Les pèlerins au-dessus des nuages

Sebuah puisi bisa dibuka dengan matahari terbit, dengan sumpah, atau dengan pertanyaan. Imru’ al-Qais membukanya dengan perintah kepada dua orang kawan yang bahkan tidak kita kenal: berhentilah. Hanya satu kata, dan seluruh perjalanan terhenti di tengah gurun, tepat di depan sisa-sisa perkemahan yang sudah ditinggalkan. Bait pertama ini mungkin yang paling sering dikutip dalam sejarah puisi Arab, dan bagi banyak pembaca, di situlah sastra Arab seakan membuka matanya.

Penggalan

قِفَا نَبْكِ مِنْ ذِكْرَى حَبِيبٍ وَمَنْزِلِ
بِسِقْطِ اللِّوَى بَيْنَ الدَّخُولِ فَحَوْمَلِ
Qifā nabki min dhikrā ḥabībin wa-manzili
bi-siqṭi l-liwā bayna d-dakhūli fa-ḥawmali
Berhentilah, kalian berdua, biar kita menangis
mengenang seorang kekasih dan tempat tinggalnya,
di tepi bukit pasir yang berkelok,
antara Dakhul dan Haumal.

(Terjemahan bebas penulis.)

Penyair dan karyanya

Imru’ al-Qais bin Hujr al-Kindi hidup sekitar abad ke-6 Masehi, pada masa yang disebut jahiliyah, zaman sebelum Islam. Ia putra seorang raja dari suku Kinda di Arabia tengah. Tradisi menceritakan bahwa ayahnya mengusirnya karena ia terlalu gemar bersyair dan bercerita tentang perempuan dan pesta. Ketika ayahnya dibunuh oleh suku Bani Asad, ia, pangeran pengembara itu, harus menanggung dendam yang tidak ia cari. Menurut riwayat, ia pergi jauh meminta bantuan Kaisar Bizantium, dan wafat dalam perjalanan pulang; legenda menambahkan bahwa ia tewas karena jubah beracun hadiah sang kaisar. Kita harus berhati-hati dengan semua kisah ini, sebab sebagian besar disusun belakangan oleh para pengumpul riwayat, dan garis antara biografi dan dongeng sangat tipis.

Puisi di atas adalah pembuka sebuah qasidah, puisi panjang berirama tunggal, yang termasuk dalam kumpulan al-Mu’allaqat, “puisi-puisi yang digantung”. Konon qasidah terbaik digantung di dinding Ka’bah; para sarjana modern meragukan kisah penggantungan itu, tetapi nama tersebut bertahan karena memang menunjuk pada penghormatan yang luar biasa. Mu’allaqat Imru’ al-Qais biasanya dianggap yang terdepan dari tujuh (dalam sebagian riwayat sepuluh) karya dalam kumpulan itu.

Membaca bait ini

Pertama, perhatikan bahwa sang penyair berbicara kepada dua orang (qifā adalah bentuk perintah untuk dua orang). Dua kawan perjalanan ini adalah konvensi puisi Arab klasik, tetapi sekaligus gerak yang cerdik: kesedihan tidak boleh sendirian. Ia mengajak, ia membujuk, ia meminjam bahu orang lain. Kata nabki (“biar kita menangis”) pun memakai bentuk jamak orang pertama, bukan “aku”. Dari awal, kehilangan ini dibagikan.

Kedua, objek tangisan ada dua: ḥabīb, sang kekasih, dan manzil, tempat singgahnya. Urutan ini penting. Puisi tidak menangisi perempuan itu langsung, melainkan menangisi ingatan atasnya (dhikrā), dan bekas-bekas yang tertinggal di pasir. Kekasih sudah pergi; yang ada tinggal bekas tempat kemah, lingkaran batu tungku, dan nama-nama tempat. Dalam tradisi puisi Arab, bagian ini disebut nasīb, dan unsur utamanya, bekas-bekas perkemahan yang ditinggalkan (aṭlāl), akan menjadi salah satu citra paling bertahan dalam sastra Arab, Persia, Turki, dan Urdu.

Ketiga, nama tempat. Dakhul dan Haumal, dan pada bait berikutnya Tudih dan Miqrat, adalah lokasi-lokasi di Arabia yang bagi pendengar masa itu nyata dan bisa ditunjuk. Penyair tidak sedang memakai kiasan yang melayang; ia memetakan kesedihan seperti seorang yang sedang menunjuk titik di peta. Kesedihan yang diberi koordinat terasa lebih berat, karena ia mengatakan: ini terjadi di sini, bukan di mana-mana. Menariknya, bagi pembaca sekarang yang tidak lagi tahu persis di mana tempat-tempat itu, daftar nama justru berubah menjadi musik, dan misteri.

Keempat, makna yang tidak tunggal. Ada pembaca yang menafsirkan pembukaan ini sebagai ratapan jujur seorang pangeran yang kehilangan segala-galanya. Ada yang melihatnya sebagai kerangka retoris: Ibn Qutaybah, kritikus abad ke-9, menjelaskan bahwa qasidah yang baik dibuka dengan menangisi bekas kemah, lalu berpindah ke perjalanan di atas unta, lalu ke puji-pujian atau kebanggaan diri; tangisan di awal adalah cara “merebut hati” pendengar sebelum pokok bicara datang. Dan sejarah mencatat pula penyair yang menolak: Abu Nuwas, tiga abad kemudian, menertawakan kebiasaan menangisi reruntuhan padang pasir itu dan menyuruh orang menangisi sesuatu yang lebih hangat, anggur dan kota. Kenyataan bahwa penyair setelahnya perlu menentang bait ini menunjukkan seberapa besar bayangannya.

Dan barangkali ada pembacaan kelima, yang paling manusiawi: bait ini bekerja karena kita semua pernah berhenti di depan sebuah tempat yang dulu berisi seseorang. Rumah lama, bangku di stasiun, halaman sekolah. Imru’ al-Qais tidak menjelaskan apa-apa; ia hanya mengajak kita berhenti sebentar.

Bunyi dan bentuk

Puisi ini ditulis dalam metrum ṭawīl (“panjang”), salah satu metrum paling megah dalam puisi Arab klasik, dengan rima akhir berpola –li yang bertahan sepanjang qasidah. Bunyi l yang cair di ujung setiap baris memberi kesan sesuatu yang mengalir dan menjauh. Penerjemahan ke bahasa Indonesia tentu kehilangan irama itu; yang bisa kita selamatkan adalah gerak batinnya: berhenti, mengenang, menyebut nama.

Di mana membaca versi utuhnya

Teks Arab lengkap Mu’allaqat Imru’ al-Qais, karya domain publik berusia lebih dari satu setengah milenium, dapat dibaca di Wikisource berbahasa Arab dan di banyak edisi Dīwān Imri’ al-Qays. Untuk pembaca yang tidak membaca Arab, terjemahan Inggris klasik yang mudah dicari adalah The Seven Odes oleh A. J. Arberry (1957), serta pengantar yang lebih baru dalam Early Arabic Poetry karya Alan Jones. Bila Anda menemukan terjemahan Indonesia yang baik, saya senang mendengarnya.

Sabtu Sepenggal Sastra adalah ruang kecil untuk memperkenalkan karya sastra dari berbagai penjuru dunia. Minggu ini kita berhenti di padang pasir Arabia; Sabtu depan kita berjalan lagi.

Artikel Baru Terbit

Commenting 101: “Be kind, and respect each other” // Bersikaplah baik, dan saling menghormati (Indonesian) // Soyez gentils et respectez-vous les uns les autres (French) // Sean amables y respétense mutuamente (Spanish) // 待人友善,互相尊重 (Chinese) // كونوا لطفاء واحترموا بعضكم البعض (Arabic) // Будьте добры и уважайте друг друга (Russian) // Seid freundlich und respektiert einander (German) // 親切にし、お互いを尊重し合いましょう (Japanese) // दयालु बनें, और एक दूसरे का सम्मान करें (Hindi) // Siate gentili e rispettatevi a vicenda (Italian)

Tinggalkan Balasan