A Cahya Legawa's Les pèlerins au-dessus des nuages

Pendahuluan

Di tengah kewaspadaan global terhadap berbagai penyakit infeksi yang muncul, virus Nipah kembali menarik perhatian dunia. Pada Januari 2026, wabah virus Nipah dilaporkan di negara bagian West Bengal, India, dengan lima kasus terkonfirmasi dan hampir 200 orang dikarantina. Kejadian ini memicu respons kesiagaan di berbagai negara Asia, termasuk Thailand, Nepal, dan Taiwan yang memberlakukan pemeriksaan kesehatan di bandara bagi pelancong dari wilayah terdampak.

Virus Nipah (Nipah virus, NiV) merupakan virus zoonotik dari genus Henipavirus, famili Paramyxoviridae, yang pertama kali diidentifikasi pada tahun 1999 selama wabah di kalangan peternak babi di Malaysia. Sejak saat itu, virus ini telah menyebabkan wabah berulang di Bangladesh hampir setiap tahun sejak 2001 dan secara periodik di India. Hingga Agustus 2025, Bangladesh telah mencatat 347 kasus NiV dengan tingkat fatalitas kasus sebesar 71,7%.

Yang membuat virus Nipah sangat mengkhawatirkan adalah tingkat kematiannya yang tinggi, berkisar antara 40% hingga 75% tergantung pada kemampuan surveilans epidemiologi dan tatalaksana klinis setempat. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) telah mengklasifikasikan virus Nipah sebagai patogen prioritas yang memerlukan percepatan penelitian dan pengembangan, mengingat potensinya untuk menyebabkan wabah luas bahkan pandemi.

Wabah Terkini di Asia Selatan

Bangladesh 2025

Antara Januari hingga Agustus 2025, Bangladesh melaporkan empat kasus fatal infeksi virus Nipah yang tidak saling terkait secara temporal, berasal dari empat distrik berbeda di tiga divisi geografis yang terpisah (Barisal, Dhaka, dan Rajshahi). Tiga kasus memiliki riwayat mengonsumsi nira kelapa sawit (date palm sap) mentah, sementara kasus keempat—seorang anak di distrik Naogaon—tidak memiliki riwayat konsumsi tersebut dan sumber infeksinya masih dalam penyelidikan. Kasus keempat ini juga terjadi di luar musim tipikal Nipah yang biasanya berlangsung antara Desember hingga April.

India 2025

Antara Mei hingga Juli 2025, Kerala melaporkan empat kasus terkonfirmasi dengan dua kematian akibat infeksi virus Nipah di dua distrik. Sejak 2018, Kerala telah melaporkan total sembilan wabah NiV. Wabah berulang ini menunjukkan risiko lokal yang terus-menerus terkait dengan NiV di wilayah tersebut.

India Januari 2026: Wabah Terbaru

Otoritas India berupaya mengendalikan wabah virus Nipah setelah lima kasus dilaporkan dan hampir 100 orang dikarantina di negara bagian West Bengal bagian timur. Virus pertama kali terdeteksi pada seorang perawat di rumah sakit swasta dekat Kolkata, dan kemudian tiga petugas kesehatan lainnya ditemukan terinfeksi. Meskipun jumlah kasus yang dikonfirmasi rendah, kewaspadaan meningkat karena Kolkata merupakan kota terbesar ketiga di India dengan populasi sekitar 4,5 juta jiwa.

Respons regional terhadap wabah ini cukup cepat. Thailand memberlakukan pemeriksaan kesehatan di Bandara Suvarnabhumi dan Don Mueang untuk penumpang dari West Bengal. Nepal meningkatkan kewaspadaan nasional dengan pemeriksaan kesehatan di Bandara Internasional Tribhuvan dan perbatasan utama dengan India. China telah memasukkan virus Nipah ke dalam daftar penyakit infeksi yang dipantau sejak Desember 2024.

Karakteristik Virus Nipah

Transmisi dan Reservoir Alami

Kelelawar buah dari genus Pteropus (dikenal sebagai flying fox atau kalong) merupakan reservoir alami virus Nipah. Virus ini dapat ditransmisikan ke manusia melalui beberapa jalur:

  1. Kontak dengan hewan terinfeksi: Terutama kelelawar atau babi yang terinfeksi
  2. Makanan terkontaminasi: Khususnya nira kelapa sawit mentah atau buah-buahan yang terkontaminasi air liur, urin, atau kotoran kelelawar terinfeksi
  3. Transmisi antarmanusia: Melalui kontak erat dengan sekresi dan ekskresi pasien terinfeksi

Transmisi antarmanusia sangat signifikan dalam wabah di India dan Bangladesh, dengan persentase kasus yang dilaporkan mencapai 75% dan 51%. Transmisi dalam fasilitas kesehatan juga terdokumentasi, seperti pada wabah Siliguri, India tahun 2001, di mana 75% kasus terjadi pada staf rumah sakit atau pengunjung.

Manifestasi Klinis

Infeksi virus Nipah pada manusia menunjukkan spektrum klinis yang luas. Masa inkubasi tipikal adalah 4-14 hari, meskipun pernah dilaporkan hingga 45 hari. Gejala awal meliputi demam, sakit kepala, mialgia (nyeri otot), muntah, dan nyeri tenggorokan. Kondisi ini dapat berlanjut menjadi pusing, mengantuk, perubahan kesadaran, dan tanda-tanda neurologis yang mengindikasikan ensefalitis akut. Pasien dengan gejala neurologis berat dapat jatuh ke dalam koma dalam 24-48 jam.

Penyintas infeksi virus Nipah dapat mengalami efek neurologis jangka panjang, seperti kejang persisten atau perubahan kepribadian. Sekitar 20% penyintas dilaporkan mengalami sekuele neurologis residual.

Situasi Indonesia: Ancaman Nyata yang Perlu Diwaspadai

Meskipun Indonesia belum pernah melaporkan kasus infeksi virus Nipah pada manusia, temuan penelitian terbaru menunjukkan ancaman nyata yang perlu diantisipasi.

Deteksi Virus pada Kelelawar di Indonesia

Penelitian yang dipublikasikan dalam Emerging Infectious Diseases pada April 2025 melaporkan deteksi virus Nipah pada kelelawar Pteropus hypomelanus di Jawa Tengah, Indonesia. Dari 64 kelelawar yang diskrining secara molekuler, dua sampel positif virus Nipah ditemukan dari Magelang. Analisis sekuens menunjukkan kemiripan dengan genotipe Malaysia.

Penemuan virus Nipah pada kelelawar P. hypomelanus di Pulau Jawa yang padat penduduk merepresentasikan perluasan distribusi geografis patogen ini yang diketahui. Yang perlu dicatat, kelelawar P. hypomelanus memiliki distribusi terluas di Indonesia dan sering diburu serta diperdagangkan, berpotensi meningkatkan interaksi manusia-kelelawar dan risiko transmisi zoonotik.

Sebelumnya, virus Nipah juga telah terdeteksi pada kelelawar Pteropus vampyrus di Sumatera pada tahun 2013. Penelitian surveilans nasional yang dilakukan dari Juni 2023 hingga Januari 2024 di 13 lokasi di Indonesia bagian barat, tengah, dan timur mengidentifikasi Kalimantan Tengah dan Kalimantan Timur sebagai zona potensial untuk spillover (limpahan virus dari hewan ke manusia).

Faktor Risiko Spesifik Indonesia

Beberapa faktor menempatkan Indonesia dalam posisi rentan terhadap wabah virus Nipah:

  1. Kedekatan geografis dengan negara-negara yang mengalami wabah (Malaysia, Singapura)
  2. Keberadaan reservoir alami: Kelelawar Pteropus tersebar luas di seluruh Indonesia
  3. Praktik budaya dan ekonomi: Perdagangan kelelawar di pasar hewan dengan sanitasi buruk meningkatkan risiko spillover ke manusia dan hewan domestik
  4. Kepadatan penduduk: Indonesia memiliki populasi besar dengan beberapa wilayah berkepadatan tinggi
  5. Deforestasi: Perubahan habitat mendorong satwa liar, termasuk kelelawar, semakin dekat dengan komunitas manusia dan ternak

Langkah-Langkah yang Dapat Dilakukan

Bagi Pemangku Kebijakan

1. Penguatan Sistem Surveilans

Menurut dokumen teknis WHO tentang kesiapsiagaan terhadap virus Nipah untuk negara-negara yang belum melaporkan kasus, pendekatan penilaian risiko bersama sangat dianjurkan, melibatkan semua sektor dan pemangku kepentingan terkait untuk menganalisis jalur risiko dan memandu perencanaan kesiapsiagaan serta rencana respons nasional.

Sistem surveilans yang efektif mencakup:

  • Surveilans berbasis kasus dan berbasis klaster
  • Kapasitas laboratorium untuk diagnosis cepat menggunakan real-time polymerase chain reaction (RT-PCR) dan enzyme-linked immunosorbent assay (ELISA)
  • Integrasi surveilans kesehatan manusia, hewan, dan satwa liar

2. Implementasi Pendekatan One Health

Pendekatan One Health yang mengintegrasikan kesehatan manusia, hewan, dan lingkungan menawarkan kerangka kerja untuk mengatasi tantangan seperti surveilans yang terbatas dan dinamika transmisi yang kompleks. Kolaborasi lintas sektor antara kementerian kesehatan, pertanian, lingkungan hidup, dan kehutanan sangat penting.

Pada tahun 2021, WHO mendukung Kementerian Kesehatan Indonesia mengembangkan pedoman pencegahan dan pengendalian serta alat pemetaan risiko virus Nipah melalui serangkaian pertemuan konsultasi dengan para ahli dari berbagai disiplin.

3. Perencanaan Kontingensi dan Koordinasi Respons

Langkah-langkah yang perlu disiapkan meliputi:

  • Pembentukan tim respons cepat terlatih
  • Penetapan fasilitas isolasi dan protokol rujukan
  • Pengembangan pedoman tatalaksana klinis nasional
  • Penyiapan stok alat pelindung diri dan peralatan medis
  • Koordinasi dengan negara tetangga untuk berbagi informasi dan sumber daya

4. Pengembangan Kapasitas Diagnostik

Indonesia perlu memastikan ketersediaan laboratorium dengan kapasitas untuk mendiagnosis infeksi virus Nipah. Diagnosis yang akurat memerlukan laboratorium dengan tingkat keamanan hayati yang memadai (biosafety level 3 atau 4) untuk kultur virus, meskipun pemeriksaan serologi dan molekuler dapat dilakukan di fasilitas dengan tingkat keamanan lebih rendah.

Bagi Pekerja Kesehatan

1. Pengenalan Dini dan Kewaspadaan Tinggi

Penelitian menunjukkan bahwa tenaga kesehatan, terutama perawat, memiliki pemahaman terbatas tentang infeksi virus Nipah. Gejala awal yang tidak spesifik dan tumpang tindih dengan penyakit demam lainnya membuat diagnosis sering tidak dicurigai pada saat presentasi awal.

Klinisi perlu waspada terhadap kemungkinan infeksi virus Nipah pada pasien dengan:

  • Demam akut disertai gejala neurologis (kebingungan, mengantuk berlebihan, kejang)
  • Ensefalitis akut tanpa penyebab yang jelas
  • Sindrom pernapasan akut berat
  • Riwayat kontak dengan kelelawar, babi sakit, atau pasien terinfeksi
  • Riwayat perjalanan ke daerah endemis

2. Pencegahan dan Pengendalian Infeksi yang Ketat

Transmisi nosokomial (dalam fasilitas kesehatan) telah terdokumentasi dalam beberapa wabah. Petugas kesehatan harus menerapkan:

  • Kewaspadaan standar dan kewaspadaan berbasis transmisi (kontak, droplet, airborne)
  • Penggunaan alat pelindung diri yang sesuai
  • Penempatan pasien suspek atau terkonfirmasi di ruang isolasi
  • Pembatasan pengunjung
  • Pengelolaan limbah medis yang aman

3. Tatalaksana Klinis

Hingga saat ini, tidak ada pengobatan spesifik atau vaksin berlisensi untuk infeksi virus Nipah. Tatalaksana utama adalah perawatan suportif intensif untuk komplikasi pernapasan dan neurologis berat. Beberapa agen terapeutik sedang dalam pengembangan atau uji klinis, termasuk:

  • Antibodi monoklonal m102.4
  • Remdesivir
  • Favipiravir
  • Ribavirin

Pedoman yang dikeluarkan Pemerintah Kerala, India, merekomendasikan penggunaan ribavirin, remdesivir, favipiravir, dan antibodi monoklonal m102.4 secara compassionate use selama wabah. Sebaliknya, pedoman nasional Bangladesh lebih berfokus pada perawatan suportif dan tidak mendukung pengobatan spesifik Nipah.

4. Peningkatan Kapasitas dan Pelatihan

Terdapat kebutuhan untuk mengintegrasikan program pengembangan profesional berkelanjutan di layanan kesehatan primer maupun khusus untuk memperkuat kesiapsiagaan tenaga kesehatan terhadap pandemi di masa depan.

Bagi Masyarakat Umum

1. Mengurangi Risiko Transmisi dari Kelelawar ke Manusia

  • Hindari kontak dengan kelelawar buah atau area yang mungkin terkontaminasi oleh kelelawar
  • Jangan mengonsumsi buah mentah yang jatuh atau tampak dimakan sebagian oleh hewan
  • Cuci dan kupas buah sebelum dikonsumsi
  • Buang buah dengan tanda-tanda gigitan kelelawar
  • Untuk wilayah yang memanen nira kelapa sawit: pastikan wadah pengumpul ditutup untuk mencegah akses kelelawar, dan rebus nira sebelum dikonsumsi

2. Mengurangi Risiko Transmisi dari Hewan ke Manusia

  • Hindari kontak dengan babi atau hewan lain yang tampak sakit
  • Gunakan sarung tangan dan pakaian pelindung saat menangani hewan sakit atau jaringannya
  • Hindari kontak dengan darah, urin, atau kotoran hewan yang mungkin terinfeksi

3. Mengurangi Risiko Transmisi Antarmanusia

  • Hindari kontak erat dengan orang yang menunjukkan gejala mirip Nipah
  • Cuci tangan secara teratur dengan sabun dan air
  • Hindari berbagi peralatan makan atau minum dengan orang sakit
  • Jika merawat anggota keluarga yang sakit, gunakan pelindung wajah dan cuci tangan setelah kontak

4. Kenali Tanda Bahaya dan Segera Cari Pertolongan Medis

Segera periksakan diri ke fasilitas kesehatan jika mengalami:

  • Demam tinggi yang disertai sakit kepala hebat
  • Perubahan kesadaran atau kebingungan
  • Kejang
  • Kesulitan bernapas
  • Terutama jika memiliki riwayat kontak dengan kelelawar, hewan sakit, atau orang dengan gejala serupa

Perkembangan Vaksin dan Terapi

Kabar menggembirakan datang dari front penelitian vaksin. Pada Oktober 2025, CEPI, Universitas Oxford, dan Serum Institute of India mengumumkan kolaborasi untuk menciptakan cadangan vaksin investigasional virus Nipah terbesar di dunia. Pendanaan CEPI hingga 7,3 juta dolar AS akan mendukung Serum Institute untuk pengembangan proses dan manufaktur kandidat vaksin ChAdOx1 NipahB dari Universitas Oxford.

Pada Desember 2025, kandidat vaksin ChAdOx1 NipahB memulai uji klinis Fase II setelah menyelesaikan Fase I serta pengujian laboratorium dan hewan. Namun, rendahnya frekuensi kejadian virus Nipah menghadirkan tantangan signifikan untuk melakukan uji efikasi vaksin Fase III tradisional.

CEPI merupakan pendana terbesar penelitian dan pengembangan virus Nipah di dunia, dengan komitmen sekitar 150 juta dolar AS untuk program vaksin, biologis, dan sains pendukung virus Nipah.

Kesimpulan

Virus Nipah tetap menjadi ancaman kesehatan masyarakat yang serius di kawasan Asia Selatan dan Asia Tenggara. Wabah berulang di Bangladesh dan India, ditambah dengan deteksi terbaru virus ini pada populasi kelelawar di Indonesia, menegaskan bahwa kesiapsiagaan bukan lagi pilihan melainkan keharusan.

Indonesia memiliki semua faktor risiko yang dapat memfasilitasi wabah virus Nipah: keberadaan reservoir kelelawar yang luas, praktik perdagangan satwa liar, dan kedekatan dengan negara-negara yang mengalami wabah. Meskipun risiko penyebaran internasional dinilai rendah oleh WHO, kejadian spillover lokal sangat mungkin terjadi.

Pendekatan One Health yang mengintegrasikan kesehatan manusia, hewan, dan lingkungan merupakan strategi paling efektif untuk mencegah dan merespons ancaman virus Nipah. Dengan membangun sistem surveilans yang kuat, meningkatkan kapasitas diagnostik, melatih tenaga kesehatan, dan mengedukasi masyarakat, Indonesia dapat memperkuat pertahanannya terhadap patogen mematikan ini.

Hingga vaksin dan pengobatan efektif tersedia, pencegahan melalui pengurangan paparan tetap menjadi pertahanan utama. Setiap pemangku kepentingan—dari pembuat kebijakan hingga masyarakat awam—memiliki peran penting dalam menjaga kewaspadaan dan kesiapsiagaan menghadapi ancaman virus Nipah.


Daftar Referensi

Avumegah, M. S., Griffiths, A., Spiropoulou, C. F., Bentley, E. M., Mattiuzzo, G., Shirin, T., Rahman, M. Z., Bowden, T. A., Lo, M. K., Montgomery, J. M., Ramamurthy, M., & Azizi, A. (2025). Research and development priorities for Nipah virus outbreak preparedness. Nature Health. https://www.nature.com/articles/s44360-025-00014-9

Centers for Disease Control and Prevention. (2025, May 16). About Nipah virus. https://www.cdc.gov/nipah-virus/about/index.html

Coalition for Epidemic Preparedness Innovations. (2025, October 28). Establishing the world’s largest Nipah virus vaccine reserve. https://cepi.net/establishing-worlds-largest-nipah-virus-vaccine-reserve

Cubelo, F., Kohanová, D., Turunen, H., Solgajová, A., & Berdida, D. J. (2024). Nipah virus and implications for the nursing workforce and public health: A rapid review. Public Health Nursing, 41(6), 1668–1677. https://doi.org/10.1111/phn.13413

Khan, S., Akbar, S. M. F., Mahtab, M. A., Uddin, M. N., Rashid, M. M., Yahiro, T., Hiasa, Y., & Al Mahtab, M. (2024). Twenty-five years of Nipah outbreaks in Southeast Asia: A persistent threat to global health. IJID Regions, 13, 100434. https://doi.org/10.1016/j.ijregi.2024.100434

Orosco, F. L. (2023). Advancing the frontiers: Revolutionary control and prevention paradigms against Nipah virus. Open Veterinary Journal, 13(9), 1056–1070. https://doi.org/10.5455/OVJ.2023.v13.i9.1

Pranata, D. B. W., Maulana, A., Ridwansyah, E., Juliartana, A. S., Wijaya, A., Hakim, M. C., Armada, Y. M., Gloriani, T. A., Dewi, N. L. P. I., & Suardana, R. T. (2025). Nipah virus detection in Pteropus hypomelanus bats, Central Java, Indonesia. Emerging Infectious Diseases, 31(4). https://doi.org/10.3201/eid3104.241872

Sendow, I., Ratnawati, A., Taylor, T., Adjid, R. M. A., Saepulloh, M., Barr, J., Wong, F., Daniels, P., & Field, H. (2013). Nipah virus in the fruit bat Pteropus vampyrus in Sumatera, Indonesia. PLoS ONE, 8(7), e69544. https://doi.org/10.1371/journal.pone.0069544

Tian, Z., Islam, M. S., Luby, S. P., Gurley, E. S., Rahman, M., & Horby, P. (2025). Improving clinical care of patients in Nipah outbreaks: Moving beyond ‘compassionate use’. The Lancet Regional Health – Southeast Asia, 33, 100527. https://doi.org/10.1016/j.lansea.2024.100527

Wang, L., Lu, D., Yang, M., Chai, S., Du, H., & Jiang, H. (2024). Nipah virus: Epidemiology, pathogenesis, treatment, and prevention. Frontiers of Medicine, 18(6), 969–987. https://doi.org/10.1007/s11684-024-1078-2

World Health Organization. (2018, May 30). Nipah virus. https://www.who.int/news-room/fact-sheets/detail/nipah-virus

World Health Organization. (2024, February). Technical brief: Enhancing readiness for a Nipah virus event in countries not reporting a Nipah virus event: Interim document. https://www.who.int/publications/i/item/9789290211273

World Health Organization. (2025a, August 6). Disease outbreak news: Nipah virus infection – India. https://www.who.int/emergencies/disease-outbreak-news/item/2025-DON577

World Health Organization. (2025b, September 18). Disease outbreak news: Nipah virus infection – Bangladesh. https://www.who.int/emergencies/disease-outbreak-news/item/2025-DON582

World Health Organization Indonesia. (2021, December 19). Enhancing emerging diseases preparedness: Dissemination of Nipah virus disease guideline. https://www.who.int/indonesia/news/detail/19-12-2021-enhancing-emerging-diseases-preparedness-dissemination-of-nipah-virus-disease-guideline

Yadav, P. D., Baid, K., Patil, D. Y., Shirin, T., Rahman, M. Z., Peel, A. J., Epstein, J. H., Montgomery, J. M., Plowright, R. K., Salje, H., Gurley, E. S., Satter, S. M., & Banerjee, A. (2025). A One Health approach to understanding and managing Nipah virus outbreaks. Nature Microbiology, 10(6), 1272–1281. https://doi.org/10.1038/s41564-025-02020-9

Commenting 101: “Be kind, and respect each other” // Bersikaplah baik, dan saling menghormati (Indonesian) // Soyez gentils et respectez-vous les uns les autres (French) // Sean amables y respétense mutuamente (Spanish) // 待人友善,互相尊重 (Chinese) // كونوا لطفاء واحترموا بعضكم البعض (Arabic) // Будьте добры и уважайте друг друга (Russian) // Seid freundlich und respektiert einander (German) // 親切にし、お互いを尊重し合いましょう (Japanese) // दयालु बनें, और एक दूसरे का सम्मान करें (Hindi) // Siate gentili e rispettatevi a vicenda (Italian)

Tinggalkan komentar