A Cahya Legawa's Les pèlerins au-dessus des nuages

Pendahuluan

Pernahkah Anda menghabiskan waktu berjam-jam di depan cermin untuk mengamati satu bagian tubuh yang menurut Anda cacat, padahal orang lain sama sekali tidak melihatnya? Atau mungkin Anda menghindari foto bersama teman karena merasa hidung Anda terlalu besar, kulit Anda penuh jerawat, atau rambut Anda tidak sempurna? Jika kekhawatiran ini sangat intens hingga mengganggu aktivitas sehari-hari, kemungkinan besar Anda mengalami gangguan dismorfik tubuh atau body dysmorphic disorder (BDD).

BDD merupakan kondisi psikiatri yang ditandai dengan preokupasi berlebihan terhadap kekurangan fisik yang sebenarnya tidak terlihat atau tampak sangat minimal bagi orang lain (Rück et al., 2024). Gangguan ini bukan sekadar rasa tidak percaya diri biasa, melainkan kondisi kesehatan mental serius yang dapat sangat menurunkan kualitas hidup dan bahkan berujung pada pikiran untuk mengakhiri hidup.

Di era digital dan budaya selfie saat ini, BDD menjadi semakin relevan untuk dipahami. Paparan konstan terhadap gambar-gambar yang telah diedit dan difilter di media sosial telah menciptakan standar kecantikan yang tidak realistis, yang berpotensi memperburuk atau bahkan memicu gejala BDD pada individu yang rentan (Maymone et al., 2023).

Apa Itu Gangguan Dismorfik Tubuh?

BDD didefinisikan dalam Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders edisi kelima (DSM-5-TR) sebagai preokupasi terhadap satu atau lebih kekurangan yang dipersepsi pada penampilan fisik, di mana kekurangan tersebut sebenarnya tidak terlihat atau tampak sangat minimal bagi orang lain. Dalam International Classification of Diseases edisi kesebelas (ICD-11), BDD diklasifikasikan dengan kode 6B21 dalam kategori gangguan obsesif-kompulsif dan gangguan terkait.

Untuk memenuhi kriteria diagnosis BDD menurut DSM-5, seseorang harus menunjukkan preokupasi dengan kekurangan yang dipersepsi pada penampilan fisik, melakukan perilaku repetitif seperti mengecek cermin berlebihan, merias diri secara berlebihan, mencabuti kulit, mencari penentraman hati dari orang lain, atau membandingkan penampilan dengan orang lain. Preokupasi ini harus menyebabkan gangguan klinis yang signifikan atau hendaya dalam fungsi sosial, pekerjaan, atau area penting lainnya, dan tidak dapat dijelaskan lebih baik oleh gangguan makan.

DSM-5 juga menambahkan dua spesifikasi penting. Pertama adalah spesifikasi muscle dysmorphia atau dismorfia otot untuk individu yang terobsesi bahwa tubuhnya terlalu kecil atau kurang berotot, kondisi yang lebih sering dijumpai pada laki-laki. Kedua adalah spesifikasi tingkat insight atau tilikan yang menggambarkan seberapa yakin individu terhadap keyakinan terkait BDD-nya, mulai dari tilikan baik atau cukup baik, tilikan buruk, hingga tidak ada tilikan atau keyakinan yang bersifat waham (Phillips & Susser, 2023).

Epidemiologi: Seberapa Umum BDD?

BDD mempengaruhi sekitar 2% populasi dewasa secara global, meskipun angka ini kemungkinan merupakan underestimate karena banyak kasus yang tidak terdiagnosis (Rück et al., 2024). Tinjauan sistematis dan meta-analisis terbaru menunjukkan bahwa prevalensi BDD bervariasi berdasarkan wilayah geografis, dengan prevalensi tertinggi di Amerika Latin sekitar 31%, diikuti Afrika sekitar 23%, Asia sekitar 17%, Eropa sekitar 14%, Amerika Utara sekitar 12%, dan Oseania sekitar 10%.

Prevalensi BDD jauh lebih tinggi di lingkungan klinis tertentu. Di klinik bedah plastik kosmetik, prevalensinya mencapai 13-20%, sementara di klinik dermatologi berkisar antara 9-11%, dan pada pasien psikiatri rawat jalan sekitar 5-8%. Di Indonesia, penelitian di pusat kebugaran Denpasar menemukan prevalensi dismorfia otot sebesar 43,6% di antara anggota fitness center, menunjukkan bahwa gangguan spektrum BDD juga merupakan masalah kesehatan mental yang signifikan di Indonesia.

BDD biasanya berkembang selama masa remaja, dengan usia onset rata-rata sekitar 16 tahun. Meskipun lebih banyak perempuan dibandingkan laki-laki pada populasi remaja, tidak ada perbedaan gender yang signifikan pada populasi dewasa. Namun, terdapat perbedaan dalam area tubuh yang menjadi fokus perhatian berdasarkan gender. Perempuan cenderung lebih fokus pada kulit, perut, payudara, bokong, dan paha, sementara laki-laki lebih sering fokus pada massa otot, rambut (termasuk kebotakan), dan alat kelamin.

Etiologi: Faktor Penyebab BDD

Penyebab BDD bersifat kompleks dan melibatkan interaksi antara faktor genetik, biologis, psikologis, dan lingkungan.

Dari sisi genetik dan neurobiologis, studi pada kembar menunjukkan bahwa BDD memiliki komponen herediter yang signifikan. Penelitian pencitraan otak menunjukkan perbedaan fungsional dan struktural pada area otak yang terlibat dalam pemrosesan visual dan emosional pada individu dengan BDD. Secara spesifik, terdapat aktivitas abnormal pada jaringan visual dorsal dan jaringan parietal, yang mengakibatkan pemrosesan informasi visual yang terfokus pada detail lokal daripada gambaran global atau keseluruhan (Moody et al., 2021; Rossell, 2022).

Dari perspektif psikologis, individu dengan BDD menunjukkan bias kognitif dalam memproses informasi terkait penampilan. Mereka cenderung menginterpretasikan informasi netral atau ambigu sebagai negatif, memiliki perhatian selektif terhadap aspek penampilan yang dipersepsi negatif, dan memiliki keyakinan disfungsional tentang pentingnya penampilan untuk nilai diri.

Faktor lingkungan juga berperan penting. Pengalaman masa kecil yang negatif, seperti pengabaian emosional, pelecehan fisik atau seksual, dan bullying atau ejekan terkait penampilan, merupakan faktor risiko yang signifikan. Lebih dari 75% orang dewasa dengan BDD dilaporkan pernah mengalami beberapa bentuk penganiayaan di masa kanak-kanak, dengan pengabaian emosional sebagai faktor risiko yang paling kuat.

BDD di Era Media Sosial

Salah satu perkembangan paling signifikan dalam pemahaman BDD adalah hubungannya dengan penggunaan media sosial. Penggunaan media sosial sangat tinggi di kalangan remaja dan dewasa muda, dengan perkiraan bahwa 91-97% remaja Inggris berusia 12-17 tahun menggunakan media sosial. Platform-platform ini sangat bergantung pada konten berbasis gambar, yang sebagian besar sangat terkurasi dan sering kali ditingkatkan menggunakan filter.

Paparan terhadap gambar-gambar ideal yang tidak realistis ini memicu internalisasi standar kecantikan yang tidak dapat dicapai, meningkatkan perbandingan sosial berbasis penampilan, dan memfasilitasi objektivikasi diri terkait penampilan. Istilah Snapchat dysmorphia telah muncul untuk menggambarkan fenomena di mana individu mencari prosedur kosmetik untuk menyerupai versi diri mereka yang telah difilter di media sosial.

Penelitian menunjukkan bahwa penggunaan media sosial berbasis gambar secara signifikan terkait dengan gejala dismorfik tubuh pada remaja. Waktu yang dihabiskan di media sosial berkorelasi positif dengan ketidakpuasan tubuh dan self-esteem yang rendah. Yang paling mengkhawatirkan, paparan konstan terhadap gambar-gambar yang telah diedit dapat memperburuk ketidakpuasan citra tubuh dan komorbiditas BDD seperti depresi dan gangguan makan (Maymone et al., 2023).

Manifestasi Klinis

Gejala BDD dapat sangat bervariasi, tetapi umumnya mencakup beberapa pola karakteristik. Individu dengan BDD menunjukkan preokupasi atau keasyikan pikiran yang berlebihan di mana mereka menghabiskan waktu setidaknya satu jam per hari (dan sering lebih banyak) memikirkan kekurangan penampilan yang dipersepsi. Pikiran-pikiran ini bersifat intrusif, tidak diinginkan, dan sangat sulit dikendalikan.

Area tubuh yang paling sering menjadi fokus perhatian meliputi kulit dengan kekhawatiran tentang jerawat, bekas luka, keriput, atau warna kulit, hidung dengan persepsi bahwa hidung terlalu besar, kecil, atau bengkok, rambut termasuk kekhawatiran tentang kebotakan, ketipisan, atau pertumbuhan rambut berlebihan, mata, gigi, perut, payudara atau dada, dan alat kelamin. Sebagian besar individu dengan BDD memiliki kekhawatiran tentang beberapa area tubuh, dengan rata-rata 5-7 area tubuh yang menjadi perhatian selama perjalanan penyakit.

Perilaku kompulsif yang umum dilakukan meliputi pengecekan cermin berlebihan atau sebaliknya menghindari cermin sama sekali, merias diri secara berlebihan untuk menutupi kekurangan yang dipersepsi, mencabuti kulit atau rambut, mencari penentraman hati berulang dari orang lain, membandingkan penampilan dengan orang lain, dan mengubah posisi tubuh untuk menyembunyikan area yang dianggap cacat.

Hendaya fungsional pada BDD sangat signifikan. Banyak individu menghindari situasi sosial karena malu dengan penampilan mereka, mengalami kesulitan dalam pekerjaan atau pendidikan, dan memiliki hubungan interpersonal yang terganggu. Dalam kasus yang parah, beberapa individu menjadi housebound atau sepenuhnya terisolasi.

Komorbiditas dan Risiko Bunuh Diri

BDD jarang terjadi secara terisolasi dan sering kali disertai dengan gangguan psikiatri lainnya. Kondisi komorbid yang paling umum adalah gangguan depresi mayor yang dialami oleh sekitar 75% individu dengan BDD, gangguan kecemasan sosial pada sekitar 37%, gangguan obsesif-kompulsif pada sekitar 30%, dan gangguan penggunaan zat pada sekitar 30%.

Yang sangat mengkhawatirkan adalah tingginya risiko bunuh diri pada populasi ini. Penelitian menunjukkan bahwa sekitar 80% individu dengan BDD melaporkan pernah memiliki ide bunuh diri, dan 24-28% pernah melakukan percobaan bunuh diri. Angka ini jauh lebih tinggi dibandingkan populasi umum dan bahkan lebih tinggi dibandingkan banyak gangguan psikiatri lainnya. Risiko ini semakin meningkat pada individu dengan dismorfia otot yang memiliki tingkat bunuh diri dan gangguan penggunaan zat yang lebih tinggi dibandingkan bentuk BDD lainnya.

Diagnosis

BDD sering kali tidak terdiagnosis atau salah diagnosis. Banyak pasien tidak secara spontan mengungkapkan gejala BDD kepada klinisi karena merasa malu, takut dianggap narsis atau vain, merasa klinisi tidak akan memahami kekhawatiran mereka, atau tidak mengetahui bahwa kondisi ini dapat diobati. Penelitian menunjukkan rata-rata keterlambatan diagnosis 10-15 tahun dari onset gejala hingga diagnosis yang tepat.

Skrining untuk BDD sangat penting, terutama di lingkungan dengan prevalensi tinggi seperti klinik dermatologi, bedah plastik, dan ortodonti. Instrumen skrining yang umum digunakan adalah Body Dysmorphic Disorder Questionnaire (BDDQ), kuesioner singkat yang dapat diisi sendiri dengan sensitivitas dan spesifisitas yang baik. Untuk penilaian keparahan, Yale-Brown Obsessive Compulsive Scale Modified for BDD (BDD-YBOCS) adalah standar emas.

Diagnosis banding BDD meliputi gangguan obsesif-kompulsif, gangguan kecemasan sosial, gangguan makan seperti anoreksia nervosa, gangguan depresi mayor, dan gangguan waham tipe somatik. Perbedaan utama dengan OCD adalah bahwa pada BDD, obsesi dan perilaku repetitif secara khusus berfokus pada penampilan fisik.

Tatalaksana

Dua modalitas pengobatan berbasis bukti untuk BDD adalah terapi perilaku kognitif (CBT) yang disesuaikan untuk BDD dan obat penghambat ambilan kembali serotonin atau serotonin reuptake inhibitors (SRI).

CBT untuk BDD melibatkan beberapa komponen kunci. Psikoedukasi membantu pasien memahami model kognitif-perilaku BDD. Restrukturisasi kognitif menantang keyakinan disfungsional tentang penampilan dan nilai diri. Exposure and response prevention (ERP) melibatkan paparan bertahap terhadap situasi yang ditakuti (misalnya keluar rumah tanpa makeup berlebihan) sambil mencegah perilaku kompulsif. Perhatian cermin yang sehat melatih cara melihat penampilan secara lebih objektif dan holistik, bukan terfokus pada detail yang dipersepsi negatif. Meta-analisis menunjukkan bahwa CBT untuk BDD menghasilkan perbaikan gejala yang signifikan, dengan ukuran efek yang besar.

SRI, termasuk selective serotonin reuptake inhibitors (SSRI) seperti fluoksetin, sertralin, dan esitalopram, serta klomipramin (antidepresan trisiklik dengan efek serotonergik kuat), merupakan farmakoterapi lini pertama untuk BDD. Karakteristik penting pengobatan SRI untuk BDD adalah sering memerlukan dosis yang lebih tinggi dibandingkan untuk depresi, memerlukan durasi percobaan yang lebih lama yaitu 12-16 minggu sebelum menilai respons, dan tingkat respons sekitar 50-70%. Kombinasi CBT dan SRI mungkin lebih efektif daripada salah satu modalitas saja, terutama untuk kasus yang lebih parah.

Penting untuk dicatat bahwa prosedur kosmetik seperti operasi plastik atau dermatologi hampir tidak pernah memperbaiki gejala BDD. Penelitian menunjukkan bahwa mayoritas pasien BDD yang menjalani prosedur kosmetik tidak puas dengan hasilnya atau fokus kekhawatiran mereka berpindah ke area tubuh lain. Beberapa bahkan mengalami perburukan gejala. Oleh karena itu, BDD sering dianggap sebagai kontraindikasi relatif untuk prosedur kosmetik elektif.

Prognosis

BDD cenderung bersifat kronis jika tidak diobati, dengan gejala yang berfluktuasi tetapi jarang remisi secara spontan. Namun, dengan pengobatan yang tepat, prognosis dapat membaik secara signifikan. Studi jangka panjang menunjukkan bahwa sekitar 20-30% pasien mencapai remisi penuh dalam 4 tahun, sementara banyak lainnya mengalami perbaikan gejala yang signifikan meskipun tidak remisi penuh. Faktor-faktor yang terkait dengan prognosis yang lebih baik meliputi durasi penyakit yang lebih pendek, tingkat tilikan yang lebih baik, tidak adanya gangguan kepribadian komorbid, dan kepatuhan terhadap pengobatan.

Tantangan di Abad ke-21

BDD menghadapi tantangan unik di abad ke-21. Aksesibilitas media sosial yang luas dan budaya selfie menciptakan lingkungan yang dapat memperburuk atau memicu gejala BDD, terutama pada remaja yang rentan. Meningkatnya permintaan untuk prosedur kosmetik, sebagian didorong oleh keinginan untuk menyerupai gambar yang telah difilter, menimbulkan kekhawatiran kesehatan masyarakat yang signifikan (Trichas et al., 2025).

Di sisi lain, ada peluang untuk meningkatkan deteksi dan pengobatan BDD. Kesadaran yang lebih besar di kalangan profesional kesehatan, pengembangan intervensi berbasis internet yang dapat meningkatkan akses terhadap pengobatan, dan gerakan body positivity di media sosial yang menyajikan narasi alternatif terhadap standar kecantikan tradisional semuanya menawarkan harapan untuk masa depan.

Kesimpulan

BDD adalah gangguan kesehatan mental yang serius namun dapat diobati, yang ditandai dengan preokupasi berlebihan terhadap kekurangan penampilan yang dipersepsi. Dengan prevalensi sekitar 2% di populasi umum dan jauh lebih tinggi di lingkungan kosmetik dan dermatologi, BDD merupakan masalah kesehatan masyarakat yang signifikan. Gangguan ini sangat kurang terdiagnosis, menyebabkan hendaya fungsional yang parah, dan memiliki risiko bunuh diri yang tinggi.

Di era media sosial, BDD menjadi semakin relevan karena paparan konstan terhadap gambar-gambar ideal yang tidak realistis. Profesional kesehatan di berbagai bidang, terutama dermatologi, bedah plastik, dan kesehatan mental, perlu meningkatkan kesadaran dan kemampuan skrining untuk kondisi ini.

Kabar baiknya adalah BDD dapat diobati secara efektif dengan CBT yang disesuaikan untuk BDD dan/atau obat SRI. Deteksi dini dan rujukan yang tepat dapat secara signifikan meningkatkan hasil pengobatan dan kualitas hidup pasien. Dengan pemahaman yang lebih baik tentang BDD dan akses yang lebih luas terhadap pengobatan berbasis bukti, kita dapat membantu mereka yang terjebak dalam cermin ketidakpuasan untuk menemukan jalan keluar.


Daftar Pustaka

Jiotsa, B., Naccache, B., Duval, M., Rocher, B., & Grall-Bronnec, M. (2021). Social media use and body image disorders: Association between frequency of comparing one’s own physical appearance to that of people being followed on social media and body dissatisfaction and drive for thinness. International Journal of Environmental Research and Public Health, 18(6), 2880. https://doi.org/10.3390/ijerph18062880

Krebs, G., Rautio, D., Fernández de la Cruz, L., Hartmann, A. S., Jassi, A., Martin, A., Stringaris, A., & Mataix-Cols, D. (2024). Practitioner Review: Assessment and treatment of body dysmorphic disorder in young people. Journal of Child Psychology and Psychiatry, 65(8), 1119-1131. https://doi.org/10.1111/jcpp.13984

Maymone, M. B. C., Laughter, M., Vashi, N. A., & Kroumpouzos, G. (2023). Psychology of aesthetics: Beauty, social media, and body dysmorphic disorder. Clinics in Dermatology, 41(1), 28-32. https://doi.org/10.1016/j.clindermatol.2023.02.005

Moody, T. D., Morfini, F., Cheng, G., Sheen, C. L., Kerr, W. T., Strober, M., & Feusner, J. D. (2021). Brain activation and connectivity in anorexia nervosa and body dysmorphic disorder when viewing bodies: Relationships to clinical symptoms and perception of appearance. Brain Imaging and Behavior, 15(3), 1235-1252. https://doi.org/10.1007/s11682-020-00323-5

Phillips, K. A., & Susser, L. C. (2023). Body dysmorphic disorder in women. Psychiatric Clinics of North America, 46(3), 505-525. https://doi.org/10.1016/j.psc.2023.04.007

Rossell, S. L. (2022). Understanding and treating body dysmorphic disorder. Psychiatry Research, 319, 114980. https://doi.org/10.1016/j.psychres.2022.114980

Rück, C., Mataix-Cols, D., Feusner, J. D., Shavitt, R. G., Veale, D., Krebs, G., & Fernández de la Cruz, L. (2024). Body dysmorphic disorder. Nature Reviews Disease Primers, 10(1), 92. https://doi.org/10.1038/s41572-024-00577-z

Trichas, M., Janniger, C. K., & Schwartz, R. A. (2025). Body dysmorphic disorder: 21st century challenges. International Journal of Dermatology, 64(8), 1342-1348. https://doi.org/10.1111/ijd.17708

Commenting 101: “Be kind, and respect each other” // Bersikaplah baik, dan saling menghormati (Indonesian) // Soyez gentils et respectez-vous les uns les autres (French) // Sean amables y respétense mutuamente (Spanish) // 待人友善,互相尊重 (Chinese) // كونوا لطفاء واحترموا بعضكم البعض (Arabic) // Будьте добры и уважайте друг друга (Russian) // Seid freundlich und respektiert einander (German) // 親切にし、お互いを尊重し合いましょう (Japanese) // दयालु बनें, और एक दूसरे का सम्मान करें (Hindi) // Siate gentili e rispettatevi a vicenda (Italian)

Tinggalkan komentar