A Cahya Legawa's Les pèlerins au-dessus des nuages

Pendahuluan

Masa remaja adalah periode perkembangan yang penuh dengan perubahan fisik, emosional, dan sosial. Di tengah berbagai tantangan yang dihadapi, kesehatan mental remaja kini menjadi perhatian serius di seluruh dunia, termasuk di Indonesia. Survei Indonesia-National Adolescent Mental Health Survey (I-NAMHS) tahun 2022 mengungkapkan data yang mengejutkan: satu dari tiga remaja Indonesia (34,9%) atau setara dengan 15,5 juta remaja mengalami setidaknya satu masalah kesehatan mental. Gangguan kecemasan menempati posisi tertinggi dengan prevalensi 26,8%, sementara gangguan depresi dialami oleh sekitar 5,3% remaja Indonesia.

Dua faktor yang kerap menjadi pemicu munculnya kecemasan dan depresi ringan pada remaja adalah tekanan akademik serta kebiasaan membandingkan diri dengan orang lain di media sosial. Artikel ini ditujukan bagi para orang tua untuk memahami kedua fenomena tersebut, mengenali tanda-tanda awal gangguan kesehatan mental pada anak, dan mengetahui langkah-langkah yang dapat dilakukan untuk mendukung kesejahteraan psikologis remaja.

Tekanan Akademik: Beban yang Sering Tidak Terlihat

Tekanan akademik merujuk pada stres yang dialami pelajar akibat tuntutan dan ekspektasi terkait prestasi di sekolah. Tekanan ini dapat berasal dari berbagai sumber: kurikulum yang padat, persaingan dengan teman sebaya, persiapan ujian masuk perguruan tinggi, hingga harapan orang tua yang tinggi.

Sebuah penelitian di India yang melibatkan 570 remaja yang mempersiapkan ujian masuk perguruan tinggi menunjukkan bahwa 86% dari mereka mengalami stres akademik tingkat tinggi, dan 87% merasakan tekanan yang besar dari orang tua. Kondisi serupa juga terjadi di berbagai negara Asia lainnya, di mana sistem pendidikan yang kompetitif menciptakan lingkungan yang penuh tekanan bagi remaja.

Di Indonesia, tekanan akademik ini semakin terasa menjelang ujian nasional, seleksi masuk perguruan tinggi, atau bahkan ulangan harian yang beruntun. Remaja yang menghadapi tekanan akademik berkepanjangan tanpa dukungan yang memadai berisiko mengalami berbagai masalah kesehatan mental, mulai dari gangguan kecemasan, depresi, hingga kelelahan mental (burnout).

Penelitian longitudinal dari Polandia menunjukkan bahwa depresi dan stres secara langsung berkontribusi terhadap kelelahan sekolah pada remaja, yang kemudian berdampak pada menurunnya motivasi belajar, meningkatnya ketidakhadiran di sekolah, serta sikap sinis terhadap proses pembelajaran. Kondisi ini menciptakan siklus yang merugikan: tekanan akademik memicu masalah kesehatan mental, yang pada gilirannya menurunkan performa akademik dan semakin memperburuk tekanan yang dirasakan.

Media Sosial dan Perbandingan Sosial

Penggunaan media sosial di kalangan remaja telah meningkat drastis dalam dekade terakhir. Data dari Health Behaviour in School-aged Children (HBSC) yang dipublikasikan oleh WHO Regional Eropa pada tahun 2024 menunjukkan bahwa penggunaan media sosial bermasalah pada remaja meningkat dari 7% pada tahun 2018 menjadi 11% pada tahun 2022. Lebih dari sepertiga (36%) remaja melaporkan kontak terus-menerus dengan teman secara online, dengan angka tertinggi pada remaja perempuan usia 15 tahun (44%).

U.S. Surgeon General’s Advisory menyatakan bahwa remaja yang menghabiskan lebih dari tiga jam sehari di media sosial menghadapi risiko dua kali lipat lebih tinggi mengalami gejala depresi dan kecemasan. Hal yang mengkhawatirkan adalah survei terbaru menunjukkan bahwa rata-rata remaja menghabiskan 3,5 jam sehari di media sosial, melebihi ambang batas yang direkomendasikan.

Salah satu mekanisme utama yang menghubungkan media sosial dengan kesehatan mental adalah perbandingan sosial. Ketika remaja terpapar konten yang menampilkan kehidupan “sempurna” orang lain—baik itu pencapaian akademik, penampilan fisik, gaya hidup, maupun popularitas—mereka cenderung membandingkan diri sendiri dengan standar yang seringkali tidak realistis. Penelitian menunjukkan bahwa perbandingan penampilan fisik di media sosial berperan sebagai mediator yang memperkuat dampak negatif kecanduan media sosial terhadap emosi negatif pada remaja.

Tinjauan sistematis yang dipublikasikan pada tahun 2024 menemukan bahwa mekanisme mediasi dan moderasi yang menghubungkan media sosial dengan depresi dan kecemasan pada anak dan remaja meliputi gangguan tidur, perilaku perbandingan sosial, dan kebutuhan mencari validasi. Remaja perempuan secara konsisten menunjukkan hubungan yang lebih kuat antara durasi penggunaan media sosial dengan gejala kecemasan dan depresi dibandingkan remaja laki-laki.

Mengenali Tanda-Tanda Kecemasan dan Depresi Ringan

Sebagai orang tua, penting untuk mengenali tanda-tanda awal kecemasan dan depresi pada remaja. Deteksi dini memungkinkan intervensi yang tepat waktu sebelum kondisi berkembang menjadi lebih serius.

Tanda-tanda gangguan kecemasan pada remaja meliputi:

  • Rasa khawatir berlebihan yang sulit dikendalikan tentang berbagai hal, termasuk nilai sekolah, hubungan pertemanan, atau masa depan
  • Kesulitan berkonsentrasi atau pikiran yang terus-menerus kosong
  • Mudah lelah meskipun aktivitas tidak terlalu berat
  • Ketegangan otot, sakit kepala, atau keluhan fisik lainnya tanpa penyebab medis yang jelas
  • Gangguan tidur, seperti sulit tidur, tidur tidak nyenyak, atau sering terbangun
  • Menghindari situasi sosial atau aktivitas yang sebelumnya disukai
  • Mudah tersinggung atau gelisah

Tanda-tanda depresi ringan pada remaja meliputi:

  • Perasaan sedih, kosong, atau putus asa yang berkepanjangan
  • Kehilangan minat atau kesenangan pada aktivitas yang biasanya dinikmati
  • Perubahan pola makan (makan berlebihan atau kehilangan nafsu makan)
  • Perubahan pola tidur (tidur terlalu banyak atau insomnia)
  • Kelelahan atau kehilangan energi hampir setiap hari
  • Perasaan tidak berharga atau rasa bersalah yang berlebihan
  • Kesulitan berpikir, berkonsentrasi, atau mengambil keputusan
  • Menarik diri dari keluarga dan teman

Penting untuk dicatat bahwa remaja mungkin tidak selalu mampu mengungkapkan perasaan mereka secara verbal. Perubahan perilaku seperti penurunan nilai akademik yang tiba-tiba, menarik diri dari pergaulan, atau perubahan drastis dalam rutinitas sehari-hari dapat menjadi indikator adanya masalah kesehatan mental yang perlu diperhatikan.

Peran Orang Tua dalam Mendukung Kesehatan Mental Remaja

American Psychological Association (APA) telah mengeluarkan panduan kesehatan terkait penggunaan media sosial pada remaja yang menekankan peran penting orang tua dalam mendampingi anak-anak mereka di era digital. Berikut adalah langkah-langkah yang dapat dilakukan orang tua:

1. Bangun komunikasi yang terbuka dan tanpa menghakimi

Ciptakan suasana di mana anak merasa aman untuk berbagi perasaan dan pengalamannya. Dengarkan dengan empati tanpa langsung memberikan solusi atau kritik. Tanyakan tentang hari-harinya, tekanan yang dirasakan, dan bagaimana perasaannya tentang sekolah serta hubungan pertemanannya. Penelitian menunjukkan bahwa remaja yang memiliki hubungan keluarga yang baik cenderung memiliki kesehatan mental yang lebih baik.

2. Tetapkan batasan yang masuk akal untuk penggunaan media sosial

Pantau dan batasi waktu penggunaan media sosial, terutama menjelang waktu tidur. Penelitian menunjukkan bahwa penggunaan media sosial bermasalah dikaitkan dengan kurang tidur dan waktu tidur yang lebih larut, yang berdampak pada kesehatan secara keseluruhan dan performa akademik. Diskusikan dengan anak tentang alasan di balik batasan tersebut dan libatkan mereka dalam menetapkan aturan yang disepakati bersama.

3. Ajarkan literasi digital dan berpikir kritis

Bantu remaja memahami bahwa konten di media sosial seringkali tidak mencerminkan realitas yang sesungguhnya. Diskusikan tentang penyuntingan foto, kehidupan yang dikurasi, dan bagaimana perbandingan dengan konten tersebut dapat memengaruhi perasaan mereka. Penelitian menunjukkan bahwa remaja yang mampu mengkritisi konten yang mereka lihat secara online cenderung mengalami dampak psikologis yang lebih ringan.

4. Kelola ekspektasi akademik dengan bijak

Hindari memberikan tekanan berlebihan terkait pencapaian akademik. Fokus pada proses belajar, bukan hanya hasil akhir. Hargai usaha dan kemajuan, bukan hanya nilai sempurna. Penelitian menunjukkan bahwa tekanan orang tua yang dipersepsikan tinggi oleh remaja berkontribusi signifikan terhadap tingkat kecemasan mereka.

5. Dorong aktivitas di luar media sosial

Fasilitasi partisipasi remaja dalam kegiatan fisik, hobi, atau aktivitas sosial tatap muka. Olahraga dan aktivitas fisik terbukti memiliki efek positif terhadap kesehatan mental. Interaksi sosial langsung membantu membangun keterampilan sosial yang sehat dan memberikan dukungan emosional yang tidak dapat sepenuhnya digantikan oleh interaksi online.

6. Jadilah contoh yang baik

Remaja belajar dari perilaku orang tua mereka. Tunjukkan penggunaan media sosial yang sehat dan cara mengelola stres dengan baik. Penelitian menunjukkan bahwa penggunaan media sosial oleh orang tua dan pembatasan yang mereka terapkan terhadap penggunaan perangkat di kamar tidur dan saat makan berkorelasi dengan waktu layar yang lebih rendah dan penggunaan yang lebih sehat pada remaja.

Kapan Harus Mencari Bantuan Profesional

Meskipun kecemasan dan depresi ringan dapat ditangani dengan dukungan keluarga dan perubahan gaya hidup, ada kondisi-kondisi yang memerlukan bantuan profesional. Segera konsultasikan dengan tenaga kesehatan mental (psikolog atau psikiater) jika remaja menunjukkan:

  • Gejala yang berlangsung lebih dari dua minggu dan mengganggu fungsi sehari-hari
  • Penurunan drastis dalam performa akademik
  • Penarikan diri yang signifikan dari keluarga dan teman
  • Perubahan perilaku yang ekstrem
  • Ungkapan atau pikiran tentang menyakiti diri sendiri atau bunuh diri
  • Penggunaan alkohol atau zat terlarang sebagai mekanisme koping

Data I-NAMHS menunjukkan bahwa hanya 2,6% remaja Indonesia dengan masalah kesehatan mental yang mengakses layanan kesehatan profesional dalam 12 bulan terakhir. Angka ini jauh di bawah kebutuhan yang sebenarnya. Sebagian remaja mencari pertolongan kepada staf sekolah (38,2%) atau pemuka agama (20,5%), sementara yang mengakses dokter atau tenaga kesehatan hanya 24,3%.

Stigma terhadap masalah kesehatan mental masih menjadi hambatan besar di masyarakat Indonesia. Sebagai orang tua, penting untuk memahami bahwa mencari bantuan profesional bukanlah tanda kelemahan, melainkan langkah bijak untuk memastikan anak mendapatkan dukungan terbaik.

Membangun Ketahanan Mental Remaja

Selain langkah-langkah di atas, orang tua dapat membantu membangun ketahanan mental (resilience) pada remaja yang berfungsi sebagai faktor pelindung terhadap dampak negatif tekanan akademik dan media sosial. Penelitian menunjukkan bahwa dukungan sosial dan ketahanan psikologis melindungi mahasiswa dari efek negatif penggunaan media sosial terhadap kesehatan mental.

Ketahanan mental dapat dibangun melalui pengembangan keterampilan pemecahan masalah, kemampuan mengatur emosi, serta membangun jaringan sosial yang suportif. Dorong remaja untuk mengembangkan perspektif yang realistis tentang kegagalan sebagai bagian dari proses belajar, bukan sebagai cerminan nilai diri mereka.

Penutup

Kecemasan dan depresi ringan pada remaja yang dipicu oleh tekanan akademik dan perbandingan sosial di media sosial adalah fenomena yang semakin umum di era modern. Sebagai orang tua, memahami dinamika ini merupakan langkah pertama dalam mendukung kesehatan mental anak remaja.

Dengan membangun komunikasi yang terbuka, menetapkan batasan yang sehat untuk penggunaan media sosial, mengelola ekspektasi akademik secara bijak, dan mengetahui kapan harus mencari bantuan profesional, orang tua dapat berperan aktif dalam mencegah dan mengatasi masalah kesehatan mental pada remaja. Ingatlah bahwa setiap remaja adalah unik, dan pendekatan yang efektif untuk satu anak mungkin perlu disesuaikan untuk anak lainnya.

Kesehatan mental sama pentingnya dengan kesehatan fisik. Dengan dukungan yang tepat dari keluarga, sekolah, dan lingkungan, remaja dapat menghadapi berbagai tantangan dan tumbuh menjadi individu yang sehat secara mental dan siap menghadapi masa depan.


Daftar Referensi

Ahmed, O., Walsh, E. I., Dawel, A., Alateeq, K., Espinoza Oyarce, D. A., & Cherbuin, N. (2024). Social media use, mental health and sleep: A systematic review with meta-analyses. Journal of Affective Disorders, 367, 701-712. https://doi.org/10.1016/j.jad.2024.08.193

American Psychological Association. (2023). Health advisory on social media use in adolescence. https://www.apa.org/topics/social-media-internet/health-advisory-adolescent-social-media-use

Fruehwirth, J. C., Weng, A. X., & Perreira, K. M. (2024). The effect of social media use on mental health of college students during the pandemic. Health Economics, 33(10), 2229-2252. https://doi.org/10.1002/hec.4871

Galea, S., & Buckley, G. J. (2024). Social media and adolescent mental health: A consensus report of the National Academies of Sciences, Engineering, and Medicine. PNAS Nexus, 3(2), pgae037. https://doi.org/10.1093/pnasnexus/pgae037

Ives, L. S. E., Patón, A. H., Buratti, M. A. F., Pitti, J. Á., Salmerón-Ruiz, M. A., Hernández, P. J. R., & Real-López, M. (2025). Impact of screen and social media use on mental health. Anales de Pediatría, 103(2), 503909. https://doi.org/10.1016/j.anpede.2025.503909

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2023). Depresi pada anak muda di Indonesia. Badan Kebijakan Pembangunan Kesehatan.

Lin, W., Cen, Z., & Chen, Y. (2025). The impact of social media addiction on the negative emotions of adolescent athletes: The mediating role of physical appearance comparisons and sleep. Frontiers in Public Health, 12, 1452769. https://doi.org/10.3389/fpubh.2024.1452769

Markiewicz, K., & Kaczmarek, B. L. J. (2024). Implemental delay as a mediator of the relationship between depression, anxiety, stress and school burnout. PLoS ONE, 19(12), e0316082. https://doi.org/10.1371/journal.pone.0316082

Nagata, J. M., Lee, C. M., Hur, J. O., & Baker, F. C. (2025). What we know about screen time and social media in early adolescence: A review of findings from the Adolescent Brain Cognitive Development Study. Current Opinion in Pediatrics, 37(4), 357-364. https://doi.org/10.1097/MOP.0000000000001462

Nagata, J. M., Al-Shoaibi, A. A. A., Leong, A. W., Zamora, G., Testa, A., Ganson, K. T., & Baker, F. C. (2024). Screen time and mental health: A prospective analysis of the Adolescent Brain Cognitive Development (ABCD) Study. BMC Public Health, 24(1), 2686. https://doi.org/10.1186/s12889-024-20102-x

Pienyu, K., Margaret, B., & D’Souza, A. (2024). Academic stress, perceived parental pressure, and anxiety related to competitive entrance examinations and the general well-being among adolescents. Journal of Education and Health Promotion, 13, 474. https://doi.org/10.4103/jehp.jehp_2094_23

Prakash, G. H., Kumar, D. S., Arun, V., Hegde, S., Yadav, D., & Gopi, A. (2024). Prevalence and correlates of depression, anxiety, and stress among adolescents in urban and rural areas of Mysuru, South India. Journal of Family Medicine and Primary Care, 13(8), 2979-2985. https://doi.org/10.4103/jfmpc.jfmpc_1600_23

Saleem, N., Young, P., & Yousuf, S. (2024). Exploring the relationship between social media use and symptoms of depression and anxiety among children and adolescents: A systematic narrative review. Cyberpsychology, Behavior, and Social Networking, 27(11), 771-797. https://doi.org/10.1089/cyber.2023.0456

U.S. Department of Health and Human Services. (2023). Social media and youth mental health: The U.S. Surgeon General’s Advisory. Office of the Surgeon General.

Weigle, P. E., & Shafi, R. M. A. (2023). Social media and youth mental health. Current Psychiatry Reports, 26(1), 1-8. https://doi.org/10.1007/s11920-023-01478-w

Wilopo, S. A., et al. (2022). Indonesia-National Adolescent Mental Health Survey (I-NAMHS). Pusat Kesehatan Reproduksi Universitas Gadjah Mada.

World Health Organization Regional Office for Europe. (2024, September 25). Teens, screens and mental health. https://www.who.int/europe/news/item/25-09-2024-teens–screens-and-mental-health

Commenting 101: “Be kind, and respect each other” // Bersikaplah baik, dan saling menghormati (Indonesian) // Soyez gentils et respectez-vous les uns les autres (French) // Sean amables y respétense mutuamente (Spanish) // 待人友善,互相尊重 (Chinese) // كونوا لطفاء واحترموا بعضكم البعض (Arabic) // Будьте добры и уважайте друг друга (Russian) // Seid freundlich und respektiert einander (German) // 親切にし、お互いを尊重し合いましょう (Japanese) // दयालु बनें, और एक दूसरे का सम्मान करें (Hindi) // Siate gentili e rispettatevi a vicenda (Italian)

Tinggalkan komentar