A Cahya Legawa's Les pèlerins au-dessus des nuages

Pendahuluan

Ketika sebuah rumah sakit memutuskan untuk membangun atau mengembangkan High Care Unit (HCU), satu asumsi yang paling umum — dan paling berbahaya — adalah menganggap HCU sebagai versi sederhana dari Intensive Care Unit (ICU). Ruangannya lebih kecil, alatnya lebih sedikit, perawatnya lebih sedikit. Selesai.

Asumsi semacam ini tidak hanya keliru secara konseptual, tetapi juga berpotensi menimbulkan konsekuensi serius terhadap keselamatan pasien, efisiensi operasional, dan kepatuhan regulasi. HCU bukan ICU yang diperkecil. HCU adalah layanan dengan identitas, fungsi, dan standar tersendiri yang membutuhkan perencanaan yang sama seriusnya — hanya dengan filosofi yang berbeda.

Artikel ini ditujukan kepada pemangku kebijakan di rumah sakit — direktur, manajer pelayanan medis, komite mutu, dan perencana fasilitas — yang sedang mempertimbangkan atau tengah merancang pembangunan HCU. Tujuannya adalah mengidentifikasi titik-titik yang paling sering terlewatkan dalam proses desain dan pengembangan HCU, serta mengapa pemahaman yang tepat terhadap perbedaannya dengan ICU menjadi kunci keberhasilan unit ini.


Memahami HCU: Di Antara Dua Dunia

Secara definisi, HCU adalah unit pelayanan di rumah sakit bagi pasien dengan kondisi stabil dari fungsi respirasi, hemodinamik, dan kesadaran, namun masih memerlukan pengobatan, perawatan, dan pemantauan secara ketat. Pedoman dari PERDICI (Perhimpunan Dokter Intensive Care Indonesia) menegaskan bahwa pelayanan HCU di rumah sakit perlu ditingkatkan secara berkesinambungan dalam rangka memenuhi kebutuhan pelayanan pengobatan, perawatan, dan observasi secara ketat yang semakin meningkat sebagai akibat penyakit menular maupun tidak menular seperti demam berdarah, malaria, cedera, keracunan, penyalahgunaan NAPZA, HIV, penyakit jantung pembuluh darah, diabetes mellitus, dan gagal ginjal.

Dalam literatur internasional, HCU sering disebut sebagai High Dependency Unit (HDU) atau Intermediate Care Unit (ImCU). Intermediate Care Unit secara global dianggap sebagai tingkat perawatan perantara antara bangsal umum dan ICU, khusus ditujukan untuk pasien kritis yang datang dari IGD, turun dari ICU (step-down), atau naik dari bangsal umum (step-up).

Perbedaan fundamental antara HCU dan ICU bukan sekadar soal jumlah alat atau tempat tidur. Perbedaan utama antara ICU dan HDU dalam hal operasional adalah rasio perawat terhadap pasien. Di ICU, rasio 1:1 antara pasien dan perawat adalah standar. Di HDU, diasumsikan rasio 2:1 — dua pasien per perawat. ICU menangani pasien dengan kegagalan multiorgan yang memerlukan bantuan hidup invasif; HCU menangani pasien yang fungsi vitalnya stabil namun berisiko memburuk.

Penting juga dipahami bahwa HCU dan ICU bukan layanan yang saling menggantikan. Pasien yang memerlukan ventilasi mekanik umumnya ditangani di ICU, bukan di HDU, kecuali dalam kondisi lonjakan kapasitas (surge capacity) yang ekstrem. Penelitian kohort di Jepang menunjukkan bahwa setelah pencocokan skor kecenderungan, pasien yang dirawat di ICU memiliki mortalitas dalam 30 hari yang secara signifikan lebih rendah dibandingkan pasien yang dirawat di HDU untuk kondisi yang memerlukan ventilasi mekanik invasif. Ini menegaskan bahwa menempatkan pasien pada tingkat layanan yang tidak tepat memiliki konsekuensi klinis nyata.


Yang Sering Terlewat: Sepuluh Titik Kritis

1. Keliru Mendefinisikan Populasi Pasien Sejak Awal

Ini adalah kesalahan paling hulu yang menentukan segalanya. Banyak rumah sakit membangun HCU tanpa terlebih dahulu menjawab pertanyaan mendasar: siapa pasien yang akan dilayani unit ini?

HCU melayani kelompok pasien yang beragam: pasien dengan gangguan pernapasan yang memerlukan ventilasi non-invasif seperti CPAP atau BiPAP, pasien sepsis dan infeksi berat, pasien dengan kondisi medis yang memburuk seperti ketoasidosis diabetik atau eksaserbasi gagal jantung, serta pasien yang diturunkan dari ICU setelah kondisinya stabil. Jika profil pasien ini tidak dipetakan dengan jelas sejak awal, desain fisik, pemilihan peralatan, dan kualifikasi SDM akan meleset.

Kesalahan umum yang terjadi adalah merancang HCU dengan orientasi step-down semata (menampung pasien yang keluar dari ICU), tanpa memperhitungkan fungsi step-up (menampung pasien dari bangsal yang memburuk). Padahal, HCU berfungsi sebagai unit step-up untuk pasien yang memburuk di bangsal umum, sekaligus unit step-down bagi mereka yang pulih dari ICU — penempatan strategis ini memastikan sumber daya perawatan kritis digunakan secara efisien.

2. Mengabaikan Prinsip Lokasi dan Kedekatan Fungsional

Fasilitas baru seharusnya menempatkan unit perawatan kritis sedekat mungkin dengan area non-ICU yang sering digunakan, seperti bedah, pemulihan pascaoperasi, IGD, dan area pencitraan, guna mengurangi transportasi pasien dan kejadian yang tidak diinginkan.

Prinsip ini berlaku penuh untuk HCU. Namun dalam praktik, HCU kerap ditempatkan di mana ada ruang kosong, bukan di mana secara klinis paling tepat. HCU yang terpisah jauh dari ICU menambah risiko pada saat pasien memerlukan eskalasi perawatan. Desain HCU yang paling ideal adalah parallel — terletak berdekatan atau bersebelahan dengan ICU — sehingga mobilisasi pasien antara kedua unit dapat dilakukan cepat dan aman.

Penelitian di Jepang menemukan bahwa HCU seharusnya ditempatkan di rumah sakit yang juga memiliki ICU; menempatkannya di rumah sakit tanpa ICU berisiko memperburuk luaran pasien. Implikasinya bagi pemangku kebijakan di Indonesia sangat relevan: HCU bukan solusi pengganti ICU pada rumah sakit yang belum mampu membangun ICU — keduanya perlu hadir bersama dalam hierarki layanan yang kohesif.

3. Salah Kaprah dalam Desain Fisik dan Tata Ruang

Banyak perencana mengira bahwa karena HCU “lebih rendah” dari ICU, maka standar fisiknya pun lebih longgar. Ini adalah kekeliruan serius.

HDU secara fisik identik dengan ICU dalam model perencanaan; perbedaannya hanyalah bahwa tidak semua tempat tidur harus berupa kamar tertutup — sebagian dapat berupa open bay yang dipisahkan tirai privasi. Satu-satunya pengecualian adalah kamar isolasi bertekanan negatif yang tetap harus disediakan dengan rasio tertentu.

Dalam hal visibilitas, pada konfigurasi HCU yang ideal, semua tempat tidur seharusnya dapat terlihat dari staff station. Pada unit yang lebih besar di mana hal ini tidak memungkinkan, harus disediakan stasiun kerja terdesentralisasi dengan dukungan komputer, minimal satu stasiun untuk setiap dua tempat tidur yang berdekatan.

Panduan desain ICU SCCM 2024 secara kuat merekomendasikan tata letak ICU dengan visibilitas tinggi, ketersediaan jendela dan pencahayaan alami di semua kamar pasien untuk meningkatkan kualitas tidur dan pemulihan. Prinsip ini seharusnya diterapkan juga pada HCU. Penelitian menunjukkan bahwa pencahayaan alami memengaruhi ritme sirkadian pasien, kualitas tidur, dan risiko delirium — sesuatu yang relevan pula pada pasien HCU.

Terkait dimensi ruangan, pencahayaan yang tidak memadai — terlalu rendah di siang hari dan terlalu terang di malam hari — dapat berdampak negatif terhadap pemulihan pasien dan kinerja tenaga kesehatan. Desain jendela dengan rasio luas kaca terhadap dinding sekitar 25% disarankan sebagai titik optimal untuk distribusi cahaya alami yang merata.

4. Meremehkan Standar Ketenagaan

Ini mungkin aspek yang paling sering diabaikan dalam dokumen perencanaan HCU. Pemangku kebijakan kerap berfokus pada infrastruktur fisik dan peralatan, sementara perencanaan SDM diperlakukan sebagai urusan operasional yang bisa dipikirkan belakangan.

Namun data ilmiah berbicara keras. Penelitian nasional di Jepang menemukan bahwa struktur organisasi ICU dan HCU — termasuk kriteria ketenagaan — secara bermakna terkait dengan mortalitas di rumah sakit pada pasien sepsis. Lebih jauh lagi, ICU tipe 1 — yang diisi oleh dokter dengan pengalaman intensif lebih dari 5 tahun dan rasio perawat-pasien minimal 1:2 — memberikan luaran yang lebih baik dibandingkan HCU dengan kepadatan keperawatan lebih rendah, minimal 1:5.

Di Indonesia, Pedoman HCU dari Kemenkes menetapkan bahwa pelayanan HCU dilaksanakan melalui pendekatan tim multidisiplin yang dipimpin oleh dokter spesialis yang telah mengikuti pelatihan dasar-dasar ICU. Artinya, bukan sembarang dokter dapat memimpin HCU. Ketidaktersediaan tenaga terlatih — bukan ketidaktersediaan alat — sering kali menjadi titik terlemah HCU yang baru dibangun.

Kesalahan spesifik yang sering terjadi:

  • Mengalokasikan perawat dari bangsal umum ke HCU tanpa pelatihan khusus
  • Tidak memperhitungkan kebutuhan tenaga 24 jam, 7 hari seminggu dalam proyeksi anggaran SDM
  • Menempatkan dokter jaga yang tidak terlatih dalam manajemen kondisi intermediet kritis

5. Pemilihan Alat yang Tidak Sesuai Misi

HCU memerlukan peralatan yang berbeda dari ICU, bukan hanya lebih sedikit. ICU membutuhkan kapabilitas ventilasi mekanik invasif penuh, monitor invasif tekanan intrarterial, renal replacement therapy, dan sebagainya. HCU, sebaliknya, lebih berfokus pada:

  • Monitor bedside kontinu untuk tanda vital
  • Peralatan oksigenasi non-invasif (CPAP, BiPAP, high-flow nasal cannula)
  • Infusion pump dan syringe pump
  • Suction sentral dan oksigen sentral
  • Kapabilitas resusitasi dasar

Masalah yang sering terjadi adalah dua hal yang berlawanan: over-investment (HCU dilengkapi peralatan ICU penuh yang tidak sesuai misi dan kapasitas SDM-nya, sehingga tidak optimal digunakan) atau under-investment (HCU hanya dilengkapi monitor sederhana tanpa kapabilitas intervensi awal saat kondisi pasien memburuk akut).

Panduan SCCM 2024 menyarankan penggunaan akses utilitas pendukung kehidupan yang tidak menempel di dinding, seperti kolom daya atau boom bertenaga pendant, serta membangun kapasitas tele-ICU untuk pengawasan jarak jauh. Fitur tele-ICU sangat relevan untuk HCU di rumah sakit kabupaten/kota yang memiliki keterbatasan tenaga spesialis, memungkinkan konsultasi dan pemantauan dari pusat rujukan.

6. Mengabaikan Desain Pengendalian Infeksi

Panduan SCCM 2024 menyarankan fitur pencegahan infeksi tingkat lanjut, serta kapasitas surge yang fleksibel — pelajaran yang sangat relevan pascapandemi COVID-19. HCU, karena memiliki campuran pasien dengan tingkat risiko yang beragam, justru sangat rentan menjadi titik transmisi hospital-acquired infection (HAI) jika desain pengendalian infeksinya tidak ketat.

Yang sering terlewat dalam desain HCU terkait pengendalian infeksi:

  • Tidak tersedianya kamar isolasi setidaknya satu unit bertekanan negatif
  • Penempatan wastafel atau fasilitas cuci tangan yang tidak strategis di dekat setiap tempat tidur
  • Sistem ventilasi (HVAC) yang tidak memenuhi standar pergantian udara untuk area perawatan intensif
  • Tidak adanya zona transisi (anteroom) antara area kotor dan bersih

7. Tidak Merancang Kapasitas Surge

Pandemi COVID-19 mengajarkan bahwa sistem kesehatan tanpa fleksibilitas kapasitas sangat rentan kolaps. Desain ICU harus merencanakan lonjakan volume pasien, dan ini harus mempertimbangkan ruang ICU serta ruang rumah sakit baru yang inovatif. Prinsip yang sama berlaku untuk HCU.

Sebagai opsi, HDU dapat dirancang secara identik dengan ICU tetapi dengan rasio keperawatan yang lebih rendah. Ini berarti unit yang sama, dalam waktu singkat, dapat dioperasikan sebagai ICU hanya dengan menambah rasio keperawatan. Fleksibilitas konversi ini adalah fitur desain yang sangat bernilai secara strategis, tetapi harus direncanakan dari awal — termasuk kapasitas titik listrik, gas medis, dan beban lantai yang cukup untuk peralatan ICU berat.

8. Kriteria Masuk dan Keluar yang Tidak Terstandar

HCU bukan “ruangan untuk pasien yang belum jelas mau ke mana.” Tanpa kriteria admission dan discharge yang ketat dan tertulis, HCU berpotensi menjadi ruang penampungan pasien yang tidak tepat indikasi — menyebabkan under-triage (pasien yang seharusnya di ICU dirawat di HCU) maupun over-triage (pasien yang bisa di bangsal umum menduduki tempat tidur HCU yang mahal).

Pedoman Kemenkes menetapkan bahwa pasien HCU adalah mereka yang memerlukan tingkat pelayanan di antara ICU dan rawat inap biasa. Namun dalam operasional, kriteria ini perlu diterjemahkan menjadi parameter klinis yang terukur: skor kesadaran (GCS), stabilitas hemodinamik, kebutuhan oksigenasi, frekuensi pemantauan yang diperlukan, dan lain sebagainya. Tanpa protokol triase yang baku, kualitas penggunaan HCU akan sulit dipertanggungjawabkan — baik secara klinis maupun dalam konteks audit BPJS Kesehatan.

9. Mengabaikan Ruang dan Kesejahteraan Staf

Panduan SCCM 2024 menyarankan desain ergonomis di ICU baik untuk ruang kerja staf maupun area perawatan pasien, serta merekomendasikan penyediaan ruang istirahat staf yang terpisah dan ruang tenang untuk mendukung kesejahteraan staf.

Dalam perencanaan HCU di Indonesia, kebutuhan ini hampir selalu dihilangkan dari daftar prioritas. Padahal, beban kerja staf HCU sangat tinggi — lebih dari bangsal biasa, meskipun sedikit lebih rendah dari ICU. Ruang istirahat yang layak, area loker, dan stasiun kerja yang ergonomis bukan kemewahan; melainkan investasi dalam pengurangan burnout dan peningkatan keselamatan pasien jangka panjang.

10. Kerangka Regulasi dan Pembiayaan yang Tidak Dipahami Utuh

Di Indonesia, penyelenggaraan HCU memiliki kerangka regulasi yang perlu dipahami secara menyeluruh oleh pemangku kebijakan. Dasar hukum utama meliputi Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2023 tentang Kesehatan, Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 40 Tahun 2022 tentang Persyaratan Teknis Bangunan, Prasarana, dan Peralatan Kesehatan Rumah Sakit, serta Pedoman Penyelenggaraan Pelayanan ICU/HCU dari Kemenkes.

Dari sisi pembiayaan, standar tarif pelayanan kesehatan dalam penyelenggaraan program Jaminan Kesehatan diatur dalam Peraturan Menteri Kesehatan RI Nomor 3 Tahun 2023. Pemahaman atas tarif INA-CBGs untuk HCU sangat penting agar perencanaan HCU tidak berujung pada unit yang secara klinis berfungsi tetapi secara finansial tidak berkelanjutan.

Yang sering terlewat dari sisi regulasi adalah perbedaan persyaratan sertifikasi dan perizinan antara HCU dan ICU. Mengklaim layanan HCU dalam tarif BPJS tanpa memenuhi standar yang ditetapkan merupakan risiko kepatuhan yang signifikan.


Dari Kesalahan Desain ke Dampak Klinis: Bukti yang Berbicara

Semua poin di atas bukan sekadar persoalan teknis-administratif. Studi lintas-seksional menggunakan data klaim nasional Jepang menemukan bahwa struktur organisasi ICU dan HCU — termasuk ketersediaan dan pengalaman tenaga medis, rasio perawat-pasien, serta kriteria evaluasi kebutuhan medis dan keperawatan — secara bermakna terkait dengan mortalitas di rumah sakit pada pasien sepsis.

Sementara itu, untuk pasien dengan gagal jantung akut, penelitian kohort berskala nasional menemukan bahwa tidak terdapat perbedaan bermakna dalam mortalitas di rumah sakit antara pasien yang dirawat di ICU dibandingkan HDU, namun pasien di ICU mengalami lama rawat inap yang lebih panjang dan biaya hospitalisasi yang lebih tinggi. Temuan ini mengisyaratkan bahwa untuk kategori pasien tertentu, HCU yang dirancang dan dikelola dengan baik dapat memberikan hasil klinis setara dengan ICU namun dengan biaya yang lebih efisien — sebuah proposisi nilai yang sangat menarik dari perspektif kebijakan kesehatan.

Alasan untuk mendukung keberadaan Intermediate Care Unit selama ini lebih banyak dikaitkan dengan manfaat bagi ICU — seperti pemulangan lebih awal dan pengurangan biaya — namun IMCu seharusnya juga dipertimbangkan untuk perannya dalam mengurangi risiko klinis akibat penggunaan tempat tidur yang tidak tepat oleh pasien kritis di bangsal umum.


Rekomendasi bagi Pemangku Kebijakan

Berdasarkan seluruh pembahasan di atas, berikut adalah rekomendasi praktis yang dapat menjadi panduan dalam proses perencanaan HCU:

Sebelum membangun: Lakukan analisis kebutuhan berbasis data — berapa pasien per tahun yang memerlukan tingkat perawatan intermediet? Apa profil penyakitnya? Apa kapasitas ICU dan bangsal umum yang ada? Posisikan HCU dalam konteks keseluruhan sistem progressive patient care rumah sakit, bukan sebagai proyek fisik yang berdiri sendiri.

Dalam proses desain: Libatkan dokter intensivis, perawat kritis, dan konsultan arsitektur fasilitas kesehatan sejak awal. Pastikan lokasi HCU berdekatan dengan ICU. Rencanakan sistem ventilasi, sumber listrik, dan gas medis yang memenuhi standar perawatan kritis. Sertakan minimal satu kamar isolasi. Perhatikan visibilitas dari nursing station ke semua tempat tidur. Pastikan ada jendela dan akses cahaya alami.

Dalam perencanaan SDM: Identifikasi kebutuhan pelatihan khusus sebelum unit beroperasi. Jangan mengalihkan perawat bangsal ke HCU tanpa program orientasi terstruktur. Pastikan kepemimpinan medis HCU dipegang oleh dokter dengan pelatihan dasar intensif.

Dalam penetapan protokol: Susun kriteria masuk dan keluar HCU dalam dokumen resmi berbasis parameter klinis yang terukur. Buat algoritma eskalasi yang jelas — kapan pasien harus dipindahkan ke ICU, dan kapan dapat diturunkan ke bangsal biasa.

Dalam pemantauan mutu: Tetapkan indikator kinerja kunci HCU yang berbeda dari ICU: length of stay di HCU, angka transfer tak terencana ke ICU, angka readmission ke HCU dari bangsal, dan mortality rate di HCU. Data ini tidak hanya penting untuk peningkatan mutu internal, tetapi juga untuk pertanggungjawaban kepada BPJS dan akreditasi.


Penutup

High Care Unit yang baik adalah yang tahu persis siapa pasiennya, apa yang bisa dilakukannya, dan — sama pentingnya — apa yang tidak dapat dilakukannya. Membangun HCU bukan sekadar menyiapkan ruangan dengan monitor dan tempat tidur yang lebih sedikit dari ICU. HCU adalah ekosistem layanan klinis dengan standar desain, ketenagaan, peralatan, tata kelola, dan regulasi yang khas.

Format Intermediate Care Unit bervariasi sangat signifikan antar institusi dalam hal desain, lokasi, pengaturan jumlah tempat tidur, ketenagaan, dan jenis pasien yang dirawat — dan konsensus universal mengenai standarnya masih terus berkembang. Ini bukan alasan untuk menyederhanakan perencanaan, melainkan justru alasan untuk lebih cermat dan berbasis bukti dalam setiap keputusan.

Bagi pemangku kebijakan di rumah sakit, investasi dalam perencanaan HCU yang matang adalah investasi dalam keselamatan pasien, efisiensi sumber daya, dan keberlanjutan layanan kritis — tiga hal yang tidak dapat dikompromikan.


Referensi

Biagioli, V., Tarquini, R., Annoni, F., Chiappini, F., & Corsi, G. (2021). Intensive care unit versus high-dependency care unit for patients with acute heart failure: A nationwide propensity score-matched cohort study. Journal of Intensive Care, 9(1), 73. https://doi.org/10.1186/s40560-021-00592-2

Hamilton, D. K., Gary, J. C., Scruth, E., Anderson, H. L., Cadenhead, C. D., Oczkowski, S. J., Lau, V. I., Adler, J., Bassily-Marcus, A., Bassin, B. S., & Society of Critical Care Medicine. (2025). Society of Critical Care Medicine 2024 guidelines on adult ICU design. Critical Care Medicine, 53(3), e690–e700. https://doi.org/10.1097/CCM.0000000000006591

Health Facility Guidelines. (2023). Part B – Health facility briefing & design: 25 High Dependency Unit. Australasian Health Facility Guidelines. https://www.healthfacilityguidelines.com/ViewPDF/ViewIndexPDF/iHFG_part_b_high_dependency_unit

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2010). Keputusan Menteri Kesehatan RI Nomor 1778/MENKES/SK/XII/2010 tentang Pedoman Penyelenggaraan Pelayanan Intensive Care Unit (ICU) di Rumah Sakit. Kemenkes RI.

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2022). Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 40 Tahun 2022 tentang Persyaratan Teknis Bangunan, Prasarana, dan Peralatan Kesehatan Rumah Sakit. Kemenkes RI.

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2023). Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 3 Tahun 2023 tentang Standar Tarif Pelayanan Kesehatan dalam Penyelenggaraan Program Jaminan Kesehatan. Kemenkes RI.

Masuda, T., Ishimaru, T., Takeda, T., Ohbe, H., Matsui, H., & Yasunaga, H. (2024). Associations of the staffing structure of intensive care units and high care units on in-hospital mortality among patients with sepsis: A cross-sectional study of Japanese nationwide claims data. BMJ Open, 14(7), e085763. https://doi.org/10.1136/bmjopen-2024-085763

Miura, R., Ohbe, H., Matsui, H., & Yasunaga, H. (2023). Intensive care unit versus high-dependency care unit for COVID-19 patients with invasive mechanical ventilation. Annals of the American Thoracic Society, 20(1), 102–109. https://doi.org/10.1513/AnnalsATS.202206-475OC

Moreno, G., Cosentini, R., Cattani, C., & Italian Society of Emergency Medicine. (2025). Intermediate care unit performance being properly assessed? Critical Care, 29(1), 175. https://doi.org/10.1186/s13054-025-05676-1

Perdagangan dan Distribusi Ilmu Kedokteran Indonesia/PERDICI. (n.d.). ICU & HCU guidelines. https://perdici.org/icu-hcu-guidelines/

Qin, K., García-Fernández, P., Lauret, G. J., & Martín-Galisteo, J. (2024). Designing intensive care unit windows in a Mediterranean climate: Efficiency, daylighting, and circadian response. Applied Sciences, 14(21), 9798. https://doi.org/10.3390/app14219798


Commenting 101: “Be kind, and respect each other” // Bersikaplah baik, dan saling menghormati (Indonesian) // Soyez gentils et respectez-vous les uns les autres (French) // Sean amables y respétense mutuamente (Spanish) // 待人友善,互相尊重 (Chinese) // كونوا لطفاء واحترموا بعضكم البعض (Arabic) // Будьте добры и уважайте друг друга (Russian) // Seid freundlich und respektiert einander (German) // 親切にし、お互いを尊重し合いましょう (Japanese) // दयालु बनें, और एक दूसरे का सम्मान करें (Hindi) // Siate gentili e rispettatevi a vicenda (Italian)

Tinggalkan komentar