Pendahuluan
Di era digital saat ini, pemandangan anak-anak yang asyik bermain gawai telah menjadi hal lumrah. Ponsel pintar, tablet, dan berbagai perangkat layar lainnya seolah menjadi “pengasuh” instan yang mampu menenangkan anak dalam hitungan detik. Namun, di balik kemudahan tersebut, tersimpan kekhawatiran yang semakin nyata: bagaimana jika anak menjadi tantrum hebat atau kehilangan kemampuan fokus ketika gawai diambil?
Fenomena ini bukan sekadar masalah kedisiplinan biasa. Penelitian terkini menunjukkan bahwa penggunaan gawai berlebihan pada anak dapat memengaruhi perkembangan otak, regulasi emosi, dan kemampuan kognitif mereka secara signifikan. Sebagai orang tua, memahami mekanisme di balik perilaku ini menjadi langkah pertama untuk membantu anak mengembangkan hubungan yang sehat dengan teknologi.
Realitas Penggunaan Gawai pada Anak
Data menunjukkan bahwa penggunaan gawai pada anak telah meningkat drastis dalam beberapa tahun terakhir. Selama pandemi COVID-19, prevalensi kecanduan ponsel pintar pada anak usia sekolah di Iran mencapai 53,3%, dengan rata-rata penggunaan 6,85 jam per hari—meningkat lebih dari 50% dibandingkan sebelum pandemi (Mokhtarinia et al., 2022). Di Bangladesh, penelitian terhadap anak prasekolah usia 3-5 tahun menemukan bahwa sekitar 86% mengalami penggunaan ponsel pintar yang bermasalah, dengan 29% di antaranya tergolong pengguna bermasalah berat (Abdulla et al., 2023).
Angka-angka ini jauh melampaui rekomendasi yang ditetapkan oleh World Health Organization (WHO) yang menyatakan bahwa anak di bawah usia 2 tahun sebaiknya tidak terpapar layar sama sekali, sementara anak usia 2-4 tahun sebaiknya dibatasi maksimal satu jam per hari—dan lebih sedikit lebih baik (World Health Organization, 2019).
Mengapa Anak Tantrum Saat Gawai Diambil?
Mekanisme Otak dan Sistem Penghargaan
Ketika anak menggunakan gawai, otak mereka mengalami stimulasi yang intens. Permainan, video, dan aplikasi interaktif dirancang untuk memberikan umpan balik instan dan penghargaan berkelanjutan. Proses ini mengaktifkan sistem penghargaan di otak, melepaskan dopamin—neurotransmiter yang terkait dengan rasa senang dan kepuasan. Otak anak yang masih dalam tahap perkembangan sangat rentan terhadap pola stimulasi semacam ini.
Penelitian pencitraan otak menunjukkan bahwa paparan layar pada masa bayi secara signifikan memengaruhi integrasi jaringan otak yang mengatur pemrosesan emosi dan kontrol kognitif. Studi oleh Huang et al. (2024) menemukan bahwa integrasi jaringan ini memediasi hubungan antara waktu layar dan kompetensi sosio-emosional anak di kemudian hari.
Gangguan Regulasi Emosi
Anak yang terbiasa menggunakan gawai untuk menenangkan diri tidak mengembangkan kemampuan regulasi emosi internal secara optimal. Sebuah studi multidimensional terhadap anak prasekolah menemukan bahwa penggunaan media bermasalah berkorelasi negatif dengan kemampuan regulasi emosi. Yang menarik, temperamen anak sepenuhnya memediasi hubungan antara penggunaan media bermasalah dan regulasi emosi, yang menjelaskan 62,7% dari total efek tersebut. Anak dengan sifat temperamen yang lebih reaktif menunjukkan asosiasi yang lebih kuat antara penggunaan media bermasalah dan ketidakstabilan emosional (Çelebi et al., 2026).
Ketika gawai—sumber kenyamanan eksternal—diambil, anak tidak memiliki mekanisme internal yang cukup berkembang untuk mengelola ketidaknyamanan yang muncul. Hasilnya adalah ledakan emosi berupa tantrum.
Fenomena Technoference dalam Pengasuhan
Istilah technoference mengacu pada gangguan yang ditimbulkan teknologi dalam hubungan interpersonal, termasuk antara orang tua dan anak. Penelitian Wang et al. (2022) menemukan bahwa parental phubbing—perilaku orang tua yang mengabaikan anak karena asyik dengan ponsel—secara signifikan terkait dengan penggunaan ponsel pintar bermasalah pada remaja dan kelelahan belajar. Lebih lanjut, terdapat lingkaran setan antara penggunaan ponsel pintar bermasalah dan kelelahan belajar pada anak.
Interaksi berkualitas antara orang tua dan anak memainkan peran protektif yang penting. Studi terbaru menemukan bahwa anak dengan keterlambatan perkembangan bahasa cenderung memiliki orang tua yang menghabiskan lebih banyak waktu dengan layar, frekuensi interaksi orang tua-anak yang lebih rendah, dan tingkat membacakan cerita yang lebih rendah (Wan et al., 2025).

Dampak Penggunaan Gawai Berlebihan pada Anak
Dampak Kognitif dan Perkembangan
Paparan layar berlebihan pada anak usia dini telah dikaitkan dengan berbagai hambatan perkembangan. Tinjauan naratif komprehensif oleh Clemente-Suárez et al. (2024) menemukan bahwa penggunaan perangkat digital pada masa kanak-kanak dapat memengaruhi domain kognitif seperti perhatian, memori, fungsi eksekutif, kemampuan pemecahan masalah, dan kognisi sosial. Risiko yang teridentifikasi meliputi beban kognitif berlebih, rentang perhatian yang berkurang, dan keterampilan sosial yang terganggu.
Penelitian di Bangladesh menemukan bahwa penggunaan ponsel pintar bermasalah pada anak prasekolah dikaitkan dengan berbagai masalah kesehatan fisik dan mental, termasuk gejala mirip ADHD (Attention Deficit Hyperactivity Disorder), ketidakstabilan emosional, agresivitas, depresi, gangguan penglihatan dan pendengaran, obesitas, ketidakseimbangan tubuh, dan hambatan perkembangan otak (Abdulla et al., 2023).
Dampak pada Regulasi Emosi dan Perilaku
Studi Jusienė et al. (2025) terhadap 754 anak prasekolah menemukan bahwa reaktivitas emosional merupakan prediktor terkuat masalah perilaku eksternalisasi pada anak. Meskipun peran waktu layar relatif kecil, penelitian ini menunjukkan bahwa tekanan psikologis orang tua berhubungan positif dengan reaktivitas emosional anak dan waktu layar. Model persamaan struktural menunjukkan bahwa reaktivitas emosional anak berhubungan dengan masalah perilaku baik secara langsung maupun tidak langsung melalui tekanan orang tua, koping berbasis media, dan peningkatan waktu layar.
Dampak pada Tidur dan Kesehatan Fisik
Penggunaan gawai, terutama menjelang waktu tidur, dapat mengganggu kualitas tidur anak. Cahaya biru yang dipancarkan layar menghambat produksi melatonin, hormon yang mengatur siklus tidur-bangun. Penelitian Ge et al. (2025) terhadap kohort ABCD menemukan bahwa faktor-faktor pengasuhan di awal remaja berhubungan dengan hasil tidur remaja empat tahun kemudian, dengan penggunaan layar dan regulasi emosi berperan sebagai mediator.
Di Iran, penelitian menemukan korelasi positif antara kecanduan ponsel pintar dan ketidaknyamanan pada mata, leher, pergelangan tangan, bahu, dan punggung atas pada anak-anak (Mokhtarinia et al., 2022).
Mengenali Tanda-tanda Penggunaan Gawai Bermasalah
Beberapa tanda yang perlu diwaspadai orang tua meliputi: anak terus-menerus mencari hiburan dari gawai dan aktivitas lain seperti bermain di luar atau dengan mainan fisik tidak lagi menarik; anak mencuri-curi waktu bermain gawai ketika orang tua sibuk; tantrum, iritabilitas, atau menangis ketika waktu layar berakhir; anak meniru karakter atau adegan dari tayangan yang ditonton dalam aktivitas sehari-hari secara berlebihan; serta anak lebih menikmati kebersamaan dengan gawai dibandingkan dengan teman sebaya atau keluarga.
Chou et al. (2022) dalam penelitian terhadap remaja dengan ADHD menemukan bahwa usia anak yang lebih tua, gejala Oppositional Defiant Disorder (ODD) yang lebih berat, dan penggunaan ponsel pintar bermasalah yang lebih parah secara signifikan berhubungan dengan efikasi orang tua yang lebih rendah dalam mengelola penggunaan ponsel pintar anak.
Panduan Waktu Layar Berdasarkan Usia
Berbagai organisasi kesehatan telah mengeluarkan rekomendasi waktu layar untuk anak. WHO merekomendasikan tidak ada paparan layar untuk bayi di bawah 1 tahun, tidak ada waktu layar untuk anak usia 1 tahun dan maksimal 1 jam untuk anak usia 2 tahun (dengan lebih sedikit lebih baik), serta maksimal 1 jam per hari untuk anak usia 3-4 tahun (World Health Organization, 2019).
American Academy of Child and Adolescent Psychiatry (AACAP) memberikan panduan yang sedikit berbeda: hindari waktu layar untuk anak di bawah 18 bulan kecuali panggilan video dengan keluarga; untuk anak usia 18-24 bulan, waktu layar sebaiknya terbatas pada program edukatif dengan pendampingan orang dewasa; untuk anak usia 2-5 tahun, batasi waktu layar non-edukatif sekitar 1 jam di hari sekolah dan 3 jam di akhir pekan; untuk anak usia sekolah dan lebih tua, tetapkan batasan yang jelas dan pastikan media tidak mengganggu tidur, olahraga, atau perilaku sehat lainnya.
Penting untuk dicatat bahwa American Academy of Pediatrics sejak 2016 tidak lagi merekomendasikan batasan waktu layar yang kaku untuk anak usia sekolah dan remaja. Sebaliknya, mereka menekankan pentingnya kualitas interaksi dengan media digital, bukan hanya kuantitasnya.
Strategi untuk Orang Tua
Menjadi Teladan yang Baik
Anak-anak mengamati dan meniru perilaku orang tua. Jika orang tua sendiri terus-menerus menggunakan ponsel di depan anak, sulit untuk mengajarkan batasan yang sehat. Penelitian menunjukkan bahwa pemodelan penggunaan media yang bertanggung jawab oleh orang tua sangat penting dalam membentuk kebiasaan anak.
Menciptakan Rutinitas dan Batasan yang Jelas
Tinjauan sistematis oleh Lestari et al. (2024) menemukan bahwa intervensi yang meningkatkan kompetensi anak dalam berperilaku daring yang tepat dan literasi digital lebih efektif dibandingkan intervensi yang memaksa anak mengurangi waktu layar. Beberapa strategi yang dapat diterapkan meliputi: menetapkan zona bebas gawai di rumah, seperti ruang makan dan kamar tidur; membuat jadwal waktu layar yang konsisten dan disepakati bersama; menggunakan waktu layar bersama anak untuk mendampingi dan berdiskusi tentang konten; serta menerapkan jeda minimal 30 menit hingga 1 jam sebelum waktu tidur tanpa layar.
Menyediakan Aktivitas Alternatif
Jangan biarkan anak kebingungan mencari kegiatan setelah waktu layar dikurangi. Gantikan dengan aktivitas bermakna seperti bermain di luar ruangan, olahraga, atau aktivitas fisik lainnya; membaca buku bersama atau bercerita; bermain permainan tradisional atau permainan papan keluarga; kegiatan seni dan kerajinan; serta waktu bermain bebas yang memungkinkan kreativitas.
Meningkatkan Interaksi Orang Tua-Anak
Studi Huang et al. (2024) menemukan bahwa waktu membaca bersama orang tua-anak secara signifikan memoderasi hubungan antara waktu layar dan perubahan topologi otak pada anak usia dini. Ini memberikan bukti bahwa interaksi berkualitas dapat menjadi faktor protektif.
Menggunakan Pendekatan Positif, Bukan Konfrontatif
Para ahli menyarankan agar orang tua menghindari pendekatan konfrontatif langsung ketika menghadapi anak dengan ketergantungan digital. Lebih baik menggunakan teknik wawancara motivasional yang mendorong anak untuk mengidentifikasi sendiri masalah yang mereka hadapi dan menjadi otoritas bagi diri mereka sendiri.
Memperhatikan Kebutuhan Emosional yang Mendasari
Terkadang penggunaan gawai berlebihan merupakan gejala dari masalah yang lebih dalam seperti kecemasan, depresi, atau isolasi sosial. Jika anak menggunakan layar untuk mengatasi rasa sakit emosional, penting untuk menangani akar masalahnya, bukan hanya gejalanya.
Kapan Perlu Mencari Bantuan Profesional
Orang tua perlu mempertimbangkan untuk berkonsultasi dengan profesional kesehatan mental jika penggunaan gawai anak menyebabkan penurunan prestasi akademik yang signifikan; anak menunjukkan ketidakmampuan untuk mengontrol penggunaan meskipun sudah ada konsekuensi negatif; terjadi penarikan sosial yang parah dari interaksi dunia nyata; muncul gejala gangguan tidur, kecemasan, atau depresi yang terkait dengan penggunaan layar; atau terjadi konflik keluarga yang intens seputar penggunaan gawai.
Kesimpulan
Tantrum dan kesulitan fokus ketika gawai diambil bukanlah sekadar masalah perilaku sederhana—ini merupakan manifestasi dari perubahan kompleks dalam otak dan regulasi emosi anak yang disebabkan oleh paparan layar berlebihan. Sebagai orang tua, memahami mekanisme ini membantu kita untuk tidak menyalahkan anak, tetapi mengambil langkah-langkah strategis untuk membantu mereka.
Kunci utamanya adalah keseimbangan: teknologi bukanlah musuh, tetapi penggunaannya perlu dikelola dengan bijak. Dengan menetapkan batasan yang jelas, menjadi teladan, menyediakan aktivitas alternatif yang menarik, dan mempertahankan interaksi orang tua-anak yang berkualitas, kita dapat membantu anak mengembangkan hubungan yang sehat dengan teknologi sambil tetap mengembangkan keterampilan regulasi emosi dan kognitif yang mereka butuhkan untuk masa depan.
Perjalanan ini membutuhkan kesabaran dan konsistensi. Perubahan tidak akan terjadi dalam semalam, tetapi setiap langkah kecil menuju keseimbangan yang lebih baik adalah investasi berharga bagi perkembangan anak kita.
Referensi
Abdulla, F., Hossain, M. M., Huq, M. N., Hai, A., Rahman, A., Kabir, R., Peya, F. J., Islam, S., & Khan, H. T. A. (2023). Prevalence, determinants and consequences of problematic smartphone use among preschoolers (3-5 years) from Dhaka, Bangladesh: A cross-sectional investigation. Journal of Affective Disorders, 329, 413-427. https://doi.org/10.1016/j.jad.2023.02.094
American Academy of Child and Adolescent Psychiatry. (2020). Screen time and children. https://www.aacap.org/AACAP/Families_and_Youth/Facts_for_Families/FFF-Guide/Children-And-Watching-TV-054.aspx
Çelebi, S. B., Binokay, H., Gürbüz, A. A., Dağ, C., & Teke, H. (2026). A multidimensional examination of temperament, problematic media use, emotion regulation, behavioural problems and developmental outcomes in preschool children. International Journal of Developmental Neuroscience, 86(1), e70089. https://doi.org/10.1002/jdn.70089
Chou, W.-J., Hsiao, R. C., & Yen, C.-F. (2022). Parental efficacy in managing smartphone use of adolescents with attention-deficit/hyperactivity disorder: Parental and adolescent related factors. International Journal of Environmental Research and Public Health, 19(15), 9505. https://doi.org/10.3390/ijerph19159505
Clemente-Suárez, V. J., Beltrán-Velasco, A. I., Herrero-Roldán, S., Rodriguez-Besteiro, S., Martínez-Guardado, I., Martín-Rodríguez, A., & Tornero-Aguilera, J. F. (2024). Digital device usage and childhood cognitive development: Exploring effects on cognitive abilities. Children, 11(11), 1299. https://doi.org/10.3390/children11111299
Ge, R., Whittle, S., Khor, S. P. H., Yap, M. B. H., Bei, B., & Cropley, V. (2025). Modifiable parental factors and adolescent sleep during early adolescence. JAMA Network Open, 8(9), e2531333. https://doi.org/10.1001/jamanetworkopen.2025.31333
Huang, P., Chan, S. Y., Ngoh, Z. M., Ong, Z. Y., Low, X. Z., Law, E. C., Gluckman, P. D., Kee, M. Z. L., Fortier, M. V., Chong, Y. S., Zhou, J. H., Meaney, M. J., & Tan, A. P. (2024). Screen time, brain network development and socio-emotional competence in childhood: Moderation of associations by parent-child reading. Psychological Medicine, 54(9), 1992-2003. https://doi.org/10.1017/S0033291724000084
Jusienė, R., Breidokienė, R., Baukienė, E., & Rakickienė, L. (2025). Emotional reactivity and behavioral problems in preschoolers: The interplay of parental stress, media-related coping, and child screen time. Children, 12(2), 188. https://doi.org/10.3390/children12020188
Lestari, I., Indriasari, T. D., & Putra, P. S. (2024). Preventive interventions for internet addiction in young children: Systematic review. JMIR Mental Health, 11, e56896. https://doi.org/10.2196/56896
Mokhtarinia, H. R., Torkamani, M. H., Farmani, O., Biglarian, A., & Gabel, C. P. (2022). Smartphone addiction in children: Patterns of use and musculoskeletal discomfort during the COVID-19 pandemic in Iran. BMC Pediatrics, 22(1), 681. https://doi.org/10.1186/s12887-022-03748-7
Wan, X., Kang, X., Chen, S., Du, J., Yan, F., & Bai, Y. (2025). Analysis of the impact of parents’ electronic screen time habits, young children’s screen exposure and parent-child interaction on language development delay in young children. Frontiers in Pediatrics, 13, 1667048. https://doi.org/10.3389/fped.2025.1667048
Wang, X., Qiao, Y., & Wang, S. (2022). Parental phubbing, problematic smartphone use, and adolescents’ learning burnout: A cross-lagged panel analysis. Journal of Affective Disorders, 320, 442-449. https://doi.org/10.1016/j.jad.2022.09.163
World Health Organization. (2019). Guidelines on physical activity, sedentary behaviour and sleep for children under 5 years of age. https://www.who.int/publications/i/item/9789241550536

Tinggalkan komentar