A Cahya Legawa's Les pèlerins au-dessus des nuages

Pendahuluan

Di antara deretan penyakit zoonosis yang mengancam kesehatan manusia secara global, brucellosis menempati posisi yang cukup serius namun kerap luput dari perhatian publik. Berbeda dengan flu burung atau rabies yang namanya lebih akrab di telinga masyarakat, brucellosis bersembunyi diam-diam melalui jalur yang tak terduga: segelas susu segar yang belum dipasteurisasi, kontak langsung dengan hewan ternak, atau sekadar menghirup udara di sekitar kandang yang terinfeksi.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mencatat bahwa brucellosis merupakan salah satu infeksi zoonosis paling umum di dunia, dengan lebih dari 500.000 kasus baru pada manusia yang dilaporkan setiap tahunnya. Angka ini kemungkinan besar merupakan perkiraan minimum, mengingat banyak kasus yang tidak terdiagnosis atau salah didiagnosis karena gejalanya yang sangat menyerupai berbagai penyakit lain.

Di Indonesia, situasinya tergolong unik dan memprihatinkan sekaligus. Data epidemiologi brucellosis pada manusia secara resmi hampir tidak ada, sementara penyakit ini telah lama diketahui menginfeksi ternak di berbagai wilayah. Artinya, potensi penularan ke manusia tetap ada, namun tidak terdeteksi dan tidak tercatat. Artikel ini mengulas secara komprehensif apa itu brucellosis, bagaimana bakteri penyebabnya bekerja dalam tubuh, siapa saja yang berisiko, dan apa yang harus dilakukan untuk mencegah serta mengobatinya.


Apa Itu Brucellosis?

Brucellosis adalah penyakit infeksi yang disebabkan oleh bakteri dari genus Brucella, organisme intraseluler yang mampu bertahan hidup dan berkembang biak di dalam sel-sel pertahanan tubuh manusia, khususnya makrofag. Kemampuan inilah yang menjadikan penyakit ini sangat sulit dieradikasi dari tubuh penderita dan sering kali menyebabkan infeksi kronis yang berkepanjangan.

Terdapat beberapa spesies Brucella yang relevan dari sudut pandang kesehatan manusia. Brucella melitensis, yang terutama menginfeksi domba dan kambing, merupakan spesies yang paling virulen dan paling sering menyebabkan penyakit pada manusia. Brucella abortus, yang berasosiasi dengan sapi dan bison, adalah penyebab kerugian ekonomi terbesar di sektor peternakan. Brucella suis menginfeksi babi, sementara Brucella canis menginfeksi anjing dan belakangan menjadi perhatian khusus di Eropa sebagai ancaman yang berkembang terhadap kesehatan publik.

Nama penyakit ini mengambil nama dari Sir David Bruce, dokter militer asal Skotlandia yang berhasil mengisolasi bakteri penyebabnya pada akhir abad ke-19. Brucellosis dikenal juga dengan berbagai nama lain, yakni Mediterranean fever (demam Mediterania), undulant fever (demam bergelombang), Malta fever, atau Bang’s disease pada hewan ternak.


Epidemiologi Global dan Situasi di Indonesia

Secara global, brucellosis endemis di kawasan Timur Tengah, negara-negara Mediterania seperti Spanyol, Portugal, dan Yunani, Asia Tengah, Afrika, serta Amerika Latin. Penyakit ini tidak hanya menjadi masalah kesehatan, tetapi juga beban ekonomi yang signifikan karena dampaknya terhadap produktivitas ternak, khususnya melalui keguguran massal pada hewan betina yang terinfeksi.

Dalam konteks yang lebih baru, Brucella canis mulai menarik perhatian sebagai ancaman zoonosis yang berkembang di Eropa. Bakteri ini, yang sebelumnya dianggap memiliki risiko rendah bagi manusia, ternyata mampu menyebabkan penyakit debilitatif kronis dengan gambaran klinis yang khas seperti demam bergelombang, splenomegali, dan limfadenopati. Absennya sistem surveilans sistematis dan minimnya kerangka hukum yang mengatur penanganan B. canis menjadikan ancaman ini semakin sulit dikendalikan.

Di Indonesia, situasi brucellosis pada ternak telah lama terdokumentasi. Sebuah meta-analisis yang diterbitkan pada 2024 oleh peneliti dari Universitas Gadjah Mada mengkaji 46 studi yang mencakup 47.057 sampel dari berbagai wilayah Indonesia dan menemukan bahwa prevalensi gabungan (pooled prevalence) brucellosis pada ternak adalah 3,25% (95% CI: 1,81%–5,78%). Studi ini menemukan perbedaan signifikan antar provinsi di Pulau Jawa, dengan catatan bahwa sebagian besar penelitian hanya terpusat di Jawa dan Sulawesi, sehingga gambaran nasional yang komprehensif masih belum tersedia.

Adapun data brucellosis pada manusia di Indonesia hampir tidak ada dalam literatur ilmiah yang terpublikasi. Sebuah surveilans di Kabupaten Bone dan Enrekang, Sulawesi Selatan, pada tahun 2022 menemukan satu kasus positif brucellosis pada petugas kesehatan hewan melalui konfirmasi Polymerase Chain Reaction (PCR). Ketiadaan data epidemiologi manusia bukan berarti brucellosis tidak ada, melainkan mencerminkan lemahnya sistem surveilans, minimnya kesadaran tenaga kesehatan, dan tidak tersedianya fasilitas diagnostik yang memadai.


Bagaimana Brucellosis Menular?

Penularan brucellosis ke manusia terjadi melalui beberapa jalur utama yang perlu dipahami, terutama oleh kelompok masyarakat yang berinteraksi langsung dengan hewan ternak atau produk olahannya.

Ilustrasi (tidak akurat)

Konsumsi produk susu yang tidak dipasteurisasi merupakan jalur penularan yang paling umum di kalangan masyarakat umum. Susu segar, keju tradisional, dan produk olahan susu mentah dari hewan yang terinfeksi mengandung bakteri Brucella dalam jumlah yang cukup untuk menimbulkan infeksi. Pasteurisasi yang benar (minimal 72°C selama 15 detik) membunuh bakteri ini secara efektif.

Kontak langsung dengan hewan terinfeksi atau produk biologisnya merupakan jalur penularan utama pada kelompok berisiko tinggi. Plasenta, cairan ketuban, cairan vagina, dan darah hewan yang sedang mengalami keguguran mengandung konsentrasi bakteri yang sangat tinggi. Bakteri dapat masuk melalui kulit yang lecet, selaput lendir, atau konjungtiva mata.

Inhalasi aerosol yang terkontaminasi dapat terjadi di kandang ternak, rumah pemotongan hewan, atau laboratorium. Jalur ini menjadikan brucellosis sebagai salah satu patogen yang berpotensi digunakan sebagai agen bioterorisme, meskipun penularan dari manusia ke manusia sangat jarang terjadi.

Kelompok yang paling rentan terinfeksi meliputi peternak, dokter hewan, petugas rumah pemotongan hewan, pegawai laboratorium yang menangani sampel Brucella, dan wisatawan yang berkunjung ke daerah endemis kemudian mengonsumsi produk susu lokal yang tidak diproses dengan benar.


Bagaimana Brucella Bekerja dalam Tubuh?

Patogenesis brucellosis melibatkan interaksi yang rumit antara bakteri dan sistem imun tubuh manusia. Setelah memasuki tubuh melalui jalur manapun, bakteri Brucella tidak langsung dimatikan oleh sel-sel pertahanan tubuh. Sebaliknya, bakteri ini telah mengembangkan mekanisme canggih untuk bertahan hidup di dalam makrofag, sel yang seharusnya menjadi “pembunuh” utama patogen.

Brucella menghindari destruksi intraseluler dengan memanipulasi proses fusi fagosom-lisosom, mencegah terbentuknya lingkungan asam yang mematikan. Bakteri kemudian membentuk kompartemen khusus yang disebut Brucella-containing vacuole (BCV), tempat mereka berkembang biak dengan relatif aman dari mekanisme pertahanan seluler.

Setelah berhasil menghindari respons imun awal, bakteri menyebar melalui aliran darah ke berbagai organ, terutama sistem retikuloendotelial yang mencakup hati, limpa, sumsum tulang, dan kelenjar getah bening. Inflamasi granulomatosa yang terbentuk di organ-organ ini mendasari banyak manifestasi klinis brucellosis. Kemampuan bakteri untuk bertahan dalam bentuk laten di jaringan menjadi alasan mengapa brucellosis sering berkembang menjadi penyakit kronis dan rentan kambuh bahkan setelah terapi antibiotik.


Gambaran Klinis: Penyakit dengan Seribu Wajah

Brucellosis dikenal sebagai the great mimicker, penyakit yang meniru penampilan banyak penyakit lain, sehingga diagnosis sering terlambat atau keliru. Masa inkubasi bervariasi antara satu hingga delapan minggu, meskipun dapat memanjang hingga beberapa bulan.

Fase Akut

Pada fase akut, gejala yang muncul bersifat tidak spesifik dan menyerupai penyakit flu biasa atau tifoid. Demam merupakan gejala paling umum, dengan pola khas bergelombang (undulant fever) yang meningkat di sore dan malam hari kemudian mereda pada pagi hari. Keringat malam yang profus dan berbau khas seperti jerami basah merupakan tanda yang cukup sugestif. Gejala lain meliputi kelelahan hebat, nyeri otot (myalgia), nyeri sendi (arthralgia), sakit kepala, penurunan nafsu makan, dan penurunan berat badan. Pembesaran hati, limpa, dan kelenjar getah bening dapat ditemukan pada pemeriksaan fisik.

Komplikasi Organ

Brucellosis dapat mengenai hampir semua sistem organ, menjadikannya penyakit dengan manifestasi yang sangat beragam. Komplikasi ini menjadi salah satu fokus kajian ilmiah terkini.

Komplikasi muskuloskeletal adalah yang paling sering ditemukan, dengan prevalensi berkisar antara 2% hingga 77% pada penderita brucellosis. Manifestasinya mencakup spondilitis (spondylitis, infeksi tulang belakang), sakroilitis (sacroilitis, infeksi sendi sakroiliaka), dan artritis perifer. Nyeri punggung bawah yang menetap pada penderita dengan riwayat paparan ternak harus selalu memunculkan kecurigaan terhadap brucellosis.

Keterlibatan hepatosplenik terjadi pada sekitar 50% penderita, berupa pembesaran hati dan limpa yang sering disertai peningkatan enzim hati. Gangguan gastrointestinal seperti nyeri perut, mual, dan muntah juga umum ditemukan.

Komplikasi genitourinaria, terutama epididimo-orkitis (epididymo-orchitis, infeksi epididimis dan testis), terjadi pada sekitar 2–20% penderita laki-laki dan merupakan penyebab penting nyeri skrotum akut yang harus masuk dalam diagnosis banding.

Keterlibatan sistem saraf, yang dikenal sebagai neurobrucellosis, terjadi pada 0,5–25% kasus dan dapat bermanifestasi sebagai meningitis, meningoensefalitis, neuritis kranial, mielopati, atau gangguan psikiatri. Neurobrucellosis merupakan salah satu bentuk paling berat dan menantang secara diagnostik maupun terapeutik.

Komplikasi kardiovaskular, khususnya endokarditis (endocarditis, infeksi katup jantung), meskipun jarang (kurang dari 2% kasus), bertanggung jawab atas lebih dari 80% kematian akibat brucellosis. Ini menjadikannya komplikasi yang paling mematikan dari penyakit ini.


Diagnosis: Antara Tantangan Klinis dan Keterbatasan Laboratorium

Menegakkan diagnosis brucellosis merupakan tantangan tersendiri, terutama di daerah dengan prevalensi rendah dan kesadaran klinis yang minim. Tidak adanya gejala patognomonik (gejala yang khas hanya untuk satu penyakit) menjadikan anamnesis riwayat paparan sebagai langkah diagnostik yang krusial.

Kultur Darah

Isolasi Brucella dari biakan darah, sumsum tulang, atau cairan serebrospinal merupakan baku emas (gold standard) diagnosis, namun memerlukan waktu inkubasi yang lama (hingga empat minggu) dan berisiko tinggi bagi tenaga laboratorium. Sensitivitas kultur darah berkisar antara 40–70%, sehingga hasil negatif tidak menyingkirkan diagnosis.

Pemeriksaan Serologis

Uji serologis merupakan andalan diagnostik brucellosis dalam praktik klinis sehari-hari. Serum Agglutination Test (SAT) atau uji Wrigh adalah yang paling sering digunakan, dengan titer ≥1:160 dianggap signifikan secara klinis di daerah endemis. Rose Bengal Test (RBT) bersifat cepat dan murah, berguna sebagai uji skrining awal. Enzyme-Linked Immunosorbent Assay (ELISA) menawarkan sensitivitas dan spesifisitas yang lebih tinggi untuk konfirmasi diagnosis.

Interpretasi serologis memerlukan kehati-hatian karena titer antibodi dapat menetap tinggi dalam jangka lama meskipun infeksi telah sembuh, dan dapat memberikan hasil positif palsu pada infeksi bakteri lain yang memiliki antigen silang.

Pemeriksaan Molekuler

Metode berbasis Polymerase Chain Reaction (PCR) menawarkan sensitivitas dan spesifisitas tinggi serta hasil yang cepat, namun belum tersedia secara luas di fasilitas kesehatan di negara berkembang termasuk Indonesia. PCR sangat berguna untuk kasus dengan hasil serologis meragukan atau untuk memantau respons terapi.


Tata Laksana: Kombinasi Antibiotik Adalah Kunci

Pengobatan brucellosis memerlukan kombinasi dua atau lebih antibiotik untuk durasi yang cukup lama, karena monoterapi dan terapi yang terlalu singkat berkaitan tinggi dengan angka kekambuhan. Monoterapi juga mendorong perkembangan resistansi antibiotik.

Regimen yang direkomendasikan WHO dan diterima secara internasional adalah doksisiklin (doxycycline) 100 mg dua kali sehari selama enam minggu, dikombinasikan dengan rifampisin (rifampicin) 600–900 mg per hari selama enam minggu (regimen oral), atau dengan streptomisin (streptomycin) intramuskular 1 gram per hari selama 2–3 minggu pertama (regimen klasik). Kombinasi doksisiklin dan streptomisin umumnya dianggap lebih superior dalam mencegah kekambuhan dibandingkan kombinasi doksisiklin dan rifampisin.

Pada komplikasi seperti neurobrucellosis atau endokarditis, regimen terapi lebih kompleks dan durasi pengobatan lebih panjang, sering kali memerlukan tiga jenis antibiotik dan terapi selama beberapa bulan.

Salah satu tantangan besar dalam pengelolaan brucellosis adalah kemampuan Brucella untuk bertahan hidup secara intraseluler di dalam makrofag, sehingga antibiotik harus memiliki kemampuan penetrasi intraseluler yang baik. Ini menjelaskan mengapa doksisiklin dan rifampisin dipilih sebagai tulang punggung terapi. Munculnya laporan tentang strain Brucella yang mulai menunjukkan resistansi antibiotik menjadi kekhawatiran yang semakin nyata dan perlu diperhatikan dalam tata laksana ke depan.


Pencegahan: Dari Dapur hingga Kandang

Pencegahan brucellosis pada manusia tidak dapat dipisahkan dari pengendalian penyakit pada hewan. Pendekatan One Health yang mengintegrasikan kesehatan manusia, hewan, dan lingkungan merupakan strategi yang paling komprehensif dan rasional untuk menghadapi penyakit zoonosis seperti brucellosis.

Pada tingkat individu dan rumah tangga, langkah paling sederhana namun efektif adalah memastikan semua produk susu dan olahannya telah melalui proses pasteurisasi sebelum dikonsumsi. Hindari konsumsi susu segar mentah, keju tradisional dari susu mentah, atau produk sejenis. Bagi yang berinteraksi dengan hewan ternak, penggunaan alat pelindung diri (APD) yang memadai seperti sarung tangan, masker, dan pelindung mata saat menangani hewan yang melahirkan atau keguguran adalah sangat penting.

Pada tingkat peternakan, program vaksinasi hewan ternak merupakan pilar utama pencegahan. Vaksin B. abortus S19 dan RB51 untuk sapi serta vaksin B. melitensis Rev 1 untuk kambing dan domba telah terbukti efektif menurunkan prevalensi penyakit pada populasi ternak. Di Indonesia, program vaksinasi ternak dan upaya eradikasi brucellosis telah dimulai sejak pertengahan 1990-an, namun implementasinya masih belum merata dan prevalensi di beberapa wilayah masih tetap tinggi.

Pada tingkat sistem kesehatan, peningkatan kapasitas diagnostik, pelatihan tenaga kesehatan untuk mengenali brucellosis sebagai diagnosis banding, dan pembangunan sistem surveilans yang terintegrasi antara sektor kesehatan manusia dan kesehatan hewan adalah kebutuhan yang mendesak, terutama di Indonesia.


Relevansi bagi Indonesia: Potensi Risiko yang Belum Sepenuhnya Dipetakan

Indonesia sebagai negara agraris dengan populasi ternak yang besar memiliki profil risiko brucellosis yang tidak bisa diabaikan. Budaya konsumsi produk susu segar yang belum dipasteurisasi, termasuk susu kambing dan susu sapi murni, masih cukup umum di berbagai daerah. Interaksi erat antara masyarakat pedesaan dengan hewan ternak mereka, tanpa pelindung diri yang memadai, menciptakan kondisi ideal untuk penularan zoonosis.

Selain itu, pergerakan ternak antar daerah yang intensif, terutama menjelang hari raya Iduladha, berpotensi memperluas penyebaran brucellosis ke wilayah-wilayah yang sebelumnya bebas penyakit. Dokter hewan, petugas kesehatan hewan, dan pekerja rumah pemotongan hewan merupakan kelompok yang secara khusus harus mendapatkan perhatian dalam program surveilans dan pencegahan.

Ketiadaan data epidemiologi brucellosis pada manusia di Indonesia bukan berarti penyakit ini tidak ada. Brucellosis kemungkinan besar tersamarkan di bawah label “demam tidak diketahui asalnya” atau didiagnosis sebagai tifoid, malaria, atau penyakit rematik pada pasien-pasien yang sebenarnya menderita brucellosis. Peningkatan kewaspadaan klinis, didukung oleh ketersediaan pemeriksaan serologis di fasilitas kesehatan tingkat kabupaten, merupakan langkah awal yang sangat diperlukan.


Penutup

Brucellosis adalah contoh nyata dari penyakit yang berhasil bersembunyi di balik ketidaktahuan dan keterbatasan sistem kesehatan. Di satu sisi, penyakit ini telah berhasil dieradikasi di banyak negara maju melalui kombinasi program vaksinasi ternak, pasteurisasi wajib produk susu, dan surveilans yang ketat. Di sisi lain, di negara-negara berkembang termasuk Indonesia, penyakit ini terus hidup dalam kegelapan data yang kosong.

Pendekatan One Health yang holistik, mengakui bahwa kesehatan manusia tidak terpisah dari kesehatan hewan dan ekosistem tempat keduanya hidup, adalah satu-satunya cara efektif untuk mengatasi tantangan brucellosis. Ini bukan hanya tanggung jawab sektor kesehatan atau peternakan semata, melainkan agenda bersama yang memerlukan kolaborasi lintas sektoral, mulai dari peternak di pedesaan hingga pembuat kebijakan di tingkat nasional.

Memahami brucellosis bukan hanya penting bagi para profesional kesehatan, tetapi juga bagi setiap warga masyarakat yang mengonsumsi produk ternak atau berinteraksi dengan hewan. Dengan pengetahuan yang benar, pencegahan menjadi mungkin, dan dengan pencegahan yang efektif, beban penyakit ini dapat diturunkan secara bermakna.


Daftar Referensi

Ghssein, G., Ezzeddine, Z., Tokajian, S., Khoury, C. A., Kobeissy, H., Ibrahim, J.-N., Iskandar, C., & Hassan, H. F. (2025). Brucellosis: Bacteriology, pathogenesis, epidemiology and role of the metallophores in virulence: A review. Frontiers in Cellular and Infection Microbiology, 15, 1621230. https://doi.org/10.3389/fcimb.2025.1621230

Jin, M., Fan, Z., Gao, R., Li, X., Gao, Z., & Wang, Z. (2023). Research progress on complications of brucellosis. Frontiers in Cellular and Infection Microbiology, 13, 1136674. https://doi.org/10.3389/fcimb.2023.1136674

Khairullah, A. R., Kurniawan, S. C., Puspitasari, Y., Aryaloka, S., Silaen, O. S. M., Yanestria, S. M., Widodo, A., Moses, I. B., Effendi, M. H., Afnani, D. A., Ramandinianto, S. C., Hasib, A., & Riwu, K. H. P. (2024). Brucellosis: Unveiling the complexities of a pervasive zoonotic disease and its global impacts. Open Veterinary Journal, 14(5), 1081–1097. https://doi.org/10.5455/OVJ.2024.v14.i5.1

Musumeci, S., Kruse, A., Chappuis, F., Ostergaard Jensen, T., & Alcoba, G. (2024). Neglected etiologies of prolonged febrile illnesses in tropical and subtropical regions: A systematic review. PLOS Neglected Tropical Diseases, 18(6), e0011978. https://doi.org/10.1371/journal.pntd.0011978

Pinn-Woodcock, T., Frye, E., Guarino, C., Franklin-Guild, R., Newman, A. P., Bennett, J., & Goodrich, E. L. (2023). A one-health review on brucellosis in the United States. Journal of the American Veterinary Medical Association, 261(4), 451–462. https://doi.org/10.2460/javma.23.01.0033

Qureshi, K. A., Parvez, A., Fahmy, N. A., Abdel Hady, B. H., Kumar, S., Ganguly, A., Atiya, A., Elhassan, G. O., Alfadly, S. O., Parkkila, S., & Aspatwar, A. (2024). Brucellosis: Epidemiology, pathogenesis, diagnosis and treatment—A comprehensive review. Annals of Medicine, 55(2), 2295398. https://doi.org/10.1080/07853890.2023.2295398

Ridlo, M. R., Andityas, M., Primatika, R. A., Widantara, H., Loong, S. K., & Nuraini, D. M. (2024). A meta-analysis of livestock brucellosis prevalence in Indonesia. Veterinary Quarterly, 44(1), 1–14. https://doi.org/10.1080/01652176.2024.2390945

Soares, C. N., da Silva, M. T. T., & Lima, M. A. (2023). Neurobrucellosis. Current Opinion in Infectious Diseases, 36(3), 192–197. https://doi.org/10.1097/QCO.0000000000000920

Wu, Z.-G., Song, Z.-Y., Wang, W.-X., Xi, W.-N., Jin, D., Ai, M.-X., Wu, Y.-C., Lan, Y., Song, S.-F., Zhang, G.-C., Yao, X.-B., Gao, Z., Liu, C.-Y., Sun, K., Yu, D.-S., & Sun, S.-L. (2022). Human brucellosis and fever of unknown origin. BMC Infectious Diseases, 22(1), 868. https://doi.org/10.1186/s12879-022-07872-8

Commenting 101: “Be kind, and respect each other” // Bersikaplah baik, dan saling menghormati (Indonesian) // Soyez gentils et respectez-vous les uns les autres (French) // Sean amables y respétense mutuamente (Spanish) // 待人友善,互相尊重 (Chinese) // كونوا لطفاء واحترموا بعضكم البعض (Arabic) // Будьте добры и уважайте друг друга (Russian) // Seid freundlich und respektiert einander (German) // 親切にし、お互いを尊重し合いましょう (Japanese) // दयालु बनें, और एक दूसरे का सम्मान करें (Hindi) // Siate gentili e rispettatevi a vicenda (Italian)

Tinggalkan komentar