A Cahya Legawa's Les pèlerins au-dessus des nuages

Di era modern ini, istilah catarrh mungkin terdengar kuno dan asing di telinga kita. Namun sesungguhnya, kondisi yang digambarkan oleh kata ini begitu lazim sehingga hampir semua orang pernah mengalaminya — hidung berair yang tak kunjung berhenti, tenggorokan terasa penuh lendir di pagi hari, atau batuk kering yang terus mengganggu selama berminggu-minggu setelah flu. Inilah catarrh: suatu kondisi yang telah dikenal ribuan tahun, tetapi baru dipahami sepenuhnya oleh ilmu kedokteran modern.


Apa Itu Catarrh?

Kata catarrh berasal dari bahasa Yunani kuno katarrhein, yang berarti “mengalir ke bawah” (kata = ke bawah; rhein = mengalir). Istilah ini pertama kali digunakan oleh para dokter Yunani kuno untuk menggambarkan sensasi lendir atau cairan yang mengalir dari hidung dan kepala ke tenggorokan. Selama berabad-abad, catarrh menjadi diagnosis yang sangat umum dalam praktik medis Eropa — dipakai untuk menjelaskan hampir semua kondisi yang melibatkan produksi lendir berlebihan dari saluran napas atas.

Secara medis kontemporer, catarrh didefinisikan sebagai peradangan pada membran mukosa (mucous membrane) — lapisan jaringan lembab yang melapisi saluran pernapasan — yang mengakibatkan hipersekresi lendir secara berlebihan. Kondisi ini paling sering memengaruhi hidung, sinus paranasal, nasofaring, dan tenggorokan, meskipun secara teknis dapat mengenai bagian saluran napas mana pun.

Dalam taksonomi penyakit modern, catarrh bukanlah satu diagnosis tunggal, melainkan sebuah sindrom atau gejala yang mencakup berbagai kondisi: mulai dari common cold (pilek biasa) yang bersifat akut, rinitis alergi, rinosinusitis kronis, hingga kondisi yang dikenal sebagai upper airway cough syndrome (UACS) atau sindrom batuk saluran napas atas.


Anatomi Garis Pertahanan: Membran Mukosa Saluran Napas Atas

Untuk memahami catarrh, kita perlu mengenal terlebih dahulu “aktor utama” dalam kondisi ini: membran mukosa. Seluruh saluran napas bagian atas — dari lubang hidung hingga laring — dilapisi oleh jaringan mukosa yang terdiri dari epitel bersilia (ciliated epithelium) dan sel goblet (goblet cells) penghasil lendir.

Lendir (mucus) bukanlah sekadar “kotoran” tubuh. Secara fisiologis, lendir adalah zat pertahanan yang sangat canggih. Komposisinya meliputi air (sekitar 97%), musin (mucins) — glikoprotein yang memberi lendir sifat kental dan lengket — serta berbagai molekul antimikrobial, imunoglobulin, enzim, dan elektrolit. Sistem pembersihan ini bekerja melalui mekanisme yang disebut mucociliary clearance (MCC): silia yang melapisi epitel bergetar sekitar 1.000 kali per menit untuk mendorong lapisan lendir beserta partikel asing, mikroorganisme, dan debris ke arah faring, di mana kemudian akan ditelan atau dikeluarkan.

Penelitian oleh Webster & Tarran (2018) menjelaskan bahwa homeostasis cairan permukaan saluran napas (airway surface liquid/ASL) diatur secara ketat oleh transport ion dan mekanisme sekresi epitelial. Gangguan terhadap keseimbangan ini — baik oleh infeksi, alergen, polutan, maupun kelainan genetik — akan menyebabkan perubahan komposisi dan jumlah lendir yang menjadi dasar dari berbagai kondisi kataral.


Klasifikasi: Berbagai Wajah Catarrh

1. Catarrh Akut (Acute Catarrh)

Bentuk paling umum dari catarrh akut adalah common cold atau flu biasa, yang secara ilmiah disebut rinofaringitis akut. Kondisi ini paling sering disebabkan oleh rhinovirus (bertanggung jawab atas 30–50% kasus), diikuti oleh coronavirus, adenovirus, influenza virus, dan respiratory syncytial virus (RSV). Gejala klasik meliputi hidung meler (rhinorrhea), hidung tersumbat, bersin-bersin, nyeri tenggorokan, batuk ringan, dan malaise. Demam umumnya tidak terlalu tinggi atau tidak ada sama sekali.

Smith et al. (2023) dalam sebuah position paper yang membahas tata laksana infeksi saluran napas atas ringan (mild upper respiratory tract infections/MURTIs) menyoroti bahwa kondisi ini memerlukan pendekatan berbasis simtom — artinya terapi diarahkan untuk meredakan gejala, bukan menyerang patogennya. Gejala berkembang secara bertahap dan masing-masing memerlukan penanganan yang tersegmentasi; tidak ada satu obat pun yang mampu mengatasi semua gejala sekaligus.

2. Rinitis Alergi (Allergic Rhinitis)

Rinitis alergi adalah salah satu bentuk catarrh kronis yang paling umum di seluruh dunia. Penyakit ini merupakan respons inflamasi mucosa hidung yang dimediasi oleh imunoglobulin E (IgE) terhadap alergen inhalasi. Xiong et al. (2026) dalam tinjauan terbarunya menyebutkan bahwa patogenesis rinitis alergi melibatkan ketidakseimbangan antara sel T helper 17 (Th17) dan sel T regulator (Treg), yang memicu respons inflamasi Th2 dengan pelepasan sitokin IL-4, IL-5, IL-13, dan perekrutan eosinofil ke mukosa hidung.

Secara klinis, rinitis alergi ditandai oleh empat gejala kardinal: hidung meler (rhinorrhea), bersin-bersin, hidung tersumbat, dan rasa gatal di hidung. Berdasarkan panduan ARIA (Allergic Rhinitis and its Impact on Asthma) WHO, rinitis alergi diklasifikasikan berdasarkan dua dimensi: durasi gejala (intermiten vs. persisten) dan derajat keparahan (ringan vs. sedang-berat).

3. Chronic Catarrh dan Rinosinusitis Kronis (Chronic Rhinosinusitis/CRS)

Ketika catarrh berlangsung lebih dari 12 minggu, kondisi ini sering berkembang menjadi rinosinusitis kronis, yakni peradangan kronis pada mukosa hidung dan sinus paranasal. Bachert et al. (2021) menggambarkan bahwa CRS dengan polip hidung (CRS with nasal polyps/CRSwNP) merupakan penyakit yang didominasi inflamasi tipe 2, yang mengakibatkan beban gejala tinggi meliputi sumbatan hidung, kehilangan penciuman (anosmia), dan rhinorrhea yang secara signifikan menurunkan kualitas hidup penderita — termasuk kualitas tidur dan kesehatan mental.

4. Upper Airway Cough Syndrome (UACS) dan Postnasal Drip

Salah satu manifestasi catarrh yang paling sering disalahpahami adalah postnasal drip — tetesan lendir dari nasofaring ke tenggorokan. Kondisi ini menjadi dasar dari sindrom yang dahulu dikenal sebagai postnasal drip syndrome dan kini lebih dikenal sebagai upper airway cough syndrome (UACS). Menurut Donaldson (2022) dalam tinjauan di Otolaryngologic Clinics of North America, UACS bersama asma dan gastroesophageal reflux bertanggung jawab atas 90% kasus batuk kronik.

Lucanska et al. (2020) menjelaskan mekanisme batuk pada UACS melibatkan berbagai jalur: stimulasi reseptor batuk oleh tetesan lendir (postnasal drip), pelepasan mediator inflamasi, iritasi langsung mukosa hidung, dan sensitisasi hipersensitivitas refleks batuk. Hipersensitivitas saraf sensoris saluran napas atas maupun bawah, atau kombinasi keduanya, diduga sebagai mekanisme utama batuk persisten pada pasien ini.


Patofisiologi: Mengapa Tubuh Memproduksi Terlalu Banyak Lendir?

Produksi lendir berlebihan pada catarrh merupakan respons pertahanan tubuh yang “melampaui batas”. Ketika mukosa hidung terpapar oleh virus, bakteri, alergen, polutan udara, atau iritan kimia, sel epitel memicu kaskade inflamasi. Sel mast di mukosa melepaskan histamin dan mediator inflamasi lainnya, yang merangsang kelenjar mukosa untuk berproduksi lebih banyak, melebarkan pembuluh darah (vasodilatasi), dan meningkatkan permeabilitas vaskular — menghasilkan edema mukosa dan hipersekresi lendir.

Pada rinitis alergi, respons ini diperkuat oleh mekanisme imunologis. Fase awal terjadi dalam 5–15 menit setelah paparan alergen, ditandai oleh degranulasi sel mast dan pelepasan histamin. Enam hingga empat jam kemudian, fase lambat dimulai — gelombang kedua inflamasi yang melibatkan eosinofil, limfosit T, dan basofil yang direkrut ke mukosa, memperpanjang dan memperberat gejala.

Pada catarrh kronis, mekanisme ini terjadi secara berulang-ulang sehingga mengakibatkan remodeling mukosa — perubahan permanen pada arsitektur jaringan, termasuk hiperplasia sel goblet (goblet cell hyperplasia), penebalan membran basalis, dan dalam kasus berat, pembentukan polip.


Faktor Risiko dan Pemicu

Berbagai faktor dapat memicu atau memperburuk catarrh:

Alergen: Tungau debu rumah (house dust mite), serbuk sari, bulu hewan peliharaan, dan jamur adalah alergen utama yang memicu catarrh alergi. Di Indonesia, tungau debu rumah (Dermatophagoides pteronyssinus dan D. farinae) merupakan alergen dominan.

Infeksi virus: Rhinovirus, coronavirus, adenovirus, dan berbagai virus pernapasan lainnya adalah penyebab terbanyak catarrh akut. De Corso et al. (2020) menunjukkan bahwa rinitis alergi sendiri dapat melemahkan pertahanan mekanik dan imunologis mukosa hidung terhadap virus, sehingga pasien alergi lebih rentan terhadap infeksi saluran napas atas.

Polutan dan iritan: Asap rokok, polusi udara, bahan kimia industri, dan bahkan perubahan suhu mendadak dapat memicu respons inflamasi mukosa tanpa perantaraan mekanisme alergi (rinitis non-alergi).

Obat-obatan: Beberapa obat, termasuk angiotensin-converting enzyme inhibitor (ACE inhibitor) dan beberapa obat lainnya, dapat menyebabkan hipersekresi mukosa dan batuk kronik sebagai efek samping (Ding et al., 2020).

Faktor genetik: Riwayat atopi dalam keluarga merupakan faktor risiko terkuat untuk rinitis alergi.


Gejala Klinis: Lebih dari Sekadar Hidung Meler

Gejala catarrh bergantung pada jenis, lokasi, dan keparahan kondisi yang mendasarinya:

  • Hidung: Rhinorrhea (lendir encer pada fase alergi/viral, atau kental pada fase infeksi bakteri), sumbatan hidung, bersin-bersin, gatal.
  • Tenggorokan dan faring: Sensasi “ada yang mengalir” di belakang tenggorokan (postnasal drip), rasa tidak nyaman, tenggorokan terasa berlendir terutama di pagi hari.
  • Batuk: Batuk kronik, terutama malam hari atau saat berbaring, adalah gejala khas UACS.
  • Telinga: Disfungsi tuba Eustachius, rasa penuh di telinga, dan penurunan pendengaran ringan dapat menyertai catarrh kronis.
  • Sinus: Tekanan atau nyeri pada wajah, sakit kepala, dan pada kasus berat, penurunan atau hilangnya kemampuan mencium (hiposmia/anosmia).
  • Gejala sistemik: Pada catarrh akut oleh infeksi viral, gejala umum seperti lemas, nyeri otot, dan demam ringan dapat menyertai.

Diagnosis: Dari Riwayat Medis hingga Endoskopi

Karena catarrh merupakan gejala dari berbagai kondisi, diagnosis yang tepat memerlukan pendekatan sistematik. Atipas et al. (2025) menekankan bahwa evaluasi klinis komprehensif tetap menjadi landasan diagnosis, dengan pertimbangan terhadap endotype penyakit (subtipe biologis berdasarkan mekanisme imunologis) untuk panduan terapi yang lebih terarah.

Anamnesis (riwayat medis) yang teliti mencakup: durasi dan pola gejala, faktor pencetus yang dikenali, riwayat atopi pribadi dan keluarga, paparan lingkungan kerja, serta daftar obat-obatan yang dikonsumsi.

Pemeriksaan fisik meliputi pemeriksaan rinoskopi anterior, inspeksi orofaring, dan pada kasus yang lebih kompleks, endoskopi nasal untuk visualisasi langsung mukosa, muara sinus, dan nasofaring.

Pemeriksaan penunjang dapat meliputi: uji tusuk kulit (skin prick test) atau uji IgE spesifik untuk konfirmasi sensitisasi alergen; hitung darah lengkap untuk menilai kadar eosinofil; pemeriksaan sitologi nasal; dan pencitraan (CT-scan sinus) untuk evaluasi komplikasi atau ekstensi penyakit ke sinus.

Pada kasus batuk kronik yang diduga UACS, Donaldson (2022) mencatat bahwa tidak ada pemeriksaan penunjang objektif yang definitif untuk diagnosis UACS — diagnosis dikonfirmasi secara retrospektif berdasarkan respons terapi.


Tatalaksana: Strategi Berbasis Penyebab

Tata Laksana Catarrh Akut (Common Cold)

Infeksi viral yang mendasari catarrh akut tidak memerlukan antibiotik. Tata laksana bersifat simtomatik dan suportif. Smith et al. (2023) merekomendasikan pendekatan berbasis preferensi pasien antara obat kimia sintetis dan bahan tanaman (plant-derived substances). Pilihan terapi simtomatik meliputi:

  • Dekongestan (pseudoefedrin, oksimetazolin topikal) untuk meredakan sumbatan hidung, dengan catatan penggunaan topikal dibatasi maksimal 3–5 hari untuk mencegah rhinitis medicamentosa.
  • Antihistamin generasi pertama (seperti klorfeniramin) yang selain efek antihistamin juga memiliki efek antikolinergik untuk mengurangi rhinorrhea.
  • Analgesik/antipiretik untuk demam dan nyeri.
  • Irigasi nasal salin — terbukti aman dan efektif untuk membersihkan lendir dan meningkatkan mucociliary clearance.
  • Zinc: Tinjauan sistematis Cochrane oleh Nault et al. (2024) yang menganalisis 34 uji klinis acak terkontrol (8.526 peserta) menemukan bahwa suplemen zinc mungkin memberikan manfaat kecil dalam mempersingkat durasi common cold, meskipun bukti masih bersifat terbatas (low-certainty evidence) dan penggunaannya meningkatkan risiko efek samping non-serius seperti mual dan rasa tidak enak di mulut.

Tata Laksana Rinitis Alergi

Berdasarkan panduan ARIA dan praktik klinis terkini, tata laksana rinitis alergi melibatkan tiga pilar utama:

1. Penghindaran alergen (allergen avoidance): Langkah pertama dan terpenting adalah mengidentifikasi serta mengurangi paparan terhadap alergen pencetus. Penggunaan penutup kasur anti-tungau, pembersihan rutin, dan perbaikan ventilasi rumah merupakan tindakan penghindaran yang paling relevan di Indonesia.

2. Farmakoterapi:

  • Kortikosteroid intranasal (intranasal corticosteroids/INCs) — seperti flutikason, mometason, budesonid — adalah farmakoterapi lini pertama untuk rinitis alergi sedang-berat dan persisten. Bekerja dengan menghambat kaskade inflamasi Th2 secara lokal dengan efek sistemik yang sangat minimal.
  • Antihistamin H1 generasi kedua (cetirizin, loratadin, fexofenadin, bilastin) untuk gejala gatal, bersin, dan rhinorrhea; lebih dipilih dibanding generasi pertama karena tidak menyebabkan kantuk bermakna.
  • Kombinasi antihistamin dan dekongestan oral untuk UACS, sebagaimana direkomendasikan Donaldson (2022).
  • Antileukotrien (montelukast) sebagai terapi tambahan, terutama pada pasien dengan asma komorbid.

3. Imunoterapi alergen (allergen immunotherapy/AIT): Satu-satunya modalitas yang berpotensi mengubah perjalanan alamiah penyakit. Tersedia dalam bentuk suntikan subkutan (subcutaneous immunotherapy/SCIT) dan sublingual (sublingual immunotherapy/SLIT). Mekanismenya adalah menginduksi toleransi imunologis jangka panjang terhadap alergen spesifik.

Tata Laksana Rinosinusitis Kronis dan CRS dengan Polip Hidung

Untuk CRSwNP, Bachert et al. (2021) menyoroti bahwa pendekatan konvensional — kortikosteroid sistemik dan topikal serta bedah sinus endoskopik fungsional (functional endoscopic sinus surgery/FESS) — seringkali berkaitan dengan rekurensi polip dan efek samping kortikosteroid jangka panjang. Terapi biologis (biologic therapy) — terutama dupilumab (anti-IL-4Rα) yang telah mendapat persetujuan regulasi di berbagai negara — menandai era baru dalam tata laksana CRSwNP berat yang refrakter terhadap terapi konvensional, dengan menarget langsung jalur inflamasi tipe 2.


Catarrh dalam Konteks Indonesia

Di Indonesia, kondisi yang secara historis disebut catarrh merupakan persoalan kesehatan yang sangat signifikan, meskipun sering dianggap remeh. Angka kejadian rinitis alergi di Indonesia mencapai 1,5–12,4% dan terus mengalami peningkatan setiap tahunnya, meskipun beberapa studi lokal menunjukkan angka yang lebih tinggi. Belum ada data prevalensi nasional yang komprehensif, namun rinitis alergi diperkirakan sebagai penyakit alergi terbanyak pada anak-anak di kota besar Indonesia, diikuti oleh dermatitis atopik dan asma.

Alergen utama rinitis alergi di Indonesia adalah tungau debu rumah. Iklim tropis Indonesia yang lembab sepanjang tahun — berbeda dengan negara subtropis yang memiliki musim serbuk sari yang jelas — menciptakan lingkungan yang ideal bagi proliferasi tungau debu dan jamur sebagai alergen perennial yang konstan.

Faktor-faktor khas Indonesia yang memperburuk kondisi catarrh meliputi kualitas udara dalam ruangan yang buruk akibat penggunaan biomassa sebagai bahan bakar, terutama di pedesaan; polusi udara perkotaan yang tinggi; serta tingginya paparan asap rokok (Indonesia termasuk negara dengan prevalensi merokok tertinggi di dunia). Selain itu, perubahan suhu yang tiba-tiba antara lingkungan berpendingin (air conditioning) dan suhu luar yang panas juga merupakan iritan non-alergi yang umum memicu gejala kataral.

Dari perspektif layanan kesehatan primer, catarrh dalam berbagai bentuknya merupakan salah satu keluhan tersering di klinik dan puskesmas. Keluhan “pilek” dan “flu” yang berulang, terutama pada anak, seringkali mencerminkan rinitis alergi yang belum terdiagnosis atau tidak tertangani dengan baik — bukan sekadar infeksi berulang. Deteksi dini dan tata laksana yang tepat, termasuk edukasi pasien mengenai penghindaran alergen dan penggunaan farmakoterapi yang benar, merupakan langkah kritis yang sering terlewatkan.


Kapan Harus ke Dokter?

Meskipun catarrh akut umumnya bersifat self-limiting (sembuh sendiri) dalam 7–10 hari, beberapa tanda berikut mengindikasikan perlunya evaluasi medis lebih lanjut:

  • Gejala bertahan lebih dari 10 hari tanpa perbaikan, atau memburuk setelah sempat membaik (menandakan kemungkinan superinfeksi bakteri).
  • Demam tinggi (>38,5°C) yang persisten.
  • Lendir berwarna kuning-hijau kental yang signifikan, disertai nyeri wajah dan sakit kepala.
  • Batuk kronik yang berlangsung lebih dari 4 minggu pada anak, atau lebih dari 8 minggu pada dewasa.
  • Gangguan penciuman yang persisten.
  • Gejala yang berulang-ulang pada musim atau situasi tertentu (mengindikasikan rinitis alergi yang memerlukan penanganan definitif).
  • Gejala yang mengganggu aktivitas, tidur, atau kualitas hidup secara bermakna.

Kesimpulan

Catarrh adalah sebuah konsep medis kuno yang menggambarkan realitas klinis yang sangat relevan hingga hari ini: peradangan membran mukosa saluran napas yang mengakibatkan hipersekresi lendir. Di balik istilah yang tampak sederhana ini tersimpan mekanisme biologis yang kompleks — mulai dari ketidakseimbangan imunologi yang rumit, disfungsi epitel saluran napas, hingga sensitisasi neurogenik dari refleks batuk. Memahami catarrh berarti memahami bagaimana sistem pertahanan mukosa kita bekerja, mengapa ia bisa gagal, dan bagaimana ilmu kedokteran modern menawarkan berbagai strategi — dari terapi simtomatik sederhana hingga biologi molekuler bertarget — untuk memulihkannya.

Bagi pembaca di Indonesia, penting untuk tidak meremehkan catarrh yang berulang atau berkepanjangan sebagai “flu biasa” yang tidak memerlukan perhatian. Di baliknya bisa tersembunyi rinitis alergi yang tidak terdiagnosis, rinosinusitis kronis yang progresif, atau kondisi lain yang memerlukan tata laksana spesifik. Konsultasikan dengan tenaga kesehatan untuk mendapatkan evaluasi dan penanganan yang tepat.


Referensi

Atipas, K., Suwanwech, T., Kanjanawasee, D., Kasemsuk, N., & Tantilipikorn, P. (2025). Current perspectives on rhinitis, postnasal drip, and cough. Current Opinion in Otolaryngology & Head and Neck Surgery, 34(1), 1–7. https://doi.org/10.1097/MOO.0000000000001095

Bachert, C., Bhattacharyya, N., Desrosiers, M., & Khan, A. H. (2021). Burden of disease in chronic rhinosinusitis with nasal polyps. Journal of Asthma and Allergy, 14, 127–134. https://doi.org/10.2147/JAA.S290424

De Corso, E., Lucidi, D., Cantone, E., Ottaviano, G., Di Cesare, T., Seccia, V., Paludetti, G., & Galli, J. (2020). Clinical evidence and biomarkers linking allergy and acute or chronic rhinosinusitis in children: A systematic review. Current Allergy and Asthma Reports, 20(11), 68. https://doi.org/10.1007/s11882-020-00967-9

Ding, H., Shi, C., Xu, X., & Yu, L. (2020). Drug-induced chronic cough and the possible mechanism of action. Annals of Palliative Medicine, 9(5), 3562–3570. https://doi.org/10.21037/apm-20-819

Donaldson, A. M. (2022). Upper airway cough syndrome. Otolaryngologic Clinics of North America, 56(1), 147–155. https://doi.org/10.1016/j.otc.2022.09.011

Lucanska, M., Hajtman, A., Calkovsky, V., Kunc, P., & Pecova, R. (2020). Upper airway cough syndrome in pathogenesis of chronic cough. Physiological Research, 69(Suppl 1), S35–S42. https://doi.org/10.33549/physiolres.934400

Nault, D., Machingo, T. A., Shipper, A. G., Antiporta, D. A., Hamel, C., Nourouzpour, S., Konstantinidis, M., Phillips, E., Lipski, E. A., & Wieland, L. S. (2024). Zinc for prevention and treatment of the common cold. Cochrane Database of Systematic Reviews, 5, CD014914. https://doi.org/10.1002/14651858.CD014914.pub2

Smith, A., Kardos, P., Pfaar, O., Randerath, W., Estrada Riolobos, G., Braido, F., & Sadofsky, L. (2023). The treatment of mild upper respiratory tract infections — a position paper with recommendations for best practice. Drugs in Context, 12. https://doi.org/10.7573/dic.2023-4-2

Webster, M. J., & Tarran, R. (2018). Slippery when wet: Airway surface liquid homeostasis and mucus hydration. Current Topics in Membranes, 81, 293–335. https://doi.org/10.1016/bs.ctm.2018.08.004

Weinberger, M., & Hurvitz, M. (2020). Diagnosis and management of chronic cough: Similarities and differences between children and adults. F1000Research, 9. https://doi.org/10.12688/f1000research.25468.1

Xiong, Y., Wang, F., Hu, G., Xiao, T., Wu, W., Zhu, X., Li, T., & Zhu, Z. (2026). Th17/Treg cell imbalance in allergic rhinitis: Mechanisms and therapeutic implications. Genes and Immunity. https://doi.org/10.1038/s41435-026-00378-2


Artikel ini disusun untuk tujuan edukasi kesehatan. Apabila Anda mengalami gejala yang dibahas dalam artikel ini, konsultasikan dengan dokter atau tenaga kesehatan terdekat untuk mendapatkan diagnosis dan tata laksana yang tepat.

Commenting 101: “Be kind, and respect each other” // Bersikaplah baik, dan saling menghormati (Indonesian) // Soyez gentils et respectez-vous les uns les autres (French) // Sean amables y respétense mutuamente (Spanish) // 待人友善,互相尊重 (Chinese) // كونوا لطفاء واحترموا بعضكم البعض (Arabic) // Будьте добры и уважайте друг друга (Russian) // Seid freundlich und respektiert einander (German) // 親切にし、お互いを尊重し合いましょう (Japanese) // दयालु बनें, और एक दूसरे का सम्मान करें (Hindi) // Siate gentili e rispettatevi a vicenda (Italian)

Tinggalkan komentar