pemantauan pengobatan
  2. Sumber daya yang tersedia: Waktu, pelatihan staf, dan biaya
  3. Populasi target: Umur, komorbiditas medis, atau psikiatri
  4. Setting: Perawatan primer, spesialis, penelitian, atau telehealth
  5. Kebutuhan spesifik: Diferensiasi dari depresi, penilaian gejala somatik, atau evaluasi gangguan kecemasan spesifik

HAM-A tetap menjadi pilihan yang sangat baik untuk penilaian klinis komprehensif dan dalam konteks penelitian di mana standarisasi lintas studi adalah penting. Namun, untuk skrining cepat atau pemantauan diri yang sering, instrumen yang lebih singkat dan berbasis lapor diri seperti GAD-7 mungkin lebih praktis.

Konteks Penggunaan di Indonesia

Penggunaan Hamilton Anxiety Rating Scale di Indonesia berada dalam konteks sistem kesehatan dan budaya yang unik. Memahami konteks ini penting untuk implementasi yang efektif dan interpretasi yang tepat dari instrumen ini.

Beban Gangguan Kecemasan di Indonesia

Indonesia menghadapi beban gangguan kecemasan yang signifikan. Berdasarkan data tahun 2017, diperkirakan 44,9 juta penduduk Indonesia mengalami gangguan kecemasan, menjadikannya salah satu masalah kesehatan mental yang paling umum di negara ini. Prevalensi yang tinggi ini mencerminkan pola global di mana gangguan kecemasan adalah kondisi kesehatan mental yang paling umum.

Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) yang dilakukan oleh Kementerian Kesehatan Republik Indonesia menunjukkan prevalensi gangguan mental emosional yang cukup tinggi di berbagai provinsi. Meskipun data spesifik tentang prevalensi gangguan kecemasan per jenis gangguan tidak selalu tersedia, jelas bahwa masalah kesehatan mental termasuk kecemasan adalah prioritas kesehatan masyarakat yang penting.

Tantangan Layanan Kesehatan Mental di Indonesia

Sistem layanan kesehatan mental di Indonesia menghadapi berbagai tantangan yang mempengaruhi penilaian dan penanganan gangguan kecemasan:

1. Keterbatasan sumber daya: Terdapat kekurangan profesional kesehatan mental, terutama di daerah rural. Rasio psikiater terhadap populasi di Indonesia masih jauh di bawah standar yang direkomendasikan oleh WHO. Ini berarti bahwa banyak individu dengan gangguan kecemasan tidak memiliki akses ke penilaian dan pengobatan yang tepat.

2. Stigma: Stigma terhadap masalah kesehatan mental tetap menjadi hambatan signifikan. Banyak individu dengan gejala kecemasan mungkin enggan mencari bantuan karena takut akan stigmatisasi sosial atau karena kurangnya pemahaman tentang kecemasan sebagai kondisi medis yang dapat diobati.

3. Integrasi layanan kesehatan mental: Meskipun ada upaya untuk mengintegrasikan layanan kesehatan mental ke dalam perawatan kesehatan primer, implementasi masih bervariasi. Banyak fasilitas kesehatan primer mungkin tidak memiliki pelatihan atau alat yang memadai untuk menilai dan mengelola gangguan kecemasan.

4. Kesadaran dan literasi kesehatan mental: Kesadaran masyarakat tentang gangguan kecemasan dan pentingnya mencari bantuan profesional masih perlu ditingkatkan. Banyak individu mungkin tidak mengenali gejala kecemasan mereka sebagai kondisi yang memerlukan intervensi medis.

Implementasi HAM-A dalam Konteks Indonesia

Implementasi HAM-A di Indonesia memiliki beberapa implikasi penting:

1. Ketersediaan instrumen: Karena HAM-A adalah instrumen di domain publik, dapat diakses secara bebas tanpa biaya lisensi. Ini adalah keuntungan penting dalam konteks sumber daya yang terbatas. Namun, untuk penggunaan yang optimal, diperlukan terjemahan yang valid ke dalam Bahasa Indonesia dan adaptasi budaya yang sesuai.

2. Pelatihan profesional: Administrasi HAM-A yang efektif memerlukan pelatihan klinis yang memadai. Program pelatihan untuk psikiater, psikolog klinis, dan perawat kesehatan jiwa di Indonesia perlu mencakup pendidikan tentang penggunaan instrumen penilaian terstandarisasi seperti HAM-A.

3. Integrasi dengan layanan perawatan primer: Untuk meningkatkan deteksi dini dan penanganan gangguan kecemasan, penting untuk mengintegrasikan penilaian kecemasan terstruktur ke dalam setting perawatan primer. Namun, mengingat waktu yang diperlukan untuk administrasi HAM-A, mungkin lebih praktis untuk menggunakan instrumen skrining yang lebih singkat seperti GAD-2 atau GAD-7 di tingkat perawatan primer, dengan rujukan untuk penilaian HAM-A yang lebih komprehensif jika skrining awal positif.

4. Pertimbangan budaya: Ekspresi dan pengalaman kecemasan dapat bervariasi dalam konteks budaya Indonesia. Beberapa manifestasi kecemasan mungkin lebih menonjol dalam budaya Indonesia, sementara yang lain mungkin kurang umum. Penelitian validasi lokal HAM-A dalam populasi Indonesia akan sangat berharga untuk memastikan bahwa instrumen berfungsi dengan baik dalam konteks ini.

Sebagai contoh, penelitian di negara Asia lain telah menunjukkan bahwa adaptasi budaya penting. Dalam studi validasi versi Turki dari Düsseldorf Orthorexia Scale, HAM-A digunakan sebagai salah satu instrumen pembanding, menunjukkan pentingnya memiliki instrumen yang divalidasi secara lokal (Yılmaz et al., 2024, DOI: 10.1186/s40337-024-01133-6).

5. Teknologi digital: Perkembangan teknologi digital dan meningkatnya penetrasi smartphone di Indonesia membuka peluang untuk platform penilaian dan pemantauan kesehatan mental berbasis aplikasi. Versi digital HAM-A atau instrumen penilaian kecemasan lainnya dapat meningkatkan aksesibilitas, terutama di daerah yang kekurangan profesional kesehatan mental.

Penelitian tentang validitas aplikasi smartphone untuk pemantauan mandiri gejala psikiatrik menunjukkan bahwa teknologi digital dapat menjadi alat yang valid dan reliabel untuk penilaian gejala, termasuk kecemasan (Kim et al., 2025, DOI: 10.1177/20552076251317556).

Inisiatif dan Kebijakan Kesehatan Mental di Indonesia

Pemerintah Indonesia telah mengambil beberapa langkah untuk meningkatkan layanan kesehatan mental:

Program Indonesia Sehat dengan Pendekatan Keluarga (PIS-PK): Ini adalah program pemerintah yang bertujuan untuk meningkatkan akses ke layanan kesehatan, termasuk kesehatan mental, melalui pendekatan berbasis keluarga dan komunitas.

Pedoman Pengendalian Masalah Kesehatan Jiwa di Fasilitas Kesehatan Primer: Kementerian Kesehatan telah mengembangkan pedoman untuk membantu fasilitas kesehatan primer dalam mendeteksi, menilai, dan mengelola masalah kesehatan mental termasuk gangguan kecemasan.

Integrasi kesehatan mental dalam Jaminan Kesehatan Nasional (JKN): Layanan kesehatan mental, termasuk untuk gangguan kecemasan, dicakup oleh sistem asuransi kesehatan nasional Indonesia, meningkatkan aksesibilitas perawatan.

Peningkatan fasilitas: Terdapat upaya untuk meningkatkan jumlah dan kualitas fasilitas kesehatan mental, termasuk rumah sakit jiwa dan klinik rawat jalan, serta untuk mengintegrasikan layanan kesehatan mental ke dalam rumah sakit umum.

Penelitian dan Validasi Lokal

Untuk memaksimalkan utilitas HAM-A dan instrumen penilaian kecemasan lainnya di Indonesia, diperlukan penelitian validasi lokal yang mengevaluasi:

  1. Properti psikometri HAM-A dalam populasi Indonesia
  2. Cut-off skor yang optimal untuk konteks Indonesia
  3. Validitas lintas budaya dan kepekaan terhadap manifestasi kecemasan yang spesifik budaya
  4. Efektivitas dalam berbagai setting (perkotaan vs. rural, perawatan primer vs. spesialis)
  5. Perbandingan dengan instrumen penilaian kecemasan lainnya yang mungkin lebih praktis untuk setting tertentu

Penelitian semacam ini akan memberikan fondasi bukti yang kuat untuk penggunaan HAM-A dan instrumen lainnya dalam konteks Indonesia, memastikan bahwa penilaian dan pengobatan gangguan kecemasan didasarkan pada praktik berbasis bukti yang relevan secara lokal.

Kolaborasi Regional

Indonesia dapat belajar dari pengalaman negara-negara Asia lainnya dalam implementasi penilaian dan pengobatan gangguan kecemasan. Penelitian di negara-negara seperti Cina, India, dan negara-negara ASEAN lainnya telah memberikan wawasan berharga tentang adaptasi instrumen penilaian kesehatan mental untuk konteks Asia.

Sebagai contoh, penelitian validasi instrumen di India dan Ethiopia menunjukkan pentingnya adaptasi lokal (Manzar et al., 2025, DOI: 10.1192/bjo.2025.10055; Manzar et al., 2025, DOI: 10.1371/journal.pone.0325238).

Kesimpulan

Hamilton Anxiety Rating Scale (HAM-A) telah membuktikan dirinya sebagai instrumen yang tahan lama dan berharga dalam penilaian kecemasan sejak pertama kali dipublikasikan oleh Dr. Max Hamilton pada tahun 1959. Lebih dari enam dekade kemudian, skala ini tetap menjadi salah satu instrumen yang paling banyak digunakan dalam penelitian dan praktik klinis untuk mengukur tingkat keparahan gejala kecemasan.

Kekuatan utama HAM-A terletak pada pendekatannya yang komprehensif terhadap penilaian kecemasan, mencakup baik manifestasi psikologis maupun somatik dari kondisi ini. Dengan 14 item yang dinilai oleh klinisi terlatih, HAM-A memberikan gambaran yang holistik tentang pengalaman kecemasan individu. Properti psikometri yang kuat, termasuk reliabilitas internal yang baik, reliabilitas tes-ulang yang memadai, dan sensitivitas terhadap perubahan, telah dikonfirmasi melalui penelitian ekstensif di berbagai populasi dan konteks.

Penelitian terbaru dari PubMed terus mendukung validitas dan utilitas HAM-A. Studi pada berbagai populasi, dari mahasiswa Ethiopia hingga pasien dengan kondisi medis kompleks, menunjukkan bahwa HAM-A tetap menjadi alat penilaian yang reliabel dan valid (Manzar et al., 2025; Hovmand et al., 2023; Yılmaz et al., 2024). Instrumen ini telah terbukti berguna tidak hanya untuk penilaian awal dan pemantauan respons terhadap pengobatan, tetapi juga sebagai ukuran outcome standar dalam uji klinis farmakologis dan intervensi psikologis untuk gangguan kecemasan.

Namun, penting untuk mengakui keterbatasan HAM-A. Kritik utama termasuk tumpang tindih dengan gejala depresi, kebutuhan untuk administrasi oleh klinisi terlatih yang memerlukan lebih banyak waktu dan sumber daya dibandingkan dengan instrumen lapor diri, dan potensi untuk gejala somatik yang mungkin disebabkan oleh kondisi medis daripada kecemasan. Keterbatasan ini harus dipertimbangkan dalam pemilihan dan interpretasi instrumen.

Dalam konteks Indonesia, HAM-A dapat memainkan peran penting dalam meningkatkan penilaian dan penanganan gangguan kecemasan. Dengan beban gangguan kecemasan yang signifikan di negara ini dan tantangan yang dihadapi oleh sistem layanan kesehatan mental, penting untuk memiliki instrumen penilaian yang terstandarisasi, reliabel, dan valid. Implementasi HAM-A yang efektif di Indonesia memerlukan adaptasi budaya yang tepat, pelatihan profesional kesehatan mental, dan integrasi dengan sistem layanan kesehatan yang ada.

Ke depan, beberapa area penting untuk pengembangan dan penelitian mencakup:

  1. Validasi lokal: Penelitian validasi HAM-A yang spesifik untuk populasi Indonesia, termasuk evaluasi properti psikometri dan penentuan cut-off skor yang optimal.
  2. Adaptasi digital: Pengembangan dan validasi versi digital HAM-A yang dapat meningkatkan aksesibilitas dan memfasilitasi pemantauan yang lebih sering, terutama dalam konteks layanan kesehatan jarak jauh.
  3. Integrasi dengan model perawatan bertingkat: Pengembangan algoritma klinis yang mengintegrasikan HAM-A dengan instrumen skrining yang lebih singkat untuk mengoptimalkan penggunaan sumber daya dalam sistem kesehatan.
  4. Penelitian komparatif: Studi yang membandingkan HAM-A dengan instrumen penilaian kecemasan lainnya dalam konteks Indonesia untuk menentukan alat yang paling sesuai untuk berbagai setting dan tujuan.
  5. Pelatihan dan pendidikan: Pengembangan program pelatihan yang terstandarisasi untuk administrasi HAM-A bagi profesional kesehatan mental di Indonesia.

Meskipun dunia kesehatan mental telah berkembang pesat sejak tahun 1959, dan banyak instrumen penilaian baru telah dikembangkan, HAM-A tetap relevan karena fondasi psikometrik yang kuat, cakupan gejala yang komprehensif, dan kekayaan data normatif yang tersedia. Warisan Max Hamilton dalam pengembangan instrumen penilaian yang ilmiah dan terstandarisasi terus memberikan manfaat bagi pasien dan klinisi di seluruh dunia.

Dalam era di mana gangguan kecemasan semakin diakui sebagai masalah kesehatan masyarakat yang signifikan, instrumen seperti HAM-A memainkan peran penting dalam memastikan bahwa individu yang mengalami kecemasan menerima penilaian yang akurat dan pengobatan yang tepat. Dengan menggunakan alat-alat yang tervalidasi secara ilmiah, klinisi dapat membuat keputusan yang lebih terinformasi, memantau kemajuan secara objektif, dan pada akhirnya meningkatkan hasil bagi pasien dengan gangguan kecemasan.


Daftar Pustaka

Barbui, C., Purgato, M., Arja, B., Brohan, E., Chowdhury, N., & The WHO mhGAP Guideline Development Group. (2024). Management of generalized anxiety disorder and panic disorder in general health care settings: New WHO recommendations. World Psychiatry, 23(1), 160-161. https://doi.org/10.1002/wps.21172

Bartholomew, E. J., Medvedev, O. N., Petrie, K. J., & Chalder, T. (2025). Rasch analysis of the hospital anxiety and depression scale in patients with chronic fatigue syndrome. Journal of Psychosomatic Research, 197, 112370. https://doi.org/10.1016/j.jpsychores.2025.112370

Bech, P. (2009). Fifty years with the Hamilton scales for anxiety and depression. A tribute to Max Hamilton. Psychotherapy and Psychosomatics, 78(4), 202-211. https://doi.org/10.1159/000214441

Canadian Coalition for Seniors’ Mental Health. (2024). Canadian guidelines for the assessment and treatment of anxiety in older adults. Toronto, Canada.

Clinical Practice Guidelines for Assessment and Management of Anxiety and Panic Disorders in Emergency Setting. (2023). Journal of Family Medicine and Primary Care, 12(2), 427-436.

Dissanayaka, N. N., Pourzinal, D., Byrne, G., Pachana, N. A., O’Sullivan, J. D., White, E., Au, T., Yang, J., Interian, A., Rodriguez, K., & Dobkin, R. D. (2025). Development and validation of the Parkinson’s disease specific anxiety inventory (PDSAI). Journal of Geriatric Psychiatry and Neurology, 38(5), 353-361. https://doi.org/10.1177/08919887251332660

Hamilton, M. (1959). The assessment of anxiety states by rating.British Journal of Medical Psychology, 32, 50-55.

Hovmand, O. R., Reinholt, N., Christensen, A. B., Eskildsen, A., Bach, B., Arendt, M., Poulsen, S., Hvenegaard, M., & Arnfred, S. M. (2023). Affectivity in Danish patients with emotional disorders: Assessing the validity of the Positive and Negative Affect Schedule (PANAS). BMC Psychiatry, 23(1), 943. https://doi.org/10.1186/s12888-023-05450-z

Kim, J., Lee, S. H., Shin, C., Han, K. M., Cho, S. J., Hong, N., & Han, C. (2024). A multi-center, open-label, single-arm study to investigate the early effectiveness of esketamine nasal spray in patients with treatment-resistant depression using a mobile self-monitoring application. Pharmaceuticals, 17(9), 1143. https://doi.org/10.3390/ph17091143

Kim, S. W., Kim, J. K., Jhon, M., Kim, J. W., Ryu, S., Lee, J. Y., & Kim, J. M. (2025). Validity of a smartphone application for self-monitoring psychiatric symptoms in patients with schizophrenia. Digital Health, 11, 20552076251317556. https://doi.org/10.1177/20552076251317556

Kobak, K. A., Reynolds, W. M., & Greist, J. H. (1993). Development and validation of a computer-administered version of the Hamilton Rating Scale. Psychological Assessment, 5(4), 487-492.

Maier, W., Buller, R., Philipp, M., & Heuser, I. (1988). The Hamilton anxiety scale: Reliability, validity and sensitivity to change in anxiety and depressive disorders. Journal of Affective Disorders, 14(1), 61-68.

Manzar, M. D., Kashoo, F. Z., Salahuddin, M., Nureye, D., Addo, H. A., Pandi-Perumal, S. R., Pakpour, A. H., & Bahammam, A. S. (2025). Hamilton Rating Scale for Anxiety: Exploring validity with robust measures of classical theory parameters and a rating scale model in university students. BJPsych Open, 11(5), e176. https://doi.org/10.1192/bjo.2025.10055

Manzar, M. D., Salahuddin, M., Nureye, D., Kashoo, F. Z., Noohu, M. M., Alotaibi, J. S., Alamri, M. S., & Griffiths, M. D. (2025). Depression, Anxiety, and Stress Scale-21 (DASS-21): Further psychometric exploration using robust item response theory and classical theory measures among university students. PLoS One, 20(7), e0325238. https://doi.org/10.1371/journal.pone.0325238

Punia, K., Levitt, E., Taisir, R., Bird, B. M., Rush, B., Remers, S., Chorny, Y., Costello, J., & MacKillop, J. (2025). Psychometric validation of the Generalized Anxiety Disorder Scale (GAD-7) and Patient Health Questionnaire (PHQ-9) in an inpatient substance use disorder treatment program. Psychology of Addictive Behaviors, 39(8), 723-732. https://doi.org/10.1037/adb0001098

Revicki, D. A., Travers, K., Wyrwich, K. W., Svedsäter, H., Locklear, J., Mattera, M. S., Sheehan, D. V., & Montgomery, S. (2012). Humanistic and economic burden of generalized anxiety disorder in North America and Europe. Journal of Affective Disorders, 140(2), 103-112.

Stefanelli, R., Estradé, A., Azis, M., Stefana, A., Bonoldi, I., Damiani, S., De Micheli, A., Floris, V., Provenzani, U., Ballan, L., Jauhar, S., Vitoratou, S., Stahl, D., Solmi, M., Correll, C. U., Pfennig, A., Young, A. H., & Fusar-Poli, P. (2025). The semi-structured interview for bipolar at-risk states (SIBARS): Psychometric properties and validation. Journal of Affective Disorders, 387, 119529. https://doi.org/10.1016/j.jad.2025.119529

Tubaki, B. R., Lavekar, G. S., Chandrashekar, C. R., Sathyaprabha, T. N., & Kutty, B. M. (2023). Development and validation of Ayurveda based assessment scale for anxiety. Journal of Ayurveda and Integrative Medicine, 14(6), 100765. https://doi.org/10.1016/j.jaim.2023.100765

World Health Organization. (2025). Anxiety disorders [Fact sheet]. https://www.who.int/news-room/fact-sheets/detail/anxiety-disorders

Yılmaz, H., Demirkol, M. E., Tamam, L., Yılmaz, S. Ö., & Yeşiloğlu, C. (2024). Assessing orthorexic behaviors in a clinical sample: Validity and reliability study of the Turkish version of the Düsseldorf orthorexia scale. Journal of Eating Disorders, 12(1), 174. https://doi.org/10.1186/s40337-024-01133-6

Commenting 101: “Be kind, and respect each other” // Bersikaplah baik, dan saling menghormati (Indonesian) // Soyez gentils et respectez-vous les uns les autres (French) // Sean amables y respétense mutuamente (Spanish) // 待人友善,互相尊重 (Chinese) // كونوا لطفاء واحترموا بعضكم البعض (Arabic) // Будьте добры и уважайте друг друга (Russian) // Seid freundlich und respektiert einander (German) // 親切にし、お互いを尊重し合いましょう (Japanese) // दयालु बनें, और एक दूसरे का सम्मान करें (Hindi) // Siate gentili e rispettatevi a vicenda (Italian)

Tinggalkan komentar