A Cahya Legawa's Les pèlerins au-dessus des nuages

Hampir setiap orang Indonesia pernah mendengar—bahkan mengalami—panu, kadas, atau kurap. Ketiganya adalah penyakit kulit yang sangat umum, terutama di daerah tropis dan subtropis seperti Indonesia, di mana suhu tinggi dan kelembapan udara menciptakan kondisi yang ideal bagi pertumbuhan jamur. Namun, meski akrab di telinga, banyak orang masih mencampuradukkan ketiga kondisi ini, bahkan mengobatinya secara keliru.

Artikel ini membahas panu, kadas, dan kurap secara lengkap: apa penyebabnya, bagaimana gejalanya, cara membedakannya, serta pilihan pengobatan berdasarkan bukti ilmiah terkini.


Panu: Bercak Putih yang Sering Disalahira sebagai Vitiligo

Apa Itu Panu?

Panu dalam dunia medis dikenal sebagai pityriasis versicolor (atau tinea versicolor). Berbeda dengan kadas dan kurap, panu bukan disebabkan oleh jamur dermatofita, melainkan oleh ragi (yeast) dari genus Malassezia—terutama spesies Malassezia globosa dan Malassezia furfur. Menariknya, jamur ini sebenarnya merupakan penghuni normal kulit manusia. Malassezia hanya menjadi masalah ketika kondisi tertentu memicunya untuk tumbuh berlebihan dan mengubah karakteristiknya dari organisme komensal menjadi patogen (Sasikumar et al., 2025).

Mengapa Kulit Bisa Berubah Warna?

Perubahan warna kulit pada panu terjadi karena Malassezia menghasilkan asam azelat dan metabolit lain yang menghambat enzim tirosinase—enzim kunci dalam produksi melanin. Akibatnya, area kulit yang terinfeksi menghasilkan lebih sedikit pigmen sehingga terlihat lebih terang (hipopigmentasi). Pada beberapa kasus, justru terjadi hiperpigmentasi ringan dengan bercak kemerahan atau kecokelatan. Warna yang beragam inilah yang menjadi dasar nama ilmiahnya: versicolor yang berarti “beragam warna.”

Siapa yang Berisiko?

Panu paling sering menyerang kelompok usia muda dan produktif, terutama pada dekade kedua dan ketiga kehidupan. Beberapa faktor yang meningkatkan risiko meliputi (Andersen et al., 2025; Chang & Stein, 2024):

  • Iklim panas dan lembap: Kelembapan tinggi mempercepat pertumbuhan Malassezia
  • Kulit berminyak: Malassezia bergantung pada lipid sebagai sumber energi utamanya, sehingga kulit dengan produksi sebum tinggi lebih rentan
  • Keringat berlebihan (hiperhidrosis)
  • Penggunaan pakaian ketat atau tidak menyerap keringat
  • Sistem imun yang lemah: penderita HIV/AIDS, pengguna kortikosteroid jangka panjang, atau pasien transplantasi organ memiliki risiko lebih tinggi
  • Faktor genetik: riwayat keluarga dengan panu meningkatkan kecenderungan

Di negara-negara Skandinavia, prevalensi panu berkisar antara 0,5–4% (Andersen et al., 2025). Di wilayah tropis seperti Indonesia, prevalensinya diperkirakan jauh lebih tinggi, mengingat kondisi iklim yang sangat mendukung pertumbuhan Malassezia.

Gejala dan Tampilan Klinis

Panu biasanya muncul sebagai bercak dengan ciri-ciri berikut:

  • Lokasi: paling sering di dada, punggung, bahu, dan lengan atas—area tubuh yang kaya kelenjar sebum (sebaceous gland)
  • Warna: putih (pada kulit lebih gelap) atau merah muda hingga kecokelatan (pada kulit lebih cerah); bercak sering terlihat lebih jelas setelah berjemur karena area sehat lebih mudah menggelap
  • Skuama halus: bercak memiliki sisik tipis yang mudah terkelupas saat digores dengan kuku
  • Gatal ringan atau tidak ada: sebagian besar kasus tidak menimbulkan gatal yang bermakna, meskipun beberapa pasien melaporkan rasa gatal ringan terutama saat berkeringat

Diagnosis

Diagnosis panu umumnya ditegakkan secara klinis berdasarkan tampilan bercak yang khas. Untuk memastikan, dokter dapat melakukan pemeriksaan mikroskopis dengan larutan potassium hydroxide (KOH) dari kerokan kulit. Di bawah mikroskop, tampak gambaran yang disebut “meatball and spaghetti”—yaitu hifa pendek bercabang dan spora berkelompok yang merupakan ciri khas Malassezia (Andersen et al., 2025).

Pemeriksaan dengan lampu Wood (sinar ultraviolet) dapat memperlihatkan fluoresensi kuning kehijauan pada area yang terinfeksi, meskipun sensitivitasnya tidak sempurna.

Pengobatan

Pilihan utama pengobatan panu adalah antijamur topikal. Berdasarkan tinjauan sistematis dan meta-analisis (Genuino et al., 2024), beberapa pilihan yang terbukti efektif meliputi:

  • Sampo atau losion selenium sulfida 2,5%: diaplikasikan pada area yang terkena selama 10–15 menit kemudian dibilas, diulang beberapa hari
  • Ketokonazol 2% krim atau sampo: salah satu antijamur azol yang paling banyak digunakan untuk panu
  • Terbinafin topikal: efektif untuk kasus ringan hingga sedang
  • Zinc pyrithione: tersedia dalam formulasi sampo

Untuk kasus yang luas, rekuren, atau tidak responsif terhadap terapi topikal, antijamur oral seperti itrakonazol atau flukonazol dapat dipertimbangkan. Perlu dicatat bahwa bekas hipopigmentasi setelah infeksi teratasi tidak serta-merta menghilang dalam waktu singkat—produksi melanin yang normal baru pulih secara bertahap, seiring paparan sinar matahari.

Menariknya, Genuino et al. (2024) menemukan bahwa agen keratolik (seperti selenium sulfida) tidak berbeda bermakna efektivitasnya dibandingkan antijamur azol topikal dalam menyembuhkan panu, meskipun kualitas buktinya masih dinilai rendah dan perlu penelitian lebih lanjut.

Penting untuk dipahami: panu cenderung kambuh. Faktor-faktor predisposisi seperti iklim panas dan kulit berminyak tidak bisa dihilangkan sepenuhnya, sehingga penggunaan sampo antijamur secara berkala sebagai pencegahan (misalnya sebulan sekali) sering direkomendasikan untuk kasus rekuren.


Kadas dan Kurap: Ringworm yang Bukan Cacing

Meluruskan Istilah: Kadas, Kurap, dan Tinea

Dalam percakapan sehari-hari, “kadas” dan “kurap” kerap digunakan bergantian. Secara medis, keduanya termasuk dalam kelompok dermatofitosis atau tinea—infeksi jamur yang disebabkan oleh sekelompok jamur berfilamen yang disebut dermatofita. Tiga genus utama dermatofita yang menginfeksi manusia adalah Trichophyton, Microsporum, dan Epidermophyton.

Istilah “tinea” kemudian diberi label sesuai lokasi infeksinya:

Nama MedisLokasiNama Populer
Tinea corporisBadan/badanKadas/kurap
Tinea capitisKepala/rambutKurap kepala
Tinea crurisSelangkanganKadas selangkangan
Tinea pedisKakiKutu air
Tinea unguiumKukuKurap kuku
Tinea facieiWajahKadas wajah

Dalam artikel ini, fokus utama adalah tinea corporis (kadas/kurap badan) karena inilah yang paling sering dimaksud masyarakat awam dengan kata “kadas” atau “kurap.”

Penyebab dan Cara Penularan

Berbeda dengan panu yang disebabkan ragi komensal, kadas dan kurap disebabkan oleh dermatofita—jamur yang mampu mencerna keratin, protein struktural utama pada kulit, rambut, dan kuku (Hill et al., 2024). Inilah yang membuat dermatofita sangat pandai bertahan di jaringan-jaringan tersebut.

Penularan terjadi melalui beberapa jalur:

  • Kontak langsung dari manusia ke manusia (anthropophilic species): misalnya kontak kulit-ke-kulit dalam olahraga gulat, pergaulan dekat, atau tinggal serumah dengan penderita
  • Kontak dari hewan ke manusia (zoophilic species): menyentuh kucing, anjing, sapi, atau hewan peliharaan lain yang terinfeksi; jenis ini sering menimbulkan reaksi inflamasi lebih hebat
  • Kontak dari tanah (geophilic species): relatif jarang, dari tanah yang mengandung jamur
  • Penularan tidak langsung: melalui handuk, pakaian, atau peralatan yang terkontaminasi spora

Dermatofitosis memengaruhi sekitar 25% populasi global dan merupakan salah satu infeksi manusia paling umum di dunia (Hill et al., 2024). Di negara-negara tropis termasuk Indonesia, angka ini diperkirakan lebih tinggi karena kondisi iklim yang mendukung kelangsungan hidup spora jamur di lingkungan.

Faktor Risiko

Faktor yang meningkatkan risiko kadas dan kurap meliputi (Hill et al., 2024; Caplan et al., 2025):

  • Tinggal atau beraktivitas di lingkungan panas dan lembap
  • Pakaian ketat atau oklusif yang menghambat sirkulasi udara
  • Kebersihan diri yang kurang
  • Kontak dengan hewan peliharaan
  • Kondisi padat hunian
  • Sistem imun yang lemah (diabetes mellitus, HIV/AIDS, penggunaan imunosupresan)
  • Luka atau abrasi pada kulit
  • Berbagi barang pribadi seperti handuk atau pakaian

Gejala dan Tampilan Klinis

Tinea corporis memiliki gambaran klinis yang khas, meskipun bervariasi sesuai spesies penyebab dan respons imun penderita. Secara umum, ciri-cirinya meliputi:

  • Plak berbentuk annular (cincin): inilah asal mula nama “ringworm” dalam bahasa Inggris—meski tidak ada cacing di dalamnya. Lesi berbentuk lingkaran dengan tepi aktif yang menonjol, bersisik, dan kemerahan, sementara bagian tengah cenderung lebih jernih
  • Tepi yang menjalar: infeksi menyebar ke luar secara sentrifugal, sehingga bagian terluar selalu tampak paling aktif
  • Gatal: berbeda dengan panu, kadas dan kurap hampir selalu disertai gatal, terutama saat berkeringat
  • Sisik pada tepi lesi: sisik halus kemerahan atau kecokelatan pada pinggiran bercak
  • Ukuran bervariasi: dari beberapa sentimeter hingga dapat meluas ke area luas tubuh

Pada anak-anak, tinea capitis (kurap kepala) merupakan bentuk tersering. Gejalanya meliputi kerontokan rambut setempat, kerak atau sisik di kulit kepala, dan kadang pembengkakan nyeri yang disebut kerion (Caplan et al., 2025; Zha & Usatine, 2024).

Ada varian yang perlu diwaspadai: tinea incognito. Ini adalah istilah untuk kadas/kurap yang tampilannya sudah berubah karena penggunaan krim kortikosteroid tanpa pengawasan dokter. Gatal berkurang sementara, namun jamur terus berkembang dengan pesat. Bercak menjadi tidak khas, menyebar luas, dan jauh lebih sulit diobati (Hill et al., 2024). Inilah mengapa penggunaan krim kombinasi antijamur-kortikosteroid tanpa diagnosis yang tepat sangat tidak dianjurkan.

Diagnosis

Diagnosis kadas dan kurap umumnya ditegakkan secara klinis. Untuk kasus yang meragukan atau tidak responsif terhadap pengobatan, beberapa pemeriksaan dapat dilakukan (Caplan et al., 2025):

  • Pemeriksaan KOH: kerokan dari tepi lesi diperiksa di bawah mikroskop—tampak hifa bersepta yang membelah sel keratin
  • Kultur jamur: memerlukan waktu beberapa minggu tetapi dapat mengidentifikasi spesies secara tepat; penting untuk kasus yang dicurigai resisten
  • Lampu Wood: beberapa spesies Microsporum menunjukkan fluoresensi hijau kekuningan di bawah sinar UV
  • Pemeriksaan histopatologi dengan pewarnaan PAS (periodic acid-Schiff): untuk kasus yang tidak khas

Pengobatan

Kabar baiknya, sebagian besar kadas dan kurap pada badan merespons baik terhadap antijamur topikal (Caplan et al., 2025; Greener, 2025):

Antijamur topikal (lini pertama untuk kasus ringan-sedang):

  • Terbinafin 1% krim: efektivitas tinggi, durasi pengobatan relatif singkat (1–2 minggu)
  • Klotrimazol 1% krim: tersedia luas, efektif untuk sebagian besar dermatofita
  • Mikonazol 2% krim: pilihan yang umum digunakan
  • Ketokonazol 2% krim: efektif namun saat ini lebih jarang digunakan sebagai lini pertama karena kekhawatiran efek samping sistemik pada penggunaan luas

Pengobatan topikal umumnya dilanjutkan selama 2–4 minggu, bahkan setelah gejala tampak membaik, untuk mencegah kekambuhan.

Antijamur oral dipertimbangkan untuk (Caplan et al., 2025):

  • Infeksi yang luas atau parah
  • Keterlibatan folikel rambut
  • Pasien dengan sistem imun lemah
  • Tidak ada respons terhadap terapi topikal
  • Tinea capitis (selalu memerlukan pengobatan oral)

Pilihan antijamur oral meliputi terbinafin, itrakonazol, dan flukonazol, dengan durasi yang bervariasi sesuai lokasi dan keparahan infeksi.

Ancaman Resistensi Antijamur

Satu perkembangan yang perlu diperhatikan adalah munculnya laporan resistensi antijamur pada dermatofita. Dalam satu dekade terakhir, kasus dermatofitosis yang tidak merespons pengobatan standar semakin banyak dilaporkan, terutama dari anak benua India. Spesies Trichophyton indotineae yang memiliki karakteristik resistensi terhadap terbinafin telah mengkhawatirkan komunitas dermatologi global dan mulai dilaporkan di berbagai negara (Hill et al., 2024).

Praktik yang berkontribusi terhadap resistensi ini antara lain: penggunaan krim kombinasi antijamur-kortikosteroid yang dijual bebas secara tidak tepat, dosis yang tidak adekuat, dan ketidakpatuhan terhadap durasi pengobatan. Hal ini menjadi pengingat pentingnya diagnosis dan pengobatan yang tepat di bawah panduan tenaga kesehatan.


Membedakan Panu, Kadas, dan Kurap: Panduan Praktis

KarakteristikPanuKadas/Kurap
PenyebabMalassezia spp. (ragi)Dermatofita (Trichophyton, Microsporum, Epidermophyton)
Bentuk lesiBercak tidak beraturan, rataPlak annular (cincin), tepi aktif menonjol
WarnaPutih, merah muda, atau kecokelatanKemerahan di tepi, lebih terang di tengah
SkuamaHalus, mudah terkelupasDi tepi lesi, lebih jelas
GatalRingan atau tidak adaBiasanya ada, terutama saat berkeringat
Lokasi terseringDada, punggung, bahuBadan, kaki, selangkangan, wajah, kepala
PenularanTidak menular dari orang ke orangMenular melalui kontak langsung/tidak langsung
PengobatanAntijamur/keratolitik topikal; oral untuk kasus beratAntijamur topikal; oral untuk kasus berat/kurap kepala

Pencegahan: Lebih Baik daripada Mengobati

Infeksi jamur kulit sangat bisa dicegah dengan perubahan perilaku dan kebiasaan kebersihan. Langkah-langkah yang direkomendasikan meliputi:

Kebersihan diri:

  • Mandi secara teratur, terutama setelah berolahraga atau berkeringat
  • Mengeringkan tubuh secara menyeluruh setelah mandi, terutama di area lipatan (selangkangan, ketiak, sela-sela jari kaki)
  • Mengganti pakaian dalam dan kaus kaki setiap hari

Pilihan pakaian:

  • Gunakan pakaian berbahan menyerap keringat (katun) dan tidak terlalu ketat
  • Hindari berbagi handuk, pakaian, atau perlengkapan mandi dengan orang lain

Lingkungan:

  • Jaga kebersihan dan sirkulasi udara di dalam ruangan
  • Gunakan alas kaki di area umum seperti kolam renang atau kamar mandi umum

Hewan peliharaan:

  • Periksa hewan peliharaan secara berkala ke dokter hewan jika tampak ada kerontokan atau bercak mencurigakan pada kulitnya
  • Cuci tangan setelah memegang hewan peliharaan

Kapan Harus ke Dokter?

Meskipun panu, kadas, dan kurap sering dapat diobati sendiri dengan obat bebas, ada situasi di mana konsultasi ke dokter sangat dianjurkan:

  • Infeksi yang luas atau menyebar cepat
  • Tidak ada perbaikan setelah 2–4 minggu pengobatan topikal
  • Infeksi di wajah, kepala, atau kuku
  • Disertai gejala sistemik seperti demam atau pembengkakan kelenjar
  • Penderita diabetes, HIV/AIDS, atau kondisi yang melemahkan sistem imun
  • Bercak yang meragukan—bisa saja bukan infeksi jamur melainkan kondisi lain seperti psoriasis, eczema, atau bahkan vitiligo

Kesimpulan

Panu, kadas, dan kurap adalah tiga penyakit kulit yang disebabkan oleh jamur berbeda dan memiliki gambaran klinis yang berbeda pula—meski ketiganya sama-sama erat kaitannya dengan kondisi tropis, kelembapan, dan kebersihan diri. Panu disebabkan oleh Malassezia yang merupakan ragi komensal kulit, sementara kadas dan kurap disebabkan oleh dermatofita yang bersifat lebih invasif dan menular.

Ketiganya dapat disembuhkan dengan antijamur yang tepat. Namun, diagnosis yang benar sebelum memulai pengobatan sangat penting—terutama untuk menghindari kesalahan seperti penggunaan krim kortikosteroid yang justru memperburuk infeksi. Di era munculnya resistensi antijamur, penggunaan obat yang rasional dan sesuai panduan klinis menjadi semakin krusial.

Yang tak kalah penting adalah pencegahan: menjaga kebersihan diri, memilih pakaian yang tepat, dan memahami cara penularan adalah langkah sederhana namun efektif untuk menjauhkan diri dari ketiga kondisi ini.


Referensi

Andersen, P. L., Andersen, S. M. L., Henning, M. A. S., Svendsen, M. B., Astvad, K., Hald, M., Blomberg, M., & Saunte, D. M. L. (2025). Pityriasis versicolor. Ugeskrift for Laeger, 187(14). https://doi.org/10.61409/V10240670

Biswas, M. C., Mukherjee, K., Ghosh, S., Roy-Chowdhury, M., & Acharya, K. (2024). Natural products of plant origin: an emerging therapeutic for dermatomycosis. International Journal of Dermatology, 63(7), 858–872. https://doi.org/10.1111/ijd.17081

Caplan, A. S., Gold, J. A. W., Smith, D. J., & Ely, J. W. (2025). Diagnosis and management of tinea infections. American Family Physician, 112(4), 382–392.

Chang, C. H., & Stein, S. L. (2024). Malassezia-associated skin diseases in the pediatric population. Pediatric Dermatology, 41(5), 769–779. https://doi.org/10.1111/pde.15603

Genuino, R. N. F., Dofitas, B. L., Batac, M. C. F. R., Pascual, M. B. T. G., & Abrilla, A. A. (2024). Systematic review and meta-analysis on synthetic antifungal versus keratolytic agents for topical treatment of pityriasis versicolor. Acta Medica Philippina, 58(1), 64–78. https://doi.org/10.47895/amp.vi0.5605

Greener, M. (2025). Fungal infections: community nursing approaches to skin and nail care. British Journal of Community Nursing, 30(6), 274–278. https://doi.org/10.12968/bjcn.2025.0071

Hill, R. C., Caplan, A. S., Elewski, B., Gold, J. A. W., Lockhart, S. R., Smith, D. J., & Lipner, S. R. (2024). Expert panel review of skin and hair dermatophytoses in an era of antifungal resistance. American Journal of Clinical Dermatology, 25(3), 359–389. https://doi.org/10.1007/s40257-024-00848-1

Sasikumar, J., Ebrahim, R. A., & Das, S. P. (2025). Diverse colonisation and disease associations of the human commensal Malassezia: Our body’s secret tenant. Mycoses, 68(1), e70014. https://doi.org/10.1111/myc.70014

Zha, M., & Usatine, R. (2024). Common skin conditions in children and adolescents: nonbacterial infections. FP Essentials, 541, 20–26.


Artikel ini disusun untuk tujuan edukasi dan informasi kesehatan masyarakat. Seluruh informasi merujuk pada literatur ilmiah yang dipublikasikan. Konsultasikan kondisi kulit Anda dengan dokter atau tenaga kesehatan untuk diagnosis dan penanganan yang tepat.

Commenting 101: “Be kind, and respect each other” // Bersikaplah baik, dan saling menghormati (Indonesian) // Soyez gentils et respectez-vous les uns les autres (French) // Sean amables y respétense mutuamente (Spanish) // 待人友善,互相尊重 (Chinese) // كونوا لطفاء واحترموا بعضكم البعض (Arabic) // Будьте добры и уважайте друг друга (Russian) // Seid freundlich und respektiert einander (German) // 親切にし、お互いを尊重し合いましょう (Japanese) // दयालु बनें, और एक दूसरे का सम्मान करें (Hindi) // Siate gentili e rispettatevi a vicenda (Italian)

Tinggalkan komentar