Infeksi sebagai Inti Sepsis: Mengapa Tatakelola Tepat Sangat Menentukan
Sepsis tidak akan ada tanpa infeksi. Namun tidak semua infeksi berujung pada sepsis, dan tidak semua pasien dengan tanda-tanda disfungsi organ tentu terinfeksi. Dikotomi inilah yang membuat tatakelola infeksi dalam sepsis menjadi salah satu domain paling kompleks dan paling kaya nuansa dalam seluruh pedoman Surviving Sepsis Campaign (SSC) 2026.
Pedoman SSC 2026 secara eksplisit menegaskan bahwa penggunaan antimikroba yang bertanggung jawab, strategi diagnostik yang tepat, dan de-escalation terapi antimikroba merupakan prinsip-prinsip yang diintegrasikan ke dalam seluruh struktur rekomendasi. Pernyataan ini bukan sekadar basa-basi: ia mencerminkan keseimbangan yang harus dijaga antara penanganan sepsis yang agresif dan penggunaan antibiotik yang bijak di tengah ancaman resistensi antimikroba yang semakin nyata.
Bagian tatakelola infeksi dalam SSC 2026 dewasa mencakup 25 pernyataan — menjadikannya domain terbesar kedua setelah manajemen hemodinamik. Seluruh rekomendasinya dapat dipetakan dalam tujuh pilar utama yang akan dibahas secara terstruktur berikut ini.
Pilar 1: Budaya Mikrobiologi Sebelum Antibiotik — Prinsip yang Tak Berubah
Untuk orang dewasa dengan sepsis atau syok septik yang mungkin, probable, atau definitif, SSC 2026 merekomendasikan pengumpulan biakan darah (blood culture) sesegera mungkin, idealnya sebelum pemberian terapi antimikroba (rekomendasi kuat, kualitas bukti rendah).
Rekomendasi ini tampak sederhana, tetapi mengandung implikasi yang mendalam. Biakan darah positif adalah satu-satunya cara untuk mengidentifikasi patogen penyebab secara definitif, yang pada gilirannya memungkinkan de-eskalasi antibiotik berbasis bukti, bukan hanya berdasarkan perkembangan klinis semata. Di Indonesia, di mana resistensi antimikroba sudah menjadi persoalan serius dengan dominasi bakteri Gram-negatif penghasil extended-spectrum beta-lactamase (ESBL) dan carbapenem-resistant organisms (CRO) khususnya Acinetobacter baumannii dan Klebsiella pneumoniae, data biakan adalah investasi yang menentukan arah terapi jangka panjang.
Praktis, biakan darah harus diambil dari dua lokasi berbeda (dua set, masing-masing satu botol aerob dan satu botol anaerob) sebelum antibiotik diberikan — tetapi SSC menegaskan bahwa pengambilan biakan tidak boleh menunda pemberian antibiotik secara signifikan, terutama pada syok septik.
Untuk penggunaan diagnostik canggih lainnya, sepsis adalah diagnosis klinis dan tidak boleh ditetapkan atau disingkirkan berdasarkan satu biomarker atau tes diagnostik tunggal saja — ini adalah pernyataan good practice yang mengingatkan klinisi agar tidak terlalu bergantung pada satu nilai laboratorium dalam mengambil keputusan terapi.
Terkait uji diagnostik patogen berbasis respons host yang baru (misalnya host-response transcriptomics, proteomics), SSC menyatakan tidak cukup bukti untuk membuat rekomendasi mengenai penggunaan diagnostik baru berbasis respons host yang cepat. Ini menutup ruang spekulasi tentang teknologi diagnostik mutakhir yang belum terbukti dalam konteks klinis sepsis secara luas.
Pilar 2: Waktu Pemberian Antibiotik — Kerangka Probabilistik yang Lebih Bernuansa
Jika ada satu aspek tatakelola infeksi dalam SSC 2026 yang paling berbeda dari versi sebelumnya, itulah kerangka waktu pemberian antibiotik. SSC 2021 sudah memperkenalkan stratifikasi berdasarkan syok, tetapi SSC 2026 menyempurnakannya lebih jauh dengan memasukkan derajat kepastian diagnosis sepsis.
Kerangka ini dapat diringkas sebagai berikut:
Kategori 1 — Syok septik (possible/probable/definite): Berikan terapi antimikroba segera, idealnya dalam 1 jam sejak dikenali (rekomendasi kuat). Ini adalah situasi kegawatan tertinggi — tidak ada ruang untuk menunggu.
Kategori 2 — Sepsis probable atau definite tanpa syok: Berikan terapi antimikroba segera, idealnya dalam 1 jam sejak dikenali (rekomendasi kuat). Ketika sepsis sudah hampir pasti atau pasti ada, kecepatan tetap menjadi prioritas.
Kategori 3 — Sepsis possible tanpa syok: Lakukan investigasi cepat yang dibatasi waktu; jika kekhawatiran terhadap infeksi tetap ada, berikan antimikroba dalam 3 jam sejak sepsis pertama kali dicurigai (rekomendasi kondisional). Klinisi harus melakukan penilaian cepat terhadap kemungkinan penyebab infeksi versus non-infeksi dari penyakit akut.
Kategori 4 — Kemungkinan infeksi rendah, tanpa syok: Tunda terapi antimikroba sambil terus memantau pasien secara ketat (rekomendasi kondisional).
Kerangka empat kategori ini merupakan lompatan konseptual yang signifikan. Ia mengakui bahwa memaksakan antibiotik dalam satu jam kepada semua pasien dengan possible sepsis tanpa syok justru berpotensi merugikan — memperburuk resistensi, meningkatkan risiko infeksi Clostridioides difficile, dan mengorbankan akurasi untuk kecepatan yang tidak selalu dibutuhkan.
Antibiotik pra-rumah sakit: Untuk pertama kalinya dalam sejarah SSC, pedoman ini secara eksplisit membahas konteks pra-rumah sakit. Untuk orang dewasa dengan sepsis atau syok septik yang definitif atau probable dengan perkiraan waktu menuju evaluasi medis di rumah sakit lebih dari 60 menit, SSC menyarankan pemberian antimikroba di ambulans atau pesawat evakuasi medis (rekomendasi kondisional). Pemberian antibiotik pra-rumah sakit hanya boleh dilakukan setelah ada proses terstruktur untuk skrining sepsis di ambulans.
Pilar 3: Pemilihan Regimen Empiris — Prinsip Cakupan Luas yang Terukur
Setelah keputusan untuk memberikan antibiotik dibuat, pertanyaan berikutnya adalah: antibiotik apa? SSC 2026 tidak merekomendasikan regimen spesifik (hal yang memang tidak mungkin dilakukan secara universal mengingat variasi pola resistensi lokal), tetapi memberikan sejumlah prinsip pemilihan yang penting.
Cakupan spektrum luas: Prinsip dasar ini tetap berlaku — terapi empiris harus mencakup semua patogen yang paling mungkin. Pemilihan harus mempertimbangkan lokasi infeksi yang dicurigai, faktor risiko pasien, pola resistensi lokal, dan apakah infeksi didapat dari komunitas atau rumah sakit.
Patogen Gram-negatif multidrug resistant (MDR): Untuk orang dewasa dengan sepsis atau syok septik yang berisiko tinggi terinfeksi patogen MDR spesifik, SSC menyarankan penggunaan terapi antimikroba empiris dengan cakupan untuk patogen MDR tersebut (rekomendasi kondisional). Faktor risiko MDR meliputi: kolonisasi sebelumnya dengan patogen MDR yang dicurigai, riwayat infeksi sebelumnya dengan patogen MDR tersebut, penggunaan antibiotik spektrum luas yang berkepanjangan, dan rawatan berkepanjangan di unit dengan prevalensi tinggi patogen MDR. Sebaliknya, untuk pasien dengan risiko rendah MDR, SSC menyarankan agar tidak menggunakan cakupan MDR dalam regimen empiris.
Pendekatan ini sangat relevan di Indonesia, di mana data dari beberapa rumah sakit besar menunjukkan dominasi bakteri Gram-negatif resisten seperti Klebsiella pneumoniae, Acinetobacter baumannii, dan Pseudomonas aeruginosa sebagai penyebab utama infeksi terkait fasilitas kesehatan.
Terapi rapid diagnostic test (RDT) berbasis patogen: Untuk orang dewasa dengan sepsis atau syok septik, SSC menyarankan penggunaan uji diagnostik cepat berbasis patogen secara kasus per kasus pada pasien tertentu berdasarkan gambaran klinis, pola patogen dan resistensi lokal, musiman, dan ketersediaan uji serta panduan stewardship antimikroba (rekomendasi kondisional).
Cakupan anaerob: SSC 2026 menghadirkan nuansa baru yang belum ada sebelumnya dalam hal cakupan anaerob. Untuk orang dewasa dengan sepsis atau syok septik tanpa faktor risiko infeksi anaerob, SSC menyarankan penggunaan regimen antibiotik empiris tanpa cakupan anaerob (rekomendasi kondisional). Namun untuk pasien dengan faktor risiko spesifik infeksi anaerob, regimen yang mencakup aktivitas anaerobik dianjurkan. Faktor risiko infeksi anaerob meliputi: sumber infeksi intra-abdominal atau ginekologis/obstetri dalam, infeksi jaringan lunak nekrotikans, infeksi kepala dan leher, serta abses atau empiema SSP.
Rekomendasi ini penting dari perspektif stewardship: banyak pasien sepsis mendapat karbapenem atau piperasilin-tazobaktam sebagai empiris generik tanpa mempertimbangkan apakah cakupan anaerob benar-benar diperlukan.
Pilar 4: Terapi Antijamur — Lebih Selektif dari Sebelumnya
SSC 2026 mengambil posisi yang lebih jelas dan lebih ketat terhadap terapi antijamur empiris dibandingkan SSC 2021.
Untuk orang dewasa dengan sepsis atau syok septik, SSC menyarankan untuk tidak menggunakan terapi antijamur empiris secara umum (rekomendasi kondisional). Terapi antijamur empiris baru dipertimbangkan secara kasus per kasus pada pasien dengan faktor risiko infeksi jamur, termasuk: imunosupresi, penggunaan antibiotik berkepanjangan, rawatan berkepanjangan di rumah sakit, dan sumber infeksi intra-abdominal.
Lebih lanjut, SSC juga menyarankan untuk tidak menggunakan biomarker jamur Candida (seperti beta-D-glukan atau mannan) untuk memandu inisiasi terapi antijamur empiris (rekomendasi kondisional). Biomarker ini juga tidak dianjurkan untuk memandu penghentian terapi antijamur empiris, dengan pengecualian bahwa pertimbangannya mungkin wajar pada pasien tertentu yang membaik secara klinis dengan risiko tinggi infeksi Candida.
Posisi ini mencerminkan akumulasi bukti yang menunjukkan bahwa biomarker jamur memiliki nilai prediktif yang terbatas dalam memandu keputusan klinis antijamur di luar konteks pasien imunokompromi yang sangat spesifik.
Pilar 5: Cara Pemberian Beta-Laktam — Infus Diperpanjang sebagai Rekomendasi Kuat Baru
Ini adalah salah satu perubahan paling mencolok dalam SSC 2026 dibandingkan versi sebelumnya: rekomendasi tentang cara pemberian antibiotik beta-laktam naik status dari kondisional menjadi kuat.
Untuk orang dewasa dengan sepsis atau syok septik, SSC merekomendasikan penggunaan infus beta-laktam yang diperpanjang (prolonged infusion) untuk terapi pemeliharaan (setelah dosis loading awal) dibandingkan pemberian bolus konvensional (rekomendasi kuat).
Latar belakang farmakodinamiknya penting untuk dipahami. Beta-laktam — termasuk penisilin, sefalosporin, dan karbapenem — bekerja secara time-dependent: efek bakterisidnya bergantung pada seberapa lama kadar obat bebas dalam darah berada di atas minimum inhibitory concentration (MIC) patogen. Pemberian bolus intermiten menghasilkan puncak kadar yang tinggi tetapi cepat turun di bawah MIC; sebaliknya, infus diperpanjang selama 3–4 jam (atau bahkan infus kontinu) mempertahankan kadar di atas MIC untuk waktu yang lebih lama.
Manfaat ini sangat relevan dalam konteks pasien sepsis dengan patogen yang memiliki MIC lebih tinggi (misalnya patogen MDR), atau pada pasien dengan perubahan farmakokinetik akibat sepsis itu sendiri — seperti peningkatan volume distribusi, hipoalbuminemia, dan augmented renal clearance (ARC) yang sering terjadi pada pasien muda dengan sepsis.
Hal penting yang perlu dipahami adalah bahwa dosis loading tetap diberikan secara bolus terlebih dahulu, kemudian dilanjutkan dengan infus diperpanjang. Ini memastikan pencapaian kadar terapeutik yang cepat di awal, sebelum beralih ke strategi pemeliharaan berbasis farmakodinamik.
Pilar 6: Therapeutic Drug Monitoring (TDM) — Personalisasi Terapi Antimikroba
Sebagai pelengkap infus diperpanjang, SSC 2026 juga membahas peran pemantauan kadar obat terapeutik.
Untuk orang dewasa dengan sepsis atau syok septik, SSC menyarankan penggunaan therapeutic drug monitoring (TDM) antimikroba secara kasus per kasus pada pasien tertentu, berdasarkan gambaran klinis, pola patogen dan resistensi lokal, kelas obat, dan ketersediaan TDM (rekomendasi kondisional).
TDM memungkinkan klinisi memastikan bahwa kadar antibiotik dalam darah benar-benar mencapai target farmakodinamik yang diinginkan — tidak terlalu rendah sehingga tidak efektif, dan tidak terlalu tinggi sehingga toksik. Ini sangat relevan untuk aminoglikosida (berisiko nefrotoksisitas dan ototoksisitas), vankomisin, dan bahkan beta-laktam pada pasien dengan fungsi ginjal yang berfluktuasi. Di Indonesia, TDM belum tersedia luas, tetapi rekomendasi ini menjadi dasar advokasi untuk pengembangan layanan tersebut di fasilitas tersier.
Pilar 7: De-eskalasi, Durasi, dan Penghentian — Stewardship sebagai Norma Klinis
Bagian ini adalah tempat di mana SSC 2026 paling kuat mengintegrasikan prinsip antimicrobial stewardship ke dalam tata laksana sepsis. Pandangan lama bahwa antibiotik di sepsis harus “cukup lama untuk aman” digantikan oleh pendekatan yang lebih dinamis dan berbasis bukti.
De-eskalasi berdasarkan biakan: Untuk orang dewasa dengan sepsis atau syok septik, SSC merekomendasikan de-eskalasi terapi antimikroba dibandingkan tanpa de-eskalasi ketika diagnosis mikrobiologis yang terkonfirmasi dan profil kepekaan sudah tersedia (rekomendasi kuat). De-eskalasi mencakup penghentian antimikroba yang tidak lagi diperlukan (dalam terapi kombinasi) atau pergeseran ke agen dengan spektrum lebih sempit.
Ini adalah rekomendasi kuat — sebuah penegasan yang tegas bahwa begitu patogen dan kepekaan diketahui, de-eskalasi adalah standar, bukan pilihan.
De-eskalasi ketika biakan negatif: Bahkan ketika tidak ada patogen yang teridentifikasi dari hasil biakan akhir, SSC menyarankan de-eskalasi terapi antimikroba dibandingkan melanjutkannya tanpa perubahan (rekomendasi kondisional). Klinisi juga harus secara terus-menerus mengevaluasi ulang pasien, mencari diagnosis alternatif, dan menghentikan terapi antimikroba empiris jika ditemukan penyebab non-infeksi dari penyakit atau jika infeksi tidak terkonfirmasi.
Durasi lebih singkat lebih diutamakan: Untuk orang dewasa dengan diagnosis awal sepsis atau syok septik dan source control yang adekuat, SSC menyarankan penggunaan durasi antimikroba yang lebih singkat dibandingkan lebih panjang (rekomendasi kondisional).
Peran prokalsitonin dalam keputusan penghentian: Ini adalah salah satu rekomendasi dengan nuansa yang paling halus. Untuk orang dewasa dengan sepsis atau syok septik dan source control adekuat di mana durasi terapi optimal tidak jelas, SSC menyarankan penggunaan prokalsitonin bersama evaluasi klinis untuk memutuskan kapan menghentikan terapi antimikroba, dibandingkan evaluasi klinis saja (rekomendasi kondisional).
Ini berbeda dengan penggunaan prokalsitonin untuk memulai antibiotik — di mana SSC justru menyarankan menggunakan evaluasi klinis saja tanpa prokalsitonin. Perbedaan ini disengaja dan logis: prokalsitonin lebih berguna sebagai penanda resolusi infeksi (untuk penghentian antibiotik) daripada sebagai penanda inisiasi (di mana evaluasi klinis sudah cukup). Di banyak fasilitas Indonesia yang tidak memiliki akses rutin terhadap prokalsitonin, evaluasi klinis serial yang cermat tetap menjadi standar yang valid.
Pilar 8: Kontrol Sumber (Source Control) — Intervensi Bedah/Prosedural yang Tidak Boleh Ditunda
SSC 2026 menetapkan bahwa orang dewasa dengan sepsis atau syok septik harus segera dievaluasi untuk mencari diagnosis anatomi spesifik atau sumber infeksi yang memerlukan source control emergensi (good practice statement). Untuk pasien dengan diagnosis anatomi atau sumber infeksi yang memerlukan source control, SSC menyarankan source control awal dibandingkan terlambat, idealnya dalam 6 jam sejak diagnosis sepsis atau syok septik yang memerlukan source control (rekomendasi kondisional).
Prinsip ini menggarisbawahi bahwa antibiotik tidak akan pernah cukup efektif jika sumber infeksi fisik — abses, perforasi viskus, devaskularisasi jaringan, benda asing yang terinfeksi, atau fokus tidak terdrainase lainnya — tidak ditangani. Kegagalan untuk melakukan source control yang tepat waktu adalah salah satu penyebab tersering kegagalan terapi sepsis.
Dalam praktik di Indonesia, implikasi ini mencakup: drainase abses atau empiema di IGD, konsultasi bedah yang segera untuk peritonitis atau kolangitis obstruktif, penggantian kateter vaskular yang terinfeksi, debridemen luka nekrotik, dan pencabutan perangkat implan yang menjadi fokus infeksi.
Pilar 9: Selective Decontamination of the Digestive Tract (SDD) — Rekomendasi Kontroversial yang Kini Terwakili
Untuk orang dewasa yang mendapat ventilasi mekanik dengan sepsis atau syok septik di unit dengan prevalensi resistensi antimikroba yang rendah, SSC menyarankan penggunaan selective decontamination of the digestive tract (SDD) (rekomendasi kondisional).
Ini adalah rekomendasi yang menarik karena ekplisit menyebutkan konteks implementasinya: unit dengan prevalensi AMR rendah. SDD — yang melibatkan pemberian antibiotik topikal non-absorbable ke orofaring dan saluran cerna — telah terbukti mengurangi infeksi healthcare-associated di unit-unit ICU Eropa tertentu, tetapi kekhawatiran bahwa ia dapat mendorong resistensi membuat adopsinya sangat terbatas di lingkungan dengan beban AMR tinggi. Di Indonesia, di mana AMR sudah menjadi tantangan serius, rekomendasi ini praktis tidak dapat diterapkan secara luas tanpa risiko memperburuk profil resistensi lokal.
Catatan Penting: Pemantauan Mikrobiologis Rutin di ICU
Terkait penggunaan sampel pengawasan mikrobiologis departemen (misalnya seluruh ICU) dari saluran napas atas untuk memandu terapi antimikroba empiris, SSC menyatakan tidak cukup bukti untuk membuat rekomendasi. Ini merupakan pengakuan jujur bahwa praktik rutin pengawasan mikrobiologis ICU, meskipun secara intuitif masuk akal, belum memiliki bukti kuat untuk dijadikan rekomendasi umum.
Konteks Indonesia: Tantangan Implementasi yang Nyata
Kerangka tatakelola infeksi SSC 2026 sangat relevan tetapi juga menghadapi sejumlah tantangan spesifik di konteks Indonesia:
Kapasitas laboratorium mikrobiologi: Rekomendasi untuk biakan darah sebelum antibiotik, penggunaan RDT berbasis patogen, dan TDM antimikroba membutuhkan kapasitas laboratorium yang tidak selalu tersedia di luar rumah sakit tipe A dan B besar. Di banyak fasilitas tipe C dan D, biakan darah memerlukan waktu 3–5 hari untuk mendapatkan hasil, dan pengujian kepekaan in vitro sering terlambat atau tidak tersedia.
Pola AMR lokal yang kompleks: Tingginya prevalensi ESBL-penghasil Enterobacteriaceae dan CRO di rumah sakit-rumah sakit Indonesia membuat pemilihan regimen empiris yang sesuai rekomendasi SSC semakin menantang. Karbapenem yang dianjurkan untuk cakupan MDR di banyak situasi justru semakin banyak menghadapi resistensi. Di sinilah rekomendasi untuk mendapatkan data biakan dan melakukan de-eskalasi berbasis kepekaan menjadi semakin penting, bukan sekadar stewardship — tetapi juga strategi terapeutik yang lebih efektif.
Prokalsitonin: Ketersediaan pemeriksaan prokalsitonin masih terbatas di banyak fasilitas, meskipun tren adopsinya meningkat seiring dengan tumbuhnya rumah sakit terakreditasi. Dalam kondisi tidak tersedia, evaluasi klinis serial yang ketat — termasuk pemantauan tanda vital, fungsi organ, dan respons terhadap antibiotik — tetap menjadi standar yang valid sesuai prinsip SSC.
Source control dan akses bedah: Keputusan source control dalam 6 jam mengandaikan ketersediaan tim bedah yang siaga. Di fasilitas kecil atau di luar jam kerja, ini menjadi tantangan tersendiri — dan merupakan salah satu alasan mengapa sistem rujukan yang efisien sangat penting.
Ringkasan: Prinsip-Prinsip Kunci Tatakelola Infeksi SSC 2026
Seluruh rekomendasi tatakelola infeksi SSC 2026 dapat dirangkum dalam beberapa prinsip operasional yang saling berkaitan:
Pertama, ambil dulu, beri kemudian: biakan darah sebelum antibiotik, tetapi jangan biarkan pengambilan biakan menunda antibiotik pada syok septik. Kedua, sesuaikan waktu dengan kepastian klinis: syok septik dalam 1 jam, sepsis probable dalam 1 jam, sepsis possible tanpa syok tunggu sampai 3 jam sambil investigasi, kemungkinan infeksi rendah tunda sambil pantau. Ketiga, pilih cakupan berdasarkan risiko, bukan default maksimal: pertimbangkan risiko MDR, kebutuhan cakupan anaerob, dan indikasi antijamur secara individual. Keempat, optimalkan cara pemberian beta-laktam: infus diperpanjang setelah loading adalah standar baru. Kelima, de-eskalasi adalah norma, bukan pengecualian: begitu patogen dan kepekaan diketahui, penyempitan spektrum adalah wajib. Keenam, kontrol sumber dalam 6 jam: antibiotik tidak akan mengatasi fokus infeksi fisik yang tidak terdrainase. Ketujuh, stewardship bukan menghambat terapi — ia adalah terapi yang lebih baik.
Daftar Referensi
Prescott, H. C., Antonelli, M., Alhazzani, W., & colleagues. (2026). Surviving Sepsis Campaign: International guidelines for management of sepsis and septic shock 2026. Intensive Care Medicine. https://doi.org/10.1007/s00134-026-08361-1
Prescott, H. C., Antonelli, M., Alhazzani, W., & colleagues. (2026). Surviving Sepsis Campaign: International guidelines for management of sepsis and septic shock 2026. Critical Care Medicine, advance online publication. https://doi.org/10.1097/CCM.0000000000007075
Evans, L., Rhodes, A., Alhazzani, W., Antonelli, M., Coopersmith, C. M., French, C., … Levy, M. M. (2021). Surviving Sepsis Campaign: International guidelines for management of sepsis and septic shock 2021. Intensive Care Medicine, 47(11), 1181–1247. https://doi.org/10.1007/s00134-021-06506-y
Rhodes, A., Evans, L. E., Alhazzani, W., Levy, M. M., Antonelli, M., Ferrer, R., … Dellinger, R. P. (2017). Surviving Sepsis Campaign: International guidelines for management of sepsis and septic shock 2016. Critical Care Medicine, 45(3), 486–552. https://doi.org/10.1097/CCM.0000000000002255
Roberts, J. A., Abdul-Aziz, M. H., Davis, J. S., Dulhunty, J. M., Cotta, M. O., Myburgh, J., … Lipman, J. (2023). International consensus recommendations for the use of prolonged-infusion beta-lactam antibiotics. Pharmacotherapy, 43(9), 740–777. https://doi.org/10.1002/phar.2767
Singer, M., Deutschman, C. S., Seymour, C. W., Shankar-Hari, M., Annane, D., Bauer, M., … Angus, D. C. (2016). The Third International Consensus Definitions for Sepsis and Septic Shock (Sepsis-3). JAMA, 315(8), 801–810. https://doi.org/10.1001/jama.2016.0287

Tinggalkan komentar