Selama beberapa dekade, bronkiektasis kerap dijuluki sebagai penyakit “anak tiri” dalam dunia kedokteran respirasi. Kondisi ini sering kali tertutupi oleh perhatian besar yang diberikan kepada penyakit paru obstruktif kronik (PPOK), asma, dan fibrosis kistik. Padahal, prevalensinya terus meningkat di seluruh dunia dan dampaknya terhadap kualitas hidup pasien sangat signifikan. Kabar baiknya, satu dekade terakhir menyaksikan lonjakan riset yang mengubah pemahaman kita tentang penyakit ini — termasuk persetujuan terapi pertama yang secara spesifik menargetkan bronkiektasis pada Agustus 2025.
Apa Itu Bronkiektasis?
Bronkiektasis adalah penyakit paru kronis yang ditandai oleh pelebaran permanen pada saluran napas (bronkus). Pelebaran ini bukan sekadar kelainan anatomis, melainkan mencerminkan kerusakan struktural dinding bronkus yang bersifat ireversibel. Pasien umumnya mengalami batuk kronis yang produktif dengan produksi dahak (sputum) yang berlebihan, sesak napas, kelelahan, dan episode perburukan gejala yang disebut eksaserbasi. Sebagian pasien juga mengalami hemoptisis, yaitu batuk berdahak yang disertai darah.
Diagnosis bronkiektasis dikonfirmasi melalui pencitraan, terutama computed tomography resolusi tinggi (HRCT) dada, yang menunjukkan pelebaran bronkus dibandingkan dengan pembuluh darah di sekitarnya (rasio bronkoarterial yang meningkat). Foto rontgen dada konvensional kurang sensitif untuk mendeteksi kondisi ini, sehingga banyak kasus yang terlewatkan sebelum era CT.
Seberapa Umum Bronkiektasis?
Data epidemiologi menunjukkan peningkatan prevalensi yang konsisten di seluruh dunia. Sebuah meta-analisis yang mencakup lebih dari 437 juta partisipan dalam 15 studi menemukan prevalensi gabungan sebesar 680 per 100.000 populasi, dengan prevalensi lebih tinggi pada perempuan (535 per 100.000) dibandingkan laki-laki (467 per 100.000), serta prevalensi tertinggi pada kelompok perokok (4.677 per 100.000). Prevalensi meningkat seiring bertambahnya usia: pada kelompok usia 18–34 tahun sekitar 3–5 per 100.000, melonjak hingga lebih dari 200–300 per 100.000 pada kelompok usia di atas 65 tahun.
Angka-angka ini sangat bervariasi antarwilayah. Di Tiongkok diperkirakan 1,5% perempuan dan 1,1% laki-laki pada populasi umum menderita bronkiektasis. Di Amerika Serikat, sekitar 500.000 pasien telah terdiagnosis, sementara di lima negara Eropa utama (Prancis, Jerman, Italia, Spanyol, dan Inggris) diperkirakan ada 600.000 pasien. Angka mortalitas pada kohort pasien bronkiektasis berkisar antara 16–24,8% selama 4–5 tahun masa tindak lanjut.
Peningkatan prevalensi ini kemungkinan didorong oleh kemajuan teknik pencitraan, meningkatnya kesadaran terhadap penyakit, serta peningkatan penyebab yang mendasarinya. Namun, data dari wilayah seperti Asia Tenggara, Amerika Selatan, dan Afrika masih sangat terbatas, sehingga prevalensi sesungguhnya bisa jadi lebih tinggi dari yang dilaporkan.
Relevansi di Indonesia: Warisan Tuberkulosis
Di negara-negara dengan beban tuberkulosis (TB) tinggi seperti Indonesia, bronkiektasis memiliki relevansi klinis yang sangat besar. Data dari registri internasional menunjukkan bahwa TB merupakan penyebab paling umum bronkiektasis di negara-negara Asia, termasuk India dan Korea Selatan. Dari gabungan data seluruh registri yang tersedia, mencakup 58.474 pasien, 11,8% menderita bronkiektasis pasca-TB dan 27,3% menderita bronkiektasis pascainfeksi secara umum.
Diperkirakan sekitar separuh dari penyintas TB paru mengalami patologi struktural, gangguan fungsi paru, atau gejala respirasi yang menetap setelah penyakit aktif teratasi — kondisi yang disebut sebagai post-tuberculosis lung disease (PTLD). Bronkiektasis merupakan salah satu manifestasi PTLD yang paling umum, dengan prevalensi mencapai 35–86% pada studi berbasis CT.
Indonesia, sebagai salah satu negara dengan beban TB tertinggi di dunia, menghadapi tantangan ganda: tingginya insiden TB aktif dan besarnya populasi penyintas TB yang berisiko mengalami komplikasi jangka panjang termasuk bronkiektasis. Bronkiektasis pasca-TB memiliki fenotip klinis yang khas, yaitu cenderung terjadi pada usia lebih tua, lebih sering melibatkan lobus atas, memiliki fungsi paru yang lebih rendah, dan lebih sering dikaitkan dengan infeksi Pseudomonas aeruginosa.
Memahami Patofisiologi: Dari “Siklus Setan” ke “Pusaran Ganas”
Pemahaman patofisiologi bronkiektasis secara tradisional dirangkum dalam model “siklus setan” (vicious cycle) yang pertama kali diusulkan oleh Cole. Model ini menggambarkan lingkaran empat komponen yang saling memperkuat: gangguan bersihan mukosiliar menyebabkan akumulasi sekret di saluran napas yang melebar, menciptakan lingkungan yang kondusif untuk infeksi bakteri kronis, yang memicu respons inflamasi berlebihan, dan pada akhirnya menyebabkan kerusakan jaringan paru lebih lanjut.
Pedoman terbaru European Respiratory Society (ERS) tahun 2025 mengembangkan konsep ini menjadi vicious vortex (“pusaran ganas”), di mana keempat komponen — inflamasi saluran napas, gangguan bersihan mukosiliar, infeksi saluran napas, dan kerusakan struktural paru — berinteraksi secara lebih kompleks dan multidireksional untuk mendorong progresi penyakit.
Penelitian terkini dengan teknologi multi-omik telah mengungkapkan bahwa patofisiologi bronkiektasis lebih heterogen dari yang dipahami sebelumnya. Neutrofil berperan sentral dalam inflamasi bronkiektasis: proteinase serin neutrofil (NSP), seperti elastase neutrofil, katepsin G, dan proteinase 3, merupakan mediator utama kerusakan jaringan. Namun, sekitar 20% pasien bronkiektasis memiliki profil eosinofilik yang berbeda dari asma, yang menunjukkan bahwa strategi terapi satu-untuk-semua tidaklah memadai.
Penyebab: Lebih dari Sekadar Infeksi
Bronkiektasis bukan penyakit tunggal, melainkan jalur akhir dari berbagai kondisi yang merusak dinding bronkus. Penyebab utamanya dapat dikelompokkan sebagai berikut:
Penyebab pascainfeksi merupakan yang paling umum secara global, meliputi TB, pneumonia berat, campak, pertusis, dan infeksi mikobakteri nontuberkulosis (NTM). Di Indonesia dan negara-negara berkembang lainnya, bronkiektasis pascainfeksi mendominasi. Kondisi genetik dan kongenital seperti fibrosis kistik, diskinesia silia primer, sindrom Mounier-Kuhn, dan defisiensi alfa-1 antitripsin juga dapat menjadi penyebab. Penyakit autoimun termasuk artritis reumatoid, sindrom Sjögren, dan penyakit radang usus (IBD) merupakan penyebab yang perlu dipertimbangkan, terutama di negara-negara maju. Defisiensi imun seperti common variable immunodeficiency (CVID) dan defisiensi antibodi lainnya juga sering mendasari bronkiektasis. Aspergilosis bronkopulmoner alergika (ABPA), aspirasi kronis, dan PPOK dengan komponen bronkiektasis juga berkontribusi. Meskipun demikian, pada banyak kasus penyebab tetap tidak teridentifikasi (idiopatik), yang menjadikannya kategori paling umum di banyak registri.
Identifikasi penyebab sangat penting karena beberapa etiologi memiliki terapi spesifik — misalnya, suplementasi imunoglobulin pada defisiensi antibodi atau terapi antijamur pada ABPA — yang dapat secara signifikan memperbaiki luaran pasien.
Penilaian Tingkat Keparahan
Dua sistem skor utama digunakan untuk menilai keparahan bronkiektasis dan memprediksi prognosis:
Bronchiectasis Severity Index (BSI) memberikan skor berdasarkan beberapa parameter termasuk usia, indeks massa tubuh (IMT), volume ekspirasi paksa dalam satu detik (VEP1), jumlah eksaserbasi dalam dua tahun terakhir, tingkat sesak napas (skala Modified Medical Research Council), kolonisasi Pseudomonas aeruginosa, serta jumlah lobus yang terlibat. Skor 0–4 dikategorikan ringan, 5–8 sedang, dan lebih dari 9 berat. Sistem skor FACED menilai lima variabel: VEP1, usia, kolonisasi kronis, jumlah lobus yang terlibat, dan derajat sesak napas. Kedua sistem ini membantu klinisi dalam stratifikasi risiko dan perencanaan tata laksana yang sesuai.
Tata Laksana: Pedoman ERS 2025
Pedoman terbaru dari ERS yang diterbitkan pada 2025 memberikan kerangka berbasis bukti paling komprehensif untuk pengelolaan bronkiektasis pada dewasa. Rekomendasi utama mencakup beberapa pilar pengelolaan.
Teknik bersihan saluran napas (airway clearance techniques/ACT) mendapat rekomendasi kuat untuk sebagian besar pasien bronkiektasis. Berbeda dengan pedoman sebelumnya yang membatasi ACT pada pasien dengan batuk produktif kronis, pedoman 2025 mengakui bahwa pasien dengan batuk kering, terutama yang menunjukkan sumbatan mukus pada CT dada, juga dapat memperoleh manfaat. Tidak ada bukti bahwa satu teknik lebih unggul dari teknik lainnya, sehingga terapi harus dipersonalisasi dan sebaiknya diajarkan oleh fisioterapis respirasi yang berpengalaman.
Rehabilitasi paru direkomendasikan secara kuat untuk pasien dengan sesak napas dan/atau gangguan kapasitas latihan. Aktivitas fisik secara teratur juga dianjurkan untuk semua pasien bronkiektasis.
Terapi makrolida jangka panjang direkomendasikan secara kuat untuk pasien dengan risiko tinggi eksaserbasi (umumnya didefinisikan sebagai tiga atau lebih eksaserbasi per tahun). Azitromisin atau eritromisin merupakan pilihan utama, yang bekerja tidak hanya sebagai antibiotik tetapi juga melalui efek imunomodulatornya.
Antibiotik hirup jangka panjang direkomendasikan secara kuat untuk pasien dengan infeksi kronik Pseudomonas aeruginosa yang memiliki risiko tinggi eksaserbasi.
Terapi eradikasi disarankan secara kondisional untuk pasien dengan isolasi baru Pseudomonas aeruginosa, dengan tujuan membersihkan bakteri sebelum infeksi menjadi kronis.
Agen mukoaktif disarankan secara kondisional untuk pasien yang gejala batuknya tidak terkontrol dengan ACT saja.
Pedoman ini juga menyarankan untuk tidak menggunakan secara rutin antibiotik oral nonmakrolida jangka panjang sebagai lini pertama, serta tidak menggunakan kortikosteroid hirup secara rutin kecuali pada pasien dengan asma atau PPOK yang menyertai.
Terobosan Baru: Persetujuan Brensocatib
Tonggak sejarah dalam pengelolaan bronkiektasis terjadi pada Agustus 2025, ketika Food and Drug Administration (FDA) Amerika Serikat menyetujui brensocatib (nama dagang: Brinsupri) sebagai terapi pertama yang secara khusus ditujukan untuk bronkiektasis non-fibrosis kistik. Obat ini diindikasikan untuk pasien dewasa dan anak usia 12 tahun ke atas.
Brensocatib merupakan inhibitor dipeptidyl peptidase 1 (DPP-1) yang bekerja secara oral, selektif, dan reversibel. DPP-1 adalah enzim yang bertanggung jawab untuk mengaktivasi proteinase serin neutrofil selama pematangan neutrofil di sumsum tulang. Dengan menghambat DPP-1, brensocatib mengurangi aktivitas NSP dan pada akhirnya meredam inflamasi neutrofilik yang menjadi pendorong utama kerusakan saluran napas pada bronkiektasis.
Persetujuan ini didasarkan pada data uji klinis fase 3 ASPEN, studi bronkiektasis terbesar yang pernah dilakukan, yang melibatkan 1.721 pasien di 35 negara. Dalam studi ini, brensocatib pada dosis 10 mg dan 25 mg mengurangi laju eksaserbasi pulmoner tahunan masing-masing sebesar 21,1% dan 19,4% dibandingkan plasebo. Kedua dosis juga secara signifikan memperpanjang waktu hingga eksaserbasi pertama, dan 48,5% pasien yang menerima brensocatib tetap bebas eksaserbasi pada minggu ke-52 dibandingkan 40,3% pada kelompok plasebo. Pada dosis 25 mg, brensocatib juga secara signifikan memperlambat penurunan fungsi paru (VEP1), dengan perbedaan 38 mL dibandingkan plasebo selama 12 bulan. Efek samping umumnya dapat ditoleransi, dengan hiperkeratosis (penebalan kulit) yang lebih sering terjadi pada kelompok brensocatib sebagai efek yang perlu diperhatikan.
Persetujuan brensocatib menandai pergeseran paradigma dari terapi simtomatik semata menuju terapi yang memodifikasi perjalanan penyakit. Ini merupakan validasi ilmiah bahwa menargetkan inflamasi neutrofilik secara langsung dapat memberikan manfaat klinis yang bermakna bagi pasien bronkiektasis.
Tata Laksana Eksaserbasi
Eksaserbasi merupakan peristiwa kunci dalam perjalanan penyakit bronkiektasis yang berkontribusi terhadap penurunan fungsi paru dan memperburuk kualitas hidup. Eksaserbasi didiagnosis ketika gejala utama memburuk, meliputi peningkatan batuk, peningkatan volume atau perubahan konsistensi sputum, peningkatan purulensi sputum, peningkatan sesak napas, penurunan toleransi latihan, kelelahan, dan/atau hemoptisis.
Tata laksana eksaserbasi meliputi pengambilan sampel sputum untuk kultur (idealnya sebelum memulai antibiotik), pemberian antibiotik yang disesuaikan dengan pola mikrobiologi pasien selama 14 hari sesuai rekomendasi ERS, dan evaluasi ulang jika tidak ada perbaikan. Eksaserbasi berat mungkin memerlukan perawatan rumah sakit dan antibiotik intravena. Setelah setiap eksaserbasi, strategi pencegahan harus ditinjau kembali.
Prognosis dan Kualitas Hidup
Prognosis bronkiektasis sangat bervariasi tergantung pada penyebab yang mendasari, keparahan penyakit, komorbiditas, dan akses terhadap perawatan yang memadai. Pasien dengan bronkiektasis ringan yang terkelola dengan baik dapat memiliki harapan hidup yang mendekati normal, sementara pasien dengan penyakit berat, infeksi kronis Pseudomonas aeruginosa, atau eksaserbasi berulang memiliki prognosis yang lebih buruk. Dampak terhadap kualitas hidup sangat signifikan, meliputi keterbatasan aktivitas fisik, gangguan tidur akibat batuk kronis, kecemasan, dan depresi.
Di wilayah dengan akses terbatas terhadap perawatan kesehatan, termasuk keterbatasan akses terhadap CT, uji fungsi paru, dan kultur sputum, diagnosis sering terlambat dan pengelolaan kurang optimal — kondisi yang sangat relevan di banyak daerah di Indonesia.
Tantangan dan Harapan ke Depan
Meskipun kemajuan yang dicapai sangat menggembirakan, beberapa tantangan besar masih harus dihadapi. Data epidemiologi dari negara-negara berpendapatan rendah dan menengah, termasuk Indonesia, masih sangat minim. Registri bronkiektasis nasional di Indonesia belum tersedia, sehingga pemahaman tentang karakteristik lokal penyakit ini sangat terbatas. Akses terhadap terapi standar seperti antibiotik hirup, agen mukoaktif, dan kini brensocatib juga menjadi persoalan yang perlu diatasi. Lebih dari itu, diperlukan penelitian lebih lanjut tentang bronkiektasis pasca-TB, mengingat penyebab ini mendominasi di negara-negara dengan beban TB tinggi tetapi bukti terapeutiknya masih sangat sedikit.
Kemajuan dalam pemahaman endotip dan sifat yang dapat diterapi (treatable traits) membuka jalan menuju pendekatan kedokteran presisi dalam bronkiektasis. Setiap pasien mungkin memiliki kombinasi unik dari inflamasi, infeksi, dan gangguan bersihan yang memerlukan strategi terapi yang berbeda. Dengan momentum riset yang semakin kuat dan persetujuan terapi pertama yang memodifikasi penyakit, masa depan bagi pasien bronkiektasis terlihat lebih cerah dari sebelumnya.
Daftar Referensi
Chalmers, J. D., Haworth, C. S., Metersky, M. L., Loebinger, M. R., Blasi, F., Sibila, O., … & Aliberti, S. (2025). European Respiratory Society clinical practice guideline for the management of adult bronchiectasis. European Respiratory Journal, 66(6), 2501126. https://doi.org/10.1183/13993003.01126-2025
Chalmers, J. D., Burgel, P. R., Daley, C. L., De Soyza, A., Haworth, C. S., Mauger, D., … & Flume, P. A. (2025). Phase 3 trial of the DPP-1 inhibitor brensocatib in bronchiectasis. New England Journal of Medicine, 392(16), 1569–1581. https://doi.org/10.1056/NEJMoa2412664
Choi, H., Xu, J.-F., Chotirmall, S. H., Chalmers, J. D., Crichton, M. L., Dhar, R., … & Blasi, F. (2024). Bronchiectasis in Asia: A review of current status and challenges. European Respiratory Review, 33(174), 240096. https://doi.org/10.1183/16000617.0096-2024
Choi, H., & Chalmers, J. D. (2024). Bronchiectasis management in adults: State of the art and future directions. European Respiratory Journal, 63(6), 2400518. https://doi.org/10.1183/13993003.00518-2024
Martínez-García, M. Á., Oscullo, G., Posadas, T., Zaldivar, E., Villa, C., Dobarganes, Y., … & Polverino, E. (2025). Post-tuberculosis and postinfected bronchiectasis: Data from global registries. Jornal Brasileiro de Pneumologia, 51(2), e20250076. https://doi.org/10.36416/1806-3756/e20250076
Meghji, J., Simpson, H., Squire, S. B., & Mortimer, K. (2016). A systematic review of the prevalence and pattern of imaging defined post-TB lung disease. PLOS ONE, 11(8), e0161176. https://doi.org/10.1371/journal.pone.0161176
Nigro, M., Laska, I. F., Traversi, L., Simonetta, E., & Polverino, E. (2024). Epidemiology of bronchiectasis. European Respiratory Review, 33(174), 240091. https://doi.org/10.1183/16000617.0091-2024
O’Donnell, A. E. (2022). Bronchiectasis — A clinical review. New England Journal of Medicine, 387(6), 533–545. https://doi.org/10.1056/NEJMra2202819
Perea, L., Faner, R., Chalmers, J. D., & Sibila, O. (2024). Pathophysiology and genomics of bronchiectasis. European Respiratory Review, 33(174), 240055. https://doi.org/10.1183/16000617.0055-2024
Visser, S. K., Bye, P. T. P., Fox, G. J., Burr, L. D., & Chang, A. B. (2025). Prevalence of bronchiectasis: A narrative review. Respiratory Medicine, 242, 108068. https://doi.org/10.1016/j.rmed.2025.108068
Zulfa, P. O., & Habibie, Y. A. (2023). Pneumonectomy for severe post-tuberculosis bronchiectasis: A successful case report and review of the long-term outcome. Narra J, 3(3), e222. https://doi.org/10.52225/narra.v3i3.222

Tinggalkan komentar