BAB 1. Pendahuluan
1.1 Latar Belakang
Resistensi antimikroba (AMR) merupakan salah satu tantangan kesehatan masyarakat global yang semakin mengkhawatirkan. Di Indonesia, beban penyakit infeksi yang tinggi, penggunaan antibiotik yang tidak rasional, serta lemahnya sistem surveilans mempercepat muncul dan penyebaran mikroorganisme resisten. Untuk menanggulangi hal ini, Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (Kemenkes RI) telah menerbitkan berbagai regulasi dan program, termasuk Program Pengendalian Resistensi Antimikroba (PPRA) di rumah sakit.
WHONET adalah perangkat lunak gratis yang dikembangkan oleh WHO Collaborating Centre for Surveillance of Antimicrobial Resistance. Aplikasi ini dirancang untuk membantu laboratorium mikrobiologi dalam mengelola, menganalisis, dan melaporkan data uji kepekaan antimikroba (AST) secara terstandar. Penggunaan WHONET di rumah sakit Indonesia telah menjadi bagian penting dalam mendukung pelaksanaan PPRA, pelaporan nasional, dan integrasi dengan sistem surveilans global seperti GLASS (Global Antimicrobial Resistance Surveillance System).
1.2 Tujuan Modul
Modul ini disusun sebagai panduan praktis bagi laboratorium mikrobiologi rumah sakit di Indonesia dalam mengimplementasikan WHONET untuk surveilans AMR. Modul ini mengacu pada regulasi dan pedoman resmi Kemenkes RI, WHO Indonesia, dan Komite Pengendalian Resistensi Antimikroba (KPRA), serta materi pelatihan WHONET terbaru.
BAB 2. Regulasi dan Kebijakan Nasional Terkait Surveilans AMR dan WHONET
2.1 Regulasi Kementerian Kesehatan RI
2.1.1 Permenkes No. 8 Tahun 2015 tentang PPRA
Permenkes No. 8 Tahun 2015 mewajibkan setiap rumah sakit membentuk Tim/Komite PPRA yang bertanggung jawab atas pelaksanaan program pengendalian resistensi antimikroba. Salah satu tugas utama PPRA adalah melakukan surveilans pola resistensi antimikroba secara berkala dan melaporkan hasilnya ke Kemenkes RI.
2.1.2 Permenkes dan Kebijakan Terkait Lainnya
- Permenkes No. 27 Tahun 2017: Pedoman Pencegahan dan Pengendalian Infeksi di Fasilitas Pelayanan Kesehatan.
- Permenkes No. 28 Tahun 2021: Pedoman Penggunaan Antibiotik.
- Permenkes No. 34 Tahun 2017: Akreditasi Rumah Sakit.
- Keputusan Menkes No. HK.01.07/MENKES/55/2020: Pembentukan KPRA Nasional.
2.1.3 Rencana Aksi Nasional Pengendalian Resistensi Antimikroba (RAN PRA)
RAN PRA 2020–2024 (Permenko PMK No. 7 Tahun 2021) menegaskan pentingnya surveilans AMR berbasis laboratorium, penguatan kapasitas laboratorium, dan pelaporan data AMR secara terintegrasi menggunakan sistem seperti WHONET.
2.2 Peran KPRA dan WHO Indonesia
KPRA bertugas menyusun strategi, memberikan rekomendasi kebijakan, serta mengembangkan pedoman teknis dan pelatihan terkait surveilans AMR dan penggunaan WHONET di fasilitas pelayanan kesehatan. WHO Indonesia mendukung pelatihan, penguatan laboratorium, dan integrasi data surveilans nasional dengan sistem global.
2.3 Kewajiban Pelaporan dan Standar Laporan
Rumah sakit wajib melakukan pelaporan hasil surveilans AMR (antibiogram, peta kuman, dan indikator lain) secara periodik ke Kemenkes RI sesuai format yang ditetapkan dalam pedoman PPRA dan surat edaran pelaporan PPRA.
BAB 3. Panduan Teknis dan Materi Pelatihan WHONET
3.1 Sumber Panduan Resmi
- Pedoman Teknis dan Juknis: Diterbitkan oleh Kemenkes RI, KPRA, dan WHO Indonesia, tersedia di situs resmi Kemenkes dan WHONET.
- Modul Pelatihan dan Video Tutorial: WHONET Training Center menyediakan tutorial, slide, dan video pelatihan berbahasa Indonesia dan Inggris.
- Materi Pelatihan Nasional: KPRA dan Kemenkes RI secara rutin mengadakan pelatihan dan workshop penggunaan WHONET untuk laboratorium rumah sakit.
3.2 Standar Kompetensi dan Kurikulum Pelatihan
Pelatihan staf laboratorium mencakup:
- Konfigurasi laboratorium di WHONET
- Input data AST dan validasi data
- Analisis data dan pembuatan antibiogram
- Penggunaan BacLink untuk konversi data dari LIS
- Manajemen file, backup, dan keamanan data.
BAB 4. Konfigurasi Awal Laboratorium di WHONET
4.1 Langkah-Langkah Membuat Konfigurasi ‘New Laboratory’
4.1.1 Membuka WHONET dan Membuat Laboratorium Baru
- Buka aplikasi WHONET.
- Pilih menu “New Laboratory”.
- Isi data berikut:
- Country: Pilih “Indonesia”.
- Laboratory Name: Nama rumah sakit/laboratorium.
- Laboratory Code: Kode singkat (3 huruf, misal: RSD untuk RS Delta).
- Jenis laboratorium: Human/Animal/Food/Environment sesuai kebutuhan.
4.1.2 Tabel Contoh Konfigurasi Awal Laboratorium
| Parameter | Contoh Isian | Keterangan |
|---|---|---|
| Country | Indonesia | Pilih sesuai negara |
| Laboratory Name | RS Delta Surya | Nama lengkap rumah sakit |
| Laboratory Code | RSD | Kode laboratorium (3 huruf) |
| Laboratory Type | Human | Jenis laboratorium |
| Contact Person | dr. Andi, SpMK | Penanggung jawab lab |
Penjelasan:
Konfigurasi awal ini penting untuk identifikasi data pada tingkat nasional dan internasional. Kode laboratorium akan digunakan dalam penamaan file data dan pelaporan.
4.2 Pemilihan Pedoman Interpretasi AST
4.2.1 CLSI dan EUCAST
- CLSI (Clinical and Laboratory Standards Institute): Merupakan standar yang paling umum digunakan di Indonesia, sesuai rekomendasi Kemenkes dan KPRA.
- EUCAST (European Committee on Antimicrobial Susceptibility Testing): Mulai diadopsi di beberapa negara Asia Tenggara, namun di Indonesia masih dominan CLSI.
Catatan:
Pilih “CLSI” pada menu “Guidelines” saat konfigurasi antibiotik di WHONET. Jika laboratorium ingin menggunakan EUCAST, pastikan seluruh panel AST dan interpretasi breakpoint telah disesuaikan dan dikomunikasikan dengan KPRA/Kemenkes RI.
4.2.2 Pengaturan Antibiotik dan Breakpoint
- Pilih antibiotik yang rutin diuji di laboratorium (misal: ampicillin, ceftriaxone, ciprofloxacin, gentamicin, imipenem, vancomycin, dll).
- WHONET secara otomatis mengatur breakpoint sesuai guideline yang dipilih.
- Breakpoint dapat dilihat dan disesuaikan pada menu “Breakpoints”.
4.2.3 Tabel Panel Antibiotik Umum
| Organisme | Antibiotik Panel (CLSI) |
|---|---|
| E. coli, K. pneumoniae | Ampicillin, Ceftriaxone, Ciprofloxacin, Gentamicin, Imipenem, Trimethoprim/Sulfamethoxazole |
| S. aureus | Cefoxitin, Erythromycin, Penicillin, Trimethoprim/Sulfamethoxazole, Vancomycin |
| S. pneumoniae | Erythromycin, Trimethoprim/Sulfamethoxazole, Vancomycin, Penicillin (Etest), Ceftriaxone (Etest) |
Penjelasan:
Panel antibiotik dapat disesuaikan dengan kebutuhan rumah sakit dan ketersediaan reagen. Pastikan panel sesuai dengan pedoman nasional dan kebutuhan analisis PPRA.
4.3 Pengaturan Lokasi Pasien dan Data Fields
- Tambahkan lokasi-lokasi utama (ICU, rawat inap, rawat jalan, laboratorium, dsb).
- Atur data fields: nomor rekam medis, nama pasien, tanggal lahir, jenis kelamin, lokasi, nomor spesimen, tanggal spesimen, jenis spesimen, organisme, hasil AST, dsb.
BAB 5. Prosedur Standar Input Data di WHONET
5.1 Input Data Pasien dan Spesimen
5.1.1 Data Pasien
- Nomor Rekam Medis: Wajib, untuk identifikasi unik.
- Nama Pasien: Opsional, dapat dienkripsi untuk privasi.
- Tanggal Lahir/Umur: Untuk analisis demografi.
- Jenis Kelamin: Laki-laki/Perempuan.
5.1.2 Data Spesimen
- Nomor Spesimen: Unik untuk setiap pengambilan.
- Tanggal Pengambilan: Format DD/MM/YYYY.
- Jenis Spesimen: Darah, urin, sputum, pus, cairan serebrospinal, dsb.
- Lokasi Pasien: ICU, rawat inap, rawat jalan, dsb.
5.1.3 Data Isolat dan AST
- Organisme: Pilih dari daftar kode WHONET (misal: eco untuk E. coli, sau untuk S. aureus).
- Serotipe/Subspesies: Jika tersedia.
- Hasil AST: Input diameter zona (mm) untuk disk diffusion atau nilai MIC (μg/ml) untuk Etest/otomatisasi.
- Interpretasi: S (Susceptible), I (Intermediate), R (Resistant) – otomatis oleh WHONET.
5.1.4 Tabel Format Input Data Standar
| Field | Contoh Isian | Keterangan |
|---|---|---|
| No. RM | 123456 | Nomor rekam medis |
| Nama Pasien | Budi Santoso | Opsional |
| Tgl Lahir | 01/01/1980 | Format DD/MM/YYYY |
| Jenis Kelamin | L | L/P |
| Lokasi | ICU | Kode lokasi |
| No. Spesimen | 20240101-001 | Unik per spesimen |
| Tgl Spesimen | 01/01/2024 | |
| Jenis Spesimen | Darah | |
| Organisme | eco | Kode WHONET |
| AST (AMP) | 6 | Diameter zona (mm) |
| AST (CRO) | 22 | Diameter zona (mm) |
| AST (CIP) | 18 | Diameter zona (mm) |
| … | … | … |
Penjelasan:
Input data harus konsisten dan lengkap untuk memastikan validitas analisis. WHONET menyediakan validasi otomatis dan alert jika ada data yang tidak sesuai atau hasil AST di luar rentang QC.
5.2 Prosedur Input Data Manual dan Otomatis
- Manual: Input satu per satu melalui menu “Data Entry”.
- Otomatis: Menggunakan BacLink untuk konversi data dari LIS (lihat BAB 6).
5.3 Validasi Data dan Quality Control
- Gunakan strain QC (misal: E. coli ATCC 25922, S. aureus ATCC 25923) secara rutin.
- WHONET akan memberikan alert jika hasil QC di luar rentang.
- Lakukan pemeriksaan konsistensi data (tanggal, kode, hasil AST) secara berkala.
BAB 6. Integrasi Data dari LIS ke WHONET dengan BacLink
6.1 Pengantar BacLink
BacLink adalah utilitas resmi dari WHO untuk mengonversi data mikrobiologi dari berbagai sistem LIS (Laboratory Information System) ke format WHONET. BacLink mendukung berbagai format file (CSV, TXT, Excel, Access, dBASE, dsb) dan dapat digunakan untuk LIS populer di Indonesia seperti SIRS, SIMRS, Meditech, Vitek, MicroScan, dsb.
6.2 Format File Ekspor dari LIS
6.2.1 Kolom Minimal yang Diperlukan
| Field | Keterangan |
|---|---|
| Nomor Rekam Medis | Unik per pasien |
| Nama Pasien | Opsional |
| Jenis Kelamin | L/P |
| Tanggal Lahir | Format DD/MM/YYYY |
| Lokasi Pasien | Kode lokasi/ruangan |
| Nomor Spesimen | Unik per spesimen |
| Tanggal Spesimen | Format DD/MM/YYYY |
| Jenis Spesimen | Darah, urin, dsb |
| Organisme | Nama/kode isolat |
| Antibiotik | Nama/kode antibiotik |
| Hasil AST | Diameter zona/MIC/interpretasi |
6.2.2 Dua Model Struktur Data
- Satu Isolat per Baris: Semua hasil AST dalam satu baris.
- Satu Antibiotik per Baris: Setiap baris satu hasil AST.
Contoh Format Satu Isolat per Baris:
| Nama | Lokasi | Spesimen | Tgl | Organisme | PEN | ERY | VAN |
|---|---|---|---|---|---|---|---|
| John | ICU | Darah | … | S. aureus | R | R | S |
Contoh Format Satu Antibiotik per Baris:
| Nama | Lokasi | Spesimen | Tgl | Organisme | Antibiotik | Hasil |
|---|---|---|---|---|---|---|
| John | ICU | Darah | … | S. aureus | PEN | R |
6.3 Langkah-Langkah Konversi Data dengan BacLink
- Ekspor data dari LIS ke file teks/CSV sesuai format di atas.
- Buka BacLink dan pilih “New Format”.
- Isi detail laboratorium: negara, nama, kode.
- Tentukan struktur file: lokasi file, nama file, format (CSV/TXT).
- Mapping kolom: sesuaikan field LIS dengan field WHONET.
- Mulai konversi: BacLink akan menampilkan preview 3 isolat pertama untuk verifikasi.
- Definisikan kode lokal: mapping kode organisme, spesimen, antibiotik, lokasi ke standar WHONET.
- Jalankan konversi ulang jika ada kode baru yang belum dikenali.
- Hasil file WHONET siap dianalisis di aplikasi WHONET.
6.3.1 Tabel Kolom Minimal File Ekspor LIS
| Kolom | Contoh Data | Keterangan |
|---|---|---|
| MRN | 123456 | Nomor rekam medis |
| Nama | Budi | Opsional |
| Sex | L | |
| DOB | 01/01/1980 | |
| Lokasi | ICU | |
| Spesimen | Darah | |
| Tgl Spesimen | 01/01/2024 | |
| Organisme | eco | Kode WHONET |
| Antibiotik | AMP | Kode WHONET |
| Hasil | 6 | Diameter zona/MIC/Interpretasi |
6.4 Tips Praktis
- Lakukan mapping kode secara konsisten dan dokumentasikan.
- Simpan konfigurasi BacLink untuk digunakan pada ekspor berikutnya.
- Konsultasikan dengan IT rumah sakit jika ada kendala pada ekspor data LIS.
BAB 7. Analisis Data dan Pembuatan Laporan Antibiogram/PPRA
7.1 Analisis Data di WHONET
7.1.1 Membuka Menu Analisis
- Pilih laboratorium dan data file yang akan dianalisis.
- Klik “Data Analysis”.
7.1.2 Jenis Analisis Utama
- %RIS and Test Measurements: Statistik S/I/R dan distribusi hasil AST.
- Summary: Ringkasan %S (persentase kepekaan) per organisme dan antibiotik.
- Isolate Listing and Summary: Daftar isolat sesuai kriteria tertentu (misal: MRSA, ICU, dsb).
7.1.3 Langkah Membuat Antibiogram
- Pilih “Analysis Type” → “%RIS and Test Measurements” atau “Summary”.
- Pilih organisme target (misal: E. coli, K. pneumoniae, S. aureus).
- Pilih data file periode satu tahun terakhir.
- Pilih “All antibiotics” atau panel tertentu.
- Pilih “One per patient” → “First isolate only” untuk menghindari duplikasi.
- Jalankan analisis dan simpan hasil tabel/graph ke Excel jika diperlukan.
7.1.4 Tabel Format Laporan Antibiogram
| Organisme | Antibiotik | n (isolat) | %S | %I | %R |
|---|---|---|---|---|---|
| E. coli | Ampicillin | 100 | 35 | 10 | 55 |
| E. coli | Ceftriaxone | 100 | 60 | 5 | 35 |
| K. pneumoniae | Imipenem | 80 | 90 | 5 | 5 |
| S. aureus | Cefoxitin | 70 | 80 | 10 | 10 |
Penjelasan:
Tabel ini dapat langsung digunakan untuk laporan PPRA tahunan rumah sakit dan pelaporan ke Kemenkes RI.
7.2 Format Laporan PPRA Rumah Sakit
7.2.1 Elemen Wajib Laporan
- Profil rumah sakit (nama, alamat, tipe, jumlah TT, dsb)
- Data penggunaan antibiotik (kuantitatif: DDD/100 patient days, kualitatif: audit Gyssens)
- Data antibiogram (pola kuman dan kepekaan)
- Surveilans MDRO (ESBL, MRSA, CRE, dsb)
- Kegiatan edukasi, audit, dan kendala pelaksanaan.
7.2.2 Tabel Format Laporan PPRA
| No | Nama Bakteri | n | AMP | CRO | CIP | GEN | IPM | SXT |
|---|---|---|---|---|---|---|---|---|
| 1 | Escherichia coli | 100 | 35% | 60% | 70% | 80% | 90% | 50% |
| 2 | Klebsiella pneumoniae | 80 | 30% | 55% | 65% | 75% | 85% | 45% |
| 3 | Staphylococcus aureus | 70 | 60% | 80% | 85% | 90% | 95% | 70% |
Penjelasan:
Kolom antibiotik dapat disesuaikan dengan panel yang diuji di laboratorium. Data %S diambil dari hasil analisis WHONET.
BAB 8. Validasi Data, Quality Control, dan Backup Data
8.1 Validasi Data dan Quality Control
8.1.1 Quality Control Strains
- Gunakan strain referensi (misal: E. coli ATCC 25922, S. aureus ATCC 25923) setiap hari kerja.
- Input hasil QC ke WHONET, periksa apakah hasil dalam rentang yang ditetapkan oleh CLSI.
- WHONET akan memberikan alert jika hasil di luar rentang QC.
8.1.2 Pemeriksaan Konsistensi Data
- Lakukan audit data secara berkala (misal: bulanan).
- Periksa konsistensi tanggal, kode organisme, hasil AST, dan interpretasi.
- Gunakan fitur “Alerts” di WHONET untuk mendeteksi hasil yang tidak lazim atau kemungkinan error laboratorium.
8.2 Backup dan Manajemen File
8.2.1 Prosedur Backup Rutin
- Simpan file data WHONET (.wth) dan file konfigurasi laboratorium (.lab) secara berkala ke media eksternal (USB, server, cloud).
- Lakukan backup minimal mingguan, atau lebih sering jika volume data tinggi.
- Simpan backup di lokasi terpisah dari komputer utama untuk mitigasi risiko kehilangan data akibat kerusakan/peretasan.
8.2.2 Tabel Jadwal Backup
| Frekuensi | File yang Dibackup | Lokasi Backup |
|---|---|---|
| Harian | Data file (*.wth) | Server/USB/Cloud |
| Mingguan | Konfigurasi lab (*.lab) | Server/USB/Cloud |
| Bulanan | Seluruh folder WHONET | Server/USB/Cloud |
8.3 Keamanan Data dan Hak Akses
- Atur hak akses pengguna di komputer/laptop laboratorium.
- Gunakan password untuk proteksi file dan aplikasi.
- Audit trail: simpan log aktivitas akses dan perubahan data.
- Enkripsi data jika akan dikirim ke pihak eksternal/nasional.
BAB 9. Integrasi dengan Program Nasional dan Pelaporan
9.1 Integrasi dengan Surveilans Nasional dan GLASS
- Data WHONET digunakan untuk pelaporan ke Kemenkes RI dan integrasi dengan sistem surveilans nasional (GLASS, InFARM, dsb).
- Pastikan format data sesuai dengan template nasional (misal: format file, kode laboratorium, periode pelaporan).
- Lakukan pelaporan sesuai jadwal yang ditetapkan oleh Kemenkes RI/PPRA (biasanya tahunan atau semesteran).
9.2 Prosedur Pelaporan
- Analisis data dan buat antibiogram sesuai format nasional.
- Lengkapi dokumen pelaporan PPRA (profil RS, data penggunaan antibiotik, audit, dsb).
- Kirim laporan ke email/portal resmi Kemenkes RI (misal: pprareport.kemenkes@gmail.com) sesuai instruksi surat edaran.
BAB 10. Pelatihan, Edukasi, dan Pengembangan SDM
10.1 Materi Pelatihan dan Modul Edukasi
- Gunakan modul pelatihan resmi dari Kemenkes RI, KPRA, dan WHO Indonesia.
- Materi pelatihan dapat diakses di WHONET Training Center (tutorial, video, slide, latihan praktis).
- Pelatihan mencakup: konfigurasi laboratorium, input data, analisis, penggunaan BacLink, validasi data, backup, dan keamanan.
10.2 Checklist Kompetensi Staf Laboratorium
| Kompetensi | Sudah | Belum |
|---|---|---|
| Konfigurasi laboratorium di WHONET | ✓ | |
| Input data AST manual | ✓ | |
| Konversi data LIS dengan BacLink | ✓ | |
| Analisis data dan antibiogram | ✓ | |
| Validasi dan QC data | ✓ | |
| Backup dan manajemen file | ✓ | |
| Pelaporan PPRA | ✓ |
10.3 Pengembangan Berkelanjutan
- Ikuti pelatihan berkala yang diadakan oleh KPRA/Kemenkes/WHO.
- Update aplikasi WHONET dan BacLink secara rutin untuk mendapatkan fitur terbaru dan kompatibilitas dengan guideline terbaru (CLSI/EUCAST).
- Berpartisipasi dalam forum diskusi dan jejaring laboratorium nasional.
BAB 11. Penutup dan Rangkuman
11.1 Rangkuman Kunci
- WHONET adalah alat utama untuk surveilans AMR di rumah sakit Indonesia, mendukung pelaksanaan PPRA dan pelaporan nasional.
- Regulasi Kemenkes RI mewajibkan surveilans AMR dan pelaporan rutin oleh rumah sakit.
- Konfigurasi laboratorium di WHONET harus sesuai dengan standar nasional (nama, kode, guideline AST, panel antibiotik).
- Input data harus lengkap, konsisten, dan tervalidasi, baik manual maupun otomatis melalui BacLink.
- Analisis data dan pembuatan antibiogram wajib mengikuti format laporan PPRA nasional.
- Backup dan keamanan data harus menjadi prioritas untuk menjaga integritas dan kerahasiaan data surveilans.
- Pelatihan dan pengembangan SDM sangat penting untuk keberlanjutan program surveilans AMR.
11.2 Saran Implementasi
- Bentuk tim PPRA yang solid dan libatkan semua pemangku kepentingan (laboratorium, farmasi, manajemen RS).
- Lakukan audit internal dan eksternal secara berkala untuk memastikan kepatuhan terhadap standar.
- Manfaatkan jejaring laboratorium nasional dan dukungan teknis dari KPRA/Kemenkes/WHO untuk troubleshooting dan pengembangan kapasitas.
Lampiran
Lampiran 1. Tabel Konfigurasi Awal Laboratorium
| Parameter | Contoh Isian |
|---|---|
| Country | Indonesia |
| Laboratory Name | RS Delta Surya |
| Laboratory Code | RSD |
| Laboratory Type | Human |
| Contact Person | dr. Andi, SpMK |
Lampiran 2. Format Input Data Standar
| No. RM | Nama | Sex | DOB | Lokasi | No. Spesimen | Tgl Spesimen | Jenis Spesimen | Organisme | AMP | CRO | CIP | GEN | IPM | SXT |
|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|
| 123456 | Budi | L | 01/01/80 | ICU | 20240101-001 | 01/01/2024 | Darah | eco | 6 | 22 | 18 | 15 | 12 | 19 |
Lampiran 3. Format Laporan Antibiogram/PPRA
| Organisme | Antibiotik | n (isolat) | %S | %I | %R |
|---|---|---|---|---|---|
| E. coli | Ampicillin | 100 | 35 | 10 | 55 |
| E. coli | Ceftriaxone | 100 | 60 | 5 | 35 |
| K. pneumoniae | Imipenem | 80 | 90 | 5 | 5 |
| S. aureus | Cefoxitin | 70 | 80 | 10 | 10 |
Modul ini diharapkan dapat menjadi acuan praktis bagi laboratorium mikrobiologi rumah sakit di Indonesia dalam mengimplementasikan WHONET secara optimal, sesuai regulasi nasional dan standar internasional, guna mendukung pengendalian resistensi antimikroba dan peningkatan mutu pelayanan kesehatan.

Tinggalkan komentar