Bayangkan sebuah produk yang dirancang khusus untuk menjaga tumbuh kembang bayi — susu formula — ternyata mengandung racun berbahaya yang menyebabkan bayi jatuh sakit dalam hitungan jam. Inilah yang tengah terjadi dalam sebuah krisis keamanan pangan internasional yang melibatkan 99 negara dan wilayah di seluruh dunia, termasuk kemungkinan besar Indonesia.
Pada 13 Maret 2026, Organisasi Kesehatan Dunia (World Health Organization/WHO) merilis laporan resmi mengenai kontaminasi toksin cereulide pada sejumlah merek susu formula bayi dan produk nutrisi lainnya. Peristiwa ini bermula dari ditemukannya toksin dalam minyak asam arachidonat (arachidonic acid/ARA) yang digunakan sebagai bahan tambahan dalam produk-produk tersebut. Investigasi masih berlangsung, tetapi dampaknya sudah terasa secara global: ratusan kasus dilaporkan, penarikan produk besar-besaran dilakukan, dan ancaman nyata mengintai bayi-bayi yang bergantung penuh pada susu formula sebagai sumber nutrisi utama mereka.
Mengenal Toksin Cereulide dan Bakteri Penghasilnya
Untuk memahami krisis ini, kita perlu mengenal cereulide — toksin yang menjadi “pelaku utama” dalam kasus ini.
Cereulide adalah toksin emetik (emetic toxin) yang diproduksi oleh bakteri Bacillus cereus, khususnya oleh galur (strain) yang membawa gen ces (singkatan dari cereulide synthetase). Bakteri B. cereus sendiri adalah kuman Gram-positif berbentuk batang yang bersifat pembentuk spora (spore-forming), tersebar luas di tanah, debu, dan lingkungan produksi pangan. Keberadaannya di industri makanan bukanlah hal baru — bakteri ini dikenal sebagai salah satu penyebab keracunan pangan di seluruh dunia, yang dalam bahasa sehari-hari sering dikaitkan dengan “sindrom nasi goreng” (fried rice syndrome) (Leong et al., 2023).
Yang membuat cereulide begitu berbahaya bukan semata-mata sifat toksisitasnya, melainkan karakteristik fisikokimianya yang luar biasa tangguh. Toksin ini tergolong heat-stable (stabil terhadap panas) — mampu bertahan hingga suhu 121°C, melampaui suhu pasteurisasi dan bahkan suhu sterilisasi konvensional. Artinya, proses memasak atau memanaskan produk setelah terkontaminasi tidak akan menonaktifkan toksin ini. Ia tetap aktif di dalam produk akhir yang sampai ke tangan konsumen.
Secara struktural, cereulide adalah senyawa depsipeptide siklik — molekul peptida kecil yang tahan terhadap kondisi lambung. Ketika tertelan, toksin ini langsung diserap dan bekerja dengan mengganggu mitokondria sel epitel usus serta memengaruhi sistem saraf otonom, sehingga memicu refleks muntah yang kuat dan cepat. Dosis yang dibutuhkan untuk menimbulkan gejala sangat rendah, menjadikannya salah satu toksin pangan yang paling poten per unit massanya.
Penelitian terbaru menunjukkan betapa serius masalah kontaminasi ini dalam konteks produk susu formula. Studi oleh Wang et al. (2025) menemukan bahwa lebih dari 80% produk susu formula bayi yang diambil sampelnya di pasar positif mengandung B. cereus, dan 36% di antaranya positif mengandung gen ces — penanda kemampuan memproduksi cereulide. Sementara itu, Heini et al. (2018) sebelumnya melaporkan bahwa 78% susu formula bubuk (powdered infant formula/PIF) yang diteliti terbukti terkontaminasi bakteri dari kelompok B. cereus sensu lato. Data-data ini mencerminkan bahwa kontaminasi B. cereus dalam susu formula sesungguhnya bukan fenomena baru — yang baru adalah skala dan keparahan insiden kali ini.
Mengapa Minyak ARA Ada dalam Susu Formula Bayi?
Untuk memahami jalur kontaminasi dalam krisis ini, penting untuk terlebih dahulu mengetahui peran minyak ARA dalam produk susu formula.
Asam arachidonat (arachidonic acid/ARA) adalah asam lemak tak jenuh rantai panjang (long-chain polyunsaturated fatty acid/LCPUFA) dari kelompok omega-6. Bersama dengan asam dokosaheksaenoat (docosahexaenoic acid/DHA), ARA merupakan komponen penting dalam air susu ibu (ASI) dan memainkan peran kritis dalam perkembangan otak, retina, dan sistem imun bayi (Miles et al., 2021). Karena pentingnya dua lemak ini untuk tumbuh kembang bayi, produsen susu formula secara global telah menambahkannya sebagai suplemen dalam produk mereka — menjadikan ARA dan DHA sebagai bahan wajib atau anjuran dalam berbagai regulasi susu formula bayi di berbagai negara.
Minyak ARA yang ditambahkan ke dalam susu formula umumnya diproduksi secara industri dari jamur Mortierella alpina melalui proses fermentasi dan ekstraksi. Seperti bahan baku industri pangan lainnya, minyak ini melewati rantai pasokan (supply chain) yang panjang dan kompleks sebelum akhirnya menjadi bagian dari produk susu formula yang kita kenal.
Inilah titik kritis dalam krisis yang sedang berlangsung ini: investigasi WHO menunjukkan bahwa minyak ARA yang digunakan oleh berbagai merek susu formula internasional diduga kuat menjadi sumber kontaminasi cereulide. Kontaminasi diperkirakan terjadi selama proses produksi minyak ARA di tingkat produsen bahan baku, meskipun analisis penyebab akar masalah (root cause analysis) yang lengkap belum diserahkan kepada WHO. Karena satu sumber bahan baku tersebut terdistribusi ke banyak produsen susu formula di berbagai negara, kontaminasi pun ikut menyebar ke ratusan produk dari puluhan merek.
Kronologi dan Skala Krisis Global
Peristiwa ini dimulai jauh sebelum laporan WHO yang baru saja dirilis. Penarikan produk (recall) pertama dilakukan pada 10 Desember 2025, setelah cereulide terdeteksi dalam beberapa batch susu formula yang beredar di pasar. Sejak saat itu, investigasi meluas dengan sangat cepat.
Per 25 Februari 2026, WHO mencatat:
Produk yang terkontaminasi telah terdistribusi ke 99 negara dan wilayah yang mencakup seluruh enam wilayah WHO di dunia — Afrika, Amerika, Mediterania Timur, Eropa, Asia Tenggara, dan Pasifik Barat. Ini bukan krisis regional; ini adalah krisis keamanan pangan global yang sesungguhnya.
Sebanyak 144 kasus tersangka (suspected) dan terkonfirmasi (confirmed) dilaporkan dari 10 negara. Rincian per negara: Austria (9 kasus), Brasil (5), Hong Kong SAR China (1), Ceko (4), Prancis (11), Italia (1), Singapura (3), Spanyol (41), dan Inggris (61). Di Belanda (221 kasus) dan Denmark (32 kasus), angka yang dilaporkan berasal dari pelaporan mandiri (self-reporting) sehingga tidak sebanding langsung dengan definisi kasus INFOSAN (International Food Safety Authorities Network). Hingga saat laporan ini diterbitkan, Belgia menjadi satu-satunya negara dengan kasus yang terkonfirmasi secara laboratorium, yaitu delapan kasus intoksikasi terkait produk yang terkontaminasi.
Penting untuk dicatat bahwa 144 kasus yang tercatat ini kemungkinan besar adalah gunung es. Cereulide bukan merupakan target pemeriksaan laboratorium rutin; kapasitas diagnostik untuk mendeteksinya sangat terbatas di banyak negara; dan kasus ringan yang menyerupai sakit perut biasa pada bayi kemungkinan besar tidak dilaporkan. Tantangan inilah yang membuat epidemiologi krisis ini sangat sulit dipetakan secara akurat.
Manifestasi Klinis: Mengapa Bayi Sangat Rentan?
Gejala keracunan cereulide datang dengan cepat dan dramatis. Setelah konsumsi produk yang terkontaminasi, gejala biasanya muncul dalam 0,5 hingga 6 jam — jauh lebih cepat dibandingkan keracunan pangan bakteri pada umumnya yang biasanya membutuhkan waktu lebih panjang. Ini karena cereulide sudah berbentuk toksin jadi ketika tertelan (preformed toxin), bukan menginfeksi tubuh terlebih dahulu seperti patogen lainnya.
Manifestasi klinis utama meliputi mual (nausea), muntah (vomiting) yang bisa sangat intens, dan nyeri perut (abdominal pain). Dehidrasi dan gangguan elektrolit adalah komplikasi yang cepat menyusul, terutama akibat muntah berulang. Tidak ada antidot atau terapi spesifik untuk intoksikasi cereulide — penanganan sepenuhnya bersifat suportif.
Bayi merupakan kelompok yang paling rentan karena beberapa alasan fisiologis yang saling terkait. Pertama, cadangan cairan tubuh bayi relatif kecil dibandingkan berat badannya, sehingga dehidrasi akibat muntah berulang dapat terjadi dengan sangat cepat dan menjadi mengancam jiwa. Kedua, bayi yang sepenuhnya mengandalkan susu formula sebagai satu-satunya sumber nutrisi akan terpapar toksin berulang kali setiap kali diberi makan — meningkatkan dosis kumulatif yang diterima. Ketiga, dalam situasi dehidrasi, pengasuh (caregiver) mungkin justru memberikan lebih banyak susu formula untuk rehidrasi, yang paradoks justru memperburuk kondisi bayi dengan menambah asupan toksin. Keempat, sistem imun bayi yang belum matang tidak dapat memberikan respons pertahanan yang memadai terhadap efek toksin ini.
Di lingkungan dengan keterbatasan akses pelayanan kesehatan, di mana pencarian pertolongan medis dapat tertunda, dehidrasi dan gangguan elektrolit yang disebabkan cereulide pada bayi berpotensi berakibat fatal.
Tantangan Diagnosis yang Mempersulit Respons
Salah satu hambatan terbesar dalam menangani krisis ini adalah sulitnya konfirmasi diagnostik. Cereulide bukan merupakan target pengujian laboratorium rutin di sebagian besar negara di dunia. Pemeriksaannya membutuhkan metode analitik khusus seperti liquid chromatography-tandem mass spectrometry (LC-MS/MS) — teknologi yang mahal dan tidak tersedia di semua laboratorium (In ‘t Veld et al., 2018).
Lebih jauh lagi, gejalanya mudah disalahartikan sebagai penyakit lain yang umum pada bayi: muntah biasa, refluks gastroesofagus, atau gastroenteritis viral. Tanpa konfirmasi laboratorium dan tanpa riwayat konsumsi produk yang ditarik yang teridentifikasi dengan jelas, banyak kasus kemungkinan tidak pernah dikaitkan dengan kontaminasi ini.
Perbedaan definisi kasus yang digunakan oleh berbagai negara juga menambah kompleksitas. INFOSAN telah menetapkan definisi kasus tersendiri yang membedakan kasus tersangka dan terkonfirmasi, sementara ECDC (European Centre for Disease Prevention and Control) memiliki definisi serupa namun tidak identik. Ketidakseragaman ini menyulitkan perbandingan data antar negara dan menyebabkan ketidakpastian dalam menilai beban penyakit sesungguhnya.
Respons Internasional: Recall dan Koordinasi Lintas Negara
Respons terhadap krisis ini melibatkan koordinasi multilevel yang belum pernah terjadi dalam skala ini untuk isu keamanan pangan produk bayi.
Di tingkat Uni Eropa, komunikasi dan koordinasi dikelola melalui sistem RASFF (Rapid Alert System for Food and Feed), yang secara paralel berkoordinasi erat dengan sekretariat INFOSAN. Sejak 7 Januari 2026 — ketika terbukti distribusi produk telah melampaui batas Uni Eropa — WHO melalui Sekretariat INFOSAN mulai menghubungi titik kontak darurat INFOSAN di seluruh negara dan wilayah yang terdampak, untuk memberitahukan mereka mengenai produk yang ditarik dan mendukung pertukaran informasi serta koordinasi respons.
Penarikan produk secara kehati-hatian (precautionary recall) telah dilakukan di semua negara dan wilayah terdampak. Namun, kecepatan dan kelengkapan penarikan sangat bervariasi tergantung pada kapasitas inspeksi dan penegakan hukum di masing-masing negara. Di negara-negara dengan sistem pengawasan pangan yang kuat, recall dapat dilakukan secara sistematis dan terverifikasi; di tempat lain, produk terkontaminasi masih mungkin beredar.
Ironisnya, recall produk dalam skala besar ini menimbulkan risiko sekunder yang tidak kalah serius: kelangkaan susu formula lokal. Di daerah atau negara yang sangat bergantung pada merek-merek tertentu yang kini ditarik dari peredaran, orang tua mungkin menghadapi kesulitan menemukan produk pengganti yang aman. WHO secara khusus menyoroti hal ini dan mendorong promosi menyusui (breastfeeding) serta mengatasi hambatan akses terhadap nutrisi alternatif yang aman.
Penilaian Risiko WHO: Moderat, dengan Ketidakpastian yang Signifikan
WHO menilai risiko kesehatan masyarakat dari peristiwa ini sebagai moderat (moderate). Penilaian ini mempertimbangkan beberapa faktor secara bersamaan.
Di satu sisi, kasus yang terlaporkan masih terbatas jumlahnya dibandingkan luasnya distribusi produk. Di sisi lain, ketidakpastian masih sangat besar: seberapa luas sesungguhnya distribusi minyak ARA yang terkontaminasi belum dapat dipastikan, analisis akar masalah belum tuntas, dan kemampuan deteksi kasus di banyak negara masih terbatas. Rentang distribusi produk yang mencakup 99 negara dan kerentanan ekstrem dari populasi yang terpapar — yaitu bayi — menjadi faktor pemberat dalam penilaian ini.
WHO juga menggarisbawahi bahwa recall produk, meski esensial untuk perlindungan kesehatan, berpotensi mengganggu rantai pasokan (supply chain) nutrisi bayi secara global. Risiko residual paparan toksin masih ada selama investigasi dan penelusuran rantai distribusi (traceability) belum tuntas.
Apa yang Perlu Dilakukan Orang Tua dan Pengasuh?
Bagi orang tua atau pengasuh yang memberikan susu formula kepada bayi, beberapa langkah berikut sangat penting untuk dilakukan segera.
Pertama, periksa produk yang sedang digunakan. Ikuti informasi terkini dari otoritas keamanan pangan Indonesia — Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) — mengenai daftar produk yang ditarik dari peredaran. Jangan menunggu hingga ada gejala untuk berhenti menggunakan produk yang masuk dalam daftar recall.
Kedua, kenali gejala kegawatan pada bayi. Jika bayi yang mendapat susu formula mengalami muntah mendadak yang berulang, menolak makan, tampak lemas, atau menunjukkan tanda-tanda dehidrasi — seperti air mata yang tidak keluar, mulut dan lidah kering, atau popok yang jarang basah — segera bawa ke fasilitas kesehatan. Jangan tunggu gejala memburuk.
Ketiga, jangan gunakan susu formula yang sama untuk rehidrasi. Jika bayi muntah setelah minum susu formula dan Anda mencurigai produknya bermasalah, jangan berikan lebih banyak produk yang sama sebagai pengganti cairan. Konsultasikan dengan tenaga kesehatan mengenai alternatif yang aman.
Keempat, pertimbangkan ASI sebagai pilihan utama. WHO secara eksplisit mendorong pemberian ASI dalam konteks krisis ini. Bagi ibu yang masih memiliki kemampuan menyusui, ini adalah momen untuk kembali mempertimbangkan atau memperkuat pemberian ASI. Bagi ibu yang tidak dapat menyusui, konsultasikan dengan tenaga kesehatan mengenai alternatif nutrisi bayi yang aman.
Pesan untuk Tenaga Kesehatan
Bagi dokter, bidan, perawat, dan tenaga kesehatan lainnya — terutama yang bekerja di layanan primer dan gawat darurat anak — ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam konteks kejadian ini.
Waspadalah terhadap bayi yang datang dengan keluhan muntah akut yang tidak dapat dijelaskan, terutama jika onset cepat (dalam beberapa jam setelah makan) dan tidak disertai demam atau gejala infeksi lain. Tanyakan secara spesifik merek dan batch susu formula yang digunakan, dan cocokkan dengan daftar produk yang ditarik. Prioritaskan manajemen dehidrasi dan gangguan elektrolit secara agresif. Laporkan kasus yang dicurigai ke sistem surveilans yang relevan, karena pelaporan aktif sangat dibutuhkan untuk memahami beban sesungguhnya dari kejadian ini.
Implikasi bagi Sistem Keamanan Pangan Indonesia
Kejadian ini menjadi pengingat keras mengenai kerentanan sistem keamanan pangan global — dan betapa Indonesia, sebagai bagian dari jaringan perdagangan internasional, tidak dapat memisahkan diri dari risiko tersebut.
Susu formula yang beredar di pasar Indonesia sebagian besar diproduksi oleh perusahaan multinasional dengan rantai pasokan global. Bahan baku seperti minyak ARA sangat mungkin berasal dari produsen yang sama yang saat ini menjadi fokus investigasi. BPOM perlu memastikan transparansi dan kecepatan dalam mengidentifikasi produk yang berpotensi terkontaminasi, mengkomunikasikannya kepada publik, dan memverifikasi efektivitas penarikan hingga ke tingkat pengecer, termasuk platform penjualan daring (online).
Kejadian ini juga membuka ruang diskusi yang lebih luas tentang pentingnya infrastruktur laboratorium keamanan pangan yang memadai di Indonesia — termasuk kapasitas untuk mendeteksi toksin cereulide — serta pentingnya keterhubungan Indonesia dengan jaringan INFOSAN agar informasi tentang ancaman keamanan pangan global dapat diterima dan direspons dengan cepat.
Kesimpulan
Kontaminasi cereulide dalam susu formula bayi yang sedang berlangsung saat ini adalah salah satu krisis keamanan pangan internasional terbesar yang melibatkan produk nutrisi bayi dalam beberapa tahun terakhir. Toksin yang dihasilkan oleh Bacillus cereus ini bersifat tahan panas, bekerja cepat, dan tidak memiliki antidot — kombinasi yang menjadikannya sangat berbahaya terutama bagi bayi yang sepenuhnya bergantung pada susu formula.
Skala distribusi yang mencakup 99 negara mencerminkan seberapa terhubungnya rantai pasokan pangan global, sekaligus betapa besarnya tanggung jawab yang harus dipikul oleh seluruh aktor dalam rantai tersebut — dari produsen bahan baku hingga regulator, dari pedagang hingga orang tua yang memilih produk di rak supermarket. Sementara investigasi masih berlangsung, prinsip kehati-hatian (precautionary principle) harus menjadi pedoman: keselamatan bayi tidak boleh menunggu kepastian ilmiah yang lengkap.
Referensi
Heini, N., Stephan, R., Ehling-Schulz, M., & Johler, S. (2018). Characterization of Bacillus cereus group isolates from powdered food products. International Journal of Food Microbiology, 283, 59–64. https://doi.org/10.1016/j.ijfoodmicro.2018.06.019
In ‘t Veld, P. H., van der Laak, L. F. J., van Zon, M., & Biesta-Peters, E. G. (2018). Elaboration and validation of the method for the quantification of the emetic toxin of Bacillus cereus as described in EN-ISO 18465. International Journal of Food Microbiology, 288, 91–96. https://doi.org/10.1016/j.ijfoodmicro.2018.03.021
Leong, S. S., Korel, F., & King, J. H. (2023). Bacillus cereus: A review of “fried rice syndrome” causative agents. Microbial Pathogenesis, 185, 106418. https://doi.org/10.1016/j.micpath.2023.106418
Miles, E. A., Childs, C. E., & Calder, P. C. (2021). Long-chain polyunsaturated fatty acids (LCPUFAs) and the developing immune system: A narrative review. Nutrients, 13(1), 247. https://doi.org/10.3390/nu13010247
Dos Santos Mascarenhas, L. R., Vivoni, A. M., Caetano, R. G., Rusak, L. A., Alvarenga, V. O., & Lacerda, I. C. A. (2024). Molecular characterization and toxigenic profiles of Bacillus cereus isolates from foodstuff and food poisoning outbreaks in Brazil. Brazilian Journal of Microbiology, 55(2), 1693–1701. https://doi.org/10.1007/s42770-024-01283-4
Pheepakpraw, J., Kaewkod, T., Konkit, M., Krongdang, S., Jantakee, K., Praphruet, R., Bovonsombut, S., Panya, A., Tragoolpua, Y., Logan, N. A., & Chitov, T. (2023). Intraspecific diversity and pathogenicity of Bacillus thuringiensis isolates from an emetic illness. Toxins, 15(2), 89. https://doi.org/10.3390/toxins15020089
Thirkell, C. E., Sloan-Gardner, T. S., Kacmarek, M. C., & Polkinghorne, B. (2019). An outbreak of Bacillus cereus toxin-mediated emetic and diarrhoeal syndromes at a restaurant in Canberra, Australia 2018. Communicable Diseases Intelligence, 43. https://doi.org/10.33321/cdi.2019.43.40
Wang, H., Yin, R., Huang, Y., Li, Y., & Yue, M. (2025). Developing a Cas12a-based detection method on the emetic Bacillus cereus strains in infant formulas. Food Research International, 214, 116638. https://doi.org/10.1016/j.foodres.2025.116638
World Health Organization. (2026, March 13). Disease outbreak news: Recall of internationally distributed infant formula and products containing ARA oil due to contamination with cereulide toxin. https://www.who.int/emergencies/disease-outbreak-news/item/2026-DON596

Tinggalkan komentar