Pendahuluan
Di tengah hiruk-pikuk kehidupan modern, banyak orang mengalami pasang surut emosi. Namun, bayangkan jika fluktuasi emosi itu begitu intens hingga terasa seperti badai yang tidak pernah benar-benar reda, jika hubungan dengan orang-orang terdekat terus-menerus berayun antara kedekatan yang sangat erat dan perpisahan yang menyakitkan, atau jika rasa hampa dan ketakutan ditinggalkan selalu mengintai setiap hari. Inilah realitas yang dihadapi oleh individu dengan gangguan kepribadian ambang atau borderline personality disorder (BPD).
BPD merupakan gangguan kesehatan mental yang ditandai dengan ketidakstabilan pervasif dalam citra diri, hubungan interpersonal, dan regulasi emosi, disertai impulsivitas yang signifikan (Leichsenring et al., 2024). Gangguan ini pertama kali diperkenalkan dalam Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders edisi ketiga (DSM-III) pada tahun 1980 dan hingga kini tetap menjadi salah satu gangguan kepribadian yang paling banyak diteliti sekaligus disalahpahami.
Artikel ini bertujuan memberikan pemahaman komprehensif tentang BPD berdasarkan bukti ilmiah terkini, mulai dari epidemiologi, faktor risiko, manifestasi klinis, hingga pilihan penatalaksanaan yang tersedia. Pemahaman yang baik tentang kondisi ini tidak hanya penting bagi tenaga kesehatan, tetapi juga bagi masyarakat umum untuk mengurangi stigma dan meningkatkan dukungan bagi mereka yang mengalaminya.
Seberapa Umum BPD?
Prevalensi BPD sepanjang hayat pada populasi dewasa umum berkisar antara 0,7% hingga 2,7%, meskipun angka ini dapat bervariasi tergantung lokasi penelitian, karakteristik demografis sampel, serta metode diagnosis yang digunakan (Leichsenring et al., 2023). Di Amerika Serikat, prevalensi diperkirakan sekitar 1,4% hingga 2,7% dari populasi dewasa.
Yang menarik, angka prevalensi BPD jauh lebih tinggi di lingkungan klinis dibandingkan populasi umum. Sekitar 12% pasien rawat jalan psikiatri dan hingga 22% pasien rawat inap psikiatri memenuhi kriteria diagnosis BPD (Leichsenring et al., 2024). Ini menunjukkan bahwa individu dengan BPD cenderung lebih sering menggunakan layanan kesehatan mental dibandingkan populasi umum.
Secara tradisional, BPD lebih sering didiagnosis pada perempuan dalam praktik klinis. Namun, penelitian berbasis populasi non-klinis menunjukkan bahwa prevalensi sebenarnya mungkin setara antara laki-laki dan perempuan (American Psychiatric Association, 2024). Perbedaan ini kemungkinan mencerminkan pola pencarian pengobatan yang berbeda serta bias dalam praktik diagnostik.
Data dari Asia, termasuk penelitian pada remaja di Tiongkok, menunjukkan bahwa 9,9% remaja memenuhi kriteria skrining untuk fitur BPD, yang mengindikasikan bahwa gangguan ini juga relevan dalam konteks budaya Asia (Yuan et al., 2025). Di Indonesia sendiri, meskipun data epidemiologi spesifik masih terbatas, peningkatan kesadaran tentang kesehatan mental dalam beberapa tahun terakhir telah mendorong lebih banyak individu untuk mencari bantuan profesional.
Mengapa Seseorang Mengalami BPD?
Penyebab BPD bersifat multifaktorial, melibatkan interaksi kompleks antara faktor genetik dan pengalaman buruk di masa kanak-kanak (Bohus et al., 2021).
Faktor Genetik
Penelitian pada kembar menunjukkan bahwa heritabilitas BPD berkisar antara 40% hingga 60%, yang berarti faktor genetik memainkan peran penting dalam kerentanan terhadap gangguan ini (Leichsenring et al., 2024). Namun, penting untuk dipahami bahwa memiliki kecenderungan genetik tidak berarti seseorang pasti akan mengembangkan BPD. Gen yang terlibat kemungkinan memengaruhi temperamen, reaktivitas emosional, dan kemampuan regulasi afek.
Pengalaman Masa Kanak-kanak
Bukti yang meyakinkan menunjukkan bahwa pengalaman buruk di masa kanak-kanak (adverse childhood experiences) berperan sentral dalam etiologi BPD. Penelitian pada remaja Tiongkok menemukan bahwa 89% individu dengan lima atau lebih fitur BPD melaporkan riwayat pelecehan atau penelantaran di masa kanak-kanak (Yuan et al., 2025). Pengalaman traumatis ini mencakup pelecehan seksual, pelecehan fisik, penelantaran emosional, dan disfungsi dalam keluarga.
Trauma masa kanak-kanak tidak hanya berkontribusi pada perkembangan BPD, tetapi juga terkait erat dengan gejala disosiatif dan gangguan stres pascatrauma (PTSD) yang sering menyertai BPD (Zhong et al., 2024). Interaksi antara kerentanan genetik dan lingkungan yang tidak mendukung menciptakan kondisi yang memungkinkan berkembangnya pola kepribadian yang tidak adaptif.
Neurobiologi
Meskipun penelitian neurobiologis telah berkembang pesat, mekanisme otak yang mendasari BPD masih belum sepenuhnya dipahami. Beberapa temuan konsisten meliputi abnormalitas dalam sistem limbik, terutama amigdala, yang terlibat dalam pemrosesan emosi, serta perubahan dalam korteks prefrontal yang berperan dalam regulasi emosi dan pengambilan keputusan.
Bagaimana BPD Bermanifestasi?

BPD ditandai oleh serangkaian gejala yang memengaruhi berbagai aspek kehidupan individu. Menurut DSM-5, diagnosis BPD ditegakkan jika seseorang memenuhi lima dari sembilan kriteria berikut (American Psychiatric Association, 2024):
Pertama, upaya intens untuk menghindari pengabaian. Individu dengan BPD sering mengalami ketakutan yang luar biasa akan ditinggalkan, baik nyata maupun yang dibayangkan. Mereka mungkin melakukan tindakan ekstrem untuk mencegah perpisahan, termasuk perilaku yang justru kontraproduktif.
Kedua, pola hubungan interpersonal yang tidak stabil dan intens. Hubungan dengan orang lain sering ditandai dengan idealisasi dan devaluasi yang bergantian (splitting), di mana seseorang dapat dipandang sebagai sempurna pada satu waktu dan sama sekali tidak berharga di waktu lain.
Ketiga, gangguan identitas. Individu mengalami ketidakstabilan yang nyata dan persisten dalam citra diri atau perasaan tentang diri sendiri. Mereka mungkin tidak yakin tentang nilai-nilai, tujuan, aspirasi karier, atau bahkan orientasi seksual mereka.
Keempat, impulsivitas dalam setidaknya dua area yang berpotensi merugikan. Ini dapat mencakup pengeluaran berlebihan, hubungan seksual berisiko, penyalahgunaan zat, mengemudi sembrono, atau binge eating.
Kelima, perilaku bunuh diri atau menyakiti diri sendiri berulang. Perilaku ini merupakan salah satu ciri paling serius dari BPD. Penelitian menunjukkan bahwa 70% hingga 80% individu dengan BPD pernah melakukan penyakitan diri (nonsuicidal self-injury), dan sekitar 10% meninggal karena bunuh diri (Reichl & Kaess, 2021).
Keenam, ketidakstabilan afektif. Individu mengalami perubahan suasana hati yang reaktif dan intens, seperti disforik episodik, mudah marah, atau kecemasan yang biasanya berlangsung beberapa jam hingga beberapa hari.
Ketujuh, perasaan hampa kronis. Banyak individu dengan BPD menggambarkan perasaan kekosongan yang mendalam dan menetap.
Kedelapan, kemarahan yang intens dan tidak tepat atau kesulitan mengendalikan kemarahan. Ini dapat bermanifestasi sebagai ledakan amarah yang sering, kemarahan yang konstan, atau perkelahian fisik berulang.
Kesembilan, ide paranoid terkait stres atau gejala disosiatif yang parah. Dalam situasi stres, individu dengan BPD dapat mengalami pikiran paranoid sementara atau gejala disosiatif seperti depersonalisasi atau derealisasi.
Kondisi yang Sering Menyertai BPD
BPD jarang muncul sendiri. Tingkat komorbiditas dengan gangguan mental lain sangat tinggi, yang dapat mempersulit diagnosis dan penatalaksanaan. Berdasarkan data epidemiologis, sekitar 83% individu dengan BPD juga mengalami gangguan mood seperti depresi mayor atau gangguan bipolar, 85% memiliki gangguan kecemasan, dan 78% mengalami gangguan penggunaan zat (Leichsenring et al., 2023).
Komorbiditas lain yang signifikan meliputi PTSD, gangguan pemusatan perhatian dan hiperaktivitas (ADHD), bulimia nervosa, serta gangguan kepribadian lainnya. Kehadiran ADHD pada individu dengan BPD dikaitkan dengan tingkat disregulasi emosi dan impulsivitas yang lebih tinggi (Khosravi, 2025). Sementara itu, hubungan antara BPD dan PTSD kompleks semakin mendapat perhatian, dengan banyak ahli berpendapat bahwa trauma memainkan peran sentral dalam kedua kondisi tersebut (Yuan et al., 2025).
Kehadiran kondisi penyerta ini menekankan pentingnya evaluasi menyeluruh dan pendekatan penatalaksanaan yang komprehensif.
Perjalanan dan Prognosis
Berlawanan dengan persepsi lama bahwa BPD adalah kondisi yang tidak dapat diobati, bukti terkini menunjukkan gambaran yang lebih optimis. Remisi sering terjadi pada BPD dan, begitu tercapai, biasanya stabil. Lebih dari separuh pasien dengan BPD tidak lagi memenuhi kriteria diagnostik setelah lima tahun (Leichsenring et al., 2024).
Gejala yang cenderung membaik paling cepat adalah perilaku menyakiti diri sendiri dan difusi identitas. Sementara itu, impulsivitas dan ketidakstabilan emosional cenderung mereda secara bertahap seiring bertambahnya usia. Meskipun demikian, gangguan dalam fungsi sosial dan pekerjaan sering menetap lebih lama dibandingkan perbaikan gejala.
Faktor-faktor yang memprediksi luaran yang lebih baik meliputi tingkat kecerdasan yang lebih tinggi, tidak adanya riwayat pelecehan seksual masa kanak-kanak, tidak adanya gangguan penggunaan zat penyerta, dan kemampuan untuk mempertahankan pekerjaan selama masa tindak lanjut. Sebaliknya, riwayat rawat inap psikiatri, keparahan gejala awal, dan psikopatologi keluarga dikaitkan dengan prognosis yang lebih buruk.
Pendekatan Penatalaksanaan
Psikoterapi: Pilar Utama Pengobatan
Psikoterapi merupakan tatalaksana lini pertama untuk BPD. Berbagai pendekatan psikoterapi terstruktur telah menunjukkan efektivitas dalam uji klinis acak terkontrol, dengan besaran efek menengah (standardized mean difference antara -0,50 hingga -0,65) dibandingkan dengan perawatan standar (Leichsenring et al., 2024).
Terapi perilaku dialektikal atau dialectical behavior therapy (DBT) merupakan pendekatan yang paling banyak diteliti dan memiliki basis bukti terkuat. Dikembangkan oleh Marsha Linehan, DBT menggabungkan teknik kognitif-perilaku dengan praktik kesadaran penuh (mindfulness) yang berakar pada tradisi Zen. Terapi ini berfokus pada empat modul utama: kesadaran penuh, toleransi distres, regulasi emosi, dan efektivitas interpersonal. Penelitian menunjukkan bahwa DBT efektif dalam mengurangi perilaku bunuh diri, menyakiti diri sendiri, serta penggunaan layanan kesehatan darurat (Francis et al., 2026; Setkowski et al., 2023).
Terapi berbasis mentalisasi atau mentalization-based therapy (MBT), dikembangkan oleh Peter Fonagy dan Anthony Bateman, berfokus pada peningkatan kapasitas individu untuk memahami perilaku diri sendiri dan orang lain dalam konteks keadaan mental yang mendasarinya. MBT telah menunjukkan efektivitas dalam mengurangi gejala BPD, perilaku bunuh diri, dan depresi, serta meningkatkan fungsi sosial.
Terapi berfokus transferensi atau transference-focused psychotherapy (TFP), dikembangkan oleh Otto Kernberg, menggunakan hubungan terapeutik sebagai sarana utama untuk mengeksplorasi dan mengubah pola hubungan yang disfungsional. Pendekatan ini berakar pada teori psikodinamik dan telah menunjukkan hasil yang menjanjikan dalam uji klinis.
Terapi skema atau schema therapy, dikembangkan oleh Jeffrey Young, mengintegrasikan elemen dari terapi kognitif-perilaku, teori kelekatan, dan pendekatan psikodinamik. Terapi ini berfokus pada identifikasi dan modifikasi skema maladaptif dini yang berkembang di masa kanak-kanak.
Tinjauan sistematis terbaru menyimpulkan bahwa semua psikoterapi yang umum digunakan dapat memperbaiki keparahan BPD, gejala, dan fungsi (Crotty et al., 2023). Tidak ada bukti kuat yang menunjukkan bahwa satu pendekatan psikoterapi secara konsisten lebih unggul dari yang lain, sehingga pemilihan pendekatan dapat disesuaikan dengan ketersediaan, preferensi pasien, dan keahlian terapis.
Peran Farmakoterapi
Berbeda dengan psikoterapi, bukti untuk farmakoterapi dalam pengobatan gejala inti BPD sangat terbatas. Tidak ada obat yang secara konsisten terbukti efektif untuk gejala inti BPD (Stoffers-Winterling et al., 2022). Tinjauan Cochrane yang mencakup 46 uji acak terkontrol menemukan bahwa tidak ada perbedaan efek yang signifikan pada keparahan BPD, perilaku menyakiti diri, luaran terkait bunuh diri, atau fungsi psikososial antara obat dan plasebo.
Meskipun demikian, farmakoterapi dapat berperan dalam penatalaksanaan kondisi penyerta yang parah. Untuk gejala depresi atau kecemasan yang diskret dan berat, antidepresan seperti penghambat ambilan kembali serotonin selektif (selective serotonin reuptake inhibitors/SSRI) dapat dipertimbangkan. Dalam situasi krisis akut yang melibatkan perilaku bunuh diri, kecemasan ekstrem, atau episode psikotik, antipsikotik potensi rendah seperti kuetiapin atau antihistamin sedatif dapat digunakan untuk manajemen jangka pendek. Pedoman menekankan bahwa benzodiazepin sebaiknya dihindari karena risiko ketergantungan dan potensi disinhibisi pada populasi ini (Leichsenring et al., 2023).
American Psychiatric Association dalam pedoman terbaru tahun 2024 merekomendasikan bahwa setiap pengobatan psikofarmakologis untuk BPD sebaiknya bersifat terbatas waktu, ditujukan untuk mengatasi gejala target yang spesifik dan terukur, serta bersifat ajuvan terhadap psikoterapi. Evaluasi dan rekonsiliasi obat setidaknya setiap enam bulan direkomendasikan untuk menilai efektivitas dan mengidentifikasi obat yang perlu dihentikan.
Tantangan dan Stigma
Salah satu hambatan terbesar dalam penatalaksanaan BPD adalah stigma, baik di masyarakat umum maupun di kalangan tenaga kesehatan. Individu dengan BPD sering dilabeli sebagai “sulit” atau “manipulatif,” yang dapat memengaruhi kualitas perawatan yang mereka terima dan keengganan mereka untuk mencari bantuan.
Penelitian menunjukkan bahwa psikoedukasi tentang BPD, baik untuk pasien maupun tenaga kesehatan, dapat memperbaiki sikap dan hubungan terapeutik. Diagnosis yang jelas dan psikoedukasi yang tepat justru dapat memberdayakan pasien dan mendorong keterlibatan aktif dalam pengobatan.
Di Indonesia, tantangan tambahan meliputi keterbatasan akses terhadap psikoterapi berbasis bukti seperti DBT atau MBT, yang memerlukan pelatihan khusus dan komitmen waktu yang signifikan. Pengembangan kapasitas terapis dan perluasan layanan kesehatan mental menjadi prioritas penting untuk memastikan individu dengan BPD mendapatkan perawatan yang optimal.
Implikasi untuk Praktik dan Masyarakat
Beberapa poin penting yang perlu diperhatikan dalam konteks praktik klinis dan masyarakat umum.
Pertama, deteksi dini sangat penting. BPD biasanya mulai bermanifestasi selama masa remaja, dan intervensi awal dapat mencegah perkembangan gangguan yang lebih parah serta dampak jangka panjang pada fungsi sosial dan pekerjaan.
Kedua, psikoterapi terstruktur yang memiliki bukti empiris harus menjadi landasan penatalaksanaan. Obat-obatan sebaiknya digunakan secara terbatas dan hanya untuk indikasi spesifik.
Ketiga, pendekatan kolaboratif antara pasien dan penyedia layanan kesehatan sangat penting. Membangun hubungan terapeutik yang kuat dan memberikan psikoedukasi dapat meningkatkan kepatuhan dan luaran pengobatan.
Keempat, dukungan dari keluarga dan lingkungan sosial berperan penting dalam pemulihan. Edukasi bagi anggota keluarga tentang sifat gangguan dan cara berkomunikasi yang efektif dapat mengurangi konflik dan meningkatkan dukungan.
Penutup
BPD merupakan gangguan kesehatan mental yang kompleks namun dapat ditangani. Pemahaman kita tentang kondisi ini telah berkembang pesat dalam beberapa dekade terakhir, menggeser paradigma dari “tidak dapat diobati” menjadi “dapat pulih dengan penanganan yang tepat.” Psikoterapi terstruktur, terutama DBT dan MBT, telah menunjukkan efektivitas yang meyakinkan dalam mengurangi gejala dan meningkatkan kualitas hidup.
Bagi individu yang mengalami gejala-gejala yang konsisten dengan BPD, langkah pertama yang penting adalah mencari evaluasi profesional dari psikiater atau psikolog klinis. Dengan diagnosis yang tepat, perencanaan pengobatan yang komprehensif, dan dukungan yang memadai, pemulihan adalah tujuan yang realistis dan dapat dicapai.
Bagi masyarakat umum, pemahaman dan empati terhadap mereka yang mengalami BPD sangat dibutuhkan. Mengurangi stigma dan meningkatkan kesadaran dapat mendorong lebih banyak individu untuk mencari bantuan dan pada akhirnya meningkatkan luaran kesehatan mental secara keseluruhan.
Daftar Referensi
American Psychiatric Association. (2024). The American Psychiatric Association practice guideline for the treatment of patients with borderline personality disorder. American Psychiatric Association Publishing. https://www.psychiatry.org/news-room/news-releases/updated-borderline-personality-disorder-guideline
Bohus, M., Stoffers-Winterling, J., Sharp, C., Krause-Utz, A., Schmahl, C., & Lieb, K. (2021). Borderline personality disorder. The Lancet, 398(10310), 1528-1540. https://doi.org/10.1016/S0140-6736(21)00476-1
Crotty, K., Viswanathan, M., Kennedy, S., Edlund, M. J., Ali, R., Siddiqui, M., Wines, R., Ratajczak, P., & Gartlehner, G. (2023). Psychotherapies for the treatment of borderline personality disorder: A systematic review. Journal of Consulting and Clinical Psychology, 92(5), 275-295. https://doi.org/10.1037/ccp0000833
Francis, B., Fino, E., & Heym, N. (2026). A systematic review of dialectical behaviour therapy, mentalisation-based treatment and internal family systems therapy for borderline personality disorder with comorbid depression and/or anxiety. Journal of Psychiatric Research, 194, 221-232. https://doi.org/10.1016/j.jpsychires.2026.01.002
Gartlehner, G., Crotty, K., Kennedy, S., Edlund, M. J., Ali, R., Siddiqui, M., Fortman, R., Wines, R., Persad, E., & Viswanathan, M. (2021). Pharmacological treatments for borderline personality disorder: A systematic review and meta-analysis. CNS Drugs, 35(10), 1053-1067. https://doi.org/10.1007/s40263-021-00855-4
Khosravi, M. (2025). Schema mechanisms underlying emotion dysregulation and impulsivity in comorbid attention-deficit/hyperactivity disorder and borderline personality disorder. Clinical Psychology & Psychotherapy, 32(6), e70206. https://doi.org/10.1002/cpp.70206
Leichsenring, F., Heim, N., Leweke, F., Spitzer, C., Steinert, C., & Kernberg, O. F. (2023). Borderline personality disorder: A review. JAMA, 329(8), 670-679. https://doi.org/10.1001/jama.2023.0589
Leichsenring, F., Fonagy, P., Heim, N., Kernberg, O. F., Leweke, F., Luyten, P., Salzer, S., Spitzer, C., & Steinert, C. (2024). Borderline personality disorder: A comprehensive review of diagnosis and clinical presentation, etiology, treatment, and current controversies. World Psychiatry, 23(1), 4-25. https://doi.org/10.1002/wps.21156
Reichl, C., & Kaess, M. (2021). Self-harm in the context of borderline personality disorder. Current Opinion in Psychology, 37, 139-144. https://doi.org/10.1016/j.copsyc.2020.12.007
Setkowski, K., Palantza, C., van Ballegooijen, W., Gilissen, R., Oud, M., Cristea, I. A., Noma, H., Furukawa, T. A., Arntz, A., van Balkom, A. J. L. M., & Cuijpers, P. (2023). Which psychotherapy is most effective and acceptable in the treatment of adults with a (sub)clinical borderline personality disorder? A systematic review and network meta-analysis. Psychological Medicine, 53(8), 3261-3280. https://doi.org/10.1017/S0033291723000685
Stoffers-Winterling, J. M., Storebø, O. J., Pereira Ribeiro, J., Kongerslev, M. T., Völlm, B. A., Mattivi, J. T., Faltinsen, E., Todorovac, A., Jørgensen, M. S., Callesen, H. E., Sales, C. P., Schaug, J. P., Simonsen, E., & Lieb, K. (2022). Pharmacological interventions for people with borderline personality disorder. Cochrane Database of Systematic Reviews, 11(11), CD012956. https://doi.org/10.1002/14651858.CD012956.pub2
Yuan, G. F., Lam, S. K. K., Lay, C. M., Yau, S. W., Wong, M. Y. C., & Fung, H. W. (2025). Borderline personality disorder (BPD) features and their relationship with trauma and dissociation among Chinese adolescents: Is BPD really a trauma-related disorder? European Journal of Psychotraumatology, 16(1), 2562724. https://doi.org/10.1080/20008066.2025.2562724
Zhong, Y., Hu, Q., Chen, J., Li, Y., Chen, R., Li, Y., Cong, E., & Xu, Y. (2024). The impact of childhood trauma on adolescent depressive symptoms: The chain mediating role of borderline personality traits and self-control. BMC Psychiatry, 24(1), 377. https://doi.org/10.1186/s12888-024-05829-6

Tinggalkan komentar