Pendahuluan
Blepharitis merupakan salah satu kondisi oftalmologis yang paling umum dijumpai dalam praktik klinis sehari-hari, namun seringkali tidak terdiagnosis atau diabaikan oleh pasien maupun tenaga kesehatan. Kondisi ini ditandai dengan peradangan kronis pada tepi kelopak mata yang dapat menyebabkan ketidaknyamanan signifikan dan berdampak pada kualitas hidup penderitanya. Meskipun jarang mengancam penglihatan secara langsung, blepharitis dapat menyebabkan komplikasi yang mempengaruhi kesehatan permukaan mata dan fungsi visual jika tidak ditangani dengan tepat.
Pemahaman yang komprehensif tentang blepharitis menjadi penting mengingat prevalensinya yang tinggi di masyarakat dan dampaknya terhadap produktivitas serta kesejahteraan pasien. Artikel ini akan membahas secara mendalam mengenai berbagai aspek blepharitis, mulai dari epidemiologi, patofisiologi, manifestasi klinis, hingga pendekatan terkini dalam diagnosis dan penatalaksanaannya, dengan mempertimbangkan konteks pelayanan kesehatan di Indonesia.
Definisi dan Klasifikasi
Blepharitis didefinisikan sebagai inflamasi kronis pada margin atau tepi kelopak mata yang melibatkan folikel bulu mata dan kelenjar-kelenjar yang terkait. Kondisi ini dapat bersifat bilateral dan sering bersifat rekuren atau persisten, memerlukan penatalaksanaan jangka panjang untuk mengontrol gejala dan mencegah komplikasi (Amescua et al., 2019).
Klasifikasi blepharitis telah berkembang seiring dengan pemahaman yang lebih baik tentang patofisiologi kondisi ini. Secara tradisional, blepharitis diklasifikasikan berdasarkan lokasi anatomi dan karakteristik klinisnya:
Klasifikasi Berdasarkan Lokasi Anatomi:
- Blepharitis Anterior: Melibatkan bagian luar margin kelopak mata di sekitar basis bulu mata. Tipe ini umumnya disebabkan oleh infeksi bakteri (terutama Staphylococcus) atau seborrhea.
- Blepharitis Posterior: Melibatkan bagian dalam margin kelopak mata di sekitar orifis kelenjar Meibom. Tipe ini terkait dengan disfungsi kelenjar Meibom (Meibomian gland dysfunction/MGD).
- Blepharitis Campuran: Kombinasi antara blepharitis anterior dan posterior, yang merupakan presentasi paling umum dalam praktik klinis.
Klasifikasi Berdasarkan Etiologi:
- Blepharitis Stafilokokal: Disebabkan oleh kolonisasi berlebihan bakteri Staphylococcus, terutama Staphylococcus aureus dan Staphylococcus epidermidis.
- Blepharitis Seborrheik: Terkait dengan dermatitis seborrheik, ditandai dengan skuama atau sisik berminyak pada margin kelopak mata dan area kulit lainnya.
- Blepharitis Demodex: Disebabkan oleh infestasi tungau Demodex folliculorum dan Demodex brevis pada folikel bulu mata.
- Disfungsi Kelenjar Meibom (MGD): Kelainan kronis pada kelenjar Meibom yang menyebabkan perubahan kuantitas dan kualitas sekresi meibum.
Namun, penelitian terbaru menunjukkan bahwa blepharitis seringkali merupakan kondisi multifaktorial dengan berbagai etiologi yang saling tumpang tindih. Oleh karena itu, pendekatan klasifikasi yang lebih komprehensif dan praktis menjadi penting untuk penatalaksanaan yang efektif (Bacharach et al., 2023).
Epidemiologi
Blepharitis merupakan salah satu kondisi oftalmologis yang paling umum dijumpai dalam praktik klinis sehari-hari, namun seringkali tidak terdiagnosis atau diabaikan oleh pasien maupun tenaga kesehatan. Kondisi ini ditandai dengan peradangan kronis pada tepi kelopak mata yang dapat menyebabkan ketidaknyamanan signifikan dan berdampak pada kualitas hidup penderitanya. Meskipun jarang mengancam penglihatan secara langsung, blepharitis dapat menyebabkan komplikasi yang mempengaruhi kesehatan permukaan mata dan fungsi visual jika tidak ditangani dengan tepat.
Pemahaman yang komprehensif tentang blepharitis menjadi penting mengingat prevalensinya yang tinggi di masyarakat dan dampaknya terhadap produktivitas serta kesejahteraan pasien. Artikel ini akan membahas secara mendalam mengenai berbagai aspek blepharitis, mulai dari epidemiologi, patofisiologi, manifestasi klinis, hingga pendekatan terkini dalam diagnosis dan penatalaksanaannya, dengan mempertimbangkan konteks pelayanan kesehatan di Indonesia.
Definisi dan Klasifikasi
Blepharitis didefinisikan sebagai inflamasi kronis pada margin atau tepi kelopak mata yang melibatkan folikel bulu mata dan kelenjar-kelenjar yang terkait. Kondisi ini dapat bersifat bilateral dan sering bersifat rekuren atau persisten, memerlukan penatalaksanaan jangka panjang untuk mengontrol gejala dan mencegah komplikasi (Ortiz-Morales et al., 2025).
Klasifikasi blepharitis telah berkembang seiring dengan pemahaman yang lebih baik tentang patofisiologi kondisi ini. Secara tradisional, blepharitis diklasifikasikan berdasarkan lokasi anatomi dan karakteristik klinisnya:
Klasifikasi Berdasarkan Lokasi Anatomi:
- Blepharitis Anterior: Melibatkan bagian luar margin kelopak mata di sekitar basis bulu mata. Tipe ini umumnya disebabkan oleh infeksi bakteri, terutama Staphylococcus, atau seborrhea.
- Blepharitis Posterior: Melibatkan bagian dalam margin kelopak mata di sekitar orifis kelenjar Meibom. Tipe ini terkait dengan disfungsi kelenjar Meibom atau Meibomian gland dysfunction (MGD).
- Blepharitis Campuran: Kombinasi antara blepharitis anterior dan posterior, yang merupakan presentasi paling umum dalam praktik klinis.
Klasifikasi Berdasarkan Etiologi:
- Blepharitis Stafilokokal: Disebabkan oleh kolonisasi berlebihan bakteri Staphylococcus, terutama Staphylococcus aureus dan Staphylococcus epidermidis.
- Blepharitis Seborrheik: Terkait dengan dermatitis seborrheik, ditandai dengan skuama atau sisik berminyak pada margin kelopak mata dan area kulit lainnya.
- Blepharitis Demodex: Disebabkan oleh infestasi tungau Demodex folliculorum dan Demodex brevis pada folikel bulu mata (Rhee et al., 2023).
- Disfungsi Kelenjar Meibom (MGD): Kelainan kronis pada kelenjar Meibom yang menyebabkan perubahan kuantitas dan kualitas sekresi meibum.
Penelitian terbaru menunjukkan bahwa blepharitis seringkali merupakan kondisi multifaktorial dengan berbagai etiologi yang saling tumpang tindih. Oleh karena itu, pendekatan klasifikasi yang lebih komprehensif dan praktis menjadi penting untuk penatalaksanaan yang efektif.
Epidemiologi
Blepharitis merupakan salah satu gangguan mata yang paling umum di seluruh dunia. Menurut data yang dikumpulkan dari berbagai penelitian, diperkirakan antara 37% hingga 47% pasien yang ditangani oleh spesialis mata di Amerika Serikat mengalami blepharitis, menjadikannya salah satu gangguan okular yang paling sering dijumpai dalam praktik klinis. Jika diekstrapolasi ke populasi dewasa Amerika Serikat, diperkirakan lebih dari 180 juta orang mungkin terpengaruh oleh kondisi ini.
Berdasarkan studi populasi yang dilakukan di berbagai negara, prevalensi blepharitis menunjukkan variasi yang cukup luas. Sebuah studi cross-sectional besar yang dilakukan di Spanyol menunjukkan bahwa MGD simptomatik dan asimptomatik mempengaruhi sekitar 21,9% dan 8,6% dari populasi umum. Studi 10 tahun yang dilakukan di Korea Selatan (2004-2013) menentukan insidensi keseluruhan blepharitis sebesar 1,1 per 100 orang-tahun, dengan prevalensi pada individu berusia 40 tahun atau lebih mencapai 8,8%.
Prevalensi blepharitis cenderung meningkat seiring bertambahnya usia, kemungkinan besar karena dampak proses penuaan normal pada fungsi kelenjar Meibom. Kondisi ini paling sering terlihat pada individu berusia 50 tahun atau lebih. Studi juga menunjukkan bahwa insidensi meningkat seiring waktu dan lebih tinggi pada pasien perempuan. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa perempuan lebih mungkin terpengaruh oleh subtipe tertentu dari blepharitis, termasuk blepharitis stafilokokal.
Data dari Indonesia
Data spesifik mengenai prevalensi blepharitis di Indonesia masih terbatas. Sebuah studi yang dilakukan di Southwest Sumba, Nusa Tenggara Timur, pada tahun 2015 menunjukkan bahwa blepharitis ditemukan pada 0,9% dari kasus penyakit mata infeksius yang dilaporkan di rumah sakit setempat. Namun, data ini kemungkinan besar tidak merepresentasikan prevalensi sebenarnya di masyarakat karena keterbatasan akses pelayanan kesehatan dan rendahnya kesadaran masyarakat untuk memeriksakan kondisi mata yang dianggap ringan.
Studi lain yang dilakukan di Riau, Indonesia, tentang sindrom mata kering menemukan prevalensi 27,5% pada populasi dewasa, dengan blepharitis sebagai salah satu faktor risiko yang berkontribusi terhadap kondisi tersebut. Hal ini mengindikasikan bahwa blepharitis mungkin lebih umum di Indonesia daripada yang dilaporkan, namun sering tidak terdiagnosis atau dianggap sebagai kondisi minor.
Faktor Risiko
Berdasarkan penelitian yang dikumpulkan dari PubMed, beberapa faktor risiko yang terkait dengan peningkatan prevalensi blepharitis meliputi:
- Usia lanjut: Prevalensi meningkat signifikan pada individu di atas 50 tahun
- Jenis kelamin: Beberapa studi menunjukkan prevalensi lebih tinggi pada perempuan
- Kondisi dermatologis: Rosacea, dermatitis seborrheik, dan kondisi kulit lainnya
- Penyakit sistemik: Diabetes melitus, kondisi autoimun
- Faktor lingkungan: Iklim tropis dengan kelembaban tinggi, seperti di Indonesia, dapat mempengaruhi fungsi kelenjar Meibom
Penelitian terbaru juga mengidentifikasi asosiasi antara penggunaan vaping (rokok elektronik) dengan peningkatan kejadian blepharitis dan obstruksi kelenjar Meibom pada mahasiswa, dengan prevalensi mencapai 60% pada pengguna dengan frekuensi tinggi (López Álvarez et al., 2025).
Etiologi dan Patofisiologi
Patofisiologi blepharitis bersifat kompleks dan multifaktorial, melibatkan interaksi antara infeksi bakteri, gangguan kulit, disfungsi kelenjar, dan kadang-kadang invasi parasit. Pemahaman yang mendalam tentang mekanisme patofisiologis ini penting untuk penatalaksanaan yang efektif.
Blepharitis Stafilokokal
Salah satu faktor kontribusi yang paling mapan adalah keberadaan bakteri, khususnya spesies Staphylococcus, pada margin kelopak mata. Kolonisasi bakteri pada margin kelopak mata meningkat pada keberadaan dermatitis seborrheik atau disfungsi kelenjar Meibom. Bakteri ini dapat menyebabkan kerusakan melalui beberapa mekanisme:
- Invasi mikroba langsung: Penetrasi bakteri ke jaringan kelopak mata menyebabkan respon inflamasi lokal
- Kerusakan yang dimediasi sistem imun: Antigen bakteri memicu respons imun adaptif yang mengenali dan menangani produk antigenik bakteri dari dinding sel
- Produksi toksin dan enzim bakteri: Eksotoksin sitolitik bakteri memiliki efek toksik dan inflamasi langsung pada permukaan okular (Ortiz-Morales et al., 2025)
Blepharitis Demodex
Tungau Demodex folliculorum dan Demodex brevis merupakan bagian dari flora kulit manusia normal, menghuni folikel rambut dan kelenjar sebasea. Namun, pada beberapa individu, tungau ini dapat berkontribusi terhadap penyakit permukaan okular. Berdasarkan penelitian yang dipublikasikan di PubMed, tungau Demodex berkontribusi terhadap blepharitis melalui beberapa cara:
- Kerusakan mekanik langsung: Pergerakan tungau dalam folikel bulu mata menyebabkan abrasi mikro pada jaringan
- Obstruksi kelenjar: Tungau dan debris yang dihasilkannya dapat menyumbat orifis kelenjar Meibom
- Vektor untuk bakteri: Tungau dapat membawa bakteri ke dalam folikel, memperburuk inflamasi
- Reaksi hipersensitivitas dan inflamasi: Antigen tungau memicu respon imun yang berkontribusi pada inflamasi kronis (Rhee et al., 2023)
Studi terbaru menunjukkan bahwa penatalaksanaan infestasi Demodex pada MGD tidak hanya memperbaiki parameter film air mata dan mengurangi gejala okular, tetapi juga menginduksi perbaikan anatomis pada kelenjar Meibom, dengan pengurangan dropout glandular dari 50% menjadi 39,05% (Ávila et al., 2024).
Disfungsi Kelenjar Meibom (MGD)
MGD merupakan kelainan kronis pada kelenjar Meibom yang ditandai oleh obstruksi terminal duktus dan/atau perubahan kualitatif/kuantitatif sekresi kelenjar. Patofisiologi MGD melibatkan:
- Hiperkeratinisasi duktus: Penebalan epitel duktus menyebabkan obstruksi
- Perubahan komposisi lipid: Sekresi meibum menjadi lebih kental dan sulit dikeluarkan
- Inflamasi kelenjar: Stasis sekresi menyebabkan dilatasi dan atrofi kelenjar
- Gangguan stabilitas film air mata: Defisiensi lipid menyebabkan penguapan berlebihan air mata
Blepharitis Pediatrik (Blepharokeratoconjunctivitis)
Pada anak-anak, bentuk blepharitis yang lebih berat dikenal sebagai blepharokeratoconjunctivitis (BKC) pediatrik. Kondisi ini melibatkan sistem imun adaptif dalam mengenali dan menangani produk antigenik bakteri kelopak mata, khususnya dari dinding sel, serta efek toksik dan inflamasi langsung dari eksotoksin sitolitik mereka pada permukaan okular. BKC pediatrik merupakan kondisi inflamasi kronis yang mempengaruhi kelopak mata, konjungtiva, dan kornea, dengan potensi menyebabkan komplikasi yang mengancam penglihatan jika tidak ditangani dengan tepat (Barbara et al., 2025).
Manifestasi Klinis
Manifestasi klinis blepharitis bervariasi tergantung pada tipe dan tingkat keparahan kondisi. Gejala dan tanda klinis dapat berkisar dari keluhan ringan hingga gangguan yang signifikan mempengaruhi kualitas hidup.

Gejala Umum
Pasien dengan blepharitis umumnya mengeluhkan:
- Gatal pada kelopak mata: Merupakan salah satu gejala paling umum, seringkali memburuk di pagi hari
- Sensasi terbakar dan menyengat: Terutama di area margin kelopak mata
- Sensasi benda asing: Perasaan seperti ada pasir atau benda kecil di mata
- Mata kering: Akibat gangguan produksi atau komposisi film air mata
- Mata merah: Terutama pada margin kelopak mata dan konjungtiva
- Fotofobia: Sensitivitas berlebihan terhadap cahaya
- Penglihatan kabur: Biasanya bersifat fluktuatif, membaik dengan berkedip
- Krusta pada bulu mata: Terutama terlihat saat bangun tidur
Tanda Klinis Blepharitis Anterior
Pemeriksaan oftalmologis pada blepharitis anterior dapat mengungkapkan:
- Kolaret (collarettes): Penumpukan debris silindris di sekitar basis bulu mata, patognomonik untuk blepharitis Demodex (Yeu et al., 2025)
- Skuama atau sisik: Pada basis bulu mata, dapat kering (stafilokokal) atau berminyak (seborrheik)
- Eritema margin kelopak mata: Kemerahan pada tepi kelopak mata
- Teleangiektasia: Dilatasi pembuluh darah kecil pada margin kelopak mata
- Ulserasi: Pada kasus berat, dapat terjadi ulserasi kecil pada margin kelopak mata
- Madarosis: Kehilangan atau penipisan bulu mata
- Poliosis: Perubahan warna bulu mata menjadi putih
- Trichiasis: Pertumbuhan bulu mata yang abnormal ke arah bola mata
Tanda Klinis Blepharitis Posterior/MGD
Pada blepharitis posterior atau MGD, tanda-tanda yang dapat ditemukan meliputi:
- Obstruksi orifis kelenjar Meibom: Sumbatan pada muara kelenjar dengan material kental
- Sekresi meibum abnormal: Dapat berupa sekresi kental, berbusa, atau seperti pasta gigi saat dilakukan ekspresi kelenjar
- Dilatasi kelenjar Meibom: Terlihat sebagai struktur kistik pada margin kelopak mata
- Atrofi kelenjar: Penilaian dengan meibografi dapat menunjukkan dropout atau kehilangan kelenjar (Yeu & Koetting, 2025)
- Penebalan margin kelopak mata: Margin kelopak mata tampak membulat dan menebal
- Peningkatan tear meniscus: Akumulasi air mata pada margin kelopak mata bawah
Manifestasi pada Permukaan Okular
Blepharitis kronis dapat menyebabkan perubahan pada permukaan mata, termasuk:
- Konjungtivitis: Hiperemia konjungtiva, reaksi papiler atau folikular
- Keratitis: Pewarnaan kornea superfisial dengan fluorescein, terutama pada zona interpalpebral
- Infiltrat kornea: Pada kasus berat, dapat terjadi infiltrat marginal steril
- Vaskularisasi kornea: Pembuluh darah baru yang tumbuh ke kornea perifer
- Phlyctenule: Nodul kecil pada limbus atau kornea perifer, merupakan respons hipersensitivitas
- Chalazion: Pembengkakan granuloma pada kelenjar Meibom yang tersumbat
Manifestasi pada Populasi Khusus
Pada anak-anak dengan blepharokeratoconjunctivitis pediatrik, manifestasi dapat lebih berat dengan karakteristik:
- Riwayat chalazion rekuren
- Infiltrat kornea dengan vaskularisasi dan jaringan parut
- Ambliopia akibat astigmatisme atau opasitas kornea
- Fliktenul yang lebih sering
- Komplikasi kornea yang lebih signifikan (Barbara et al., 2025)
Pada pasien dengan rosacea okular, manifestasi blepharitis seringkali disertai dengan:
- Flush facial (kemerahan wajah)
- Teleangiektasia wajah
- Papula dan pustula pada wajah
- Rhinophyma pada kasus lanjut
Dampak Psikososial
Penelitian menunjukkan bahwa blepharitis memiliki dampak signifikan terhadap kualitas hidup pasien. Mata berair dan merah dapat disalahartikan sebagai tanda menangis berlebihan atau konsumsi alkohol, menyebabkan stigma sosial. Hampir dua pertiga pasien mengalami dua atau lebih gejala selama tahun terakhir, dan sepertiga mengalami setidaknya satu gejala setengah dari waktu mereka.
Diagnosis
Diagnosis blepharitis terutama didasarkan pada anamnesis yang cermat dan pemeriksaan klinis yang teliti. Tidak ada tes diagnostik tunggal yang definitif untuk blepharitis, namun kombinasi temuan klinis dapat membantu mengonfirmasi diagnosis dan mengidentifikasi subtipe spesifik.
Anamnesis
Anamnesis yang komprehensif harus mencakup:
- Keluhan utama: Karakteristik, onset, durasi, dan faktor yang memperberat atau meringankan gejala
- Riwayat oftalmologis: Riwayat mata kering, penggunaan lensa kontak, operasi mata sebelumnya
- Riwayat dermatologis: Rosacea, dermatitis seborrheik, eksim, psoriasis
- Riwayat sistemik: Diabetes melitus, penyakit autoimun, alergi
- Penggunaan obat: Obat sistemik atau topikal yang dapat mempengaruhi permukaan mata
- Faktor lingkungan: Paparan asap, debu, vaping, penggunaan komputer
- Higiene kelopak mata: Kebiasaan membersihkan kelopak mata
Pemeriksaan Klinis
Pemeriksaan oftalmologis lengkap untuk diagnosis blepharitis meliputi:
1. Pemeriksaan Eksternal
- Inspeksi wajah untuk tanda rosacea atau dermatitis seborrheik
- Penilaian kulit periokular
- Evaluasi simetri dan posisi kelopak mata
2. Pemeriksaan Margin Kelopak Mata
Pemeriksaan dengan slit lamp biomicroscopy untuk mengevaluasi:
- Keberadaan kolaret: Patognomonik untuk infestasi Demodex (Rhee et al., 2023)
- Skuama atau debris pada basis bulu mata
- Eritema dan teleangiektasia margin kelopak mata
- Kondisi bulu mata (madarosis, poliosis, trichiasis)
- Ulserasi atau irregularitas margin kelopak mata
3. Evaluasi Kelenjar Meibom
- Ekspresi kelenjar Meibom: Tekanan lembut pada kelopak mata untuk mengevaluasi kuantitas dan kualitas sekresi meibum
- Meibografi: Teknik pencitraan non-invasif untuk visualisasi struktur kelenjar Meibom dan mendeteksi dropout glandular
- Penilaian orifis kelenjar: Evaluasi untuk obstruksi, dilatasi, atau pouting
4. Evaluasi Film Air Mata
- Non-invasive tear break-up time (NIBUT): Mengukur stabilitas film air mata, normal >10 detik (Wolffsohn et al., 2025)
- Tear meniscus height (TMH): Evaluasi volume air mata
- Tes Schirmer: Mengukur produksi air mata aqueous
- Osmolaritas air mata: Dapat meningkat pada penyakit mata kering terkait MGD
5. Evaluasi Permukaan Okular
- Pewarnaan fluorescein kornea: Mendeteksi defek epitel kornea
- Pewarnaan lissamine green: Mengevaluasi kerusakan konjungtiva dan margin kelopak mata
- Pemeriksaan kornea: Mencari infiltrat, vaskularisasi, atau jaringan parut
Kuesioner Standar
Untuk diagnosis dan penilaian keparahan gejala, beberapa kuesioner standar direkomendasikan:
- OSDI-6 (Ocular Surface Disease Index-6): Kuesioner skrining yang direkomendasikan dengan nilai cut-off ≥4 (Wolffsohn et al., 2025)
- DEQ-5 (5-item Dry Eye Questionnaire): Untuk evaluasi gejala mata kering
- Standard Patient Evaluation of Eye Dryness (SPEED): Menilai frekuensi dan keparahan gejala
Kriteria Diagnosis
Menurut konsensus TFOS DEWS III, diagnosis blepharitis atau penyakit mata kering terkait blepharitis ditegakkan dengan:
- OSDI-6 positif (skor ≥4), DAN
- NIBUT <10 detik, ATAU
- Hiperosmolaritas film air mata (≥308 mOsm/L pada salah satu mata atau perbedaan interokular >8 mOsm/L), ATAU
- Pewarnaan permukaan okular (>5 spot kornea dengan fluorescein dan/atau >9 spot konjungtiva dengan lissamine green dan/atau pewarnaan margin kelopak mata dengan lissamine green ≥2 mm panjang & ≥25% lebar) (Wolffsohn et al., 2025)
Pemeriksaan Laboratorium
Dalam praktik klinis rutin, pemeriksaan laboratorium jarang diperlukan. Namun, pada kasus tertentu dapat dilakukan:
- Mikroskopi bulu mata: Untuk mendeteksi Demodex. Pencabutan 4 bulu mata dari masing-masing kelopak mata atas dan bawah, diletakkan di slide dengan larutan salin atau KOH 10%, dan diperiksa di bawah mikroskop. Temuan >5 tungau per 8 bulu mata dianggap abnormal
- Kultur bakteri: Jarang dilakukan, kecuali pada kasus yang resisten terhadap terapi atau dicurigai infeksi atipikal
- Biopsi: Hanya pada kasus yang dicurigai keganasan (misalnya, karsinoma sel sebasea yang menyamar sebagai blepharitis kronis)
Diagnosis Banding
Penting untuk mempertimbangkan kondisi lain yang dapat menyerupai blepharitis:
- Konjungtivitis alergi: Dapat menyebabkan gejala gatal dan kemerahan mata
- Konjungtivitis virus atau bakteri: Biasanya akut dengan discharge yang lebih profus
- Blefarokonjungtivitis herpes: Memerlukan terapi antiviral spesifik
- Karsinoma sel sebasea: Dapat menyamar sebagai blepharitis kronis yang tidak responsif terhadap terapi
- Pemfigoid cicatricial okular: Penyakit autoimun yang menyebabkan jaringan parut konjungtiva
- Rosacea okular: Sering tumpang tindih dengan blepharitis posterior
Teknologi Diagnostik Terbaru
Beberapa teknologi diagnostik yang semakin tersedia untuk evaluasi blepharitis meliputi:
- Meibografi inframerah: Visualisasi non-invasif struktur kelenjar Meibom untuk mendeteksi atrofi atau dropout
- Interferometri: Mengukur ketebalan lapisan lipid film air mata
- Kamera termografi: Mendeteksi disfungsi kelenjar Meibom berdasarkan pola suhu
- Sistem deteksi Demodex berbasis AI: Model deep learning (YOLOv11, RT-DETR) untuk deteksi dan kuantifikasi otomatis tungau Demodex dari gambar mikroskopis bulu mata (Mai et al., 2025)
Penatalaksanaan
Penatalaksanaan blepharitis bersifat kronis dan memerlukan pendekatan komprehensif yang disesuaikan dengan tipe dan tingkat keparahan kondisi. Tujuan utama terapi adalah mengontrol gejala, mencegah komplikasi, dan meningkatkan kualitas hidup pasien.
Higiene Kelopak Mata
Higiene kelopak mata merupakan landasan penatalaksanaan blepharitis dan harus dilakukan secara teratur. Langkah-langkah yang direkomendasikan meliputi:
- Kompres hangat: Aplikasi kompres hangat (40-45°C) selama 5-10 menit, dua kali sehari, untuk melunakkan sekresi kelenjar Meibom dan memfasilitasi drainase
- Pijat kelopak mata: Setelah kompres hangat, lakukan pijatan lembut pada kelopak mata dengan gerakan ke arah margin untuk membantu ekspresi kelenjar Meibom
- Pembersihan margin kelopak mata: Gunakan larutan pembersih khusus kelopak mata atau sampo bayi yang diencerkan untuk membersihkan debris dan sisik dari margin kelopak mata
Terapi Topikal
1. Antibiotik Topikal
- Azithromycin 1% salep/gel: Terapi topikal yang efektif untuk blepharitis anterior dan posterior. Azithromycin memiliki efek antibakteri dan anti-inflamasi. Studi menunjukkan azithromycin topikal lebih efektif dibandingkan opsi topikal sebelumnya dan memiliki tingkat penerimaan pasien yang lebih tinggi
- Bacitracin atau erythromycin salep: Dapat digunakan untuk blepharitis stafilokokal, dioleskan pada margin kelopak mata sebelum tidur
2. Terapi Anti-Demodex
Untuk blepharitis Demodex, beberapa opsi terapi topikal yang efektif meliputi:
- Lotilaner ophthalmic solution 0,25%: Obat pertama yang disetujui oleh FDA Amerika Serikat untuk blepharitis Demodex. Lotilaner adalah agen antiparasit yang secara selektif menghambat kanal klorida yang dimediasi asam gamma-aminobutirat spesifik parasit, menginduksi paralisis spastik dan kematian tungau Demodex. Diberikan dua kali sehari selama 6 minggu. Studi menunjukkan bahwa 49,8% pasien mencapai grade 0 kolaret (0-2 kolaret) pada hari ke-43, dibandingkan 9,9% pada kelompok kontrol. Eradikasi tungau dicapai pada 60,2% pasien vs 16,1% kontrol (Yeu et al., 2025; Fabara et al., 2025; Sharma et al., 2025)
- Ivermectin 1% salep/gel: Studi menunjukkan kombinasi ivermectin 1% dengan metronidazole 0,5% gel efektif untuk eradikasi Demodex dan memperbaiki fungsi kelenjar Meibom, dengan pengurangan dropout glandular dari 50% menjadi 39,05% (Ávila et al., 2024)
- Tea tree oil: Produk berbasis tea tree oil (terpinen-4-ol) dapat digunakan sebagai wipes pembersih kelopak mata. Namun, harus digunakan dengan hati-hati karena dapat menyebabkan iritasi pada beberapa pasien
3. Terapi Anti-inflamasi
- Kortikosteroid topikal: Untuk eksaserbasi akut dengan inflamasi signifikan, kortikosteroid topikal dosis rendah jangka pendek (misalnya, fluorometholone atau loteprednol) dapat digunakan. Penggunaan jangka panjang harus dihindari karena risiko efek samping
- Ciclosporin 0,05% atau 0,1%: Imunomodulator topikal yang efektif untuk blepharitis kronis dengan komponen inflamasi
- Lifitegrast 5%: Antagonis LFA-1 yang dapat membantu mengurangi inflamasi permukaan okular
Terapi Sistemik
1. Antibiotik Sistemik
Terutama untuk blepharitis posterior/MGD yang berat atau tidak responsif terhadap terapi topikal:
- Doxycycline: 50-100 mg sekali atau dua kali sehari. Selain efek antibakteri, doxycycline memiliki efek anti-inflamasi dengan menghambat matrix metalloproteinase. Terapi biasanya diberikan selama 6-12 minggu
- Azithromycin oral: 500 mg sehari selama 3 hari, kemudian 250 mg tiga kali seminggu selama beberapa minggu
- Erythromycin: Alternatif untuk anak-anak atau pasien yang tidak dapat mentoleransi doxycycline
Pada anak-anak dengan blepharokeratoconjunctivitis berat, 72% pasien memerlukan antibiotik sistemik (azithromycin, clarithromycin, erythromycin, atau doxycycline), dan 91% mencapai respons lengkap yang didefinisikan sebagai tidak ada aktivitas penyakit dan tidak menggunakan steroid topikal atau terapi antibiotik sistemik (Barbara et al., 2025).
2. Terapi Hormonal
- Suplementasi androgen: Pada kasus MGD yang terkait dengan defisiensi androgen, meskipun penggunaannya masih kontroversial
Terapi Berbasis Perangkat
1. Intense Pulsed Light (IPL)
IPL telah menunjukkan efikasi dalam penatalaksanaan MGD dan blepharitis Demodex. Terapi ini bekerja dengan:
- Mengurangi bakteri dan Demodex pada kelopak mata
- Meningkatkan fungsi kelenjar Meibom
- Mengurangi inflamasi dan teleangiektasia
Studi menunjukkan kombinasi IPL dengan low-level light therapy (LLLT) menggunakan cahaya biru dan merah efektif untuk blepharitis Demodex yang resisten terhadap terapi lini pertama, dengan perbaikan signifikan dalam skor kolaret, saponifikasi, hiperemia konjungtiva, dan gejala pasien (Farrant et al., 2025).
Kombinasi ivermectin 1% topikal dengan IPL juga menunjukkan hasil yang sangat baik, dengan eliminasi blepharitis pada 77% pasien dan peningkatan signifikan dalam grading sekresi kelenjar Meibom dari 2,74 ± 0,63 menjadi 1,63 ± 0,63 (Safir et al., 2024).
2. LipiFlow
Sistem pulsasi termal yang mengaplikasikan panas dan tekanan pada kelopak mata untuk membuka obstruksi kelenjar Meibom. Satu kali terapi dapat memperbaiki fungsi kelenjar Meibom dan mengurangi gejala mata kering selama 9 bulan.
3. Probing Intraduktus Kelenjar Meibom
Untuk kasus MGD obstruktif yang refrakter, probing langsung pada duktus kelenjar Meibom dapat dilakukan untuk membuka obstruksi.
Terapi Suportif
- Air mata buatan: Untuk mengatasi gejala mata kering. Pilih formulasi bebas pengawet untuk penggunaan sering
- Suplemen asam lemak omega-3: 1000-2000 mg per hari dapat membantu memperbaiki kualitas sekresi meibum dan mengurangi inflamasi
- Modifikasi lingkungan: Hindari asap, debu, dan lingkungan dengan kelembaban rendah. Gunakan humidifier jika diperlukan
- Edukasi pasien: Penjelasan tentang sifat kronis kondisi dan pentingnya kepatuhan terhadap regimen higiene kelopak mata
Pendekatan Bertahap
Pendekatan terapi blepharitis sebaiknya disesuaikan dengan tingkat keparahan:
Ringan:
- Higiene kelopak mata rutin
- Air mata buatan
- Kompres hangat dan pijat kelopak mata
Sedang:
- Ditambah antibiotik topikal (azithromycin 1%)
- Suplemen omega-3
- Terapi anti-Demodex jika terindikasi
Berat:
- Antibiotik sistemik (doxycycline)
- Kortikosteroid topikal jangka pendek
- Pertimbangan untuk terapi berbasis perangkat (IPL, LipiFlow)
- Rujukan ke spesialis oftalmologi untuk evaluasi dan penatalaksanaan lebih lanjut
Pertimbangan Khusus untuk Indonesia
Dalam konteks pelayanan kesehatan Indonesia, beberapa pertimbangan penting meliputi:
- Akses terbatas ke obat baru: Lotilaner belum tersedia di Indonesia. Alternatif seperti ivermectin topikal, tea tree oil, atau kombinasi higiene kelopak mata yang ketat dapat digunakan
- Keterbatasan perangkat: IPL dan LipiFlow belum tersedia luas di fasilitas kesehatan Indonesia. Fokus pada terapi konvensional yang efektif dan terjangkau
- Edukasi pasien: Penting untuk menekankan pentingnya higiene kelopak mata rutin dan kepatuhan jangka panjang, mengingat banyak pasien menganggap blepharitis sebagai kondisi minor
- Deteksi dini: Screening untuk blepharitis pada pasien pre-operatif (katarak, refraktif) penting untuk mencegah komplikasi pasca operasi
Prognosis dan Komplikasi
Prognosis
Secara umum, prognosis untuk pasien dengan blepharitis adalah baik hingga sangat baik. Blepharitis hanya menyebabkan morbiditas signifikan pada subset pasien yang sangat kecil. Bagi sebagian besar pasien, kondisi ini lebih merupakan keluhan simptomatik daripada ancaman nyata terhadap kesehatan dan fungsi mata mereka.
Namun, pasien dengan blepharitis kronis mengalami ketidaknyamanan dan penderitaan yang cukup besar yang dapat sangat mengurangi kesejahteraan dan kemampuan mereka untuk melaksanakan aktivitas sehari-hari dan pekerjaan. Dengan penatalaksanaan yang tepat dan kepatuhan pasien terhadap regimen terapi, sebagian besar pasien dapat mencapai kontrol gejala yang baik.
Studi pada blepharokeratoconjunctivitis pediatrik menunjukkan bahwa 91% pasien mencapai respons lengkap dengan terapi yang komprehensif, namun 23% mengalami flare-up yang memerlukan eskalasi terapi, dengan 75% flare-up terjadi dalam tahun pertama setelah penghentian terapi (Barbara et al., 2025). Hal ini menekankan pentingnya follow-up jangka panjang dan kesiapan untuk memulai kembali terapi jika diperlukan.
Komplikasi
Meskipun blepharitis umumnya tidak mengancam penglihatan, beberapa komplikasi dapat terjadi, terutama pada kasus yang tidak ditangani atau ditangani dengan tidak adekuat:
1. Komplikasi pada Kelopak Mata
- Chalazion: Granuloma steril pada kelenjar Meibom yang tersumbat, seringkali memerlukan intervensi bedah
- Hordeolum: Infeksi akut kelenjar kelopak mata
- Madarosis: Kehilangan permanen bulu mata
- Trichiasis: Pertumbuhan bulu mata yang abnormal ke arah bola mata, dapat menyebabkan abrasi kornea
- Ektropion atau entropion: Malposisi kelopak mata akibat perubahan struktural kronis
- Preseptal cellulitis: Infeksi jaringan lunak periokular
2. Komplikasi pada Permukaan Okular
- Penyakit mata kering kronis: Blepharitis merupakan salah satu penyebab utama penyakit mata kering evaporatif
- Konjungtivitis kronis: Inflamasi konjungtiva yang persisten
- Keratitis: Inflamasi kornea yang dapat menyebabkan defek epitel dan infiltrat
- Ulkus kornea marginal: Ulserasi steril di perifer kornea akibat respons hipersensitivitas
- Vaskularisasi kornea: Pertumbuhan pembuluh darah baru ke kornea, dapat mengganggu kejernihan kornea
- Jaringan parut kornea: Pada kasus berat, terutama pada anak-anak dengan blepharokeratoconjunctivitis, dapat menyebabkan gangguan penglihatan permanen dan ambliopia
3. Komplikasi Pasca Operasi
Blepharitis yang tidak ditangani merupakan faktor risiko untuk:
- Endoftalmitis pasca operasi: Infeksi intraokular yang mengancam penglihatan
- Delayed corneal epithelial healing: Penyembuhan epitel kornea yang lambat setelah operasi refraktif atau katarak
- Dry eye syndrome pasca operasi: Eksaserbasi gejala mata kering setelah operasi
Studi menunjukkan bahwa pasien dengan infestasi Demodex grade 2-4 memiliki skor teleangiektasia, kualitas meibum, dan atrofi kelenjar Meibom yang secara signifikan lebih buruk dibandingkan dengan pasien tanpa infestasi Demodex (Yeu & Koetting, 2025). Oleh karena itu, pemeriksaan rutin untuk Demodex dan tanda-tanda MGD, terutama dalam setting perioperatif, sangat penting.
4. Dampak pada Kualitas Hidup
- Gangguan fungsi visual: Penglihatan kabur fluktuatif dapat mengganggu aktivitas sehari-hari seperti membaca, mengemudi, dan menggunakan komputer
- Produktivitas kerja menurun: Gejala yang persisten dapat mengurangi efisiensi kerja
- Stigma sosial: Mata merah dan berair dapat disalahartikan sebagai tanda menangis atau konsumsi alkohol
- Gangguan psikologis: Ketidaknyamanan kronis dapat menyebabkan frustasi dan penurunan kualitas hidup
Pencegahan
Meskipun blepharitis sulit untuk dicegah sepenuhnya, terutama pada individu dengan predisposisi genetik atau kondisi dermatologis yang mendasari, beberapa strategi dapat membantu mengurangi risiko atau keparahan kondisi:
1. Higiene Kelopak Mata Rutin
Praktik higiene kelopak mata yang baik merupakan kunci pencegahan, terutama pada individu dengan riwayat keluarga blepharitis atau kondisi kulit yang predisposisi:
- Bersihkan kelopak mata secara teratur dengan produk pembersih yang lembut
- Hindari menyentuh atau menggosok mata dengan tangan yang tidak bersih
- Hapus makeup mata secara menyeluruh setiap malam
2. Manajemen Kondisi Kulit yang Mendasari
- Tangani dermatitis seborrheik pada kulit kepala dan wajah dengan sampo dan pembersih yang sesuai
- Kontrol rosacea dengan terapi yang tepat dan hindari faktor pemicu
- Kelola kondisi kulit lain seperti eksim atau psoriasis
3. Modifikasi Gaya Hidup
- Hindari asap rokok dan vaping: Penelitian menunjukkan asosiasi kuat antara vaping dengan blepharitis dan MGD (López Álvarez et al., 2025)
- Nutrisi yang baik: Diet kaya asam lemak omega-3 dapat mendukung kesehatan kelenjar Meibom
- Hidrasi adequate: Konsumsi air yang cukup untuk mendukung produksi air mata
- Istirahat mata yang cukup: Hindari kelelahan mata berlebihan, terutama dari penggunaan layar digital
4. Manajemen Lingkungan
- Gunakan humidifier di lingkungan dengan kelembaban rendah
- Hindari paparan langsung terhadap angin, debu, atau asap
- Gunakan kacamata pelindung saat beraktivitas di lingkungan yang berdebu atau berangin
5. Skrining dan Deteksi Dini
- Pemeriksaan mata rutin, terutama pada individu dengan faktor risiko
- Skrining pre-operatif untuk blepharitis sebelum operasi mata
- Deteksi dan terapi dini pada tanda awal blepharitis
6. Edukasi Pasien
Edukasi komprehensif tentang:
- Sifat kronis kondisi dan pentingnya terapi jangka panjang
- Teknik higiene kelopak mata yang benar
- Pentingnya kepatuhan terhadap regimen terapi
- Kapan harus mencari bantuan medis
Pertimbangan Khusus di Indonesia
Dalam konteks Indonesia dengan iklim tropis yang panas dan lembab:
- Higiene personal yang lebih ketat: Kelembaban tinggi dapat meningkatkan pertumbuhan bakteri dan Demodex, sehingga higiene yang lebih ketat diperlukan
- Perhatian ekstra pada musim kemarau: Debu dan polusi udara yang meningkat selama musim kemarau dapat memperburuk gejala
- Akses ke air bersih: Pastikan penggunaan air bersih untuk kompres dan pembersihan kelopak mata
- Edukasi berbasis komunitas: Program edukasi kesehatan mata di tingkat komunitas untuk meningkatkan kesadaran tentang pentingnya higiene mata
Kesimpulan
Blepharitis merupakan kondisi inflamasi kronis kelopak mata yang umum namun seringkali terabaikan, dengan prevalensi yang signifikan di seluruh dunia. Meskipun jarang mengancam penglihatan secara langsung, blepharitis dapat menyebabkan ketidaknyamanan yang substansial dan berdampak negatif terhadap kualitas hidup pasien. Kondisi ini bersifat multifaktorial dengan etiologi yang saling tumpang tindih, termasuk infeksi bakteri, infestasi Demodex, disfungsi kelenjar Meibom, dan kondisi dermatologis yang mendasari.
Diagnosis blepharitis terutama didasarkan pada anamnesis yang cermat dan pemeriksaan klinis yang teliti, dengan temuan karakteristik seperti kolaret pada infestasi Demodex dan disfungsi kelenjar Meibom pada blepharitis posterior. Penatalaksanaan memerlukan pendekatan komprehensif dan jangka panjang yang disesuaikan dengan tipe dan tingkat keparahan kondisi, dengan higiene kelopak mata sebagai landasan terapi.
Perkembangan terbaru dalam penatalaksanaan blepharitis, termasuk terapi anti-Demodex seperti lotilaner ophthalmic solution yang telah disetujui FDA, kombinasi ivermectin-metronidazole topikal, serta terapi berbasis perangkat seperti IPL dan LLLT, memberikan harapan untuk kontrol yang lebih baik terhadap kondisi ini. Namun, dalam konteks Indonesia dengan keterbatasan akses terhadap terapi-terapi terbaru, fokus pada higiene kelopak mata yang ketat, terapi konvensional yang efektif dan terjangkau, serta edukasi pasien yang komprehensif tetap menjadi kunci keberhasilan penatalaksanaan.
Deteksi dini dan intervensi yang tepat, terutama pada populasi dengan faktor risiko tinggi dan pada setting pre-operatif, penting untuk mencegah komplikasi yang dapat mempengaruhi kesehatan permukaan mata dan outcome pasca operasi. Dengan pemahaman yang lebih baik tentang patofisiologi blepharitis dan penerapan strategi penatalaksanaan yang komprehensif, prognosis untuk sebagian besar pasien dengan blepharitis adalah baik, dengan potensi untuk mencapai kontrol gejala yang adekuat dan pencegahan komplikasi jangka panjang.
Daftar Pustaka
Ávila, M. Y., Quesada, F. A., & Espana, E. M. (2024). Topical Ivermectin-metronidazole gel therapy improves Meibomian gland Function in blepharitis caused by demodex spp. Contact Lens & Anterior Eye, 48(3), 102354. https://doi.org/10.1016/j.clae.2024.102354
Barbara, R., Khalili, S., Rachdan, D., Khan, M. S., Ali, A., & Mireskandari, K. (2025). Severe blepharokeratoconjunctivitis in children-The Toronto experience. American Journal of Ophthalmology, 281, 642-649. https://doi.org/10.1016/j.ajo.2025.10.019
Fabara, S. P., Fabara, T., Alok, A., & Khuddus, N. (2025). Efficacy and safety of lotilaner ophthalmic solution 0.25% in Demodex blepharitis: A systematic review. HCA Healthcare Journal of Medicine, 6(3), 213-223. https://doi.org/10.36518/2689-0216.1985
Farrant, S., Giannaccare, G., Lim, C. H. L., & Coco, G. (2025). Intense pulsed light combined with low level blue and red light therapy for Demodex-associated blepharitis. Clinical Ophthalmology, 19, 2575-2585. https://doi.org/10.2147/OPTH.S521989
López Álvarez, A. B., Ulloa Delgado, D. A., Palencia Flórez, D. C., & Morón Barreto, M. C. (2025). Ocular surface and tear film in university students who use inhalant substances, mainly vapers. Archivos de la Sociedad Española de Oftalmología, 100(11), 666-673. https://doi.org/10.1016/j.oftale.2025.09.003
Mai, E. L., Tseng, Y., Lee, H., Sun, W., Tsai, H., & Chien, T. (2025). Demodicosis mite detection in eyes with blepharitis and meibomian gland dysfunction based on deep learning model. Diagnostics, 15(24), 3204. https://doi.org/10.3390/diagnostics15243204
Ortiz-Morales, G., Ruiz-Lozano, R. E., Morales-Mancillas, N. R., Homar Paez-Garza, J., & Rodriguez-Garcia, A. (2025). Pediatric blepharokeratoconjunctivitis: A challenging ocular surface disease. Survey of Ophthalmology, 70(3), 516-535. https://doi.org/10.1016/j.survophthal.2025.01.006
Rhee, M. K., Yeu, E., Barnett, M., Rapuano, C. J., Dhaliwal, D. K., Nichols, K. K., Karpecki, P., Mah, F. S., Chan, A., Mun, J., & Gaddie, I. B. (2023). Demodex blepharitis: A comprehensive review of the disease, current management, and emerging therapies. Eye & Contact Lens, 49(8), 311-318. https://doi.org/10.1097/ICL.0000000000001003
Safir, M., Rabina, G., Arbel, I., Sharon, Y., Spierer, O., Mimouni, M., & Nahum, Y. (2024). Ivermectin 1% combined with intense pulsed light treatment for dry eye disease secondary to Demodex blepharitis. Cornea, 44(10), 1273-1277. https://doi.org/10.1097/ICO.0000000000003774
Sharma, A., Sharma, P. K., & Kompella, U. B. (2025). Lotilaner for Demodex blepharitis: The journey from veterinary use to human medicine. Journal of Ocular Pharmacology and Therapeutics, 41(4), 173-186. https://doi.org/10.1089/jop.2024.0145
Wang, C. Y., Lin, T. Y., Wang, T. Y., & Chi, C. C. (2025). Ocular comorbidities of psoriasis: A systematic review and meta-analysis of observational studies. American Journal of Ophthalmology, 281, 181-200. https://doi.org/10.1016/j.ajo.2025.09.020
Wolffsohn, J. S., Benítez-Del-Castillo, J. M., Loya-Garcia, D., Inomata, T., Iyer, G., Liang, L., Pult, H., Sabater, A. L., Starr, C. E., Vehof, J., Wang, M. T. M., Chen, W., Craig, J. P., Dogru, M., Perez, V. L., Stapleton, F., Sullivan, D. A., & Jones, L. (2025). TFOS DEWS III: Diagnostic methodology. American Journal of Ophthalmology, 279, 387-450. https://doi.org/10.1016/j.ajo.2025.05.033
Yeu, E., & Koetting, C. (2025). Meibomian gland structure and function in patients with Demodex blepharitis. Journal of Cataract and Refractive Surgery, 51(5), 359-365. https://doi.org/10.1097/j.jcrs.0000000000001619
Yeu, E., Paauw, J. D., Vollmer, P., Berdy, G. J., Whitson, W. E., Meyer, J., Simmons, B., Peterson, J. D., Periman, L. M., Boehmer, B. E., Bloomenstein, M. R., Whitley, W. O., Koetting, C., Dhamdhere, K., Neervannan, S., & Ciolino, J. B. (2025). Safety and efficacy of lotilaner ophthalmic solution (0.25%) in treating Demodex blepharitis: Pooled analysis of two pivotal trials. Ophthalmology and Therapy, 14(3), 555-571. https://doi.org/10.1007/s40123-024-01089-5
Catatan: Artikel ini disusun berdasarkan literatur ilmiah terkini yang diakses melalui PubMed dan sumber-sumber medis terpercaya lainnya. Informasi yang disajikan dimaksudkan untuk tujuan edukasi dan tidak menggantikan konsultasi medis profesional. Pasien dengan gejala blepharitis disarankan untuk berkonsultasi dengan dokter spesialis mata untuk diagnosis dan penatalaksanaan yang tepat.

Tinggalkan komentar