A Cahya Legawa's Les pèlerins au-dessus des nuages

Pendahuluan

Botulisme merupakan kondisi kedaruratan medis yang jarang terjadi namun berpotensi mengancam nyawa. Penyakit ini disebabkan oleh neurotoksin yang dihasilkan bakteri Clostridium botulinum, yang dikenal sebagai salah satu toksin paling kuat di dunia. Meskipun insidensinya rendah, botulisme tetap menjadi perhatian kesehatan masyarakat global karena tingkat keparahan dan potensi komplikasinya yang fatal.

Toksin botulinum bekerja dengan menghambat pelepasan asetilkolin pada neuromuscular junction (taut saraf-otot), sehingga menyebabkan kelumpuhan otot yang bersifat desendens atau turun dari atas ke bawah. Kondisi ini dapat berkembang menjadi gagal napas apabila otot-otot pernapasan terkena. Pemahaman yang baik mengenai botulisme sangat penting bagi tenaga kesehatan maupun masyarakat umum untuk memastikan deteksi dini dan penanganan yang tepat.

Etiologi dan Patofisiologi

Clostridium botulinum adalah bakteri anaerob, gram positif, berbentuk batang, dan mampu membentuk spora yang tahan terhadap panas. Bakteri ini tersebar luas di lingkungan, termasuk tanah, debu, sedimen sungai, dan dasar laut. Dalam kondisi normal dengan ketersediaan oksigen yang cukup, bakteri ini tidak berbahaya. Namun, ketika berada dalam kondisi anaerob seperti di dalam kaleng tertutup, luka yang dalam, atau saluran pencernaan, bakteri akan berkembang biak dan menghasilkan neurotoksin.

Terdapat delapan tipe toksin botulinum yang telah diidentifikasi, yaitu tipe A, B, C1, C2, D, E, F, dan G. Dari keseluruhan tipe tersebut, tipe A, B, E, dan jarang F merupakan penyebab botulisme pada manusia, sedangkan tipe C dan D lebih sering menyebabkan botulisme pada hewan dan unggas.

Neurotoksin botulinum bekerja dengan memblokir pelepasan neurotransmiter asetilkolin di terminal saraf presinaptik. Mekanisme ini menyebabkan kegagalan transmisi impuls saraf ke otot, sehingga terjadi paralisis flasid (kelumpuhan lemas). Dosis oral toksin sekecil 30 nanogram sudah cukup untuk menyebabkan botulisme pada manusia, menjadikannya salah satu zat paling toksik yang diketahui.

Klasifikasi Botulisme

Berdasarkan mekanisme paparan dan populasi yang terkena, botulisme diklasifikasikan menjadi beberapa jenis:

Botulisme terkait makanan (foodborne botulism) merupakan bentuk klasik dan paling sering dilaporkan secara global. Kondisi ini terjadi akibat konsumsi makanan yang telah terkontaminasi toksin botulinum yang sudah terbentuk sebelumnya. Makanan kaleng yang diproses secara tidak tepat di rumah, ikan yang difermentasi atau diasinkan, serta produk daging merupakan sumber kontaminasi yang umum.

Botulisme pada bayi (infant botulism) terjadi ketika spora C. botulinum tertelan oleh bayi berusia di bawah satu tahun, kemudian berkolonisasi di usus dan memproduksi toksin. Kondisi ini paling sering dikaitkan dengan konsumsi madu yang terkontaminasi spora. Sistem pencernaan bayi yang belum matang memungkinkan spora berkembang biak, berbeda dengan orang dewasa yang memiliki flora usus normal yang dapat mencegah kolonisasi.

Botulisme luka (wound botulism) terjadi ketika spora C. botulinum menginfeksi luka dan memproduksi toksin secara lokal. Jenis ini semakin meningkat insidensinya, terutama pada pengguna narkoba suntik, khususnya heroin jenis black tar.

Botulisme pada orang dewasa akibat kolonisasi usus (adult intestinal toxemia) merupakan varian langka yang menyerupai botulisme bayi, terjadi pada orang dewasa dengan gangguan flora usus normal, misalnya pascaoperasi saluran cerna atau penggunaan antibiotik jangka panjang.

Botulisme iatrogenik terjadi sebagai efek samping dari injeksi toksin botulinum untuk keperluan medis atau kosmetik. Kasus ini meningkat seiring dengan popularitas penggunaan toksin botulinum (Botox) dalam prosedur estetika dan pengobatan kondisi seperti spasme hemifasial, blefarospasme, dan strabismus.

Epidemiologi

Data epidemiologi global menunjukkan bahwa botulisme merupakan penyakit langka dengan distribusi yang bervariasi antarwilayah. Berdasarkan data surveilans open-source intelligence periode 2017-2024, teridentifikasi 296 kejadian luar biasa (KLB) botulisme di seluruh dunia, dengan 259 kejadian (87,5%) pada manusia yang mencakup 1.097 kasus dan 47 kematian.

Di Uni Eropa dan kawasan Ekonomi Eropa (EU/EEA), pada tahun 2022 dilaporkan 84 kasus terkonfirmasi botulisme dengan angka notifikasi keseluruhan 0,02 kasus per 100.000 populasi. Tren serupa terlihat pada tahun 2021 dengan 82 kasus terkonfirmasi. Tipe toksin B merupakan yang paling sering teridentifikasi (82%), diikuti tipe A (9%), tipe E (5%), dan tipe F (4%).

Ukraina mencatat jumlah KLB terbanyak (56%), diikuti Federasi Rusia (10,8%) dan Amerika Serikat (7%). Jalur transmisi utama adalah melalui makanan (79,5%), dengan ikan kering sebagai sumber paling sering terlibat (33,2%), diikuti ikan kaleng (5,4%) dan daging kaleng (4,6%).

Di Indonesia, belum tersedia data epidemiologi botulisme yang komprehensif. Kasus botulisme yang tercatat terutama ditemukan pada unggas, meskipun banyak kasus yang dicurigai tidak dikonfirmasi melalui pemeriksaan laboratorium. Satu kasus yang diduga botulisme pada sapi di Jawa Timur menunjukkan hasil serologi positif untuk C. botulinum tipe C.

Angka mortalitas akibat botulisme mengalami penurunan signifikan dari sekitar 60% pada tahun 1950 menjadi 3-5% saat ini, bahkan kurang dari 1% pada pasien yang mendapatkan perawatan optimal di rumah sakit. Penurunan ini terutama berkat kemajuan dalam perawatan intensif dan ketersediaan antitoksin.

Manifestasi Klinis

Gejala botulisme bervariasi tergantung pada jenis dan jalur paparan, namun secara umum melibatkan kelumpuhan saraf kranial yang progresif ke arah bawah tubuh.

Pada botulisme terkait makanan, gejala biasanya muncul dalam 12-36 jam setelah konsumsi makanan terkontaminasi, meskipun periode inkubasi dapat berkisar antara 6 jam hingga 10 hari. Gejala awal seringkali meliputi keluhan gastrointestinal seperti mual, muntah, kram perut, dan diare atau konstipasi. Manifestasi neurologis yang khas meliputi penglihatan ganda (diplopia), penglihatan kabur, kelopak mata turun (ptosis), bicara cadel (disartria), kesulitan menelan (disfagia), dan mulut kering. Kelumpuhan kemudian menyebar ke ekstremitas atas, batang tubuh, dan ekstremitas bawah secara simetris. Keterlibatan otot pernapasan merupakan komplikasi paling serius dan dapat menyebabkan gagal napas.

Pada botulisme luka, gejala serupa muncul namun tanpa manifestasi gastrointestinal, dengan periode inkubasi yang lebih panjang yakni sekitar 10 hari setelah paparan. Demam mungkin terjadi jika terdapat infeksi sekunder pada luka.

Botulisme pada bayi memiliki presentasi yang lebih halus dan progresif lambat. Konstipasi sering menjadi gejala awal, diikuti dengan kesulitan menyusu, tangisan lemah, kelopak mata turun, ekspresi wajah datar (flat facies), hipotonia general (floppy baby), dan kontrol kepala yang buruk.

Karakteristik penting yang membedakan botulisme dari kondisi neurologis lain adalah sifatnya yang simetris, desendens, dan tidak melibatkan gangguan sensorik. Kesadaran pasien umumnya tetap intak meskipun mengalami kelumpuhan berat.

Diagnosis

Diagnosis botulisme terutama didasarkan pada kecurigaan klinis yang tinggi dan pemeriksaan neurologis yang cermat. Ketepatan waktu diagnosis sangat krusial karena antitoksin botulinum sebagai terapi spesifik harus diberikan sesegera mungkin.

Kriteria klinis untuk memicu kecurigaan botulisme meliputi kombinasi kelumpuhan saraf kranial bilateral dan kelumpuhan desendens simetris tanpa gangguan sensorik, dengan kesadaran yang intak. Anamnesis yang teliti mengenai riwayat konsumsi makanan berisiko (terutama makanan kaleng buatan rumah, ikan fermentasi, atau makanan awetan), riwayat penggunaan narkoba suntik, dan riwayat injeksi toksin botulinum untuk keperluan medis atau kosmetik sangat membantu mengarahkan diagnosis.

Konfirmasi laboratorium dilakukan melalui deteksi toksin botulinum dalam serum, feses, atau sampel makanan yang dicurigai, atau melalui isolasi C. botulinum dari feses. Metode standar emas adalah mouse lethality assay (uji letalitas pada mencit), meskipun memerlukan waktu beberapa hari untuk mendapatkan hasil. Metode alternatif meliputi uji imunologi dan pemeriksaan polymerase chain reaction (PCR) untuk mendeteksi gen pengkode toksin.

Pemeriksaan elektrofisiologi (electromyography/EMG dan nerve conduction studies/NCS) dapat membantu membedakan botulisme dari kondisi neurologis lain seperti miastenia gravis dan sindrom Guillain-Barré. Temuan khas pada botulisme meliputi penurunan amplitudo potensial aksi otot (compound muscle action potential/CMAP) dengan fasilitasi pascatetanik.

Penting untuk diingat bahwa pemberian antitoksin tidak boleh ditunda menunggu konfirmasi laboratorium. Keputusan pengobatan harus didasarkan pada kecurigaan klinis yang kuat.

Diagnosis Banding

Beberapa kondisi neurologis memiliki manifestasi klinis yang tumpang tindih dengan botulisme dan perlu dipertimbangkan dalam diagnosis banding:

Miastenia gravis dapat menyerupai botulisme dengan kelemahan otot dan ptosis, namun biasanya bersifat fluktuatif, memburuk dengan aktivitas, dan membaik dengan istirahat. Pemeriksaan antibodi terhadap reseptor asetilkolin dan respons terhadap inhibitor asetilkolinesterase membantu membedakannya.

Sindrom Guillain-Barré juga menyebabkan kelumpuhan flasid akut, namun biasanya bersifat asendens (dari bawah ke atas), sering disertai gangguan sensorik, dan menunjukkan disosiasi sitoalbumin pada pemeriksaan cairan serebrospinal.

Stroke batang otak dapat menyebabkan kelumpuhan saraf kranial, namun biasanya asimetris dan disertai tanda-tanda neurologis fokal lainnya.

Keracunan organofosfat dapat menyebabkan kelemahan otot dan gejala kolinergik, namun biasanya disertai dengan hipersalivasi, miosis, dan bradikardia.

Tatalaksana

Prinsip utama tatalaksana botulisme meliputi pemberian antitoksin sesegera mungkin, perawatan suportif intensif, dan penanganan sumber infeksi pada kasus tertentu.

Antitoksin botulinum merupakan terapi spesifik yang bekerja dengan menetralisir toksin yang beredar dalam sirkulasi darah. Pemberian harus dilakukan sesegera mungkin setelah diagnosis klinis ditegakkan, idealnya dalam 24-48 jam pertama sejak onset gejala, karena antitoksin tidak dapat membalikkan kerusakan yang sudah terjadi namun dapat mencegah progresivitas. Untuk pasien dewasa dan anak di atas satu tahun (kecuali botulisme bayi), digunakan botulinum antitoxin heptavalent (BAT) yang efektif terhadap semua tujuh serotipe toksin. Untuk botulisme bayi, tersedia botulism immune globulin intravenous (BIG-IV atau BabyBIG) yang merupakan imunoglobulin manusia dan terbukti mengurangi durasi rawat inap secara signifikan.

Perawatan suportif merupakan komponen kritis dalam tatalaksana botulisme. Pemantauan ketat fungsi pernapasan sangat penting karena gagal napas merupakan penyebab utama kematian. Indikator yang perlu dipantau meliputi kapasitas vital paksa (forced vital capacity), kekuatan inspirasi negatif, dan saturasi oksigen. Intubasi endotrakeal dan ventilasi mekanik mungkin diperlukan selama berminggu-minggu hingga berbulan-bulan sampai efek toksin berkurang dan regenerasi saraf terjadi. Dukungan nutrisi melalui selang nasogastrik atau nutrisi parenteral diperlukan pada pasien dengan disfagia berat.

Pada botulisme luka, diperlukan tindakan debridemen luka untuk mengangkat jaringan nekrotik yang menjadi sumber produksi toksin, disertai pemberian antibiotik. Perlu diingat bahwa antibiotik tidak boleh diberikan pada botulisme terkait makanan atau botulisme bayi karena dapat menyebabkan lisis bakteri dan pelepasan toksin tambahan.

Pada botulisme terkait makanan, jika makanan yang dicurigai baru dikonsumsi dalam beberapa jam, dapat dipertimbangkan pemberian emetik atau pencahar untuk mengeluarkan sisa makanan dari saluran cerna, meskipun efektivitasnya terbatas.

Proses pemulihan dari botulisme memerlukan waktu yang panjang, umumnya beberapa minggu hingga bulan. Sebagian besar kekuatan otot akan pulih dalam beberapa bulan pertama, namun perbaikan dapat terus berlanjut hingga satu tahun. Rehabilitasi fisik diperlukan untuk membantu pemulihan fungsi motorik.

Pencegahan

Pencegahan botulisme terutama ditujukan pada praktik keamanan pangan yang baik dan menghindari faktor risiko yang diketahui.

Untuk mencegah botulisme terkait makanan, WHO merekomendasikan lima kunci keamanan pangan yang meliputi menjaga kebersihan, memisahkan bahan mentah dan matang, memasak dengan benar, menyimpan makanan pada suhu aman, dan menggunakan air dan bahan baku yang aman. Makanan kaleng buatan rumah memerlukan perhatian khusus karena merupakan sumber utama KLB botulisme. Proses pengalengan harus mencapai suhu dan tekanan yang adekuat untuk membunuh spora bakteri. Makanan dengan pH di bawah 4,6 lebih aman karena C. botulinum tidak dapat tumbuh dalam kondisi asam.

Toksin botulinum dapat diinaktivasi dengan pemanasan pada suhu di atas 85°C selama minimal 5 menit, sehingga memanaskan makanan sebelum dikonsumsi dapat mengurangi risiko. Namun perlu diingat bahwa pemanasan biasa tidak membunuh spora, sehingga makanan yang telah dipanaskan tetap berisiko jika disimpan dalam kondisi anaerob.

Untuk pencegahan botulisme pada bayi, rekomendasi utama adalah tidak memberikan madu pada bayi berusia di bawah satu tahun. Madu dapat mengandung spora C. botulinum yang tidak berbahaya bagi orang dewasa namun dapat berkolonisasi di usus bayi yang belum matang.

Pencegahan botulisme luka terutama ditujukan pada pengguna narkoba suntik dengan edukasi mengenai risiko dan pentingnya perawatan luka yang baik. Perawatan luka yang tepat dengan menjaga kebersihan dan segera mencari pertolongan medis jika terdapat tanda infeksi juga penting untuk populasi umum.

Kesimpulan

Botulisme merupakan penyakit langka namun berpotensi fatal yang disebabkan oleh neurotoksin paling kuat yang diketahui. Meskipun insidensinya rendah, kondisi ini tetap menjadi kedaruratan kesehatan masyarakat yang memerlukan kewaspadaan tinggi dari tenaga kesehatan maupun masyarakat umum.

Kunci keberhasilan penanganan botulisme terletak pada kecurigaan klinis yang tinggi, diagnosis dini, dan pemberian antitoksin sesegera mungkin. Perawatan suportif intensif, terutama dukungan pernapasan, merupakan komponen kritis yang menentukan prognosis pasien.

Pencegahan melalui praktik keamanan pangan yang baik, menghindari pemberian madu pada bayi, dan edukasi mengenai faktor risiko merupakan strategi utama untuk mengurangi insidensi botulisme. Dengan penanganan yang tepat dan cepat, sebagian besar pasien botulisme dapat sembuh sepenuhnya meskipun memerlukan waktu pemulihan yang panjang.


Referensi

Centers for Disease Control and Prevention. (2024, December 2). Botulism prevention. CDC. https://www.cdc.gov/botulism/prevention/index.html

Directorate of Environmental Health, Ministry of Health Republic of Indonesia. (2024). Mengenal botulisme. Kementerian Kesehatan RI. https://keslan.kemkes.go.id/view_artikel/748/mengenal-botulisme

European Centre for Disease Prevention and Control. (2024, July 10). Botulism – Annual epidemiological report for 2022. ECDC. https://www.ecdc.europa.eu/en/publications-data/botulism-annual-epidemiological-report-2022

Learoyd, T. P. (2024). Underreporting or failed notification? Global botulism reporting, 2000-2022. Health Security, 22(3), 203-209. https://doi.org/10.1089/hs.2023.0165

Natalia, L., & Priadi, A. (2012). Botulismus: Patogenesis, diagnosis dan pencegahan. WARTAZOA, 22(3), 108-117.

Rao, A. K., Sobel, J., Chatham-Stephens, K., & Luquez, C. (2021). Clinical guidelines for diagnosis and treatment of botulism, 2021. MMWR Recommendations and Reports, 70(2), 1-30. https://doi.org/10.15585/mmwr.rr7002a1

Roshan, N., & Tait, K. (2025). Review of foodborne botulism in the UK: 2006-2024. Foods, 14(15), 2584. https://doi.org/10.3390/foods14152584

Seker, A., & Toprak, S. (2024). The enemy at the gate: Botulism. Turkish Journal of Emergency Medicine, 24(3), 119-124. https://doi.org/10.4103/tjem.tjem_57_24

Tjampakasari, C. R., & Hanifah, R. (2022). Review on Clostridium botulinum and its toxin. CDK Journal, 49(5), 260-263.

Watkins, S., Learoyd, T., Heywood, A. E., & MacIntyre, C. R. (2025). The global epidemiology of botulism outbreaks from open-source intelligence, 2017-2024. American Journal of Emergency Medicine. https://doi.org/10.1016/j.ajem.2025.12.078

World Health Organization. (2023, September 25). Botulism. WHO. https://www.who.int/news-room/fact-sheets/detail/botulism


Artikel ini disusun untuk tujuan edukasi dan tidak menggantikan konsultasi medis profesional. Jika Anda atau seseorang yang Anda kenal mengalami gejala yang dicurigai botulisme, segera cari pertolongan medis darurat.

Commenting 101: “Be kind, and respect each other” // Bersikaplah baik, dan saling menghormati (Indonesian) // Soyez gentils et respectez-vous les uns les autres (French) // Sean amables y respétense mutuamente (Spanish) // 待人友善,互相尊重 (Chinese) // كونوا لطفاء واحترموا بعضكم البعض (Arabic) // Будьте добры и уважайте друг друга (Russian) // Seid freundlich und respektiert einander (German) // 親切にし、お互いを尊重し合いましょう (Japanese) // दयालु बनें, और एक दूसरे का सम्मान करें (Hindi) // Siate gentili e rispettatevi a vicenda (Italian)

Tinggalkan komentar