Ketika Mata Kecil Kehilangan Cahaya — Kenali, Tangani, dan Cegah Sebelum Terlambat
Bayangkan seorang ibu membawa anaknya yang baru berusia tiga bulan ke dokter untuk imunisasi rutin. Di balik tirai kesibukan klinik, dokter menyorotkan cahaya kecil ke mata sang bayi untuk pemeriksaan rutin, dan menemukan sesuatu yang seharusnya tidak ada: titik putih di tengah pupil yang gelap. Tidak ada keluhan sebelumnya. Tidak ada gejala yang mencolok. Namun dalam hitungan bulan ke depan, jika tak segera ditangani, mata kecil itu bisa kehilangan kemampuan melihat untuk selamanya.
Inilah kenyataan katarak pada anak — kondisi yang kerap luput dari perhatian, namun menyimpan konsekuensi besar yang bisa memengaruhi tumbuh kembang anak secara menyeluruh.
Apa Itu Katarak pada Anak?
Katarak adalah kekeruhan pada lensa mata, struktur bening berbentuk seperti kacang yang bertugas memfokuskan cahaya ke retina. Pada orang dewasa, kondisi ini umumnya dikaitkan dengan penuaan. Namun pada anak-anak, katarak memiliki karakter yang jauh berbeda — baik dari sisi penyebab, waktu kemunculan, maupun dampaknya terhadap perkembangan penglihatan.
Katarak merupakan penyebab utama kebutaan pada anak-anak di negara-negara berkembang. Terminologi yang digunakan para klinisi membedakan berdasarkan usia kemunculannya: katarak yang ditemukan dalam dua bulan pertama kehidupan disebut congenital cataract (katarak kongenital), sementara kekeruhan yang muncul pada bayi dan anak usia dini disebut developmental cataract (katarak perkembangan). Katarak kongenital menyebabkan defek lapang pandang yang ireversibel akibat deprivasi visual selama periode sensitif perkembangan penglihatan.

Lebih lanjut, berdasarkan waktu kemunculannya dalam konteks yang lebih luas, para ahli membedakannya menjadi: katarak neonatal atau kongenital (terjadi pada tahun pertama kehidupan), dan katarak juvenile (terjadi dalam dekade pertama kehidupan).
Seberapa Umum Kondisi Ini?
Katarak pada anak tergolong kondisi yang jarang dibandingkan katarak pada usia lanjut, namun dampaknya justru jauh lebih berat karena menyerang pada masa paling kritis dalam pembentukan sistem penglihatan.
Secara global, diperkirakan terdapat sekitar 1,4 juta anak di dunia yang mengalami kebutaan, dan sekitar 5–20% di antaranya disebabkan oleh katarak pada anak. Setiap tahunnya, diperkirakan 20.000 hingga 40.000 anak baru lahir dengan katarak kongenital.
Berdasarkan data dari PubMed, sebuah systematic review dan meta-analysis yang komprehensif melaporkan bahwa prevalensi terkumpul katarak pada anak-anak di Asia adalah 3,78 per 10.000 individu, dengan heterogenitas yang tinggi antarnegara. Prevalensi terkumpul per negara menunjukkan angka 0,60 per 10.000 di Indonesia — yang merupakan salah satu yang terendah di kawasan Asia dalam data yang tersedia.
Angka Indonesia yang relatif rendah ini patut dicermati dengan hati-hati. Data terakhir mengenai prevalensi gangguan penglihatan di Indonesia diperoleh melalui survei Rapid Assessment of Avoidable Blindness (RAAB) yang dilakukan di 15 provinsi pada tahun 2014 hingga 2016, yang menunjukkan bahwa 70–80% kasus gangguan penglihatan berat dan kebutaan disebabkan oleh katarak. Angka rendah pada populasi anak kemungkinan mencerminkan keterbatasan data dan sistem skrining yang belum merata, bukan absennya masalah.
Prevalensi katarak di Indonesia adalah salah satu yang tertinggi di Asia Tenggara dan bahkan masuk dalam tiga besar di dunia untuk populasi dewasa. Mengingat kondisi ini, sangat masuk akal untuk menduga bahwa kasus katarak pada anak juga masih banyak yang tidak terdeteksi.
Mengapa Lensa Mata Anak Bisa Menjadi Keruh?
Penyebab katarak pada anak sangat beragam dan sering kali melibatkan interaksi antara faktor genetik, infeksi prenatal, gangguan metabolisme, dan kondisi sistemik lainnya. Memahami penyebabnya bukan sekadar penting secara ilmiah — tetapi juga menentukan bagaimana penanganan komprehensif harus dilakukan.
Faktor Genetik dan Herediter
Komponen genetik memegang peranan yang sangat besar. Sekitar setengah dari kasus katarak kongenital memiliki etiologi genetik. Meskipun pola pewarisan katarak kongenital umumnya adalah autosomal dominan, dalam kasus-kasus langka dapat pula bersifat autosomal resesif atau terkait kromosom X.
Pada tingkat molekuler, crystallin — protein yang menyusun lebih dari 90% protein lensa — memiliki peran paling mendasar dalam struktur lensa. Crystallin terbagi menjadi kelompok α, β, dan γ, dan merupakan protein larut air yang esensial untuk menjaga stabilitas dan transparansi lensa berkat efek antiapoptosis, antidegradasi, dan antioksidannya. Mutasi pada gen crystallin berkaitan dengan sekitar 50% dari kasus katarak autosomal dominan.
Fenotipe variasi katarak dapat dihasilkan dari mutasi gen CRYAA, CRYAB, CRYBB1, CRYBB2, CRBB3, CRYGC, dan CRYGD; gen alpha, beta, dan gamma bertanggung jawab untuk menjaga transparansi lensa. Selain itu, mutasi pada gen connexin — yang membentuk bagian penting dari gap junction lensa — juga berkontribusi, dengan sekitar 25% mutasi yang berkaitan dengan katarak kongenital ditemukan pada gen connexin.
Dari sisi klinis, dalam sebuah studi di Nigeria yang meneliti anak-anak dengan katarak familial, pola pewarisan autosomal dominan tampak sebagai modus yang paling umum. Dalam 16 dari 17 peta silsilah (pedigree chart) yang diperoleh, setidaknya satu individu terpengaruh di setiap generasi. Hal serupa juga ditemukan pada studi di Denmark, di mana penyakit genetik merupakan penyebab yang sering pada katarak bilateral masa kanak-kanak, dengan komorbiditas sistemik yang sangat umum ditemukan. Evaluasi genetik, khususnya analisis terarah, memberikan diagnosis genetik molekuler pada proporsi besar pasien yang diperiksa, termasuk pada sejumlah pasien di mana temuan genetik tersebut memiliki konsekuensi terapeutik langsung.
Infeksi Prenatal: Kelompok TORCH
Infeksi yang terjadi selama kehamilan merupakan penyebab penting katarak kongenital, terutama di negara-negara berkembang. Infeksi toxoplasmosis, rubela, sitomegalovirus, herpes, dan sifilis kongenital semuanya dikaitkan dengan katarak kongenital. Insiden katarak kongenital paling sering dikaitkan dengan infeksi rubela. Manifestasi okular lainnya meliputi retinopati pigmentosa, mikroftalmos, glaukoma, distrofi iris, atau korioretinitis.
Rubela merupakan yang paling terkenal. Virus ini mampu merusak lensa yang sedang berkembang pada trimester pertama kehamilan, masa ketika struktur okular paling rentan. Inilah salah satu alasan mengapa imunisasi MMR (measles, mumps, rubella) memiliki dampak langsung terhadap pencegahan katarak kongenital.
Gangguan Metabolisme
Beberapa kelainan metabolisme herediter dapat menyebabkan kekeruhan lensa. Galaktosemia adalah contoh paling klasik. Peningkatan kadar galaktosa dalam serum akibat mutasi enzim galactokinase (GALK1), galactose-1-phosphate uridyltransferase, atau uridine diphosphate 1-4-epimerase menyebabkan kerusakan osmotik pada lensa yang menghasilkan “katarak oil droplet“. Menariknya, kondisi ini dapat mengalami regresi parsial jika galaktosa dihilangkan dari diet secara dini.
Kondisi Sindromik
Katarak pada anak juga dapat merupakan bagian dari sindrom genetik yang lebih luas:
Sindrom Down (Trisomi 21): Katarak merupakan presentasi umum pada anak dengan sindrom Down, dengan insiden 6–50%. Kelainan okular lainnya meliputi strabismus, nistagmus, dan kelainan kelopak mata.
Sindrom Lowe: Merupakan kelainan multisistem terkait kromosom X yang ditandai dengan trias katarak kongenital, disabilitas intelektual, dan disfungsi tubulus ginjal proksimal.
Artritis Juvenil: Anak-anak dengan artritis juvenil kronis yang disertai keterlibatan antibodi antinuklear berisiko mengembangkan katarak sekunder akibat uveitis.
Katarak Traumatik
Di negara berkembang, trauma mata pada anak merupakan penyebab katarak yang tidak boleh diabaikan. Insiden katarak traumatik lebih banyak dilaporkan pada anak laki-laki dibandingkan anak perempuan. Penelitian dari Iran melaporkan bahwa pada cedera tembus mata yang tidak disengaja pada anak di bawah 6 tahun, katarak traumatik merupakan manifestasi awal kedua yang paling umum, ditemukan pada 46,8% kasus.
Bagaimana Lensa Mata Berkembang dan Mengapa Ini Penting?
Untuk memahami mengapa katarak begitu berbahaya pada anak-anak, kita perlu memahami bagaimana penglihatan berkembang. Pada usia 22 hari gestasi, mata mulai berkembang dan lensa terbentuk dari ektoderm permukaan. Sebagian besar fibroblast growth factor yang diproduksi di vitreous sangat penting untuk diferensiasi serat lensa sekunder.
Yang jauh lebih kritis adalah konsep critical period (periode kritis) dan sensitive period (periode sensitif) penglihatan. Otak bayi mengembangkan kemampuan melihat berdasarkan stimulasi visual yang diterimanya. Jika lensa keruh menghalangi cahaya mencapai retina selama masa kritis ini — terutama pada bulan-bulan pertama kehidupan — otak tidak akan pernah belajar “melihat” dengan mata tersebut secara optimal.
Lima puluh tahun lalu, diyakini bahwa hampir tidak mungkin bagi mata dengan katarak kongenital unilateral untuk mencapai ketajaman visual yang baik. Dua puluh lima tahun lalu, diyakini bahwa hampir tidak mungkin bagi mata dengan katarak unilateral untuk mencapai ketajaman stereo. Kini, sudah saatnya kita memperluas keyakinan bahwa yang terbaik yang bisa kita lakukan dengan mata pada katarak kongenital unilateral adalah menciptakan cadangan semata.
Ini adalah perubahan paradigma yang penting: dengan penanganan yang tepat dan tepat waktu, hasil visual yang sangat baik kini dimungkinkan.
Tanda dan Gejala: Apa yang Harus Diperhatikan?
Deteksi dini katarak pada anak sering kali dimulai dari observasi orang tua atau tenaga kesehatan yang jeli selama pemeriksaan rutin. Berikut tanda-tanda yang perlu diwaspadai:
Leukokoria (leukocoria): Ini adalah tanda paling khas — tampilan putih atau keabuan pada pupil mata. Sering kali terlihat pertama kali dalam foto flash ketika refleks merah yang normal justru tampak putih. Leukokoria adalah tanda darurat mata yang harus segera dirujuk, karena ia tidak hanya menandakan katarak, tetapi juga kondisi lain seperti retinoblastoma.
Gangguan fiksasi visual: Bayi yang tidak melakukan kontak mata dengan wajah ibunya atau tidak mampu mengikuti objek yang bergerak perlu dievaluasi.
Strabismus (strabismus): Mata yang juling pada anak kecil bisa menjadi tanda bahwa penglihatan di salah satu mata terganggu.
Nistagmus (nystagmus): Gerakan mata yang tidak terkontrol secara ritmis dapat mengindikasikan gangguan penglihatan yang sudah cukup lama.
Fotofobia: Kepekaan berlebihan terhadap cahaya kadang dijumpai.
Pada anak yang lebih besar, gejala dapat meliputi kesulitan melihat papan tulis di sekolah atau kebiasaan menonton televisi dari jarak sangat dekat.
Diagnosis: Mengenali Kekeruhan Lensa
Uji Refleks Merah (Red Reflex Test)
Semua bayi baru lahir disaring untuk kelainan okular menggunakan oftalmoskop langsung (direct ophthalmoscope); refleks merah dinilai. Setiap deviasi pada refleks merah dianggap sebagai kelainan okular pada anak tersebut. Skrining mata anak sejak lahir untuk kelainan okular sangat penting untuk mendeteksi gangguan dalam perkembangan sistem visual. Refleks merah dapat dilihat pada anak tanpa menggunakan tetes mata midriatik, dan hasilnya memiliki sensitivitas 85%.
Uji refleks merah merupakan pemeriksaan point-of-care yang sederhana namun sangat bermakna dan seharusnya menjadi bagian standar dari setiap pemeriksaan neonatus dan bayi.
Pemeriksaan Lebih Lanjut
Untuk anak yang dicurigai memiliki katarak, evaluasi komprehensif mencakup:
- Pemeriksaan celah lampu (slit-lamp examination) atau pemeriksaan di bawah anestesi
- Penilaian ketajaman visual sesuai usia (uji Teller untuk bayi, visual evoked potential untuk bayi preverbal)
- Retinoskopi untuk menilai refraksi
- Ultrasonografi okular jika media okular tidak jernih
- Pemeriksaan sistemik lengkap termasuk skrining metabolik dan evaluasi infeksi TORCH pada kasus yang relevan
Mengingat tingginya prevalensi komorbiditas sistemik pada anak dengan katarak bilateral, tampaknya bijaksana untuk mengelola anak-anak ini bersama dokter spesialis anak (pediatrician) dan memasukkan evaluasi genetik sebagai bagian dari work-up.
Morfologi Katarak: Mengenal Jenisnya
Secara morfologis, katarak pada anak dapat diklasifikasikan ke dalam empat kelompok besar. Berdasarkan sumber-sumber dari PubMed, klasifikasi ini penting karena lokasi kekeruhan memengaruhi berat ringannya gangguan visual dan urgensi penanganan:
1. Katarak Anterior: Termasuk katarak polar anterior, katarak piramidal anterior, dan katarak subkapsular anterior.
2. Katarak Sentral: Kelompok ini mencakup berbagai jenis yang beragam, termasuk katarak nuklear, sutural, lamellar (zonular), cerulean, Christmas tree, pulverulent, dan beberapa varian lainnya.
3. Katarak Posterior: Meliputi posterior lenticonus, katarak subkapsular posterior, katarak polar posterior, dan katarak oil droplet yang klasik ditemukan pada galaktosemia. Juga termasuk dalam kelompok ini adalah persistent hyperplastic primary vitreous (PHPV) dan titik Mittendorf.
4. Katarak Total: Kekeruhan yang melibatkan seluruh lensa, termasuk katarak Morgagnian dan katarak membranosa kongenital.
Di antara semua jenis ini, katarak yang terletak di aksis visual sentral dan berukuran lebih dari 3 mm merupakan yang paling mengancam perkembangan penglihatan dan membutuhkan intervensi paling mendesak.
Tatalaksana: Melawan Waktu demi Cahaya
Penanganan katarak pada anak adalah perlombaan melawan waktu dan merupakan salah satu yang paling kompleks dalam dunia oftalmologi pediatri. Pendekatan yang terlambat berarti amblyopia (lazy eye) yang irreversibel.
Timing Operasi
Katarak kongenital adalah kekeruhan lensa yang mengganggu perkembangan visual normal, sehingga memerlukan intervensi bedah dini untuk mencegah amblyopia. Waktu operasi yang direkomendasikan adalah dalam 8 minggu untuk kasus unilateral dan sebelum 4 bulan untuk kasus bilateral guna meminimalkan gangguan visual jangka panjang.
Prinsipnya: semakin dini katarak terdeteksi dan ditangani, semakin besar peluang anak untuk mengembangkan penglihatan yang optimal.
Teknik Operasi
Bedah katarak pada anak memiliki tantangan teknis tersendiri karena karakteristik mata anak yang unik — kapsul lensa yang sangat elastis, jaringan yang lebih reaktif terhadap inflamasi, dan bola mata yang masih terus tumbuh. Pada anak di bawah 2 tahun, lensektomi dengan kapsulotomi posterior primer dan vitrektomi anterior dilakukan; sementara anak yang lebih tua menjalani operasi katarak insisi kecil dengan insersi lensa intraokular ruang posterior. Kapsulotomi posterior merupakan tindakan esensial pada semua anak di bawah usia 6 tahun.
Lensa Intraokular (Intraocular Lens/IOL)
Pemilihan IOL pada anak merupakan tantangan tersendiri karena mata anak terus tumbuh, mengubah kebutuhan refraksinya seiring waktu. Meskipun terdapat kemajuan dalam teknologi IOL dan operasi mikro oftalmik, pemilihan kekuatan IOL yang akurat pada pasien pediatri tetap menjadi tantangan karena pertumbuhan panjang aksial, variabilitas biometrik, dan ketergantungan pada formula yang diturunkan dari model dewasa.
Mata anak menghadirkan tantangan unik untuk kalkulasi kekuatan IOL karena ukurannya yang lebih kecil, perubahan panjang aksial, dan kurvatura kornea. Strategi undercorrection (koreksi di bawah target) memperhitungkan myopic shift akibat pertumbuhan bola mata, tetapi konsensus tentang formula terbaik dan target refraksi masih belum ada.
Untuk bayi yang sangat muda (di bawah 1 tahun untuk kasus unilateral, atau situasi tertentu bilateral), pilihan awal mungkin adalah aphakia (tanpa IOL) yang kemudian dikoreksi dengan lensa kontak khusus, sebelum IOL dipasang pada usia yang lebih matang.
Rehabilitasi Visual dan Penanganan Amblyopia
Operasi hanyalah langkah pertama. Dengan pemahaman yang lebih baik tentang latent period (jangka waktu di mana kejadian abnormal tidak memberikan efek jangka panjang pada perkembangan visual mata yang terdeprivas) dan critical period (rentang usia di mana otak yang berkembang dapat diubah secara mendalam dan permanen oleh pengalaman abnormal) untuk ketajaman stereo dan amblyopia, kini kita dapat memfokuskan metode pengobatan tidak hanya untuk meningkatkan penglihatan tetapi juga mengembangkan binokularitas.
Rehabilitasi visual mencakup:
Koreksi optis: Kacamata atau lensa kontak harus dipasangkan sedini mungkin setelah operasi untuk memberikan fokus yang jelas ke retina.
Oklusi atau patching: Pada katarak unilateral, mata yang sehat perlu ditutup untuk sebagian waktu setiap hari guna “memaksa” otak menggunakan sinyal dari mata yang baru dioperasi. Program oklusi yang konsisten dan progresif sangat menentukan hasil akhir.
Tindak lanjut jangka panjang: Anak perlu dipantau secara rutin untuk mendeteksi komplikasi pasca operasi.
Komplikasi Pasca Operasi
Bedah katarak pada anak, meskipun sudah berhasil secara teknis, membawa risiko komplikasi yang harus dipantau secara aktif:
Opasifikasi Aksis Visual (Visual Axis Opacification/VAO): Komplikasi paling umum dari bedah katarak pediatri adalah opasifikasi aksis visual. Kejadiannya bergantung pada usia saat operasi dilakukan. Anak yang lebih muda yang menjalani operasi memiliki insiden VAO yang lebih rendah. VAO perlu ditangani dengan cepat agar tidak memperburuk amblyopia.
Glaukoma Sekunder: Insiden glaukoma sekunder tetap tinggi meskipun operasi berjalan dengan baik. Faktor yang bertanggung jawab termasuk kelainan okular, usia saat operasi, jenis IOL yang digunakan, protein lensa, kasus dengan katarak nuklear, dan ukuran kornea yang kecil.
Strabismus: Strabismus berkembang pada sekitar separuh anak yang dioperasi katarak. Perkembangan strabismus pasca bedah katarak pediatri dikaitkan dengan usia saat operasi, pemasangan IOL, dan hasil ketajaman visual.
Endoftalmitis, Ablasi Retina, dan Uveitis merupakan komplikasi lain yang lebih jarang namun serius.
Genetika Modern: Sekuensing Generasi Berikutnya
Salah satu kemajuan paling signifikan dalam memahami katarak kongenital adalah perkembangan teknologi sekuensing genetik. Next-generation sequencing (NGS) merupakan metode yang berguna dan andal untuk mendeteksi dan mengevaluasi etiologi molekuler yang mendasari penyakit genetik heterogen ini. Dalam sebuah studi, 70% pasien dengan katarak kongenital dapat didiagnosis menggunakan teknologi NGS.
Implikasinya sangat luas. Diagnosis molekuler memungkinkan:
- Konseling genetik yang dipersonalisasi — memberi tahu keluarga tentang risiko berulang pada kehamilan berikutnya
- Diagnosis prenatal — pada kehamilan yang berisiko, janin dapat diperiksa lebih awal
- Deteksi kondisi sistemik tersembunyi — beberapa mutasi gen cataract berhubungan dengan kondisi yang memerlukan terapi spesifik jika diketahui lebih awal
- Pemahaman patogenesis yang lebih baik untuk pengembangan terapi di masa depan
Dalam beberapa kasus, work-up genetik memberikan diagnosis pada pasien di mana penyakit sistemik yang mendasarinya akan menyebabkan kerusakan ireversibel jika tidak ditangani tepat waktu — sebuah argumen kuat untuk memasukkan evaluasi genetik dalam manajemen standar katarak bilateral pada anak.
Konteks Indonesia: Tantangan yang Harus Dihadapi
Indonesia menghadapi tantangan ganda dalam penanganan katarak pada anak: di satu sisi terdapat prevalensi katarak secara umum yang tinggi, dan di sisi lain terdapat keterbatasan infrastruktur untuk skrining dan penanganan dini.
Saat ini tidak ada program skrining pediatri katarak yang berskala nasional. Juga tidak ada program yang mapan untuk pemeriksaan mata rutin pada bayi baru lahir atau penilaian rutin anak-anak di klinik imunisasi maupun saat masuk sekolah. Kondisi seperti ini berlaku di banyak negara berkembang, termasuk Indonesia.
Target global WHO saat ini dengan strategi Integrated People-Centred Eye Care including preventable vision impairment and blindness adalah peningkatan 30% cakupan efektif untuk operasi katarak pada tahun 2030. Pada tingkat nasional, pemerintah Indonesia telah menetapkan target untuk menurunkan prevalensi gangguan penglihatan sebesar 25% pada tahun 2030 dari prevalensi di tahun 2017.
Perdami (Persatuan Dokter Spesialis Mata Indonesia) telah menerbitkan Pedoman Nasional Pelayanan Kedokteran (PNPK) Tata Laksana Katarak pada Anak yang menjadi acuan bagi fasilitas kesehatan di seluruh Indonesia. Namun, kesenjangan antara pedoman yang tersedia dan implementasi di lapangan — terutama di daerah terpencil — masih menjadi tantangan nyata.
Peran dokter umum dan bidan di fasilitas layanan primer menjadi sangat strategis. Mereka adalah garda terdepan yang dapat melakukan deteksi dini melalui:
- Pemeriksaan refleks merah pada setiap bayi baru lahir dan kunjungan imunisasi
- Edukasi orang tua tentang tanda-tanda katarak dan pentingnya pemeriksaan mata dini
- Sistem rujukan yang efektif ke dokter spesialis mata atau fasilitas dengan kemampuan penanganan katarak pediatri
Apa yang Harus Dilakukan Orang Tua?
Untuk orang tua, pesan paling penting adalah: jangan abaikan tanda-tanda pada mata anak Anda.
Beberapa langkah praktis yang dapat dilakukan:
- Perhatikan refleks merah pada foto flash. Jika salah satu atau kedua mata anak tampak putih alih-alih merah dalam foto, segera periksakan ke dokter.
- Amati kemampuan visual anak. Apakah bayi merespons senyum? Apakah matanya mengikuti objek yang bergerak?
- Jangan tunda rujukan. Jika dokter atau bidan menemukan sesuatu yang tidak biasa pada mata anak, segera tindak lanjuti. Dalam kasus katarak, penundaan berminggu-minggu bisa berarti kehilangan yang tidak bisa dikembalikan.
- Sampaikan riwayat keluarga. Jika ada anggota keluarga dengan katarak usia muda, informasikan kepada dokter. Ini membantu mengarahkan kewaspadaan yang lebih tinggi.
- Pastikan imunisasi rubela lengkap. Vaksinasi MMR adalah salah satu cara pencegahan katarak kongenital yang paling efektif dan terbukti.
Penutup: Cahaya yang Layak Diperjuangkan
Katarak pada anak bukan hanya masalah mata — ini adalah masalah masa depan. Penglihatan yang baik adalah fondasi bagi pembelajaran, perkembangan bahasa, keterampilan motorik, dan interaksi sosial anak. Ketika lensa mata seorang anak menjadi keruh, lebih dari sekadar bayangan yang memudar: peluang tumbuh kembang yang optimal pun ikut terancam.
Kabar baiknya, kebutaan pada masa kanak-kanak dapat dikurangi dengan memahami berbagai etiologi dan presentasi klinis katarak kongenital. Diagnosis dini katarak pada anak dapat dibuat dengan ultrasonografi. Skrining sebaiknya dilakukan di bangsal bersalin. Dengan deteksi yang tepat waktu, penanganan bedah yang kompeten, rehabilitasi visual yang konsisten, dan tindak lanjut jangka panjang, banyak anak dengan katarak kini bisa tumbuh dengan penglihatan yang fungsional dan berkualitas.
Tantangannya bukan pada teknologinya — teknologi sudah ada. Tantangannya ada pada kesadaran: kesadaran orang tua untuk mengenali tanda awal, kesadaran tenaga kesehatan untuk tidak melewatkan pemeriksaan refleks merah, dan kesadaran sistem untuk membangun jaringan skrining dan rujukan yang efektif.
Karena setiap anak berhak melihat dunia dengan jelas.
Referensi
Berdasarkan artikel-artikel yang diakses melalui PubMed:
Katre, D., & Selukar, K. (2022). The prevalence of cataract in children. Cureus, 14(10), e30135. https://doi.org/10.7759/cureus.30135
Taylan Şekeroğlu, H., & Utine, G. E. (2021). Congenital cataract and its genetics: The era of next-generation sequencing. Turkish Journal of Ophthalmology, 51(2), 107–113. https://doi.org/10.4274/tjo.galenos.2020.08377
Kessel, L., Bach-Holm, D., Al-Bakri, M., Roos, L., Lund, A., & Grønskov, K. (2021). Genetic disease is a common cause of bilateral childhood cataract in Denmark. Ophthalmic Genetics, 42(6), 650–658. https://doi.org/10.1080/13816810.2021.1941128
Ugalahi, M. O., Onebunne, E. O., Olusanya, B. A., & Baiyeroju, A. M. (2023). Familial cataracts: Profile of patients and their families at a child eye care tertiary facility in a developing country. Korean Journal of Ophthalmology, 37(4), 314–321. https://doi.org/10.3341/kjo.2023.0028
Pfeifer, W. (2023). Managing pediatric cataract patients: Amblyopia treatment and binocularity outcomes. Journal of Binocular Vision and Ocular Motility, 73(4), 109–114. https://doi.org/10.1080/2576117X.2023.2255081
Wójcik-Niklewska, B., Noco ń-Bratek, M., & Szala, K. (2025). Intraocular lens power calculation in pediatric cataract surgery: A narrative review. Medicine (Baltimore), 104(14), e42072. https://doi.org/10.1097/MD.0000000000042072
Rathod, A., Khokhar, S., & Rani, D. (2025). Pediatric IOL power calculation: Factors and considerations. Indian Journal of Ophthalmology, 73(3), 312–319. https://doi.org/10.4103/IJO.IJO_1205_24
Menezes Filho, C., Messias, A., & Antunes-Foschini, R. (2023). Strabismus development after pediatric cataract surgery associated with age at surgery, intraocular lens implantation, and visual acuity outcome. Strabismus, 31(2), 139–144. https://doi.org/10.1080/09273972.2023.2231038
O’Rourke, M., McCreery, K., Kilmartin, D., & Brosnahan, D. (2020). Paediatric cataract in the uveitis setting. European Journal of Ophthalmology, 31(5), 2651–2658. https://doi.org/10.1177/1120672120962059
Bamdad, S., Shirvani, M., Shahriarirad, S., Tamaddon, M., & Attar, A. (2024). Epidemiology and characteristics of unintentional self-inflicted penetrating ocular injuries in children less than 6 years-old. BMC Ophthalmology, 24(1), 461. https://doi.org/10.1186/s12886-024-03729-7
Tariq, M. A., Uddin, Q. S., et al. (2022). Prevalence of pediatric cataract in Asia: A systematic review and meta-analysis. Journal of Current Ophthalmology, 34(2), 148–159. https://doi.org/10.4103/joco.joco_339_21
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia & Perdami. (2019). Pedoman Nasional Pelayanan Kedokteran: Tata Laksana Katarak pada Anak. Jakarta: Kemenkes RI.

Tinggalkan komentar