A Cahya Legawa's Les pèlerins au-dessus des nuages

Bayangkan melihat dunia melalui kaca yang berangsur-angsur berembun—warna memudar, cahaya menyilaukan, wajah orang-orang yang dicintai semakin samar. Itulah pengalaman jutaan orang yang hidup dengan katarak. Meski kondisi ini terdengar umum, dampaknya terhadap kualitas hidup tidak boleh diremehkan. Yang lebih penting lagi: katarak adalah penyebab kebutaan yang dapat dicegah dan disembuhkan.


Apa Itu Katarak?

Katarak adalah pengkeruhan atau opasifikasi lensa mata yang sebelumnya jernih dan tembus cahaya. Lensa mata normalnya berfungsi memfokuskan cahaya ke retina sehingga menghasilkan gambar yang tajam. Ketika lensa menjadi keruh, cahaya tidak dapat menembus dengan baik, dan penglihatan pun terganggu secara progresif.

Berdasarkan tinjauan komprehensif yang diterbitkan dalam jurnal The Lancet, katarak berkaitan dengan penurunan kualitas hidup dan harapan hidup yang lebih pendek, serta merupakan penyebab kebutaan paling umum di seluruh dunia dari total 94 juta orang yang mengalami kebutaan atau gangguan penglihatan berat secara global (Cicinelli et al., 2022). Angka ini menjadikan katarak bukan sekadar masalah mata biasa, melainkan tantangan kesehatan masyarakat yang serius berskala global.


Epidemiologi: Seberapa Umum Katarak?

Secara global, gambaran epidemiologi katarak sungguh mencengangkan. Sebagian besar kasus katarak terjadi setelah lahir, dengan penuaan dan stres oksidatif sebagai penyebab utama, meskipun beberapa faktor risiko yang dapat dan tidak dapat dimodifikasi turut mempercepat pembentukan katarak (Cicinelli et al., 2022).

Tinjauan terbaru yang dipublikasikan dalam JAMA menegaskan bahwa usia lanjut merupakan faktor risiko utama katarak, dengan sekitar dua pertiga populasi di atas usia 80 tahun terdampak kondisi ini, dan jumlah penderita katarak di Amerika Serikat diproyeksikan meningkat hingga 50 juta orang pada tahun 2050 seiring bertambah tuanya populasi (Chen et al., 2025).

Di Indonesia, situasinya bahkan lebih mengkhawatirkan. Menurut data terakhir Perhimpunan Dokter Spesialis Mata Indonesia (PERDAMI) tahun 2017, sekitar 8 juta orang mengalami gangguan penglihatan, termasuk 1,6 juta kasus kebutaan, dan dari angka kebutaan tersebut sekitar 81,2 persen atau 1,3 juta orang disebabkan oleh katarak. Bahkan, penderita katarak di Indonesia tercatat menempati posisi tertinggi di Asia Tenggara. Berdasarkan data WHO tahun 2023, sekitar 94 juta orang di seluruh dunia mengalami gangguan penglihatan yang disebabkan oleh katarak, dan hasil survei Rapid Assessment of Avoidable Blindness (RAAB) yang dilakukan di 15 provinsi Indonesia pada 2014–2016 menunjukkan prevalensi kebutaan pada penduduk berusia lebih dari 50 tahun sebesar 3,0%, dengan 70–80% kasus gangguan penglihatan berat dan kebutaan disebabkan oleh katarak.


Mengapa Lensa Mata Bisa Menjadi Keruh?

Untuk memahami mengapa katarak terbentuk, perlu dipahami komposisi lensa mata. Lensa terdiri dari air dan protein yang tersusun secara presisi untuk mempertahankan kejernihan. Seiring bertambahnya usia, protein dan sel-sel mati berangsur-angsur menumpuk dan menggumpal, membentuk lapisan keruh yang secara bertahap menutup lensa.

Pada tingkat seluler dan molekuler, stres oksidatif—ketidakseimbangan antara pembentukan radikal bebas dan kemampuan antioksidan tubuh—memainkan peran sentral dalam patogenesis katarak terkait usia. Paparan sinar ultraviolet secara kumulatif merusak protein lensa melalui berbagai jalur biokimia. Pada penderita diabetes melitus, akumulasi sorbitol dalam lensa melalui jalur aldose reductase menarik air ke dalam jaringan lensa, menyebabkan pembengkakan dan kekeruhan lebih awal.

Jenis-jenis katarak
Sumber: ranelle.com

Berdasarkan lokasinya, katarak diklasifikasikan menjadi tiga tipe utama:

  • Katarak nuklear: kekeruhan terbentuk di bagian tengah (nukleus) lensa, paling sering terkait penuaan
  • Katarak kortikal: kekeruhan bermula di bagian korteks lensa dalam pola menyerupai jari-jari roda
  • Katarak subkapsular posterior (posterior subcapsular cataract/PSC): kekeruhan terbentuk di bagian belakang kapsul lensa, sering berkaitan dengan penggunaan kortikosteroid jangka panjang atau diabetes

Faktor Risiko: Apa yang Meningkatkan Kemungkinan Katarak?

Katarak adalah penyakit multifaktorial. Selain usia yang merupakan faktor terbesar, berbagai kondisi lain turut berperan. Faktor risiko katarak mencakup predisposisi herediter atau genetik, penggunaan obat-obatan tertentu seperti kortikosteroid, trauma okular, paparan sinar ultraviolet atau radioterapi yang signifikan, serta kondisi medis tertentu seperti diabetes yang tidak terkontrol, retinitis pigmentosa, sindrom Down, dan rubela kongenital (Chen et al., 2025).

Dari perspektif gaya hidup, kajian sistematis tentang pengaruh diet terhadap katarak terkait usia menemukan efek protektif signifikan dari berbagai pola makan, termasuk pola diet seimbang, vegetarian, dan pola tinggi antioksidan, serta konsumsi buah, sayuran, kacang-kacangan, ikan, kopi, dan vitamin (Falkowska et al., 2023). Merokok juga menjadi faktor risiko yang terbukti—nikotin dan komponen toksik rokok mengurangi cadangan antioksidan pada lensa sehingga mempercepat oksidasi protein.

Diabetes melitus layak mendapat perhatian khusus. Diabetes memengaruhi berbagai bagian mata dan menimbulkan banyak komplikasi sebelum, selama, dan setelah operasi intraokular; pemeriksaan pra-operatif yang cermat terhadap permukaan okular, kornea, iris, dan segmen posterior pasien diabetik sangat penting untuk mengoptimalkan hasil operasi (Zarei-Ghanavati et al., 2024). Di Indonesia, dengan prevalensi diabetes yang terus meningkat, korelasi ini memiliki implikasi kesehatan masyarakat yang signifikan.


Gejala: Bagaimana Katarak Dikenali?

Katarak berkembang secara perlahan dan seringkali tidak disadari pada tahap awal. Gejala utama yang umum dilaporkan antara lain:

  • Penglihatan kabur atau berkabut yang tidak membaik dengan koreksi kacamata
  • Silau (glare)—terutama saat melihat lampu kendaraan di malam hari atau sinar matahari langsung
  • Lingkaran cahaya (halos) di sekitar sumber cahaya
  • Penurunan kepekaan terhadap kontras warna—warna tampak pucat atau kekuningan
  • Penglihatan ganda pada satu mata (monocular diplopia)
  • Kebutuhan yang sering untuk mengganti kacamata karena perubahan dioptri yang cepat

Penglihatan kabur yang tidak terasa sakit dan progresif serta silau visual adalah gejala umum katarak; diagnosis ditegakkan melalui pemeriksaan mata oleh dokter spesialis mata atau optometris (Chen et al., 2025). Tidak ada nyeri yang menyertai proses ini, yang sering membuat penderita menganggap perubahan penglihatan sebagai hal yang “wajar karena tua” dan menunda mencari pertolongan medis.


Diagnosis: Pemeriksaan Apa yang Diperlukan?

Diagnosis katarak ditegakkan melalui pemeriksaan mata komprehensif. Dokter akan melakukan:

  1. Pemeriksaan tajam penglihatan (visual acuity test) menggunakan Snellen chart
  2. Pemeriksaan slit-lamp untuk mengevaluasi struktur lensa secara detail dan menentukan jenis serta derajat keparahan katarak
  3. Pemeriksaan fundus untuk menilai kondisi retina dan mendeteksi kelainan penyerta seperti retinopati diabetik atau degenerasi makula
  4. Pengukuran tekanan intraokular untuk menyingkirkan glaukoma

Klasifikasi keparahan katarak biasanya merujuk pada sistem Lens Opacities Classification System (LOCS) yang menilai densitas kekeruhan di nukleus, korteks, dan kapsul posterior. Grading ini penting untuk menentukan waktu yang tepat untuk intervensi bedah.


Tata Laksana: Kapan dan Bagaimana Katarak Diobati?

Hingga saat ini, belum ada obat-obatan atau tetes mata yang terbukti secara ilmiah dapat mencegah atau membalikkan katarak yang sudah terbentuk. Satu-satunya pengobatan yang efektif adalah operasi.

Indikasi Operasi

Operasi pengangkatan katarak dengan penanaman lensa intraokular permanen diindikasikan apabila gangguan penglihatan menghambat aktivitas sehari-hari, dan terbukti berkaitan dengan penurunan risiko jatuh lebih dari 30% serta penurunan risiko demensia sebesar 20–30% (Chen et al., 2025). Keputusan untuk operasi tidak hanya didasarkan pada temuan klinis objektif, tetapi lebih penting lagi pada dampak subjektif terhadap kualitas hidup pasien—kemampuan membaca, mengemudi, melakukan pekerjaan, dan beraktivitas sosial.

Teknik Operasi: Phacoemulsification

Teknik operasi katarak modern yang menjadi standar global adalah phacoemulsification (fakoemulsifikasi). Dalam prosedur ini, lensa keruh dipecah menggunakan gelombang ultrasonik melalui sayatan sangat kecil (kurang dari 3 mm), lalu dihisap keluar, dan digantikan dengan lensa intraokular (intraocular lens/IOL) yang permanen. Keunggulan teknik ini adalah pemulihan lebih cepat, minim komplikasi, dan tidak memerlukan jahitan pada kebanyakan kasus.

Sebagian besar operasi katarak dilakukan dengan anestesi topikal, sehingga pasien tidak memerlukan pemeriksaan medis pre-operatif umum seperti pemeriksaan darah atau elektrokardiogram, dan tidak perlu menghentikan antikoagulan untuk operasi katarak (Chen et al., 2025). Hal ini menyederhanakan persiapan operasi secara bermakna, terutama untuk pasien lansia dengan kondisi medis penyerta.

Femtosecond Laser-Assisted Cataract Surgery (FLACS)

Teknologi terkini memperkenalkan penggunaan laser femtosecond untuk membantu langkah-langkah kunci dalam operasi katarak. Namun, sebuah tinjauan sistematis Cochrane menemukan bahwa terdapat sedikit atau tidak ada perbedaan bermakna antara FLACS dan phacoemulsification standar dalam hal komplikasi intra-operatif dan pasca-operatif, ketajaman penglihatan pasca-operasi, serta kualitas hidup; bukti dari dua studi juga menunjukkan bahwa FLACS mungkin merupakan pilihan yang kurang cost-effective (Narayan et al., 2023). Ini berarti teknik laser belum terbukti superior secara klinis dibandingkan teknik konvensional yang lebih terjangkau.

Pilihan Lensa Intraokular (IOL)

Pemilihan IOL merupakan pertimbangan penting yang memengaruhi kualitas penglihatan pasca-operasi. IOL monofokus standar memberikan penglihatan jelas pada satu jarak tertentu (biasanya jauh), sementara pasien masih memerlukan kacamata untuk membaca. IOL multifokus dan extended depth of focus (EDOF) menawarkan potensi kebebasan dari kacamata untuk berbagai jarak, namun IOL multifokus dan IOL teknologi refractive canggih lainnya berkaitan dengan biaya tambahan yang tidak ditanggung oleh asuransi kesehatan (Chen et al., 2025).

Pencegahan Komplikasi Pasca-Operasi

Inflamasi dan edema makula sistoid (cystoid macular edema/CME) merupakan komplikasi yang perlu diantisipasi setelah operasi katarak. Kombinasi obat antiinflamasi nonsteroid (NSAID) topikal dan steroid setelah operasi pada subjek sehat terbukti cost-effective, sementara injeksi triamsinolon bersama steroid topikal dan NSAID pada pasien diabetik merupakan pilihan paling cost-effective untuk mencegah edema makula pasca-operasi (Grzybowski et al., 2023). Antibiotik intraokular seperti moxifloksasin atau sefuroksim yang diberikan saat operasi juga terbukti menurunkan angka endophthalmitis pasca-bedah dari 0,07% menjadi 0,02%.


Katarak dan Demensia: Hubungan yang Tidak Terduga

Salah satu temuan menarik dalam penelitian terkini adalah hubungan antara katarak dengan fungsi kognitif. Gangguan penglihatan yang tidak dikoreksi dapat membatasi stimulasi sensorik otak, yang secara teoritis dapat mempercepat penurunan kognitif.

Sebuah meta-analisis komprehensif yang melibatkan 558.276 peserta menemukan bahwa operasi katarak berkaitan dengan penurunan risiko jangka panjang penurunan kognitif sebesar 25% dibandingkan mereka dengan katarak yang tidak dikoreksi, dan gangguan penglihatan akibat katarak mungkin merupakan faktor risiko yang dapat dimodifikasi untuk penurunan kognitif (Yeo et al., 2024). Namun, penelitian berbasis populasi yang lebih baru dengan desain yang lebih ketat tidak menemukan perbedaan signifikan dalam kecepatan penurunan kognitif antara pasien yang menjalani operasi katarak dan kelompok kontrol yang tidak dioperasi dalam praktik klinis standar di Amerika Serikat (Joo et al., 2025), menunjukkan bahwa hubungan ini mungkin lebih kompleks dari yang semula diduga. Pertanyaan ini masih terbuka dan memerlukan uji klinis acak lebih lanjut.


Perspektif Indonesia: Tantangan dan Upaya Penanggulangan

Indonesia menghadapi beban ganda dalam penanganan katarak: angka kejadian yang tinggi sekaligus tantangan ketimpangan akses layanan. Indonesia memiliki prevalensi kebutaan tertinggi di Asia Tenggara, dengan 81,2% disebabkan oleh katarak; faktor risiko yang berkontribusi meliputi usia, jenis kelamin, penyakit penyerta seperti diabetes melitus dan hipertensi, penggunaan steroid, riwayat merokok, dan paparan radiasi ultraviolet.

Berbagai faktor sosial-ekonomi memperburuk situasi ini. Keterbatasan akses layanan kesehatan di daerah pedesaan menghambat diagnosis dan pengobatan tepat waktu, sementara stigma di masyarakat yang sering menganggap katarak sebagai proses penuaan yang wajar turut berkontribusi pada keterlambatan penanganan, dan malnutrisi serta infrastruktur kesehatan yang tidak memadai juga meningkatkan risiko katarak pada kelompok ekonomi lemah.

Pemerintah Indonesia telah merespons tantangan ini melalui berbagai program. Pemerintah telah menetapkan target untuk menurunkan prevalensi gangguan penglihatan sebesar 25% pada tahun 2030 dari baseline tahun 2017, sejalan dengan target global WHO yang menargetkan peningkatan 30% cakupan efektif operasi katarak pada tahun 2030. Program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) melalui BPJS Kesehatan menanggung operasi katarak dengan metode fakoemulsifikasi di fasilitas kesehatan tingkat lanjut yang bekerja sama. Namun, aksesibilitas yang tidak merata antara daerah perkotaan dan pedesaan tetap menjadi hambatan nyata.


Pencegahan: Apakah Katarak Dapat Dicegah?

Meski proses penuaan tidak dapat dihentikan, beberapa langkah dapat memperlambat perkembangan katarak:

  1. Kendalikan penyakit sistemik: Pengelolaan diabetes dan hipertensi yang optimal terbukti mengurangi risiko katarak dini.
  2. Lindungi mata dari sinar UV: Gunakan kacamata hitam berfilter UV-400 saat beraktivitas di luar ruangan.
  3. Berhenti merokok: Rokok merupakan faktor risiko katarak yang sepenuhnya dapat dimodifikasi.
  4. Optimalisasi pola makan: konsumsi buah-buahan, sayuran, kacang-kacangan, ikan, dan asupan vitamin antioksidan yang cukup menunjukkan efek protektif terhadap kejadian katarak terkait usia (Falkowska et al., 2023).
  5. Gunakan kortikosteroid secara bijaksana: Hindari penggunaan kortikosteroid jangka panjang tanpa pengawasan medis karena terkait dengan pembentukan katarak subkapsular posterior.
  6. Pemeriksaan mata berkala: Deteksi dini memungkinkan intervensi sebelum gangguan penglihatan menjadi berat.

Prognosis: Harapan Setelah Operasi Katarak

Prognosis operasi katarak sangat baik pada pasien tanpa kelainan retina atau saraf optik yang mendasarinya. Sebagian besar pasien mengalami pemulihan penglihatan yang signifikan dalam beberapa hari hingga minggu pasca-operasi. Selain membalikkan dan mencegah progresi kehilangan penglihatan, operasi katarak dapat mengurangi ketergantungan pada kacamata (Chen et al., 2025).

Komplikasi serius, termasuk posterior capsule opacification (PCO) atau kekeruhan kapsul posterior yang dapat terjadi beberapa bulan hingga tahun setelah operasi, kini dapat ditangani dengan mudah menggunakan prosedur laser YAG capsulotomy yang tidak invasif dan efektif.


Penutup

Katarak adalah penyakit mata yang sangat umum, progresif, namun—dan ini yang paling penting—dapat disembuhkan. Di tengah kemajuan teknologi bedah mata yang pesat, hambatan terbesar bukan lagi pada aspek medis teknis, melainkan pada kesenjangan akses, edukasi, dan kesadaran masyarakat. Di Indonesia, di mana katarak menjadi penyebab utama kebutaan dengan angka tertinggi di Asia Tenggara, setiap langkah menuju deteksi dini dan penanganan tepat waktu adalah investasi nyata dalam kualitas hidup jutaan orang.

Jika Anda atau orang-orang di sekitar Anda mulai merasakan penglihatan yang berangsur kabur, silau berlebihan, atau kesulitan melihat di malam hari—jangan tunggu hingga “matang”. Periksakan mata Anda. Katarak yang terdeteksi lebih awal memberikan pilihan penanganan yang lebih luas dan hasil yang lebih optimal.


Referensi

Chen, S. P., Woreta, F., & Chang, D. F. (2025). Cataracts: A review. JAMA, 333(23), 2093–2103. https://doi.org/10.1001/jama.2025.1597

Cicinelli, M. V., Buchan, J. C., Nicholson, M., Varadaraj, V., & Khanna, R. C. (2022). Cataracts. Lancet, 401(10374), 377–389. https://doi.org/10.1016/S0140-6736(22)01839-6

Falkowska, M., Młynarczyk, M., Micun, Z., Konopińska, J., & Socha, K. (2023). Influence of diet, dietary products and vitamins on age-related cataract incidence: A systematic review. Nutrients, 15(21). https://doi.org/10.3390/nu15214585

Grzybowski, A., Sidaraite, A., & Zemaitiene, R. (2023). Management of inflammation after the cataract surgery. Current Opinion in Ophthalmology, 34(1), 9–20. https://doi.org/10.1097/ICU.0000000000000912

Joo, H., Diaz-Ramirez, L. G., Chen, C. L., Sun, C. Q., Smith, A. K., Boscardin, W. J., & Whitlock, E. L. (2025). Cognitive trajectory before and after cataract surgery: A population-based approach. Journal of the American Geriatrics Society, 73(4), 1073–1081. https://doi.org/10.1111/jgs.19372

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2018). Situasi gangguan penglihatan dan kebutaan: Infodatin. Pusat Data dan Informasi Kemenkes RI.

Narayan, A., Evans, J. R., O’Brart, D., Bunce, C., Gore, D. M., & Day, A. C. (2023). Laser-assisted cataract surgery versus standard ultrasound phacoemulsification cataract surgery. Cochrane Database of Systematic Reviews, 6, CD010735. https://doi.org/10.1002/14651858.CD010735.pub3

PERDAMI (Persatuan Dokter Spesialis Mata Indonesia). (2017). Data gangguan penglihatan dan kebutaan di Indonesia. PERDAMI.

Pusat Kebijakan dan Manajemen Kesehatan FK-KMK UGM. (2025). Review kebijakan penyakit katarak berbasis transformasi sistem kesehatan. PKMK UGM.

Yeo, B. S. Y., Ong, R. Y. X., Ganasekar, P., Tan, B. K. J., Seow, D. C. C., & Tsai, A. S. H. (2024). Cataract surgery and cognitive benefits in the older person: A systematic review and meta-analysis. Ophthalmology, 131(8), 975–984. https://doi.org/10.1016/j.ophtha.2024.02.003

Zarei-Ghanavati, S., Hadi, Y., Habibi, A., Ashraf Khorasani, M., & Yoo, S. H. (2024). Cataract and diabetes: Review of the literature. Journal of Cataract and Refractive Surgery, 50(12), 1275–1283. https://doi.org/10.1097/j.jcrs.0000000000001547


Artikel ini disusun untuk tujuan edukasi dan informasi kesehatan. Informasi dalam artikel ini tidak menggantikan konsultasi, diagnosis, maupun rekomendasi medis dari dokter atau tenaga kesehatan yang berwenang.

Commenting 101: “Be kind, and respect each other” // Bersikaplah baik, dan saling menghormati (Indonesian) // Soyez gentils et respectez-vous les uns les autres (French) // Sean amables y respétense mutuamente (Spanish) // 待人友善,互相尊重 (Chinese) // كونوا لطفاء واحترموا بعضكم البعض (Arabic) // Будьте добры и уважайте друг друга (Russian) // Seid freundlich und respektiert einander (German) // 親切にし、お互いを尊重し合いましょう (Japanese) // दयालु बनें, और एक दूसरे का सम्मान करें (Hindi) // Siate gentili e rispettatevi a vicenda (Italian)

Tinggalkan komentar