Campak bukan sekadar penyakit masa kecil yang sederhana. Di balik ruam kemerahan dan demam tinggi yang tampak familier, virus ini menyimpan kemampuan penularan yang membuat para ahli epidemiologi menyebutnya sebagai salah satu patogen paling menular yang pernah dikenal manusia. Dengan basic reproduction number (R₀) antara 12 hingga 18 — artinya satu orang yang terinfeksi bisa menularkan ke 12–18 orang lain di populasi yang belum kebal — campak terus memicu wabah di berbagai penjuru dunia, diperparah oleh penurunan cakupan vaksinasi akibat gangguan pandemi COVID-19.
Dari 2022 hingga 2023, cakupan dosis pertama vaksin campak (MCV1) secara global stagnan di 83%, sementara estimasi kasus campak meningkat 20% dan jumlah negara yang terdampak wabah besar bertambah dari 36 menjadi 57 negara. Di Indonesia, situasinya tidak lebih baik. Tahun 2022 tercatat lebih dari 4.800 kasus campak konfirmasi, meningkat menjadi lebih dari 10.600 kasus pada 2023, dengan 95 Kejadian Luar Biasa (KLB) yang dilaporkan pada tahun tersebut.
Dalam konteks inilah pertanyaan tentang triase campak di fasilitas kesehatan menjadi sangat relevan. Bagaimana rumah sakit di negara-negara dengan sumber daya berbeda menerapkan protokol triase? Dan apa yang bisa dipelajari dari perbedaan tersebut?
Mengapa Triase Campak Memerlukan Pendekatan Khusus
Campak menular melalui jalur airborne — partikel virus melayang di udara dan dapat bertahan hingga dua jam setelah penderita meninggalkan ruangan. Inilah yang membedakan campak dari banyak penyakit infeksi lain yang menular secara droplet (percikan langsung) atau kontak.
Prosedur triase di rumah sakit besar jarang mempertimbangkan risiko infeksi dari pasien dalam fase prodromal kepada pasien lain dan petugas kesehatan, kecuali jika wabah sudah memicu kewaspadaan di antara staf. Ini berpotensi menyebabkan pasien dengan kemungkinan campak dirawat di bangsal umum tanpa tindakan pencegahan infeksi, yang memicu penularan dari pasien ke pasien maupun dari pasien ke tenaga kesehatan.
Fase prodromal campak berlangsung 2–4 hari sebelum munculnya ruam — justru saat daya tular paling tinggi — dan ditandai dengan demam tinggi disertai 3C: cough (batuk), coryza (pilek), dan conjunctivitis (mata merah). Pasien yang datang ke IGD dalam fase ini kerap tidak teridentifikasi sebagai suspek campak, terutama di negara yang kasus campaknya jarang.
Bahkan saat tes diagnostik cepat sudah tersedia, jeda waktu antara kedatangan dan penegakan diagnosis tidak terpantau dan dapat mengakibatkan pajanan campak yang signifikan pada petugas kesehatan dan pasien IGD lainnya.
Protokol Triase di Negara Maju: Standar Ideal
Triase Sebelum Kunjungan (Pre-visit Triage)
Negara-negara dengan sistem kesehatan yang terstruktur baik menerapkan pre-visit triage sebagai lapis pertama penyaringan. Triase melalui telepon sebelum kunjungan harus dilakukan oleh tenaga terlatih yang dapat menilai risiko pajanan. Keluarga diarahkan untuk tiba melalui pintu samping atau belakang fasilitas — bukan pintu utama — dan instruksikan pengasuh serta pasien (usia ≥2 tahun) untuk mengenakan masker.
Ini bukan prosedur kecil. Dengan R₀ campak yang sangat tinggi, seorang pasien yang berjalan melalui ruang tunggu IGD dapat memaparkan puluhan orang dalam hitungan menit — termasuk bayi di bawah usia 9 bulan yang belum bisa divaksin, serta pasien imunokompromais.
Identifikasi dan Isolasi Segera di IGD
Orang dengan tanda atau gejala campak harus diidentifikasi, diberikan masker bedah, dan dipisahkan dari pasien lain sebelum atau sesegera mungkin setelah memasuki fasilitas kesehatan. Pasang visual alert dalam berbagai bahasa tentang kebersihan pernapasan, etiket batuk, dan kebersihan tangan di pintu masuk dan area umum fasilitas.
Triase cepat dan pemindahan kasus suspek campak ke ruang isolasi yang ditentukan adalah hal yang esensial. Ini mencakup kepatuhan terhadap Standard Precautions dan Airborne Precautions untuk pasien dengan dugaan atau konfirmasi campak, penggunaan respirator N-95, serta evaluasi pasien dengan pemeriksaan konfirmasi — usap tenggorok atau nasofaring untuk RT-PCR, dan serum untuk uji IgM campak.
Airborne Infection Isolation Room (AIIR)
Standar ideal yang direkomendasikan CDC mengharuskan pasien campak ditempatkan di ruang isolasi khusus airborne (AIIR). AIIR yang direkomendasikan CDC/HICPAC adalah ruang isolasi tunggal dengan ventilasi mekanik menggunakan high-efficiency particulate air (HEPA) filter industri dengan efisiensi 99,99% dalam menyaring partikel ukuran 0,3 mikrometer.
Jika AIIR tidak tersedia, pasien dapat ditempatkan di ruang pemeriksaan tunggal dengan pintu tertutup, atau dievaluasi di luar ruangan jauh dari pasien lain. Hanya staf dan pengunjung esensial yang boleh memasuki ruang pasien. Staf yang tidak diketahui imun terhadap campak tidak boleh memasuki ruangan tersebut.
Isolasi Pasca Rawat Inap
Isolasi pasien campak harus berlanjut hingga empat hari setelah munculnya ruam. Sementara itu, pasien yang terpapar tanpa bukti imunitas memerlukan pemantauan aktif.
Pasien yang terpapar tanpa bukti imunitas yang presumptif terhadap campak harus ditempatkan dalam Airborne Precautions mulai hari ke-5 setelah pajanan pertama hingga hari ke-21 setelah pajanan terakhir, atau hingga dipulangkan jika lebih awal.
Pelajaran dari Wabah Birmingham 2023–2024
Data dunia nyata dari wabah campak besar di Inggris memberikan gambaran konkret tentang beban yang harus ditanggung fasilitas kesehatan. Selama wabah di Birmingham Children’s Hospital antara Oktober 2023 dan Juni 2024, 366 pasien anak datang ke IGD dan dites campak. Dari 161 kasus terkonfirmasi, 40 (25%) berusia di bawah 1 tahun, dan 32% dari kasus terkonfirmasi mengunjungi IGD lebih dari sekali dalam 21 hari sebelum dites.
Temuan ini menyoroti dua hal penting: pertama, bahwa IGD menjadi titik temu antara kasus campak dan populasi rentan; dan kedua, bahwa kunjungan berulang sebelum diagnosis memperlama jendela penularan di fasilitas kesehatan.
Triase Campak di Negara Berkembang: Kesenjangan dan Adaptasi
Hambatan Struktural yang Nyata
Standar ideal yang diterapkan di Amerika Serikat atau Eropa Barat tidak serta-merta dapat direplikasi di negara-negara dengan keterbatasan sumber daya. Ada beberapa hambatan utama:
Ketersediaan AIIR. Ruang isolasi airborne dengan ventilasi mekanik dan filter HEPA merupakan investasi infrastruktur yang mahal. Banyak rumah sakit di negara berkembang — bahkan rumah sakit tingkat tersier — tidak memiliki AIIR yang memadai.
Sistem triase yang belum terintegrasi. Prosedur triase di rumah sakit besar jarang mempertimbangkan risiko infeksi dari pasien prodromal kepada pasien lain dan staf, kecuali wabah sudah memantik kekhawatiran di antara staf. Risiko di pusat kesehatan tersier multispesialisasi semakin berlipat ganda akibat kemungkinan penularan ke pasien imunokompromais, ibu hamil, dan staf yang tidak kebal.
Kelangkaan tenaga terlatih. Triase yang efektif membutuhkan tenaga kesehatan yang mampu mengenali tanda-tanda prodromal campak. Di banyak negara berkembang, dokter internist atau dokter jaga mungkin jarang bertemu kasus campak sehingga kewaspadaan klinis dapat menurun.
Adaptasi Berdasarkan Bukti untuk Setting Sumber Daya Terbatas
Tinjauan sistematik mengenai kesiapsiagaan rumah sakit pada wabah campak di lingkungan terbatas merekomendasikan beberapa adaptasi praktis:
Rumah sakit dapat mengurangi risiko pajanan dengan mewajibkan triase dipercepat dan diagnosis pada semua pasien di klinik dan IGD yang memiliki riwayat demam (atau demam saat datang) dengan atau tanpa ruam. Pencegahan transmisi dapat dicapai dengan memvaksinasi staf kesehatan dan mengisolasi setiap kasus dengan airborne precautions.
Selain itu, pendekatan ventilasi alami dapat menjadi alternatif ketika AIIR tidak tersedia:
Ventilasi silang alami (natural cross-ventilation): Ruangan dengan jendela yang membuka ke arah berlawanan — memanfaatkan angin alami — dapat menciptakan pertukaran udara yang memadai. Meskipun tidak setara dengan AIIR, pendekatan ini secara bermakna mengurangi konsentrasi partikel airborne dibandingkan ruangan tertutup tanpa ventilasi.
Evaluasi di luar ruangan (outdoor triage): Menempatkan stasiun triase di area terbuka atau area semi-terbuka di luar gedung utama adalah strategi berbiaya rendah namun efektif untuk meminimalkan penularan nosokomial di lingkungan yang tidak memiliki AIIR.
Masker bedah sebagai lapis pertama: Meskipun tidak seoptimal respirator N-95, masker bedah yang dipasang segera pada pasien dengan kecurigaan campak menurunkan dispersi partikel virus ke udara sekitar dan harus tersedia di titik masuk fasilitas.
Konteks Indonesia: Antara Kebutuhan Mendesak dan Keterbatasan Sistem
Situasi Terkini
Indonesia berada dalam situasi yang menuntut respons triase yang kuat namun harus beradaptasi dengan realitas fasilitas kesehatan yang beragam. Pada 2025, hingga Agustus telah tercatat lebih dari 3.400 kasus dan 46 KLB campak, dengan kelompok usia terbanyak adalah anak 1–4 tahun (53%) dan anak 5–9 tahun (29%). Penyebab utamanya adalah cakupan imunisasi campak-rubela (MR) dosis pertama (MR1) sebesar 92% dan dosis kedua (MR2) baru 82,3% pada 2024 — jauh dari target 95% untuk mencapai kekebalan komunal.
Terbaru, Kementerian Kesehatan RI menerbitkan Surat Edaran Nomor HK.02.02/C/1602/2026 dan menginstruksikan seluruh manajemen rumah sakit untuk memperketat skrining dan triase sejak pasien tiba, menyiapkan ruang isolasi, memastikan ketersediaan APD, serta memperkuat pencegahan dan pengendalian infeksi (PPI). Kemenkes juga menetapkan kewajiban pelaporan cepat, di mana setiap kasus suspek campak harus dilaporkan maksimal 24 jam melalui sistem surveilans nasional.
Apa yang Diwajibkan SE Kemenkes 2026
Berdasarkan SE tersebut, rumah sakit diwajibkan melakukan skrining dan triase dini terhadap pasien dengan gejala campak atau riwayat kontak dengan kasus campak di berbagai titik pelayanan: pintu masuk rumah sakit, instalasi gawat darurat, rawat jalan, dan rawat inap. Rumah sakit juga diwajibkan menetapkan mekanisme penatalaksanaan bagi tenaga medis yang terpapar, bergejala, suspek, atau terkonfirmasi campak — termasuk pelaporan internal, pemantauan, pemeriksaan, penelusuran kontak, dan pembatasan bekerja sesuai ketentuan.
Regulasi ini juga mewajibkan pengawasan melalui tim Pencegahan dan Pengendalian Infeksi (PPI), Kesehatan dan Keselamatan Kerja Rumah Sakit (K3RS), serta unit mutu dan keselamatan pasien.
Tantangan Implementasi di Tingkat Rumah Sakit
Meskipun regulasi sudah ada, implementasi di lapangan menghadapi beberapa tantangan nyata:
Heterogenitas kapasitas fasilitas. Rumah sakit tipe A di kota besar dengan AIIR dan sistem ventilasi mekanik memiliki kapasitas yang sangat berbeda dibandingkan rumah sakit tipe C atau D di kabupaten terpencil. Surat edaran yang bersifat umum perlu diterjemahkan ke dalam SOP yang disesuaikan dengan kapasitas masing-masing fasilitas.
Kesadaran klinis terhadap campak. Di era pasca-vaksinasi, dokter muda mungkin tidak pernah melihat kasus campak langsung. Pola “3C + demam + ruam” perlu dimasukkan kembali ke dalam algoritma skrining aktif di IGD, bukan hanya menunggu pasien menyebutkan riwayat kontak campak.
Ketersediaan APD yang memadai. Penggunaan respirator N-95 secara rutin untuk semua suspek campak membutuhkan logistik yang tidak selalu terjamin. Prioritisasi penggunaan N-95 untuk prosedur berisiko tinggi sambil memastikan masker bedah tersedia di titik triase adalah kompromi pragmatis yang dapat diterapkan.
Integrasi Triase dalam Sistem Pencegahan Infeksi Menyeluruh
Triase campak tidak berdiri sendiri — ia merupakan bagian dari sistem pencegahan dan pengendalian infeksi (PPI) yang komprehensif. Efektivitas triase bergantung pada:
Kompetensi staf triase. Perawat dan dokter yang bertugas di titik triase harus terlatih mengenali tanda prodromal campak dan memahami eskalasi protokol isolasi. Pelatihan berkala dengan skenario simulasi kasus dapat menjaga kewaspadaan klinis.
Alur pasien yang jelas. Protokol tertulis tentang ke mana pasien suspek campak diarahkan, siapa yang boleh memasuki ruang isolasi, dan kapan spesimen diagnostik harus diambil, harus tersedia dan mudah diakses oleh seluruh staf.
Komunikasi pra-kedatangan. Untuk pasien dengan tanda atau gejala campak, berikan instruksi sebelum kedatangan — termasuk pintu masuk mana yang harus digunakan dan tindakan pencegahan yang perlu diambil. Petugas ambulans harus memberitahu fasilitas penerima sebelumnya saat mengangkut pasien dengan dugaan campak.
Sistem surveilans yang responsif. Triase yang baik hanya bermakna jika terhubung dengan sistem pelaporan yang berfungsi. Kemenkes mewajibkan pelaporan dalam 24 jam — ini bukan hanya kewajiban administratif, melainkan prasyarat agar respons epidemiologis dapat dimulai tepat waktu.
Penutup: Dua Dunia, Satu Prinsip
Di Amerika Serikat, triase campak berarti ruang AIIR bertekanan negatif, protokol yang terkomputerisasi, dan notifikasi otomatis ke dinas kesehatan. Di rumah sakit kabupaten di Indonesia, triase campak bisa berarti perawat terlatih di pintu masuk IGD yang mengenali “3C + demam + ruam”, memasangkan masker bedah, dan membawa pasien ke ruangan berventilasi baik yang jauh dari pasien lain.
Kesenjangan infrastruktur itu nyata dan tidak dapat diabaikan. Namun prinsip yang mendasarinya identik: identifikasi dini, pisahkan segera, lindungi yang lain. Inisiatif kesehatan masyarakat dan layanan primer yang mendesak dibutuhkan di semua negara untuk meningkatkan kesadaran tentang bahaya infeksi campak dan pentingnya kepatuhan terhadap program vaksinasi.
Triase yang efektif bukan hanya tentang fasilitas fisik — ia tentang sistem, budaya kewaspadaan, dan kesiapan tenaga kesehatan untuk bertindak cepat ketika seorang pasien demam dengan mata merah berdiri di depan meja skrining.
Daftar Referensi
Blutinger, E., Schmitz, G., Kang, C., Comp, G., Wagner, E., Finnell, J. T., Cozzi, N., & Haddock, A. (2023). Measles: Contemporary considerations for the emergency physician. Journal of the American College of Emergency Physicians Open, 4(5), e13032. https://doi.org/10.1002/emp2.13032
California Department of Public Health. (2024). Measles healthcare exposure investigation quicksheet. https://www.cdph.ca.gov/Programs/CID/DCDC/CDPH%20Document%20Library/Immunization/Measles-HCFacilityICRecs.pdf
Centers for Disease Control and Prevention. (2024). Interim infection prevention and control recommendations for measles in healthcare settings. https://www.cdc.gov/infection-control/hcp/measles/index.html
Centers for Disease Control and Prevention. (2024). Progress toward measles elimination — worldwide, 2000–2023. Morbidity and Mortality Weekly Report, 73(45), 1010–1017. https://doi.org/10.15585/mmwr.mm7345a4
Farooqui, H., Zodpey, S., Thacker, N., & Pandey, A. (2015). Hospital preparedness in community measles outbreaks—challenges and recommendations for low-resource settings. Emerging Health Threats Journal, 8(1), 24173. https://doi.org/10.3402/ehtj.v8.24173
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2026, 27 Maret). Surat Edaran Nomor HK.02.02/C/1602/2026 tentang kewaspadaan terhadap penyakit campak bagi tenaga medis dan tenaga kesehatan. https://www.kemkes.go.id
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2025, 27 Agustus). KLB campak meningkat, Kemenkes ingatkan pentingnya imunisasi lengkap. https://kemkes.go.id/id/klb-campak-meningkat-kemenkes-ingatkan-pentingnya-imunisasi-lengkap
Parums, D. V. (2024). A review of the resurgence of measles, a vaccine-preventable disease, as current concerns contrast with past hopes for measles elimination. Medical Science Monitor, 30, e944436. https://doi.org/10.12659/MSM.944436
Saunderson, R., Edge, L., Holden, V., Patel, V., Parslow, R., & Ramsden, S. (2025). Impact of a measles outbreak on a UK children’s emergency department and the public health response: A retrospective observational study. Journal of Hospital Infection. https://doi.org/10.1016/j.jhin.2025.01.017
World Health Organization. (2022). Measles outbreak guide. https://www.who.int/publications/i/item/9789240052079
Artikel ini ditujukan untuk tujuan edukasi dan informasi umum. Untuk penanganan medis, selalu konsultasikan dengan dokter atau tenaga kesehatan yang berkompeten. Protokol triase yang spesifik dapat bervariasi sesuai kebijakan fasilitas kesehatan masing-masing.

Tinggalkan komentar