A Cahya Legawa's Les pèlerins au-dessus des nuages

Orang tua baru sering kali merasa khawatir ketika menyadari bahwa bentuk kepala bayinya tidak simetris atau tampak datar di bagian tertentu. Kondisi ini dikenal sebagai sindrom kepala datar atau flat head syndrome, yang mencakup dua bentuk utama: plagiosefali posisional dan brakisefali posisional. Meskipun terdengar mengkhawatirkan, kondisi ini umumnya bersifat jinak dan dapat ditangani dengan baik jika dikenali sejak dini.

Apa Itu Plagiosefali dan Brakisefali?

Plagiosefali posisional (atau plagiosefali deformasional) adalah kelainan bentuk tengkorak bayi yang ditandai oleh pendataran asimetris pada satu sisi bagian belakang kepala. Secara visual, kepala bayi tampak membentuk jajaran genjang (parallelogram) jika dilihat dari atas, dengan telinga pada sisi yang datar bergeser ke depan, serta dahi dan pipi pada sisi tersebut tampak lebih menonjol (Ita et al., 2024). Istilah “plagiosefali” berasal dari bahasa Yunani plagios (miring) dan kephalos (kepala).

Brakisefali posisional, di sisi lain, merupakan pendataran simetris pada seluruh bagian belakang kepala (oksipital). Hasilnya, kepala bayi tampak lebih lebar dan lebih pendek dari depan ke belakang. Istilah ini berasal dari bahasa Yunani brakhu (pendek) dan kephalos (kepala). Kedua kondisi ini tergolong kelainan bentuk tengkorak non-sinostotik, yang artinya tidak melibatkan penyatuan prematur sutura (sambungan tulang) tengkorak, dan perlu dibedakan dari kraniosinostosis yang merupakan kondisi yang lebih serius dan memerlukan intervensi bedah (Ita et al., 2024).

Seberapa Sering Kondisi Ini Terjadi?

Insiden plagiosefali dan brakisefali posisional telah meningkat secara dramatis sejak tahun 1992, ketika American Academy of Pediatrics (AAP) memperkenalkan kampanye Back to Sleep (sekarang disebut Safe to Sleep) yang merekomendasikan agar bayi ditidurkan dalam posisi telentang untuk mengurangi risiko sindrom kematian mendadak pada bayi atau SIDS (Sudden Infant Death Syndrome). Kampanye ini berhasil menurunkan angka SIDS secara signifikan, tetapi di sisi lain meningkatkan jumlah kasus kelainan bentuk kepala posisional pada bayi.

Data dari berbagai studi menunjukkan bahwa sekitar 20–25% bayi yang tidur telentang mengalami derajat tertentu dari plagiosefali (Boston Children’s Hospital, 2024). Insiden plagiosefali dan brakisefali deformasional secara keseluruhan berkisar antara 18–19,7% (Marshall & Shahzad, 2020). Sebuah studi populasi terbaru oleh Lynch et al. (2024) di JAMA Pediatrics melaporkan insiden plagiosefali dan/atau brakisefali posisional yang terdokumentasi secara klinis sebesar 5,8%, dengan angka yang lebih tinggi pada bayi prematur (11,8%) dibandingkan bayi cukup bulan (5,3%). Prevalensi tampaknya bergantung pada usia, dengan puncak hingga 22,1% pada usia 7 minggu dan menurun menjadi sekitar 3,3% pada usia 2 tahun (Bialocerkowski et al., 2008).

Mengapa Kepala Bayi Bisa Menjadi Datar?

Tulang tengkorak bayi baru lahir masih lunak dan belum menyatu sepenuhnya. Sutura kranial — sendi fibrosa yang memisahkan tulang-tulang tengkorak — belum mengalami osifikasi (penulangan) saat lahir, sehingga tengkorak tetap dapat berubah bentuk (moldable) selama beberapa bulan pertama kehidupan. Proses osifikasi baru dimulai pada usia sekitar 5–6 bulan. Kondisi ini membuat tengkorak bayi rentan terhadap efek deformasional dari tekanan eksternal yang berkelanjutan (Ita et al., 2024).

Faktor risiko plagiosefali dan brakisefali posisional bersifat multifaktorial. Sebuah tinjauan sistematis dan meta-analisis komprehensif oleh Hillyar et al. (2024) mengidentifikasi 17 faktor non-obstetrik yang berhubungan dengan plagiosefali deformasional. Faktor-faktor risiko utama meliputi:

Faktor prenatal dan perinatal — kehamilan kembar (ruang intrauterin yang terbatas), persalinan yang lama, kelahiran dengan bantuan alat (forsep atau vakum), serta kelahiran prematur. Bayi prematur lebih berisiko karena tengkorak mereka lebih lunak dan mereka sering menghabiskan waktu lama dalam posisi tertentu di unit perawatan intensif neonatal (NICU).

Posisi tidur dan kebiasaan sehari-hari — posisi tidur telentang yang berkepanjangan merupakan faktor risiko utama. Selain itu, penggunaan berlebihan peralatan bayi seperti car seat, ayunan bayi, bouncer, dan kereta dorong yang membuat bayi berbaring dalam posisi yang sama untuk waktu lama juga berkontribusi. Kurangnya waktu tengkurap (tummy time) saat bayi terjaga turut memperburuk kondisi.

Tortikolis muskular kongenital — kondisi di mana otot sternokleidomastoid (otot leher) pada satu sisi mengalami pemendekan atau ketegangan, menyebabkan kepala bayi cenderung miring ke satu sisi. Tortikolis dan plagiosefali sering terjadi bersamaan, karena keterbatasan gerakan kepala menyebabkan tekanan berulang pada satu area tengkorak.

Faktor lainnya — jenis kelamin laki-laki, anak pertama, dan tingkat aktivitas bayi yang rendah juga telah diidentifikasi sebagai faktor risiko (Hillyar et al., 2024; Bialocerkowski et al., 2008).

Bagaimana Mengenali Sindrom Kepala Datar?

Orang tua dan pengasuh umumnya mulai menyadari pendataran kepala bayi pada usia sekitar 6–8 minggu. Kondisi ini biasanya paling terlihat antara usia 6 minggu hingga 3 bulan. Tanda-tanda yang perlu diperhatikan meliputi: area datar pada bagian belakang, samping, atau depan kepala bayi; bentuk kepala yang miring atau tidak simetris; kerontokan rambut di satu area tertentu; telinga yang tidak sejajar (satu telinga tampak lebih maju atau lebih tinggi); serta dahi atau pipi yang tampak lebih menonjol pada satu sisi.

Diagnosis umumnya ditegakkan secara klinis melalui pemeriksaan fisik tanpa memerlukan pemeriksaan pencitraan khusus. Cara paling sederhana untuk menilai derajat keparahan plagiosefali adalah menggunakan kaliper diagonal yang mengukur perbedaan panjang diagonal pada masing-masing sisi kepala (Kim et al., 2024). Perbedaan ini dinyatakan sebagai cranial vault asymmetry (CVA) dalam milimeter atau CVA index (CVAI) dalam persentase. Plagiosefali sedang hingga berat didefinisikan sebagai CVA lebih dari 10 mm atau CVAI lebih dari 6%.

Teknologi pemindaian 3 dimensi (3D scanning) semakin banyak digunakan di pusat kraniofasial untuk pengukuran yang lebih akurat dan pemantauan respons terapi. Kajita et al. (2024) menekankan bahwa evaluasi 2 dimensi saja mungkin tidak sepenuhnya menggambarkan struktur 3 dimensi keseluruhan dari tengkorak.

Yang paling penting adalah membedakan plagiosefali posisional dari kraniosinostosis. Pada plagiosefali posisional, kepala membentuk jajaran genjang dengan telinga pada sisi datar bergeser ke depan. Pada kraniosinostosis lambdoid (yang jauh lebih jarang), kepala membentuk trapesoid dengan telinga pada sisi datar bergeser ke belakang dan ke bawah. Jika ada kecurigaan kraniosinostosis, pencitraan CT scan dengan rekonstruksi 3 dimensi merupakan modalitas pilihan (Ita et al., 2024).

Penanganan: Dari Reposisi hingga Terapi Helm

Penanganan plagiosefali dan brakisefali posisional bersifat konservatif (non-bedah) dan umumnya mengikuti pendekatan bertahap sesuai usia dan derajat keparahan.

Reposisi dan Modifikasi Lingkungan

Langkah pertama dan paling mendasar adalah mengubah posisi kepala bayi secara teratur. Panduan dari Congress of Neurological Surgeons (CNS) merekomendasikan reposisi sebagai lini pertama pengobatan. Strategi yang dapat dilakukan orang tua antara lain: memperbanyak waktu tengkurap (tummy time) yang diawasi saat bayi terjaga untuk memperkuat otot leher dan mengurangi tekanan pada bagian kepala yang datar; mengubah posisi kepala bayi secara bergantian saat tidur (meskipun tetap telentang); membatasi waktu bayi di car seat, bouncer, dan ayunan saat tidak bepergian; serta menggendong bayi lebih sering dan mengubah posisi menyusui atau memberikan botol secara bergantian.

Fisioterapi

Bagi bayi dengan tortikolis muskular kongenital yang menyertai plagiosefali, fisioterapi merupakan komponen penting dalam penanganan. Terapi ini mencakup latihan peregangan otot leher, stimulasi gerakan kepala, dan edukasi kepada orang tua mengenai latihan yang dapat dilakukan di rumah. Deteksi dan terapi fisik dini untuk tortikolis (sebelum usia 2 bulan) sangat efektif dalam memperbaiki plagiosefali posisional (Shin & Chung, 2020).

Terapi Helm (Cranial Molding Orthosis)

Untuk kasus sedang hingga berat yang tidak membaik dengan reposisi, terapi helm atau cranial molding orthosis dapat dipertimbangkan. Helm yang disesuaikan khusus (custom-fitted) bekerja dengan memberikan tekanan lembut pada area yang menonjol sambil menyediakan ruang bagi area yang datar untuk tumbuh, sehingga mengarahkan pertumbuhan tengkorak ke bentuk yang lebih simetris. Helm umumnya direkomendasikan untuk dipakai selama 23 jam sehari.

Tinjauan sistematis terbaru oleh Campos-Ponce et al. (2025) yang diterbitkan di Child’s Nervous System menyimpulkan bahwa terapi reposisi efektif untuk kasus ringan hingga sedang, tetapi beberapa studi dengan bukti kelas I dan II menunjukkan bahwa terapi tersebut kurang efektif dibandingkan kombinasi fisioterapi dan penggunaan helm. Panduan CNS menemukan bukti substansial dari studi non-acak yang menunjukkan perbaikan bentuk kepala yang lebih signifikan dan lebih cepat pada bayi yang diterapi dengan helm dibandingkan terapi konservatif saja, terutama pada kasus yang berat (Flannery et al., 2016).

Namun, satu uji klinis acak terkontrol (randomized controlled trial) oleh van Wijk et al. (2014) tidak menemukan perbedaan signifikan antara terapi helm dan observasi pada usia 24 bulan. Studi tindak lanjut jangka panjang (5 tahun) oleh Van Cruchten et al. (2022) menunjukkan bahwa baik plagiosefali maupun brakisefali posisional mengalami penurunan prevalensi dan keparahan yang signifikan seiring waktu, meskipun penurunan pada kelompok yang menerima terapi (fisioterapi dan/atau helm) lebih bermakna secara statistik dibandingkan tanpa terapi.

Faktor yang memengaruhi efektivitas terapi helm meliputi: usia saat memulai terapi (idealnya sebelum usia 9 bulan, saat pertumbuhan tengkorak masih pesat), derajat keparahan deformitas, dan kepatuhan pemakaian helm sehari-hari (Kim et al., 2024).

Apakah Kepala Datar Memengaruhi Perkembangan Anak?

Pertanyaan mengenai hubungan antara plagiosefali posisional dan perkembangan neurologis anak merupakan topik yang terus diteliti. Selama bertahun-tahun, plagiosefali posisional dianggap murni sebagai masalah kosmetik. Namun, beberapa penelitian menunjukkan gambaran yang lebih kompleks.

Studi oleh Lynch et al. (2024) melaporkan bahwa di antara 402 anak dengan riwayat plagiosefali/brakisefali posisional yang dipantau hingga usia 7 tahun, 7,5% memiliki gangguan perkembangan yang terkonfirmasi, termasuk 2,2% dengan gangguan spektrum autisme. Collett et al. (2019) menemukan bahwa anak-anak dengan plagiosefali deformasional memiliki skor yang lebih rendah pada semua skala perkembangan Bayley dibandingkan anak-anak tanpa riwayat tersebut, dengan perbedaan terbesar pada aspek kognisi, bahasa, dan perilaku adaptif.

Sebuah studi oleh Kluba et al. (2023) yang meneliti luaran neurokognitif jangka panjang pada 138 anak usia sekolah dengan riwayat plagiosefali deformasional menemukan bahwa terapi helm tidak berhubungan dengan luaran neurokognitif yang lebih baik atau lebih buruk, dan tidak ada hubungan signifikan antara derajat keparahan deformitas dengan fungsi neurokognitif.

Penting untuk dicatat bahwa hubungan antara plagiosefali dan keterlambatan perkembangan tidak selalu berarti hubungan sebab-akibat. Kemungkinan yang ada adalah bahwa anak-anak dengan keterlambatan perkembangan motorik mungkin lebih cenderung mengembangkan plagiosefali karena gerakan kepala yang terbatas, bukan sebaliknya. Meskipun demikian, peningkatan pemantauan perkembangan pada anak-anak dengan plagiosefali posisional tetap dianjurkan.

Prognosis dan Kapan Harus Berkonsultasi ke Dokter

Prognosis plagiosefali dan brakisefali posisional umumnya baik. Sebagian besar kasus membaik secara alami seiring pertumbuhan bayi, terutama setelah bayi mulai mampu mengangkat kepala, berguling, dan duduk. Sebuah studi tindak lanjut menunjukkan bahwa 61% pengukuran bentuk kepala kembali ke rentang normal pada usia 3–4 tahun (Hutchison et al., 2010).

Orang tua sebaiknya berkonsultasi dengan dokter anak jika: bentuk kepala bayi tampak tidak simetris atau datar dan tidak membaik dengan perubahan posisi; bayi menunjukkan preferensi kuat untuk menoleh ke satu sisi (kemungkinan tortikolis); pendataran kepala tampak memburuk; atau ada kekhawatiran lain mengenai perkembangan bayi. Dokter perlu menyingkirkan kemungkinan kraniosinostosis, yang memerlukan penanganan bedah, meskipun kondisi ini jauh lebih jarang dengan insiden hanya sekitar 0,16% (Lynch et al., 2024).

Pencegahan: Langkah Sederhana yang Bermakna

Pencegahan plagiosefali posisional dimulai dengan edukasi kepada orang tua sejak dini. Rekomendasi pencegahan berdasarkan bukti ilmiah dari Hillyar et al. (2024) meliputi: memastikan waktu tengkurap yang cukup setiap hari sejak bayi pulang dari rumah sakit; mengubah posisi kepala bayi secara teratur saat tidur telentang; membatasi waktu dalam peralatan yang menahan posisi kepala (seperti car seat dan bouncer) hanya untuk keperluan yang semestinya; deteksi dini dan terapi tortikolis jika ditemukan; serta pemantauan bentuk kepala secara rutin oleh tenaga kesehatan selama kunjungan kontrol bayi.

Yang terpenting, rekomendasi tidur telentang untuk mencegah SIDS tetap harus dipatuhi. Pencegahan plagiosefali bukan berarti mengubah posisi tidur bayi menjadi tengkurap, melainkan memastikan variasi posisi saat bayi terjaga dan pengawasan yang memadai.

Penutup

Sindrom kepala datar merupakan kondisi yang umum terjadi pada bayi dan umumnya dapat dicegah serta ditangani dengan baik. Kesadaran orang tua dan tenaga kesehatan mengenai faktor risiko, tanda-tanda awal, dan strategi penanganan yang tepat merupakan kunci keberhasilan tata laksana. Meskipun sebagian besar kasus membaik secara alami atau dengan intervensi konservatif, konsultasi dengan dokter tetap penting untuk menyingkirkan kondisi yang lebih serius dan memastikan pemantauan perkembangan yang optimal bagi setiap anak.


Daftar Referensi

Bialocerkowski, A. E., Vladusic, S. L., & Wei Ng, C. (2008). Prevalence, risk factors, and natural history of positional plagiocephaly: A systematic review. Developmental Medicine & Child Neurology, 50(8), 577–586. https://doi.org/10.1111/j.1469-8749.2008.03029.x

Campos-Ponce, M., Marcos-Alvarez, M., Escobio-Prieto, I., De la Fuente-Costa, M., Perez-Dominguez, B., Pinero-Pinto, E., & Rodriguez-Rodriguez, A. M. (2025). Use of orthotic helmets in children with positional plagiocephaly and brachycephaly: A systematic review. Child’s Nervous System. https://doi.org/10.1007/s00381-025-06826-0

Collett, B. R., Wallace, E. R., Kartin, D., Cunningham, M. L., & Speltz, M. L. (2019). Cognitive outcomes and positional plagiocephaly. Pediatrics, 143(2), e20182373. https://doi.org/10.1542/peds.2018-2373

Flannery, A. M., Tamber, M. S., Mazzola, C., Klimo, P., Baird, L. C., Tyagi, R., Bauer, D. F., Beier, A., Durham, S., Lin, A. Y., McClung-Smith, C., Mitchell, L., & Nikas, D. (2016). Congress of Neurological Surgeons systematic review and evidence-based guidelines for the management of patients with positional plagiocephaly: Executive summary. Neurosurgery, 79(5), 623–624. https://doi.org/10.1227/NEU.0000000000001426

Hillyar, C. R. T., Bishop, N., Nibber, A., Bell-Davies, F. J., & Ong, J. (2024). Assessing the evidence for nonobstetric risk factors for deformational plagiocephaly: Systematic review and meta-analysis. Interactive Journal of Medical Research, 13, e55695. https://doi.org/10.2196/55695

Hutchison, B. L., Stewart, A. W., & Mitchell, E. A. (2010). Deformational plagiocephaly: A follow-up of head shape, parental concern and neurodevelopment at ages 3 and 4 years. Archives of Disease in Childhood, 96(1), 85–90. https://doi.org/10.1136/adc.2010.190934

Ita, M. I., Weisbrod, L. J., & Rizvi, M. B. (2024). Brachycephaly. Dalam StatPearls. StatPearls Publishing. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK567709/

Kajita, H., Tanaka, I., Komuro, H., Nishimaki, S., Kusakawa, I., & Sakamoto, K. (2024). Efficacy of cranial orthosis for plagiocephaly based on 2D and 3D evaluation. Archives of Plastic Surgery, 51(2), 169–181. https://doi.org/10.1055/a-2222-1494

Kim, J., Kim, J., & Chae, K. Y. (2024). Effectiveness of helmet therapy for infants with moderate to severe positional plagiocephaly. Clinical and Experimental Pediatrics, 67(1), 46–53. https://doi.org/10.3345/cep.2023.00626

Kluba, S., Lypka, M., Novak, J., Kraut, W., Krimmel, M., Bledsoe, I., Reinert, S., & Knopp, U. (2023). Neurocognitive outcomes in deformational plagiocephaly: Is there an association between morphologic severity and results? Plastic and Reconstructive Surgery, 152(3), 488e–498e. https://doi.org/10.1097/PRS.0000000000010330

Lynch, M. E., White, M. J., Rabatin, A. E., Brandenburg, J. E., Theuer, A. B., Viet, K. M., Hollman, J. H., & Driscoll, S. W. (2024). Incidence of nonsynostotic plagiocephaly and developmental disorders. JAMA Pediatrics, 178(9), 899–905. https://doi.org/10.1001/jamapediatrics.2024.2304

Marshall, J. M., & Shahzad, F. (2020). Safe sleep, plagiocephaly, and brachycephaly: Assessment, risks, treatment, and when to refer. Pediatric Annals, 49(10), e440–e447. https://doi.org/10.3928/19382359-20200922-02

Panza, R., Piarulli, F., Rizzo, V., Bavaro, S., D’Amato, G., Intini, A., & Laforgia, N. (2024). Positional plagiocephaly: Results of the osteopathic treatment of 424 infants. An observational retrospective cohort study. Italian Journal of Pediatrics, 50, 166. https://doi.org/10.1186/s13052-024-01729-3

Shin, Y. B., & Chung, S. G. (2020). Diagnosis and treatment of positional plagiocephaly. Archives of Craniofacial Surgery, 21(2), 80–86. https://doi.org/10.7181/acfs.2020.00059

Van Cruchten, C., Feijen, M. M. W., & Van der Hulst, R. R. W. J. (2022). Helmet therapy for positional cranial deformations; a 5-year follow-up study. Journal of Cranio-Maxillofacial Surgery, 50(6), 499–503. https://doi.org/10.1016/j.jcms.2022.05.001

van Wijk, R. M., van Vlimmeren, L. A., Groothuis-Oudshoorn, C. G. M., Van der Ploeg, C. P. B., IJzerman, M. J., & Boere-Boonekamp, M. M. (2014). Helmet therapy in infants with positional skull deformation: Randomised controlled trial. BMJ, 348, g2741. https://doi.org/10.1136/bmj.g2741

Commenting 101: “Be kind, and respect each other” // Bersikaplah baik, dan saling menghormati (Indonesian) // Soyez gentils et respectez-vous les uns les autres (French) // Sean amables y respétense mutuamente (Spanish) // 待人友善,互相尊重 (Chinese) // كونوا لطفاء واحترموا بعضكم البعض (Arabic) // Будьте добры и уважайте друг друга (Russian) // Seid freundlich und respektiert einander (German) // 親切にし、お互いを尊重し合いましょう (Japanese) // दयालु बनें, और एक दूसरे का सम्मान करें (Hindi) // Siate gentili e rispettatevi a vicenda (Italian)

Tinggalkan komentar