Setiap menit, empat perempuan di seluruh dunia didiagnosis menderita kanker payudara dan satu di antaranya meninggal akibat penyakit ini. Angka yang mungkin terdengar abstrak, tetapi menjadi sangat nyata ketika kita menyadari bahwa kanker payudara kini merupakan jenis kanker paling umum pada perempuan secara global dan penyebab utama kematian akibat kanker pada perempuan di hampir seluruh negara di dunia. Fakta ini bukan sekadar statistik. Di balik setiap angka, ada seorang ibu, saudara perempuan, istri, atau anak perempuan yang sedang berjuang melawan penyakit yang kompleks dan sering kali mengubah hidup secara drastis.
Sebuah Epidemi yang Terus Berkembang
Berdasarkan data Global Cancer Observatory (GLOBOCAN) tahun 2022, diperkirakan terdapat 2,3 juta kasus baru kanker payudara dan 670.000 kematian akibat kanker payudara di seluruh dunia. Kanker payudara menempati urutan kedua setelah kanker paru sebagai kanker paling umum secara keseluruhan, namun tetap menjadi kanker nomor satu pada perempuan di 157 dari 185 negara (Bray et al., 2024). Analisis terbaru oleh International Agency for Research on Cancer (IARC) dan kolaboratornya yang dipublikasikan di Nature Medicine pada Februari 2025 menunjukkan bahwa rata-rata 1 dari 20 perempuan di seluruh dunia akan didiagnosis kanker payudara sepanjang hidupnya. Jika tren saat ini berlanjut, pada tahun 2050 diproyeksikan akan terdapat 3,2 juta kasus baru dan 1,1 juta kematian terkait kanker payudara setiap tahunnya (Kim et al., 2025).
Yang perlu digarisbawahi adalah beban kanker payudara ini tidak terdistribusi secara merata. Insiden tertinggi ditemukan di Australia, Selandia Baru, Amerika Utara, dan Eropa Utara, dengan angka sekitar 100 kasus baru per 100.000 perempuan. Sementara angka insiden di Asia Selatan-Tengah dan Afrika relatif lebih rendah, sekitar 27 per 100.000 perempuan, justru mortalitasnya yang secara proporsional jauh lebih tinggi. Perempuan di negara dengan indeks pembangunan manusia (Human Development Index/HDI) rendah memiliki kemungkinan 50% lebih kecil untuk didiagnosis kanker payudara dibandingkan di negara HDI tinggi, namun risiko meninggal akibat penyakit ini justru jauh lebih besar karena keterlambatan diagnosis dan keterbatasan akses terhadap pengobatan berkualitas (WHO, 2024).
Situasi di Indonesia: Tantangan yang Tidak Bisa Diabaikan
Di Indonesia, kanker payudara menempati urutan pertama sebagai jenis kanker terbanyak pada perempuan. Data GLOBOCAN 2022 menunjukkan lebih dari 408.661 kasus baru kanker secara keseluruhan dengan hampir 242.099 kematian di Indonesia, dan kanker payudara menjadi kontributor terbesar baik dari sisi insiden maupun mortalitas pada perempuan (Kemenkes RI, 2024). Angka kejadian kanker payudara pada perempuan Indonesia tercatat sebesar 42,1 per 100.000 penduduk dengan rata-rata kematian 17 per 100.000 penduduk.
Hal yang sangat memprihatinkan adalah sekitar 70% kasus kanker payudara di Indonesia baru terdeteksi pada stadium lanjut, saat pengobatan menjadi lebih rumit, mahal, dan risiko kematian jauh lebih tinggi. Keterlambatan ini dipengaruhi oleh rendahnya kesadaran masyarakat akan tanda-tanda awal, keterbatasan akses terhadap fasilitas skrining, serta faktor sosial-budaya yang membuat banyak perempuan menunda pemeriksaan ke fasilitas kesehatan. Pemerintah melalui Kementerian Kesehatan telah meluncurkan Rencana Aksi Nasional Kanker 2024-2034 dengan strategi penanggulangan yang mencakup tiga pilar: promosi kesehatan, deteksi dini, dan tata laksana kasus, dengan target 80% perempuan usia 30-50 tahun menjalani deteksi dini kanker payudara (Kemenkes RI, 2024).
Memahami Faktor Risiko: Siapa yang Rentan?
Kanker payudara merupakan penyakit yang kompleks dengan etiologi multifaktor. Memahami faktor-faktor risiko menjadi langkah penting dalam upaya pencegahan dan deteksi dini.
Faktor yang tidak dapat dimodifikasi mencakup jenis kelamin (perempuan memiliki risiko jauh lebih tinggi dibandingkan laki-laki), usia (risiko meningkat seiring bertambahnya usia, terutama setelah 50 tahun), riwayat keluarga dan genetik, serta faktor reproduksi. Mutasi pada gen BRCA1 dan BRCA2 merupakan faktor genetik yang paling dikenal, yang secara signifikan meningkatkan risiko kanker payudara. Riwayat keluarga bertanggung jawab atas 5-10% kasus kanker payudara, dan perempuan dengan dua atau lebih kerabat yang didiagnosis kanker payudara sebelum usia 45 tahun memiliki risiko yang lebih tinggi lagi (Liu et al., 2024). Faktor reproduksi seperti menarke dini (sebelum usia 13 tahun), menopause terlambat, tidak pernah melahirkan (nulipara), dan kehamilan pertama pada usia tua juga turut berperan, karena semuanya berkaitan dengan paparan estrogen kumulatif yang lebih lama terhadap jaringan payudara.
Faktor yang dapat dimodifikasi meliputi konsumsi alkohol, obesitas terutama setelah menopause, kurangnya aktivitas fisik, penggunaan terapi hormon pascamenopause, dan merokok. Transisi epidemiologis yang terjadi di negara berkembang, termasuk Indonesia, yang ditandai dengan perubahan pola makan, urbanisasi, dan penurunan aktivitas fisik, turut menjadi pendorong peningkatan insiden kanker payudara (Freihat et al., 2025). Densitas jaringan payudara yang tinggi pada mamografi juga merupakan faktor risiko independen yang perlu diperhatikan.
Heterogenitas Molekuler: Kanker Payudara Bukan Satu Penyakit
Salah satu pemahaman paling revolusioner dalam dua dekade terakhir adalah bahwa kanker payudara bukanlah satu entitas penyakit tunggal, melainkan sekelompok penyakit dengan karakteristik molekuler yang berbeda. Berdasarkan status reseptor estrogen (ER), reseptor progesteron (PR), dan human epidermal growth factor receptor 2 (HER2), kanker payudara secara klinis diklasifikasikan menjadi beberapa subtipe utama (Xu & Xu, 2023; Peng et al., 2024).
Luminal A merupakan subtipe paling umum (sekitar 40-50% dari seluruh kasus) dengan ekspresi ER dan/atau PR positif, HER2 negatif, dan tingkat proliferasi rendah (Ki-67 rendah). Subtipe ini umumnya memiliki prognosis paling baik dan merespons terapi hormonal dengan sangat baik. Luminal B juga ER-positif tetapi memiliki tingkat proliferasi lebih tinggi, terkadang disertai ekspresi HER2, dan cenderung lebih agresif dibandingkan Luminal A. HER2-enriched ditandai dengan ekspresi HER2 yang tinggi tanpa ekspresi ER/PR. Subtipe ini cenderung lebih agresif, namun telah mengalami revolusi pengobatan berkat terapi bertarget anti-HER2. Kanker payudara triple-negative (TNBC) tidak mengekspresikan ER, PR, maupun HER2, mewakili 15-20% dari seluruh kasus. TNBC memiliki prognosis yang relatif lebih buruk dengan risiko kekambuhan lebih tinggi, dan hingga saat ini pilihan terapi bertarget masih lebih terbatas dibandingkan subtipe lainnya, meskipun kemajuan signifikan telah dicapai melalui imunoterapi dan konjugat obat-antibodi (Dogra et al., 2025).
Klasifikasi molekuler ini bukan sekadar akademis. Ia menjadi dasar pengambilan keputusan klinis yang sangat praktis: jenis terapi sistemik yang dipilih, durasi pengobatan, intensitas pemantauan, dan prediksi kemungkinan respons terhadap pengobatan semuanya ditentukan oleh profil molekuler tumor.
Manifestasi Klinis: Kenali Tanda-tandanya
Gejala kanker payudara yang paling umum dikenali adalah adanya benjolan baru pada payudara yang biasanya tidak nyeri, keras, dan memiliki batas yang tidak teratur. Namun, tanda-tanda lain yang perlu diwaspadai meliputi: perubahan ukuran atau bentuk payudara, retraksi atau perubahan pada puting susu, keluarnya cairan abnormal dari puting (terutama yang bercampur darah), perubahan kulit payudara seperti penebalan, cekungan (dimpling), atau penampakan seperti kulit jeruk (peau d’orange), serta kemerahan atau pembengkakan yang tidak biasa. Adanya benjolan di ketiak juga bisa menjadi tanda penyebaran ke kelenjar getah bening regional. Yang perlu diingat, pada stadium awal kanker payudara sering kali tidak menimbulkan gejala sama sekali, sehingga skrining menjadi sangat penting.
Skrining dan Deteksi Dini: Garis Pertahanan Terdepan
Deteksi dini kanker payudara secara konsisten terbukti mampu menurunkan mortalitas. Terdapat dua strategi utama: skrining pada populasi tanpa gejala dan diagnosis dini pada individu bergejala.
Mamografi tetap menjadi standar emas (gold standard) untuk skrining kanker payudara pada populasi risiko rata-rata. Rekomendasi USPSTF terbaru yang diperbarui pada April 2024 kini merekomendasikan mamografi skrining setiap dua tahun (biennial) untuk semua perempuan usia 40-74 tahun, menurunkan batas usia awal dari rekomendasi sebelumnya yang memulai skrining rutin pada usia 50 tahun. Penurunan batas usia ini didorong oleh peningkatan angka kejadian kanker payudara pada perempuan usia 40-49 tahun dalam dekade terakhir (Nicholson et al., 2024). Sementara itu, American College of Radiology (ACR) merekomendasikan penilaian risiko kanker payudara pada usia 25 tahun dan mamografi skrining tahunan mulai usia 40 tahun. Teknologi mamografi tiga dimensi atau digital breast tomosynthesis (DBT) telah terbukti meningkatkan deteksi kanker, terutama pada perempuan dengan payudara padat.
Di Indonesia, strategi deteksi dini yang direkomendasikan Kemenkes mencakup Pemeriksaan Payudara Sendiri (SADARI), Pemeriksaan Payudara Klinis oleh tenaga kesehatan (SADANIS), USG payudara, dan mamografi. SADARI dan SADANIS dianjurkan dilakukan setiap bulan pada hari ke-7 hingga ke-10 dari hari pertama haid. Meskipun bukti ilmiah mengenai efektivitas pemeriksaan payudara sendiri dalam menurunkan mortalitas masih terbatas, pemeriksaan ini tetap bermanfaat untuk meningkatkan kesadaran perempuan terhadap kondisi normal payudaranya sehingga dapat mengenali perubahan yang mencurigakan sedini mungkin.
Untuk perempuan dengan risiko tinggi, seperti mereka yang memiliki mutasi gen BRCA1/BRCA2 atau riwayat keluarga yang kuat, skrining tambahan dengan MRI payudara direkomendasikan sebagai pelengkap mamografi, umumnya dimulai pada usia yang lebih muda.
Pendekatan Tata Laksana: Era Kedokteran Presisi
Penanganan kanker payudara telah mengalami kemajuan luar biasa dalam beberapa dekade terakhir, beralih dari pendekatan yang bersifat seragam menjadi semakin personal berdasarkan karakteristik biologis tumor dan kondisi individual pasien. The Lancet Breast Cancer Commission yang dipublikasikan pada tahun 2024 menekankan bahwa pendekatan terstandarisasi yang masih mendominasi praktik klinis, yaitu pembedahan primer diikuti terapi sistemik adjuvan dan radioterapi, belum sepenuhnya mengakomodasi heterogenitas kanker payudara sebagai penyakit dengan spektrum risiko yang sangat luas (Coles et al., 2024).
Pembedahan tetap menjadi komponen utama tata laksana kanker payudara operable. Pendekatan saat ini mencakup operasi konservasi payudara (breast-conserving surgery/BCS, atau lumpektomi) yang dikombinasikan dengan radioterapi, serta mastektomi (pengangkatan seluruh payudara). Data tindak lanjut jangka panjang selama lebih dari 20 tahun menunjukkan bahwa BCS yang diikuti radioterapi memberikan angka kelangsungan hidup yang setara dengan mastektomi pada kandidat yang tepat.
Terapi sistemik meliputi kemoterapi, terapi hormonal (endokrin), terapi bertarget, dan imunoterapi. Untuk kanker payudara HR-positif, terapi endokrin merupakan tulang punggung pengobatan, mencakup tamoksifen dan golongan penghambat aromatase (aromatase inhibitors/AI). Meta-analisis terbaru dari Early Breast Cancer Trialists’ Collaborative Group (EBCTCG) menunjukkan manfaat memperpanjang terapi endokrin adjuvan dengan AI melampaui 5 tahun untuk mengurangi risiko kekambuhan lanjut (EBCTCG, 2025). Penambahan cyclin-dependent kinase 4/6 inhibitors (CDK4/6i) seperti abemaciclib dan ribociclib dalam terapi adjuvan telah menunjukkan hasil yang menjanjikan dalam meningkatkan kelangsungan hidup pada kanker payudara HR-positif berisiko tinggi.
Untuk kanker payudara HER2-positif, perkembangan terapi bertarget anti-HER2 telah secara dramatis mengubah prognosis. Konjugat obat-antibodi (antibody-drug conjugate/ADC) generasi baru seperti trastuzumab deruxtecan (T-DXd) telah menunjukkan efektivitas yang mengesankan tidak hanya pada kanker payudara HER2-positif, tetapi juga pada tumor dengan ekspresi HER2 rendah (HER2-low) dan bahkan sangat rendah (HER2-ultralow), membuka paradigma terapi baru yang lebih luas.
Untuk TNBC, kemajuan dalam imunoterapi melalui immune checkpoint inhibitor seperti pembrolizumab yang dikombinasikan dengan kemoterapi telah memperluas pilihan terapi, terutama dalam konteks neoadjuvan dan metastatik.
Radioterapi juga terus mengalami penyempurnaan. Panduan terbaru kini mendukung penggunaan kursus radioterapi yang lebih singkat, bahkan hingga hanya 5 hari untuk accelerated partial breast irradiation pada pasien yang memenuhi syarat, sehingga mengurangi beban pengobatan tanpa mengorbankan efektivitas.
Kesenjangan yang Harus Dijembatani
The Lancet Breast Cancer Commission menggarisbawahi adanya ketidaksetaraan yang luas dan sering kali tersembunyi dalam penanggulangan kanker payudara secara global. Di negara HDI tinggi, 1 dari 12 perempuan akan didiagnosis kanker payudara sepanjang hidupnya dan 1 dari 71 meninggal akibat penyakit ini. Sebaliknya, di negara HDI rendah, meskipun hanya 1 dari 27 perempuan yang didiagnosis, 1 dari 48 perempuan akan meninggal karena kanker payudara (WHO, 2024). Kesenjangan ini mencerminkan ketidaksetaraan mendasar dalam akses terhadap skrining, diagnosis tepat waktu, dan pengobatan berkualitas.
Di Indonesia sendiri, tantangan serupa masih dihadapi. Distribusi fasilitas mamografi dan tenaga onkologi yang belum merata, terutama di daerah terpencil, menjadi kendala utama. Biaya pengobatan kanker yang sangat besar meskipun sudah ada jaminan dari BPJS Kesehatan, sering kali masih memberatkan pasien dan keluarga. Selain itu, stigma sosial dan ketakutan yang masih melekat pada diagnosis kanker turut berkontribusi terhadap keterlambatan mencari pertolongan medis.
Langkah ke Depan: Pencegahan dan Harapan
Meskipun tidak semua faktor risiko kanker payudara dapat dihindari, diperkirakan 30-50% kasus kanker secara umum dapat dicegah melalui modifikasi gaya hidup. Langkah-langkah yang dapat dilakukan mencakup: menjaga berat badan ideal terutama setelah menopause, melakukan aktivitas fisik secara teratur (minimal 150 menit per minggu aktivitas intensitas sedang), membatasi konsumsi alkohol, menghindari merokok, menyusui bayi jika memungkinkan (menyusui memiliki efek protektif terhadap kanker payudara), dan membatasi penggunaan terapi hormon pascamenopause sesuai konsultasi dengan dokter.
Yang tidak kalah penting adalah menjalani skrining secara berkala sesuai rekomendasi dan segera berkonsultasi ke fasilitas kesehatan jika menemukan perubahan yang tidak biasa pada payudara. Kemenkes RI melalui program perilaku hidup CERDIK (Cek Kesehatan Secara Rutin, Enyahkan Asap Rokok, Rajin Aktivitas Fisik, Diet Gizi Seimbang, Istirahat Cukup, dan Kelola Stres) memberikan kerangka pencegahan yang praktis dan mudah diikuti oleh masyarakat.
Kanker payudara memang merupakan tantangan kesehatan yang besar dan terus berkembang, namun kemajuan ilmu pengetahuan telah memberikan harapan nyata. Angka mortalitas kanker payudara telah menurun lebih dari 40% di beberapa negara berpenghasilan tinggi berkat kemajuan dalam deteksi dini dan pengobatan. Kunci utamanya terletak pada kolaborasi semua pihak, mulai dari individu yang proaktif menjaga kesehatannya, tenaga kesehatan yang sigap memberikan pelayanan terbaik, hingga kebijakan pemerintah yang memastikan akses yang adil dan merata terhadap pencegahan, diagnosis, dan pengobatan kanker payudara bagi seluruh masyarakat.
Referensi
Bray, F., Laversanne, M., Sung, H., Ferlay, J., Siegel, R. L., Soerjomataram, I., & Jemal, A. (2024). Global cancer statistics 2022: GLOBOCAN estimates of incidence and mortality worldwide for 36 cancers in 185 countries. CA: A Cancer Journal for Clinicians, 74(3), 229–263. https://doi.org/10.3322/caac.21834
Coles, C. E., Earl, H., Anderson, B. O., Barrios, C. H., Bienz, M., Bliss, J. M., … & Lancet Breast Cancer Commission. (2024). The Lancet Breast Cancer Commission. The Lancet, 403(10439), 1895–1950. https://doi.org/10.1016/S0140-6736(24)00747-5
Dogra, A. K., Prakash, A., Gupta, S., & Gupta, M. (2025). Prognostic significance and molecular classification of triple negative breast cancer: A systematic review. European Journal of Breast Health, 21(2), 101–114. https://doi.org/10.4274/ejbh.galenos.2025.2024-10-2
Early Breast Cancer Trialists’ Collaborative Group (EBCTCG). (2025). Extending the duration of endocrine treatment for early-stage breast cancer: Patient level meta-analysis of 12 randomised trials of aromatase inhibitors in 22,031 postmenopausal women already treated with at least 5 years of endocrine therapy. The Lancet, 406, 603–614.
Freihat, O., Sipos, D., & Kovacs, A. (2025). Global burden and projections of breast cancer incidence and mortality to 2050: A comprehensive analysis of GLOBOCAN data. Frontiers in Public Health, 13, 1622954. https://doi.org/10.3389/fpubh.2025.1622954
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2024). Kasus kanker diprediksi meningkat 70 persen pada 2050, Kemenkes perkuat deteksi dini. https://kemkes.go.id
Kim, J., Harper, A., McCormack, V., Sung, H., Houssami, N., Morgan, E., … & Fidler-Benaoudia, M. M. (2025). Global patterns and trends in breast cancer incidence and mortality across 185 countries. Nature Medicine, 31(4), 1154–1162. https://doi.org/10.1038/s41591-025-03502-3
Liu, L., Hao, X., Song, Z., Zhi, X., Zhang, S., & Zhang, J. (2024). Correlation between family history and characteristics of breast cancer. Scientific Reports, 14, 7684.
Nicholson, W. K., Silverstein, M., Wong, J. B., Barry, M. J., Chelmow, D., Coker, T. R., … & US Preventive Services Task Force. (2024). Screening for breast cancer: US Preventive Services Task Force recommendation statement. JAMA, 331(22), 1918–1930. https://doi.org/10.1001/jama.2024.5534
Peng, Y., Wang, Y., Zhou, C., Mei, W., & Zeng, C. (2024). Breast cancer: Pathogenesis and treatments. Signal Transduction and Targeted Therapy, 10, 36. https://doi.org/10.1038/s41392-024-02108-4
World Health Organization. (2024, February 1). Global cancer burden growing, amidst mounting need for services. https://www.who.int/news/item/01-02-2024-global-cancer-burden-growing–amidst-mounting-need-for-services
Xu, H., & Xu, B. (2023). Breast cancer: Epidemiology, risk factors and screening. Chinese Journal of Cancer Research, 35(6), 565–583. https://doi.org/10.21147/j.issn.1000-9604.2023.06.02

Tinggalkan komentar