Pak Wayan, seorang pedagang di Denpasar, selalu bersin belasan kali setiap bangun tidur. Hidungnya gatal, matanya berair, dan ingus bening mengalir sampai siang. Selama bertahun-tahun ia menyebutnya “pilek langganan” dan membeli obat flu di warung. Di Surabaya, seorang siswi SMP mengalami hal serupa sehingga sulit berkonsentrasi di kelas. Keduanya kemungkinan besar mengalami rinitis alergi, kondisi yang sangat umum tetapi sering salah dikenali.
Apa itu rinitis alergi?
Rinitis alergi adalah peradangan selaput lendir hidung yang dipicu reaksi kekebalan terhadap zat yang sebenarnya tidak berbahaya (alergen). Setelah paparan, tubuh yang sudah peka melepaskan histamin dan zat peradangan lain yang menimbulkan gejala khas: bersin berulang, hidung gatal, hidung berair, dan hidung tersumbat. Mata merah dan berair sering menyertai. Secara global, kondisi ini diperkirakan memengaruhi sekitar 10-30% orang dewasa dan lebih banyak lagi pada anak, dan jumlahnya cenderung meningkat seiring urbanisasi dan polusi udara.
Di Indonesia yang beriklim tropis, pemicu utamanya jarang berupa serbuk sari musiman seperti di negara empat musim. Yang lebih sering berperan adalah alergen sepanjang tahun: tungau debu rumah, bulu kucing atau anjing, kecoak, serta spora jamur di ruangan lembap. Asap rokok, asap kendaraan, dan debu jalanan memperburuk gejala, meski bukan alergen sejati.

Bagaimana membedakannya dari pilek biasa?
Pilek akibat virus biasanya sembuh dalam 7-10 hari dan disertai nyeri tenggorokan atau demam ringan. Rinitis alergi cenderung kambuh berulang, bertahan berminggu-minggu, dan lebih didominasi gatal serta bersin. Tabel berikut membantu membedakan keduanya.
| Ciri | Rinitis alergi | Pilek (infeksi virus) |
|---|---|---|
| Lama gejala | Berminggu-minggu, kambuh berulang | Sekitar 7-10 hari |
| Gatal hidung, mata, langit-langit | Menonjol | Jarang |
| Bersin berderet | Sering | Kadang |
| Ingus | Encer, bening | Bening lalu kental, bisa kekuningan |
| Demam, nyeri tenggorokan, pegal | Tidak ada | Dapat ada |
| Riwayat alergi atau asma di keluarga | Sering | Tidak berhubungan |
Klasifikasi yang dipakai pedoman ARIA membagi rinitis alergi menurut lamanya gejala (intermiten bila kurang dari 4 hari per minggu atau kurang dari 4 minggu, persisten bila lebih) dan menurut beratnya (ringan bila tidur, aktivitas, sekolah atau kerja tidak terganggu; sedang-berat bila terganggu). Pembagian ini menentukan pilihan obat.
Mengapa jangan disepelekan?
Rinitis alergi memang tidak mengancam nyawa, tetapi dampaknya nyata: tidur terganggu, mudah lelah, sulit fokus, dan produktivitas menurun. Kondisi ini juga berkaitan erat dengan asma; banyak penderita asma memiliki rinitis alergi, dan pengendalian hidung yang baik membantu pengendalian saluran napas bawah. Komplikasi lain meliputi sinusitis, radang telinga tengah pada anak, serta mendengkur dan napas lewat mulut. Karena itu, keluhan hidung yang menahun layak diperiksakan.
Bagaimana dokter menegakkan diagnosis?
Diagnosis terutama ditegakkan dari cerita keluhan dan pemeriksaan hidung: selaput lendir sering tampak pucat atau kebiruan dan bengkak. Tes alergi (uji tusuk kulit atau pemeriksaan IgE spesifik) berguna bila pemicunya tidak jelas, gejalanya berat, atau imunoterapi dipertimbangkan, tetapi tidak wajib pada setiap pasien. Hasil tes harus dicocokkan dengan riwayat paparan, sebab hasil positif tidak otomatis berarti alergen itu penyebab keluhan.
Pilihan terapi menurut pedoman terbaru
Langkah pertama dan paling efektif adalah menghindari pemicu sejauh memungkinkan. Menjemur kasur, mencuci seprai dengan air panas secara rutin, memakai sarung bantal dan kasur antitungau, mengurangi boneka berbulu, menjaga ruangan tidak lembap, dan tidak membiarkan hewan peliharaan tidur di kamar adalah langkah sederhana yang berguna. Bila tidak cukup, obat dipilih menurut berat gejala.
| Pilihan terapi | Peran dan catatan |
|---|---|
| Kortikosteroid semprot hidung | Paling efektif mengendalikan seluruh gejala, termasuk hidung tersumbat. Perlu dipakai teratur; efek penuh tampak setelah beberapa hari |
| Antihistamin semprot hidung | Awitan cepat; dapat dikombinasikan dengan steroid semprot pada gejala sedang-berat |
| Antihistamin oral generasi kedua | Meredakan bersin, gatal, dan ingus; pilih yang tidak menimbulkan kantuk berat. Kurang efektif untuk hidung tersumbat |
| Pencuci hidung larutan garam | Pelengkap yang aman untuk membersihkan alergen dan lendir |
| Dekongestan | Dekongestan semprot jangan dipakai lebih dari 3-5 hari karena dapat memicu rinitis medikamentosa; dekongestan oral hati-hati pada hipertensi dan penyakit jantung |
| Imunoterapi alergen | Untuk kasus berat atau tidak terkendali; dapat mengubah perjalanan penyakit, diberikan dokter spesialis |
Pedoman gabungan ARIA-EAACI 2024-2025 tentang terapi intranasal, yang disusun dengan metode GRADE, menyarankan kortikosteroid intranasal dibandingkan antihistamin intranasal, serta menyarankan kombinasi tetap antihistamin dan kortikosteroid intranasal dibandingkan salah satunya saja. Pedoman sebelumnya dari AAAAI dan ACAAI untuk rinitis alergi musiman juga menempatkan kortikosteroid intranasal sebagai pilihan awal dibandingkan antihistamin oral atau antagonis reseptor leukotrien. Keputusan akhir tetap mempertimbangkan keparahan, preferensi pasien, dan ketersediaan serta harga obat.
Tips memakai semprot hidung: arahkan ujung semprotan sedikit ke arah luar (menjauhi sekat hidung), hindari menghirup kuat-kuat setelah menyemprot, dan bersihkan ujung botol. Efek samping seperti iritasi ringan atau mimisan sedikit umumnya ringan; bila sering mimisan, konsultasikan ke dokter.
Kapan perlu ke dokter?
Periksakan diri bila gejala mengganggu tidur atau aktivitas, tidak membaik setelah beberapa minggu perawatan mandiri, disertai mengi atau sesak, nyeri wajah dan ingus kental berwarna kehijauan yang menetap, hidung tersumbat hanya di satu sisi, atau pada anak yang terus mendengkur dan sering sakit telinga. Anak dan ibu hamil sebaiknya tidak memakai obat tanpa arahan dokter.
Pesan penutup
Bersin berderet setiap pagi bukan sesuatu yang harus diterima begitu saja. Mengenali pemicu, memakai obat yang tepat secara teratur, dan tahu kapan harus berkonsultasi dapat mengembalikan tidur nyenyak dan produktivitas. Untuk pembahasan terkait, baca juga Catarrh: Ketika Tubuh Kewalahan oleh Lendirnya Sendiri dan Asma: Memahami Penyakit Saluran Napas Kronis.
Rujukan
- Sousa-Pinto B, Bousquet J, et al. ARIA-EAACI guidelines 2024-2025 revision, Part I: intranasal treatments. Allergy. 2026;81(4):954-976.
- Dykewicz MS, et al. Treatment of seasonal allergic rhinitis: an evidence-based focused 2017 guideline update. Ann Allergy Asthma Immunol. 2017.





Tinggalkan Balasan