A Cahya Legawa's Les pèlerins au-dessus des nuages

Pendahuluan

Batu kandung kemih atau bladder stones merupakan kondisi urologi yang ditandai dengan terbentuknya deposit mineral padat di dalam kandung kemih. Meskipun hanya menyumbang sekitar 5% dari seluruh kasus batu saluran kemih, kondisi ini dapat menimbulkan dampak signifikan terhadap kualitas hidup pasien melalui gejala-gejala yang mengganggu seperti nyeri saat berkemih, hematuria, dan gangguan berkemih lainnya. Berbeda dengan batu ginjal yang lebih sering dibicarakan, batu kandung kemih memiliki karakteristik epidemiologi dan patogenesis yang unik, terutama dalam konteks geografis dan sosioekonomis.

Indonesia, khususnya wilayah Sumatra Barat, memiliki sejarah panjang sebagai daerah endemik batu kandung kemih pada anak-anak dengan insiden mencapai 8,3 per 100.000 populasi per tahun. Kondisi ini mencerminkan kompleksitas faktor risiko yang berperan, mulai dari pola diet, status nutrisi, hingga faktor lingkungan. Namun seiring dengan perbaikan kondisi sosioekonomis dan akses layanan kesehatan, pola epidemiologi batu kandung kemih terus mengalami transformasi, dengan peningkatan kasus pada populasi dewasa yang terkait dengan kondisi medis seperti pembesaran prostat jinak (benign prostatic hyperplasia/BPH).

Artikel ini akan mengulas secara mendalam berbagai aspek batu kandung kemih, mulai dari epidemiologi global dan regional, patofisiologi pembentukan batu, manifestasi klinis, pendekatan diagnostik terkini, hingga berbagai modalitas terapi yang tersedia. Pemahaman komprehensif terhadap kondisi ini sangat penting mengingat beban kesehatan yang ditimbulkan serta potensi komplikasi serius jika tidak ditangani dengan tepat.

Epidemiologi dan Beban Penyakit

Distribusi Global

Prevalensi dan insidens batu kandung kemih menunjukkan variasi geografis yang mencolok. Studi komprehensif menggunakan data Global Burden of Disease 2021 mengungkapkan bahwa urolitiasis secara keseluruhan mempengaruhi jutaan orang di seluruh dunia, dengan pola distribusi yang berbeda antara negara maju dan berkembang. Di negara-negara Barat, insidens batu kandung kemih relatif rendah, sementara di negara berkembang, terutama di kawasan Timur Tengah, Afrika Utara, Asia Tenggara termasuk Indonesia, Thailand, dan Myanmar, angka kejadiannya jauh lebih tinggi.

Analisis terhadap 33.579 batu saluran kemih di Tiongkok Selatan periode 2014-2024 menunjukkan bahwa batu kandung kemih memiliki karakteristik komposisi yang berbeda dibandingkan batu di lokasi lain. Studi ini menemukan bahwa batu asam urat menunjukkan proporsi tertinggi pada batu kandung kemih, berbeda dengan batu ureter yang didominasi oleh batu kalsium (Chang et al., 2025). Temuan ini memiliki implikasi penting dalam memahami patogenesis dan strategi pencegahan yang berbeda untuk setiap jenis batu saluran kemih.

Situasi di Asia dan Indonesia

Asia memiliki karakteristik epidemiologi batu saluran kemih yang unik, dengan prevalensi berkisar antara 1-19,1% tergantung pada wilayah geografis. Di Asia Barat, Asia Tenggara, dan Asia Selatan, serta negara-negara maju seperti Korea Selatan dan Jepang, prevalensi mencapai 5-19,1%, sementara di sebagian besar Asia Timur dan Asia Utara hanya 1-8% (Liu et al., 2018). Indonesia berada dalam wilayah dengan prevalensi yang relatif tinggi, terutama untuk kasus batu kandung kemih endemik pada anak-anak.

Studi klasik tentang batu kandung kemih endemik di Sumatra Barat mengidentifikasi karakteristik epidemiologi yang khas: insiden 8,3 per 100.000 populasi per tahun, dengan puncak usia onset 2-4 tahun dan rasio laki-laki:perempuan sebesar 12:1. Mayoritas kasus berasal dari keluarga miskin dengan diet rendah protein dan fosfat, disertai riwayat diare yang sering. Komposisi batu yang ditemukan terutama adalah ammonium acid urate, berbeda dengan komposisi batu pada populasi negara maju yang didominasi kalsium oksalat (Bagga et al., 1976).

Meskipun demikian, seiring dengan perbaikan kondisi sosioekonomis terutama di wilayah perkotaan, terjadi pergeseran pola epidemiologi. Batu kandung kemih endemik pada anak semakin berkurang, sementara kasus pada orang dewasa yang terkait dengan obstruksi saluran kemih bawah akibat BPH semakin meningkat. Fenomena ini mencerminkan transisi epidemiologi yang terjadi seiring dengan perubahan pola hidup dan peningkatan usia harapan hidup.

Faktor Risiko dan Komorbiditas

Penelitian terkini mengungkapkan berbagai faktor risiko yang berkontribusi terhadap pembentukan batu kandung kemih. Pada populasi dewasa, BPH merupakan faktor predisposisi paling umum, menyumbang 45-79% dari kasus batu kandung kemih (vesical calculi). Kondisi lain yang meningkatkan risiko meliputi disfungsi kandung kemih neurogenik, bakteriuria kronik, benda asing termasuk kateter, divertikulum kandung kemih, serta augmentasi kandung kemih atau diversi urinarius (Wei et al., 2025).

Studi terhadap 301 pasien yang menjalani reseksi transuretra prostat menemukan bahwa pasien dengan prostat kecil memiliki insidens detrusor underactivity yang lebih tinggi serta kecenderungan lebih besar mengalami batu kandung kemih dibandingkan mereka dengan prostat yang lebih besar. Temuan ini menantang asumsi bahwa pembentukan batu kandung kemih semata-mata akibat obstruksi, dan menunjukkan bahwa faktor metabolik juga berperan penting (Xiao et al., 2024).

Pada pasien dengan cedera medula spinalis, komplikasi urologi termasuk batu kandung kemih merupakan masalah serius. Analisis terhadap 849 pasien cedera medula spinalis di Tiongkok menunjukkan bahwa infeksi saluran kemih (59,95%) dan konstipasi (62,17%) merupakan komplikasi paling sering, dengan insidens hidronefrosis mencapai 11,91%. Metode manajemen kandung kemih mempengaruhi risiko batu urinarius, dengan kateterisasi intermiten berhubungan dengan risiko lebih rendah dibanding kateterisasi menetap (Sun et al., 2025).

Patofisiologi Pembentukan Batu

Mekanisme Dasar

Pembentukan batu kandung kemih merupakan proses kompleks yang melibatkan interaksi antara faktor mekanis, metabolik, dan infeksi. Secara fundamental, pembentukan batu memerlukan tiga kondisi: supersaturasi urin terhadap komponen mineral tertentu, adanya nidus atau inti kristalisasi, serta waktu yang cukup untuk pertumbuhan kristal.

Stasis urin merupakan faktor mekanis utama yang memfasilitasi pembentukan batu. Ketika pengosongan kandung kemih tidak sempurna, baik akibat obstruksi seperti pada BPH, striktur uretra, atau disfungsi neurogenik, urin yang tersisa memberikan waktu yang cukup bagi kristal untuk mengendap dan beragregasi. Kondisi ini diperparah jika terdapat kelainan struktural seperti divertikulum kandung kemih yang menciptakan kantong statis tambahan.

Faktor Metabolik

Analisis komposisi batu pada 86 pria dengan BPH menunjukkan distribusi sebagai berikut: 42% batu berbasis kalsium (oksalat, fosfat), 33% magnesium ammonium fosfat, 10% batu campuran, dan 14% batu urat. Studi pada pria dengan retensi urin kronik akibat BPH menemukan bahwa mereka yang mengalami batu kandung kemih memiliki supersaturasi asam urat yang lebih tinggi (2,2 vs 0,6 mmol/L), kadar magnesium lebih rendah (106 vs 167 mmol/L), dan pH urin lebih rendah (5,9 vs 6,4) dibanding mereka tanpa batu (European Association of Urology, 2025).

Temuan ini mengindikasikan bahwa pasien dengan kondisi predisposisi seperti BPH yang membentuk batu juga memiliki abnormalitas komposisi urin yang memfasilitasi pembentukan batu. pH urin yang rendah khususnya meningkatkan risiko kristalisasi asam urat, sementara kadar magnesium yang rendah mengurangi inhibitor alami terhadap pembentukan kristal kalsium.

Peran Infeksi

Infeksi saluran kemih, terutama oleh bakteri penghasil urease seperti Proteus, Klebsiella, dan Pseudomonas, berperan penting dalam pembentukan batu struvit (magnesium ammonium fosfat). Urease mengkatalisasi hidrolisis urea menjadi amonia dan karbon dioksida, meningkatkan pH urin dan menciptakan kondisi alkali yang memfasilitasi presipitasi kristal struvit. Batu infeksi ini cenderung tumbuh cepat dan dapat mencapai ukuran besar jika tidak ditangani.

Pada populasi pediatrik di wilayah endemik seperti Indonesia, mekanisme pembentukan batu sedikit berbeda. Studi klasik menunjukkan bahwa hanya sekitar 50% pasien memiliki urin yang terinfeksi, namun mereka menunjukkan kadar amonia urin yang secara signifikan lebih tinggi dibanding kontrol. Kondisi ini konsisten dengan ekskresi beban asam yang tinggi akibat diet berbasis sereal yang asidogenik serta kehilangan bikarbonat melalui diare, dikombinasikan dengan asupan fosfat yang rendah.

Batu Migratori dan Benda Asing

Sebagian batu kandung kemih berasal dari batu yang terbentuk di saluran kemih atas (ginjal atau ureter) yang kemudian turun dan terperangkap di kandung kemih. Batu migratori ini kemudian dapat berfungsi sebagai nidus untuk pertumbuhan lebih lanjut. Pasien dengan batu kandung kemih memiliki kemungkinan lebih tinggi memiliki riwayat batu saluran kemih atas serta faktor risiko pembentukan batu.

Benda asing, terutama kateter urin menetap, jahitan non-absorbable dari prosedur urologi sebelumnya, atau mesh dari operasi, dapat berfungsi sebagai nidus untuk pembentukan batu. Studi pada pasien transplantasi ginjal mengidentifikasi bahwa penggunaan jahitan non-absorbable untuk penutupan ureteroneosistostomi merupakan faktor risiko utama pembentukan batu kandung kemih pasca-transplantasi. Prevalensi batu kandung kemih pasca-transplantasi ginjal mencapai 0,22% dengan median waktu diagnosis 13 tahun pasca-transplantasi, dan 64% dari pasien yang diobati ditemukan memiliki jahitan non-absorbable (Sandberg et al., 2024).

Manifestasi Klinis

Gejala Khas

Gejala yang paling sering dikaitkan dengan batu kandung kemih adalah peningkatan frekuensi berkemih, hematuria (yang khas terjadi di akhir berkemih atau terminal hematuria), serta disuria atau nyeri suprapubik yang memburuk menjelang akhir miksi. Gerakan mendadak dan aktivitas fisik dapat memperparah gejala-gejala ini karena pergerakan batu dalam kandung kemih yang dapat mengiritasi dinding kandung kemih.

Detrusor overactivity ditemukan pada lebih dari dua pertiga pasien pria dewasa dengan batu kandung kemih, dan secara signifikan lebih sering pada pasien dengan batu berukuran lebih besar (> 4 cm). Kondisi ini menjelaskan mengapa gejala urgensi dan frekuensi sering menjadi keluhan utama. Namun, pada sebagian kasus, infeksi saluran kemih berulang dapat menjadi satu-satunya gejala yang muncul.

Presentasi pada Anak

Pada populasi pediatrik, manifestasi klinis dapat berbeda dan kadang lebih dramatis. Gejala dapat mencakup menarik penis, kesulitan berkemih, retensi urin, enuresis, bahkan prolaps rektal akibat mengejan yang berlebihan karena spasme kandung kemih. Anak-anak mungkin menunjukkan perilaku menahan berkemih atau perubahan pola berkemih yang harus diwaspadai oleh orang tua dan tenaga kesehatan.

Temuan Insidental

Sekitar 10% kasus batu kandung kemih ditemukan secara insidental saat pemeriksaan pencitraan untuk keluhan lain. Hal ini terutama terjadi pada batu yang tidak menimbulkan gejala signifikan atau pada pasien dengan gangguan sensoris seperti pada cedera medula spinalis yang tidak merasakan gejala khas akibat kehilangan sensasi.

Pendekatan Diagnostik

Anamnesis dan Pemeriksaan Fisik

Evaluasi standar dimulai dengan anamnesis medis yang detail dan pemeriksaan fisik menyeluruh. Anamnesis harus mencakup riwayat gejala saluran kemih bawah (lower urinary tract symptoms/LUTS), riwayat batu saluran kemih sebelumnya, riwayat operasi urologi, penyakit neurologis, serta penggunaan kateter atau instrumentasi saluran kemih. Pada pria dewasa, penilaian terhadap gejala BPH menggunakan skor seperti International Prostate Symptom Score (IPSS) dapat memberikan informasi tambahan.

Pemeriksaan fisik meliputi palpasi abdomen untuk mendeteksi distensi kandung kemih atau massa suprapubik, serta pada pria, pemeriksaan colok dubur (digital rectal examination) untuk menilai ukuran dan konsistensi prostat. Pada anak, pemeriksaan fisik harus mencakup penilaian status nutrisi dan tanda-tanda dehidrasi atau malnutrisi.

Pencitraan

Ultrasonografi

Ultrasonografi (USG) merupakan modalitas pencitraan lini pertama untuk evaluasi batu kandung kemih, terutama pada pasien asimtomatik atau anak-anak. USG aman (tanpa risiko radiasi), dapat direproduksi, dan relatif murah. Pemeriksaan harus dilakukan dengan kandung kemih yang terisi untuk visualisasi optimal, dan dapat mengidentifikasi batu di kaliks, pelvis ginjal, serta persambungan pyeloureterik dan vesikoureterik.

Namun, USG memiliki keterbatasan dalam mendeteksi batu kandung kemih. Sensitivitas USG untuk batu kandung kemih yang terdeteksi secara sistoskopik berkisar 21-78% pada orang dewasa. Batu yang lebih besar (> 2,0 cm) cenderung lebih mudah terdeteksi dan lebih sering bersifat radiopak. Jika kecurigaan klinis tetap tinggi meskipun hasil USG negatif, pemeriksaan lanjutan dengan modalitas yang lebih sensitif harus dipertimbangkan.

Foto Polos Abdomen (KUB)

Foto polos ginjal-ureter-kandung kemih (kidney-ureter-bladder/KUB) dapat membantu mengidentifikasi batu dan radiopasitasnya, serta berguna untuk perencanaan terapi dan follow-up. Sensitivitas foto KUB berkisar 21-78% untuk batu kandung kemih yang terdeteksi sistoskopi. Batu yang lebih besar lebih mungkin bersifat radiopak, namun komposisi batu sangat mempengaruhi tampilan radiografi. Batu kalsium oksalat dan kalsium fosfat umumnya radiopak, sementara batu asam urat murni dan beberapa batu campuran bersifat radiolusen.

Sumber: Radiology Master Class UK

CT Scan Non-Kontras

Non-contrast-enhanced computed tomography (NCCT) merupakan standar emas untuk diagnosis batu saluran kemih, termasuk batu kandung kemih. NCCT dapat mengklasifikasikan densitas batu, diameter, volume, serta anatomi sekitarnya, yang semuanya membantu dalam pemilihan opsi terapi. Modalitas ini jauh lebih presisi dibanding USG atau intravenous urogram (IVU).

NCCT sangat berguna untuk membedakan batu dari kondisi lain seperti tumor kandung kemih, bekuan darah, atau benda asing. Pemeriksaan ini juga dapat mengidentifikasi komplikasi seperti hidronefrosis atau kelainan struktural yang memerlukan penanganan khusus. Namun, mengingat paparan radiasi, penggunaan NCCT pada anak harus mempertimbangkan prinsip ALARA (As Low As Reasonably Achievable).

Sistoskopi

Sistoskopi memungkinkan visualisasi langsung kandung kemih dan merupakan modalitas diagnostik definitif untuk batu kandung kemih. Prosedur ini dapat dilakukan bersamaan dengan terapi, dan memungkinkan penilaian terhadap ukuran, jumlah, dan lokasi batu, serta identifikasi kondisi lain seperti tumor, divertikulum, atau batu yang terkait dengan jahitan atau benda asing. Sistoskopi juga memungkinkan biopsi jika terdapat kecurigaan keganasan.

Pemeriksaan Laboratorium

Pemeriksaan urin meliputi urinalisis dengan kultur untuk mendeteksi infeksi, pengukuran pH urin, serta kristaluria. pH urin yang rendah (<5,5) meningkatkan kecurigaan batu asam urat, sementara pH tinggi (>7,0) lebih sering dikaitkan dengan batu infeksi. Pemeriksaan darah mencakup fungsi ginjal (kreatinin, estimated glomerular filtration rate/eGFR), elektrolit, asam urat serum, dan kalsium serum.

Pada pasien dengan risiko tinggi atau batu berulang, evaluasi metabolik yang lebih detail dapat dilakukan, termasuk pengumpuran urin 24 jam untuk mengukur volume total, pH urin, kalsium, oksalat, asam urat, sitrat, natrium, kalium, dan kreatinin. Pemeriksaan tambahan seperti sistin dapat dilakukan jika dicurigai adanya batu sistin yang jarang namun cenderung rekuren.

Analisis Komposisi Batu

Analisis komposisi batu sangat penting untuk memahami etiologi pembentukan batu dan merencanakan pencegahan rekurensi. Metode yang paling akurat adalah spektroskopi inframerah (infrared spectroscopy) yang dapat mengidentifikasi berbagai komponen mineral dengan presisi tinggi. Studi di Baoding, Tiongkok, menganalisis 2.307 spesimen batu saluran kemih dan menemukan bahwa komponen utama adalah kalsium oksalat dan apatit, sementara asam urat dan magnesium ammonium fosfat lebih jarang ditemukan (Li et al., 2024).

Informasi tentang komposisi batu membantu mengarahkan modifikasi diet, terapi farmakologis, dan strategi pencegahan yang spesifik. Misalnya, batu asam urat dapat didissolusi dengan alkalisasi urin, sementara batu kalsium memerlukan pendekatan yang berbeda.

Tatalaksana

Prinsip Umum

Manajemen batu kandung kemih harus disesuaikan dengan ukuran batu, komposisi, gejala, serta kondisi medis yang mendasari. Tujuan utama adalah menghilangkan batu, mengatasi penyebab yang mendasari untuk mencegah rekurensi, serta mengelola komplikasi. Pedoman dari European Association of Urology (EAU) menekankan pentingnya pendekatan individual yang mempertimbangkan ketersediaan sumber daya dan keahlian lokal.

Intervensi Endoskopi

Sistolitotripsi Transuretra

Sistolitotripsi transuretra (transurethral cystolithotripsy/TUCL) merupakan prosedur standar untuk menghancurkan dan mengeluarkan batu kandung kemih. Teknik ini menggunakan sistoskop yang dimasukkan melalui uretra untuk mengakses kandung kemih, kemudian batu dihancurkan menggunakan berbagai sumber energi seperti laser holmium:YAG, energi pneumatik, atau litotripsi ultrasonik.

Studi prospektif acak membandingkan TUCL dengan sistolitotripsi perkutan pada 150 anak laki-laki prasekolah dengan batu kandung kemih tunggal ≤20 mm menemukan bahwa kedua teknik memiliki tingkat keberhasilan dan komplikasi yang serupa. Namun, TUCL memerlukan waktu operasi yang lebih lama. Ukuran batu dan waktu operasi merupakan faktor yang mempengaruhi keberhasilan dan komplikasi pada kedua prosedur (Hasan et al., 2025).

Sistolitotripsi Perkutan

Sistolitotripsi perkutan (percutaneous cystolithotripsy/PCCL) melibatkan pembuatan akses langsung ke kandung kemih melalui dinding abdomen bagian bawah. Pendekatan ini dapat memberikan keuntungan pada batu yang sangat besar, multipel, atau keras yang sulit dihancurkan melalui pendekatan transuretra.

Pada pasien dengan kompleks ekstrofi-epispadias, perbandingan antara PCCL dan sistolitotomi terbuka menunjukkan bahwa PCCL memberikan keuntungan signifikan berupa waktu operasi yang lebih pendek dan lama rawat inap yang lebih singkat, dengan tingkat bebas batu 100% yang setara. Yang penting, PCCL memiliki risiko lebih rendah untuk komplikasi fistula vesikokutan dibanding prosedur terbuka (Yang et al., 2025).

Pembedahan Terbuka

Sistolitotomi terbuka, yaitu pengangkatan batu melalui insisi pada kandung kemih, kini jarang dilakukan kecuali pada situasi khusus seperti batu yang sangat besar (> 4-5 cm), multipel, atau ketika terdapat kondisi lain yang memerlukan pembedahan terbuka simultan seperti divertikulektomi atau prostatektomi. Pendekatan terbuka juga dapat dipertimbangkan jika peralatan endoskopi tidak tersedia atau pada pasien dengan anatomi yang tidak memungkinkan akses endoskopi.

Meskipun efektif dalam menghilangkan batu, pembedahan terbuka memiliki morbiditas yang lebih tinggi, termasuk waktu pemulihan yang lebih lama dan risiko komplikasi luka operasi. Oleh karena itu, pendekatan endoskopi tetap menjadi pilihan utama untuk sebagian besar kasus.

Terapi Disolusi

Untuk batu asam urat murni, disolusi dengan alkalisasi urin merupakan opsi non-invasif yang menarik. Pemberian kalium sitrat atau natrium bikarbonat untuk meningkatkan pH urin menjadi 6,5-7,0 dapat melarutkan batu asam urat secara bertahap. Proses ini memerlukan waktu berminggu-minggu hingga berbulan-bulan dan memerlukan pemantauan pH urin yang ketat.

Namun, terapi disolusi hanya efektif untuk batu asam urat murni dan tidak cocok untuk batu kalsium atau batu campuran. Keberhasilan terapi bergantung pada ukuran batu (batu kecil lebih responsif), kepatuhan pasien dalam mengonsumsi obat dan memantau pH urin, serta tidak adanya infeksi saluran kemih aktif.

Manajemen Kondisi yang Mendasari

Pengelolaan penyebab yang mendasari sangat penting untuk mencegah rekurensi. Pada pasien dengan BPH, pengobatan medis dengan alfa-bloker (seperti tamsulosin) atau inhibitor 5-alfa-reduktase (seperti finasterid) dapat memperbaiki pengosongan kandung kemih. Jika terapi medis tidak adekuat, intervensi bedah untuk BPH seperti reseksi transuretra prostat atau enukleasi laser holmium mungkin diperlukan.

Pada pasien dengan kandung kemih neurogenik, optimalisasi fungsi kandung kemih melalui kateterisasi intermiten bersih (clean intermittent self-catheterization/CISC) lebih disukai dibanding kateter menetap karena risiko batu yang lebih rendah. Kontrol infeksi yang adekuat dan koreksi abnormalitas metabolik juga esensial untuk pencegahan jangka panjang.

Pada pasien dengan augmentasi kandung kemih atau diversi urinarius kontinens, irigasi kandung kemih reguler dapat mengurangi risiko rekurensi batu. Pedoman EAU merekomendasikan protokol irigasi untuk mengurangi akumulasi mukus dan debris yang dapat berfungsi sebagai nidus pembentukan batu.

Komplikasi

Komplikasi Akut

Komplikasi akut batu kandung kemih dapat mencakup retensi urin akut ketika batu mengobstruksi leher kandung kemih atau uretra proksimal. Kondisi ini merupakan emergensi urologi yang memerlukan drainase segera melalui kateterisasi atau sistostomi suprapubik. Hematuria berat yang mengancam dapat terjadi akibat erosi batu terhadap mukosa kandung kemih, meskipun ini relatif jarang.

Infeksi saluran kemih yang rumit atau urosepsis dapat berkembang, terutama pada pasien dengan batu infeksi yang besar atau pada mereka dengan sistem imun yang terganggu. Machine learning untuk prediksi urosepsis pada pasien urolitiasis mengidentifikasi jenis kelamin, status infeksi, anemia, karakteristik batu, dan abnormalitas anatomis sebagai faktor risiko kunci (Chang et al., 2025).

Komplikasi Kronik

Obstruksi kronik akibat batu dapat menyebabkan perubahan pada dinding kandung kemih, termasuk hipertrofi otot detrusor, trabekulasi, dan pembentukan divertikulum. Refluks vesikoureter dapat berkembang akibat peningkatan tekanan intravesikal, yang kemudian dapat menyebabkan hidronefrosis dan kerusakan ginjal jika tidak dikoreksi.

Infeksi saluran kemih berulang merupakan komplikasi umum yang dapat menyebabkan jaringan parut ginjal, terutama pada anak-anak. Pada kasus yang jarang, transformasi malignan mukosa kandung kemih yang terus-menerus teriritasi oleh batu telah dilaporkan, meskipun hubungan kausal antara batu kandung kemih dan kanker kandung kemih masih kontroversial. Oleh karena itu, kebutuhan untuk follow-up rutin dengan sistoskopi tetap diperdebatkan.

Komplikasi Pasca-Intervensi

Komplikasi pasca-sistolitotripsi dapat mencakup hematuria persisten, infeksi, perforasi kandung kemih (jarang), serta retensi fragmen batu yang memerlukan prosedur tambahan. Pada prosedur terbuka, risiko tambahan termasuk komplikasi luka operasi, fistula vesikokutan, dan morbiditas anestesi yang lebih tinggi.

Pencegahan dan Profilaksis

Modifikasi Diet dan Gaya Hidup

Mempertahankan asupan cairan yang adekuat untuk mencapai volume urin harian > 2,5 liter merupakan rekomendasi utama baik dari American Urological Association (AUA) maupun EAU. Hidrasi yang baik mengurangi supersaturasi urin dan waktu kontak antara kristal dengan epitelium saluran kemih. Pada iklim tropis seperti Indonesia, kebutuhan cairan dapat lebih tinggi akibat kehilangan cairan melalui keringat.

Untuk anak-anak di wilayah endemik, pedoman EAU merekomendasikan pemeliharaan hidrasi yang baik, pencegahan diare, serta diet campuran sereal dengan susu dan suplementasi vitamin A dan B. Setelah usia satu tahun, penambahan telur, daging, dan susu sapi rebus ke dalam diet dianjurkan untuk mencegah rekurensi.

Modifikasi diet spesifik bergantung pada komposisi batu. Untuk batu kalsium oksalat, pengurangan asupan oksalat dari makanan seperti bayam, kacang-kacangan, teh, dan cokelat dapat membantu. Namun, pembatasan kalsium diet yang berlebihan tidak dianjurkan karena dapat meningkatkan absorpsi oksalat intestinal. Untuk batu asam urat, pengurangan asupan purin dari daging merah, jeroan, dan seafood tertentu, serta peningkatan konsumsi buah dan sayuran untuk alkalisasi urin alami direkomendasikan.

Terapi Farmakologis Pencegahan

Pada pasien dengan batu asam urat atau pH urin yang rendah, alkalisasi dengan kalium sitrat atau natrium bikarbonat dapat mencegah pembentukan batu baru. Target pH urin adalah 6,5-7,0, yang dapat dipantau dengan kertas lakmus di rumah. Untuk batu kalsium dengan hipositraturia, suplementasi kalium sitrat juga bermanfaat karena sitrat berfungsi sebagai inhibitor kristalisasi kalsium oksalat.

Thiazide diuretik dapat mengurangi ekskresi kalsium urin pada pasien dengan hiperkalsiuria dan telah terbukti menurunkan rekurensi batu kalsium. Allopurinol bermanfaat untuk pasien dengan hiperurikosuria atau batu asam urat yang tidak responsif terhadap alkalisasi. Untuk batu struvit terkait infeksi, antibiotik profilaksis jangka panjang dapat dipertimbangkan pada kasus tertentu, meskipun harus seimbang dengan risiko resistensi antibiotik.

Strategi Khusus untuk Populasi Berisiko Tinggi

Pada pasien dengan kandung kemih neurogenik atau mereka yang menjalani augmentasi kandung kemih, irigasi kandung kemih reguler dengan saline normal telah terbukti mengurangi risiko rekurensi batu. Protokol irigasi yang direkomendasikan adalah 30-60 mL saline setiap hari atau setiap beberapa hari, tergantung pada produksi mukus.

Pada pasien dengan kateter menetap jangka panjang yang tidak dapat dihindari, strategi pencegahan mencakup penggunaan kateter yang dilapisi antimikroba, penggantian kateter yang dijadwalkan, serta hidrasi yang adekuat. Namun, risiko batu tetap tinggi pada populasi ini dan pemantauan rutin diperlukan.

Pada pasien transplantasi ginjal, penghindaran jahitan non-absorbable untuk implantasi ureter telah mengurangi insidens batu kandung kemih pasca-transplantasi. Teknik jahitan dengan material absorbable atau penggunaan teknik anastomosis yang tidak memerlukan jahitan permanen merupakan praktik standar saat ini.

Prognosis dan Outcome Jangka Panjang

Tingkat Bebas Batu

Dengan teknologi endoskopi modern, tingkat bebas batu (stone-free rate) untuk batu kandung kemih mencapai hampir 100%, baik dengan pendekatan transuretra maupun perkutan. Studi pada pasien dengan kompleks ekstrofi-epispadias melaporkan tingkat bebas batu 100% untuk kedua pendekatan PCCL dan sistolitotomi terbuka. Namun, tingkat bebas batu harus diinterpretasikan dalam konteks risiko komplikasi dan kebutuhan prosedur ulang.

Risiko Rekurensi

Tingkat rekurensi batu saluran kemih berkisar 21-53% dalam 3-5 tahun, bergantung pada etiologi yang mendasari dan kepatuhan terhadap strategi pencegahan. Pada pasien dengan BPH yang tidak diobati, risiko rekurensi sangat tinggi karena stasis urin yang persisten. Sebaliknya, pada pasien yang menjalani koreksi definitif kondisi yang mendasari dan mengikuti strategi profilaksis, risiko rekurensi dapat ditekan secara signifikan.

Pada anak-anak dengan batu kandung kemih endemik yang menjalani perbaikan nutrisi dan modifikasi diet, prognosis umumnya baik dengan risiko rekurensi yang rendah. Namun, pemantauan jangka panjang tetap diperlukan mengingat kemungkinan defisiensi nutrisi yang berkelanjutan di wilayah dengan sumber daya terbatas.

Dampak terhadap Kualitas Hidup

Batu kandung kemih dan gejalanya dapat berdampak signifikan terhadap kualitas hidup, terutama melalui LUTS yang mengganggu aktivitas sehari-hari dan tidur. Studi menunjukkan bahwa skor kualitas hidup membaik secara bermakna setelah penghilangan batu dan koreksi kondisi yang mendasari. Pada pria dengan BPH, intervensi bedah untuk BPH tidak hanya menghilangkan batu tetapi juga memperbaiki skor IPSS sebesar 10-15 poin.

Fungsi Ginjal Jangka Panjang

Pada sebagian besar pasien, fungsi ginjal tetap stabil setelah penghilangan batu kandung kemih, terutama jika intervensi dilakukan sebelum terjadinya kerusakan ginjal ireversibel. Namun, pada pasien dengan obstruksi kronik yang menyebabkan hidronefrosis bilateral atau pada mereka dengan ginjal tunggal, pemulihan fungsi ginjal mungkin tidak sempurna. Oleh karena itu, deteksi dini dan intervensi tepat waktu sangat penting untuk preservasi fungsi ginjal jangka panjang.

Kesimpulan

Batu kandung kemih merupakan kondisi urologi yang kompleks dengan spektrum etiologi yang luas, mulai dari faktor nutrisi pada batu endemik pediatrik hingga obstruksi saluran kemih bawah pada populasi dewasa. Indonesia, dengan sejarah panjang sebagai wilayah endemik batu kandung kemih pada anak, telah mengalami transisi epidemiologi seiring dengan perbaikan kondisi sosioekonomis, meskipun tantangan tetap ada terutama di wilayah rural dengan akses layanan kesehatan yang terbatas.

Kemajuan dalam teknologi endoskopi telah merevolusi manajemen batu kandung kemih, memungkinkan penghilangan batu yang efektif dengan morbiditas minimal melalui prosedur seperti sistolitotripsi transuretra atau perkutan. Namun, keberhasilan jangka panjang memerlukan pendekatan komprehensif yang tidak hanya menghilangkan batu yang ada tetapi juga mengatasi penyebab yang mendasari serta mengimplementasikan strategi pencegahan yang tepat.

Pemahaman yang mendalam tentang patofisiologi pembentukan batu, identifikasi faktor risiko spesifik pada setiap pasien, serta penerapan strategi pencegahan yang disesuaikan merupakan kunci untuk mengurangi beban penyakit ini. Kolaborasi multidisiplin antara urolog, ahli gizi, dan tenaga kesehatan primer sangat penting untuk memberikan perawatan holistik yang optimal.

Penelitian berkelanjutan diperlukan untuk lebih memahami mekanisme molekuler pembentukan batu, mengidentifikasi biomarker prediktif untuk rekurensi, serta mengembangkan terapi preventif yang lebih efektif. Dengan pendekatan berbasis bukti dan perhatian terhadap konteks lokal, beban batu kandung kemih dapat diminimalkan dan kualitas hidup pasien dapat ditingkatkan secara signifikan.

Referensi

Chang, Z., Han, X., Zhao, H., Huang, H., Liu, H., Pan, X., Wu, H., Lin, W., Lei, M., Zeng, G., & Sun, B. (2025). Clinical management implications from 33 579 urinary stones: Novel patterns in composition, comorbidities, seasonal variation, and machine learning-based urosepsis prediction. International Journal of Surgery, 111(11), 7533-7548. https://doi.org/10.1097/JS9.0000000000002934

European Association of Urology. (2025). EAU guidelines on urolithiasis. https://uroweb.org/guidelines/urolithiasis

Galbiati, S., Locatelli, F., Storm, F. A., Pozzi, M., & Strazzer, S. (2025). Prospective study of urinary stone formation in pediatric patients with acquired brain injury: A focus on incidence and analysis of risk factors. Nutrients, 17(5), 883. https://doi.org/10.3390/nu17050883

Hasan, A. M., Mohammed, A. A., Abdel-Kader, M. S., Abdelhamid, A. M., Abdeldayem, A. M., & Ahmed, M. A. (2025). Percutaneous versus transurethral cystolithotripsy for the management of bladder calculi in the pre-school boys: Prospective randomized study. Journal of Pediatric Urology, 21(6), 1411-1417. https://doi.org/10.1016/j.jpurol.2025.07.016

Hu, J., Phan, A. T., & Craig, D. (2023). A rare case of a giant bladder stone associated with post-obstructive renal failure managed by open cystolithotomy. Cureus, 15(5), e39718. https://doi.org/10.7759/cureus.39718

Li, M. L., Song, S. C., Yang, F., Gao, C., Zhou, B., & Wang, Q. (2024). Risk assessment and prevention of urolithiasis in urban areas of Baoding, China. Medicine, 103(2), e35880. https://doi.org/10.1097/MD.0000000000035880

Liu, Y., Chen, Y., Liao, B., Luo, D., Wang, K., Li, H., & Zeng, G. (2018). Epidemiology of urolithiasis in Asia. Asian Journal of Urology, 5(4), 205-214. https://doi.org/10.1016/j.ajur.2018.08.007

Sandberg, M., Cohen, A., Escott, M., Temple, D., Marie-Costa, C., Rodriguez, R., Gordon, A., Rong, A., Andres-Robusto, B., Roebuck, E. H., Whitman, W., Webb, C. J., Stratta, R. J., Assimos, D., Wood, K., & Mirzazadeh, M. (2024). Bladder stones in renal transplant patients: Presentation, management, and follow-up. Urologia Internationalis, 108(5), 399-405. https://doi.org/10.1159/000539091

Sun, H., Deng, H., Liu, Y., He, Z., Liu, G., Chen, Z., Huang, X., Chen, G., Li, Y., Huang, H., Tang, J., Pang, L., Liu, T., Luo, D., Zhang, M., Chen, H., Liao, L., & Li, X. (2025). Research on complications and bladder management of the chronic phase spinal cord injury in China. Scientific Reports, 15(1), 15718. https://doi.org/10.1038/s41598-025-00621-2

Wei, J. T., Dauw, C. A., & Brodsky, C. N. (2025). Lower urinary tract symptoms in men: A review. JAMA, 334(9), 809-821. https://doi.org/10.1001/jama.2025.7045

Xiao, N., Guo, G., Tang, Q., Huang, Y., Pan, G., & Wang, J. (2024). Small prostate associated with higher incidence of detrusor underactivity and tendency of combination with bladder stone in patients with bladder outlet obstruction. Medicine, 103(45), e40451. https://doi.org/10.1097/MD.0000000000040451

Yang, J., Heap, D., Maxon, V., Robey, C., Maruf, M., Michel, C., Di Carlo, H. N., Gearhart, J. P., & Crigger, C. B. (2025). Percutaneous cystolitholapaxy and open cystolithotomy in exstrophy-epispadias complex: A comparative approach to bladder stone management. Journal of Endourology, 39(11), 1172-1180. https://doi.org/10.1177/08927790251384294


Catatan: Artikel ini disusun berdasarkan literatur ilmiah terkini hingga Januari 2025 dan pedoman klinis dari organisasi urologi internasional. Informasi yang disajikan dimaksudkan untuk tujuan edukatif dan tidak menggantikan konsultasi medis profesional. Pembaca yang mengalami gejala atau memiliki kondisi kesehatan tertentu harus berkonsultasi dengan dokter atau ahli urologi untuk evaluasi dan penanganan yang tepat.

Commenting 101: “Be kind, and respect each other” // Bersikaplah baik, dan saling menghormati (Indonesian) // Soyez gentils et respectez-vous les uns les autres (French) // Sean amables y respétense mutuamente (Spanish) // 待人友善,互相尊重 (Chinese) // كونوا لطفاء واحترموا بعضكم البعض (Arabic) // Будьте добры и уважайте друг друга (Russian) // Seid freundlich und respektiert einander (German) // 親切にし、お互いを尊重し合いましょう (Japanese) // दयालु बनें, और एक दूसरे का सम्मान करें (Hindi) // Siate gentili e rispettatevi a vicenda (Italian)

Tinggalkan komentar