- Pendahuluan
- Epidemiologi dan Beban Penyakit
- Patofisiologi dan Etiologi
- Manifestasi Klinis
- Diagnosis
- Penatalaksanaan
- Prognosis dan Perjalanan Penyakit
- Penelitian dan Perspektif Masa Depan
- Konteks Indonesia
- Kesimpulan
- Referensi
Pendahuluan
Bayangkan merasakan dorongan konstan untuk buang air kecil hingga puluhan kali sehari, disertai rasa nyeri yang menusuk di area panggul—sensasi yang tidak hilang meski kandung kemih sudah dikosongkan. Bagi jutaan orang di seluruh dunia, terutama perempuan usia produktif, pengalaman ini bukan imajinasi melainkan kenyataan harian yang mereka hadapi akibat kondisi medis bernama Bladder Pain Syndrome (BPS) atau sindrom nyeri kandung kemih.
BPS, yang sering juga disebut sebagai interstitial cystitis (IC), merupakan kondisi kronis yang ditandai oleh nyeri atau ketidaknyamanan pada kandung kemih yang berlangsung lebih dari enam minggu tanpa adanya infeksi atau penyebab jelas lainnya. Kondisi ini tidak hanya menimbulkan gejala fisik yang mengganggu, tetapi juga berdampak signifikan terhadap kualitas hidup, hubungan interpersonal, produktivitas kerja, dan kesehatan mental penderitanya.
Meskipun telah dikenal dalam literatur medis sejak lebih dari seabad lalu, BPS tetap menjadi salah satu kondisi urologi yang paling menantang untuk didiagnosis dan dikelola. Gejalanya yang beragam, patofisiologi yang belum sepenuhnya dipahami, serta respons terhadap pengobatan yang sangat individual membuat kondisi ini memerlukan pendekatan multidisiplin dan personalisasi dalam penatalaksanaannya.
Epidemiologi dan Beban Penyakit
Prevalensi BPS bervariasi secara signifikan tergantung pada kriteria diagnosis yang digunakan dan populasi yang diteliti. Studi epidemiologi terbaru menunjukkan bahwa BPS mempengaruhi sekitar 2,7-6,5% perempuan dan 1,9-4,2% laki-laki di berbagai negara (Clemens et al., 2022). Di Amerika Serikat, diperkirakan 3-8 juta perempuan dan 1-4 juta laki-laki hidup dengan kondisi ini, menjadikannya salah satu kondisi urologi kronis yang paling umum.
Penelitian populasi di Eropa melaporkan angka prevalensi yang serupa, dengan kejadian tahunan sekitar 45-197 kasus per 100.000 penduduk perempuan (Hanno et al., 2023). Yang mengkhawatirkan, data menunjukkan bahwa sebagian besar kasus BPS tidak terdiagnosis atau salah didiagnosis, dengan rata-rata keterlambatan diagnosis mencapai 4-7 tahun sejak onset gejala pertama.
BPS menunjukkan predominansi yang jelas pada perempuan, dengan rasio perempuan terhadap laki-laki berkisar 5:1 hingga 10:1. Kondisi ini paling sering muncul pada usia dekade ketiga hingga kelima kehidupan, meskipun dapat terjadi pada semua kelompok usia termasuk anak-anak dan lansia. Penelitian terbaru oleh Nickel et al. (2022) menemukan bahwa usia rata-rata saat diagnosis adalah 42-46 tahun untuk perempuan dan 48-52 tahun untuk laki-laki.
Dampak ekonomi BPS sangat substansial. Studi analisis biaya di Amerika Serikat menunjukkan bahwa biaya langsung dan tidak langsung per pasien BPS berkisar USD 4.000-7.000 per tahun, dengan total beban ekonomi nasional mencapai miliaran dolar (Anger et al., 2023). Biaya ini mencakup kunjungan medis berulang, prosedur diagnostik, pengobatan jangka panjang, serta produktivitas kerja yang hilang.
Kualitas hidup pasien BPS dilaporkan setara atau bahkan lebih buruk dibanding pasien dengan kondisi kronis lain seperti rheumatoid arthritis atau penyakit ginjal stadium akhir. Survei komprehensif menunjukkan bahwa lebih dari 90% pasien BPS mengalami gangguan tidur, 74% melaporkan disfungsi seksual, dan 60% mengalami gejala depresi atau ansietas (Berry et al., 2022).
Di Indonesia, data epidemiologi BPS masih sangat terbatas. Kondisi ini kemungkinan besar underdiagnosed dan underreported karena keterbatasan awareness di kalangan tenaga kesehatan dan masyarakat, akses terbatas ke spesialis urologi, serta stigma sosial terkait keluhan saluran kemih. Berdasarkan proyeksi dari data regional Asia-Pasifik, diperkirakan terdapat ratusan ribu hingga jutaan kasus BPS yang belum teridentifikasi di Indonesia.
Patofisiologi dan Etiologi
Patofisiologi BPS bersifat multifaktorial dan kompleks, melibatkan berbagai mekanisme yang saling berinteraksi. Meskipun pemahaman tentang penyebab pasti kondisi ini masih terus berkembang, beberapa teori utama telah diajukan berdasarkan penelitian terkini.

Disfungsi Lapisan Pelindung Urotelium
Teori yang paling banyak diterima menyatakan bahwa BPS melibatkan gangguan pada lapisan glikosaminoglikan (GAG) yang melapisi permukaan dalam kandung kemih. Lapisan GAG ini berfungsi sebagai barier pelindung yang mencegah komponen urin yang berpotensi iritatif—seperti kalium, urea, dan metabolit lain—menembus ke jaringan dinding kandung kemih yang lebih dalam (Akiyama et al., 2023).
Pada pasien BPS, defek atau penipisan lapisan GAG memungkinkan penetrasi zat-zat iritatif ke dalam urotelium dan submukosa. Hal ini memicu respons inflamasi lokal, aktivasi sel mast, pelepasan mediator inflamasi seperti histamin dan tryptase, serta sensitisasi serabut saraf aferen yang berujung pada persepsi nyeri kronik. Studi mikroskopis pada biopsi kandung kemih pasien BPS menunjukkan peningkatan permeabilitas urotelial yang signifikan dibandingkan individu sehat.
Inflamasi Neurogenik dan Sensitisasi Sentral
Penelitian neurobiologi terbaru mengungkapkan bahwa BPS melibatkan fenomena sensitisasi perifer dan sentral. Pada tingkat perifer, inflamasi kronis pada dinding kandung kemih menyebabkan upregulasi reseptor nyeri (nociceptor) dan penurunan ambang rangsang nyeri. Serabut saraf C dan A-delta yang menginervasi kandung kemih menjadi hipereksitabel, mengirimkan sinyal nyeri yang berlebihan ke sistem saraf pusat (Grundy et al., 2022).
Pada tingkat sentral, stimulasi nyeri yang persisten menginduksi perubahan neuroplastik pada medulla spinalis dan otak, menghasilkan kondisi sensitisasi sentral. Fenomena ini menjelaskan mengapa pasien BPS seringkali mengalami allodynia (nyeri akibat stimulus yang normalnya tidak nyeri) dan hyperalgesia (respons nyeri yang berlebihan terhadap stimulus nyeri). Studi pencitraan otak fungsional menunjukkan pola aktivasi abnormal pada area otak yang terkait dengan pemrosesan nyeri dan emosi pada pasien BPS.
Disfungsi Imunologi
Bukti kumulatif menunjukkan keterlibatan sistem imun dalam patogenesis BPS. Analisis jaringan kandung kemih pasien BPS mengungkapkan infiltrasi sel inflamasi yang signifikan, terutama sel mast, limfosit T, dan makrofag. Sel mast, yang normalnya berperan dalam respons alergi dan imun, ditemukan dalam jumlah 2-3 kali lipat lebih tinggi pada submukosa kandung kemih pasien BPS (Sant et al., 2023).
Degranulasi sel mast melepaskan berbagai mediator proinflamasi seperti histamin, prostaglandin, leukotrien, dan sitokin yang berkontribusi terhadap nyeri, inflamasi, dan peningkatan permeabilitas vaskular. Beberapa penelitian juga menemukan peningkatan kadar antibodi dan kompleks imun pada pasien BPS, mengindikasikan kemungkinan komponen autoimun dalam patofisiologi kondisi ini.
Faktor Genetik dan Predisposisi
Studi genetika molekuler mengidentifikasi beberapa varian gen yang berkaitan dengan peningkatan risiko BPS. Polimorfisme pada gen yang mengkode untuk reseptor nyeri (seperti TRPV1), enzim metabolisme neurotransmitter, dan protein terkait respons imun telah ditemukan lebih sering pada pasien BPS dibanding populasi umum (Jhang & Kuo, 2022). Penelitian pada keluarga dan kembar menunjukkan heritabilitas BPS sekitar 30-40%, mengindikasikan bahwa faktor genetik berkontribusi terhadap kerentanan individu terhadap kondisi ini.
Faktor Psikosomatik dan Stress
Hubungan bidireksional antara stress psikologis dan BPS telah terdokumentasi dengan baik. Stress kronis dapat memperburuk gejala BPS melalui aktivasi aksis hipotalamus-pituitari-adrenal (HPA) dan sistem saraf otonom, yang pada gilirannya meningkatkan inflamasi, permeabilitas urotelial, dan sensitivitas nyeri. Sebaliknya, gejala BPS yang persisten berkontribusi terhadap distress psikologis, menciptakan siklus yang saling memperkuat (Naliboff et al., 2022).
Penelitian terbaru menunjukkan bahwa trauma psikologis, terutama trauma masa kanak-kanak dan kekerasan seksual, memiliki asosiasi yang signifikan dengan perkembangan BPS. Hal ini diduga terkait dengan perubahan neurobiologis jangka panjang akibat stress traumatik yang meningkatkan kerentanan terhadap kondisi nyeri kronik.
Infeksi dan Mikrobiota
Meskipun BPS didefinisikan sebagai kondisi non-infeksius, beberapa penelitian mengeksplorasi kemungkinan keterlibatan infeksi subklinis atau perubahan mikrobiota kandung kemih. Studi metagenomik menemukan bahwa pasien BPS memiliki komposisi mikrobiota urin yang berbeda dibanding individu sehat, dengan penurunan diversitas bakteri dan peningkatan spesies tertentu yang berpotensi uropathogenic (Meriwether et al., 2023). Namun, peran kausal mikrobiota dalam patogenesis BPS masih menjadi topik penelitian aktif.
Manifestasi Klinis
Gejala BPS bervariasi dalam intensitas dan pola presentasi antar individu, namun terdapat beberapa karakteristik klinis yang umum dijumpai.
Nyeri Pelvis dan Suprapubik
Nyeri merupakan gejala kardinal BPS, umumnya terlokalisasi di area suprapubik, pelvis, atau perineum. Karakteristik nyeri dapat berupa sensasi terbakar, tekanan, ketidaknyamanan, atau nyeri tajam yang memburuk seiring pengisian kandung kemih dan membaik setelah berkemih. Pada beberapa pasien, nyeri dapat menjalar ke abdomen bawah, punggung bawah, atau area genital (Bogart et al., 2023).
Intensitas nyeri bervariasi dari ringan hingga berat dan dapat berfluktuasi sepanjang waktu. Sebagian pasien mengalami periode eksaserbasi (flare) yang dipicu oleh berbagai faktor seperti stress, konsumsi makanan tertentu, aktivitas seksual, atau siklus menstruasi. Nyeri BPS seringkali bersifat kronik dan persisten, berlangsung lebih dari 6 bulan, yang membedakannya dari sistitis akut.
Frekuensi dan Urgensi Berkemih
Peningkatan frekuensi berkemih merupakan gejala yang sangat umum, dengan pasien BPS dapat berkemih 8-60 kali dalam 24 jam, jauh melebihi frekuensi normal 6-8 kali sehari. Urgensi berkemih—dorongan mendadak dan kuat untuk berkemih—sering disertai ketakutan akan inkontinensia jika tidak segera mengakses toilet. Berbeda dengan overactive bladder murni, urgensi pada BPS biasanya disertai nyeri atau ketidaknyamanan (Clemens et al., 2022).
Nokturia atau terbangun di malam hari untuk berkemih juga sangat prevalent, dengan pasien dapat terbangun 2-10 kali per malam. Gangguan tidur akibat nokturia berkontribusi signifikan terhadap kelelahan, penurunan fungsi kognitif, dan penurunan kualitas hidup secara keseluruhan.
Disfungsi Seksual
Sebagian besar pasien BPS melaporkan berbagai bentuk disfungsi seksual. Pada perempuan, keluhan yang umum meliputi dyspareunia (nyeri saat berhubungan seksual), penurunan libido, kesulitan mencapai orgasme, dan nyeri post-coital yang dapat berlangsung hingga beberapa hari. Pada laki-laki, BPS dapat bermanifestasi sebagai nyeri testikular, nyeri saat ejakulasi, atau disfungsi ereksi (Shorter et al., 2022).
Dampak psikososial dari disfungsi seksual dapat sangat mendalam, mempengaruhi hubungan intim, kepercayaan diri, dan kesejahteraan emosional. Banyak pasien mengalami distress signifikan dan bahkan menghindari aktivitas seksual sepenuhnya karena antisipasi nyeri.
Komorbiditas
BPS memiliki asosiasi yang signifikan dengan berbagai kondisi komorbid, mencerminkan kemungkinan mekanisme patofisiologis yang tumpang tindih. Kondisi yang sering bersamaan dengan BPS meliputi:
- Sindrom Nyeri Kronik Lain: Fibromyalgia (30-50% pasien BPS), irritable bowel syndrome (30-40%), chronic fatigue syndrome, migrain, dan temporomandibular joint disorder
- Kondisi Ginekologi: Endometriosis, vulvodynia, chronic pelvic pain
- Gangguan Psikiatri: Depresi mayor (30-50%), gangguan ansietas (40-60%), gangguan panik
- Kondisi Autoimun: Lupus eritematosus sistemik, sindrom Sjögren, tiroiditis autoimun
- Alergi: Rhinitis alergi, asma, alergi makanan
Keberadaan komorbiditas ini dapat mempersulit diagnosis dan memerlukan pendekatan terapeutik yang komprehensif.
Diagnosis
Diagnosis BPS merupakan proses yang menantang karena tidak adanya tes diagnostik tunggal yang definitif dan kebutuhan untuk menyingkirkan berbagai kondisi lain yang dapat menimbulkan gejala serupa.
Kriteria Diagnostik
Berdasarkan panduan terkini dari American Urological Association (AUA) dan European Association of Urology (EAU), BPS didiagnosis berdasarkan kombinasi kriteria klinis berikut (Hanno et al., 2022):
- Nyeri pelvis, tekanan, atau ketidaknyamanan yang dipersepsikan berkaitan dengan kandung kemih
- Durasi gejala minimal 6 minggu tanpa perbaikan signifikan
- Tidak adanya infeksi atau patologi lain yang dapat menjelaskan gejala
Gejala tambahan yang mendukung diagnosis meliputi peningkatan frekuensi berkemih siang dan malam hari, serta urgensi berkemih. Penting untuk dicatat bahwa diagnosis BPS bersifat klinis dan tidak memerlukan temuan sistoskopi khusus seperti lesi Hunner atau glomerulasi untuk ditegakkan.
Anamnesis dan Pemeriksaan Fisik
Anamnesis yang komprehensif merupakan fondasi diagnosis BPS. Klinisi harus menggali informasi detail mengenai:
- Karakteristik nyeri (lokasi, kualitas, intensitas, faktor yang memperburuk dan memperbaiki)
- Pola berkemih (frekuensi siang dan malam, volume per berkemih, urgensi)
- Onset dan durasi gejala, serta pola fluktuasi
- Faktor pencetus seperti makanan, stress, atau aktivitas tertentu
- Dampak terhadap kualitas hidup, aktivitas sehari-hari, dan fungsi seksual
- Riwayat infeksi saluran kemih berulang atau terapi antibiotik
- Riwayat komorbiditas dan pengobatan sebelumnya
Pemeriksaan fisik meliputi palpasi abdomen untuk mendeteksi nyeri tekan suprapubik, pemeriksaan pelvis untuk mengidentifikasi patologi ginekologi pada perempuan, dan pemeriksaan prostat pada laki-laki. Pemeriksaan neurologi dapat dilakukan untuk menyingkirkan kondisi neurologis yang mendasari (Akiyama et al., 2023).
Kuesioner Gejala Tervalidasi
Beberapa instrumen penilaian terstandarisasi dapat membantu kuantifikasi gejala dan monitoring respons terapi:
- Interstitial Cystitis Symptom Index (ICSI) dan Interstitial Cystitis Problem Index (ICPI): Kuesioner singkat yang menilai severitas gejala dan dampaknya terhadap kehidupan sehari-hari
- Pelvic Pain and Urgency/Frequency (PUF) Scale: Mengukur frekuensi, urgensi, dan nyeri pelvis
- O’Leary-Sant Symptom and Problem Index: Kombinasi penilaian gejala dan dampak masalah
Kuesioner ini tidak hanya membantu diagnosis tetapi juga berguna untuk monitoring objektif respons terhadap intervensi terapeutik.
Voiding Diary
Catatan berkemih selama 3-7 hari merupakan alat diagnostik yang sangat bermanfaat, mendokumentasikan:
- Waktu setiap berkemih
- Volume urin per berkemih
- Intake cairan
- Episode urgensi dan inkontinensia
- Tingkat nyeri atau ketidaknyamanan
Data ini memberikan informasi objektif mengenai pola berkemih dan dapat mengidentifikasi faktor pencetus spesifik.
Pemeriksaan Laboratorium
Meskipun tidak ada tes laboratorium spesifik untuk BPS, beberapa pemeriksaan diperlukan untuk menyingkirkan kondisi lain:
- Urinalisis dan kultur urin: Untuk menyingkirkan infeksi saluran kemih, hematuria, atau kondisi lain. Pada BPS, hasil biasanya normal atau menunjukkan sterile pyuria ringan
- Sitologi urin: Pada pasien dengan faktor risiko atau hematuria, untuk menyingkirkan keganasan
- Tes kehamilan: Pada perempuan usia reproduktif
- Tes penyakit menular seksual: Jika secara klinis diindikasikan
- Kadar gula darah: Untuk menyingkirkan diabetes yang dapat menyebabkan poliuria
Tes Sensitivitas Kalium (Parsons Test)
Tes ini melibatkan instilasi larutan kalium klorida ke dalam kandung kemih untuk mengevaluasi integritas lapisan urotelial. Pasien dengan BPS dan defek lapisan GAG biasanya mengalami nyeri atau urgensi signifikan setelah instilasi kalium, sementara individu dengan urotelium utuh tidak mengalami gejala. Namun, karena bersifat invasif dan tidak nyaman, tes ini jarang digunakan dalam praktik klinis rutin dan tidak direkomendasikan sebagai tes diagnostik standar oleh panduan terkini (Berry et al., 2022).
Sistoskopi dengan atau tanpa Biopsi
Sistoskopi (visualisasi langsung kandung kemih menggunakan kamera) bukan merupakan keharusan untuk diagnosis BPS, namun dapat dipertimbangkan pada kasus tertentu untuk menyingkirkan kondisi lain seperti batu kandung kemih, tumor, atau lesi Hunner. Pemeriksaan dilakukan dengan atau tanpa distensi hidraulik (pengisian kandung kemih dengan cairan di bawah anestesi).
Temuan sistoskopi pada BPS dapat bervariasi:
- Lesi Hunner: Area kemerahan, ulserasi, atau fibrosis pada dinding kandung kemih, ditemukan pada sekitar 5-10% pasien BPS dan dianggap sebagai bentuk yang lebih parah
- Glomerulasi: Perdarahan petekial (titik-titik) pada mukosa kandung kemih setelah distensi, meskipun temuan ini tidak spesifik untuk BPS
- Kapasitas kandung kemih berkurang: Pada kasus yang parah dan lanjut
Penting untuk dicatat bahwa sebagian besar pasien BPS (sekitar 90%) memiliki tampilan sistoskopi yang normal atau hanya menunjukkan perubahan minimal, sehingga sistoskopi normal tidak menyingkirkan diagnosis BPS (Nickel et al., 2022).
Urodinamik
Pemeriksaan urodinamik yang mengukur fungsi kandung kemih dan uretra umumnya tidak diperlukan untuk diagnosis BPS rutin. Namun, dapat dipertimbangkan pada kasus dengan gejala yang tidak khas atau ketika dicurigai adanya disfungsi detrusor atau outlet. Temuan urodinamik pada BPS dapat meliputi kapasitas kandung kemih berkurang, sensitivitas kandung kemih meningkat, atau nyeri saat pengisian.
Diagnosis Banding
Berbagai kondisi dapat menimbulkan gejala yang mirip dengan BPS dan harus dipertimbangkan dalam diagnosis banding:
- Infeksi saluran kemih: Sistitis bakterial akut atau berulang
- Overactive bladder: Urgensi dan frekuensi tanpa nyeri signifikan
- Urolithiasis: Batu kandung kemih atau ureter distal
- Karsinoma kandung kemih: Terutama karsinoma in situ
- Endometriosis: Pada perempuan dengan nyeri pelvis siklik
- Prostatitis kronis: Pada laki-laki dengan gejala nyeri pelvis
- Vulvodynia: Nyeri vulvar kronik pada perempuan
- Vaginitis: Inflamasi vaginal yang dapat menyebabkan gejala berkemih
- Sindrom uretral: Gejala berkemih tanpa patologi yang teridentifikasi
- Gangguan neurologis: Multiple sclerosis, cedera medula spinalis
Evaluasi diagnostik yang sistematis dan komprehensif penting untuk membedakan BPS dari kondisi-kondisi di atas dan memastikan penatalaksanaan yang tepat.
Penatalaksanaan
Manajemen BPS bersifat multimodal dan dipersonalisasi, mengingat heterogenitas kondisi dan variasi respons individual terhadap terapi. Pendekatan bertahap umumnya direkomendasikan, dimulai dari intervensi konservatif dan progresif ke modalitas yang lebih invasif jika diperlukan.
Edukasi dan Modifikasi Gaya Hidup
Langkah awal dan fundamental dalam penatalaksanaan BPS adalah edukasi pasien mengenai sifat kronis kondisi, pentingnya manajemen jangka panjang, dan ekspektasi realistis terhadap terapi. Pasien harus memahami bahwa BPS adalah kondisi yang dapat dikontrol meskipun belum ada kurasi definitif (Hanno et al., 2022).
Modifikasi Diet: Identifikasi dan eliminasi makanan atau minuman yang memperburuk gejala merupakan strategi yang efektif untuk sebagian pasien. Item yang sering dilaporkan sebagai trigger meliputi:
- Minuman berkafein (kopi, teh, soda)
- Alkohol
- Makanan asam (jeruk, tomat, cuka)
- Makanan pedas
- Pemanis buatan
- Cokelat
- Produk fermentasi
Pasien dapat menggunakan elimination diet dengan menghindari makanan trigger potensial selama 1-2 minggu, kemudian secara bertahap reintroduksi satu per satu untuk mengidentifikasi trigger individual (Akiyama et al., 2023).
Hidrasi Adekuat: Menjaga hidrasi yang cukup namun tidak berlebihan penting untuk mencegah urin menjadi terlalu pekat yang dapat mengiritasi kandung kemih. Target intake cairan sekitar 1,5-2 liter per hari umumnya direkomendasikan, dengan penyesuaian individual.
Teknik Bladder Training: Latihan kandung kemih untuk secara bertahap meningkatkan interval antar berkemih dapat membantu mengurangi frekuensi. Teknik ini melibatkan penundaan berkemih secara progresif menggunakan strategi distraksi dan relaksasi.
Manajemen Stress: Mengingat hubungan erat antara stress dan eksaserbasi gejala BPS, teknik manajemen stress seperti mindfulness, meditasi, yoga, atau terapi kognitif-perilaku dapat memberikan manfaat signifikan (Naliboff et al., 2022).
Terapi Fisik Pelvis
Disfungsi otot dasar panggul sering dijumpai pada pasien BPS, baik sebagai faktor penyebab maupun konsekuensi dari nyeri kronis. Terapi fisik pelvis oleh terapis yang terlatih dapat mencakup:
- Teknik relaksasi otot pelvis
- Release trigger point manual
- Biofeedback
- Stimulasi elektrik
- Latihan penguatan dan peregangan
Studi menunjukkan bahwa terapi fisik pelvis dapat memberikan perbaikan gejala pada 50-70% pasien BPS, terutama mereka dengan komponen hipertonisitas otot pelvis (FitzGerald et al., 2022).
Terapi Farmakologis Oral
Pentosan Polysulfate Sodium (PPS): PPS (Elmiron) merupakan satu-satunya obat oral yang disetujui FDA khusus untuk BPS. Mekanisme kerjanya diduga melalui perbaikan lapisan GAG kandung kemih. Dosis standar adalah 100 mg tiga kali sehari. Respons terapi dapat memerlukan waktu 3-6 bulan, dan efektivitasnya bervariasi dengan sekitar 30-40% pasien mengalami perbaikan gejala signifikan (Jhang & Kuo, 2022).
Perlu dicatat bahwa pada tahun 2020, FDA mengeluarkan peringatan mengenai risiko potensial maculopathy (kerusakan retina) terkait penggunaan PPS jangka panjang. Pasien yang mendapat PPS harus menjalani pemeriksaan oftalmologi baseline dan monitoring periodik.
Antihistamin: Hydroxyzine atau cetirizine dapat membantu mengurangi aktivasi sel mast dan pelepasan histamin. Dosis hydroxyzine 25-75 mg sebelum tidur dapat mengurangi gejala nokturia dan nyeri pada beberapa pasien.
Antidepresan Trisiklik: Amitriptyline pada dosis rendah (10-75 mg sebelum tidur) memiliki efek analgesik, antispasmodik, dan antihistamin yang dapat bermanfaat untuk BPS. Efek samping seperti mulut kering dan sedasi dapat membatasi tolerabilitas.
Analgesik: Parasetamol atau NSAID dapat digunakan untuk manajemen nyeri akut, meskipun efektivitasnya untuk nyeri BPS kronis terbatas. Opioid umumnya dihindari karena risiko ketergantungan dan efektivitas jangka panjang yang kurang.
Antispasmodic: Obat antispasmodik kandung kemih seperti oxybutynin atau tolterodine dapat membantu mengurangi urgensi dan frekuensi pada subset pasien tertentu, meskipun harus digunakan dengan hati-hati karena dapat memperburuk retensi urin.
Terapi Intravesikal
Instilasi obat langsung ke dalam kandung kemih dapat memberikan konsentrasi tinggi pada jaringan target dengan efek sistemik minimal.
Instilasi GAG Layer Replenishment: Instilasi bahan yang membantu perbaikan lapisan GAG seperti:
- Sodium hyaluronate
- Chondroitin sulfate
- Heparin
Protokol umumnya melibatkan instilasi mingguan selama 6-12 minggu, kemudian maintenance bulanan. Studi menunjukkan perbaikan gejala pada 30-60% pasien (Sant et al., 2023).
Instilasi DMSO (Dimethyl Sulfoxide): DMSO memiliki sifat anti-inflamasi, analgesik, dan muscle relaxant. Instilasi dilakukan setiap 1-2 minggu selama 6-8 sesi. Efek samping termasuk bau seperti bawang putih yang sementara dan potensi iritasi kandung kemih.
Cocktail Instilations: Kombinasi beberapa agen seperti lidocaine, heparin, dan sodium bicarbonate dapat memberikan relief gejala yang lebih cepat. Regimen bervariasi antar institusi.
Neuromodulasi
Stimulasi Saraf Tibialis Posterior: Stimulasi elektrik pada saraf tibialis posterior, baik perkutan maupun implan, dapat memodulasi aktivitas saraf yang mengontrol kandung kemih. Terapi dilakukan mingguan selama 12 minggu. Studi menunjukkan perbaikan gejala pada 50-60% pasien dengan profil keamanan yang baik (Anger et al., 2023).
Neuromodulasi Sakral: Implantasi stimulator yang memberikan stimulasi elektrik kontinyu pada saraf sakral dapat efektif untuk kasus BPS yang refrakter. Prosedur melibatkan tahap percobaan untuk mengevaluasi respons sebelum implantasi permanen.
Injeksi Botulinum Toxin
Injeksi botulinum toxin A (Botox) ke dalam dinding kandung kemih dapat mengurangi nyeri dan kapasitas kandung kemih melalui inhibisi pelepasan neurotransmitter dan modulasi sensori. Prosedur dilakukan sistoskopik dengan 100-200 unit Botox. Efek berlangsung 6-12 bulan dan dapat diulang. Sekitar 60-70% pasien mengalami perbaikan gejala, meskipun risiko retensi urin sementara harus dipertimbangkan (Clemens et al., 2022).
Prosedur Intervensi
Fulgurasi atau Reseksi Lesi Hunner: Pada pasien dengan lesi Hunner yang teridentifikasi pada sistoskopi, ablasi lesi menggunakan laser, kauterisasi, atau reseksi transurethral dapat memberikan perbaikan gejala yang dramatis dan bertahan lama pada 70-90% kasus. Prosedur dapat diulang jika lesi rekuren (Hanno et al., 2023).
Distensi Hidraulik: Peregangan kandung kemih di bawah anestesi dengan cairan pada tekanan tinggi dapat memberikan relief gejala sementara pada sebagian pasien, meskipun mekanisme pasti tidak jelas. Durasi perbaikan bervariasi dari beberapa minggu hingga bulan.
Intervensi Bedah
Pembedahan umumnya dianggap sebagai last resort untuk kasus BPS yang sangat parah dan refrakter terhadap semua modalitas terapi konservatif. Opsi bedah meliputi:
Augmentasi Kandung Kemih: Pembesaran kapasitas kandung kemih menggunakan segmen usus. Prosedur kompleks dengan risiko komplikasi signifikan termasuk infeksi, gangguan metabolik, dan kebutuhan kateterisasi intermiten.
Urinary Diversion: Pengalihan aliran urin ke stoma kutaneus (ileal conduit) atau pembuatan neobladder dari segmen usus, dengan atau tanpa cystectomy. Prosedur ini bersifat ireversibel dan hanya dipertimbangkan pada kasus ekstrem yang sangat jarang.
Mengingat morbiditas yang terkait dengan prosedur bedah dan hasil yang tidak selalu memuaskan, intervensi bedah harus didiskusikan secara komprehensif dengan pasien dan hanya dilakukan di pusat dengan expertise dalam rekonstruksi saluran kemih (Bogart et al., 2023).
Terapi Komplementer
Beberapa pendekatan komplementer telah dieksplorasi untuk BPS, meskipun bukti ilmiah masih terbatas:
- Akupunktur: Beberapa studi kecil menunjukkan potensi manfaat dalam mengurangi nyeri dan frekuensi berkemih
- Suplemen Herbal: Quercetin, aloe vera, dan L-arginine telah diteliti dengan hasil yang bervariasi
- Mindfulness dan Meditasi: Dapat membantu manajemen nyeri dan kualitas hidup
Pasien yang tertarik dengan terapi komplementer harus didorong untuk mendiskusikan dengan tim medis mereka untuk memastikan keamanan dan menghindari interaksi dengan terapi konvensional.
Manajemen Psikologis
Mengingat beban psikologis yang signifikan dari BPS, intervensi psikologis merupakan komponen penting dalam penatalaksanaan holistik:
- Terapi Kognitif-Perilaku (CBT): Membantu pasien mengembangkan strategi koping, mengatasi pemikiran maladaptif, dan mengelola nyeri kronis
- Terapi Penerimaan dan Komitmen: Fokus pada penerimaan gejala dan komitmen terhadap tindakan yang selaras dengan nilai hidup
- Support Group: Berbagi pengalaman dengan sesama penderita BPS dapat mengurangi isolasi dan memberikan strategi koping praktis
Kolaborasi dengan psikolog atau psikiater terutama penting pada pasien dengan komorbiditas depresi atau ansietas yang signifikan (Naliboff et al., 2022).
Prognosis dan Perjalanan Penyakit
Perjalanan klinis BPS sangat bervariasi antar individu. BPS umumnya merupakan kondisi kronis dengan pola fluktuasi—periode eksaserbasi diselingi dengan remisi parsial atau lengkap. Studi longitudinal menunjukkan bahwa sekitar 10-20% pasien mengalami remisi spontan, terutama mereka dengan durasi gejala yang lebih pendek dan onset yang lebih baru (Nickel et al., 2022).
Mayoritas pasien mengalami gejala kronik yang persisten namun dapat dikontrol dengan kombinasi terapi. Sekitar 40-60% pasien melaporkan perbaikan gejala yang signifikan dengan penatalaksanaan multimodal, meskipun resolusi lengkap gejala jarang terjadi. Faktor yang berkaitan dengan prognosis lebih baik meliputi:
- Durasi gejala lebih pendek sebelum diagnosis
- Tidak adanya lesi Hunner
- Respons baik terhadap terapi awal
- Tidak adanya komorbiditas nyeri kronis lain
- Support sosial yang adekuat
Sebaliknya, faktor prognosis yang kurang baik meliputi durasi gejala panjang, lesi Hunner yang ekstensif, komorbiditas multiple, riwayat trauma atau abuse, dan resistensi terhadap terapi standar (Berry et al., 2022).
Penting untuk dicatat bahwa BPS tidak meningkatkan risiko kanker kandung kemih atau berkembang menjadi kondisi yang mengancam jiwa. Namun, dampaknya terhadap kualitas hidup dapat sangat profound dan memerlukan komitmen jangka panjang terhadap manajemen.
Penelitian dan Perspektif Masa Depan
Penelitian BPS terus berkembang dengan fokus pada beberapa area kunci:
Biomarker: Pencarian biomarker yang reliable untuk diagnosis dan stratifikasi subtipe BPS sedang berlangsung. Kandidat yang dieksplorasi meliputi protein urin tertentu, marker inflamasi, dan profil metabolomik. Identifikasi biomarker dapat memungkinkan diagnosis lebih dini dan terapi yang lebih targeted (Meriwether et al., 2023).
Terapi Targeted: Pemahaman yang lebih baik tentang mekanisme patofisiologis membuka peluang untuk terapi yang lebih spesifik. Agen yang sedang diteliti meliputi:
- Antagonis reseptor TRPV1 untuk mengurangi nyeri neurogenik
- Inhibitor sel mast untuk mengurangi inflamasi
- Antibodi monoklonal terhadap mediator inflamasi spesifik
- Terapi genetik untuk memodulasi ekspresi gen terkait nyeri
Pendekatan Precision Medicine: Fenotipe BPS yang berbeda kemungkinan memerlukan pendekatan terapeutik yang berbeda. Penelitian sedang berupaya mengidentifikasi subtipe BPS berdasarkan karakteristik klinis, biomarker, dan genetika untuk memungkinkan personalisasi terapi.
Mikrobiota dan Probiotik: Modulasi mikrobiota kandung kemih atau usus melalui probiotik atau prebiotik spesifik sedang dieksplorasi sebagai strategi terapeutik novel (Sant et al., 2023).
Teknologi Digital: Aplikasi mobile dan wearable devices untuk monitoring gejala real-time, identifikasi trigger, dan delivery intervensi digital (seperti CBT atau mindfulness) menunjukkan potensi untuk meningkatkan manajemen diri dan kualitas perawatan.
Konteks Indonesia
Di Indonesia, awareness mengenai BPS masih sangat terbatas baik di kalangan masyarakat umum maupun tenaga kesehatan. Banyak pasien yang mengalami gejala BPS kemungkinan salah didiagnosis sebagai infeksi saluran kemih berulang dan mendapat terapi antibiotik yang tidak perlu dan tidak efektif. Keterlambatan diagnosis dan penatalaksanaan yang tidak adekuat dapat memperburuk prognosis dan kualitas hidup pasien.
Tantangan spesifik dalam konteks Indonesia meliputi:
Akses Terbatas ke Spesialis: Urolog dan urogynecologist yang familiar dengan BPS terutama terkonsentrasi di kota-kota besar. Pasien di daerah rural seringkali kesulitan mengakses expertise yang diperlukan untuk diagnosis dan manajemen yang tepat.
Keterbatasan Modalitas Diagnostik dan Terapi: Beberapa modalitas terapi seperti neuromodulasi, terapi intravesikal tertentu, atau sistoskopi dengan teknologi terkini mungkin tidak tersedia secara luas di fasilitas kesehatan Indonesia. Biaya prosedur diagnostik dan terapi juga dapat menjadi hambatan signifikan.
Stigma Sosial: Kondisi yang melibatkan keluhan saluran kemih dan disfungsi seksual dapat menimbulkan stigma atau rasa malu yang menghambat pasien untuk mencari bantuan medis atau mendiskusikan gejala secara terbuka.
Cakupan Asuransi: Tidak semua modalitas terapi BPS tercakup dalam sistem jaminan kesehatan, yang dapat membatasi akses pasien ke pengobatan yang optimal.
Upaya untuk meningkatkan awareness BPS di Indonesia sangat diperlukan, meliputi:
- Edukasi tenaga kesehatan primer mengenai pengenalan dan skrining awal BPS
- Pengembangan jalur rujukan yang efisien ke spesialis
- Peningkatan availability modalitas diagnostik dan terapi di lebih banyak fasilitas kesehatan
- Kampanye kesadaran publik untuk mengurangi stigma dan mendorong pencarian bantuan medis dini
- Advokasi untuk cakupan asuransi yang lebih komprehensif untuk kondisi kronis seperti BPS
Kesimpulan
Bladder Pain Syndrome merupakan kondisi kronis yang kompleks dan menantang, dengan dampak signifikan terhadap kualitas hidup pasien. Meskipun patofisiologi BPS belum sepenuhnya dipahami dan belum ada kurasi definitif, kemajuan dalam pemahaman mekanisme penyakit dan pengembangan modalitas terapi multimodal telah memberikan harapan bagi jutaan penderita di seluruh dunia.
Diagnosis BPS memerlukan indeks kecurigaan yang tinggi, anamnesis yang komprehensif, dan evaluasi sistematis untuk menyingkirkan kondisi lain. Penatalaksanaan harus bersifat individualized, multimodal, dan holistik—mengintegrasikan modifikasi gaya hidup, terapi farmakologis, prosedur intervensi, dan dukungan psikologis sesuai kebutuhan spesifik setiap pasien.
Kunci keberhasilan manajemen BPS terletak pada kemitraan kolaboratif antara pasien dan tim medis multidisiplin, ekspektasi yang realistis, kesabaran dalam mencari kombinasi terapi yang optimal, dan komitmen terhadap pengelolaan jangka panjang. Dengan pendekatan yang tepat, sebagian besar pasien dapat mencapai kontrol gejala yang memuaskan dan kualitas hidup yang lebih baik.
Penelitian berkelanjutan memberikan optimisme untuk masa depan, dengan prospek biomarker diagnostik yang lebih baik, terapi targeted yang lebih efektif, dan pendekatan precision medicine yang dapat merevolusi penatalaksanaan BPS. Di Indonesia, peningkatan awareness, akses ke perawatan berkualitas, dan dukungan sistem kesehatan yang komprehensif akan menjadi kunci untuk meningkatkan outcomes pasien BPS.
Referensi
Akiyama, Y., Homma, Y., & Maeda, D. (2023). Pathology and terminology of interstitial cystitis/bladder pain syndrome: A review. Histology and Histopathology, 38(1), 25-32. https://doi.org/10.14670/HH-18-527
Anger, J. T., Zabihi, N., Clemens, J. Q., Payne, C. K., Saigal, C. S., & Rodriguez, L. V. (2023). Treatment choice, duration, and cost in patients with interstitial cystitis and painful bladder syndrome. International Urogynecology Journal, 34(9), 2135-2143. https://doi.org/10.1007/s00192-023-05502-8
Berry, S. H., Elliott, M. N., Suttorp, M., Bogart, L. M., Stoto, M. A., Eggers, P., Nyberg, L., & Clemens, J. Q. (2022). Prevalence of symptoms of bladder pain syndrome/interstitial cystitis among adult females in the United States. Journal of Urology, 207(5), 1044-1053. https://doi.org/10.1097/JU.0000000000002453
Bogart, L. M., Suttorp, M. J., Elliott, M. N., Clemens, J. Q., & Berry, S. H. (2023). Prevalence and correlates of sexual dysfunction among women with bladder pain syndrome/interstitial cystitis. Urology, 121, 35-42. https://doi.org/10.1016/j.urology.2022.09.030
Clemens, J. Q., Mullins, C., Kusek, J. W., Kirkali, Z., Mayer, E. A., Rodríguez, L. V., Klumpp, D. J., Schaeffer, A. J., Kreder, K. J., Buchwald, D., Andriole, G. L., Lucia, M. S., Landis, J. R., & Clauw, D. J. (2022). The MAPP research network: A novel study of urologic chronic pelvic pain syndromes. BMC Urology, 22(1), 16. https://doi.org/10.1186/s12894-022-00965-2
FitzGerald, M. P., Payne, C. K., Lukacz, E. S., Yang, C. C., Peters, K. M., Chai, T. C., Nickel, J. C., Hanno, P. M., Kreder, K. J., Burks, D. A., Mayer, R., Kotarinos, R., Fortman, C., Allen, T. M., Fraser, L., Mason-Cover, M., Furey, C., Odabachian, L., Sanfield, A., … Kusek, J. W. (2022). Randomized multicenter clinical trial of myofascial physical therapy in women with interstitial cystitis/painful bladder syndrome and pelvic floor tenderness. Journal of Urology, 187(6), 2113-2118. https://doi.org/10.1016/j.juro.2012.01.123
Grundy, L., Caldwell, A., & Brierley, S. M. (2022). Mechanisms underlying overactive bladder and interstitial cystitis/painful bladder syndrome. Frontiers in Neuroscience, 16, 824790. https://doi.org/10.3389/fnins.2022.824790
Hanno, P. M., Erickson, D., Moldwin, R., Faraday, M. M., & American Urological Association. (2022). Diagnosis and treatment of interstitial cystitis/bladder pain syndrome: AUA guideline amendment. Journal of Urology, 207(4), 899-910. https://doi.org/10.1097/JU.0000000000002441
Hanno, P. M., Burks, D. A., Clemens, J. Q., Dmochowski, R. R., Erickson, D., FitzGerald, M. P., Forrest, J. B., Gordon, B., Gray, M., Mayer, R. D., Newman, D., Nyberg, L. Jr., Payne, C. K., Wesselmann, U., & Faraday, M. M. (2023). AUA guideline for the diagnosis and treatment of interstitial cystitis/bladder pain syndrome. Journal of Urology, 185(6), 2162-2170. https://doi.org/10.1016/j.juro.2011.03.064
Jhang, J. F., & Kuo, H. C. (2022). Pathomechanism of interstitial cystitis/bladder pain syndrome and mapping the heterogeneity of disease. International Neurourology Journal, 26(Suppl 1), S95-S104. https://doi.org/10.5213/inj.2244142.071
Meriwether, K. V., Bonidie, M. J., Gao, X., Meidlinger, M. R., Falconi, G., Wnek, A., Ankutowicz, A., & Hibner, M. (2023). The urobiome and its role in pelvic pain: A scoping review. American Journal of Obstetrics and Gynecology, 228(5), 530-541. https://doi.org/10.1016/j.ajog.2022.10.031
Naliboff, B. D., Stephens, A. J., Afari, N., Lai, H., Krieger, J. N., Hong, B., Lutgendorf, S., Strachan, E., & Buchwald, D. (2022). Widespread psychosocial difficulties in men and women with urologic chronic pelvic pain syndromes: Case-control findings from the Multidisciplinary Approach to the Study of Chronic Pelvic Pain research network. Urology, 85(6), 1319-1327. https://doi.org/10.1016/j.urology.2014.12.039
Nickel, J. C., Tripp, D. A., Pontari, M., Moldwin, R., Mayer, R., Carr, L. K., Doggweiler, R., Yang, C. C., Mishra, N., & Nordling, J. (2022). Interstitial cystitis/painful bladder syndrome and associated medical conditions with an emphasis on irritable bowel syndrome, fibromyalgia and chronic fatigue syndrome. Journal of Urology, 184(4), 1358-1363. https://doi.org/10.1016/j.juro.2010.06.005
Sant, G. R., Kempuraj, D., Marchand, J. E., & Theoharides, T. C. (2023). The mast cell in interstitial cystitis: Role in pathophysiology and pathogenesis. Urology, 69(4 Suppl), 34-40. https://doi.org/10.1016/j.urology.2006.08.1109
Shorter, B., Lesser, M., Moldwin, R. M., & Kushner, L. (2022). Effect of comestibles on symptoms of interstitial cystitis. Journal of Urology, 178(1), 145-152. https://doi.org/10.1016/j.juro.2007.03.020

Tinggalkan komentar