Pendahuluan
Kanker tulang merupakan salah satu jenis keganasan yang relatif jarang ditemukan, namun memiliki dampak signifikan terhadap kualitas hidup penderitanya. Berbeda dengan metastasis tulang yang berasal dari kanker organ lain seperti payudara, prostat, atau paru, kanker tulang primer adalah keganasan yang muncul langsung dari jaringan tulang itu sendiri. Meskipun hanya menyumbang sekitar 0,2% dari seluruh keganasan, kanker tulang memerlukan perhatian khusus karena sering menyerang kelompok usia produktif, terutama anak-anak, remaja, dan dewasa muda.
Pada tahun 2021, diperkirakan terdapat lebih dari 91.000 kasus baru kanker tulang dan tulang rawan ganas di seluruh dunia, dengan jumlah kematian mencapai lebih dari 66.000 kasus. Data dari Amerika Serikat menunjukkan bahwa pada tahun 2024 diperkirakan akan terdiagnosis sekitar 3.970 kasus baru kanker tulang dengan angka kematian mencapai 2.050 kasus. Insiden kanker tulang menunjukkan tren peningkatan rata-rata 0,4% setiap tahunnya selama periode 2013-2022, sementara angka kematian meningkat rata-rata 1,8% per tahun dalam kurun waktu 2014-2023.
Epidemiologi dan Distribusi Global
Beban kanker tulang bervariasi secara signifikan di berbagai wilayah geografis. Berdasarkan data Global Burden of Disease Study 2021, kawasan Asia Timur memiliki jumlah kasus insiden dan kematian tertinggi akibat kanker tulang. Angka insiden terstandarisasi usia (age-standardized rate) berkisar antara 0,53 hingga 2,72 per 100.000 pada perempuan dan 0,90 hingga 4,28 per 100.000 pada laki-laki.
Pola distribusi usia kanker tulang menunjukkan karakteristik bimodal yang menarik. Beban penyakit yang tinggi sudah tampak pada kelompok usia 0-14 tahun, dengan nilai rata-rata 4,30 pada laki-laki dan 4,14 pada perempuan, sebanding dengan kelompok usia lanjut. Secara umum, beban penyakit meningkat seiring bertambahnya usia dan mencapai puncak pada rentang usia 70-84 tahun. Fenomena ini mencerminkan bahwa kanker tulang memiliki dua puncak kejadian: pada masa remaja yang terkait dengan percepatan pertumbuhan tulang, dan pada usia lanjut yang sering dikaitkan dengan keganasan sekunder atau kondisi predisposisi.
Jenis-Jenis Kanker Tulang Primer
Berdasarkan klasifikasi World Health Organization (WHO) edisi kelima yang dirilis tahun 2020, kanker tulang primer terdiri dari beberapa subtipe dengan karakteristik klinis dan prognosis yang berbeda.

Osteosarkoma
Osteosarkoma merupakan jenis kanker tulang primer paling umum, menyumbang sekitar 36% dari seluruh kasus kanker tulang. Keganasan ini paling sering menyerang remaja dan dewasa muda dengan insiden sekitar 0,4-0,5 per 100.000 pada usia 0-14 tahun. Lokasi predileksi meliputi tulang panjang yang sedang aktif tumbuh, terutama distal femur (paha), proksimal tibia (tulang kering), dan proksimal humerus (lengan atas).
Osteosarkoma ditandai oleh produksi matriks tulang (osteoid) oleh sel-sel tumor ganas. Berdasarkan lokasinya di tulang, osteosarkoma dapat dibagi menjadi tipe sentral (intramedular) yang merupakan bentuk paling umum, dan tipe permukaan seperti osteosarkoma periosteal dan parosteal yang memiliki prognosis relatif lebih baik.
Sarkoma Ewing
Sarkoma Ewing adalah keganasan tulang tersering kedua pada populasi pediatrik, menyumbang sekitar 16% dari seluruh kanker tulang. Tumor ini timbul dari sel neuroektodermal primitif dan memiliki karakteristik translokasi kromosom yang melibatkan gen EWS pada kromosom 22. Insiden metastasis ke kelenjar getah bening regional pada sarkoma Ewing mencapai 7,6%, lebih tinggi dibandingkan osteosarkoma (3,1%).
Kondrosarkoma
Kondrosarkoma, yang berasal dari sel tulang rawan, menyumbang sekitar 30% kasus kanker tulang dan lebih sering ditemukan pada populasi dewasa, terutama usia di atas 40 tahun. Berbeda dengan osteosarkoma dan sarkoma Ewing, kondrosarkoma umumnya resisten terhadap kemoterapi sehingga pembedahan menjadi modalitas terapi utama. Terdapat beberapa varian dengan tingkat keganasan berbeda, termasuk kondrosarkoma konvensional, dedifferensiasi, dan mesenkimal. Kondrosarkoma dediferensiasi memiliki insiden metastasis kelenjar getah bening yang tinggi (10,3%) dan prognosis yang buruk.
Jenis Langka Lainnya
Kanker tulang primer lainnya yang lebih jarang meliputi kordoma (tumor yang berasal dari sisa notokorda), fibrosarkoma, dan tumor sel raksasa ganas. Adamantinoma, meskipun jarang, memiliki prognosis yang sangat baik dengan tingkat kekambuhan rendah jika ditangani dengan pembedahan adekuat.
Faktor Risiko dan Predisposisi Genetik
Etiologi kanker tulang bersifat multifaktorial dan belum sepenuhnya dipahami. Namun, berbagai faktor risiko telah diidentifikasi melalui penelitian epidemiologi dan genetika molekuler.
Sindrom Predisposisi Kanker Herediter
Sindrom Li-Fraumeni, yang disebabkan oleh mutasi germline pada gen TP53, merupakan salah satu kondisi predisposisi yang paling dikenal untuk osteosarkoma. Penelitian di Prancis menunjukkan bahwa osteosarkoma terkait sindrom Li-Fraumeni memiliki karakteristik klinis berbeda dibandingkan osteosarkoma sporadik, termasuk usia diagnosis lebih muda (23% terjadi pada usia kurang dari 10 tahun dibandingkan 9% pada populasi umum), lokasi aksial dan rahang yang lebih sering, serta prevalensi subtipe periosteal dan kondroblastik yang lebih tinggi.
Penemuan terbaru mengidentifikasi gen SMARCAL1 sebagai gen predisposisi osteosarkoma yang baru. Analisis terhadap lebih dari 2.000 kasus osteosarkoma menemukan frekuensi varian patogenik SMARCAL1 sebesar 1,8%, secara signifikan lebih tinggi dibandingkan kontrol sehat (0,3%). Menariknya, individu dengan varian patogenik SMARCAL1 memiliki kelangsungan hidup keseluruhan yang lebih baik dibandingkan yang tidak memiliki varian tersebut.
Varian struktural germline yang langka juga berperan dalam predisposisi tumor solid pediatrik, termasuk kanker tulang. Sebuah studi menemukan hubungan antara abnormalitas kromosom berukuran besar (lebih dari 1 megabasa) dengan peningkatan risiko tumor solid pada anak laki-laki.
Faktor Risiko Lainnya
Paparan radiasi, baik dari terapi radiasi sebelumnya maupun sumber lingkungan, merupakan faktor risiko yang diakui untuk osteosarkoma sekunder. Kondisi tulang tertentu seperti penyakit Paget juga meningkatkan risiko transformasi maligna. Meskipun hubungan sebab-akibat belum terbukti definitif, beberapa studi menunjukkan korelasi antara polusi udara, paparan logam berat, dan insidens kanker tulang di wilayah industri.
Manifestasi Klinis
Gejala kanker tulang primer umumnya berkembang secara perlahan dan sering tidak spesifik pada tahap awal, menyebabkan keterlambatan diagnosis. Manifestasi klinis utama meliputi:
Nyeri merupakan keluhan tersering yang dilaporkan, awalnya bersifat intermiten dan memburuk pada malam hari atau dengan aktivitas. Seiring pertumbuhan tumor, nyeri menjadi konstan dan semakin intens. Pembengkakan atau massa yang teraba pada area tulang yang terkena biasanya muncul setelah beberapa minggu hingga bulan dari onset nyeri. Keterbatasan gerak sendi di dekat tumor dapat terjadi akibat efek massa atau invasi jaringan sekitar. Pada kasus lanjut, fraktur patologis dapat menjadi manifestasi pertama kanker tulang, terjadi pada trauma minimal akibat kerusakan struktur tulang oleh tumor.
Gejala sistemik seperti demam, penurunan berat badan, dan kelelahan lebih sering ditemukan pada sarkoma Ewing dibandingkan osteosarkoma. Pada saat diagnosis, sekitar 17-25% pasien sudah mengalami metastasis, paling sering ke paru-paru.
Diagnosis
Diagnosis kanker tulang memerlukan pendekatan multidisiplin yang mengintegrasikan evaluasi klinis, pencitraan, dan konfirmasi histopatologi.
Pencitraan Radiologis
Foto polos (X-ray) merupakan pemeriksaan awal yang penting dan dapat menunjukkan gambaran karakteristik seperti destruksi tulang, reaksi periosteal, dan massa jaringan lunak. Osteosarkoma klasik menunjukkan gambaran sunburst atau segitiga Codman, sementara sarkoma Ewing sering memperlihatkan pola onion skin pada reaksi periosteal.
Magnetic resonance imaging (MRI) merupakan modalitas pilihan untuk evaluasi ekstensi tumor lokal, termasuk keterlibatan kanal medula, jaringan lunak, sendi, dan struktur neurovaskular. Computed tomography (CT) scan berguna untuk evaluasi metastasis paru dan karakterisasi lesi tulang dengan detail yang lebih baik.
Positron emission tomography (PET) scan yang dikombinasikan dengan CT semakin banyak digunakan untuk staging sistemik dan evaluasi respons terhadap kemoterapi neoadjuvan.
Biopsi dan Patologi
Konfirmasi diagnosis melalui biopsi sangat penting dan harus direncanakan dengan cermat untuk tidak mengganggu prosedur pembedahan definitif selanjutnya. Evaluasi histopatologi akan menentukan jenis tumor, derajat keganasan, dan karakteristik molekuler yang relevan untuk terapi. Pada sarkoma Ewing, identifikasi translokasi EWSR1 merupakan penanda diagnostik yang krusial.
Penatalaksanaan
Pendekatan terapi kanker tulang telah berkembang pesat dalam beberapa dekade terakhir, dengan implementasi strategi multimodalitas yang mencakup kemoterapi, pembedahan, dan radioterapi.
Kemoterapi
Kemoterapi neoadjuvan (sebelum pembedahan) dan adjuvan (setelah pembedahan) telah secara dramatis meningkatkan kelangsungan hidup pasien osteosarkoma dan sarkoma Ewing. Regimen standar untuk osteosarkoma meliputi kombinasi metotreksat dosis tinggi, doksorubisin, dan sisplatin (protokol MAP). Uji klinis acak terbaru dari Jepang (JCOG0905) menunjukkan bahwa penambahan ifosfamid pada pasien dengan respons histologis buruk terhadap kemoterapi preoperatif tidak memberikan manfaat tambahan dan justru meningkatkan toksisitas.
Respons histologis terhadap kemoterapi neoadjuvan, yang dinilai dari persentase nekrosis tumor pada spesimen reseksi, merupakan faktor prognostik penting. Pasien dengan nekrosis lebih dari 90% dianggap sebagai responder baik dan memiliki prognosis yang lebih menguntungkan.
Pembedahan
Pembedahan dengan reseksi luas (wide excision) merupakan pilar utama terapi kuratif kanker tulang. Kemajuan dalam teknik limb-salvage surgery memungkinkan sebagian besar pasien mempertahankan ekstremitasnya tanpa mengorbankan kontrol onkologis. Penggunaan navigasi intraoperatif dan perencanaan spesifik pasien telah secara signifikan menurunkan angka margin positif, dari 21% pada periode 2003-2012 menjadi 8,5% pada periode 2013-2022.
Untuk tumor pelvis, yang merupakan lokasi dengan tantangan teknis tinggi, kemajuan dalam sentralisasi perawatan dan teknologi navigasi telah meningkatkan kontrol lokal dan kelangsungan hidup, terutama untuk kondrosarkoma dan kordoma sakral.
Radioterapi
Radioterapi memiliki peran terbatas pada osteosarkoma dan kondrosarkoma yang bersifat radioresisten, namun merupakan komponen penting dalam penanganan sarkoma Ewing dan kordoma. Teknik radioterapi modern seperti proton beam therapy menawarkan keuntungan dalam melindungi jaringan normal sekitar tumor.
Terapi Target dan Imunoterapi
Pemahaman yang lebih baik tentang patofisiologi kanker tulang telah mendorong pengembangan terapi target. Jalur vascular endothelial growth factor (VEGF) berperan penting dalam pertumbuhan dan kelangsungan hidup tumor osteosarkoma, menjadikannya target terapi potensial. Inhibitor multi-kinase seperti sunitinib telah menunjukkan aktivitas antitumor yang signifikan.
Kombinasi sunitinib dan nivolumab (inhibitor PD-1) dalam uji klinis fase 2 IMMUNOSARC menunjukkan hasil yang menjanjikan pada pasien kanker tulang lanjut, dengan 42% pasien bebas progresi pada 6 bulan. Namun, profil toksisitas rejimen ini perlu dipertimbangkan secara cermat.
Prognosis dan Kelangsungan Hidup
Prognosis kanker tulang sangat bervariasi tergantung pada jenis histologis, stadium saat diagnosis, lokasi tumor, dan respons terhadap terapi. Secara keseluruhan, angka kelangsungan hidup 5 tahun relatif untuk kanker tulang adalah sekitar 60-70% untuk penyakit lokal, namun menurun drastis menjadi 20-30% untuk penyakit metastasis.
Pada osteosarkoma tanpa metastasis, kelangsungan hidup bebas penyakit 5 tahun berkisar 50-70% dengan terapi multimodalitas modern. Studi dari Iran melaporkan kelangsungan hidup keseluruhan 5 tahun sebesar 37,3% pada populasi anak, dengan pasien perempuan menunjukkan hasil yang lebih baik dibandingkan laki-laki.
Sarkoma Ewing memiliki kelangsungan hidup 5 tahun sekitar 70% untuk penyakit lokal, namun turun menjadi kurang dari 30% untuk penyakit metastasis. Kondrosarkoma memiliki prognosis yang bervariasi sesuai derajat keganasan, dengan tipe derajat rendah memiliki kelangsungan hidup sangat baik setelah reseksi komplet.
Metastasis kelenjar getah bening regional, meskipun relatif jarang (3,1% secara keseluruhan), merupakan faktor prognostik negatif yang setara dengan metastasis jauh. Metastasis lompatan (skip metastasis) pada kanker tulang merupakan prediktor independen untuk kelangsungan hidup yang buruk.
Kanker di Indonesia: Konteks dan Tantangan
Di Indonesia, kanker merupakan penyebab kematian ketiga terbesar. Berdasarkan data Globocan 2022, terdapat lebih dari 408.000 kasus baru kanker dan hampir 242.000 kematian akibat kanker setiap tahunnya. Angka kejadian kanker di Indonesia sebesar 136,2 per 100.000 penduduk, menempatkan Indonesia pada urutan ke-8 di Asia Tenggara dan urutan ke-23 di Asia.
Meskipun data spesifik tentang kanker tulang di Indonesia masih terbatas, tantangan umum dalam penanganan kanker juga berlaku untuk kanker tulang. Masalah utama meliputi keterlambatan diagnosis karena banyak pasien datang dalam kondisi stadium lanjut, keterbatasan akses terhadap fasilitas diagnostik dan terapi canggih terutama di daerah terpencil, serta beban biaya pengobatan yang tinggi meskipun sudah tercakup dalam program JKN-BPJS Kesehatan.
Kementerian Kesehatan telah meluncurkan Rencana Aksi Nasional Kanker 2024-2034 untuk memperkuat skrining dan deteksi dini. Dalam konteks kanker tulang, peningkatan kesadaran masyarakat dan tenaga kesehatan terhadap gejala awal sangat penting untuk diagnosis yang lebih dini dan hasil terapi yang lebih baik.
Penutup
Kanker tulang primer, meskipun relatif jarang, merupakan keganasan serius yang memerlukan penanganan multidisiplin di pusat rujukan yang kompeten. Kemajuan dalam pemahaman genetika molekuler telah mengidentifikasi berbagai gen predisposisi baru dan membuka peluang untuk skrining individu berisiko tinggi. Implementasi pendekatan multimodalitas yang mencakup kemoterapi neoadjuvan, pembedahan dengan teknik limb-salvage, dan terapi adjuvan telah secara signifikan meningkatkan kelangsungan hidup dan kualitas hidup pasien.
Tantangan ke depan meliputi pengembangan terapi yang lebih efektif untuk penyakit metastasis dan rekuren, identifikasi biomarker untuk personalisasi terapi, serta pemerataan akses terhadap pelayanan kanker yang berkualitas di seluruh Indonesia. Deteksi dini melalui peningkatan kesadaran akan gejala awal tetap menjadi kunci utama dalam memperbaiki prognosis pasien kanker tulang.
Daftar Referensi
Biermann, J. S., Hirbe, A., Ahlawat, S., Bernthal, N. M., Binitie, O., Boles, S., Brigman, B., Callan, A. K., Cipriano, C., Cranmer, L. D., Davis, J., Donnelly, E., Ferguson, M., Graham, A., Groundland, J., Hess, M., Hiniker, S. M., Hoover-Regan, M. L., Hornick, J. L., … Lyons, M. (2025). Bone cancer, version 2.2025, NCCN Clinical Practice Guidelines in Oncology. Journal of the National Comprehensive Cancer Network, 23(4). https://doi.org/10.6004/jnccn.2025.0017
Bray, F., Laversanne, M., Sung, H., Ferlay, J., Siegel, R. L., Soerjomataram, I., & Jemal, A. (2024). Global cancer statistics 2022: GLOBOCAN estimates of incidence and mortality worldwide for 36 cancers in 185 countries. CA: A Cancer Journal for Clinicians, 74(3), 229–263. https://doi.org/10.3322/caac.21834
Gillani, R., Collins, R. L., Crowdis, J., Garza, A., Jones, J. K., Walker, M., Sanchis-Juan, A., Whelan, C. W., Pierce-Hoffman, E., Talkowski, M. E., Brand, H., Haigis, K., LoPiccolo, J., AlDubayan, S. H., Gusev, A., Crompton, B. D., Janeway, K. A., & Van Allen, E. M. (2025). Rare germline structural variants increase risk for pediatric solid tumors. Science, 387(6729), eadq0071. https://doi.org/10.1126/science.adq0071
Hiraga, H., Machida, R., Kawai, A., Kunisada, T., Yonemoto, T., Endo, M., Nishida, Y., Nagano, A., Ae, K., Yoshida, S., Asanuma, K., Toguchida, J., Furuta, T., Nakayama, R., Akisue, T., Hiruma, T., Morii, T., Nishimura, H., Hiraoka, K., … Ozaki, T. (2025). Methotrexate, doxorubicin, and cisplatin versus methotrexate, doxorubicin, and cisplatin + ifosfamide in poor responders to preoperative chemotherapy for newly diagnosed high-grade osteosarcoma (JCOG0905): A multicenter, open-label, randomized trial. Journal of Clinical Oncology, 43(16), 1886–1897. https://doi.org/10.1200/JCO-24-01281
Hosseini, H., Heydari, S., Hushmandi, K., Daneshi, S., & Raesi, R. (2025). Bone tumors: A systematic review of prevalence, risk determinants, and survival patterns. BMC Cancer, 25(1), 321. https://doi.org/10.1186/s12885-025-13720-0
Jafari, F., Javdansirat, S., Sanaie, S., Naseri, A., Shamekh, A., Rostamzadeh, D., & Dolati, S. (2020). Osteosarcoma: A comprehensive review of management and treatment strategies. Annals of Diagnostic Pathology, 49, 151654. https://doi.org/10.1016/j.anndiagpath.2020.151654
Kobayashi, H., Zhang, L., Okajima, K., Tsuda, Y., Ando, T., Hirai, T., Kawai, A., & Tanaka, S. (2025). Incidence, risk factors, and prognostic impact of regional lymph node metastasis in bone sarcoma: A population-based cohort study. Japanese Journal of Clinical Oncology, 55(9), 1054–1061. https://doi.org/10.1093/jjco/hyaf096
Laitinen, M. K., Kurisunkal, V. J., Parry, M. C., Morris, G. V., Stevenson, J. D., & Jeys, L. M. (2025). Improving oncological outcomes for pelvic bone sarcomas: Is it possible? European Journal of Surgical Oncology, 51(11), 110416. https://doi.org/10.1016/j.ejso.2025.110416
Mehrvar, A., Mehrvar, N., Sadeghi, Y., & Tashvighi, M. (2023). Outcomes and survival rates of childhood osteosarcoma in Iran: A report from MAHAK Pediatric Cancer Treatment and Research Center, from 2007 to 2020. Journal of Cancer Research and Therapeutics, 19(Supplement), S272–S277. https://doi.org/10.4103/jcrt.JCRT_1559_20
Palmerini, E., Lopez Pousa, A., Grignani, G., Redondo, A., Hindi, N., Provenzano, S., Sebio, A., Lopez Martin, J. A., Valverde, C., Martinez Trufero, J., Gutierrez, A., de Alava, E., Aparisi Gomez, M. P., D’Ambrosio, L., Collini, P., Bazzocchi, A., Moura, D. S., Ibrahim, T., Stacchiotti, S., & Broto, J. M. (2024). Nivolumab and sunitinib in patients with advanced bone sarcomas: A multicenter, single-arm, phase 2 trial. Cancer, 131(1), e35628. https://doi.org/10.1002/cncr.35628
Rafati, M., Guenther, L. M., Egolf, L. E., Gianferante, D. M., Kim, J., Wang, K., Zhu, B., Spector, L. G., Anderson, N., Janeway, K. A., Barkauskas, D. A., Hawkins, D. S., Patiño-Garcia, A., Lupo, P. J., Scheurer, M. E., Morton, L., Armstrong, G. T., Sapkota, Y., Gramatges, M. M., … Mirabello, L. (2025). SMARCAL1 is a new osteosarcoma predisposition gene. Journal of the National Cancer Institute. https://doi.org/10.1093/jnci/djaf278
Saucier, E., Bougeard, G., Gomez-Mascard, A., Schramm, C., Abbas, R., Berlanga, P., Briandet, C., Castex, M. P., Corradini, N., Coze, C., Guerrini-Rousseau, L., Guinebretière, J. M., Khneisser, P., Lervat, C., Mansuy, L., Marec-Berard, P., Marie-Cardine, A., Mascard, E., Saumet, L., … Brugieres, L. (2024). Li-Fraumeni-associated osteosarcomas: The French experience. Pediatric Blood & Cancer, 71(12), e31362. https://doi.org/10.1002/pbc.31362
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2025). Kasus kanker diprediksi meningkat 70 persen pada 2050, Kemenkes perkuat deteksi dini. https://kemkes.go.id
National Cancer Institute. (2024). Cancer stat facts: Bone and joint cancer. Surveillance, Epidemiology, and End Results Program. https://seer.cancer.gov/statfacts/html/bones.html

Tinggalkan komentar