Kanker payudara sering kali dianggap sebagai penyakit yang hanya menyerang perempuan. Anggapan ini tidak sepenuhnya salah — lebih dari 99% kasus kanker payudara memang terjadi pada perempuan. Namun, kenyataannya pria juga memiliki jaringan payudara, dan jaringan tersebut dapat mengalami keganasan. Kanker payudara pada pria (male breast cancer) adalah kondisi yang langka tetapi nyata, dan justru karena kelangkaannya, diagnosis sering terlambat dengan konsekuensi yang serius.
Artikel ini membahas secara komprehensif tentang kanker payudara pada pria, mulai dari epidemiologi, faktor risiko, manifestasi klinis, diagnosis, tata laksana, hingga prognosis berdasarkan literatur ilmiah terbaru.
Seberapa Sering Kanker Payudara Terjadi pada Pria?
Kanker payudara pada pria menyumbang kurang dari 1% dari seluruh kasus kanker payudara dan sekitar 0,5% dari seluruh keganasan pada pria. Di Amerika Serikat, diperkirakan sekitar 2.800 kasus baru didiagnosis setiap tahun dengan angka kematian sekitar 530 kasus per tahun (Giordano, 2018). Secara global, insiden kanker payudara pada pria menunjukkan tren peningkatan dalam beberapa dekade terakhir, meskipun penyebab peningkatan ini belum sepenuhnya dipahami (Hassett et al., 2020).
Di wilayah Asia Tenggara termasuk Indonesia, data epidemiologi spesifik untuk kanker payudara pada pria masih sangat terbatas. Keterbatasan ini sebagian disebabkan oleh rendahnya kesadaran masyarakat dan tenaga kesehatan terhadap kondisi ini, serta kurangnya sistem registrasi kanker yang komprehensif di banyak daerah. Menurut data Global Cancer Observatory (GLOBOCAN) dari International Agency for Research on Cancer (IARC), Indonesia memiliki beban kanker payudara yang tinggi secara keseluruhan, tetapi data yang dipilah berdasarkan jenis kelamin untuk populasi pria belum tersedia secara memadai (Sung et al., 2021).
Usia rata-rata saat diagnosis kanker payudara pada pria lebih tinggi dibandingkan perempuan, yaitu sekitar 65–70 tahun. Kondisi ini sangat jarang ditemukan pada pria berusia di bawah 35 tahun (Cardoso et al., 2018).
Mengapa Pria Bisa Terkena Kanker Payudara?
Pria memiliki sejumlah kecil jaringan payudara yang terdiri dari duktus (saluran) rudimenter dan stroma di belakang kompleks puting-areola. Berbeda dengan perempuan, jaringan ini tidak berkembang lebih lanjut karena tidak terpapar kadar estrogen dan progesteron yang tinggi selama pubertas. Namun, jaringan duktus rudimenter ini tetap memiliki potensi untuk mengalami transformasi keganasan (Fentiman et al., 2006).
Secara histopatologis, mayoritas kanker payudara pada pria merupakan karsinoma duktal invasif (invasive ductal carcinoma), yang ditemukan pada sekitar 85–90% kasus. Karsinoma lobular invasif (invasive lobular carcinoma) sangat jarang pada pria karena jaringan lobular payudara pria tidak berkembang secara bermakna. Proporsi tumor dengan reseptor hormon positif — baik reseptor estrogen (ER) maupun reseptor progesteron (PR) — pada pria secara konsisten lebih tinggi dibandingkan pada perempuan, dengan sekitar 90–95% kasus menunjukkan ER positif dan sekitar 80–85% menunjukkan PR positif (Gucalp et al., 2019).
Ekspresi human epidermal growth factor receptor 2 (HER2) yang berlebihan ditemukan lebih jarang pada pria, hanya sekitar 5–15% kasus. Subtipe triple-negative (ER negatif, PR negatif, HER2 negatif) juga jarang ditemukan, hanya sekitar 1–5% dari seluruh kasus kanker payudara pada pria (Hassett et al., 2020).
Faktor Risiko
Beberapa faktor risiko telah diidentifikasi berkaitan dengan peningkatan kemungkinan kanker payudara pada pria.
Mutasi genetik. Mutasi gen BRCA2 merupakan faktor risiko genetik paling signifikan untuk kanker payudara pada pria. Pria pembawa mutasi BRCA2 memiliki risiko seumur hidup sekitar 6–8% untuk mengembangkan kanker payudara, yang merupakan peningkatan substansial dibandingkan risiko populasi umum pria yang kurang dari 0,1%. Mutasi BRCA1 juga meningkatkan risiko, meskipun dalam derajat yang lebih rendah, sekitar 1–2% risiko seumur hidup (Pritzlaff et al., 2023). Selain itu, beberapa sindrom genetik lain seperti sindrom Klinefelter (kariotipe 47,XXY), sindrom Cowden, dan mutasi gen CHEK2, PALB2, serta ATM juga dikaitkan dengan peningkatan risiko (Silvestri et al., 2024).
Sindrom Klinefelter. Sindrom Klinefelter merupakan kelainan kromosom yang ditandai dengan adanya kromosom X tambahan pada pria (47,XXY). Kondisi ini menyebabkan hipogonadisme, ginekomastia, dan kadar estrogen yang relatif meningkat. Pria dengan sindrom Klinefelter memiliki risiko kanker payudara 20–50 kali lipat lebih tinggi dibandingkan populasi pria umum (Fentiman et al., 2006).
Ketidakseimbangan hormon. Kondisi apa pun yang menyebabkan peningkatan kadar estrogen relatif terhadap androgen dapat meningkatkan risiko. Ini mencakup obesitas (jaringan lemak mengandung enzim aromatase yang mengubah androgen menjadi estrogen), penyakit hati kronis seperti sirosis (yang mengganggu metabolisme estrogen), serta penggunaan estrogen eksogen untuk terapi tertentu (Giordano, 2018).
Paparan radiasi. Riwayat terapi radiasi pada dinding dada, misalnya untuk pengobatan limfoma Hodgkin, meningkatkan risiko kanker payudara pada pria secara bermakna, terutama jika paparan terjadi pada usia muda (Cardoso et al., 2018).
Riwayat keluarga. Riwayat kanker payudara pada kerabat derajat pertama, baik perempuan maupun laki-laki, meningkatkan risiko. Sekitar 15–20% pria dengan kanker payudara memiliki riwayat keluarga dengan kanker payudara (Hassett et al., 2020).
Usia lanjut. Seperti telah disebutkan, risiko meningkat seiring bertambahnya usia, dengan puncak insiden pada dekade keenam dan ketujuh kehidupan.
Gejala dan Tanda Klinis
Manifestasi klinis kanker payudara pada pria yang paling umum adalah benjolan atau massa yang tidak nyeri di daerah payudara, biasanya terletak di bawah atau di sekitar puting. Karena volume jaringan payudara pria sangat kecil, tumor cenderung terletak lebih dekat dengan puting dan dinding dada dibandingkan pada perempuan.
Gejala dan tanda yang perlu diwaspadai meliputi benjolan keras yang biasanya tidak nyeri di area payudara (paling sering unilateral); retraksi, ulserasi, atau keluarnya cairan dari puting (nipple discharge), terutama jika berdarah; perubahan kulit di atas massa, seperti penebalan atau kemerahan; serta pembesaran kelenjar getah bening aksila (ketiak) pada sisi yang sama (Gucalp et al., 2019).
Sayangnya, karena rendahnya kewaspadaan terhadap kemungkinan kanker payudara pada pria, baik di kalangan masyarakat maupun tenaga kesehatan, diagnosis sering terlambat. Studi menunjukkan bahwa rata-rata keterlambatan dari munculnya gejala hingga diagnosis pada pria adalah sekitar 6–18 bulan, jauh lebih lama dibandingkan pada perempuan. Akibatnya, pria cenderung didiagnosis pada stadium yang lebih lanjut dengan keterlibatan kelenjar getah bening yang lebih tinggi (Hassett et al., 2020).
Diagnosis
Pendekatan diagnostik kanker payudara pada pria pada dasarnya serupa dengan pada perempuan, meskipun ada beberapa perbedaan penting.
Pemeriksaan klinis. Evaluasi awal mencakup anamnesis yang cermat termasuk riwayat keluarga dan faktor risiko, serta pemeriksaan fisik yang menyeluruh pada kedua payudara dan kelenjar getah bening regional.
Pencitraan. Mamografi diagnostik merupakan modalitas pencitraan utama dan memiliki sensitivitas yang tinggi (sekitar 92%) serta spesifisitas yang baik (sekitar 90%) untuk mendeteksi keganasan payudara pada pria. Temuan mamografi yang mencurigakan keganasan pada pria meliputi massa ireguler, mikrokalsifikasi, atau kombinasi keduanya. Ultrasonografi (USG) payudara dapat digunakan sebagai pemeriksaan pelengkap untuk mengevaluasi karakteristik massa lebih lanjut dan menilai kelenjar getah bening aksila. Magnetic resonance imaging (MRI) payudara dapat dipertimbangkan dalam situasi tertentu, meskipun penggunaannya pada pria belum diteliti secara luas (National Comprehensive Cancer Network [NCCN], 2024).
Biopsi. Diagnosis definitif memerlukan konfirmasi histopatologis melalui biopsi. Biopsi inti (core needle biopsy) dengan panduan pencitraan merupakan metode yang direkomendasikan karena memberikan sampel jaringan yang memadai untuk analisis histologis, pemeriksaan reseptor hormon, dan status HER2. Sitologi aspirasi jarum halus (fine needle aspiration cytology) dapat digunakan sebagai langkah awal, tetapi biopsi inti lebih diutamakan karena memberikan informasi yang lebih lengkap (NCCN, 2024).
Pemeriksaan lanjutan. Setelah diagnosis ditegakkan, pemeriksaan stadium (staging) perlu dilakukan yang dapat mencakup pemeriksaan darah rutin, fungsi hati, penanda tumor, CT scan dada dan abdomen, serta pemindaian tulang (bone scan) tergantung pada stadium klinis awal.
Perlu ditekankan pentingnya membedakan kanker payudara dari ginekomastia, yaitu pembesaran jinak jaringan payudara pria yang jauh lebih umum. Ginekomastia biasanya bilateral, terletak di sentral di bawah areola, dan bersifat lunak, sedangkan kanker payudara cenderung unilateral, eksentrik, keras, dan mungkin disertai perubahan kulit atau puting (Cardoso et al., 2018).
Tata Laksana
Pengelolaan kanker payudara pada pria sebagian besar diekstrapolasi dari bukti ilmiah pada perempuan, mengingat kelangkaan kasus yang membuat uji klinis acak (randomized controlled trial) khusus untuk pria sangat sulit dilakukan. Beberapa pedoman internasional, termasuk dari NCCN dan European Society for Medical Oncology (ESMO), telah memasukkan rekomendasi spesifik untuk kanker payudara pada pria (Cardoso et al., 2018; NCCN, 2024).
Pembedahan. Mastektomi radikal termodifikasi (modified radical mastectomy) dengan diseksi kelenjar getah bening aksila atau biopsi sentinel lymph node merupakan prosedur pembedahan standar. Karena volume jaringan payudara pria yang terbatas, breast-conserving surgery (pembedahan konservasi payudara) jarang memungkinkan secara teknis, meskipun dapat dipertimbangkan pada kasus tertentu. Biopsi sentinel lymph node semakin banyak digunakan pada pria dengan aksila yang secara klinis negatif, serupa dengan praktik pada perempuan (Gucalp et al., 2019).
Terapi radiasi. Radioterapi adjuvan pasca-mastektomi direkomendasikan berdasarkan indikasi yang sama dengan pada perempuan, yaitu pada tumor berukuran besar (>5 cm), margin positif, atau keterlibatan kelenjar getah bening. Beberapa studi retrospektif menunjukkan bahwa radioterapi pasca-mastektomi dapat meningkatkan kontrol lokoregional dan kemungkinan kesintasan keseluruhan (overall survival) pada pria dengan kanker payudara (Abdelwahab Yousef, 2017).
Terapi sistemik adjuvan. Mengingat tingginya proporsi tumor dengan reseptor hormon positif pada pria, terapi endokrin merupakan komponen penting dalam tata laksana. Tamoksifen selama lima tahun merupakan standar terapi endokrin adjuvan untuk pria dengan kanker payudara ER positif. Berbeda dengan pada perempuan pascamenopause, penggunaan aromatase inhibitor (AI) sebagai monoterapi pada pria tidak direkomendasikan karena mekanisme produksi estrogen pada pria berbeda — AI tidak menekan produksi estrogen testikular sepenuhnya dan bahkan dapat menyebabkan peningkatan gonadotropin melalui umpan balik positif. Jika AI diperlukan, misalnya karena intoleransi atau kontraindikasi terhadap tamoksifen, AI harus dikombinasikan dengan agonis gonadotropin-releasing hormone (GnRH) atau dilakukan orchiektomi terlebih dahulu (Cardoso et al., 2018; NCCN, 2024).
Kemoterapi adjuvan diberikan berdasarkan indikasi yang serupa dengan pada perempuan, dengan mempertimbangkan stadium tumor, keterlibatan kelenjar getah bening, grade histologis, dan profil biologis tumor. Regimen kemoterapi yang digunakan umumnya sama dengan yang diberikan pada perempuan (Gucalp et al., 2019).
Terapi bertarget. Untuk kasus dengan HER2 positif, terapi anti-HER2 seperti trastuzumab direkomendasikan serupa dengan penerapannya pada perempuan, meskipun data spesifik pada pria masih terbatas.
Terapi untuk penyakit metastatik. Pada kanker payudara metastatik, pendekatan terapi mengikuti prinsip yang sama dengan pada perempuan: terapi endokrin untuk penyakit dengan reseptor hormon positif, kemoterapi untuk penyakit yang resisten terhadap terapi hormon atau untuk visceral crisis, serta kombinasi dengan agen bertarget seperti cyclin-dependent kinase 4/6 inhibitor (CDK4/6i) yang telah menunjukkan hasil yang menjanjikan pada pria dalam beberapa laporan kasus dan seri kasus (Hassett et al., 2020).
Konseling Genetik
Mengingat tingginya prevalensi mutasi gen predisposisi kanker pada pria dengan kanker payudara, pedoman NCCN merekomendasikan agar semua pria yang didiagnosis dengan kanker payudara dirujuk untuk konseling dan pengujian genetik, terlepas dari usia saat diagnosis atau riwayat keluarga (NCCN, 2024). Identifikasi mutasi patogenik seperti BRCA1/2 tidak hanya penting untuk perencanaan terapi pasien, tetapi juga untuk skrining kaskade (cascade screening) pada anggota keluarga yang mungkin berisiko tinggi untuk kanker payudara, kanker ovarium, kanker prostat, dan keganasan lainnya (Pritzlaff et al., 2023).
Di Indonesia, layanan konseling dan pengujian genetik untuk kanker masih belum tersedia secara luas dan merata. Akses yang terbatas terhadap fasilitas pengujian genetik, biaya yang tinggi, dan kurangnya tenaga ahli genetika klinis merupakan tantangan yang perlu diatasi. Meskipun demikian, upaya untuk meningkatkan ketersediaan layanan ini perlu didorong, terutama mengingat implikasi penting dari temuan genetik bagi pasien dan keluarganya.
Prognosis
Prognosis kanker payudara pada pria secara historis dilaporkan lebih buruk dibandingkan pada perempuan, tetapi studi terbaru menunjukkan bahwa ketika disesuaikan berdasarkan stadium dan karakteristik tumor, angka kesintasan (survival rates) tidak berbeda secara signifikan antara pria dan perempuan (Leone et al., 2024). Prognosis yang tampak lebih buruk pada pria kemungkinan besar disebabkan oleh keterlambatan diagnosis dan stadium yang lebih lanjut saat pertama kali terdeteksi, bukan oleh biologi tumor yang secara inheren lebih agresif.
Faktor-faktor prognosis yang penting mencakup stadium saat diagnosis (ukuran tumor dan keterlibatan kelenjar getah bening), grade histologis tumor, status reseptor hormon dan HER2, serta usia dan komorbiditas pasien. Angka kesintasan lima tahun keseluruhan untuk kanker payudara pada pria bervariasi berdasarkan stadium: sekitar 95–100% untuk stadium I, 80–90% untuk stadium II, 40–60% untuk stadium III, dan kurang dari 20% untuk stadium IV (Giordano, 2018).
Tantangan dan Kebutuhan ke Depan
Kanker payudara pada pria menghadapi beberapa tantangan unik yang perlu diatasi.
Pertama adalah stigma dan hambatan psikososial. Diagnosis kanker payudara pada pria dapat menimbulkan perasaan malu, isolasi, dan krisis identitas gender. Banyak pria merasa tidak nyaman mendiskusikan kondisi mereka karena kanker payudara dianggap sebagai “penyakit perempuan.” Dukungan psikologis yang sensitif terhadap aspek gender sangat diperlukan (Donovan & Flynn, 2007).
Kedua, kurangnya bukti ilmiah spesifik. Sebagian besar rekomendasi tata laksana untuk pria diekstrapolasi dari data pada perempuan. Inisiatif kolaborasi internasional multisenter diperlukan untuk mengumpulkan data prospektif yang memadai mengenai efektivitas dan keamanan berbagai modalitas terapi pada pria.
Ketiga, peningkatan kesadaran. Edukasi kepada masyarakat dan tenaga kesehatan tentang kemungkinan kanker payudara pada pria sangat penting untuk mendorong deteksi dini. Pria, terutama yang memiliki faktor risiko, perlu mengetahui bahwa mereka juga dapat terkena kanker payudara dan harus segera berkonsultasi jika menemukan kelainan pada payudara mereka.
Keempat, di konteks Indonesia secara khusus, diperlukan pengembangan registrasi kanker yang komprehensif yang mencakup data kanker payudara pada pria, peningkatan akses terhadap layanan diagnostik dan pengujian genetik, serta integrasi edukasi tentang kanker payudara pada pria ke dalam program kesadaran kanker yang sudah ada.
Kesimpulan
Kanker payudara pada pria adalah kondisi yang langka tetapi serius. Kelangkaannya justru menjadi tantangan karena menyebabkan rendahnya kewaspadaan, keterlambatan diagnosis, dan terbatasnya bukti ilmiah spesifik untuk memandu tata laksana. Dengan meningkatkan kesadaran di kalangan masyarakat dan tenaga kesehatan, mendorong deteksi dini, serta menerapkan tata laksana berbasis bukti, luaran klinis untuk pria dengan kanker payudara dapat diperbaiki secara bermakna. Setiap pria yang menemukan benjolan atau perubahan yang tidak biasa pada payudaranya perlu segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan tanpa rasa malu atau ragu.
Referensi
Abdelwahab Yousef, A. J. (2017). Male breast cancer: Epidemiology and risk factors. Seminars in Oncology, 44(4), 267–272. https://doi.org/10.1053/j.seminoncol.2017.11.002
Cardoso, F., Bartlett, J. M. S., Slaets, L., van Deurzen, C. H. M., van Leeuwen-Stok, E., Porter, P., … & Giordano, S. H. (2018). Characterization of male breast cancer: Results of the EORTC 10085/TBCRC/BIG/NABCG International Male Breast Cancer Program. Annals of Oncology, 29(2), 405–417. https://doi.org/10.1093/annonc/mdx651
Donovan, T., & Flynn, M. (2007). What makes a man a man? The lived experience of male breast cancer. Cancer Nursing, 30(6), 464–470. https://doi.org/10.1097/01.NCC.0000300173.18584.37
Fentiman, I. S., Fourquet, A., & Hortobagyi, G. N. (2006). Male breast cancer. The Lancet, 367(9510), 595–604. https://doi.org/10.1016/S0140-6736(06)68226-3
Giordano, S. H. (2018). Breast cancer in men. New England Journal of Medicine, 378(24), 2311–2320. https://doi.org/10.1056/NEJMra1707939
Gucalp, A., Traina, T. A., Eisner, J. R., Parker, J. S., Selber, J. C., Krop, I., … & Cardoso, F. (2019). Male breast cancer: A disease distinct from female breast cancer. Breast Cancer Research and Treatment, 173(1), 37–48. https://doi.org/10.1007/s10549-018-4921-9
Hassett, M. J., Somerfield, M. R., Baker, E. R., Cardoso, F., Kanber, K. S., Gupta, S., … & Giordano, S. H. (2020). Management of male breast cancer: ASCO guideline. Journal of Clinical Oncology, 38(16), 1849–1863. https://doi.org/10.1200/JCO.19.03120
Leone, J. P., Hassett, M. J., Somerfield, M. R., & Giordano, S. H. (2024). Advances and new developments in male breast cancer. The Oncologist, 29(3), e289–e299. https://doi.org/10.1093/oncolo/oyad283
National Comprehensive Cancer Network. (2024). NCCN clinical practice guidelines in oncology: Breast cancer (Version 2.2024). https://www.nccn.org/guidelines/guidelines-detail?category=1&id=1419
Pritzlaff, M., Summerour, P., McFarland, R., Li, S., Reineke, P., Dolinsky, J. S., … & Litton, J. K. (2023). Germline genetic testing in male breast cancer. Genetics in Medicine, 25(4), 100825. https://doi.org/10.1016/j.gim.2023.100825
Silvestri, V., Rizzolo, P., Falchetti, M., Zanna, I., Masala, G., Russo, A., & Ottini, L. (2024). Male breast cancer: An update. Genes, 15(3), 329. https://doi.org/10.3390/genes15030329
Sung, H., Ferlay, J., Siegel, R. L., Laversanne, M., Soerjomataram, I., Jemal, A., & Bray, F. (2021). Global cancer statistics 2020: GLOBOCAN estimates of incidence and mortality worldwide for 36 cancers in 185 countries. CA: A Cancer Journal for Clinicians, 71(3), 209–249. https://doi.org/10.3322/caac.21660

Tinggalkan komentar