A Cahya Legawa's Les pèlerins au-dessus des nuages

  1. Pendahuluan
  2. Anatomi Periorbital dan Mekanisme Cedera
  3. Epidemiologi Trauma Orbital
  4. Etiologi dan Faktor Risiko
  5. Patofisiologi Pembentukan Hematoma Periorbital
  6. Manifestasi Klinis
  7. Diagnosis dan Pemeriksaan Penunjang
  8. Tanda Bahaya dan Komplikasi
  9. Penatalaksanaan
  10. Prognosis dan Pencegahan
  11. Kesimpulan
  12. Daftar Pustaka

Pendahuluan

Mata lebam atau yang dalam istilah medis disebut periorbital hematoma atau periorbital ecchymosis, adalah kondisi yang sangat umum terjadi akibat trauma pada area wajah, khususnya di sekitar mata. Meskipun seringkali tampak dramatis dengan perubahan warna yang mencolok dari ungu kebiruan hingga kuning kehijauan, sebagian besar kasus mata lebam bersifat jinak dan akan sembuh dengan sendirinya. Namun, di balik penampilan yang tampak sederhana ini, terdapat beberapa kondisi serius yang perlu diwaspadai, terutama yang berkaitan dengan cedera pada struktur tulang dan jaringan lunak di sekitar mata.

Trauma pada area periorbital dapat terjadi dalam berbagai situasi, mulai dari kecelakaan olahraga, kecelakaan lalu lintas, jatuh, perkelahian, hingga kekerasan dalam rumah tangga. Di Indonesia, dengan tingginya angka kecelakaan lalu lintas dan popularitas olahraga kontak seperti sepak bola, tinju, dan bela diri, kasus trauma wajah termasuk mata lebam menjadi salah satu keluhan yang sering ditemui di unit gawat darurat dan praktik dokter umum. Pemahaman yang baik tentang mekanisme cedera, tanda bahaya, dan penanganan yang tepat sangat penting untuk mencegah komplikasi jangka panjang yang dapat mengancam penglihatan.

Anatomi Periorbital dan Mekanisme Cedera

Untuk memahami bagaimana mata lebam terbentuk, penting untuk mengetahui terlebih dahulu anatomi area sekitar mata. Orbita atau rongga mata adalah struktur berbentuk piramidal yang dibentuk oleh tujuh tulang: maksila, frontal, zigomatikum, sfenoid, etmoid, lakrimal, dan palatina. Rongga ini memiliki volume sekitar 30 mililiter dengan ketinggian rata-rata 35 milimeter dan lebar mediolateral 40 milimeter. Di dalam orbita terdapat berbagai struktur vital termasuk bola mata, otot-otot ekstraokular, saraf optik, pembuluh darah, dan jaringan lemak orbital.

Area periorbital, yang merupakan jaringan di sekitar mata, sangat kaya akan pembuluh darah dan memiliki jaringan lunak yang relatif longgar. Karakteristik anatomi inilah yang membuat area ini sangat rentan terhadap pembentukan hematoma atau penumpukan darah setelah trauma. Ketika terjadi benturan pada wajah, terutama di area mata, pembuluh darah kapiler dan vena kecil di jaringan periorbital dapat pecah, menyebabkan darah mengalir ke ruang jaringan lunak dan menghasilkan penampilan memar yang khas.

Mekanisme cedera yang menyebabkan mata lebam dapat bervariasi. Trauma tumpul langsung pada area mata merupakan penyebab paling umum, namun mata lebam juga dapat terjadi sebagai manifestasi dari cedera kepala yang lebih luas. Dalam kasus tertentu, mata lebam bilateral (kedua mata) yang muncul tanpa trauma langsung pada area mata dapat mengindikasikan fraktur basis kranii, suatu kondisi serius yang dikenal dengan istilah raccoon eyes atau panda eyes.

Epidemiologi Trauma Orbital

Trauma orbital dan periorbital merupakan bagian signifikan dari kasus cedera wajah yang ditangani di fasilitas kesehatan. Berdasarkan data dari National Electronic Injury Surveillance System (NEISS) di Amerika Serikat periode 2013-2022, tercatat 7.846 cedera orbital dengan peningkatan insiden di semua kelompok usia, terutama pada populasi usia lanjut. Distribusi frekuensi trauma orbital menunjukkan pola bimodal dengan puncak kejadian pada usia 10-19 tahun dan 70-79 tahun.

Di Indonesia, trauma jaringan lunak wajah termasuk cedera periorbital merupakan salah satu kasus kedaruratan yang sangat sering ditemukan. Data menunjukkan bahwa angka kejadian trauma jaringan lunak wajah mencapai 7-10% dari seluruh kunjungan instalasi gawat darurat, dengan sekitar 50% kasus luka yang ditangani di IGD berupa laserasi pada area wajah dan kepala. Dalam konteks global, trauma wajah termasuk cedera orbital berkontribusi signifikan terhadap beban penyakit cedera.

Karakteristik demografis menunjukkan bahwa laki-laki lebih sering mengalami trauma periorbital dibandingkan perempuan, dengan rasio mencapai 85,85% berbanding 14,15% pada beberapa studi. Kelompok usia yang paling sering terkena adalah dewasa muda berusia 21-30 tahun, yang mencerminkan tingkat aktivitas fisik dan risiko trauma yang lebih tinggi pada kelompok usia tersebut.

Etiologi dan Faktor Risiko

Penyebab trauma yang mengakibatkan mata lebam sangat beragam, namun dapat dikategorikan berdasarkan mekanisme cedera:

Kecelakaan Lalu Lintas

Kecelakaan lalu lintas merupakan penyebab paling umum trauma periorbital, menyumbang hingga 71,89% dari kasus trauma mata dan wajah berdasarkan data dari beberapa studi. Tingginya angka ini sejalan dengan tingkat kecelakaan lalu lintas yang tinggi, terutama di negara berkembang termasuk Indonesia. Pengendara sepeda motor sangat rentan mengalami cedera wajah karena minimnya proteksi, terutama jika tidak menggunakan helm dengan pelindung wajah yang memadai.

Trauma Olahraga

Aktivitas olahraga, terutama olahraga kontak atau yang melibatkan bola bergerak cepat, merupakan sumber trauma periorbital yang signifikan. Olahraga seperti sepak bola, bola basket, tinju, bela diri, dan bahkan olahraga yang relatif baru seperti pickleball telah dilaporkan menyebabkan cedera orbital termasuk mata lebam dan bahkan fraktur tulang orbital. Studi kasus terbaru melaporkan kejadian fraktur orbital akibat trauma pickleball, di mana pemain berusia 54 tahun mengalami hematoma kelopak mata, laserasi kelopak mata bawah, perdarahan subkonjungtiva, dan edema periorbital setelah terkena raket rekan timnya.

Kekerasan Interpersonal

Kasus kekerasan atau perkelahian (assault) dilaporkan sebagai penyebab dalam 77,8% kasus trauma mata pada beberapa penelitian forensik. Dalam konteks kekerasan dalam rumah tangga, perempuan lebih sering menjadi korban, dengan studi menunjukkan bahwa mereka lebih sering terpapar kekerasan domestik yang mengakibatkan trauma periorbital.

Jatuh

Jatuh merupakan mekanisme trauma yang umum, terutama pada populasi usia ekstrem (anak-anak dan lansia). Pada anak-anak, jatuh saat bermain atau dari ketinggian tertentu dapat menyebabkan trauma wajah. Pada lansia, risiko jatuh meningkat akibat gangguan keseimbangan, penurunan fungsi penglihatan, dan penggunaan obat-obatan tertentu, yang dapat mengakibatkan trauma kepala dan wajah termasuk area periorbital.

Trauma Pekerjaan

Kecelakaan di tempat kerja, terutama di lingkungan konstruksi, industri, atau pertanian, dapat menyebabkan trauma mata akibat terkena benda asing, ledakan, atau kecelakaan mekanik.

Patofisiologi Pembentukan Hematoma Periorbital

Pembentukan mata lebam atau periorbital ecchymosis melibatkan serangkaian proses fisiologis yang kompleks. Ketika terjadi trauma tumpul pada area periorbital, energi kinetik dari benturan ditransfer ke jaringan lunak, menyebabkan kerusakan pada pembuluh darah kapiler dan vena kecil. Ruptur pembuluh darah ini mengakibatkan ekstravasasi darah ke dalam ruang interstisial jaringan periorbital.

Karakteristik unik dari jaringan periorbital memfasilitasi akumulasi darah yang cukup ekstensif. Jaringan di area ini memiliki struktur yang longgar dengan sedikit septum fibrosa yang membatasi penyebaran darah. Selain itu, kelopak mata memiliki jaringan subkutan yang sangat tipis dengan elastisitas tinggi, memungkinkan akumulasi cairan dan darah yang signifikan, sehingga pembengkakan dapat terlihat dramatis bahkan dengan volume perdarahan yang relatif kecil.

Perubahan warna yang karakteristik pada mata lebam mencerminkan proses degradasi hemoglobin yang terjadi secara bertahap:

  1. Fase Awal (0-2 hari): Pada fase ini, area yang mengalami trauma tampak merah hingga ungu kebiruan akibat akumulasi darah segar yang mengandung hemoglobin teroksigenasi dan deoksigenasi.
  2. Fase Menengah (3-7 hari): Hemoglobin mulai terurai menjadi biliverdin, memberikan warna kehijauan pada area memar.
  3. Fase Lanjut (7-14 hari): Biliverdin selanjutnya dikonversi menjadi bilirubin, menghasilkan warna kuning kecoklatan.
  4. Fase Resolusi (>14 hari): Produk degradasi hemoglobin akhirnya diabsorpsi kembali ke sistem limfatik dan vaskular, dan warna kulit kembali normal.

Proses resolusi hematoma periorbital melibatkan aktivitas makrofag yang memfagositosis sel darah merah dan debris seluler, serta resorpsi cairan melalui sistem limfatik periorbital yang ekstensif. Gravitasi juga berperan dalam redistribusi hematoma, yang menjelaskan mengapa memar sering “bermigrasi” ke area bawah mata seiring waktu, bahkan jika trauma awal terjadi pada area yang lebih superior.

Manifestasi Klinis

Presentasi klinis mata lebam dapat bervariasi dari kasus ringan hingga yang melibatkan komplikasi serius. Manifestasi yang paling umum meliputi:

Perubahan Warna Kulit Periorbital

Perubahan warna adalah tanda paling khas dari mata lebam. Ecchymosis atau memar periorbital biasanya dimulai dengan warna merah-ungu yang kemudian berkembang menjadi biru kehitaman dalam 24-48 jam pertama. Seiring dengan proses degradasi hemoglobin, warna berubah menjadi kehijauan, kemudian kuning kecoklatan sebelum akhirnya kembali normal dalam 2-3 minggu.

Edema Periorbital

Pembengkakan di sekitar mata adalah temuan yang hampir universal pada trauma periorbital. Edema dapat berkisar dari pembengkakan ringan hingga berat yang menyebabkan penutupan sempurna celah palpebra (eye swollen shut). Berdasarkan data penelitian dari India yang melibatkan 1.046 pasien dengan trauma maksilofasial dan cedera oftalmik, edema periorbital ditemukan pada 60,32% kasus, sementara ekimosis periorbital terlihat pada 72,94% kasus.

Perdarahan Subkonjungtiva

Perdarahan subkonjungtiva, yang ditandai dengan area merah terang pada bagian putih mata, merupakan temuan yang sangat umum pada trauma periorbital, dilaporkan terjadi pada 79,83% kasus dalam studi yang sama. Meskipun terlihat mengkhawatirkan, perdarahan subkonjungtiva biasanya jinak dan akan membaik spontan dalam 1-2 minggu tanpa memerlukan intervensi khusus.

Nyeri dan Ketidaknyamanan

Pasien umumnya mengeluhkan nyeri pada area yang mengalami trauma, yang dapat bervariasi dari ringan hingga berat tergantung pada tingkat keparahan cedera. Nyeri dapat meningkat dengan gerakan mata atau sentuhan pada area yang terkena.

Gangguan Penglihatan

Dalam kasus yang lebih serius, pasien mungkin mengalami gangguan penglihatan berupa penglihatan kabur, diplopia (penglihatan ganda), atau bahkan penurunan ketajaman penglihatan yang signifikan. Gejala-gejala ini memerlukan evaluasi oftalmologi segera karena dapat mengindikasikan cedera pada struktur intraorbital atau bola mata.

Tanda Klinis Spesifik Lainnya

Tergantung pada mekanisme dan keparahan trauma, manifestasi tambahan dapat meliputi:

  • Laserasi kelopak mata atau jaringan periorbital
  • Deformitas tulang yang dapat dipalpasi jika terdapat fraktur orbital
  • Enoftalmos (mata tampak cekung) yang dapat mengindikasikan fraktur blowout orbital dengan herniasi konten orbital ke sinus
  • Proptosis (mata menonjol) yang dapat mengindikasikan perdarahan retrobulbar atau edema orbital yang signifikan
  • Gangguan gerakan mata yang dapat menunjukkan penjebakan otot ekstraokular pada fraktur orbital

Diagnosis dan Pemeriksaan Penunjang

Pendekatan diagnostik terhadap pasien dengan mata lebam harus sistematis dan menyeluruh untuk mengidentifikasi tidak hanya cedera superfisial tetapi juga kemungkinan cedera yang lebih serius pada struktur yang lebih dalam.

Anamnesis

Anamnesis yang detail sangat penting dalam evaluasi trauma periorbital. Informasi yang harus digali meliputi:

  • Mekanisme cedera: bagaimana trauma terjadi, arah dan kekuatan benturan
  • Waktu kejadian: penting untuk menentukan fase evolusi hematoma dan risiko komplikasi yang berkembang
  • Gejala visual: apakah ada perubahan penglihatan, diplopia, atau fotofobia
  • Gejala lain: nyeri, mual, muntah, atau sakit kepala yang dapat mengindikasikan trauma kepala yang lebih luas
  • Riwayat medis: penggunaan antikoagulan, gangguan koagulasi, atau kondisi medis lain yang dapat mempengaruhi penyembuhan
  • Riwayat trauma atau operasi sebelumnya pada area wajah

Pemeriksaan Fisik

Pemeriksaan fisik harus mengikuti protokol Advanced Trauma Life Support (ATLS) untuk memastikan stabilitas pasien secara keseluruhan sebelum fokus pada evaluasi detail area periorbital:

  1. Inspeksi: Evaluasi visual terhadap lokasi, ukuran, dan karakteristik ecchymosis dan edema. Perhatikan adanya asimetri wajah, deformitas tulang, laserasi, atau luka terbuka.
  2. Palpasi: Palpasi hati-hati untuk mendeteksi krepitasi (yang dapat mengindikasikan emfisema orbital atau fraktur), step-off atau diskontinuitas tulang orbital, dan area yang nyeri tekan.
  3. Pemeriksaan Oftalmologis:
    • Ketajaman penglihatan menggunakan Snellen chart atau metode alternatif jika pasien tidak dapat membaca
    • Refleks pupil dan reaksi cahaya, termasuk evaluasi relative afferent pupillary defect (RAPD) yang dapat mengindikasikan neuropati optik traumatik
    • Gerakan ekstraokular untuk mendeteksi diplopia atau pembatasan gerakan yang dapat menunjukkan penjebatan otot pada fraktur orbital
    • Pemeriksaan segmen anterior menggunakan slit lamp jika tersedia
    • Pengukuran tekanan intraokular
    • Pemeriksaan funduskopi untuk mengevaluasi retina dan saraf optik
  4. Evaluasi Neurologis: Penilaian Glasgow Coma Scale (GCS), evaluasi saraf kranial, dan tanda-tanda trauma kepala atau peningkatan tekanan intrakranial.

Pemeriksaan Penunjang

Pemeriksaan pencitraan memainkan peran krusial dalam mendeteksi cedera yang tidak terlihat pada pemeriksaan fisik:

CT Scan Orbita

CT scan merupakan modalitas pencitraan pilihan untuk evaluasi trauma orbital. CT scan dengan bone window dan soft tissue window dapat mengidentifikasi:

  • Fraktur tulang orbital (dinding medial, lantai, atap, atau dinding lateral orbita)
  • Fraktur basis kranii yang dapat menjadi penyebab raccoon eyes
  • Hematoma retrobulbar
  • Emfisema orbital
  • Herniasi konten orbital ke dalam sinus
  • Penjebatan otot ekstraokular
  • Benda asing intraorbital

Pedoman pencitraan merekomendasikan penggunaan irisan tipis (≤2,5 mm) dengan rekonstruksi multiplanar pada bidang aksial dan koronal. Untuk lesi traumatik atau tulang, fokus pada algoritma tulang, sementara untuk lesi jaringan lunak, gunakan algoritma jaringan lunak.

MRI Orbita

Meskipun CT scan adalah modalitas utama untuk evaluasi trauma akut, MRI dapat memberikan informasi tambahan tentang cedera jaringan lunak, evaluasi saraf optik, dan deteksi hematoma orbital yang lebih baik. Namun, MRI umumnya tidak direkomendasikan pada fase akut trauma karena memerlukan waktu pemeriksaan yang lebih lama dan kontraindikasi pada pasien dengan kemungkinan benda asing metalik intraorbital.

Ultrasonografi Transorbital

Ultrasonografi transorbital (TOS) telah muncul sebagai alat inovatif untuk evaluasi neurologis pada pasien dengan trauma otak traumatik yang memiliki hematoma periorbital atau pembengkakan wajah. Studi terbaru menunjukkan bahwa TOS dapat secara akurat mengukur fungsi pupil bahkan ketika edema kelopak mata membuat pemeriksaan langsung menjadi sulit. Metode ini menunjukkan konsistensi yang baik dengan penilaian visual menggunakan penlight, dengan nilai koefisien korelasi intraclass berkisar 0,562-0,809, namun dengan stabilitas data yang superior.

Tanda Bahaya dan Komplikasi

Meskipun sebagian besar kasus mata lebam bersifat jinak dan sembuh tanpa komplikasi, terdapat beberapa kondisi serius yang memerlukan penanganan darurat:

Perdarahan Retrobulbar

Perdarahan retrobulbar adalah akumulasi darah di belakang bola mata dalam ruang retrobulbar. Kondisi ini merupakan kedaruratan oftalmologis sejati karena dapat menyebabkan sindrom kompartemen orbital dengan peningkatan tekanan intraorbital yang cepat. Manifestasi klinis meliputi:

  • Proptosis yang progresif
  • Peningkatan tekanan intraokular yang signifikan (dapat mencapai >40 mmHg)
  • Penurunan ketajaman penglihatan yang cepat
  • Nyeri periorbital yang berat
  • Pembatasan gerakan mata (oftalmoplegia)
  • Relative afferent pupillary defect (RAPD)

Studi kasus melaporkan seorang anak berusia 8 tahun yang mengalami hematoma retrobulbar terkait dengan hematoma subgaleal ekstensif setelah jatuh, menunjukkan proptosis, ekimosis periorbital, dan pembengkakan oksipital. Intervensi bedah darurat diperlukan untuk drainase hematoma dan mencegah kehilangan penglihatan permanen.

Sindrom Kompartemen Orbital

Sindrom kompartemen orbital dapat berkembang tidak hanya dari perdarahan retrobulbar tetapi juga dari emfisema orbital yang tegang. Kasus yang dilaporkan menunjukkan seorang pria berusia 47 tahun yang mengalami sindrom kompartemen orbital akibat emfisema orbital tegang setelah trauma tumpul pada pipi kanan. Meskipun pemeriksaan awal menunjukkan hematoma periorbital, emfisema, kemosis, dan tekanan intraokular yang meningkat (28 mmHg) tanpa proptosis, kondisinya memburuk keesokan harinya dengan onset baru proptosis, oftalmoplegia total, dan peningkatan tekanan intraokular menjadi 48 mmHg. Kantotomi lateral darurat dan pemberian asetazolamid sistemik berhasil mengurangi tekanan intraokular dan memulihkan fungsi penglihatan.

Neuropati Optik Traumatik

Neuropati optik traumatik (TON) adalah cedera saraf optik yang jarang namun serius akibat trauma periorbital. TON dilaporkan terjadi pada 5,92% pasien dengan fraktur tulang wajah periorbital dalam sebuah studi besar yang melibatkan 2.008 mata. Faktor risiko yang signifikan untuk TON meliputi:

  • Fraktur kanalis optikus (skor risiko: 3 poin)
  • Fraktur dinding medial orbita (2 poin)
  • Fraktur atap orbita (1 poin)
  • Perdarahan intrakranial (1 poin)
  • Hematoma retrobulbar (2 poin)

Model penilaian risiko yang dikembangkan menunjukkan diskriminasi yang baik dengan area di bawah kurva receiver operating characteristic (AUC-ROC) sebesar 0,84, yang dapat membantu dalam pengambilan keputusan klinis yang tepat waktu pada pasien tidak sadar dengan fraktur periorbital.

Fraktur Orbital

Fraktur orbital dapat terjadi pada berbagai dinding orbita:

  • Fraktur lantai orbital (blowout fracture) adalah yang paling umum
  • Fraktur dinding medial orbital sering melibatkan lamina papyracea etmoid
  • Fraktur atap orbital dapat dikaitkan dengan trauma kepala yang lebih serius
  • Fraktur kompleks zygomaticomaxillary yang melibatkan rim orbital

Data epidemiologi menunjukkan bahwa fraktur zygomaticomaxillary complex (ZMC) ditemukan pada 73,52% pasien dengan trauma maksilofasial dan cedera oftalmik, diikuti oleh fraktur mandibula (50,19%), fraktur naso-orbito-etmoid (19,41%), dan fraktur tulang frontal (18,74%).

Komplikasi jangka panjang dari fraktur orbital yang tidak ditangani dengan baik dapat meliputi:

  • Enoftalmos persisten
  • Diplopia kronis
  • Distopia globe (malposisi bola mata)
  • Deformitas estetik wajah

Tanda Bahaya yang Memerlukan Rujukan Segera

Pasien dengan mata lebam harus dirujuk segera ke spesialis oftalmologi atau fasilitas dengan kemampuan imaging dan penanganan trauma orbital jika ditemukan:

  • Penurunan ketajaman penglihatan yang signifikan atau progresif
  • Diplopia yang persisten
  • Proptosis atau enoftalmos
  • Tekanan intraokular yang meningkat
  • Relative afferent pupillary defect (RAPD)
  • Pembatasan gerakan mata yang signifikan
  • Nyeri berat yang tidak responsif terhadap analgesia
  • Tanda-tanda fraktur orbital pada palpasi atau imaging
  • Gejala neurologis seperti kebocoran cairan serebrospinal (raccoon eyes bilateral tanpa trauma langsung pada mata)

Penatalaksanaan

Penatalaksanaan mata lebam bergantung pada tingkat keparahan cedera dan ada tidaknya komplikasi. Sebagian besar kasus dapat ditangani secara konservatif, namun beberapa kondisi memerlukan intervensi medis atau bedah yang lebih agresif.

Penatalaksanaan Konservatif untuk Mata Lebam Sederhana

Untuk kasus mata lebam tanpa komplikasi serius, penatalaksanaan konservatif di rumah sudah cukup:

  1. Kompres Dingin (0-48 jam pertama): Aplikasi kompres dingin atau ice pack selama 15-20 menit setiap 1-2 jam pada 48 jam pertama setelah trauma dapat membantu mengurangi pembengkakan dan perdarahan lebih lanjut dengan menyebabkan vasokonstriksi pembuluh darah. Penting untuk tidak mengaplikasikan es langsung pada kulit tetapi membungkusnya dengan kain untuk mencegah cold injury.
  2. Kompres Hangat (setelah 48-72 jam): Setelah fase akut, kompres hangat dapat membantu meningkatkan aliran darah dan mempercepat resorpsi hematoma. Aplikasi kompres hangat dapat dilakukan 3-4 kali sehari selama 10-15 menit.
  3. Elevasi Kepala: Tidur dengan kepala yang ditinggikan (menggunakan 2-3 bantal) dapat membantu mengurangi akumulasi cairan dan edema periorbital melalui efek gravitasi.
  4. Analgesia: Penggunaan analgesik untuk mengurangi nyeri. Asetaminofen (parasetamol) merupakan pilihan pertama karena tidak mempengaruhi fungsi trombosit. Penggunaan NSAID seperti ibuprofen harus dipertimbangkan dengan hati-hati karena dapat meningkatkan risiko perdarahan, terutama pada fase awal.
  5. Istirahat: Menghindari aktivitas fisik berat, mengejan, atau aktivitas yang dapat meningkatkan tekanan pada area yang cedera selama beberapa hari pertama.
  6. Proteksi Mata: Jika terdapat abrasi kornea atau cedera pada permukaan mata, penggunaan pelumas mata atau salep antibiotik oftalmik mungkin diperlukan sesuai anjuran dokter.

Penatalaksanaan Medis Lanjutan

Untuk kasus dengan komplikasi atau cedera yang lebih serius:

  1. Manajemen Perdarahan Retrobulbar:
    • Kantotomi lateral dan kantolisis adalah prosedur bedah darurat yang dilakukan untuk mengurangi tekanan intraorbital dengan segera
    • Manitol intravena atau asetazolamid dapat diberikan untuk menurunkan tekanan intraokular
    • Kortikosteroid dosis tinggi dapat dipertimbangkan untuk mengurangi edema dan inflamasi
    • Evaluasi oftalmologi darurat dan monitoring ketat tekanan intraokular diperlukan
  2. Manajemen Fraktur Orbital:
    • Fraktur orbital tidak selalu memerlukan intervensi bedah
    • Indikasi pembedahan meliputi: diplopia persisten dengan penjebatan otot, enoftalmos signifikan (>2 mm), defek besar lantai orbital (>50% luas area), atau gangguan estetik yang signifikan
    • Waktu optimal untuk rekonstruksi orbital masih diperdebatkan, namun umumnya dilakukan dalam 1-2 minggu setelah resolusi edema akut
    • Rekonstruksi dapat menggunakan implan aloplastik (titanium mesh, porous polyethylene) atau material autologous (tulang atau kartilago)
    • Pendekatan bedah modern semakin memanfaatkan teknologi computer-aided design and manufacturing (CAD/CAM) dan implan spesifik pasien untuk hasil yang lebih presisi
  3. Manajemen Neuropati Optik Traumatik:
    • Kontroversi masih ada mengenai penatalaksanaan optimal TON
    • Pilihan terapi meliputi observasi, kortikosteroid dosis tinggi, atau dekompresi bedah kanalis optikus
    • Keputusan terapi harus individualized berdasarkan faktor risiko dan kondisi klinis pasien

Antibiotik dan Profilaksis

Antibiotik biasanya tidak diperlukan untuk mata lebam sederhana. Namun, antibiotik profilaksis dapat dipertimbangkan pada kondisi:

  • Laserasi yang melibatkan kelopak mata atau jaringan periorbital
  • Fraktur terbuka dengan komunikasi ke sinus atau rongga hidung
  • Kontaminasi luka yang signifikan
  • Pasien immunocompromised

Profilaksis Tetanus

Status imunisasi tetanus harus dievaluasi pada semua kasus trauma dengan luka terbuka. Booster tetanus diberikan jika pasien belum menerima vaksinasi dalam 5-10 tahun terakhir, tergantung pada jenis luka.

Prognosis dan Pencegahan

Prognosis

Prognosis mata lebam tanpa komplikasi umumnya sangat baik. Sebagian besar kasus akan mengalami resolusi spontan dalam 2-3 minggu tanpa sekuele jangka panjang. Perubahan warna dan edema akan membaik secara bertahap mengikuti proses degradasi dan resorpsi hemoglobin.

Namun, prognosis dapat berbeda pada kasus dengan komplikasi:

  • Fraktur orbital yang tidak ditangani dengan baik dapat menyebabkan diplopia persisten atau enoftalmos permanen
  • Neuropati optik traumatik memiliki prognosis visual yang bervariasi, dengan beberapa kasus mengalami kehilangan penglihatan permanen
  • Perdarahan retrobulbar yang tidak ditangani segera dapat menyebabkan kebutaan ireversibel akibat iskemia saraf optik
  • Cedera serius pada bola mata dapat mengakibatkan gangguan penglihatan permanen

Pencegahan

Strategi pencegahan trauma periorbital dan orbital meliputi:

  1. Keselamatan Lalu Lintas:
    • Penggunaan helm berkualitas baik dengan pelindung wajah untuk pengendara sepeda motor
    • Penggunaan sabuk pengaman dan airbag di kendaraan
    • Edukasi tentang berkendara yang aman dan menghindari mengemudi dalam keadaan mabuk atau mengantuk
  2. Keselamatan Olahraga:
    • Penggunaan pelindung mata atau pelindung wajah yang sesuai untuk olahraga berisiko tinggi (hoki, lacrosse, baseball, bela diri)
    • Edukasi atlet tentang teknik yang aman dan risiko cedera
    • Implementasi aturan keselamatan yang ketat dalam olahraga kontak
  3. Keselamatan Kerja:
    • Penggunaan alat pelindung diri (APD) yang memadai termasuk kacamata pelindung atau pelindung wajah di lingkungan kerja yang berisiko
    • Pelatihan keselamatan kerja yang regular
    • Implementasi dan penegakan protokol keselamatan kerja
  4. Pencegahan Kekerasan:
    • Program pencegahan kekerasan dalam rumah tangga
    • Edukasi masyarakat tentang resolusi konflik non-kekerasan
    • Akses ke layanan dukungan bagi korban kekerasan
  5. Pencegahan Jatuh pada Lansia:
    • Modifikasi lingkungan rumah untuk mengurangi risiko jatuh (pegangan tangan, pencahayaan yang memadai, menghilangkan hambatan)
    • Program latihan keseimbangan dan penguatan otot
    • Review dan optimalisasi obat-obatan yang dapat meningkatkan risiko jatuh
    • Evaluasi dan koreksi gangguan penglihatan

Kesimpulan

Mata lebam atau periorbital hematoma merupakan manifestasi umum dari trauma pada area wajah dan periorbital. Meskipun sebagian besar kasus bersifat jinak dan akan sembuh dengan penatalaksanaan konservatif sederhana, penting untuk mengenali tanda-tanda bahaya yang mengindikasikan cedera yang lebih serius seperti perdarahan retrobulbar, neuropati optik traumatik, atau fraktur orbital yang memerlukan intervensi medis atau bedah segera.

Pendekatan diagnostik yang sistematis, termasuk anamnesis yang teliti, pemeriksaan fisik yang komprehensif, dan penggunaan imaging yang tepat ketika diindikasikan, sangat penting untuk mengidentifikasi komplikasi potensial dan mencegah sekuele jangka panjang. Pemahaman tentang anatomi periorbital, mekanisme cedera, dan patofisiologi pembentukan hematoma membantu klinisi dalam memberikan edukasi yang tepat kepada pasien dan keluarga tentang perjalanan penyakit dan ekspektasi penyembuhan.

Di Indonesia, dengan tingginya angka kecelakaan lalu lintas dan prevalensi trauma wajah yang signifikan, peningkatan awareness tentang pencegahan trauma, penggunaan alat pelindung diri yang memadai, dan akses ke pelayanan kesehatan yang kompeten dalam menangani trauma orbital menjadi sangat penting. Kolaborasi multidisiplin antara dokter umum, spesialis bedah, spesialis oftalmologi, dan spesialis radiologi diperlukan untuk memastikan penatalaksanaan yang optimal dan hasil yang terbaik bagi pasien dengan trauma periorbital.


Daftar Pustaka

Bao, Y. P., Shen, T. Y., Lou, Z. W., Zhou, Y., & Zhang, L. (2025). Using transorbital sonography for assessing traumatic brain injury in patients with periorbital hematoma. Journal of Craniofacial Surgery, 36(5), 1838-1842. https://doi.org/10.1097/SCS.0000000000011073

Chen, P. R., Chuang, K. T., Chou, P. Y., Chen, C. H., Liao, H. T., & Chen, C. T. (2025). Simple scoring model for evaluation of traumatic optic neuropathy in unconscious patients with periorbital facial bone fracture. Plastic and Reconstructive Surgery, 156(5), 783-791. https://doi.org/10.1097/PRS.0000000000012227

Chew, C. F., & Prem-Kumar, V. (2025). Tension orbital emphysema following blunt trauma: A case of orbital compartment syndrome. Cureus, 17(11), e97421. https://doi.org/10.7759/cureus.97421

Irfan, A., Punjabi, N., Suresh, A., Waldrop, I., Inman, J. C., & Sheets, N. W. (2024). Orbital trauma epidemiologic characteristics by life stage. Craniomaxillofacial Trauma & Reconstruction, 17(4), 44. https://doi.org/10.1177/19433875241275102

Khan, T. A., Tripathi, G. M., Mishra, A., Sharma, D., & Dwivedi, A. (2024). Pattern of ophthalmic injuries in patients with maxillofacial fractures at a tertiary care centre in central India. Dental Traumatology, 41(3), 305-313. https://doi.org/10.1111/edt.13024

Murai, M. K., Delamura, I. F., Faco, E. F. S., de Sousa, Y. M. G., Miranda, A. P. R., Flores, F. D. S., Fabris, A. L. D. S., & Garcia-Junior, I. R. (2025). Orbital emergency in a child: Retrobulbar hematoma induced by extensive subgaleal hemorrhage. Journal of Craniofacial Surgery, 36(8), e1525-e1527. https://doi.org/10.1097/SCS.0000000000012015

Nair, A. G., & Narayanan, A. (2025). Unexpected impact: Orbital fracture from pickleball trauma – a case report and literature review. European Journal of Ophthalmology, 35(4), NP29-NP32. https://doi.org/10.1177/11206721251332977

Sehliko��lu, K., Özdemir, M. A., Gidirislioglu, Ş. N., Kafadar, H., & Ören, B. (2025). Investigation of forensic cases with ocular trauma. Turkish Journal of Trauma & Emergency Surgery, 31(7), 669-674. https://doi.org/10.14744/tjtes.2025.36215

Sridhar, A., & Krishnaswamy, V. (2025). Post-tussive periorbital ecchymosis in a child without trauma: A rare neuro-ophthalmic presentation. Cureus, 17(9), e91461. https://doi.org/10.7759/cureus.91461

Tsuboguchi, S., Okamoto, K., & Tokiguchi, S. (2025). Contrecoup raccoon sign following minor posterior head injury without visible injury: Diagnostic challenge in an asymptomatic older adult man. Surgical Neurology International, 16, 286. https://doi.org/10.25259/SNI_229_2025

Alomedika. (2023, September 25). Manajemen awal trauma jaringan lunak pada wajah. https://www.alomedika.com/cme-skp-manajemen-awal-trauma-jaringan-luka-pada-wajah

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2022). Pedoman nasional pelayanan kedokteran: Cedera otak traumatik (Keputusan Menteri Kesehatan Nomor HK.01.07/MENKES/1600/2022). Jakarta: Kemenkes RI.

National Center for Biotechnology Information. (2024). Guidelines for standard operation of imaging modalities in orbital diseases (2024). PMC11672101. https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC11672101/

Commenting 101: “Be kind, and respect each other” // Bersikaplah baik, dan saling menghormati (Indonesian) // Soyez gentils et respectez-vous les uns les autres (French) // Sean amables y respétense mutuamente (Spanish) // 待人友善,互相尊重 (Chinese) // كونوا لطفاء واحترموا بعضكم البعض (Arabic) // Будьте добры и уважайте друг друга (Russian) // Seid freundlich und respektiert einander (German) // 親切にし、お互いを尊重し合いましょう (Japanese) // दयालु बनें, और एक दूसरे का सम्मान करें (Hindi) // Siate gentili e rispettatevi a vicenda (Italian)

Tinggalkan komentar