Bayangkan seorang balita berusia 18 bulan yang menangis keras setelah terjatuh, lalu tiba-tiba berhenti menangis, wajahnya membiru, dan seketika kehilangan kesadaran. Tubuhnya menjadi kaku selama beberapa detik sebelum akhirnya kembali bernapas dan sadar dengan sendirinya. Bagi orang tua yang menyaksikan kejadian ini untuk pertama kalinya, pengalaman tersebut bisa sangat menakutkan — bahkan menimbulkan kepanikan. Namun dalam dunia kedokteran anak, fenomena ini dikenal sebagai breath-holding spells (BHS) atau serangan menahan napas, dan pada sebagian besar kasus, kondisi ini bersifat jinak serta tidak membahayakan perkembangan neurologis anak.
Apa itu Serangan Menahan Napas?
Serangan menahan napas adalah kejadian paroksismal (mendadak) yang bersifat non-epileptik dan terjadi pada bayi serta anak kecil yang sehat. Serangan ini merupakan respons involunter atau refleks tidak sadar tubuh terhadap stimulus emosional atau fisik — bukan perilaku yang disengaja oleh anak untuk mencari perhatian. Dahulu, kondisi ini pernah dianggap sebagai perilaku manipulatif anak, tetapi penelitian modern telah membuktikan bahwa serangan ini sepenuhnya bersifat refleks dan tidak berada di bawah kendali sadar anak (Flodine et al., 2025; Martin, dalam Johns Hopkins Medicine, 2025).
Serangan menahan napas dilaporkan terjadi pada sekitar 0,1% hingga 5% anak-anak, dengan insiden serangan berat mencapai 4,6% pada populasi tertentu. Usia puncak terjadinya serangan adalah antara 6 hingga 24 bulan, meskipun serangan dapat dimulai sejak usia 6 bulan dan berlanjut hingga usia 6–8 tahun. Riwayat keluarga positif dilaporkan pada sekitar 20–33% kasus, yang mengindikasikan adanya komponen genetik dalam kondisi ini (Hellström Schmidt et al., 2024; Flodine et al., 2025).
Dua Tipe Utama
Serangan menahan napas diklasifikasikan menjadi dua tipe utama, meskipun sebagian anak dapat menunjukkan fenotipe campuran.
Tipe sianotik merupakan tipe yang paling sering dijumpai, mencakup lebih dari 60% kasus. Serangan ini biasanya dipicu oleh emosi kuat seperti marah, frustrasi, atau keinginan yang tidak terpenuhi. Anak menangis keras, kemudian berhenti bernapas pada fase ekspirasi (menghembuskan napas), wajah dan bibir berubah menjadi biru keunguan akibat penurunan saturasi oksigen, dan pada kasus berat anak dapat kehilangan kesadaran. Mekanismenya melibatkan interaksi kompleks antara hiperventilasi diikuti apnea (berhenti bernapas) saat ekspirasi dan peningkatan tekanan intratorakal yang menyerupai manuver Valsava, sehingga menurunkan aliran darah ke otak (Flodine et al., 2025; Leung et al., 2019).
Tipe pallid (pucat) lebih jarang terjadi, sekitar 20% kasus, dan biasanya dicetuskan oleh rasa sakit mendadak, cedera kepala ringan, atau rasa terkejut yang tidak terduga. Pada tipe ini, anak menjadi pucat karena respons berlebihan saraf vagus yang menyebabkan bradikardia (perlambatan denyut jantung) hingga asistol (jantung berhenti sesaat), mengakibatkan penurunan aliran darah ke otak dan sinkop (pingsan). Anak mungkin hanya menangis sedikit atau bahkan tidak menangis sama sekali sebelum serangan terjadi (Flodine et al., 2025; Breningstall, 1996).
Sekitar 20% anak menunjukkan tipe campuran, di mana kedua karakteristik tersebut muncul pada waktu yang berbeda. Pada kedua tipe, serangan biasanya berlangsung kurang dari satu menit, tanpa aura sebelumnya dan tanpa fase posiktal (kebingungan berkepanjangan setelah serangan) seperti yang dijumpai pada kejang epileptik. Pemulihan terjadi secara spontan dan cepat (Hellström Schmidt et al., 2024).
Memahami Patofisiologi
Mekanisme pasti terjadinya serangan menahan napas masih menjadi subjek penelitian, tetapi beberapa teori telah diajukan berdasarkan bukti ilmiah yang ada.
Disregulasi sistem saraf otonom dianggap memainkan peran sentral. Pada tipe pallid, terjadi hiperesponsivitas vagal yang menyebabkan inhibisi jantung berlebihan. Pada tipe sianotik, mekanismenya lebih kompleks dan melibatkan penurunan sensitivitas pusat pernapasan di batang otak terhadap hipoksia dan hiperkapnia (Kaya Ozcora et al., 2022).
Sebuah studi menggunakan diffusion tensor imaging (DTI) pada anak dengan serangan menahan napas berat menemukan keterlambatan mielinisasi pada midbrain (otak tengah) dan medula oblongata — area batang otak yang mengatur fungsi vital seperti pernapasan dan denyut jantung. Temuan ini menunjukkan bahwa serangan menahan napas mungkin memiliki dasar neurodevelopmental dan tidak semata-mata merupakan fenomena perilaku (Kaya Ozcora et al., 2022).
Ketidakseimbangan sistem oksidan dan antioksidan juga telah dikaitkan dengan kondisi ini. Penelitian menunjukkan bahwa anak-anak dengan serangan menahan napas memiliki kadar selenium dan enzim antioksidan (glutation peroksidase, superoksida dismutase) yang lebih rendah secara signifikan, serta kadar malondialdehid (penanda stres oksidatif) yang lebih tinggi dibandingkan anak sehat (Saad et al., 2018, sebagaimana dikutip dalam Leung et al., 2019).
Hubungan dengan Defisiensi Besi
Salah satu aspek terpenting dalam memahami serangan menahan napas adalah hubungannya dengan defisiensi besi dan anemia defisiensi besi. Hubungan ini pertama kali dilaporkan oleh Holowach dan Thurston pada tahun 1963 dan sejak itu telah dikonfirmasi oleh banyak penelitian.
Zat besi tidak hanya esensial untuk pembentukan sel darah merah, tetapi juga berperan penting dalam neurotransmisi serebral, pembentukan mielin, dan metabolisme energi otak. Defisiensi besi, bahkan tanpa anemia, dapat mengganggu fungsi neurologis dan meningkatkan kerentanan terhadap serangan menahan napas. Sebuah studi oleh Hamed et al. (2018) menemukan bahwa 61% anak dengan serangan menahan napas tipe sianotik mengalami defisiensi besi atau anemia defisiensi besi. Hal yang penting adalah bahwa defisiensi besi tanpa anemia pun dikaitkan dengan peningkatan frekuensi serangan.
Studi terbaru dari Pakistan (2024) yang melibatkan 150 anak dengan serangan menahan napas menemukan prevalensi anemia defisiensi besi sebesar 51%, menegaskan perlunya skrining rutin kadar zat besi pada semua anak yang mengalami serangan menahan napas (Pakistan Pediatric Journal, 2025).
Diagnosis
Diagnosis serangan menahan napas terutama bersifat klinis, berdasarkan anamnesis yang cermat dari orang tua atau pengasuh. Elemen kunci yang perlu diidentifikasi meliputi adanya pencetus emosional atau fisik yang jelas, diikuti tangisan, henti napas, perubahan warna kulit (biru atau pucat), dan kemungkinan kehilangan kesadaran, dengan pemulihan spontan yang cepat dan tanpa gejala posiktal.
Tidak ada pemeriksaan diagnostik spesifik yang diperlukan secara universal. Namun, beberapa pemeriksaan mungkin diperlukan untuk menyingkirkan diagnosis banding. Pemeriksaan darah lengkap dan profil zat besi direkomendasikan untuk menilai kemungkinan anemia defisiensi besi. Elektrokardiogram (EKG) sebaiknya dilakukan untuk menyingkirkan sindrom QT panjang, yang merupakan kondisi jantung serius yang dapat menyerupai serangan menahan napas. Rekaman video serangan oleh orang tua menggunakan kamera ponsel juga dapat menjadi alat diagnostik yang praktis dan ekonomis.
Studi besar berbasis populasi oleh Hellström Schmidt et al. (2024) di Swedia menemukan bahwa EEG dilakukan pada 30,4% dan EKG pada 45,1% pasien yang dirujuk dengan serangan menahan napas, tetapi sebagian besar pemeriksaan ini tidak mengubah tata laksana. Temuan ini menunjukkan adanya penggunaan berlebihan pemeriksaan penunjang pada kondisi ini, dan para peneliti mengusulkan algoritme manajemen yang lebih efisien untuk mengurangi pemeriksaan yang tidak perlu.
Tata Laksana
Prinsip utama tata laksana serangan menahan napas adalah edukasi dan reassurasi orang tua. Orang tua perlu memahami bahwa serangan ini bersifat jinak, tidak berbahaya bagi anak, tidak menyebabkan kerusakan otak, dan bukan merupakan perilaku yang disengaja.
Saat serangan berlangsung, orang tua disarankan untuk tetap tenang, membaringkan anak di tempat yang aman dengan posisi miring agar aliran darah ke otak terjaga, memastikan mulut anak bersih dari benda atau makanan yang bisa menyebabkan tersedak, tidak mengguncang atau memukul anak, dan tidak melakukan resusitasi jantung paru kecuali anak tidak bernapas selama lebih dari satu menit. Meniup keras ke wajah anak atau meletakkan kain basah dingin di dahi terkadang dapat membantu menginterupsi serangan (Child Neurology Foundation, 2022; Children’s Hospital of Philadelphia, n.d.).
Suplementasi zat besi merupakan intervensi yang paling banyak diteliti dan direkomendasikan. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa terapi besi oral efektif mengurangi frekuensi serangan, tidak hanya pada anak dengan anemia defisiensi besi tetapi juga pada anak tanpa anemia. Arslan et al. (2021) melaporkan bahwa 80% anak mengalami remisi total setelah 3 bulan terapi besi, dan menyimpulkan bahwa terapi besi empiris selama 3 bulan sebaiknya ditawarkan kepada semua anak dengan serangan menahan napas, terlepas dari status anemia mereka.
Piracetam telah menunjukkan hasil yang menjanjikan untuk kasus serangan berat yang sering. Meta-analisis sistematis terbaru oleh Sharawat et al. (2025) yang mencakup 5 uji klinis acak terkontrol dengan 437 partisipan menemukan bahwa piracetam oral secara signifikan lebih efektif dibandingkan plasebo dalam mengurangi frekuensi serangan, dengan respons yang terlihat sejak bulan pertama pengobatan. Kombinasi piracetam dengan asam dokosaheksaenoat (DHA) bahkan menunjukkan efikasi yang lebih baik — pada bulan keenam setelah pengobatan, serangan hanya dilaporkan pada 16% anak yang menerima kombinasi piracetam dan DHA dibandingkan 50% pada kelompok piracetam saja (Salamah & Darwish, 2023).
Pada kasus pallid yang sangat berat dan refrakter, pemasangan alat pacu jantung (pacemaker) mungkin dipertimbangkan, terutama bila serangan disertai bradikardia signifikan atau asistol yang berkepanjangan. Namun, tindakan ini sangat jarang diperlukan (Child Neurology Foundation, 2022).
Prognosis
Prognosis serangan menahan napas secara umum sangat baik. Sebagian besar anak mengalami remisi spontan sebelum usia 6 tahun tanpa dampak terhadap perkembangan neurologis. Serangan tidak meningkatkan risiko epilepsi, bahkan pada anak yang mengalami gerakan kejang selama episode. Namun, beberapa data menunjukkan bahwa anak yang pernah mengalami serangan tipe pallid mungkin lebih rentan mengalami sinkop vasovagal di kemudian hari.
Meskipun umumnya jinak, orang tua dari anak-anak dengan serangan menahan napas melaporkan tingkat stres yang lebih tinggi dan gangguan dalam memahami perilaku anak mereka dibandingkan orang tua dari anak sehat. Oleh karena itu, dukungan psikososial bagi keluarga merupakan komponen penting dari tata laksana yang komprehensif.
Kapan Harus ke Dokter?
Meskipun serangan menahan napas pada umumnya tidak berbahaya, orang tua sebaiknya memeriksakan anak mereka ke dokter pada serangan pertama untuk memastikan diagnosis yang tepat dan menyingkirkan kondisi lain yang lebih serius. Kunjungan segera ke fasilitas kesehatan juga direkomendasikan jika serangan berlangsung lebih dari satu menit, anak tidak segera sadar setelah serangan, terdapat gerakan abnormal yang berkepanjangan, serangan terjadi tanpa pencetus emosional atau fisik yang jelas, atau anak menunjukkan gejala neurologis lain di antara episode serangan. Pemeriksaan fisik dan neurologis yang menyeluruh, bersama dengan evaluasi kadar zat besi dan EKG, akan membantu dokter memastikan bahwa serangan menahan napas merupakan diagnosis yang tepat dan bukan manifestasi dari kondisi yang lebih serius seperti epilepsi, aritmia jantung, atau kelainan metabolik.
Penutup
Serangan menahan napas pada bayi dan anak merupakan fenomena klinis yang umum namun sering disalahpahami. Bagi orang tua, menyaksikan anak mereka berhenti bernapas dan kehilangan kesadaran adalah pengalaman yang sangat menakutkan. Namun, pemahaman yang baik tentang kondisi ini — bahwa serangan bersifat refleks involunter, umumnya jinak, dan memiliki prognosis yang sangat baik — dapat membantu mengurangi kecemasan dan mencegah pemeriksaan yang tidak perlu. Dengan skrining defisiensi besi yang tepat, suplementasi besi bila diperlukan, dan pendekatan manajemen perilaku yang konsisten, sebagian besar anak akan melewati fase ini tanpa dampak jangka panjang.
Referensi
Arslan, M., Karaibrahimoğlu, A., & Demirtaş, M. S. (2021). Does iron therapy have a place in the management of all breath-holding spells? Pediatric International, 63(11), 1344–1350. https://doi.org/10.1111/ped.14685
Breningstall, G. N. (1996). Breath-holding spells. Pediatric Neurology, 14(2), 91–97. https://doi.org/10.1016/0887-8994(96)00006-9
Flodine, T. E., Shah, M., & Mendez, M. D. (2025). Breath-holding spells. Dalam StatPearls. StatPearls Publishing. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK539782/
Hamed, S. A., Gad, E. F., & Sherif, T. K. (2018). Iron deficiency and cyanotic breath-holding spells: The effectiveness of iron therapy. Pediatric Hematology and Oncology, 35(3), 186–195. https://doi.org/10.1080/08880018.2018.1491659
Hellström Schmidt, S., Smedenmark, J., Jeremiasen, I., Sigurdsson, B., Eklund, E. A., & Pronk, C. J. (2024). Overuse of EEG and ECG in children with breath-holding spells and its implication for the management of the spells. Acta Paediatrica, 113(2), 317–326. https://doi.org/10.1111/apa.17020
Kaya Ozcora, G. D., Kumandas, S., Sagiroglu, A., Acer, N., Doganay, S., Yigit, H., & Per, H. (2022). Evaluating the brainstem in children with breath-holding spells. Northern Clinics of Istanbul, 9(6), 610–615. https://doi.org/10.14744/nci.2021.48403
Leung, A. K. C., Leung, A. A. M., Wong, A. H. C., & Hon, K. L. (2019). Breath-holding spells in pediatrics: A narrative review of the current evidence. Current Pediatric Reviews, 15(1), 22–29. https://doi.org/10.2174/1573396314666181113094047
Salamah, A., & Darwish, A. H. (2023). Docosahexaenoic acid plus piracetam versus piracetam alone for treatment of breath-holding spells in children: A randomized clinical trial. Pediatric Neurology, 148, 32–36. https://doi.org/10.1016/j.pediatrneurol.2023.08.003
Sharawat, I. K., Dawman, L., Panda, P., & Panda, P. K. (2025). Efficacy of piracetam in children with breath-holding spells: A systematic review and meta-analysis. European Journal of Pediatrics, 184(1), 89. https://doi.org/10.1007/s00431-024-05926-4

Tinggalkan komentar