Pendahuluan
Kista tulang merupakan lesi jinak yang ditandai dengan adanya rongga berisi cairan di dalam tulang. Meskipun bukan kanker, kondisi ini dapat menyebabkan kelemahan struktur tulang hingga berpotensi menimbulkan patah tulang patologis. Kista tulang paling sering terjadi pada anak-anak dan remaja dalam masa pertumbuhan aktif, dengan sebagian besar kasus ditemukan secara tidak sengaja melalui pemeriksaan pencitraan rutin atau ketika pasien mengalami patah tulang akibat trauma ringan.
Pemahaman tentang kista tulang telah berkembang pesat dalam dua dekade terakhir, terutama dengan ditemukannya perubahan genetik molekuler yang mendasari pembentukan beberapa jenis kista tulang. Kemajuan ini tidak hanya memperdalam pemahaman kita tentang patogenesis penyakit, tetapi juga membuka jalan bagi pendekatan diagnostik dan terapeutik yang lebih tepat sasaran.
Definisi dan Klasifikasi
Kista tulang secara umum dibagi menjadi dua jenis utama berdasarkan karakteristik patologisnya:
Kista Tulang Sederhana (Simple Bone Cyst/SBC), juga dikenal sebagai kista tulang unikameral (unicameral bone cyst/UBC), merupakan lesi soliter berisi cairan yang dapat memiliki satu ruang atau bersepta. Kista ini paling sering ditemukan di humerus proksimal (tulang lengan atas) dan femur proksimal (tulang paha). Cairan di dalam kista biasanya berwarna kuning jernih dan mengandung berbagai mediator inflamasi (Restrepo et al., 2022).

Kista Tulang Aneurismal (Aneurysmal Bone Cyst/ABC) merupakan lesi tulang jinak namun bersifat agresif secara lokal, tersusun dari rongga-rongga berisi darah yang dipisahkan oleh septa jaringan ikat. Istilah “aneurismal” merujuk pada sifat ekspansif lesi yang menyerupai aneurisma pembuluh darah, sedangkan “kista” menggambarkan adanya rongga berisi cairan. Menariknya, secara patologis lesi ini bukan merupakan aneurisma maupun kista sejati dalam pengertian konvensional (Restrepo et al., 2022).
Kista tulang aneurismal selanjutnya diklasifikasikan menjadi dua kategori: kista tulang aneurismal primer yang muncul tanpa lesi tulang lain yang mendasari (sekitar 70% kasus) dan kista tulang aneurismal sekunder yang berkembang bersamaan dengan tumor tulang lain seperti tumor sel raksasa, kondroblastoma, osteoblastoma, atau displasia fibrosa (sekitar 30% kasus). Terdapat pula varian padat dari kista tulang aneurismal yang jarang ditemukan (Restrepo et al., 2022; Alston et al., 2025).
Epidemiologi
Kista tulang merupakan salah satu lesi tulang jinak yang paling umum ditemukan pada populasi pediatrik. Kista tulang sederhana teridentifikasi pada sekitar 3% dari seluruh biopsi lesi tulang dengan insiden puncak pada rentang usia 3-14 tahun. Rasio kejadian pada laki-laki dibanding perempuan adalah lebih dari 2:1, dengan lebih dari 80% kista mengenai humerus dan femur proksimal.
Kista tulang aneurismal merupakan tumor tulang yang lebih jarang, menyumbang 1-6% dari seluruh tumor tulang primer dengan insiden sekitar 0,14 per 100.000 individu per tahun dan prevalensi 0,32 per 100.000 individu. Sekitar 80% pasien yang didiagnosis berusia kurang dari 20 tahun dengan median usia diagnosis sekitar 11-13 tahun. Berbeda dengan kista tulang sederhana, rasio jenis kelamin pada kista tulang aneurismal lebih seimbang dengan sedikit kecenderungan pada perempuan (rasio 1:1,04 hingga 1:1,16). Lokasi tersering adalah metafisis tulang panjang (67%), diikuti oleh tulang belakang (15%), dan tulang panggul (9%) (Restrepo et al., 2022; Alston et al., 2025).
Patofisiologi
Kista Tulang Sederhana
Patogenesis kista tulang sederhana masih belum sepenuhnya dipahami dan dianggap lebih sebagai lesi reaktif daripada tumor sejati. Teori yang paling diterima menyatakan bahwa kista ini terbentuk akibat stasis vena di dalam tulang kanselosa yang menyebabkan resorpsi tulang sekunder akibat penumpukan tekanan dan peningkatan mediator inflamasi dalam cairan kista. Istilah “kista tulang traumatik” kadang digunakan berdasarkan teori bahwa lesi ini dapat timbul akibat trauma yang menyebabkan perdarahan intraoseus, meskipun riwayat trauma seringkali tidak dapat dipastikan (Bukva et al., 2019).
Kista Tulang Aneurismal
Pemahaman tentang patogenesis kista tulang aneurismal telah mengalami pergeseran paradigma yang signifikan. Dahulu dianggap sebagai lesi reaktif akibat malformasi vaskular, kini diketahui bahwa kista tulang aneurismal primer merupakan neoplasma sejati dengan dasar genetik yang jelas.
Sekitar 70% kasus kista tulang aneurismal primer dikaitkan dengan translokasi kromosom rekuren yang menyebabkan fusi gen melibatkan gen USP6 (ubiquitin-specific peptidase 6) pada kromosom 17p13. Gen USP6 dapat berfusi dengan berbagai gen mitra (partner genes), dengan CDH11 (cadherin-11) sebagai mitra fusi paling umum. Penelitian terbaru juga mengidentifikasi gen mitra baru seperti FGFR1 (Fibroblast Growth Factor Receptor 1), COL1A1, dan lainnya (Phan et al., 2022; Balko et al., 2025).
Aktivasi onkogen akibat translokasi kromosom ini memicu pembentukan jaringan tumor yang bersifat destruktif, sebagian terdiri dari sel-sel mirip osteoklas (sel yang merusak tulang) dan rongga-rongga vaskular. Translokasi juga memicu produksi enzim matrix metalloproteinase (MMP) yang menyerang dan menghancurkan matriks struktural tulang (Hartmann et al., 2021).
Manifestasi Klinis
Kista Tulang Sederhana
Sebagian besar kista tulang sederhana tidak menimbulkan gejala dan ditemukan secara tidak sengaja pada pemeriksaan radiologis untuk indikasi lain. Pada kasus simptomatik, pasien dapat mengalami nyeri ringan yang tidak spesifik di area yang terkena. Tidak jarang, diagnosis baru ditegakkan setelah terjadinya patah tulang patologis akibat trauma minimal pada tulang yang telah melemah oleh kista (Zhang et al., 2021).
Kista Tulang Aneurismal
Berbeda dengan kista tulang sederhana, kista tulang aneurismal lebih sering menimbulkan gejala. Nyeri ringan hingga sedang yang berlangsung berminggu-minggu hingga berbulan-bulan merupakan keluhan paling umum yang membawa pasien mencari pertolongan medis. Pada kasus lanjut, dapat teraba pembengkakan atau massa pada area yang terkena. Kista tulang aneurismal pada tulang belakang dapat menimbulkan gejala neurologis akibat kompresi saraf, termasuk nyeri punggung, skoliosis, atau tortikolis. Pertumbuhan lesi yang cepat dan ekspansif kadang dapat menyerupai keganasan sehingga memerlukan evaluasi yang cermat (Restrepo et al., 2022; Muratori et al., 2019).
Diagnosis
Pencitraan Radiologis
Evaluasi awal kedua jenis kista tulang dimulai dengan foto polos (radiograph). Pada kista tulang sederhana, gambaran khas berupa lesi litik berbatas tegas dengan tepi sklerotik tipis yang terletak di sentral metafisis tulang panjang. Tanda karakteristik yang dapat ditemukan adalah “fallen fragment sign” di mana fragmen tulang yang patah jatuh ke dasar kista berisi cairan.
Kista tulang aneurismal menampilkan gambaran lesi litik ekspansif dengan penipisan korteks yang memberikan tampilan “seperti balon” (balloon-like appearance). Lesi yang lebih besar dapat tampak bersepta. Pada MRI, gambaran paling khas adalah adanya level cairan-cairan (fluid-fluid levels) yang mencerminkan sedimentasi komponen darah di dalam rongga kista (Restrepo et al., 2022; Alston et al., 2025).
Diagnosis Banding
Membedakan antara kista tulang sederhana, kista tulang aneurismal, dan osteosarkoma telangiektatik sangat penting karena implikasi terapeutiknya yang berbeda. Osteosarkoma telangiektatik merupakan varian ganas yang dapat menampilkan gambaran serupa dengan level cairan-cairan pada MRI. Oleh karena itu, biopsi sangat direkomendasikan sebelum memulai terapi (Restrepo et al., 2022).
Pemeriksaan Molekuler
Pada kasus yang meragukan, pemeriksaan molekuler untuk mendeteksi rearansemen gen USP6 dapat membantu membedakan kista tulang aneurismal primer dari kista tulang aneurismal sekunder dan tumor tulang lainnya. Identifikasi fusi gen USP6 mengonfirmasi diagnosis kista tulang aneurismal primer dan menyingkirkan kemungkinan keganasan yang mendasari (Balko et al., 2025; Hartmann et al., 2021).
Penatalaksanaan
Pendekatan terapeutik kista tulang telah berkembang dari intervensi bedah terbuka menuju prosedur minimal invasif dengan hasil yang sebanding atau bahkan lebih baik.
Kista Tulang Sederhana
Beberapa modalitas terapi tersedia untuk kista tulang sederhana:
Injeksi kortikosteroid intralesi dengan metilprednisolon asetat merupakan pilihan terapi awal yang populer dengan tingkat keberhasilan lebih dari 90%. Mekanisme kerjanya diduga melalui efek antiprostaglandin atau penurunan tekanan intrakista. Prosedur ini dapat diulang beberapa kali hingga kista sembuh (Bukva et al., 2019).
Kuretase dengan cangkok tulang (curettage and bone grafting) merupakan prosedur bedah standar yang memberikan penyembuhan definitif namun memerlukan intervensi yang lebih invasif. Penambahan elastic stable intramedullary nail (ESIN) pada kuretase dan cangkok tulang terbukti meningkatkan tingkat kesembuhan dan menurunkan insiden patah tulang ulang secara signifikan (Li et al., 2025; Zhang et al., 2021).
Teknik Sclerograft™ merupakan pendekatan minimal invasif terbaru yang menggabungkan sklerosis kimiawi dengan cangkok tulang regeneratif di bawah panduan pencitraan. Penelitian menunjukkan tingkat penyembuhan 84% dengan waktu pemulihan yang lebih cepat dibandingkan prosedur bedah terbuka (Rajeswaran et al., 2024).
Substitusi cangkok tulang sintetis dengan material berbasis kalsium sulfat-brushit-kalsium fosfat menunjukkan hasil menjanjikan dengan tingkat revisi bedah yang lebih rendah dibandingkan alograf atau aspirat sumsum tulang autolog (Nunziato et al., 2021).
Kista Tulang Aneurismal
Penatalaksanaan kista tulang aneurismal optimal masih menjadi perdebatan, dengan berbagai pilihan terapi yang tersedia:
Kuretase dengan ajuvan lokal merupakan terapi bedah standar. Ajuvan seperti fenol, nitrogen cair, laser argon, dan cangkok tulang atau substitusi tulang digunakan untuk menurunkan risiko kekambuhan. Namun, tingkat kekambuhan historis masih cukup tinggi yaitu sekitar 19% (Muratori et al., 2019).
Embolisasi arteri selektif merupakan prosedur minimal invasif yang direkomendasikan sebagai terapi lini pertama untuk kista tulang aneurismal pada tulang belakang. Prosedur ini juga dapat digunakan sebagai terapi praoperasi untuk mengurangi perdarahan intraoperatif pada lesi berukuran besar (Cottalorda et al., 2022).
Skleroterapi dengan berbagai agen sklerosan seperti alkohol atau polidokanol merupakan alternatif minimal invasif yang memberikan hasil setara atau bahkan lebih baik dibandingkan pembedahan dengan komplikasi yang lebih sedikit. Skleroterapi dapat dipertimbangkan sebagai terapi lini pertama untuk kista tulang aneurismal di lokasi selain tulang belakang (Cottalorda et al., 2022).
Denosumab, antibodi monoklonal terhadap RANKL (Receptor Activator of Nuclear Factor Kappa-B Ligand), merupakan terapi sistemik yang lebih baru. Denosumab menghambat aktivitas osteoklas sehingga mengurangi destruksi tulang. Terapi ini dapat dipertimbangkan ketika terapi lain dikontraindikasikan atau tidak efektif (Cottalorda et al., 2022; Hung et al., 2022).
Prognosis
Prognosis kista tulang umumnya baik mengingat sifat jinak dari kedua jenis lesi ini. Kista tulang sederhana dapat mengalami resolusi spontan seiring dengan maturitas tulang, terutama setelah pasien melewati masa pertumbuhan aktif.
Faktor risiko kekambuhan kista tulang aneurismal meliputi usia muda dan jenis kelamin laki-laki. Kekambuhan cenderung terjadi dalam tahun pertama setelah eksisi, sehingga pemantauan berkala direkomendasikan hingga 5 tahun pascaterapi. Sistem staging Enneking untuk neoplasma muskuloskeletal jinak dapat digunakan untuk memprediksi perilaku biologis kista tulang aneurismal: stadium 1 (laten/inaktif), stadium 2 (aktif), dan stadium 3 (agresif). Meskipun jinak, lesi stadium 3 dapat berperilaku mirip keganasan derajat rendah dan memerlukan penanganan lebih agresif (Restrepo et al., 2022).
Komplikasi yang perlu diwaspadai termasuk patah tulang patologis, gangguan pertumbuhan akibat keterlibatan lempeng epifisis pada pasien pediatrik, dan pada kista tulang aneurismal spinal, defisit neurologis permanen jika tidak ditangani dengan tepat.
Kesimpulan
Kista tulang merupakan lesi jinak yang penting untuk dipahami karena dapat mengenai anak-anak dan remaja dalam masa pertumbuhan aktif. Kemajuan dalam pemahaman patogenesis molekuler, terutama penemuan rearansemen gen USP6 pada kista tulang aneurismal, telah merevolusi pendekatan diagnostik dan membuka peluang terapi yang lebih tepat sasaran.
Pendekatan terapeutik telah berevolusi dari intervensi bedah terbuka menuju prosedur minimal invasif dengan hasil yang menjanjikan. Pilihan terapi harus disesuaikan dengan jenis kista, lokasi lesi, usia pasien, dan ketersediaan fasilitas. Pemantauan jangka panjang tetap diperlukan mengingat potensi kekambuhan, terutama pada pasien usia muda.
Kolaborasi multidisiplin antara ahli ortopedi, radiologi, patologi, dan jika diperlukan onkologi, sangat penting untuk mengoptimalkan luaran pada pasien dengan kista tulang, khususnya pada kasus yang kompleks atau atipikal.
Daftar Pustaka
Alston, E. L. J., Ecklund, K., & Al-Ibraheemi, A. (2025). Pediatric bone tumors. Surgical Pathology Clinics, 18(3), 581-595. https://doi.org/10.1016/j.path.2025.01.003
Balko, J., Golas, W., Kaspar, L., Krskova, L., Strnadova, M., Kotis, J., & Zamecnik, J. (2025). Novel and unusual fusion partners in aneurysmal bone cyst and their role in pathogenesis and histopathological evaluation of this disease. Journal of Clinical Pathology, 78(6), 399-403. https://doi.org/10.1136/jcp-2023-209306
Bukva, B., Vrgoč, G., Abramović, D., Dučić, S., Brkić, I., & Čengić, T. (2019). Treatment of unicameral bone cysts in children: A comparative study. Acta Clinica Croatica, 58(3), 403-409. https://doi.org/10.20471/acc.2019.58.03.01
Cottalorda, J., Louahem Sabah, D., Joly Monrigal, P., Jeandel, C., & Delpont, M. (2022). Minimally invasive treatment of aneurysmal bone cysts: Systematic literature review. Orthopaedics & Traumatology: Surgery & Research, 108(4), 103272. https://doi.org/10.1016/j.otsr.2022.103272
Hartmann, W., Harder, D., & Baumhoer, D. (2021). Giant cell-rich tumors of bone. Surgical Pathology Clinics, 14(4), 695-706. https://doi.org/10.1016/j.path.2021.06.010
Hung, Y. P., Bredella, M. A., Lobmaier, I. V. K., Lozano-Calderón, S. A., Rosenberg, A. E., & Nielsen, G. P. (2022). Aneurysmal bone cyst and osteoblastoma after neoadjuvant denosumab: Histologic spectrum and potential diagnostic pitfalls. APMIS, 130(4), 206-214. https://doi.org/10.1111/apm.13211
Li, S., Wang, L., Li, Y., Li, S., Wang, D., & Dong, Z. (2025). Effectiveness of curettage and bone grafting with and without elastic intramedullary nailing in the treatment of simple bone cyst in children: A meta-analysis. Frontiers in Surgery, 12, 1633136. https://doi.org/10.3389/fsurg.2025.1633136
Muratori, F., Mondanelli, N., Rizzo, A. R., Beltrami, G., Giannotti, S., Capanna, R., & Campanacci, D. A. (2019). Aneurysmal bone cyst: A review of management. Surgical Technology International, 35, 325-335.
Nunziato, C., Williams, J., & Williams, R. (2021). Synthetic bone graft substitute for treatment of unicameral bone cysts. Journal of Pediatric Orthopedics, 41(1), e60-e66. https://doi.org/10.1097/BPO.0000000000001680
Phan, T., Tong, J., Krivanek, M., Graf, N., Dexter, M., & Tumuluri, K. (2022). Aneurysmal bone cyst of the orbit with USP6 gene rearrangement. Ophthalmic Plastic and Reconstructive Surgery, 39(3), 206-210. https://doi.org/10.1097/IOP.0000000000002287
Rajeswaran, S., Wiese, M., Baker, J., Chesterton, J., Samet, J., Green, J., Riaz, A., Mouli, S., Thornburg, B., Attar, S., Peabody, T., & Donaldson, J. (2024). Treatment of unicameral bone cysts utilizing the Sclerograft™ technique. Cardiovascular and Interventional Radiology, 47(3), 346-353. https://doi.org/10.1007/s00270-024-03671-7
Restrepo, R., Zahrah, D., Pelaez, L., Temple, H. T., & Murakami, J. W. (2022). Update on aneurysmal bone cyst: Pathophysiology, histology, imaging and treatment. Pediatric Radiology, 52(9), 1601-1614. https://doi.org/10.1007/s00247-022-05396-6
Zhang, K. X., Chai, W., Zhao, J. J., Deng, J. H., Peng, Z., & Chen, J. Y. (2021). Comparison of three treatment methods for simple bone cyst in children. BMC Musculoskeletal Disorders, 22(1), 73. https://doi.org/10.1186/s12891-020-03933-8

Tinggalkan komentar