A Cahya Legawa's Les pèlerins au-dessus des nuages

Abses payudara adalah kumpulan nanah yang terbentuk di dalam jaringan payudara akibat infeksi bakteri. Kondisi ini paling sering terjadi pada perempuan menyusui, namun juga dapat dialami oleh perempuan yang tidak menyusui, bahkan pada laki-laki dalam kasus yang jarang. Meskipun bukan termasuk kondisi yang mengancam jiwa, abses payudara menyebabkan nyeri hebat, demam, dan ketidaknyamanan yang signifikan, sehingga memerlukan diagnosis dan penanganan yang cepat serta tepat.

Memahami abses payudara secara menyeluruh — mulai dari faktor risiko, mekanisme terjadinya, hingga pilihan terapi — sangat penting bagi tenaga kesehatan maupun masyarakat umum agar kondisi ini dapat dicegah dan ditangani secara optimal.


Epidemiologi

Abses payudara merupakan komplikasi yang cukup umum dari mastitis atau peradangan payudara. Sekitar 3–11% kasus mastitis laktasi berkembang menjadi abses payudara jika tidak ditangani secara adekuat (Boakes et al., 2018). Insiden mastitis laktasi sendiri dilaporkan berkisar antara 2–33% dari seluruh perempuan menyusui, dengan variasi yang lebar tergantung pada populasi dan definisi yang digunakan (World Health Organization [WHO], 2000).

Abses payudara laktasi paling sering terjadi dalam enam minggu pertama pascapersalinan, meskipun dapat muncul kapan saja selama masa menyusui. Sementara itu, abses payudara non-laktasi cenderung terjadi pada perempuan usia 30–60 tahun dan sering dikaitkan dengan faktor risiko seperti merokok, diabetes melitus, obesitas, dan tindik puting (Lam et al., 2014).

Di Indonesia, data epidemiologi spesifik mengenai abses payudara masih terbatas. Namun, mengingat tingginya angka menyusui di Indonesia — dengan cakupan ASI eksklusif yang dilaporkan sekitar 52,5% menurut Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) tahun 2022 — serta tantangan dalam edukasi teknik menyusui yang benar di fasilitas kesehatan primer, abses payudara laktasi diperkirakan tetap menjadi masalah klinis yang cukup signifikan, terutama di daerah dengan akses layanan kesehatan yang terbatas.


Etiologi dan Faktor Risiko

Penyebab Infeksi

Bakteri penyebab utama abses payudara adalah Staphylococcus aureus, termasuk strain Methicillin-resistant Staphylococcus aureus (MRSA) yang semakin banyak ditemukan dalam beberapa tahun terakhir (Kataria et al., 2015). Pada abses laktasi, bakteri umumnya masuk melalui fisura atau luka kecil pada puting susu, kemudian berproliferasi di dalam jaringan payudara yang mengalami stasis ASI.

Pada abses non-laktasi, spektrum bakteri penyebab lebih beragam, termasuk bakteri anaerob seperti Bacteroides spp., Peptostreptococcus spp., serta bakteri campuran aerob-anaerob. Infeksi polimikrobial lebih sering ditemukan pada abses non-laktasi, terutama pada kasus yang berkaitan dengan ektasia duktus atau mastitis periduktus (Lam et al., 2014).

Faktor Risiko

Berbagai faktor risiko telah diidentifikasi dalam literatur ilmiah untuk terjadinya abses payudara.

Pada kelompok laktasi, faktor risiko utama meliputi teknik menyusui yang kurang tepat sehingga menyebabkan perlekatan (latch-on) yang buruk, pembengkakan payudara atau engorgement yang tidak tertangani, stasis ASI akibat pengosongan payudara yang tidak adekuat, fisura atau lecet pada puting susu yang menjadi pintu masuk bakteri, serta riwayat mastitis sebelumnya yang meningkatkan kerentanan terhadap infeksi berulang.

Pada kelompok non-laktasi, faktor risiko yang paling konsisten dilaporkan adalah kebiasaan merokok. Merokok diduga menyebabkan kerusakan pada duktus subareolar melalui efek toksik langsung terhadap epitel duktus, sehingga meningkatkan kerentanan terhadap infeksi dan pembentukan abses periareolar berulang (Ramalingam et al., 2023). Faktor risiko lain termasuk diabetes melitus yang tidak terkontrol, obesitas, penggunaan steroid atau obat imunosupresan, tindik pada puting susu, serta kondisi imunodefisiensi.


Patofisiologi

Pemahaman mengenai mekanisme terbentuknya abses payudara penting untuk mendasari pendekatan pencegahan dan terapi yang rasional.

Abses Laktasi

Pada perempuan menyusui, proses pembentukan abses umumnya dimulai dengan stasis ASI, yaitu kondisi di mana ASI tidak dikeluarkan secara adekuat dari duktus laktiferus. Stasis ini dapat disebabkan oleh perlekatan bayi yang kurang baik, jadwal menyusui yang tidak teratur, atau penggunaan pakaian dalam yang terlalu ketat. ASI yang tertahan menjadi media pertumbuhan bakteri yang baik.

Ketika bakteri — yang umumnya berasal dari flora normal kulit atau rongga mulut bayi — masuk melalui fisura puting, terjadi respons inflamasi lokal yang dikenal sebagai mastitis. Jika mastitis tidak ditangani secara adekuat dengan pengosongan payudara yang efektif dan, bila diperlukan, antibiotik yang tepat, infeksi dapat berlanjut menjadi pembentukan abses. Pada tahap ini, terjadi nekrosis jaringan terlokalisasi dan akumulasi nanah yang dikelilingi oleh dinding kapsul piogenik (Dixon, 2022).

Abses Non-laktasi

Pada abses non-laktasi, mekanisme patofisiologi yang mendasarinya berbeda. Tipe yang paling umum adalah mastitis periduktus, di mana terjadi metaplasia skuamosa pada epitel duktus laktiferus di area subareolar. Perubahan metaplastik ini menyebabkan obstruksi duktus, dilatasi, dan stasis sekresi, yang kemudian dapat mengalami infeksi sekunder dan membentuk abses. Proses ini sering bersifat kronis dan berulang, terutama pada perempuan yang merokok (Ramalingam et al., 2023).

Tipe lain yang lebih jarang adalah mastitis granulomatosa idiopatik, yang merupakan kondisi inflamasi kronis pada payudara dengan etiologi yang belum sepenuhnya dipahami. Kondisi ini dapat disalahartikan sebagai karsinoma payudara secara klinis maupun radiologis, sehingga diperlukan biopsi untuk menegakkan diagnosis (Martinez-Ramos et al., 2022).


Manifestasi Klinis

Gejala dan tanda abses payudara umumnya cukup khas, meskipun pada beberapa kasus dapat menyerupai kondisi lain yang memerlukan diagnosis banding yang cermat.

Gejala utama yang dirasakan oleh pasien meliputi nyeri payudara yang progresif dan berdenyut pada area yang terkena, pembengkakan dan kemerahan pada kulit di atas area abses, rasa hangat pada area yang terinfeksi, serta demam dan menggigil sebagai tanda infeksi sistemik. Pada beberapa kasus, nanah dapat keluar secara spontan melalui puting atau melalui kulit yang mengalami nekrosis.

Pada pemeriksaan fisik, dokter dapat menemukan massa yang fluktuatif dan nyeri tekan pada payudara, eritema dan edema kulit di atas massa, limfadenopati aksila ipsilateral, serta pada kasus yang berat, tanda-tanda sepsis seperti takikardia, hipotensi, dan perubahan status mental.

Perlu dicatat bahwa abses payudara dalam (deep abscess) mungkin tidak menunjukkan tanda-tanda kulit superfisial yang jelas seperti eritema atau fluktuasi, sehingga kecurigaan klinis yang tinggi diperlukan terutama pada perempuan menyusui dengan demam yang persisten meskipun sudah mendapat terapi antibiotik untuk mastitis (Kataria et al., 2015).


Diagnosis

Diagnosis abses payudara didasarkan pada kombinasi gambaran klinis dan pemeriksaan penunjang. Pendekatan diagnostik yang tepat sangat penting untuk membedakan abses dari kondisi lain seperti mastitis tanpa abses, galaktokel, dan yang paling penting, karsinoma payudara inflamatorik.

Pemeriksaan Klinis

Anamnesis dan pemeriksaan fisik yang teliti merupakan langkah awal yang esensial. Informasi mengenai status menyusui, durasi gejala, riwayat mastitis sebelumnya, dan faktor risiko seperti merokok atau diabetes sangat membantu dalam mengarahkan diagnosis. Pemeriksaan fisik yang cermat dengan palpasi sistematis pada seluruh payudara dapat mengidentifikasi area fluktuasi yang menunjukkan adanya koleksi cairan.

Ultrasonografi Payudara

Ultrasonografi (USG) payudara merupakan modalitas pencitraan pilihan pertama untuk evaluasi abses payudara. USG memiliki sensitivitas dan spesifisitas yang tinggi dalam membedakan massa solid dari koleksi cairan, serta dapat menentukan ukuran, lokasi, dan jumlah abses secara akurat (Defined et al., 2023). Gambaran USG khas abses payudara berupa lesi hipoekoik atau anekhoik dengan batas ireguler, kadang disertai debris internal dan peningkatan akustik posterior. USG juga berperan penting sebagai pemandu dalam prosedur aspirasi dan drainase.

Pemeriksaan Laboratorium

Pemeriksaan darah lengkap umumnya menunjukkan leukositosis dengan predominansi neutrofil. Kultur dan uji sensitivitas antibiotik dari aspirat abses sangat direkomendasikan untuk memandu terapi antibiotik yang tepat, terutama mengingat meningkatnya prevalensi MRSA sebagai penyebab abses payudara (Kataria et al., 2015). Pada kasus yang dicurigai sepsis, pemeriksaan kultur darah dan penanda inflamasi seperti C-reactive protein (CRP) dan prokalsitonin juga perlu dipertimbangkan.

Diagnosis Banding

Beberapa kondisi yang perlu dipertimbangkan dalam diagnosis banding abses payudara adalah mastitis tanpa pembentukan abses, galaktokel (kista berisi ASI), karsinoma payudara inflamatorik, serta mastitis granulomatosa. Pada perempuan berusia di atas 40 tahun atau dengan faktor risiko kanker payudara, biopsi jaringan perlu dipertimbangkan untuk menyingkirkan keganasan, terutama jika respons terhadap terapi infeksi tidak adekuat (Ramalingam et al., 2023).


Tata Laksana

Penanganan abses payudara memerlukan pendekatan yang komprehensif, meliputi drainase abses, terapi antibiotik, dan manajemen nyeri. Pilihan modalitas drainase bergantung pada ukuran abses, lokasi, dan ketersediaan fasilitas.

Aspirasi Jarum dengan Panduan USG

Aspirasi jarum perkutan dengan panduan USG telah menjadi pilihan terapi lini pertama untuk sebagian besar kasus abses payudara. Prosedur ini dilakukan dengan menggunakan jarum berukuran besar (biasanya 14–18 gauge) di bawah panduan ultrasonografi untuk mengaspirasi nanah secara lengkap dari kavitas abses. Aspirasi mungkin perlu diulang beberapa kali dalam interval 2–3 hari hingga abses benar-benar resolusi.

Sebuah tinjauan sistematis dan meta-analisis oleh Defined et al. (2023) menunjukkan bahwa aspirasi jarum dengan panduan USG memiliki tingkat keberhasilan yang sebanding dengan insisi dan drainase untuk abses berukuran kurang dari 5 cm, dengan keunggulan berupa hasil kosmetik yang lebih baik, waktu penyembuhan yang lebih singkat, tingkat nyeri yang lebih rendah, serta kemungkinan untuk tetap melanjutkan menyusui yang lebih tinggi.

Insisi dan Drainase

Insisi dan drainase tetap merupakan prosedur yang diperlukan pada beberapa kondisi, yaitu pada abses berukuran besar (umumnya lebih dari 5 cm), abses multilokular yang kompleks, kegagalan aspirasi berulang, dan abses dengan nekrosis kulit yang luas. Prosedur ini dilakukan di bawah anestesi lokal atau umum, dengan membuat insisi pada area fluktuasi maksimal, memecah sekat-sekat intrakavitas, dan memasang drainase. Meskipun lebih invasif, insisi dan drainase memberikan drainase yang lebih definitive pada kasus-kasus yang kompleks.

Terapi Antibiotik

Antibiotik empiris harus diberikan segera setelah diagnosis ditegakkan, bahkan sebelum hasil kultur tersedia. Pemilihan antibiotik empiris harus mencakup cakupan terhadap S. aureus sebagai patogen tersering. Untuk kasus abses laktasi tanpa faktor risiko MRSA, antibiotik lini pertama yang umum digunakan adalah golongan penisilin resisten penisilinase seperti dikloksasilin, kloksasilin, atau sefalosporin generasi pertama seperti sefaleksin. Jika terdapat kecurigaan atau konfirmasi infeksi MRSA, pilihan antibiotik meliputi trimetoprim-sulfametoksazol, klindamisin, atau vankomisin untuk kasus yang berat (Kataria et al., 2015).

Untuk abses non-laktasi yang sering melibatkan bakteri anaerob, penambahan metronidazol atau penggunaan amoksisilin-klavulanat dapat dipertimbangkan untuk memberikan cakupan yang lebih luas. Durasi terapi antibiotik umumnya 10–14 hari, disesuaikan dengan respons klinis dan hasil kultur.

Manajemen Nyeri dan Perawatan Suportif

Manajemen nyeri merupakan komponen penting dalam tata laksana abses payudara. Analgesik yang dapat digunakan meliputi parasetamol dan ibuprofen, yang keduanya aman digunakan selama menyusui. Kompres hangat pada area yang terkena juga dapat membantu mengurangi nyeri dan memfasilitasi drainase. Pasien perlu diedukasi mengenai tanda-tanda perburukan yang memerlukan kunjungan ulang segera, seperti demam yang menetap, perluasan area kemerahan, atau gejala sistemik.

Menyusui Selama Penanganan Abses

Salah satu pertanyaan klinis yang paling sering diajukan adalah apakah ibu boleh tetap menyusui pada sisi payudara yang mengalami abses. WHO dan sebagian besar pedoman internasional merekomendasikan bahwa menyusui tetap dapat dilanjutkan pada sisi payudara yang terkena, kecuali jika insisi drainase sangat dekat dengan areola sehingga mengganggu perlekatan bayi, atau jika nyeri sangat hebat sehingga menyusui tidak memungkinkan. Pengosongan payudara yang kontinu justru membantu mempercepat resolusi infeksi dan mencegah pembentukan abses tambahan (WHO, 2000). Ibu perlu diyakinkan bahwa ASI dari payudara yang terinfeksi tetap aman untuk bayi, karena antibodi dalam ASI justru memberikan perlindungan tambahan.


Komplikasi

Jika tidak ditangani secara adekuat, abses payudara dapat menimbulkan beberapa komplikasi. Komplikasi lokal meliputi pembentukan fistula mammaria yang menghubungkan kavitas abses dengan permukaan kulit, rekurensi abses terutama pada kasus yang berhubungan dengan mastitis periduktus, serta jaringan parut yang dapat menyebabkan deformitas payudara dan gangguan kosmetik. Komplikasi sistemik yang lebih serius meliputi sepsis, terutama pada pasien imunokompromais, serta gangguan menyusui yang dapat berdampak pada status nutrisi bayi.

Tingkat rekurensi abses payudara dilaporkan bervariasi, dengan angka yang lebih tinggi pada abses non-laktasi, terutama yang berhubungan dengan merokok dan mastitis periduktus. Modifikasi faktor risiko, khususnya penghentian merokok, merupakan langkah penting dalam mencegah rekurensi (Ramalingam et al., 2023).


Pencegahan

Pencegahan abses payudara terutama berfokus pada pencegahan dan penanganan dini mastitis. Beberapa strategi pencegahan yang berbasis bukti meliputi edukasi teknik menyusui yang benar sejak awal pascapersalinan dengan penekanan pada perlekatan yang tepat, pengosongan payudara yang teratur dan adekuat untuk menghindari stasis ASI, perawatan puting yang baik untuk mencegah fisura termasuk menjaga kelembaban dan menghindari penggunaan sabun yang berlebihan, penanganan segera jika terjadi gejala awal mastitis seperti nyeri, kemerahan, dan demam, serta modifikasi faktor risiko seperti penghentian merokok dan kontrol glikemik yang baik pada penderita diabetes.

Di Indonesia, peran bidan dan konselor laktasi dalam memberikan edukasi menyusui yang komprehensif sangat krusial. Program pelatihan manajemen laktasi bagi tenaga kesehatan di fasilitas kesehatan primer perlu ditingkatkan untuk memastikan deteksi dini dan penanganan tepat terhadap mastitis sebelum berkembang menjadi abses.


Prognosis

Prognosis abses payudara pada umumnya baik dengan penanganan yang tepat dan tepat waktu. Sebagian besar kasus dapat disembuhkan secara sempurna dengan aspirasi jarum berulang atau insisi dan drainase yang dikombinasikan dengan terapi antibiotik yang adekuat. Faktor-faktor yang dapat mempengaruhi prognosis meliputi ukuran abses pada saat presentasi, keterlambatan dalam diagnosis dan penanganan, status imunitas pasien, serta sensitivitas bakteri penyebab terhadap antibiotik yang diberikan.

Pada kasus abses laktasi, sebagian besar ibu dapat kembali menyusui secara normal setelah resolusi infeksi. Untuk abses non-laktasi yang berulang, terutama yang berhubungan dengan mastitis periduktus kronis, eksisi duktus subareolar mungkin diperlukan sebagai tindakan definitif untuk mencegah rekurensi (Lam et al., 2014).


Penutup

Abses payudara adalah kondisi yang memerlukan perhatian medis segera. Kemajuan dalam teknik pencitraan dan aspirasi dengan panduan USG telah memberikan pilihan terapi yang kurang invasif dengan hasil yang baik. Edukasi mengenai teknik menyusui yang benar, pengenalan dini tanda-tanda mastitis, dan penanganan yang cepat merupakan kunci dalam mencegah perkembangan menjadi abses. Bagi masyarakat, penting untuk tidak mengabaikan gejala awal infeksi payudara dan segera mencari pertolongan medis untuk mendapatkan penanganan yang optimal.


Referensi

Boakes, E., Woods, A., Johnson, N., & Sheridan, R. (2018). Breast infection: A review of diagnosis and management practices. European Journal of Breast Health, 14(3), 136–143. https://doi.org/10.5152/ejbh.2018.3871

Defined, A., Ahmed, Y. S., Shawki, M. A., Abdelrahman, A., & Sallam, A. A. (2023). Ultrasound-guided needle aspiration versus incision and drainage in the management of breast abscess: A systematic review and meta-analysis. Langenbeck’s Archives of Surgery, 408(1), 217. https://doi.org/10.1007/s00423-023-02955-z

Dixon, J. M. (2022). Breast infection. Dalam J. R. Harris, M. E. Lippman, M. Morrow, & C. K. Osborne (Ed.), Diseases of the breast (6th ed.). Wolters Kluwer.

Kataria, K., Srivastava, A., & Dhar, A. (2015). Management of lactational mastitis and breast abscesses: Review of current knowledge and practice. Indian Journal of Surgery, 77(2), 430–435. https://doi.org/10.1007/s12262-013-0879-7

Lam, E., Chan, T., & Wiseman, S. M. (2014). Breast abscess: Evidence based management recommendations. Expert Review of Anti-infective Therapy, 12(7), 753–762. https://doi.org/10.1586/14787210.2014.913982

Martinez-Ramos, D., Simon-Monterde, L., Suelves-Piqueres, C., Queralt-Martin, R., Granel-Villach, L., Laguna-Sastre, J. M., & Salvador-Sanchis, J. L. (2022). Idiopathic granulomatous mastitis: A systematic review of 3060 patients. The Breast Journal, 2022, 4355038. https://doi.org/10.1155/2022/4355038

Ramalingam, K., Vuthaluru, S., & Srinivasan, P. (2023). Recurrent non-lactational breast abscess: An updated review. Cureus, 15(10), e47459. https://doi.org/10.7759/cureus.47459

World Health Organization. (2000). Mastitis: Causes and management. WHO. https://apps.who.int/iris/handle/10665/66230

Commenting 101: “Be kind, and respect each other” // Bersikaplah baik, dan saling menghormati (Indonesian) // Soyez gentils et respectez-vous les uns les autres (French) // Sean amables y respétense mutuamente (Spanish) // 待人友善,互相尊重 (Chinese) // كونوا لطفاء واحترموا بعضكم البعض (Arabic) // Будьте добры и уважайте друг друга (Russian) // Seid freundlich und respektiert einander (German) // 親切にし、お互いを尊重し合いましょう (Japanese) // दयालु बनें, और एक दूसरे का सम्मान करें (Hindi) // Siate gentili e rispettatevi a vicenda (Italian)

Tinggalkan komentar